Chapter 17
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!: Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
~.~.~.~
Chapter 17: Try to Level Up! Game Pandir.
Opening Song: Nano - Histery
Apartemen Naruto
Setelah mengingat masa-masa suram dirinya dulu, Naruto kini pulang menuju ke apartemennya. Tapi dia tidak pulang sendiri melainkan bersama Naruko dan waktu ditanya kenapa Naruko menginap disana dia hanya menjawab:
"Naruko sudah pamit kepada Okaa-sama dan Otou-sama."
Meski tahu jika adiknya ini berbohong, Naruto dengan senang hati membiarkan Naruko menginap di apartemennya. Lagipula dia juga punya beberapa pertanyaan untuk Naruko.
"Naruko, aku punya pertanyaan untukmu." Kata Naruto yg kini telah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana hitam panjang tapi anehnya saat memasak dia memakai apron berwarna magenta.
"Naruko juga punya pertanyaan pada Onii-chan." Balas Naruko. Dia juga telah memakai rangkapan untuk merangkap kaosnya yaitu jaket olahraga Naruto.
"Apa itu?"
"Kenapa Onii-chan suka memakai apron berwarna deep pink (merah muda dalam) saat memasak?"
Twitch! Sebuah kedutan muncul di dahi Naruto akibat pertanyaan konyol adiknya.
"Naruko. Asal kau tahu saja apron ini 100% berwarna MAGENTA bukan deep pink."
"Bohong! Dilihat bagaimanapun apron itu berwarna deep pink!"
"Sudah kubilang warna apron ini magenta bukannya deep pink. Memangnya kau tahu kode warna desimal RGB deep pink?"
"Hm... kalau tidak salah 255 20 147."
"Lihat ini! Disini tertulis kode warna magenta yaitu 255 0 255 bukannya 255 20 147. Itu artinya warna apron ini warnanya magenta bukan deep pink, makanya saat makan sup jangan menyisihkan wortelnya." Kata Naruto menasehati Naruko sembari menunjukkan label yg memuat kode desimal warna apron yg dipakainya dan benar saja angka yg tertera disana adalah 255 0 255 yg merupakan kode desimal warna magenta.
"Na-Naruko bukannya tidak suka dengan wortel, hanya saja susunan wortel mengingatkan Naruko pada struktur matahari jadi Naruko sedikit takut saat memakannya."
"Matahari? Jadi maksudmu bentuk lingkaran di dalam wortel itu seperti inti matahari lalu luarnya seperti Fotosfer, Kromosfer dan kulitnya seperti Korona?"
"Hm! Seperti itulah. Kata Otou-sama aku mengidap Heliophobia (takut berlebihan pada matahari dan sinarnya) yg sedikit aneh karena seperti ada Spacephobia (takut berlebihan pada angkasa luar) juga."
"Tapi meski begitu kau harus tetap memakan wortel. Wortel bagus untuk kesehatan mata jadi kau tidak akan salah paham lagi dengan warna."
"Onii-chan!"
"Hm?"
"Apa yg Onii-chan masak?"
"Sup yg penuh dengan sayuran termasuk wortel dan juga tomat."
"Kenapa Onii-chan memisahkan antara kata sayuran dan tomat seolah-olah tomat bukan sayuran?"
"Tomat memang bukan sayuran. Tomat lebih mirip dengan buah daripada sayuran."
"Dimana-mana tomat memang seperti itu. Kata Okaa-sama tomat itu masuk kategori sayuran bukan buah-buahan."
"Peraturan no 1 dalam kehidupan. Tuhan dan Ibu selalu benar, baiklah terserahmu saja." Kata Naruto mengalah. Seperti inilah hal yg biasa terjadi saat mereka berdua di rumah keluarga Uzumaki. Mereka memperdebatkan segalanya bahkan sampai pada hal yg menurut Kushina dan Minato aneh seperti cara memakan bubur yg benar harus diaduk atau tidak? Bahkan sampai memperdebatkan sebuah gambar kucing yg sedang berjalan di tangga.
Tak lama kemudian sup yg dimasak Naruto sudah matang.
"Supnya siap!" Mengangkat wajan yg masih panas, Naruto meletakkannya dengan hati-hati di meja yg ada di depan sofa tempat Naruko tiduran. Mengingat ini apartemen bujangan yg apa-apa selalu sendiri maka tak heran jika disini tidak ada ruang makan.
"Kelihatannya enak. Are... wortel?" Meski sudah berkata kelihatannya enak dengan wajah yg penuh nafsu makan tapi setelah melihat potongan wortel wajahnya langsung berubah lagi.
"Ada apa? Ini sup yg biasa aku masak dengan Okaa-sama di rumah. Kelihatannya kau tidak suka."
"Bu-bukannya tidak suka tapi wortelnya..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus makan wortel hari ini juga."
"He!"
Sepertinya Naruto melupakan apa yg ingin dia tanyakan pada Naruko karena perdebatan tadi.
Di sisi lain... (Pythagoras)
Sementara tokoh utama kita sedang menikmati waktu istirahatnya bersama adiknya maka berbeda dengan pemilik gelar Pythagoras yg kini sedang bergelut dengan laptopnya.
Terlihat dia sedang membuka E-mail atau lebih tepatnya mencoba menulis E-mail dan alamat E-mail tujuannya adalah Antonionette45 *****.com.
Tik... Tik... Tik... Tik...
Jari-jarinya mulai menari diatas keyboard untuk mengetik surat elektronik. Dia bersumpah jika yg menerima E-mail ini adalah pemilik gelar Enigma maka di pasti akan ditertawakan habis-habisan karena bersikap aneh.
Isi Surat Toneri:
Antonionette, aku percayakan GoG padamu jika aku tidak kembali dari jepang. Anggap saja jika aku mati di jepang maka GoG akan jadi milikmu. Tapi pastikan bahwa mereka semua tetap bekerja seperti biasanya dan juga sebenarnya aku akan senang jika kau mau meneruskan impianku untuk menyerbarluaskan gelang Orpheus pada seluruh orang di dunia. Para dewa telah menyegel seluruh potensi otak manusia dan sekarang adalah waktunya segel itu dihancurkan.
Tersenyum setelah membaca ulang suratnya, Toneri tahu bahwa bagaimanapun caranya dia meyakinkan sang pemegang gelar Antionette dia tidak akan pernah berhasil. Meski begitu dia yakin jika hanya mengisi kekosongan pemimpin GoG maka Antionette akan mau melakukannya jika mengingat hutang budi Antonionette dengan Kaguya neneknya.
Lalu tentang impian Toneri yg sama dengan Enigma? Impian yg dimaksud oleh pemegang gelar Pythagoras dan Enigma yg sama adalah membuat manusia mampu mencapai tingkat penggunaan otak lebih dari 85%. Mereka berdua percaya bahwa manusia bisa menggunakan otaknya lebih baik pada zaman dulu karena pada masa itu potensi pada otak manusia belumlah disegel oleh dewa sehingga manusia bahkan dapat membohongi dewa seperti dalam cerita Prometheus.
Dalam cerita itu, Prometheus digambarkan sebagai titan yg sangat cerdik. Dia telah 2 kali membohongi Zeus untuk kesejahteraan umat manusia dan semuanya berhasil, karena takut dengan kepintaran Prometheus dan manusia maka Zeus pun menidurkan seluruh manusia lalu membuat sebuah penghalang di otak manusia agar penggunaan otak manusia tidak bisa lebih dari 10% dengan begitu Zeus tidak akan bisa dibohongi lagi.
Malang bagi Prometheus yg sebenarnya sudah banyak membantu manusia, dia diikat di sebuah gunung dan isi perutnya dimakan oleh burung raksasa setiap harinya dan selalu tumbuh lagi (pernah main God of War kan?). Oleh karena itu manusia mencoba menyelamatkan Prometheus dengan membuat alat yg mampu menghancurkan penghalang yg dipasang oleh Zeus.
Namun sayang, saat benda yg kemudian dikenal sebagai gelang Prometheus itu jadi Prometheus telah mati. Lalu kehebatan gelang Prometheus itu tersebar sampai ke penjuru dunia maka bisa ditebak yg terjadi selanjutnya adalah perebutan gelang itu. Para manusia berperang hanya untuk menentukan siapa yg berhak memakai gelang Prometheus yg termahsyur itu dan memimpin umat manusia dalam pembalasan dendam kepada dewa Zeus.
Tapi sebelum perang meluas ada sebuah riwayat kuno yg menceritakan bahwa dewa perang yunani yg bernama Ares turun langsung dari singgasananya dan menghentikan perang. Ares juga mengambil gelang Prometheus lalu menyimpannya di dalam sebuah piramida yg entah sejak kapan dibuatnya. Piramida itu penuh dengan apa yg para pemegang gelar sebut dengan Kenja no Game.
Ares sebenarnya sangat suka dengan perang tetapi alasan dia menghentikan perang dan menyimpan gelang Prometheus adalah karena dia ingin melihat umat manusia putus asa dalam upayanya mendapatkan kembali gelang Prometheus. Beberapa abad kemudian karena mendengar banyaknya korban yg telah jatuh maka salah seorang pembuat patung bernama Phidias (penemu Phi/rasio emas) membuat gelang yg merupakan tiruan dari gelang Prometheus. Gelang itu adalah gelang yg saat ini dikenal dengan nama gelang Orpheus, gelang yg sangat rekat hubungannya dengan pemegang gelar Einstein.
Meski hanya tiruan, gelang Orpheus juga mempunyai kegunaan yg sama yaitu menghancurkan penghalang di otak manusia dengan bantuan energi dari manusia itu sendiri. Jadi saat percobaan untuk pertama kalinya tidak ada yg heran jika pengguna gelang Orpheus merasa kelelahan.
Atas dasar semua itu maka Toneri selaku pemegang gelar Pythagoras ingin mengembalikan umat manusia ke masa jayanya dimana tidak ada manusia yg otaknya terbelenggu. Lalu setelah itu dia akan memimpin umat manusia dalam pembalasan dendam kepada dewa atas perbuatan mereka pada umat manusia dan Prometheus di masa lalu.
Jika saja Pythagoras (yg asli) dahulu tidak menyisipkan undangan rahasia dibalik rumus Teorama Pythagoras maka bisa dipastikan 8 orang yg merupakan kakek/nenek buyut dari Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei, Florence Nightingale, Enigma, Antonionette dan Isaac Newton tidak akan pernah bertemu di tempat yg dijanjikan. Lalu apa yg terjadi jika mereka semua tidak bertemu?
Yg terjadi hanyalah 1 hal tetapi akan sangat merubah sejarah saat ini jika benar-benar terjadi yaitu kakek/nenek buyut dari Einstein tidak akan mendapatkan gelang Orpheus yg artinya Hagoromo Otsutsuki selaku pemegang gelar Einstein sebelumnya tidak akan pernah menang dari Kaguya yg merupakan ibunya sendiri sekaligus pemegang gelar Pythagoras sebelum Toneri.
Waktu itu mereka berdua melakukan duel dengan taruhan nyawa, meski awalnya terdesak tapi Hagoromo mampu mengimbangi Kaguya dan puncaknya adalah saat Hagoromo menggunakan 90% kemampuan otaknya atas bantuan gelang Orpheus yg menuntunnya menuju dunia Phi Brain untuk mengalahkan Kaguya. Jika Kaguya tidak dikalahkan maka GoG akan tetap berdiri dari dulu dan jika GoG tetap berdiri maka bisa dipastikan rencana seperti yg dilakukan Toneri ini akan dimulai belasan tahun yg lalu bukannya sekarang.
"Aku memang kalah dalam game jika lawannya adalah kau, Einstein. Meski begitu aku akan tetap membunuhmu dengan konspirasi di jepang."
'Yah... meski ini mengejutkan tapi kemampuan Writing of God yg biasanya diturunkan pada gelar Pythagoras kini malah dimiliki gelar Enigma. Persentasenya untuk mengalahkanmu dan mewujudkan impianku sangat jauh lebih besar daripada aku sendiri.'
20 Mei 20xx
02.15 PM (ruang klub Puzzle)
Tak seperti kemarin-kemarin, Naruto kini tidak pergi ke ruang olahraga melainkan ruang klub baru nya. Saat dia sampai disana ternyata di dalam sudah ada Rias, Akeno, Sona, Maki dan Naruko yg sibuk dengan urusan masing-masing, sebelum kesini dia tadi memang menyempatkan diri untuk pergi ke ruang olahraga untuk sekedar berpamitan.
Flashback...
Saat ini Naruto berjalan menuju ruang olahraga, tujuannya? Tentu saja untuk sekedar berpamitan. Dia telah disambut disini saat pertama kali masuk jadi tak mungkin dia akan pindah klub tanpa pamitan bukan?
Tok... Tok... Tok...
Ckleeek...
Membuka pintu ruang olahraga, Naruto dikejutkan dengan ruang olahraga yg kosong tetapi disana ada sebuah spanduk yg memuat pesan-pesan dari Issei, Negi, Vali, Sirzech, Sairaorg, Guy-sensei dan Grafiya.
Mendekati spanduk itu, Naruto mengambil kertas yg ditempelkan di nama Guy-sensei mengindikasikan kertas itu berasal dari sensei nyentrik nya itu.
Isi surat Guy-sensei...
Naruto! Persiapkan dirimu untuk inter high cup. Aku dengar sainan gakuen mendapatkan seorang siswa baru yg sangat berbakat dalam basket. Mungkin kau juga akan kerepotan jika melawannya hahahaha... oh ya! Kami semua pergi untuk training camp ke kyoto karena babak kualifikasi akan dimulai sebentar lagi. Ini semua ide Sirzech saat dia mendengar kau akan menjadi anggota pasif di klub ini jadi salahkan saja dia.
Guy-sensei
Setelah membaca kertas dari Guy-sensei jujur saja membuat Naruto sangat kesal kepada kepala sekolah. Kepala sekolah? Ya! Di Kyoto ada hutan yg dikatakan memiliki monster di dalamnya dan itu akan jadi dasar yg sangat baik bagi author fanfic ini dalam memparodikan episode The Hound of Baskerville.
"Kepala sekolah itu seenaknya saja. Jika aku tetap di klub basket maka malam nanti aku sudah pasti membongkar isu monster di hutan Kyoto."
Setelah tahu tak ada gunanya lagi tetap disini, Naruto memutuskan untuk pergi menuju ke ruang klub Puzzle.
Flashback off...
"Onii-chan! Kenapa lama sekali?" Tanya Naruko yg pertama kali sadar bahwa orang yg masuk ke ruang klub adalah Naruto. Meski kepalanya menengok tapi kelihatannya dia masih memainkan Visual Novel di PC nya jika melihat tangannya yg bergerak dengan lihai.
"Maaf. Aku tadi ada urusan sebentar di ruang olahraga jadi sedikit terlambat. Ngomong-ngomong berhentilah memainkan EROGE, Naruko."
"E-eroge?" Beo seluruh siswi disana kecuali Naruko. Mereka semua menatap Naruko dengan mata setajam silet *?*.
"I-ini bukan eroge, Onii-chan! Ini hanya VN." Kilah Naruko.
"VN adalah versi dari eroge yg lebih berseni. Tapi tetap saja ada adegan 18++ di VN dan kau masih belum cukup umur."
"Baiklah... Naruko akan main yg lain." Tidak mau mendapat pencerahan dari kakanya yg sedang dalam mode bijak, Naruko memilih mengalah kali ini.
"Naruto-kun! Kau bilang tadi ruang olahraga bukan? Bukannya klub olahraga sedang melakukan training camp ke Kyoto?"
"Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih dsb tapi mereka tidak ada karena training camp ke Kyoto seperti katamu, Rias."
"Training camp? Ke Kyoto? Apa mereka berniat liburan?"
"Jangan sebut soal liburan, Maki. Kau membuatku menjadi ingin liburan saja."
"Kau pikir aku juga tidak ingin, Akeno? Haah... rasanya ingin ke pulau tropis yg masih alami."
"Pulau? Kalau begitu kenapa kita tidak memintanya saja pada orangtua kita?"
"Haah? Memangnya boleh, Sona?"
"Apa kau lupa soal vila yg dibangun bersama oleh keluarga Nishikino, Sitri, Gremory dan Himejima?"
"!"
"!"
"!"
Mengingat lagi fakta itu membuat Rias, Akeno dan Maki tersentak. Bagaimana mungkin mereka melupakan hal sepenting itu?
"Kau benar, Sona. Kita bisa meminta pada orangtua kita agar bisa menginap di vila itu."
"Ara... ara... kau bersemangat sekali, Rias."
"Ingatlah bahwa kita ini masih pelajar, Rias. Ini juga belum masuk waktu liburan jadi tidak mungkin di ijinkan." Kata Maki sok bijak. Padahal dia sendiri juga ingin kesana.
"Naruto-kun! Kau akan ikut Inter High Cup bukan?"
"Benar."
"Kapan finalnya diadakan?"
"Hari jumat tanggal 28 mei."
"Kalau begitu kita bisa memanfaatkan hari sabtu yg kebetulan libur dan hari minggu. Bagaimana menurut kalian semua?
"Setuju." Kata Rias.
"Boleh juga." Kata Akeno.
"Baiklah." Kata Maki.
"Naruko?"
"Eh! Etto... kalau Onii-chan ikut maka Naruko juga ikut."
"Bagaimana Naruto-kun?"
"Aku ikut."
"Tapi apa tidak apa-apa jika sehari setelah final? Bahkan tubuhmu tidak akan punya waktu istirahat."
"Istirahat yg terlalu lama malah membuatku semakin bosan. Lebih baik aku melakukan sesuatu meski dalam keadaan sakit."
"Kalau itu sudah keputusanmu maka aku tidak bisa memaksa. Sudah diputuskan! Klub Puzzle tanggal 29 mei akan mengadakan perjalanan ke pulau..."
"Pulau apa?"
"Ehem! Sebenarnya itu pulau tak berpenghuni di Okinawa dan tidak bernama."
"Haaah... kita memang sudah memutuskan kegiatan nanti tapi sekarang kita tidak punya kegiatan apa-apa."
"Mau bagaimana lagi? Kau yg menamakan klub ini klub Puzzle jadi kami semua bingung apa yg dilakukan klub Puzzle."
"Nama Puzzle itu hanyalah samaran, Maki. Kalau aku menamakan klub ini klub Game maka yg ada di pikiran siswa lain adalah bermain game terus tapi meski kita memainkan game, game yg kita mainkan beda bukan?"
"Kalau begitu kau ada saran soal kegiatan yg kita lakukan hari ini Naruto-kun?"
"Sayangnya tidak, Akeno. Tapi aku akan menunjukkan kepada kalian semua sesuatu."
"Sesuatu?" Beo mereka serempak. Bahkan Naruko yg sibuk bermain game di PC nya juga ikut.
Naruto lalu mengambil sesuatu dari tas nya dan setelah dikeluarkan yg terlihat adalah sebuah gelang berwarna emas kusam, di salah satu sisinya berbentuk mata burung hantu disertai paruh di bawahnya.
"Gelang?" Komentar pertama keluar dari mulut Rias.
"Sayangnya ini bukan gelang biasa, Rias."
"Lalu gelang apa ini? Bentuknya terlihat aneh."
"Gelang Orpheus."
"Orpheus? Nama dewa yunani pemain musik itu?"
"Ya, namanya diambil darisana. Sepertinya kau tahu sesuatu tentang gelang ini Maki."
"Aku mendapat kiriman dokumen dari ayahmu Minato-Ojiisan."
"Oh... jadi dokumen itu ya?"
"Kau juga mendapatkannya, Akeno?"
"Iya, hanya saja aku belum sempat membacanya."
"Sedangkan kau Sona?"
"Aku belum mengecek E-mail ku beberapa hari ini jadi aku tidak tahu apa-apa."
"Gelang Orpheus ini hanyalah tiruan yg dibuat semirip mungkin dari yg asli. Bukan hanya tampilannya tapi kegunaannya juga yaitu memaksa otak manusia untuk bekerja berkali-kali lipat dari biasanya sehingga dalam game kita bisa memahaminya lebih cepat dan membuat langkah terbaik dengan cepat."
"Memaksa otak manusia? Bukankah itu berbahaya?"
"Kau benar Sona. Resiko pemakaian gelang ini adalah energi kita akan terbakar habis dan saat pemakaian otak mencapai 90% maka otak akan menolak implus dari kelima indera manusia yg tidak berhubungan dengan game sehingga kita bisa fokus pada game yg kita mainkan. Saat itulah seorang pemegang gelar dikatakan memasuki dunia Phi Brain, yaitu dunia yg hambar."
"Jadi apa pemegang gelar sebelum kita juga bisa mencapai dunia itu?"
"Menurut catatan dari GoG, hanya Einstein lah yg mempunyai kesempatan yg paling besar untuk memasuki dunia Phi Brain dan juga memiliki ketahanan yg sedikit lebih besar terhadap dunia itu. Itu karena otaknya yg sedikit unik dan berbeda dari pemegang gelar lain."
"Bagian Lobus Parietal yang ukurannya 15% lebih besar dari orang normal dan tidak memiliki celah yang biasanya didapati pada orang umumnya, memiliki sel glia yg lebih banyak, Corpus Callosum atau bagian yang menghubungkan bagian kiri dan kanan otak lebih tebal sehingga komunikasi antara 2 orak berjalan lebih cepat dan lancar. Apa itu alasan pemegang gelar Einstein mempunyai memiliki kesempatan terbesar, Naruto-kun?"
"Hahaha... itu tidak benar. Apa yg kau katakan tadi itu adalah otak dari Einstein yg asli. Tapi kurasa masing-masing generasi yg menyandang gelar Einstein pasti memiliki salah satunya."
"Dan apa yg kau miliki di otakmu Naruto-kun?"
"Kenapa kau tidak menebaknya sendiri, Sona?"
"Kata Akeno kemarin kelemahanmu adalah game angka jadi tidak mungkin kau punya Lobus Parietal yg lebih besar karena bagian itu bertanggung jawab atas kecerdasan matematis. Lalu soal sel glia tadi juga tidak mungkin jika mengamati sifatmu jadi yg paling mungkin adalah Corpus Callosum milikmu lebih tebal sehingga membuatmu dapat berpikir cepat sekaligus mampu bertahan dari Phi Brain."
"Aku tidak dapat bertahan dari Phi Brain. Sejujurnya bertahan dari sesuatu seperti itu sangatlah sulit karena otakmu serasa diperas secara paksa oleh gelang Orpheus."
Disaat pembicaraan antara Naruto dan Sona masih berlangsung tiba-tiba pintu masuk ruang klub dibuka oleh seseorang.
Ckleek...
"Hoo... sepertinya kalian semua sudah akur hanya dalam sehari." Kata orang yg membuka pintu tadi mengalihkan perhatian semua anggota klub Puzzle.
"O-Otou-sama? Kenapa kau disini?"
"Yo, Naruko. Jadi Naruko juga masuk klub khusus ini ya? Yah... meski ini tidak mengejutkan kalau aku mengingat sifak siscon dari Naruto."
"Diamlah. Kau merusak suasana disini."
"Suasana seperti apa? Yg kurasakan tadi hanyalah kalian sibuk dengan kegiatan masing-masing."
"Bukan itu. Suasana yg aku maksud adalah suasana hatiku yg tiba-tiba ingin menghajarmu Otou-sama."
"Coba saja kalau bisa anak bodoh."
'Daripada anak dan ayah, mereka berdua terlihat seperti musuh bebuyutan!' Batin Rias, Akeno, Sona dan Maki bersamaan.
"Daripada menganggur seperti ini lebih baik kutunjukkan sesuatu."
"Apa kau yakin akan membangkitkan potensi mereka sekarang Otou-sama?"
"Tentu saja. Pythagoras sudah ada di jepang jadi kemungkinan pemegang gelar lain untuk kesini jadi semakin besar."
"Terserahmu saja. Mintalah izin pada orangtua mereka terlebih dulu."
"Hahaha... kalau soal itu aku sudah melakukannya sejak kemarin. Jadi bagaimana Rias, Sona, Akeno, Maki?"
"Heh? Sebenarnya apa yg kau rencanakan Ojii-san?" Tanya Sona mewakili mereka berempat.
"Aku akan menaikkan level kalian semua sehingga paling tidak setingkat dengan Natuto. Kalian akan bermain game buatanku dengan taruhan nyawa kalian sendiri. Jika kalah maka berakhir sudah tapi jika kalian berhasil maka paling tidak kalian akan setingkat dengan Naruto dan tidak akan membebaninya."
"Aku ikut! Setelah mendengar cerita dari Naruko aku sadar jika aku telah terlalu santai."
"Aku juga ikut! Perjodohan itu menyebalkan."
"Ara... ara.. aku juga ikut!"
"Kalau begitu aku juga ikut."
"Baiklah sekarang kita pergi ke tempatku membangung Game Pandir."
02.30 PM (lokasi Game Pandir)
Saat ini mereka semua telah tiba di tempat Minato membangun Game Pandir. Game Pandir adalah game yg dibuat khusus untuk meningkatkan kemampuan para pemegeng gelar, bisa dibilang game untuk latihan. Seperti halnya Kenja no Game, Game Pandir juga mempunyai taruhan yg tinggi yaitu nyawa siapapun yg memainkannya bedanya adalah Kenja no Game memiliki hadiah di dalamnya sedangkan jika kita bisa keluar dari Game Pandir maka bisa dibilang kita telah naik ke level yg lebih tinggi.
"Bangunan yg aneh. Dengan melihatnya saja aku bisa menebak game seperti apa yg akan dimainkan nanti." Komentar Naruto setelah melihat bentuk bangunan berbentuk kubus yg sebagian besar terbuat dari kaca dan digadang-gadang Game Pandir oleh Minato.
'Game tentang pemantulan cahaya.'
"Kalau sudah tahu sebaiknya diam saja. Nah, sekarang kalian hanya harus masuk ke keempat pojokannya lalu menyelesaikan setiap game untuk mencari jalan keluar."
Tanpa banyak bertanya Rias, Sona, Maki dan Akeno langsung masuk ke dalam di pojokan bangunan itu lewat pintu yg tersedia.
Di sisi Sona
Saat Sona baru saja masuk ke dalam, dia sudah disuguhkan oleh pemandangan game yg harus diselesaikannya.
Di sana ada 3 pintu dan di masing-masing pintu itu ada gambar yg dia asumsikan adalah game. Pintu yg pertama lurus di depan nya, yg kedua di sebelah kiri dan yg ketiga di sebelah kanannya.
"Ada yg aneh di sekitar sini. Kalau ini tempat pelatihan tidak mungkin game yg ada di dalamnya malah lebih mudah." Katanya pada diri sendiri setelah mengetahui pintu yg benar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sona langsung membuka pintu di depannya dan memasukinya.
Di sisi Akeno
Tidak jauh berbeda dari Sona, akeno pun juga mendapatkan game seperti Sona yaitu memilih pintu yg benar.
Pintu di depan, kanan dan kirinya bertuliskan operasi hitung yg terbilang rumit.
"Ara... ara... diantara semua operasi hitung yg ada hanya pintu di depanku yg menghasilkan bilangan tanpa koma, kurasa itu pintu yg benar."
Lalu Akeno pun membuka pintu di depannya dan memasukinya.
Di sisi Maki
Sementara itu Maki yg juga harus memilih 1 pintu tidak terlihat kesulitan dengan game yg ada di depannya. Di depannya, kiri dan kanannya ada puzzle lukisan lalu tanpa pikir panjang dia segera menyelesaikan puzzle itu dan mendapati hanya pintu di depannya yg dapat membuat lukisan secara sempurna.
Tanpa pikir panjang Maki juga memasuki lewat pintu di depannya.
Di sisi Rias
"Hm... jadi aku harus memilih pintu yg benar ya... tapi bagaimana aku tahu yg benar dan salah? Pikirkan Rias... kau itu tidak terlalu pintar tapi bukan berarti aku tidak memiliki ingatan yg kuat." Tak seperti yg lain kelihatannya Rias cukup kesulitan dengan game ini.
Pintu di depannya bertuliskan angka 6.852, di kirinya 11 februari 660 M dan di kanannya 16 Maret jam 10 pagi - 2 siang.
"Tulisan di pintu kiri salah, harusnya tahun 660 SM, itu adalah hari pembentukan negara Jepang. Pintu kanan juga salah karena yg benar adalah tanggal 15 maret, pada hari itu ada festival kesuburan di jepang lalu pintu di depanku benar karena jumlah pulau negara jepang adalah 6.852 pulau.
Dengan bukti itu, Rias memberanikan untuk masuk ke pintu di depannya.
Normal PoV...
Kini di ruang berbentuk persegi yg kosong dan terdapat pintu di setiap sisinya. Secara hampir bersamaan pintu-pintu itu terbuka dan membuat siapapun yg membukanya bertemu.
"Are... kenapa kalian disini?" Tanya Sona yg pertama kali sadar dari keterkejutannya.
"Seharusnya aku yg tanya begitu pada kalian semua."
"Ara... ara... sepertinya ini bagian dari Game Pandir yg dikatakan Minato-Ojiisan. Bagaimana menurutmu Maki?"
"Lihat yg ada di balik pintu yg kalian buka."
"I-ini?"
"Game ini lebih rumit jika dibandingkan dengan awal tadi. Bahkan mungkin yg paling sulit diantara game yg sudah kita mainkan."
Dibalik pintu Sona ada gambar teleskop galileo yg biasa digunakan untuk mengamati bayangan matahari.
Dibalik pintu Akeno ada angka 0635.
Dibalik pintu Maki ada gambar titik.
Dibalik pintu Rias ada tulisan PM lalu setelah itu:
Sona= Utara.
Rias= Selatan.
Akeno= Barat.
Maki= Timur.
Nb: jalan kalian untuk kesini sudah berubah jadi kembali lewat pintu masing-masing adalah kesalahan fatal. Hanya ada 1 jalan yg benar meski sudah kurubah rutenya. Waktu kalian 2 menit jika dalam 2 menit kalian masih di dalam maka ruangan ini akan meledak.
"Apa maksudnya ini? Matahari, angka, titik lalu parasetamol? Tidak ada satu informasi pun yg dapat diuraikan disini."
"Sona benar. Terlalu absurd jika kita mencoba memahami game ini." Kata Maki menyetujui pendapat Sona.
"Angka 0635 di pintu Akeno sebenarnya mengingatkanku pada sesuatu." Celetuk Rias.
"Dan tulisan PM di pintumu itu juga mengingatkanku pada sesuatu, Rias."
"Apa yg kalian berdua ingat?" Kaget Sona dan Maki bersamaan.
"Kalau dipikir-pikir waktu rata-rata matahari terbenam di pulau honshu adalah jam 6 lebih 35'an."
"Lalu apa menurut kalian tulisan PM ini maksudnya parasetamol? Meski Rias punya gelar dari seorang dokter tapi menurutku tulisan PM itu menunjukkan waktu, AM dan PM."
Tak pelak setelah mendengar opini dari Akeno dan Rias, Sona dan Maki rasanya seperti tertohok oleh duri ikan *?*. Mungkin saja jalan pikiran mereka yg terlalu panjang membuat mereka mengabaikan kemungkinan yg paling umum.
"Sona, apa menurutmu game ini sulit karena kita berdua yg membuatnya sulit?"
"Kau benar Maki. Game ini sebenarnya sangat mudah."
"Jadi kalian sudah tahu jawabannya?"
"Ara.. sepertinya kalian berdua bekerja keras."
"Ijinkan aku saja Maki. Jalan keluar dari ruangan ini adalah pintu yg tadi digunakan Akeno untuk masuk kesini."
"Benarkah?" Tanya Rias memastikan.
"Teleskop yg ada di balik pintu Sona adalah teleskop untuk mengamati bayangan matahari, angka 0635, titik dan PM. Jika dirangkai akan menjadi 06.35 PM dan itulah waktu rata-rata pulau Honshu mengalami matahari terbenam."
"Matahari tenggelam di arah Barat dan kata Barat menurut kertas yg ada di pintu Rias adalah Akeno. Itu artinya jalan keluarnya adalah pintu Akeno."
Tanpa menunggu lama lagi, mereka berempat berlari melewati pintu Akeno yg merupakan jalan keluarnya.
Di luar bangunan Game Pandir
Sementara itu di luar bangunan ada Naruto, Naruko dan Minato yg sedang menunggu keempat perempuan itu keluar darisana.
"Naruto, kau tadi bilang bahwa kau tahu apa game yg ada di dalam bukan?"
"Iya."
"Game apa?"
"Jika melihat banyak nya kaca diluar bangunan maka sudah pasti pemantulan cahaya, lebih tepatnya pemantulan cahaya dari sudut 90 derajat jika dilihat bentuk bangunannya."
"Hahahaha... sayangnya kau salah."
"Heh?"
"Kau salah. Di dalamnya tidak ada game seperti itu. Jika ada maka aku sama saja membunuh mereka semua karena game seperti itu harusnya diberikan pada pemegang gelar selevel mu."
"Lalu game apa di dalamnya?"
"Kenapa kau tidak langsung tanyakan saja pada mereka." Kata Minato sembari melihat Rias, Akeno, Sona dan Maki keluar dari banguanan lewat pintu yg dipakai Akeno untuk masuk.
"Haaah... kau dan ide gilamu selalu bisa menipuku, Otou-sama."
"Hahaha... pemikiranmu terlalu panjang karena dipengaruhi gelar yg kau dapat, Naruto. Kau selalu bisa tertipu dengan hal seperti ini."
Kruyuuuk...
"Onii-chan! Naruko lapar."
"kalau begitu ayo kita pulang sekarang. Ngomong-ngomong kau tidak akan menginap lagi di apartemenku bukan, Naruko."
"Heeeh! Tidak boleh?"
"Tidak boleh. Hanya kali itu saja."
"Tapi kata Onii-chan, Naruko boleh kesana."
"Hanya untuk mengunjungi bukan untuk menginap."
"ONII-CHAAAAN!"
~.~.~.~
Chapter 17: END!
A/N: Sepertinya strategi saya berhasil :v para SILENT READER rame-rame nyemangatin saya dan mohon buat fic nya jangan hiatus :v. Itulah salah satu efek samping dari rencana yg saya lakukan selain tujuan utama yaitu menghapus review kampret itu.
Q: Writing of God? Kaya gimana tuh?
A: Kemampuan untuk membuat game dengan tingkat kesulitan yg tinggi.
Q: Peristiwa apa yg menyebabkan Kaguya dan Hagoromo berduel?
A: Peristiwa itu dipicu oleh rencana Kaguya yg telah mempelajari bagaimana cara Hagoromo masuk Phi Brain untuk kemudian membuat gelang orpheus palsu dan menjalankan rencana kaya toneri sekarang.
Q: Gimana caranya pemilik gelar Einstein mendapat gelang orpheus kalau keturunan tidak mempengaruhi siapa yg akan menjadi pemilik gelar?
A: Soal itu karena mereka (calon pemilik gelar Einstein) merasa terpanggil oleh gelang Orpheus lalu memutuskan mencarinya.
Q: Mana gelang orpheus Naruto?
A: Naruto kagak punya pusaka kek begituan.
Q: Kenapa author nyantumin OP kaya ada orang yg mau denger aja?
A: Ngenes amat :3 itu cuman rekomendasi pribadi kok. Lagipula lagu nya juga gak kalah enak dari sayuran yg di krawu (semacam makanan) favorit saya.
Q: Apa yg didapat Toneri kalo berhasil membunuh Naruto?
A: Ketenangan. Kan udah dijelasin jika pemegang gelar Einstein ditakuti oleh Enigma,Antonionette dan Pythagoras karena kemampuannya + gelang orpheus tapi di generasi Naruto bagi Enigma dan Antonionette pemegang gelar Einstein tidak dianggap ancaman besar karena menurut data GoG dia tidak punya gelang orpheus yg biasanya dimiliki pemegang gelar Einstein.
Q: Kapan Sherlock bbc season 4 rilis?
A: Tahun 2016,desember nanti baru mulai syuting.
Nano, Log Out!
