Chapter 21
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!: Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
~.~.~.~
Chapter 21: The Last: Sorry ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
Opening Song: Nano - Infinity#Zero
Keesokan harinya!
Bangun lebih dulu dari yg lainnya membuat Naruto segera berinisiatif untuk sedikit melakukan pemanasan tapi hal itu dia urungkan karena badannya seperti dililit oleh sesuatu yg membuatnya tak bisa bergerak.
"Aree... apa ini?" Mencoba beberapa kali meloloskan diri tapi tak berhasil, Naruto menyimpulkan bahwa semua ini adalah pekerjaan Otou-sama nya tentang game yg mereka bicarakan kemarin.
Karena tidak bisa membebaskan dirinya akhirnya Naruto menyerah tapi begitu dia akan bergegas menuju alam mimpi sekali lagi, sebuah gerakan yg dia rasakan dengan medium kasur yg membelit tubuhnya sebagai perantaranya, gerakan itu dia rasakan seperti melepas tali yg mengikatnya.
Setelah orang asing itu melepaskan tali yg melilit Naruto dan pergi keluar lagi, Naruto langsung melepaskan diri dari kasur yg membelitnya dan menemukan lintingan-lintingan kasur lagi yg berjumlah 4 buah di kamarnya. Dia sudah tahu jika 4 lintingan kasur itu itu berisi Rias, Sona, Maki, Akeno.
Tak lama kemudian sebuah gerakan terjadi pada lintingan kasur yg satu kemudian diikuti yg lainnya dan benar saja setelah itu semua lintingan kasur terbuka menampilkan Sona yg tanpa kaca mata, Akeno dengan rambut acak-acakan, Rias dengan hanya memakai baju piyama sedangkan bawahannya hanya memakai celana dalam dan Maki yg terlihat Normal.
"Kyaaa! Kenapa aku disini!" Teriak Rias yg sadar jika dia berada di kamar Naruto dan sedang dipandangi Naruto yg saat ini setengah telanjang karena hanya memakai celana pendek sedangkan bagian atasnya tidak tertutupi oleh apapun sehingga menampilkan tubuhnya yg cukup atletis.
"Ara.. ara... tidak kusangkan jika Naruto-kun menculik semuanya. Padahal aku sendiri saja bisa memuaskanmu."
"Diamlah Akeno! Kita harus mencari tahu apa yg terjadi saat ini." Kata Sona yg diikuti oleh pukulannya pada kepala Akeno dan hanya dibalas ucapan 'Tehee!' Sambil tersenyum menggoda oleh Akeno.
"Sona benar. Apa kau tahu sesuatu tentang ini, Naruto-kun?"
"Ini adalah game." Sontak saja perkataan Naruto itu mengalihkan perhatian mereka semua.
"Game? Apa orangtua kita..."
"Ya, Rias. Kali ini adalah game Pandir yg sesungguhnya. Aku mendengar sesuatu di lantai 1 dan lantai 2 juga dihuni oleh orang lain selain kita. Kalian berpencarlah menjadi 2 kelompok lalu periksa lantai 1 dan 2 jika kalian diberi game oleh orangtua kalian maka kalian harus menyelesaikannya. Jika tidak..."
"Jika tidak bisa apa yg terjadi Naruto-kun?"
"Kalian akan terbunuh. Yg mengusulkan game ini adalah Otou-sama dan kurasa dia akan membuat kalian membayar waktu-waktu pelatihan yg tidak kalian lakukan masih kecil. Dengan kata lain Otou-sama akan membuat kalian memasuki Phi Brain secara paksa."
"Tapi jika itu terjadi maka..."
"Kalian hanya akan pingsan. Otou-sama sengaja memilih orangtua kalian sebagai perantaranya dalam memberikan game Pandir pada kalian agar semangat hidup kalian menjadi berlipat ganda jadi dengan begitu paling tidak kesempatan hidup kalian setelah memasuki Phi Brain akan meningkat."
"Aku paham. Jadi kalau begitu aku dan Maki akan memeriksa lantai 1 sedangkan Rias dan Akeno akan memeriksa lantai 2. Tapi kau kemana Naruto-kun?"
"Atap."
"Atap? Kenapa kau suka sekali tempat itu?"
"Aku hanya ingin kesana saja."
"Kalau begitu ayo kita selesaikan game ini!" Setelah mengatakan itu kelompok Sona dan Maki segera keluar dan berlari menuju lantai 1 diikuti oleh kelompok Akeno dan Rias yg berlari menyusuri lantai 2 yg sekarang mereka tempati.
"Haah... mereka terlalu bersemangat bahkan saat belum berganti baju." Kata Naruto yg baru saja memakai baju kasual yg dia kenakan kemari setelah mandi. Mengambil sebuah alat yg dikerjakannya kemarin malam, Naruto lalu berjalan menuju ke atap vila ini. Kenyataan bahwa vila berlantai 2 memiliki atap bak gedung pencakar langit membuat Naruto sedikit heran dan bertanya-tanya siapa arsitek yg membuat desain vila seperti ini?
Sona dan Maki...
Setelah sampai di lantai 1, sona dan Maki langsung mencari-cari keberadaan orangtua mereka untuk menyelesaikan game Pandir yg dimaksud Naruto.
"Maki, kita coba di dapur."
"Baiklah Sona."
Mencari di dapur dan benar saja mereka menemukan ibu mereka yg masih memakai piyama. Sedangkan Ellie dan Akasha yg melihat anaknya langsung menjalankan rencana yg dibuat Minato.
"Kami sudah tahu jika kalian akan pergi berkelompok jadi ada perubahan rencana. Tidak ada 2 game melainkan 1 game yg harus kalian berdua pikirkan bersama." Kata Ellie (ibu Sona) lalu mengeluarkan sebuah stopwatch elektrik.
"Kuharap kalian berdua memaafkan kami jika kalian harus mati di tangan ibu kalian sendiri." Kata Akasha (ibu Maki) lalu mengeluarkan 2 buah pistol yg masing-masing ditodongkan ke kepala Sona dan kepala Maki. Meski berat rasanya perasaan gundah seperti itu coba dia tinggalkan saat ini.
"Mati? Apa kita akan mati disini, Maki?"
"Tidak mungkin Sona. Kita akan menyelesaikannya."
"Kami akan menang!" Kata Sona dan Maki berbarengan.
"Kita lihat saja anakku. Kemampuan pemegang gelar Galileo adalah kecepatan berfikirnya sedangkan Da Vinci sudah tidak diragukan lagi dalam hal-hal berbau seni."
"Maksud Ellie adalah waktu kalian terbatas. Bisakah kau langsung membacakan gamenya Ellie?"
"Tentu saja. Jika sebuah rudal yg di dalamnya berisi bom atom diluncurkan dengan kecepatan mendekati cahaya dari bumi melewati bagian samping planet Mars dan saat itu posisi bumi dan planet luar lulus sejajar maka selanjutnya apa yg akan terjadi dengan bumi?"
"Eh!" Kaget Sona dan Maki pasalnya game yg ini sangat berbeda dengan apa yg dilihat mereka sebelumnya.
"Jangan terkejut begitu. Game ini akan memaksa otak kalian untuk mengikuti kemampuan Newton yaitu memperkirakan masa depan. 3 menit dimulai dari sekarang!"
"Sona, game ini tidak cocok untuk kita."
"Aku tahu Maki. Pemikiran cepatku dan pemikiranmu tidak cocok untuk game seperti ini. Itulah yg diincar Minato-ojiisan yaitu kelemahan kita, jika saja ini adalah game penyandian seperti sebelum-sebelumnya maka ini akan lebih mudah."
Game penyandian? Yg dimaksud oleh game penyandian adalah game yg berfokus pada clue dan sandi. Clue biasanya dirangkai secara tersirat di dalam kata-kata lalu untuk sandinya biasanya menggunakan sistem bilangan yg dikonversikan ke alfabet maupun sebaliknya. Contohnya adalah game di rute Rias, sebagian di rute Maki dan Akeno (rute Sona gak ada game).
'Apa yg akan terjadi selanjutnya? Apa yg akan terjadi pada rudal itu selanjutnya? Apa dia menabrak sabuk asteroid? Tidak mungkin. Jika kecepatannya adalah mendekati cahaya maka kemungkinannya menabrak sabuk asteroid sangat kecil.' Tanpa Sona sadari kini mata kanannya berubah warna menjadi kemerah-merahan dan dia menjadi tidak fokus pada apapun kecuali pada game yg di pikirannya.
Melihat Sona Sona yg sedang berfikir serius membuat Maki tak ingin kalah dengan Sona. Tanpa dia sadari warna mata kanannya juga berubah menjadi kemerah-merahan seiring darah kaya oksigen masuk ke kepalanya. Mereka berdua telah berhasil memasuki Phi Brain.
'Setelah planet Mars selanjutnya ada planet Jupiter. Planet terbesar di tata surya yg ditempati manusia. Sebuah bola gas raksasa yg terdiri dari 90% hidrogen dengan inti yg tidak bisa membakar hidrogen.'
"Maki! Apa kau di dalam?"
"Ya! Aku di dalam."
"Waktumu tinggal 1menit lagi. Sona, Maki."
'Akh! seperti kata Naruto-kun kepalaku rasanya seperti diperas..' Batin Sona dan Maki bersamaan saat merasakan sakitnya memasuki Phi Brain untuk ke 2 kalinya.
"Maki, kali ini tidak ada unsur matematika bukan? Meski kecepatan mendekati cahaya itu sudah pasti dibawah 300.000 km/detik."
"Ya, yg ada di game ini hanyalah ilmu fisika dasar dan juga logika. Sudah tahu jawabannya?"
"Ya, bagaimana denganmu?"
"Kau meremehkan Da Vinci? Tidak mungkin aku tidak tahu jawaban seperti ini."
"Dalam hitungan ketiga. 1... 2... 3..." Setelah itu Maki dan Sona meneriakkan jawaban mereka bersamaan.
"JAWABANNYA ADALAH! BUMI AKAN HANCUR!"
"Setelah melewati Mars maka rudal itu akan memasuki Jupiter dan tidak mungkin melewati sisi samping Jupiter karena Jupiter jauh lebih besar daripada Mars." (Maki)
"Setelah itu, rudal akan meledak saat memasuki Jupiter dan menyalakan hidrogen yg menyusun Jupiter sehingga menjadi bintang seperti matahari hanya saja jauh lebih kecil." (Sona)
"Jupiter adalah kumpulan gas yg membentuk bola, kerapatannya lebih kecil daripada bumi sehingga tidak ada daratan di dalamnya dan intinya adalah benda padat yg tidak mampu memproduksi energi untuk reaksi nuklir layaknya bintang seperti yg lainya. Karena kecepatan angin di planet itu mencapai 400 meter/detik itu artinya api bisa langsung menyebar dengan cepat ke seluruh planet sampai bagian terdalamnya." (Maki)
"Karena ukuran yg jauh lebih kecil dari matahari ditambah tidak memiliki inti yg dapat memproduksi energi maka dalam sekejap Jupiter akan mati sebagai planet yg menyala bagai bintang lalu menyebabkan supernova karena keruntuhan gravitasi secara tiba-tiba dan menjadi lubang hitam." (Sona)
"Meski ukurannya kecil tapi supernova akibat Jupiter tidak bisa diremehkan. Bisa saja Mars terdorong sampai ke Bumi lalu menabraknya atau mungkin milyaran asteroid di sekitar Mars akan terdorong jatuh ke Bumi terlebih dulu. Bahkan cincin batuan yg mengelilingi Jupiter juga mempunyai kemungkinan menabrak Bumi." (Maki)
"Intinya adalah jika hal itu terjadi maka Bumi akan hancur." (Sona)
Mendengar serangkaian jawaban yg sangat detail itu membuat Akasha dan Ellie kagum pada anaknya. Meski begitu mereka tidak akan membiarkan anaknya melewati game Pandir ini semudah itu, mereka akan berusaha mengacaukan jawaban Sona dan Maki.
"Sekarang aku ingin bertanya padamu Maki-chan." Kata Akasha kepada anaknya.
"Bertanya apa, Okaa-sama?"
"Di game yg dibacakan oleh Ellie tadi ada kalimat yg menyatakan bahwa rudal itu melewati sisi samping Mars. Kenapa kau yakin rudal itu tidak tertarik oleh gravitasi Mars?"
"Itu mudah saja. Semakin cepat benda bergerak maka waktu di sekitarnya akan melambat itu artinya untuk melewati Mars dengan kecepatan mendekati cahaya hanya dibutuhkan waktu yg sangat singkat sehingga kemungkinan rudal itu tertarik karena rotasi Mars bisa dibilang 0%."
"Tapi kenapa kalian yakin jika rudal itu akan mampu menyalakan Jupiter? Kenapa Jupiter yg merupakan bola gas bisa menghentikan laju benda padat?" Kali ini yg bertanya adalah Ellie.
"Bukan hanya 1 faktor yaitu kebetulan Okaa-sama tapi ada 1 faktor lain yg menyebabkan Jupiter mampu meledakkan rudal itu. Faktor itu adalah inti planet Jupiter. Intinya berupa batuan es padat dengan massa 10-15 kali massa bumi, itulah yg menyebabkan rudal akan meledak yaitu karena menabrak benda padat." Kata Sona menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Tapi bagaimana rudal itu sampai ke inti padat Jupiter? Mengingat ketebalan awan di Jupiter mencapai 50 km lalu di bawahnya terdapat 21000 km lapisan tebal hidrogen dan helium ditambah lagi dibawahnya masih ada 40000 km lautan cairan hidrogen metalik?"
"Untuk melewati itu maka kecepatan adalah hal yg paling penting. Mendekati cahaya berarti masih sedikit berada di bawah 300.000 km/detik. Ditambah lagi gravitasi planet Jupiter maka menembus berbagai lapisan itu dan menabrak inti adalah hal yg mungkin dilakukan."
Setelah melewati sesi tanya jawab seperti itu tubuh Sona dan Maki rasanya sangat lemas akibat memasuki Phi Brain ditambah lagi mereka harus berusaha keras agar indera pendengaran mereka masih berfungsi untuk saling berkomunikasi dan juga menjawab pertanyaan dari Akasha dan Ellie setelah mereka berhasil menyelesaikan Game Pandir.
"Selamat. Kalian telah lulus." Kata Akasha dan Ellie bersamaan memberikan selamat kepada anak mereka tapi Sona dan Maki terlalu lelah untuk sekedar mendengar kalimat itu, akibatnya tubuh mereka berdua oleng ke depan. Beruntung Ellie dan Akasha cepat tanggap dan menangkap tubuh anak mereka lalu menggendong anak mereka yg kelelahan menuju kamar mereka berdua untuk membiarkannya istirahat.
Rias dan Akeno...
Scene kini berganti pada kelompok Rias dan Akeno yg sedang mencari orangtua mereka di lantai 2. Hampir seluruh ruangan telah mereka telusuri kecuali sebuah gudang dengan pintu terbuka dan lampu hidup yg memang telah mereka curigai sebelumnya.
Memasuki gudang yg telah mereka bersihkan kemarin, Rias dan Akeno tidak melihat jika di sana ada orang terlebih lagi orangtua mereka tapi mereka melihat tulisan di dinding. Sebuah tulisan dengan penyandian yg biasa mereka lihat sebelumnya.
"Akeno, tulisan itu..."
"Meski sudah melihat penyandian yg lebih panjang dari ini tapi rasanya penyandian di dinding ini lebih sulit. Tidak ada kata yg bisa dibentuk meski aku sudah menguraikannya seperti Naruto-kun."
Ilustrasi tulisan di dinding + analisa Akeno:
1 10 10100 11000 = 1, 2, 20, 23 = A, b, t, x
10111 10 10010 10000 = 16, 2, 18, 16 = P, b, r, p
110 10001 11000 1001 110 11000 = 6, 17, 24, 9, 6, 24 = F, q, x, i, f, x
Konversinya dari Biner ke Desimal lalu baru ke Alfabetis.
Braak! Zzzz...
Suara pintu yg ditutup oleh seseorang dan suara gas yg mulai memasuki ruangan dengan cepat menyadarkan mereka bahwa mereka harus segera menyelesaikan game ini untuk dapat keluar.
Sementara itu diluar ruangan terlihat Venelana dan Himi yg sedang berjaga di depan pintu gudang. Siapa tahu Rias akan mendobraknya untuk sekedar keluar? Rencana yg dibuat Minato adalah mengunci mereka di dalam ruangan lalu memasukkan gas perlahan-lahan ke ruangan itu. Jika dalam waktu 3 menit dan mereka tidak bisa menjawab maka bisa dipastikan bahwa Rias dan Akeno akan mati karena menghirup gas beracun yg memiliki massa jenis jebih berat dari gas lain, itu sebabnya jatuh ke lantai bukannya menyebar di udara.
Apa mereka tidak mengkhawatirkan keselamatan Rias dan Akeno? Tentu saja mereka khawatir, hanya saja bukankah sudah menjadi intuisi seorang orangtua jika mempercayai kemampuan yg dimiliki oleh anaknya?
"Apa yg harus kita lakukan sekarang, Akeno?"
"Diamlah sebentar, Rias."
"Apa yg kau lakukan?"
"Tentu saja aku memikirkan game ini. Tapi ke tingkat yg lebih tinggi dati sebelumnya." Setelah mengatakan itu mata kanan Akeno mulai berubah warna menjadi kemerah-merahan akibat darah kaya oksigen yg melaju dengan cepat ke otaknya.
'Rasanya masih sama seperti saat aku memasuki Phi Brain pertama kalinya, sakit. Tapi aku bahkan tidak tahu apa yg harus aku pikirkan saat ini jadi bagaimana bisa aku berpikir Phi Brain membantuku untuk menyelesaikan game ini!' Batin Akeno.
'Ingatlah Akeno... kau pasti pernah mengingat sesuatu tentang penyandian di buku yg kau baca setelah kemunculan Enigma!' Tanpa sadar Akeno telah menghabiskan banyak waktu untuk mengingatnya.
'Aku ingat! Ini adalah salah satu cara penyandian kuno, Sandi Caesar! Di dalam sandi Caesar huruf-huruf bergeser ke depan sebanyak 3 huruf. A sebenarnya adalah D, B sebenarnya adalah E begitu pula selanjutnya. Jika setiap huruf disana aku geser 3 huruf ke depan maka akan menjadi kalimat Dewa Zeus Italia. Maksudnya adalah dewa Jupiter si pendiri kota Roma.'
"Akeno, kau tidak apa-apa?" Tanya Rias khawatir pada Akeno yg kelihatan sangat lemas meski masih bisa berdiri. Dan benar saja di detik setelahnya tubuh Akeno oleng ke depan, untung saja Rias dengan sigap menangkapnya jika tidak maka Akeno pasti sudah mati karena menghirup gas beracun di lantai.
"Rias... jawabannya adalah Jupiter. Dewa Jupiter..." Itulah perkataan Akeno yg terakhir kali sebelum akhirnya pingsan di dekapan Rias karena penurunan energi yg drastis di tubuhnya akibat memasuki Phi Brain.
Karena sudah tahu jawabannya, Rias pergi ke arah pintu yg digunakan mereka untuk memasuki gudang ini. Dengan tanpa perasaan bersalah, Rias menendang pintu itu sampai terlepas dari engselnya lalu berjalan keluar sambil membawa tubuh pingsan Akeno dengan menyelipkan tangannya ke bahu Akeno lalu membawanya berjalan keluar.
"Jawabannya?" Baru saja keluar dari gas beracun, kini Rias sudah dihadapkan lagi oleh Okaa-sama nya dan ibu Akeno yg masing-masing membawa sebuah pistol.
"Jawabannya adalah dewa Jupiter." Jawab seadanya dan langsung menyelonong pergi begitu saja. Hari ini dia terlau mengantuk untuk meladeni mereka berdua ditambah lagi dia harus segera membawa Akeno ke kamarnya sendiri lalu setelah itu Rias akan melanjutkan tidurnya.
Naruto...
Berbeda dengan kelompok SonaMaki dan RiasAkeno yg terlibat dalam sebuah game yg mengancam nyawa, Naruto yg berada di atap malah merasakan yg namanya kedamaian meski harus menahan dinginnya angin fajar jam setengah 3.
Jam setengah tiga? Lalu kenapa para ayah dari Sona, Maki, Rias dan Akeno lalu Kushina dan Naruko tidak bangun dan memeriksa keluar saat mendengar teriakan dari Sona dan Maki yg bahkan di dengar Naruto dari atap? Jawabannya mudah. Itu karena mereka telah diberi obat bius saat 'bermain' minus Naruko yg Naruto perkirakan dibius dengan mencampur obat tidur di air putih yg biasa diminumnya sebelum tidur.
"Hari libur seperti inilah yg aku impikan. Sangat damai, tenang dan aku yg terbebas dari semua game yg dipikiranku. Meski itu mustahil mengingat tata surya masih berputar seperti biasanya."
"Naruto, mereka semua lulus. Apa yg kau lakukan?"Kata sebuah suara yg baru saja datang dari arah pintu menuju atap.
"Kalau mereka lulus maka syukurlah. Paling tidak mereka bisa menggantikanku dan aku bisa istirahat dengan tenang. Aku sedang memasang apa yg aku buat kemarin, IP Transmitter."
"Untuk apa?"
"Menipu Interpol dan Europol. Perkiraanku mereka akan mulai mencari Kaneki di jepang tanggal 1 Juni, jika mereka mengetahui ada sambungan internet yg mempunyai IP sama dengan IP yg telah membobol sistem kerajaan Inggris maka mereka akan langsung memeriksanya sedangkan aku sudah kembali ke Kuoh saat hal itu terjadi."
"Dengan begitu kau akan lepas dari kemungkinan terburuk bukan?"
"Aku tidak ingin berharap bahwa aku bisa hidup sampai tanggal 2. Karena bisa hidup sampai sekarangpun dari segala macam percobaan pembunuhan yg dilakukan oleh ayahku sendiri sangat melelahkan."
"Apa yg membuatmu berfikir kau tidak bisa hidup sampai tanggal 2?"
"Karena dendamku."
"Lupakan saja dendam itu. Lupakan Hinata yg telah memperburuk hidupmu."
"Aku tidak bisa, Otou-sama."
"Kalau kau tidak bisa melupakan Hinata kenapa kau punya dendam atas kematiannya? Di anime, hal seperti itu akan membuat orang yg dulu disayangi sang pendendam sedih di alam lain."
"Tapi ini bukanlah anime, kehidupan nyata adalah sebuah server yg berwujud fisik masa depan yg sangat rasional dan ramah tetapi mempunyai sistem dasar hukum rimba."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Naruto."
"Akan kujelaskan dengan mudah. Apa Otou-sama membawa handphone?"
"Ya, aku membawanya."
"Banting sampai hancur." Perintah Naruto yg langsung dituruti oleh Minato. Handphone kelas premium tak bersalah itu hancur berantakan dan tidak bisa dipakai lagi.
"Setelah itu?"
"Minta maaflah pada handphone itu."
"Gomenasai!" Kata Minato menuruti perintah Naruto. Kini dia ber ojigi 90 derajat ke bangkai handphone yg telah dia banting.
"Sekarang apa handphone itu kembali utuh? Apa handphone itu bisa digunakan lagi?"
"Tidak."
"Itulah yg kurasakan setelah Hinata mati. Dendam tidak selamanya buruk bagi manusia, manusia adalah makhluk hina yg bisa saling mebenci sesama di masa lalu hingga membunuh sesama manusia."
"Pemikiran seperti itu sangatlah kuno."
"Aku mencoba mengaplikasikan teori kekekalan energi di kehidupanku. Sehingga di hidupku tidak akan ada hutang maupun dendam." (Dengan kata lain selalu membalas perbuatan orang lain terhadapnya.)
"Pikirkanlah baik-baik sekali lagi. Jika kau tetap egois membalaskan dendammu maka kau pasti akan mati tetapi jika kau mau mengalah kau bisa menghindari kematian itu, Naruto."
"Semua ini sudah kita bahas sebelumnya. Jika itu bukan kematianku maka aku takkan mati."
"Terserahmu saja. Aku akan tidur."
Meninggalkan Naruto sendiri dengan IP Transmitter yg masih belum dinyalakan, Minato pergi turun ke bawah lalu tidur di kamarnya dan Kushina.
Setelah kejadian pagi fajar itu, pagi (sekitar jam 7) harinya Sona, Akeno, Rias, Maki dan Naruto tidak kunjung bangun dari tidurnya bahkan sampai siang hari. Kondisi itu memaksa mereka untuk pulang lebih cepat dari jadwal yg ditentukan lalu membawa Rias, Akeno, Maki dam Sona ke rumah sakit sedangkan Minato bersikeras bahwa Naruto tidak apa-apa. Dia bilang bahwa ini adalah saat anaknya tidur melebihi batasan tidur 5 jamnya.
Time Skip!
1 Juni 20xx
03.00 PM
Setelah melewati liburan yg seharusnya santai dan membuat pikiran tenang malah menjadi sebuah pelatihan yg mengancam nyawa, harusnya Naruto saat ini berada di sekolah tapi kenyataannya dia tidak pergi ke sekolah hari ini.
'Haaah... tenanglah kalian semua. Jika kalian khawatir seperti ini maka aku tidak akan bisa mati dengan tenang.' Batin Naruto melihat dan membaca serangkaian sms dan miss call dari Rias, Sona, Maki, Akeno dan Naruko. Dia memang membolos hari ini tapi bukan berarti dia membolos karena memang ingin, sejujurnya dia punya janji dengan seseorang di atap bangunan. Seseorang yg menjadi dalang dibalik kematian Hinata.
Ceklek...
"Dia belum datang?" Melihat tidak ada orang di tempat perjanjian membuat Naruto berinisiatif menunggunya sembari mengaktifkan paket data seluler di handphonenya agar Naruko dkk bisa mencari posisinya lewat GPS dan tak lupa setelah itu dia memakai topeng Kaneki dan wig berwarna putih yg sedikit dia kencangkan di kepalanya.
Tidak lama kemudian, Naruto mendengar suara pintu atap dibuka oleh seseorang. Melihat bahwa orang yg membukanya adalah seorang pemegang gelar Pythagoras palsu membuat ekspresi wajah Naruto semakin serius. Dia tidak boleh lengah sedetikpun dan harus memastikan bahwa orang itu mati.
"Yo! Einstein. Kau datang lebih cepat dariku." Sapa Toneri pada Naruto yg sudah terlihat menunggunya di atap.
"Langsung saja kenapa kau memanggilku kesini, Toneri?"
"Aku mengaku kalah. Kau menipu para Interpol dan Europol itu dengan IP Transmitter yg memancar di Okinawa dan sekarang kau bisa bebas. Tapi Kaneki masih menjadi buronan kalau begini ceritanya."
"Aku tahu. Aku akan membuat penutup agar status buronan Kaneki hilang."
"Tidak secepat itu." Tahu apa yg dilakukan Naruto, Toneri langsung menempelkan moncong pistol yg disembunyikannya ke mata kanan Kaneki. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat Naruto yg juga ingin menempelkan pistol yg didapatnya entah darimana di kening Toneri.
"Haah... untuk kali ini saja aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu, Naruto." Karena tak ada yg mengalah maka Toneri membiarkan Naruto menggali informasi tentang dirinya maupun orang lain dengan cara bertanya langsung padanya.
"Siapa Pythagoras yg asli? Apa hubungannya denganmu? Dimana markas GoG? Lalu jika kau mati disini siapa pemimpinnya?" Tanya Naruto beruntun. Dia ingin mengorek informasi sedalam mungkin mumpung dia diberi kesempatan bertanya oleh pemilik gelar Pythagoras palsu itu.
"Markas GoG terletak di kota Roma, Italia. Jika aku mati maka kepemimpinan GoG akan jatuh ke tangan Antonionette yg saat ini ada disana. Hubunganku dengan pemegag gelar Pythagoras yg asli adalah kakak beradik, pemegang gelar Pythagoras yg asli sebenarnya adalah kakakku sendiri yg bernama Madara Otsutsuki."
"Lalu dimana Madara sekarang?"
"Aku tidak tahu. Aku juga sedang mencarinya tapi tidak dapat menemukan posisi pastinya."
"Lalu ada apa dengan Madara? Kenapa dia terdengar seperti anak Broken Home karena adiknya sendiri tidak tahu dia dimana."
"Ceritanya panjang dan dia memanglah Broken Home. Dulu Madara adalah anak yg sangat berbakat dalam banyak hal, berbeda denganku yg hanya bisa beberapa trik kecil komputer untuk meretas sistem ataupun olahraga. Saat masih kecil Madara dan aku tinggal di rumah nenekku karena kedua orangtua kami meninggal dalam kecelakaan. Dan juga umurku sebenarnya bukan 16 tahun, aku lebih tua darimu."
"Sejak saat itu nenekku sedikit berubah dari biasanya dan setelah kejadian itu Madara diberitahu bahwa dia adalah pewaris gelar Pythagoras oleh nenekku yg saat itu masih menjadi pemegang gelar Pythagoras lalu dengan bantuan GoG yg didirikan nenekku, Madara tumbuh menjadi seorang pemegang gelar yg sangat menjanjikan tapi disitulah masalah bermula."
"Madara yg saat itu tak sengaja membaca informasi tentang gelang Orpheus, menginginkan gelang yg saat itu digunakan oleh Hagoromo-ojiisan. Alhasil mereka berdua melakukan duel secara diam-diam tanpa diketahui oleh nenekku dan hasilnya adalah Madara kalah. Madara yg hampir saja mati berhasil diselamatkan oleh Hagoromo-ojiisan bahkan tanpa menggunakan gelang Orpheus, sejak saat itu Madara kabur dari rumah."
"Nenekku yg tahu kabar akan duel itu beberapa hari setelah Madara pergi dan duel terjadi menjadi sedih dan dia punya ide untuk membuatku menjadi pemegang gelar Pythagoras kedua. Setelah kejadian itu dengan persetujuan Hagoromo-ojiisan maka nenekku mulai meneliti gelang Orpheus, tapi tak lama kemudian Hagoromo-ojiisan sadar bahwa penelitian itu tidak sekedar meneliti penyebab gelang Orpheus mampu meningkatkan kerja otak tetapi malah digunakan untuk membuat replika gelang Orpheus itu sendiri."
"Lalu setelah itu Hagoromo segera menyusun kekuatan untuk menggulingkan nenekmu tapi hal itu tidak bisa dibiarkan oleh pemegang gelar Enigma dan Antonionette yg saat itu menjadi kolega dari nenekmu. Saat peristiwa itu (pengkhianatan GoG) terjadi kau disembunyikan oleh nenekmu di sebuah rumah mewah lengkap dengan pembantu dan asistennya. Setelah tahu nenekmu terbunuh maka asistenmu yg saat itu merupakan mantan asisten dari nenekmu memberitahukan pesan wasiat nenekmu yaitu untuk melanjutkan cita-citanya. Tidak heran jika selama ini yg kau lakukan hanya meniru apa yg dilakukan nenekmu." Lanjut Naruto menyela ucapan Toneri.
"Kau benar. Cita-cita nenekku adalah mengabulkan cita-cita dari Madara dan cita-cita dari Madara adalah membalas dendam kepada dewa atas perlakuannya kepada manusia jaman dahulu. Madara percaya jika saat itu dewa tidak menyegel kemampuan otak manusia maka manusia atau yg lebih tepatnya pemegang gelar akan menjadi penguasa yg bahkan disegani oleh dewa."
"Jadi... apa sekarang aku boleh membunuhmu, Pythagoras palsu?"
"Lebih baik letakkan dulu senjatamu lalu lihat apa yg akan terjadi pada sekumpulan pemegang gelar perempuan yg melihatmu dari kejauhan itu jika kau tetap menembak kepalaku." Kata Toneri setelah melihat mereka mendapat penonton dari jauh dan penonton itu tak lain dan tak bukan adalah Sona, Rias, Akeno, Maki dan Naruko.
"Memangnya apa yg akan terjadi?"
"Mereka akan mati. Tempat ini sengaja aku pilih karena akan cocok untuk tempat bunuh diri dengan cara melompat dari ketinggian."
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Kau tahu sendiri bukan? Gedung-gedung tinggi yg membentang dan juga area yg sepi karena jalanan sekitar telah aku blokir. Apa yg cocok untuk itu?"
"Penembak jitu."
"Kau benar. Jika kau tidak melompat dari atas sini dan mati, maka aku akan memberi kode kepada mereka (penembak jitu) dengan menggunakan walkie talkie yg ada di sakuku untuk menembak para pemegang gelar itu beserta adikmu."
"Baiklah. Tapi setelah aku membunuhmu." Kata Naruto mengancam Toneri. Pelatuk pistol yg dia pegang kini telah dia tarik, begitu pula dengan Toneri.
"Kau tidak akan berani melakukannya. Kau bukanlah iblis melainkan malaikat. Jika kau ingin membunuh maka kau harus menjadi iblis untuk menahan seluruh beban itu." Balas Toneri yg juga menarik pelatuk pistolnya.
"Tidak perlu menjadi iblis untuk membunuh. Bahkan malaikat pun bisa membunuh jika mereka tidak diikat oleh tuhan mereka."
Dor! Dor!
Hampir secara berbarengan, Naruto dan Toneri menembakkan sejata mereka ke kepala masing-masing. Hasilnya adalah Toneri yg terjatuh dengan kening yg bersimbah darah karena ditembak oleh Naruto sebanyak 2 kali untuk memastikannya benar-benar mati tanpa menderita.
Sedangkan Naruto ajaibnya tidak mengalami luka apapun meski dia yakin Toneri tadi memang benar-benar telah menembaknya. Apakah pistol Toneri tidak berisi peluru ataupun bubuk mesiu? Saat Naruto mencoba mengeceknya semua itu ada. Sekarang tinggal menunggu bagian terakhir yaitu dia harus meloncat dan mati dari atap gedung yg tingginya puluhan meter diatas tanah tapi sebelumnya Naruto menempatkan sebuah kamera yg akan digunakan untuk merekam kematiannya.
Cekleeek...
"Haah... haah... ... haaah... semua berjalan sesuai rencanamu. Sekarang jalan apa yg akan kau pilih, Naruto?" Pintu atap kini terbuka lagi menampilkan Minato yg kelelahan karena berlari.
"Aku akan tetap melanjutkannya Otou-sama. Pastikan kau mengedit videonya dengan sangat rapi ya?"
"Serahkan saja padaku."
Naruto melihat Rias, Sona, Maki, Akeno dan Naruko yg berjalan ke arahnya dan tak terasa bahwa jarak mereka kini tak lebih dari 150 meter. Tahu bahwa waktunya tidak banyak, Naruto segera pergi ke pinggiran atap yg dibuat lebih tinggi dari bagian tengah atap dan berdiri di salah satu sisi yg menghadap Naruko, Sona, Maki, Rias dam Akeno yg masih setia berjalan kearahnya tapi dengan menodongkan pistol yg dijarahnya dari Toneri ke arah kepalanya sendiri. Dengan keberanian yg dia punya maka Naruto menelpon Naruko.
"Moshi-moshi! Onii-chan! Kau ada dimana? Kau tidak ada diatas gedung yg tutup kan?"
"Ya Naruko. Aku disana."
"Apa yg kau lakukan Naruto-kun! Cepat turun darisana!"
"Akeno benar. Dan jauhkan pistol itu!"
"Tenang saja ini tidak apa-apa. Tenanglah Rias, Akeno."
"Aku tahu kau akan bertindak nekat lagi, Kaneki! Cepatlah turun kesini!" Sona punya firasat buruk pada Narutk kali ini.
"Kaneki!" Teriak Maki di handphone Naruko mencoba menarik perhatian Naruto agar mendengarkan mereka dan segera turun.
"Bisakah kalian diam? Sejak kapan pemegang gelar seperti kalian seberisik ini sebelumnya? Mungkin ini adalah waktu yg tepat."
"Waktu yg tepat? Tepat untuk apa Onii-chan!"
"Untuk Naruko, jangan memisahkan wortel dari makanan yg kau makan. Mata adalah indera manusia yg paling berharga untuk melihat dunia jadi kau harus menjaganya dan juga selama kau ada di klub Puzzle jangan sekali-kali mencoba merepotkan yg lain ya? Kau harus janji pada Onii-chan mu ini.
"O-Onii-chan! Apa yg kau bicarakan? Kenapa... kenapa Onii-chan berbicara seolah akan mati?" Balas Naruko dengan mata berkaca-kaca.
"Dan untuk Rias, Sona, Maki dan Akeno. Kuharap kalian mau menjaga adikku yg menyebalkan ini dan aku minta maaf kalau selama ini merepotkan kalian. Sudah itu saja pesan terakhirku untuk saat ini. Sampai jumpa lagi."
Setelah mendengar kata-kata itu, Naruko, Rias, Sona, Maki dan Akeno melihat Naruto yg berdiri di atap menggunakan topeng Kaneki membuang handphone nya lalu meski samar-samar mereka melihat telunjuk Kaneki menekan pistol yg ditempelkan ke kepalanya sendiri sehingga membuatnya tertembak di kepala dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh dari ketinggian puluhan meter.
Melihat hal itu membuat Naruko dkk langsung berlari ke tempat Kaneki meski dengan mata yg berkaca-kaca karena shock tapi saat mereka akan menyeberangi jalan sebuah truk yg berukuran besar menghentikan langkah mereka sehingga mau tak mau membuat mereka berhenti. Sona yg memang punya kemampuan berpikir lebih cepat dari yg lainnya langsung sadar dari keterkejutannya dan mengambil jalan memutari bagian depan truk yg berhenti karena lampu merah itu.
Setelah berlari ratusan meter menuju posisi Kaneki jatuh, kini mereka dikejutkan oleh tubuh Kaneki yg berlumuran darah terutama kepala bagian samping yg tertembak oleh pistol yg ditembakkannya sendiri.
"Na-Naruto-kun." (Rias)
"I-ini tidak mungkin." (Akeno)
"O-onii-chan." (Naruko)
"Naruto-kun." (Maki)
"Kenapa? Kenapa kau mati? Kenapa kau bunuh diri Naruto-kun?" (Sona)
Tapi pertanyaan mereka tidak terjawab oleh siapapun karena yg ditanya telah mati bunuh diri di depan mereka. Sementara itu Minato yg masih berada di atap langsung menelpon seseorang atau mungkin ambulans untuk segera datang kesini. Meski tahu bahwa jika dia menelpon ambulan maka kesedihan yg dirasakan putrinya dan teman-teman anaknya belum lagi istrinya tidak akan hilang.
Kenapa dia tidak menghentikan Naruto? Alasannya sangat sederhana yaitu Naruto lebih memilih untuk membalaskan dendam pribadinya daripada membuang dendam itu meski itu artinya orang-orang terdekatnya akan merasa sedih dan sangat kehilangan. Anaknya itu sudah besar dan tidak bisa dia atur selamanya jadi dia tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan anaknya dan untuk kamera yg dipasang Naruto untuk merekam kematiannya, dia akan mengedit video di dalamnya agar yg terlihat adalah Kaneki yg jatuh ke trotoar dan mati dalam sekejap, dengan begitu status Kaneki sebagai buronan akan dihapus oleh Interpol dan Europol. Memangnya polisi internasional mau buang-buang waktu untuk menangkap orang yg sudah mati?
Time Skip! (Pemakaman Naruto)
Setelah dinyatakan tewas maka keluarga Uzumaki langsung mengadakan acara pemakaman Naruto yg dikunjungi oleh teman-teman mereka dan juga mitra kerja Minato yg mengucapkan belasungkawa dan juga mencoba menghibur Kushina yg sangat kehilangan sosok anak sulungnya.
Sementara itu selama prosesi pemakaman Naruko, Rias, Maki, Sona dan Akeno tak henti-hentinya menangis begitu pula Sirzech, Vali, Sairaorg, Negi dan Issei meski tangisan laki-laki lebih kecil daripada perempuan. Mereka tidak mengira jika Naruto yg mereka kenal mati dengan bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri dan jatuh dari ketinggian puluhan meter.
100 meter dari tempat pemakaman Naruto...
Kurang lebih 100 meter dari tempat pemakaman Naruto terparkir sebuah taksi yg dikendarai Izaya yg berhenti disana karena keinginan penumpangnya.
"Bisakah kita melanjutkan perjalanannya, Shintaro-san?" Kata Izaya kepada penumpang taksinya. Soalnya mereka sudah berhenti 5 menit karena penumpangnya itu melihat prosesi pemakaman Naruto dari jauh.
"Baiklah. Lagipula tidak ada gunanya melihat mereka semua." Balas penumpangnya yg diketahui bernama Shintaro lalu memasukkan teropongnya ke dalam koper yg dibawanya. Penampilannya bisa dibilang cukup unik karena dia memakai jaket merah dengan sedikit garis-garis putih lalu celana berwarna krem (karakter Shintaro Kisaragi dari anime MCA), yg paling mencolok adalah rambutnya yg berwarna hitam kelam tetapi anehnya matanya mempunyai warna yg berbeda. Di sebelah kiri berwarna biru saphire sedangkan sebelah kanan berwarna merah darah.
"Etto... kemana tujuanmu tadi Shintaro-san?"
"Bandara. Dan cepatlah karena aku akan ketinggalan pesawat kalau kau menyetir seperti siput."
Twitch!
"Diamlah bodoh! Kita akan sampai di bandara Tokyo hanya dalam hitungan menit."
"10.000 yen jika itu benar-benar terjadi, Izaya."
"Kau meremehkanku bocah!" Lalu Izaya melanjutkan perjalanan mereka yg sempat tertunda dengan mengebut.
Omake...
Kini Rias, Akeno, Naruko, Maki dan Sona berkumpul di bekas apartemen Naruto. Minato bersikeras tidak ingin menjualnya karena apartemen ini adalah peninggalan anaknya dan dibeli dari tabungannya sendiri begitu juga perabotan di dalamnya.
"Jadi ada apa Minato-ojiisan memanggil kami kemari. Ke apartemen Naruto-kun." Sona mengatakan kata yg terakhir dengan nada yg getir (masih belum bisa move on).
"Ini tentang pesan terakhir Naruto. Setelah aku memeriksa PC nya aku menemukan video ini. Lihatlah dulu lalu di bagian akhir akan ada teka-teki yg muncul." Kata Minato lalu memutar video yg dia maksud.
Pertama video itu menampilkan Naruto yg sedang memegang gitar, menggunakan pakaian kasual dan duduk di sofa yg sekarang mereka tempati. Lalu mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.
Play: Nano - 5150 (sangat-sangat-sangat author rekomendasikan untuk di denger)
"Another day slips by
I feel the wind
the sky is crying
I'm standing alone before an endlessly long night
the beat of my heart is echoing around me
Now the perfect world you prayed for
I see it in your eyes
you watch the beauty fall to pieces
as darkness surrounds you
Every single answer inside turns into a lie
you fight the pain that is threatning
as you hopelessly cry
Carry On every one of us every soul inside is bleeding
finally the broken silence begin to slip away
every pain every tear every breath I take
stolen by the darkness but I'm hanging on
for a morning that will never dawn
So take a look above at the heavens overhead
just like the way the night embraces all the stars
I'll always be right here, arms open wide
if you would let me in your broken heart
Beneath the shining stars in the heavens overhead
I'll stand until I've shed every tear that I can cry
"Through the endless night, you'll find a way"
I close my eyes and hear
a gentle voice within me
I look into your eyes and see there's a dream you've long forgotten
and the days you thought were over is what's holding you back now
if you'd only look inside yourself for the strength to let go
you would finally see the night fade away
Carry On every one of us every sould inside is praying
trying to spread our broken wings as we struggle to fly
tracing stars just beyond our fingertips
in the relentless rain our screams are softly killed
and so I sing this song
Carry On every one of us every soul inside is living
a dream we abandoned in our past, together again
even if it should never come true
in the relentless rain, i pray that you will hear
this song I sing for you
So take a look above at the heavens overhead
just like the way the night embraces all the stars
I'll always be right here, arms open wide
if you would let me in your broken heart
Beneath the shining strars in the heavens overhead
I'll stand until I've shed every tear that I can cry
"Through the endless night, you'll find a way"
I close my eyes and hear
a gentle voice within me"
Tak pelak nyanyian Naruto di video itu membuat siapapun yg mendengarnya menangis, bukan hanya karena Naruto ada di video itu tapi lagu yg dinyanyikan Naruto juga bernuansa sedih meski berbahasa inggris. Setelah selesai menyanyikan lagu itu Naruto memegang selembar kertas dengan tersenyum ke kamera, di kertas itu terdapat 6 kotak-kotak yg dibagi menjadi 2 bagian yg masing-masing menjadi 3 kotak.
"Apa kalimat yg muncul di pikiran kalian saat melihat kotak-kotak itu?" Tanya Minato kepada Sona, Maki, Akeno, Naruko dan Rias.
Entah karena pikiran mereka sama atau bahkan terhubung *?*, mereka semua menjawab dengan jawaban yg sama dan di waktu yg bersamaan.
"( I ) ( ' ) ( M ) ( D ) ( I ) ( E )"
~.~.~.~
Dengan chapter final ini, saya nyatakan Maji de Watashi ni Koi Shinasai: Love Me, Seriously! End!
A/N: Sebenarnya saya bisa membuat ENDING yg lebih bahagia dan melanggar janji saya di chapter 7 tapi karena ada reviewer yg mereview OK! NEXT! Dsb yg jelas-jelas saya tidak suka dan merusak mood saya sehingga membuat suasana hati saya menjadi sangat-sangat-sangat buruk dalam beberapa chapter terakhir maka saya berpikir membuatnya menjadi sad ending seperti yg hati saya rasakan saat mendapat review seperti itu.
Q: Kenapa Naruto mati?
A: Ya karna gwe buat gitu.
Nano, Log Out
