Sorry buat typo di chapter 1 yang pasti banyak banget. Makasih buat yang review. Dan mau jawab review yang nanya "ini agak diubah ya?" jawabannya Iya. Tapi Cuma kata-kata yang menurut aku lebih enak dimasukin aja. Bukan aku mau rubah karya aslinya, Cuma mau bikin yang baca lebih enak aja. Kan nyocokin sama cast sama latarnya juga. Hehe.

HAPPY READING CHAPTER 2.

Semoga ga banyak Typo.

DAN BUAT YANG GA SUKA PLEASE JANGAN BACA DARI PADA NINGGALIN REVIEW YANG BIKIN GA SEMANGAT (cium)


Jongin mengusap mulutnya yang terasa panas. Dia merasa sedikit bodoh karena bertindak begitu impulsif di kantor. Dimana banyak orang bisa menyebarkan gosip.

Jongin menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat. Sudah lama sekali Jongin tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sumsum.

Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar? Jongin mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali. Tapi sekarang, dia lepas kendali, semudah itu.

Jongin menghempaskan tubuhnya ke kursi.

"Jika gadis itu seperti yang aku pikirkan kenapa dia begitu marah? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang aku berikan. Atau aku salah? Dia bukan gadis seperti itu, dan aku telah menyinggungnya?" Jongin menggelengkan kepalanya mengusir keraguannya. Semua gadis sama saja. Jongin tidak pernah salah. Berikan mereka kemewahan dan mereka akan takluk pada mu.

"Atau tawaran ku masih kurang? Mungkin aku harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling Eropa. Atau dia hanya jual mahal." Pikir Jongin lagi. Wajahnya menggelap mengingat kata hinaan Kyungsoo barusan.

"Menjijikan katanya? Lihat saja Kyungsoo, setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa aku beri pada mu, kau akan datang merangkak pada ku dan aku akan mempermalukan mu." Sumpah Jongin pada dirinya sendiri.


Suasana hati Kyungsoo benar-benar buruk hari ini. Kemarahan, rasa terhina, kebencian bahkan kesedihan (karena dia begitu tidak berdaya) campur aduk dalam hatinya. Kyungsoo merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan Jongin tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di rumah sakit yang sudah sangat familiar dengannya.

Semua yang ada dipikiran Kyungsoo barusan langsung buyar begitu melihat Baekhyun menyongsongnya dengan wajah pucat pasi.

"Kemana saja kau nak? Aku mencoba menghubungi mu sejak 2 jam tadi, tapi kau tidak bisa dihubungi!" Wajah Kyungsoo langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Sehun dirawat.

Baekhyun tergopoh-gopoh berlari mengikuti dibelakangnya. Kyungsoo terpaku didepan ruangan Sehun dengan napas terengah-engah. Dokter dan perawat masih ada diruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Sehun.

Baekhyun tiba dibelakang Kyungsoo dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya.

"Dia sudah tidak apa-apa Kyungsoo. Kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi, tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat. Kenapa kau tadi tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Sehun dalam kondisi paling kristis, saat itu pasti kau ingin bersamanya." Air mata mengalir dipipi Kyungsoo. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Sehun terlihat stabil dan baik-baik saja dan Kyungsoo mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat.

"Ya Tuhan seandainya tadi Sehun….." Kyungsoo memejamkan mata rapat-rapat. Air mata semakin deras, dia tak berani membayangkan semua itu.

Baekhyun memeluknya dengan penuh keibuan sementara Kyungsoo menumpahkan air matanya. Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Kyungsoo semakin cemas.

"Bagaimana kondisinya dokter?" Suara Kyungsoo gemetar, ketakutan. Dokter itu menarik napasnya panjang.

"Sehun pemuda yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang. Tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya. Kami harus mengoperasi ginjalnya Kyungsoo."

"Mengoperasi ginjalnya?" Kyungsoo mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris.

"Mengoperasi ginjalnya? Ya Tuhan!" Tubuh Kyungsoo lunglai, untung Baekhyun menyangganya. Air mata mengalir semakin deras dipipi Kyungsoo.

"Apakah…. Apakah tidak ada cara lain?" dokter itu menarik napasnya prihatin.

"Sehun dalam kondisi yang tidak lazim. Dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi. Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi. operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin Kyungsoo." Kyungsoo menarik napas dalam-dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.

"Baik dokter lakukan operasi itu, apapun agar Sehun selamat." Suaranya mulai gemetar.

"Berapa biaya yang harus aku siapkan untuk melakukan operasi tersebut, dok?" seluruh tubuh Kyungsoo menegang, tangannya terkepal seolah-olah menanti hukuman. Dokter itu menatapnya sedih. Rasa kasihan tampak jelas dimatanya ketika menjawab,

"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki tiga ratus juta won, Kyungsoo."

.

.

.

Hujan turun lagi dengan derasnya, bahkan payung Kyungsoo tidak bisa melindungi dirinya dari percikan air hujan. Namun Kyungsoo tidak peduli.

"Dimana dia?" Tanyanya pada diri sendiri. Kyungsoo menatap sekeliling parkiran dengan panik. Hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang diparkiran itu. Apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tidak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan. Kecuali Kyungsoo, tentu saja.

"Ya Tuhan… Dimana dia?!" Ulangnya kalut. Kyungsoo menatap mobil Mercedes mewah yang masih terparkir ditempat parkir direksi yang tidak kalah mewah, dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindungi dari derasnya hujan.

"Dia pasti belum pulang.. Mobilnya masih ada dan semua orang bilang bahwa dia baru akan pulang setelah jam 8 malam. Dan lebih malam lagi ketika hari jumat." Dan sekarang adalah hari jumat, dan Kyungsoo menunggu dengan cemas. Bagaimana jika pemuda itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.

Berbagai pikiran buruk terkelebat hingga Kyungsoo tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindungi oleh payung kecilnya. Tiba-tiba pintu lobby terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Kyungsoo melangkah keluar.

Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Jongin melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi. Dan hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Kyungsoo. Tetapi ketika jarak mereka semakin dekat Jongin menyadari bahwa Kyungsoolah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan, menunggunya, dan mulutnya menegang.

"Wah ada angin apa sampai kau menyempatkan diri menunggu ku disini?" sebenarnya Jongin sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran satpam yang memayunginya.

"A..Aku ingin bicara dengan mu." Jongin mengernyit, menyadari suara Kyungsoo yang bergetar dan wajahnya yang pucat pasi.

"Apakah dia kedinginan? Berapa lama dia menungguku disini?" tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih gadis itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan ditubuhnya.

Jongin melangkah kebawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan. Lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka. Setelah satpam menjauh. Jongin menatap Kyungsoo dengan gusar.

"Demi Tuhan! Tidak bisakah kau kemari berlindung dibawah atap ini? Payung itu tidak berguna, kau hampir basah kuyup!" Sejenak Kyungsoo ragu, tapi Jongin benar, tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang.

Dengan hati-hati Kyungsoo melangkah ke bawah atap yang sama dengan Jongin. Pemuda itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktu ku tidak banyak." gumamnya sombong. Kyungsoo menatap Jongin penuh tekad meski gemeteran.

"A..Aku menawarkan diri kepada mu. Kau boleh memiliki aku semau mu." Jongin menyipitkan mata menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak dihatinya karena semudah dan secepat ini Kyungsoo menyerahkan diri kepadanya.

"Kau pikir aku masih berminat?" gumamnya mengejek. Wajah Kyungsoo pucat pasi. Kata-kata Jongin bagai menamparnya keras. Tapi dia bertahan demi Sehun. Tekadnya dalam hati

"Kau boleh memiliki diri ku sepenuhnya. Aku hanya meminta bayaran di muka, setelah itu aku tidak akan meminta apa-apa lagi."

"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!" Jongin membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Kyungsoo, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tidak tertahankan untuk langsung menerima tawaran gadis itu. Tapi ketika melihat Kyungsoo hampir terlonjak kaget karena bentakannya spontan Jongin melembur.

"Oke, berapa?" Kyungsoo mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. jongin mendesak tak sabar.

"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu. Lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan." Dengan sengaja Jongin melirik jam tangannya seolah tidak tertarik.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk mu." Kyungsoo menelan ludah.

"Ti…Tiga ratus…juta won."

"Apa?" Jongin membelalakan mata tak percaya.

"Tiga ratus juta won." Kali ini Kyungsoo berhasil terdengar mantap. Jongin mengernyit jijik.

"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?"

"I…itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu kau memiliki tubuhku dan aku tidak akan meminta apapun lagi."

"Kau pikir aku bodoh atau apa?" desis Jongin.

"Bagaimana aku bisa tahu kau tidak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko."

"Kalau begitu kau bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini." Kyungsoo mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Mereka mengobrolkan penjualan harga diri seolah-olah mengobrolkan penjualan barang.

Jongin terdiam, Nampak menimang-nimang usulan Kyungsoo, lalu wajahnya mengeras.

"Tidak! Ini konyol, aku sudah tidak tertarik, lagipula…" Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan menghina.

"Baru tadi siang kau menolak ku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak meminta ku menerima mu. Sekarang kau hampir bisa disebut merangkak pada ku dalam waktu kurang dari 24 jam." Jongin hendak membalikkan badan meninggalkan Kyungsoo.

"Lupakan saja. Gadis yang terlalu murahan memadamkan gairah ku." Kyungsoo langsung panik melihat Jongin membalikkan tubuhnya mengarah ke mobilnya. Tidak! Pemuda itu tidak boleh menolaknya! Dia satu-satunya harapan Kyungsoo untuk menyelamatkan nyawa Sehun!

Dengan setengah histeris Kyungsoo melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tidak mendesak.

Ditariknya lengan Jongin dan ketika pemuda itu menoleh dengan marah, Kyungsoo berjinjit, merangkul kepala Jongin dan mencium bibirnya!

Tubuh Jongin kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa gadis itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta. Jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai. Tapi tetap saja gairah Jongin langsung meledak tidak terkendali.

Dengan kasar dirangkulnya pinggang Kyungsoo, setengah mengangkatnya agar merapat ketubuhnya dan diciumnya bibir gadis itu habis-habisan. Ciuman Jongin sangat ganas dan penuh gairah, dan gadis itu meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya.

Tubuh Jongin menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Kyungsoo. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.

Entah berapa lama mereka berciuman ditempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Jongin benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tidak bisa menolak gadis ini.

Jongin baru melepas ciumannya ketika menyadari napas Kyungsoo yang mulai mengap-mengap. Mereka berdiri dengan rapat dan Jongin masih memeluk pinggang Kyungsoo, setengah mengangkat Kyungsoo. Tangan gadis itu berpegangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh.

Jongin menatap Kyungsoo tajam. Bibir gadis itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan. Bibirnya juga pasti seperti itu karena rasa panas dibibirnya belum juga hilang.

"Cium saja aku dan aku akan terbakar." Geram Jongin dalam hati. Dengan kaku diturunkannya pinggang Kyungsoo lalu dilepaskan pegangannya.

"Baik aku akan membayar mu. Besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tanda tangani!"

Jongin menatap Kyungsoo geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobil.

"Masuk ke mobil! Malam ini aku akan mencoba barang yang sudah ku beli."

TO BE CONTINUE