Disclaimer : Naruto - Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. Sakura H. ( slight Neji H. )

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Warning : AU, OC, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll


Who I love the Twins Were

By : Saita Hyuuga Sabaku


Don't like Don't Read

***Happy Reading***

Chapter 2

'Neeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttttttttttttttttttttttttttt.'

Suara bel menandakan jam pulang.

Sakura dan Saki berjalan melewati lorong sekolah menuju parkiran tempat supir mereka telah menunggu. Sepanjang perjalanan melewati lorong sekolah, terdengar bisik-bisik siswa yang berdecak kagum akan kecantikan mereka. Ditambah lagi mereka kembar. Menjadi daya tarik tersendiri bagi para siswa KHS itu.

Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka telah sampai di parkiran. Terlihat Orochimaru, sang supir pribadi keluarga Haruno telah berdiri di samping mobil. Saat sang Nona-Nona Haruno itu sudah berada dekat dengan mobil, dengan sigap dia membukakan pintu mobil.

Di perjalanan pulang, Orochimaru memberitahukan pada Sakura dan Saki bahwa bibi mereka, Tsunade-sama sudah menunggu mereka di rumah. Membuat Saki dan Sakura bingung dengan kedatangan bibinya itu.

Skip

"Tadaima," sahut Saki dan Sakura bersamaan.

"Selamat datang Nona Saki, Nona Saku," Iruka pelayan setia keluarga Haruno menyambut dua gadis kembar yang baru saja pulang.

"Tsunade-sama sudah menunggu kalian di ruang tamu," lanjut Iruka kemudian.

"Ada hal penting apa sebenarnya? Kenapa tidak menelepon dulu?" gerutu Sakura.

Sedangkan Saki hanya tersenyum mendengar gerutuan adik kembarnya itu. Mereka pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu.

"Ba-san, ada apa tiba-tiba kemari?" tanya Sakura begitu memasuki ruang tamu.

"Iya, tidak biasanya Ba-san sampai repot-repot datang seperti ini," timpal Saki.

"Duduklah dulu, baru bicara. Kalian ini benar-benar tidak sabaran ya," sahut Tsunade.

Setelah mereka duduk berhadapan dengan bibinya, Tsunade mengeluarkan sebuah surat undangan dengan tampilan mewah khas kalangan atas.

"Aku ingin salah satu dari kalian menghadiri pesta pernikahan Uchiha Itachi, sebagai perwakilan dari perusahaan Haruno," tanpa basa-basi Tsunade langsung memberitahu maksud kedatangannya.

"Dan salah satu dari kalian menghadiri acara amal yang diadakan perusahaan Hyuuga," lanjutnya kemudian.

Sakira dan Sakura saling menatap. Karena tidak biasanya mereka terlibat dalam hal-hal seperti ini. Dalam acara-acara yang dilakukan kalangan atas. Tentu saja, itu karena selama ini orang tua mereka lah yang ambil andil dalam undangan-undangan semacam ini. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Orang tua mereka telah meninggal sebulan yang lalu. Dan mau tidak mau mereka harus turut ambil andil, demi menjaga silaturahmi dan kelangsungan kerja sama antara Uchiha Group dan Haruno Corp, dan juga Hyuuga Corp dengan Haruno Corp.

Sekarang permasalahannya adalah, siapa yang akan ditunjuk oleh Tsunade untuk pergi ke pesta Uchiha dan siapa yang akan pergi ke acara amal Hyuuga. Kalau boleh memilih, mereka berdua akan lebih memilih ke acara amal Hyuuga. Alasannya?

Tentu saja karena Sakura tidak ingin ke acara pernikahan dengan alasan harus memakai gaun yang menurutnya merepotkan itu. Pertama, dia tidak suka acara pesta kalangan atas dan juga hiruk pikuk di dalam sebuah pesta. Selain sikapnya yang sangat tomboy, dia tidak biasa memakai sepatu-sepatu high hells meski itu hanya 3 senti. Tak pernah sekalipun kakinya itu memakai sepatu high hells. Dia selalu memakai sepatu kets kemanapun. Sampai suatu hari dia pernah membuat malu kedua orang tuanya karena datang ke acara pesta dengan memakai sepatu kets. Untung saja itu hanya sebuah pesta untuk karyawan Haruno Corp. Tidak terbayang jika itu pesta antar relasi. Sejak saat itu dia merasa kapok untuk pergi ke acara-acara pesta, karena pernah mengacaukan acara pesta perusahaan.

Saki lah yang cocok untuk acara-acara seperti itu karena kepribadiannya yang anggun. Tapi di sisi lain, Sakura tau kalau Saki pasti ingin menghadiri acara amal Hyuuga. Karena di sana pasti dia dapat bertemu dengan Hyuuga Neji, pria pujaannya.

Lalu Sakira, tentu saja karena dia yakin disana akan ada Hyuuga Neji, pria idamannya. Pria yang sampai membuatnya rela pindah ke Konoha. Pria yang sudah membuatnya tergila-gila karena pertemuan pertamanya yang membuat dia jatuh cinta.

Flash back on

Malam itu, hujan turun dengan derasnya di kota Suna. Saki yang baru selesai les piano, dan lupa membawa payung, terpaksa menunggu hujan reda di sebuah halte yang tak jauh dari tempat lesnya. Tak lama kemudian, datang seorang pemuda tak di kenal berusaha mengambil tasnya. Tarik-menarik terjadi di antara mereka, hingga akhirnya Saki terjatuh karena tenaga orang itu cukup kuat menariknya. Alhasil dia kehujanan karena berusaha mempertahankan tasnya, tapi tidak berhasil.

Beruntung, ada mobil yang sedang melintasi tempat itu. Pemuda di dalam mobil itu melihat apa yang terjadi pada Saki dan memutuskan untuk berhenti. Begitu keluar dari mobil, dia langsung mengejar orang itu, dan berhasil mengambil kembali tas milik Saki. Kemudian pemuda itu langsung menuju ke arah Saki, dan memberikan tasnya. Dan tidak hanya itu, dia menawarkan diri untuk mengantar Saki pulang. Dan Saki yang merasa syok akan kejadian yang barusan menimpanya menerima tawaran dari pemuda tampan itu.

Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Saki. Kemudian dia pun masuk melalui pintu di sisi lainnya. Melihat Saki yang basah kuyup dan terlihat menggigil, pemuda itu mengambil sweaternya yang ada di jok belakang dan memberikannya pada Saki.

Saki menerimanya dengan malu-malu. Dia merasa segan karena merasa telah banyak merepotkan pemuda itu. Akhirnya mobil pun melaju menembus hujan, menuju kediaman Haruno. Sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang, dan telah memanggil dengan nama kecil masing-masing. Neji dan Saki.

Begitu sampai di kediaman Haruno, ketika Saki ingin mengembalikan sweater itu, Neji menolaknya. Dia bilang, anggap saja hadiah perkenalan dari seorang teman. Dan tak lama akhirnya Neji kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kediaman Haruno. Saki merasa senang dengan pertemuannya dengan pemuda bernama Hyuuga Neji itu. Dia orang yang baik, lembut dan juga tampan. Dan Saki rasa, dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Flash back off

Lama mereka terdiam dengan lamunannya masing-masing. Sampai akhirnya Tsunade kembali membuka suara.

"Kalau begitu, Saki kau yang pergi ke pesta Uchiha, dan kau Sakura pergi ke acara amal Hyuuga."

" ... "

" ... "

Keduanya diam, belum ada yang buka suara.

"Kalian mengerti?" kali ini Tsunade berkata dengan nada yang sedikit tinggi dan penuh penekanan.

"Hai'," jawab mereka serempak. Biar bagaimana pun juga, kalo Tsunade sudah mengeluarkan keputusan, itu berarti sudah keputusan final dan mereka tak dapat mengganggu gugat keputusan itu.

Lalu Tsunade pun berdiri dari posisi duduknya.

"Kalau begitu aku akan kembali ke Suna. Pastikan kalian datang di acara relasi-relasi kita itu, karena aku sedang banyak pekerjaan di Suna," ucapnya terakhir kali sebelum beranjak meninggalkan ruang tamu.

Tsunade pun langsung membuka pintu ruang tamu dan menuju pintu keluar sampai akhirnya menghilang dari pandangan mereka berdua.

'Huuuuuuuufffffhhhhhhhhh'

Saki dan Sakura menghela nafas panjang ketika Tsunade sudah pergi dari ruang tamu.

"Sakura bagaimana ini?" tanya Saki

"Entahlah," sahut Sakura.

"Kalau bisa, aku ingin kau yang menghadiri pesta Uchiha itu. Kau tau kan Saku, aku sangat ingin menemuinya. Ini satu-satunya kesempatanku," Saki memohon pada Sakura.

"Iya, aku mengerti Saki, tapi masalahnya, aku juga tidak suka pergi ke pesta itu. Dan lagi itu pesta Uchiha. Kau tau bagaimana dinginnya dia tadi? Dan dia juga sangat sombong. Kalau bisa aku juga ingin membantumu, tapi aku saja tidak bisa memakai sepatu dan gaun-gaun yang biasa kau gunakan. Apa kau tidak ingat aku pernah mengacaukan pesta perusahaan yang Tou-san buat," ucap Sakura panjang lebar.

Saki terdiam, mengingat-ngingat. Memang benar yang dikatakan adik kembarnya itu. Tapi ia sangat ingin bertemu lagi dengan Neji. Karena selama ini ia tak punya keberanian dan tak punya alasan untuk menemuinya. Inilah satu-satunya kesempataan yang ia miliki. Lewat undangan perusahaan, maka dia akan punya alasan untuk menemui Neji.

"Ayolah Saku, kau bisa mempelajarinya. Aku akan membantumu belajar menjadi anggun. Kita masih punya waktu dua minggu lagi kan," ucap Saki memohon.

"Iya, tapi apa bisa aku berubah anggun dalam waktu dua minggu? Dan lagi kalau Tsunade Ba-san sampai tau, habislah kita. Keputusannya sudah final dan tak dapat di ganggu gugat," ucap Sakura bingung.

'Huuuuuuuuuuuuuuuffffhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh'

Keduanya kembali menghela nafas panjang. Biar bagaimanapun juga sebenarnya Sakura sangat ingin membantu Saki. Karena dia satu-satunya saudara yang Sakura miliki, dan ia sangat menyayanginya. Walaupun dia harus datang ke pesta yang menurutnya menyebalkan. Tapi demi Saki, ia akan melakukan apapun.

Keduanya tampak tengah berpikir sekarang.

"Kita memang bisa bertukar posisi, karena kemiripan kita benar-benar tanpa celah. Tapi sikap kita yang berlawanan itulah kelemahan kita," ucap Sakura kemudian, setelah agak lama membisu.

"Sepertinya, aku punya kenalan yang mungkin bisa merubahmu sedikit menjadi anggun," ucap Sakira kemudian.

"Benarkah?" sahut Sakura sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya. Dia sangat ahli di bidang ini. Percayalah!" ucapnya seraya menekan tombol-tombol nomor pada telepon genggam miliknya.

Tak lama telepon pun tersambung.

"Deidara di sini? Ada yang bisa kubantu?" terdengar suara di seberang sana.

"Deidara-nii, ini aku Saki. Aku membutuhkan bantuanmu untuk merubah adik kembarku menjadi pribadi yang anggun, dalam waktu kurang dari dua minggu. Kau bisa melakukannya untukku?" sahut Saki panjang lebar.

"Itu mudah Saki, kapan aku bisa mulai?" tanya Deidara kemudian.

"Besok setelah jam pulang sekolah, bisa?" tanya Saki meyakinkan.

"Tentu saja. Besok aku akan kesana," ucap Deidara.

"Arigatou ne Deidara-nii," Saki pun memutus sambungan telepon.

"Oke, masalah mengajarimu beres. Kita tinggal memesan wig sesuai model rambut kita sebagai pelengkap," ucap Saki puas.

"Lalu, bagaimana denganmu Saki?" Sakura mendelik.

"Bukankah kau juga harus bersikap seperti aku?" lanjutnya kemudian.

"Benar juga ya. Ba-san pasti akan tau kalau ada hal yang mencurigakan. Dia pasti sudah menyebar anak buahnya itu untuk mengawasi kita," Saki tampak berpikir.

"Sepertinya aku tau orang yang cocok untuk mengajarimu bersikap tomboy sepertiku," ucap Sakura seraya menyengir.

"Siapa?" tanya Saki penasaran.

"Pein," ucap Sakura singkat.

Sakura pun mulai menekan tombol angka-angka pada telepon genggamnya untuk menghubungi Pein.

"Iya Saku, ada apa? Tumben sekali kau meneleponku," sahut suara di seberang sana.

"Aku punya pekerjaan untukmu, datanglah kesini besok setelah jam pulang sekolah," ucap Saku singkat.

"Apa?" ucap Pein penasaran.

"Merubah kakak kembarku agar bisa bersikap sepertiku," ucap Sakura.

"Hn, itu mudah. Baiklah, besok aku kesana" ucap Pein kemudian, dan tak lama sambungan telepon pun terputus.

Setelah itu Sakura mengirimkan pesan kepada salah satu kenalan kepercayaannya yang pandai membuat wig. Masalah sudah terselesaikan. Mereka putuskan kembali ke kamar, dan mengerjakan tugas yang di berikan Kakashi sensei. Hari yang berat akan dimulai dari besok. Hari-hari yang akan mengubah kepribadian mereka menjadi bertolak belakang dengan yang selama ini. Mampukah mereka bersikap seperti kembarannya?

_TBC_


Terima kasih yang sebesar - besarnya untuk Luca Marvell senpai dan Processing Data senpai yang sudah menyempatkan diri membaca dan meninggalkan review.

Terima kasih untuk koreksinya Processing Data-san, aku seneng, kalau ada yang koreksi tulisan aku. Aku belum sempet baca fic kamu, baru baca chapter 1 doang. Tapi menurut aku ceritanya menarik dan bagus. Kalau ada waktu aku sempetin baca chap selanjutnya. Begitu juga dengan fic Luca Marvell, kalau ada waktu pasti aku mampir -sok sibuk author ini #ditendang

Salam kenal ya minna. Sekali lagi terima kasih ^-^

Terakhir, saya ucapkan bagi semua yang telah membaca, mereview, maupun bagi silent reader. Review, kritik dan saran selalu dinanti.

With Love,

Saita