Who I love the Twins Were

By : Saita Hyuuga Sabaku

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. Sakura H. ( slight Neji H. )

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Warning : AU, OC, OOC, alur berantakan, typo bertebaran, gaje , maksa dll

.

.

.

Don't Like, Don't Read

.

.

.

~ Happy Reading ~

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

Keesokan harinya.

Saki dan Sakura telah selesai sarapan dan bersiap akan berangkat sekolah. Orochimaru sudah menunggu di halaman depan. Begitu mereka ingin melangkahkan kaki keluar, Sakura berhenti di depan pintu. Saki menatap bingung kembarannya itu. Begitu pun Iruka, sang pelayan kepercayaan keluarga Haruno.

"Ada apa Sakura?" tanya Saki bingung.

"Eh ano, umm ...," Sakura tampak bingung juga ingin bilang apa. Sebenarnya ia ingin pergi ke sekolah naik sepeda. Karena sepulang sekolah nanti ia berniat mengunjungi suatu tempat.

"Paman Iruka, boleh aku minta tolong?" tanya Sakura sopan.

"Tentu saja Nona," jawab Iruka penuh hormat.

"Bisa tolong ambilkan sepeda di gudang?" tanya Sakura ragu.

"Tapi, kenapa Nona ingin naik sepeda? Bukankah lebih aman jika diantar jemput?" ucap Iruka khawatir. Sejak kematian kedua orang tuanya, Sakura tak pernah di ijinkan mengendarai sepeda kesayangannya. Itu perintah langsung dari Tsunade-sama.

"Ayolah Paman, kumohon. Ini Konoha, bukan Suna. Aku tidak akan kenapa-napa," ucap Sakura memohon.

Iruka tampak bingung. Kalau Tsunade sampai mengetahui hal ini, pastilah dia akan marah besar.

"Paman, kumohon penuhi keinginan Sakura. Soal Bibi Tsunade, kami yang akan bertanggung jawab," kali ini Saki ikut memohon.

"Baik Nona." Akhirnya Iruka mengalah. Dia pergi ke gudang untuk mengambilkan sepeda kesayangan Sakura.

Sontak Sakura melonjak kegirangan dan langsung memeluk kembarannya itu.

"Arigatou ne Saki," ucap Sakura.

"Kau berangkatlah duluan dengan paman Orochimaru," lanjutnya kemudian.

"Ya sudah, aku berangkat duluan. Kau harus hati-hati Sakura, jangan membuat Tsunade Ba-san khawatir dan membuat paman Iruka dalam masalah," ucap Saki sambil berlalu meninggalkan Sakura.

"Ha'i," ucap Sakura disertai anggukan.

Saki pun berjalan menuju halaman, tempat Orochimaru sudah menunggu. Begitu sampai di halaman tempat mobil terparkir, Orochimaru langsung membukakan pintu untuk Saki. Setelah itu dia masuk dan tak lama mobilpun melaju menuju KHS.

Beberapa saat setelah mobil itu pergi, Iruka datang dengan membawakan sepeda kesayangan Sakura. Sepeda itu adalah hadiah dari Tou-sannya. Walaupun terlihatsedikit usang karena goresan disana-sini, tapi bagi Sakura sepeda itu sangat berarti.

"Nona, berhati-hatilah," ucap Iruka, ketika Sakura hendak berangkat.

"Iya, tenang saja Paman," ucap Sakura disertai senyumannya.

"Aku berangkat paman. Jaa~," ucap Sakura disertai lambaian tangan.

Iruka pun membungkukkan badan mengiringi kepergian Nona mudanya.

Kejadian itu terekam kembali di otaknya saat Iruka melihat Sakura yang semakin menjauh mengendarai sepedanya.

.

.

.

Flash back on

Seminggu sebelum Kizashi dan Mebuki pergi dinas ke Amegakure, Saki dan Sakura berulang tahun. Mereka memang sangat jarang mengadakan acara pesta ulang tahun. Itu karena mereka tidak suka berfoya-foya. Bagi mereka, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang paling menyenangkan daripada sebuah pesta. Karena orang tuanya sangat sibuk akhir-akhir ini, mereka tidak bisa mengadakan acara makan malam bersama, seperti biasanya. Tapi Kizashi sudah menyiapkan hadiah kejutan untuk kedua putri kembarnya. Kalung berbentuk hati yang bisa di buka untuk Saki. Dan sepeda untuk Sakura.

Kizashi mengetahui barang yang diinginkan anaknya itu dari supir pribadi mereka Orochimaru. Sebenarnya bukan hal sulit untuk mereka memperoleh apa yang mereka inginkan. Karena nyatanya, walaupun dari keluarga kaya dan terpandang, mereka tidak pernah berfoya-foya menghamburkan uang kedua orang tuanya, seperti yang dilakukan anak-anak orang kaya lain pada umumnya. Mereka berusaha sendiri membeli apa yang mereka inginkan dengan menabung sedikit demi sedikit uang jajannya. Benar-benar anak kebanggan Kizashi dan Mebuki.

Dua hari kemudian kedua orang tuanya berangkat ke Amegakure untuk keperluan dinas. Mereka berada di Amegakure selama empat hari. Ketika keesokan harinya mereka hendak kembali ke Suna, kecelakaan itu terjadi. Di perbatasan Suna kedua orang tua Sakira dan Sakura harus meregang nyawa.

Ketika Iruka memberitahukan perihal kecelakaan kedua orang tuanya, Saki masih dalam perjalanan pulang dari tempat les piano. Dan Sakura yang notabene tidak sabaran dan sangat agresif langsung berhambur menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh, menuju tempat kecelakaan terjadi. Dia terus mengayuh sepedanya tanpa pikir panjang. Di tengah hujan yang sedang menyelimuti Suna, dengan derai air mata yang mengaliri pipinya, dia terus memacu sepedanya itu. Karena jalanan yang licin, dan sepedanya mengenai batu yang cukup besar, akhirnya ia tak ada luka serius di badannya. Hanya luka kecil dan goresan di beberapa bagian tubuh.

Tapi Sakura yang keras kepala, tidak bisa berpikir jernih saat itu. Ia bangkit dan mulai mengayuh kembali sepedanya tanpa mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Hingga ia kembali jatuh tersungkur tepat di depan sebuah mobil yang ternyata mobil milik keluarganya.

Saki keluar dari dalam mobil dengan perasaan kalut. Melihat kembarannya yang penuh luka gores, ia tahu sesuatu telah terjadi pada adik kembarnya itu. Sebelumnya Iruka juga telah mengabarkan, kalau Sakura memberontak memaksa pergi. Saki dan Orochimaru pun langsung menuju tempat kecelakaan terjadi.

"Baka," sentak Saki pada Sakura.

Dia menampar wajah Sakura, tapi kemudian memeluknya erat. Dia menangis di pelukan Sakura.

"Jangan lakukan hal bodoh lagi Saku, hiks," ucapnya di sela isak tangisnya.

"Kau tau? Betapa khawatirnya aku padamu. Kenapa kau senekat ini? Tou-san dan Kaa-san sudah meninggalkan kita. Apa kau juga mau meninggalkanku?" Saki terus menangis sambil memeluk Sakura.

Sakura membalas pelukan Saki dengan sangat erat.

"Maafkan aku Saki, hiks ...,"Sakura ikut menangis.

"Aku hanya syok mendengar kabar Tou-san dan Kaa-san. Itulah sebabnya, tanpa pikir panjang aku langsung berhambur keluar rumah. Aku merasa tidak bisa mempercayai ini semua. Itulah sebabnya ... aku ... aku ... hiks ... hiks." Mereka makin sesenggukan menangis dalam pelukan saudaranya.

Orochimaru keluar dari mobil dan menghampiri majikannya.

"Nona, lebih baik kalian masuk. Kalian bisa sakit jika terus menangis di bawah guyuran hujan seperti ini," ucapnya lembut.

"Kita harus segera ke rumah sakit, karena pihak kepolisian telah membawa jasad Tuan dan Nyonya kerumah sakit," lanjutnya kemudian.

Akhirnya Saki dan Sakura masuk ke dalam mobil. Mereka langsung menuju rumah sakit dimana jasad kedua orang tuanya di bawa.

Flashback end

.

.

.

Sakura mengayuh sepedanya dengan santai membelah jalanan Konoha yang mulai ramai oleh berbagai kendaraan dan juga orang yang berlalu-lalang. Terpaan angin menerbangkan helaian merah muda sebahunya. Senyuman bahagia terlukis di wajah cantiknya. Ia merasa senang karena sudah di ijinkan membawa sepeda kesayangannya lagi.

Sepanjang jalan ia terus bersenandung kecil mengikuti irama yang diputar di Mp3-nya yang sedang didengarkannya lewat earphone.

Begitu sampai dihalaman sekolah, ia memarkirkan sepedanya dan bermaksud pergi ke kelas. Tapi seseorang mengalihkan atensinya, sehingga ia mengubah arah langkah kakinya.

"Eh, bukankah itu Sasuke? Pangeran Es menyebalkan yang entah berasal dari kutub mana," gumamnya pelan.

"Mau kemana dia?" tanyanya entah pada siapa.

Sambil mengendap-endap layaknya stalker, ia mulai mengikuti Sasuke dari belakang. Tak perlu khawatir apa yang akan orang-orang pikirkan melihat tingkah lakunya, karena nyatanya sekolah itu masih sepi.

Ketahuilah, rasa penasaran Sakura sangatlah besar. Jadi, jangan heran jika ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Sasuke di tempat seperti ini.

Sakura berhasil mengikuti Sasuke sampai ke belakang sekolah. Ia kemudian menyembunyikan diri di balik pohon saat melihat Sasuke mendekati seseorang.

Otak jahilnya mulai bekerja, lalu Sakura mengeluarkan telepon genggamnya dan menyalakan video. Ia merekam pembicaraan Sasuke dengan orang tersebut dan terkikik geli. Melihat wajah Sasuke yang biasanya dingin dan datar, tapi kali ini sangat berbeda, membuat Sakura merasa puas.

"Nah, Pangeran Es, aku memegang rahasiamu sekarang, hihihi," gumam dan kikik Sakura geli.

.

.

.

TBC


Huwaaaa... gomen baru update sekarang #nangis gaje :'(

Bales review dulu deh...

Luca Marvell senpai : Sebenernya cuma salah satu pihak aja yang salah paham ama perasaannya sendiri...

shinji ran : Gomen lanjutannya kayanya ga bagus seperti yang kamu harapkan, plus chap ini lebih pendek dari sebelumnya... :-(

guest : Iya, tadinya cuma saya tulis di warning character OC-nya, soalnya ga tau kalau di daftar nama ada OC...maklum newbie #plaaak...makasih udah di ingetin,,,saya jadi cek-cek lagi...

desypramitha26 : Makasih udah RnR... :-)

Isteri usui T : Makasih udah RnR,,,gomen baru dilanjut...

sami haruchi 2 : Makasih udah mau mampir dan review fic ku sami-chan :-)

Minna makasih banyak ya, bagi yang udah mau nunggu kelanjutan fic ini. Gomen lama, dan chap ini pendek dan kurang menarik sepertinya. Makasih bagi yang udah ninggalin jejak, review, Follow, Favorite, dan bagi para silent reader semua.

Karena kalian, saya bisa melanjutkan fic ini. Next chap, saya usahakan agar lebih panjang lagi...

Hontou ni arigatou Minna...

With Love,

Saita