Nesia mendaftar ke sekolah asrama khusus laki-laki, apa yang sebenarnya ia lakukan disana?
.
.
An Hetalia Fanfiction
.
.
Undercover
.
.
Hetalia milik Himaruya -sensei
.
Ketiga pemuda itu tengah berjalan menuju gedung asrama. Oke, pemuda. Yang disebelah kanan berambut pirang, wajahnya semrawut. Yang di sebelah kiri berkulit coklat terbakar matahari, wajahnya cerah bagai bintang malam. Dan yang di tengah, yang terpendek dan bertubuh kecil, raut yang terpeta di wajahnya –absurd. Antara ingin tidur, tertawa, menangis, menguap dan bersin. Seperti yang aku bilang tadi –absurd.
Mereka menyusuri lorong terbuka yang menghubungkan gedung sekolah dengan gedung asrama. Lorong itu cukup panjang,dan arahnya tak berkelok-kelok. Membuat angin musim dingin London dengan mudahnya menerobos masuk. Membuat tulang-tulang ketiga pemuda serasa ditusuk-tusuk jarum.
"Aku tak habis pikir olehnya!" umpat si rambut pirang. Masih membahas perilaku bajingan Ivan.
Wajahnya masam seperti jerut purut yang sudah mengkerut bertahun-tahun dan busuk. Padang rumput berbentuk segi panjang yang berada di atas matanya menukik tajam.
"Sudahlah, Arthur," hibur temannya yang berjalan di sebelah kiri.
Antonio berjalan santai bak model iklan Clear Men di runaway. Rambutnya yang berwarna coklat berkibar ketika angin musim dingin bertiup dari sisi kiri mereka. Ia begitu menikmati sensasi cool yang meniup rambutnya sampai-sampai kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Membuatnya terlihat seperti sedang syuting iklan.
Oke, Nesia merasa ia terlalu kelewat tebar pesona. Bahkan di hadapan laki-laki sepertinya dan Arthur? Oh, please. Nesia pun mengerahkan semua tenaganya untuk menghasilkan tatapan terdingin pada Antonio. Bahkan lebih dingin dari es batu.
Mendapat tatapan sinis dari teman barunya, Antonio segera berhenti. Entah kenapa, tingkat kepedeannya serasa menciut bila ada murid baru ini disekitarnya.
"Ini baru pukul setengah tujuh! God sake!" Arthur mengumpat lagi.
"Yah, itung-itung latihan bangun pagi," timpal Antonio.
"Dasar brengsek!" kecam Arthur lagi. Sekarang alisnya yang super tebal itu benar-benar menukik. Untung saja tidak mencapai tingkat garis vertical yang sempurna.
"Kami tahu akan kedatangan murid baru bulan ini," yang berjalan di sebelah kiri mengalihkan topik. "Namun, aku sendiri tak tahu LS akan dibebani tugas membimbing murid baru tersebut,"
"Ehem!" Nesia membenarkan pita suaranya agar sedikit lebih berat. "Oh, Yah, aku sendiri tak menyangka…" ujarnya ikut basa-basi. Suara beratnya yang dibuat-buat tetap terdengar seperti bocah SD cempreng yang rewel ketika minta dibelikan es krim.
"Aku sendiri tak mengerti mengapa pria itu menyerahkanku pada kalian, maksudku, aku bukan anak TK yang perlu dibimbing untuk mencapai ruang kelas," lanjutnya.
Si pirang menjawab, "Kau tak perlu khawatir, kami juga tak ingin membimbingmu!"
Nesia tersentak, pandangannya segera tertuju pada sumber suara, emerald dan coklat itu bertemu.
"Apa?" tantang Nesia.
Arthur menghentikan langkahnya. Tubuhnya diputar ke kiri, dan dipasangnya tampang tamak bak penjajah Belanda yang sedang negosiasi harga dengan petani Indonesia. Oke, itu bukan negosiasi, melainkan monopoli.
"Alis tebal muka tamak sok tahu! Sok penguasa sok paling pirang se-sekolahan! Gayanya kuno baumu kaya kakek-kakek! Siapa kau, hah? Enak saja bilang begitu padaku! Aku juga tak butuh bimbinganmu! Cih!" ucapan Nesia yang kecepatannya setara dengan rap-an Nicki Minaj itu membuat kedua pria lainnya diam membisu.
Mereka baru menemukan ada anak laki-laki yang bisa secerewet ini dalam hardik-menghardik orang. Karena biasanya, perkelahianlah yang akan mereka temukan ketika timbul sebuah perselisihan.
Nesia merampas kunci kamar asramanya yang sedari tadi tergatung di saku celana Antonio. Pria Spanyol itu sedikit terperanjat.
"Wow, Gara? Apa yang akan kau lakukan?" pekik Antonio.
"Aku bisa mencari kamarku sendiri, terima kasih, Antonio,"
Perpisahannya dengan Antonio diakhiri dengan sebuah senyuman simpul.
"Dan untukmu Mr. Ulat Bulu, do svidaniya!"
Arthur melongo, Nesia membuang muka dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Cara berjalan yang masih belum diubahnya, cara jalan seorang wanita. Membuat Arthur dan Antonio semakin melongo.
"Sumpah, aku sudah menyangka ada yang ganjil dari anak itu sejak tadi…" tutur Arthur masih memandang lurus ke arah Nesia yang berjalan dengan gemulai. Pinggulnya terus berpindah dari kira ke kanan kemudian ke kiri lagi.
"Dasar Gara pencari gara-gara…" timpal Antonio yang heran setengah mati.
Arthur hanya menggeleng tanpa makna.
Oh, apa yang akan terjadi dengan sekolah ini?
…
.
Ternyata asrama itu mewah bak hotel bintang lima. Lantainya dilapisi beludru berwarna donker. Dindingnya ber—wallpaper langit malam yang bertabur bintang. Bintang itu kini hanya berbentuk bintik-bintik putih seperti serpihan ketombe. Atau itu memang ketombe? Ewwhh
Ketika Nesia memasuki lobby-nya, ia segera disambut hangat oleh resepsionis yang juga… PRIA?!
Oh sepertinya sekolah ini benar-benar homo.
"Selamat datang di Asrama kami Garuda Pancasila," sambut Pria dengan topi yang mirip gelas itu pada Nesia.
"Wait, kau baru saja memanggilku apa?"
"Garuda Pancasila," tuturnya YAKIN.
SIGH….
"Apa? Garuda Pancasila? Kau pikir judul lagu! Enak saja main sebut nama orang, ini pelecehan! Lebih parah dari pelecehan seksual!"
Nesia yang meskipun bukan pemilik orisinil nama Garuda Pancarana tetap merasa dilecehkan, karena bagaimanapun itulah namanya saat ini. Sejujurnya, antara ingin tertawa atau marah. Coba kau bayangkan bila namamu benar-benar percis judul sebuah lagu. Masih mending bila Ibu Kartini atau Syukur. Bayangkan bila namamu Satu Nusa Satu Bangsa? Atau lebih parahnya Bila Rasaku Ini Rasamu? Nesia tak sanggup membayangkan betapa berat baginya ketika harus mengisi identitas saat ujian.
"Maafkan aku, Tuan…" Pria dengan rambut pirang itu terlihat ketakutan. Seperti Nesia akan menggigitnya atau apa.
Nesia jadi merasa tak enak sendiri. Pirang yang ini berbeda dengan pirang yang ditemuinya tadi, yang ini jauh lebih baik.
"Umm, tak perlu minta maaf, begini saja… kau ingat baik-baik namaku, yah,"
Pria itu mengangguk senang.
"Namaku Garuda Pancarana,"
Tiba-tiba, seseorang menubruk tubuh Nesia dari samping. Kemudian datang tubrukan lainnya dari sisi yang berlawanan. Kedua siswa yang bertubuh kekar bak L-Men itu mengapit tubuh Nesia. Dan pundak Nesia yang sempit dipenuhi rangkulan besar dari kedua pria tersebut.
"Yo! Watsap Garuda, ma broooohh…" sambut yang berada di sebelah kanan Nesia. Ketika Nesia menoleh padanya, ia menemukan sepasang manik biru yang cemerlang bagai Samudra Pasifik. Liar dan mengagumkan.
"Kesesesesese! Anak baru ini enaknya diapakan, Al?"
Kemudian pandangan Nesia beralih ke yang satunya. Seorang albino tampan yang memiliki iris merah membara. Oh, seandainya tujuan ia kesini adalah untuk mencari jodoh, maka ia akan pusing tujuh keliling memilih orang yang tepat diantara pria-pria super keren ini.
"Garuda Pancarana…" Ujar pria yang dipanggil Al itu, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebuah rencana busuk, tepatnya.
Nesia masih membisu. Sedangkan, sang resepsionis boy sudah menghilang entah kemana.
"…Apa keahlianmu, Garuda?" lanjut sang pria bermata biru.
Menembak jitu, memanah, merakit bom, taekwondo, karate, silat, membuat racun, atau ballet? Apa yang seharusnya ia katakan saat itu ia tak tahu. Ia tak begitu mahir bermain alat musik atau olahraga normal seperti yang banyak pria lakukan. Oke, Logan bilang jangan terlalu menarik perhatian, atau menampakan bahwa dirinya bukan orang sembarangan.
Oh ya! Ada satu kemampuannya yang lain yang bisa dibilang biasa saja. Ia mempelajarinya ketika sedang berlibur ke tanah tercinta Indonesia. Baiklah, Nesia yakin ini akan berhasil.
"Aku bisa… memijit." Celetuknya penuh keambiguan.
Lagi-lagi, dua anggota LS itu melongo heran.
.
.
Setelah melewati berbagai cobaan hidup yang berat, Nesia tiba juga di depan pintu kamarnya. Kamar nomor 113. Cukup horror karena mengandung angka 13 di dalamnya. Kamar ini berada di lantai 3 dan menghadap ke luar sekolah. Jelas ia berseberangan dengan kamar 124 yang menghadap ke lapangan sekolah. Oke, sebenarnya itu baru spekulasinya, karena sampai saat ini ia belum berani memasuki kamar barunya itu. Entah mahkluk apa yang bisa ditemukannya di dalam nanti. Akankah mahkluk hina seperti Alfred dan Gilbert yang pada ujungnya menyuruh Nesia untuk memijit mereka nanti malam? Atau seperti Mr. Ulat Bulu yang tempramen? Atau Antonio si tukang tebar pesona? Nesia sudah malas berfikir.
Baiklah, ini saat-saat yang mendebarkan…
Nesia memasukan kunci ke lubangnya, memutarnya…
CKLEK
Pintu pun didorong ….daaaannnnnnn…
Gelap.
Pintu kamar itu menampilkan pemandangan gelap. Hanya ada satu cahaya yang bersinar, cahaya itu berasal dari laptop yang sedang dimainkan oleh seorang pemuda yang berbaring di kasur.
Pemuda yang rambutnya di gel seperti bunga tulip.
Dengan sedikit keraguan di hati, ia pun melangkah masuk hati-hati. Jaga-jaga bila pria itu memasang jebakan tikus di lantai atau hal-hal mengerikan semacamnya.
"Umm, hi, aku Garuda Pancarana, boleh aku nyalakan lampunya?"
"Hmm" Pria itu hanya bersuara datar bagai zombie. Entah itu artinya iya atau tidak, yang pasti Nesia saat ini menekan saklar lampu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
SPLASH
Seketika cahaya remang-remang memenuhi seisi ruangan. Membuat kamar asramanya tampak benar-benar elegan, seperti kamar di hotel bintang lima. Entah berapa banyak uang yang harus dibayar untuk bisa menuntut ilmu disini.
Ruangan itu berbentuk segi panjang. Di sisi kanan terdapat dua kasur single –yang tentu saja, terpisah oleh sebuah meja kecil yang menempel ke dinding. Sisi kirinya terdapat sebuah lorong kecil yang pendek dengan dua pintu yang saling berhadapan. Nesia sangat takjub dengan arsitektur yang disajikan sekolah ini.
Ia segera berlari untuk memeriksa kedua ruangan itu. Pintu yang ada di kiri ternyata sebuah kamar mandi dengan bathtub berbentuk hampir bulat. Di sampingnya terdapat showertub berbentuk kotak. Entah karena kebanyakan uang atau apa. Namun jelas-jelas ini penghamburan. Untuk apa dua alat mandi sekaligus? Oh atau… anak-anak disini biasa mandi bersama? Nesia bergidik membayangkannya.
Kamar mandi ini didominasi warna coklat latte seperti ruang kepala sekolah tadi. Selain terdapat bathtub dan showertub, di kamar mandi elegant ini terdapat wastafel marmer yang berdiri kokoh di bawah cermin segi panjang.
Nesia beralih ke ruangan yang berada di seberangnya. Ketika pintu itu menjeblak terbuka, kesan pertama yang didapatinya adalah ruangan ini mirip toko baju.
Lemari berderet di sepanjang dinding. Rak-rak sepatu membentang di tengah. Laci-laci penuh dasi dan ikat pinggang berderet ke bawah. Ruangan ini memang tak terlalu besar. Namun bisa dibilang sebagai lemari raksasa. Nesia berdecak kagum.
"Hei, hei, baju siapa yang ada disini?" teriak Nesia pada lelaki asing yang tadi sedang asik memainkan laptop.
Samar-samar terdengar suara berat yang menjawab, "Milikku dan kau!"
Nesia berjingkat-jingkat kegirangan. Sejak kapan ia punya distro baju sendiri.
"Asiik sekaliii! Wuuhhhh! This school is rooock!" teriak wanita itu sambil mengacung-ngacungkan lambang metal yang dibentuk jari-jari tangannya.
Sedang asiknya ia mengapresiasi keindahan hidup, suara terkutuk itu datang lagi.
"Ehem,"
Nesia segera berhenti bersikap autis. Ketika di liriknya daun pintu, ternyata si Mr. Ulat Bulu tengah bersender disitu.
"Ini beberapa angket yang harus kau isi sebelum memulai pelajaran di sekolah ini, sebelum kau mengumpulkannya, kau belum boleh ikut kegiatan belajar," ujarnya ketus sebari menyerahkan sebuah map pada Nesia.
"Kenapa tidak bilang daritadi?"
Kedua ulat bulu itu kembali menukik, "Siapa suruh pergi duluan?!"
Wanita itu hanya meresponnya dengan putaran bola mata yang amat memuakkan. Yang sejujurnya membuat Arthur bisa terkena hipertensi atau gagal jantung. Saking emosinya.
"Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di kamar 124,"
Nesia terbelalak bak siswa SMA yang gagal masuk universitas.
"SHITTT! Depan kamar ini, dong?!"
"Ya, itu memang kamarku, dah…" kini tempramen Arthur kembali calm.
Dan sebelum ia benar-benar keluar ruangan, Arthur meneriakan sesuatu yang terdengar seperti…
"Oh ya, Gara, selamat menikmati Jasper!"
Tiba-tiba, Nesia merasa jantungnya turun hingga ke rongga perut.
.
.
To be continue...
.
.
.
Terima kasih sudah membaca,
mohon reviewnya :)
-Warmlatte-
