Nesia mendaftar ke sekolah asrama khusus laki-laki, apa yang sebenarnya ia lakukan disana?

.

.

An Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei


.

Nesia sedang berbaring di atas kasur barunya, sambil membaca isi map yang baru diberikan Arthur tadi. Ternyata angket itu berisi daftar mata pelajaran yang harus dipilihnya untuk satu semester ke depan. Pelajaran di sekolah ini begitu banyak, begitu bercabang dan mendalam. Satu mata pelajaran terbagi lagi menjadi cabang-cabang yang lebih spesifik. Dan yang membuat Nesia tercengang, pelajaran-pelajaran disini bisa dibilang ekstrem. Terlebih lagi, siswanya benar-benar dibebaskan untuk memilih pelajaran yang ia mau. Peraturannya hanya satu, minimal setiap siswa mengikuti 5 kelas di setiap semesternya. Gila, kan?

Misalnya saja cabang olahraga. Ia terbagi lagi menjadi bermacam-macam jenis. Beladiri, atletik, archery, olahraga air, olahraga bola besar, ketangkasan, angkat besi dan masih banyak lagi. Dari beberapa pilihan tersebut, Nesia memutuskan untuk memilih beladiri. Menurutnya, cabang itulah yang paling ia kuasai. Dan memang begitu kenyataannya. Ia tak mau salah memilih mata pelajaran, yang nantinya malah menyulitkan ia untuk menyelesaikan misinya yang utama di sekolah ini.

Cabang beladiri terbagi lagi. Dengan senjata, atau tanpa senjata. Nesia menceklis kolom di samping kata 'dengan senjata'. Kemudian, ia kembali harus memilih. Senjata api, pedang, atau rope dart. Oke, disini ia mulai bingung. Ketiga cabang tersebut sangat dikuasainya, terutama senjata api. Mulai dari revolver hingga sniper corner shot ia pernah menggunakannya. Tentu saja dalam skala yang terlewat sering.

Keluar dari angket yang memuakkan, Nesia melirik Jasper yang masih saja memainkan laptopnya dengan serius. Sejujurnya mereka belum sempat berkenalan. Baru percakapan singkat mengenai lampu tadi. Tunggu, itu bukan percakapan, karena Jasper hanya menjawab 'hhmm'. Oke, percakapan mengenai baju-baju itu mungkin.

Jasper bertubuh tinggi dan kekar. Terlihat jelas bahwa ia sering berolahraga. Otot-otot badannya terbentuk dengan sempurna. Rambutnya berwarna pirang dan seperti yang aku bilang tadi, digel seperti bunga tulip. Atau tidak digel? Entahlah, rambutnya yang sedikit jabrik itu mengacung begitu saja. Irisnya berwarna hijau. Tapi tak secemerlang milik Arthur. Hijau yang ini terlihat lebih muda. Dari penampilannya, sosok ini jelas-jelas terlihat seperti anak muda berumur 17 –an. Ia mengenakan kaos hitam ketat dengan lambang nazi di bagian dadanya. Dan seperti anak muda pada umumnya, Jasper menggunakan celana jeans yang terlihat masih baru. Tapi entah apa yang membuat Nesia merasa teman sekamarnya ini jauh lebih tua dari penampilannya.

Merasa ada orang yang memperhatikan, Jasper segera menoleh ke arah Nesia. Diiringi tatapan sinis tentunya.

"Apa lihat-lihat?"

Nesia yang tertangkap basah terkejut minta ampun, "Hiih! Siapa yang lihat-lihat, ogah banget deh…" kemudian wanita itu beralih pada angketnya lagi.

Tanpa diduga, Jasper kembali membalas. "Sudah memutuskan mau masuk kelas apa?"

"Hah? Oh, belum… terlalu banyak pilihan, terlalu banyak yang menarik,"

Pria itu masih memainkan laptopnya. Namun Nesia bisa menangkap ekspresi mencibir dari wajah Jasper. "Ini bukan soal tertarik atau tidak, tapi soal kau bisa menyelesaikannya atau tidak, sebelum kau memilih, yakinlah bahwa kau mampu memasuki kelas itu," kini ia menutup laptop hitamnya dan membiarkannya tergeletak sembarangan di atas kasur.

Jasper bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan yang dilakukan Jasper sontak membuat Nesia tercengang.

"Kau mau mandi di suhu sedingin ini?" pekiknya agak histeris. Lebay memang.

"Ya, aku belum mandi sejak dua hari yang lalu…" ujar pria itu sebari mengambil handuk putih dari gantungan dekat pemanas. "…lagi pula ada air hangat, kan?"

Nesia tak menjawab. Hanya melemparkan tatapan ngiler pada sosok tampan yang mulai memasuki kamar mandi itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ingin rasanya ia ikut masuk kesana untuk sekedar… yaa kau taulah, tapi fantasi liar itu segera ditepisnya jauh-jauh. Maklum, hidupnya yang dulu seret cowo ganteng. (seret artinya kekurangan)

"Ehh tunggu dulu!" teriak Nesia dengan volume suara yang dahsyat. Lebih dahsyat dari sirine peringatan tsunami.

Jasper yang terkejut hampir saja terjungkal karena terpeleset. Untungnya ia segera berpegangan pada wastafel. Menghasilkan sebuah pose konyol yang bisa menjadi aib terbesarnya.

"Ada apa lagi?!" pekik Jasper tak kalah dahsyat. Ia segera berjalan keluar kamar mandi untuk memelototi sang pelaku. Penuh emosi dan amarah. Sepertinya Nesia memang cocok sebagai pencari masalah.

Nesia menjawab dengan nada yang amat manis dan tenang,"Hi, namaku Gara, namamu?"

Sigh. . . . . . . . . .

Jasper tak mampu berkata-kata. Entah teman sekamarnya ini idiot atau autis atau apa? Baru kali ini ia menemukan orang yang begitu bodoh. Meneriaki dirinya hingga ia hampir terjungkal hanya untuk berkenalan seperti ini? Bodoh! Idiot! Jasper komat-kamit mengutuk perbuatan biadab Nesia kepadanya.

Dan dengan muka yang datar sempurna bagai permukaan jalan tol, Jasper berkata, "Jasper."

Kemudian ia segera masuk kamar mandi sebelum siswa baru itu mengatakan hal yang aneh lagi.

"Salam kenal, Jasper! Boleh aku memanggilmu Jessie?"

"TIDAK!"

"Kalau begitu… Jesse?"

Sedetik kemudian gedung asrama itu terasa berguncang.

"TIDAAAAAAKKKK!"

.


.

Ketujuh anggota LS itu sedang duduk tenang menikmati sarapan pagi mereka di kantin. Kantin yang ini lebih mirip dengan restoran berkelas. Mereka duduk mengelilingi meja segi panjang yang bertaplak kain merah. Meja yang hanya memiliki tujuh kursi eksklusif. Meja yang khusus di bangun untuk mereka. Ia terletak persis di belakang jendela utama ruangan. Membuatnya terlihat bak meja makan utama kerajaan.

Restoran itu, eh kantin, memiliki menu makanan dari berbagai penjuru dunia. Dilengkapi koki-koki yang handal dan beberapa pelayan –yang juga pria, yang sangat cekatan. Sangat berkebalikan dengan kantin sekolah pada umumnya. Di dindingnya berderet potret-potret dari kepala sekolah yang pernah menjabat. Tentu saja foto Ivan terpajang disana. Ia begitu gagah dengan setelan militernya yang berwarna donker.

Kembali ke meja para LS. Arthur sedang berusaha menikmati earl grey –nya di tengah kegaduhan yang dibuat oleh sebagian anggota. Alfred dan Gilbert masih menertawai bagaimana mereka berhasil mengerjai murid baru yang culun itu. Memberi kesan seakan ada 10 oranglah yang berbicara. Di seberangnya, Antonio sedang asik membalas email-email dari para penggemarnya sambil sesekali tertawa sendiri. Di samping piring sarapannya tertumpuk bunga-bunga kiriman dari para fans. Sisa anggota LS yang lain, menikmati sarapan pagi mereka dengan normal.

"HAHAHA! Dia benar-benar bodoh! Masa dia bilang keahliannya adalah memijit! HAHAHAHA!" seru Alfred pada seisi meja.

"Kalian harus lihat ekspresinya tadi!" timpal Gilbert tak kalah seru.

"Maksudmu Gara?" tanya Antonio acuh tak acuh.

"TEPAT! HAHAHAHAHA!"

"KESESESESESESE!"

Kegaduhan pun terus berlanjut, sampai sebuah suara lain ikut muncul dalam percakapan.

"Umm, anu…" Seorang pria dengan iris monokrom angkat bicara. Air mukanya begitu tenang dan terkendali. Rambutnya hitam legam dan lurus sempurna, potongannya seperti mangkok yang terbalik. Untungnya, karena lurus, rambut milik Kiku tak menyerupai personil The Changcuters yang nge-bob.

"Ada apa, Kiku?" tanya Arthur serius.

Yang ditanya itu segera meletakan cangkir khas Jepangnya ke atas meja.

"Aku rasa kalian harus berhati-hati padanya, umm, entahlah, aku punya firasat kalau dia bukan orang sembarangan,"

DEG.

Semua anggota LS yang duduk mengitari meja itu berhenti dari semua aktivitas pribadi mereka. Perhatian mereka langsung terpusat pada satu orang. Iris yang berwarna-warni bak pelangi itu menatap tajam pada warna monokrom hitam yang gelap. Otak-otak brilian itu segera bekerja. Mencerna hal yang sama, mencerna omongan Honda Kiku sang Future Sight.

.


.

Setelah Jasper merasa puas dengan aktivitas membersihkan diri yang dilakukannya, ia segera keluar dari kamar mandi yang kini dipenuhi uap air itu. Menyeberangi lorong untuk mencapai ruang ganti. Namun sebelum ia sempat masuk ke dalam ruangan penuh pakaian itu, pendengarannya menangkap teriakan melengking dari arah tempat tidur. Teriakan yang sontak membuat kepalanya pening minta ampun.

"KYAAAAA!"

Lagi-lagi si anak baru pencari masalah itu.

"APA SIH?!" bentak Jasper yang setengah telanjang.

Ketika dipandangnya, wajah anak baru itu merah bagai buah tomat yang siap panen. Jasper bergidik melihat kelakuan teman barunya yang percis seorang wanita.

"Mukamu kenapa merah?"

Nesia diam seribu kata. Membisu bak anak SMA yang ketahuan mencontek saat UN. Oke, ia memang kelewat berlebihan dalam merespon sesuatu. Tapi kali ini tidak! Ia wanita, ingat? Dan seperti inilah reaksi wanita yang melihat pria asing setengah telanjang melintas di hadapannya.

"Gila…" cibir Jasper kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.

Gadis itu terbelalak (baca: terpesona) selama 15 menit lamanya, ketika tersadar, Jasper sudah bertransformasi menjadi pria berseragam yang keren. Seragam yang sama dengan Arthur atau Antonio atau dua orang gila yang ditemuinya di lobby. Hanya saja, Jasper begitu pintar memodifikasi seragam tersebut, hingga terlihat lebih santai dan cool. Kemejanya dibuka hingga kancing kedua. Lengan kemejanya yang panjang ia gulung se-siku, dan blazernya alih-alih dipakai ia tenteng di tangan kirinya. Dan rambutnya yang masih basah turun menutupi keningnya yang sedikit lebar. Ternyata rambut itu memang alami mengacung bila sudah kering.

Hampir saja Nesia mimisan.

"Sudah beres memilih kelasnya?" tanya Jasper ketika ia menggantungkan handuk dekat penghangat ruangan. Well, meskipun sedikit jijik, teman barunya ini tetap saja anak baru yang masih banyak butuh bantuan.

"Aku sudah memutuskan untuk mengikuti enam kelas…" jawab Nesia ogah-ogahan. Masih merasa malu akibat insiden tadi.

"Apa saja?"

"Senjata api, bela diri pedang, sejarah, pengobatan modern, interpretasi simbol, dan sastra Rusia…yang terakhir itu karena aku tertarik,"

Jasper sedikit tertawa, "Kau mencontek jadwalku, yah?"

"APA?! Jadwal kita sama?!" pekik Nesia yang shock setengah mati.

"Tidak semua, aku tidak mengambil sastra Rusia dan sejarah…"

"Fyuhh, syukurlah…"

Jasper membatin, seharusnya aku yang bilang begitu.

"Sekarang kau mau kemana?" tanya Nesia lagi.

"Menurutmu?"

"Ke kelas apa?"

"Senjata api," jawabnya sebari keluar ruangan.

Setelah memastikan pria itu benar-benar pergi, Nesia segera mengunci pintu kamarnya. Ia harus yakin benar hanya ia sendirilah yang ada di ruangan tersebut. Nesia hendak mandi, dan itu merupakan sesuatu yang fatal bila dilakukan di asrama ini. Ia menutup semua tirai termasuk yang berada di ruang ganti. Tirai dari jendela yang menghadap ke halaman luar sekolah.

Ada dua handuk di dekat pemanas. Yang satu keadaanya basah, dan yang satu masih kering. Handuk yang basah pastilah bekas digunakan Jasper, maka Nesia segera menyambar handuk kedua yang masih kering.

Ketika dibukanya pintu kamar mandi, uap sisa mandi Jasper masih mengepul memenuhi ruangan. Tampaknya Jasper menggunakan bathtub ketika mandi tadi. Bahkan kaca di atas wastafel berembun tak mematulkan apapun. Nesia mengusapnya, membuat bayangan seorang wanita berambut pendek terpantul dari kaca. Tampak begitu maskulin dengan setelan kemeja putih longgar dan celana panjang hitam yang formal. Sosok itu seketika berubah, saat Nesia melepas lapisan rambut palsu yang menutupi kepalanya. Terurailah rambut panjang nan hitam se-dada. Nesia merindukan sosoknya yang ini. Sosok feminim dirinya yang sebenarnya.

Semenit kemudian, ia membenarkan pernyataan Jasper soal air panas itu. Ternyata memang tak terlalu buruk mandi di suhu sedingin ini.

.


.

Arthur seharusnya sudah berada di kelas senjata api jika bukan karena perintah Ivan yang kembali datang mendadak. Ivan memintanya untuk mengambil angket mata pelajaran milik si murid baru, yang seharusnya bisa dikumpulkan esok hari. Sejujurnya, Arthur tak rela dirinya diperlakukan bak orang suruhan seperti ini. Namun, bagaimana lagi? Toh, Kepala Sekolah yang menjabat di sekolah ini bagaikan raja dengan kekuasaan yang absolut. Bahkan seorang Arthur Kirkland pun belum berani untuk menentangnya. Belum.

Ia berjalan dengan wajah penuh emosi. Semenjak kedatangan murid baru itu, mood Arthur sulit sekali membaik. English man itu membelah lautan siswa yang berjalan berlawanan arah dengannya. Mereka menatap Arthur dengan tatapan yang segan. Bahkan, tak ada yang berani menatap emerald itu secara langsung. Tanpa harus meminta, kerumunan yang berjalan keluar asrama itu membukakan jalan untuk Arthur.

Setelah melewati lobby yang kala itu beraroma lavender, Arthur segera memasuki kabin kecil yang dapat membawanya ke lantai tiga. Dimana terdapat kamarnya dan kamar si murid baru. Kabin lift itu berbentuk segi panjang. Seluruh dindingnya dilapisi cermin, memantulkan bayangan sang English man yang gagah dengan setelan hitam dan syal yang senada dengan setelannya melilit leher.

Pintu lift tertutup. Seketika perasaan melambung tinggi memuakkan keseimbangan Arthur. Ia menatap bayangannya sendiri untuk mengalihkan. Emerald itu terlihat gusar. Beberapa detik kemudian, keseimbangan Arthur kembali seperti semula.

Lift berdenting, pintu lift terbuka menampakan lorong kosong yang bernuansa latte. Nampaknya seluruh penghuni telah berada di kelas masing-masing. Arthur menyusuri lorong yang sepi itu. Sepatu hitamnya yang beradu dengan karpet, menimbulkan bunyi ketukan yang tertahan bergema di sepanjang jalan. Tak membutuhkan waktu lama untuknya sampai di kamar 113.

.


.

Nesia bahkan belum sempat berpakaian ketika pintu kamarnya diketuk secara kasar. Suara ketukan itu membuatnya terkejut setengah mati. Nesia panik tingkat UMPTN. Tanpa pikir panjang, ia segera mengenakan apapun yang sempat disambar tangannya dari ruang ganti. Nesia berlari ke kamar mandi untuk kembali memakai rambut palsunya. Selanjutnya, ia berlari menuju pintu depan, memutar kenop itu dan segera membuka pintu.

Sosok yang ditemukannya adalah Mr. Ulat Bulu.

"Apa?" tanya Nesia ketus.

Arthur tak menjawab. Ekspresinya nampak bingung. Emerald itu terlihat sangat tak fokus dan kabur. Pria itu menatap Nesia dari atas ke bawah, kemudian ke atas lagi. Baru kali ini Nesia melihat Arthur nampak begitu bingung. Ia jadi bingung apa yang dibingung –kan, karena bingungnya tak ada yang membingungkan dari dirinya yang kini bingung. Bingung, bingung, bingung.

Suasana hening, seketika menyelimuti mereka. Nesia masih menunggu jawaban Arthur, dan pria itu masih diam seribu bahasa. Menghasilkan atmosfer canggung yang bisa membuat seorang Ki Joko Bodo pun merinding ketakutan. Bahkan cicak di dinding pun berhenti dari aktifitas merayapnya. Kini, pandangan Arthur mengarah pada sekitar 7 cm di bawah dagu Nesia. Mengarah pada…

"Gara, kau wanita?" celoteh Arthur tanpa sedikit pun nada bicara yang muncul. Begitu datar dan mengambang.

Nesia sontak ikut memandang pada 'objek' yang dipandang Arthur. SHIT! Dia lupa menggunakan lapisan perata dada. Nesia panik! Rasanya ia ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Dari sekian misi yang telah ia selesaikan, misi ini yang dianggapnya paling mudah. Dan ia tak percaya bahwa penyamarannya sebagai pria, terungkap jauh sebelum 10% misinya terselesaikan. Ia merasa sangat kecewa dengan dirinya. Mengapa ia bisa begitu ceroboh?

Tanpa berpikir panjang, gadis itu segera menarik Arthur masuk ke dalam kamar.

.

.

To be continue...

.

.

.


.

Sip sip joss!

ini chapter 3 yang membutuhkan banyak pengorbanan-_- karena entah kenapa, jadi sulit untuk menggambarkan imajinasi dalam kata-kata :(

well, kalian yang udah baca ngerasa pembawaannya jadi aneh ga?

kalau ada yang mau diungkapkan silahkan review :D dadaaaaahhh ;)

p.s makasih udah bacaa :D

.