.
Nesia mendaftar ke sekolah asrama khusus laki-laki, apa yang sebenarnya ia lakukan disana?
.
.
An Hetalia Fanfiction
.
.
Undercover
.
.
Hetalia milik Himaruya -sensei
.
Ada sebuah aura mencurigakan yang menyelimuti lorong baja menuju ruang kelas senjata api saat itu. Seorang pemuda dengan badan yang tegap tengah menunggu kedatangan rekannya. Tangannya dilipat di depan dada. Di luar kemeja putihnya ia mengenakan rompi anti peluru yang berwarna hitam. Sorot matanya begitu bosan, bosan menunggu kedatangan rekannya yang tak kunjung tiba. Sesekali pria itu melirik pada jam tangan.
Beberapa menit kemudian, bunyi langkah kaki terdengar nyaring di sepanjang lorong. Bunyi itu berasal dari beradunya sepatu sang rekan dengan lantai baja. Pria yang baru datang itu kini makin nampak. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari yang menunggu. Rambutnya berwarna pirang, di jepit di salah satu sisi dengan jepit besi tipis Skandinavia. Rautnya amat datar. Tak memberikan gambaran emosi apa-apa.
Yang menunggu segera menyadari, "Dari mana saja kau?"
"Maaf, ada sedikit urusan di U. Hall tadi…"
Yang menunggu melempar tatapan kesal kepada yang baru datang, "Aku harus segera ke kelas, hanya saja ada sedikit informasi untukmu,"
"Informasi apa?"
"Kau sudah tahu seberapa banyak tentang 'itu'?" tanya yang menunggu tanpa menghiraukan pertanyaan dari pria dengan jepit itu.
"Tidak banyak, mereka tak sering membicarakannya,"
Yang menunggu mengangguk laun, "Sebaiknya kau tahu, 'yang baru' adalah seorang wanita,"
Awalnya, pria dengan jepit itu terlihat terkesiap. Wajahnya memunculkan emosi tak percaya, dan terkejut. Namun dengan cepat, semua kembali datar, ia dapat menguasai diri.
"Aku tak percaya,"
"Aku juga, tapi memang itu kenyataannya. Oh ya, aku juga punya sebuah rencana baru…"
.
Arthur yang kini hanya berdua dengan anak baru itu mulai merasa ketakutan. Entah apa yang membuatnya takut. Jelas bukan karena ia baru saja melihat kalau anak baru itu punya dada seorang wanita. Bukan. Sepertinya ada sesuatu yang lebih serius dari itu. Sesuatu yang membuatnya merasa was-was ketika menatap pada iris coklat milik Gara.
"Ada apa ini sebenarnya?!" bentak Arthur tegas dan menuntut jawaban pasti.
Manusia di hadapannya diam saja. Tak menjawab, tak melakukan apa-apa. Namun dalam gerakan matanya yang liar, Arthur yakin ia sedang berpikir keras.
"Jawab!" kata Arthur mendukung pertanyaannya.
Tiba-tiba aura sekitar mereka semakin mencekam. Arthur melihat sebuah senyuman yang agak sadis mengembang di wajah Gara. Seandainya orang itu berbuat macam-macam, Arthur telah siap dengan segudang ilmu bela diri yang dikuasainya. Namun, baru kali ini ia merasa benar-benar tak dapat membaca situasi. Instingnya berkata, Gara benar-benar bukan bocah polos yang dikenalnya beberapa jam yang lalu. Baru beberapa jam yang lalu, dan kini sosok itu benar-benar menjadi orang yang berbeda.
"Arthur Kirkland…" kata Gara lambat-lambat. Suaranya berhasil menimbulkan efek misterius berbahaya.
"Tenang saja, kau tak perlu takut, tak perlu mengadu pada siapa-siapa, karena Ivan telah menerima keberadaanku disini…" tangan milik Gara meraih sejumput rambut hitam di kepalanya.
Dengan gerakan yang begitu cepat, dia menarik surai hitam pendek itu hingga seluruh lapisan rambut pendeknya lepas. Menampakan surai hitam lain yang lebih panjang, surai indah seorang wanita. Kemudian sosok itu kembali tersenyum.
Ya! Sudah Arthur duga. Gara bukan seorang pria. Ia sudah dapat menebaknya semenjak mereka pertama kali bertemu. Tak mungkin ada pria secerewet orang ini. Terlebih lagi caranya berjalan. Semua! hampir semua yang berkaitan dengan Gara terasa ganjil dan aneh. Bahkan perasaannya ketika pertama kali melihat 'itu'. Arthur senang karena instingnya ternyata benar.
Kini Gara bertransformasi menjadi wanita yang begitu cantik. Itu pendapat Arthur.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan nada yang sedikit histeris.
"Seseorang yang akan membantumu menemukan sesuatu…" jawab orang itu misterius.
"Tidak, aku tak percaya padamu," Pria itu mengambil langkah seribu untuk melarikan diri dari situ.
Arthur baru saja menggapai kenop pintu, ketika tiba-tiba sebuah tinju mengenai wajahnya, membuatnya terpental hingga berakhir di atas ranjang. Baru kali ini Arthur merasakan pukulan yang sangat kuat dari seorang wanita. Ketika ia meraba, rahangnya terasa begitu ngilu.
"Aku tak akan membiarkanmu keluar, sampai kau mengerti duduk masalahnya,"
"Aku tak perlu mengerti, jelas-jelas kau penyusup!"
"Kau bilang aku apa?"
Wanita asing itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Berwarna hitam, memiliki moncong… sebuah pistol! Arthur pernah mempelajari senjata itu di kelas. Namanya Glock-17, pistol otomatis buatan Austria yang amat canggih. Arthur merasa gemetar, namun dalam waktu yang bersamaan ia juga berfikir. Mencari jalan keluar dari masalah yang mulai merumit. Ia tak mudah panik, itu merupakan kelebihannya.
Akhirnya ia menemukan sebuah laptop hitam terbaring tak jauh darinya. Arthur meraih benda itu dan segera melemparnya ke arah sang wanita asing.
Tepat sasaran! Laptop hitam itu berhasil menubruk perut si wanita asing yang kini terkapar di lantai. Tenaga Arthur memang cukup besar. Berhasil membuat laptop yang berat itu melayang kencang bak peluru, bahkan jauh lebih menakutkan dari Glock-17. Oh ya, Glock-17, ia terpental ke ujung ruangan. Membuat Arthur yang begitu cerdik berlari meraihnya.
Hati Arthur membara. Saatnya ia menyaksikan kemenangan yang begitu manis. Hanya tinggal sedikit lagi, tangannya meraih Glock-17 yang tergeletak pasrah di lantai. Hanya tinggal selangkah lagi…
Dan tiba-tiba suara itu terdengar.
"Arthur….Arthuur….." terdengar samar namun mirip suara seseorang.
Arthur merasa bingung. Tiba-tiba suara itu terdengar begitu jelas seiring rasa dingin yang muncul di kulit wajahnya. Ia merasa dunia seakan berputar.
"BANGUUUUNN!"
SPLASH.
Arthur tersadar dari mimpinya.
…
Hal-hal yang baru saja dikerjakan Nesia adalah menendang bebas bagian belakang kepala Arthur hingga pria itu tak sadarkan diri, membius pria itu sehingga mengalami amnesia ringan, dan kembali berdandan bak seorang pria. Kini ia merasa semua sudah beres terkendali. Tak ada lagi rasa kecewa dan khawatir terhadap diri sendiri. Nesia berhasil mengatasi kecerobohannya.
Ketika Arthur bangun –yang disebabkan siraman air dingin ke wajahnya, ia terlihat bagai anak hilang yang ditemukan polisi. Raut wajahnya terlihat sangat kebingungan. Bahkan, ketika ia melihat Nesia, ia sempat mundur ketakutan. Mungkin Arthur baru mengalami mimpi buruk tentang dirinya.
"Arthur, kau tak apa-apa?" tanya Nesia sok peduli.
Pria itu menggeleng, "Hanya mengalami mimpi yang sedikit aneh, um, apa yang baru saja terjadi?" tanyanya bingung.
"Entahlah," sahut Nesia menaikan bahu. "Tahu-tahu ketika aku keluar kamar, kau sudah tergeletak pingsan…"
Arthur berusaha mengingat. Semuanya hilang, ia tak ingat apa-apa tentang kegiatan yang baru dilakukannya. Terakhir kali yang diingatnya adalah perintah Ivan, kemudian blank dan tiba-tiba ia sudah bangun di atas kasur milik orang seperti ini. Arthur merasa begitu bingung. Bahkan mimpi yang ia alami tadi begitu aneh. Baru kali ini ia bermimpi se-seru itu. Di mimpinya Gara ternyata seorang wanita, dan ia bersenjata, dan… ah, tapi, setelah ia lihat-lihat lagi sekarang, tak ada bukti sama sekali bahwa itu bukan mimpi. Bahkan dadanya datar…
"Kau mau aku antar ke klinik?"
Arthur dengan cepat menolak, "Tidak, aku hanya butuh angketmu, sudah diisi, kan?"
Nesia mengangguk, "Tunggu sebentar…"
Ia berjalan menuju laci samping tempat tidur dan membukanya sebari membungkuk. Menampilkan lekuk tubuh yang lain dari kebanyakan pria. Arthur melongo sepersekian detik. Namun kemudian ia kembali tersadar dan mengecam dirinya, fantasinya sudah kelewatan.
"Ini." katanya sambil menyerahkan sebuah map pada Arthur. Pria itu menerima saja.
"Apa lagi?" lanjutnya.
Arthur membuka beberapa lembar dan segera berkata, "Sekarang, cepat berpakaian dan pergi ke kelas senjata api, aku akan menyusul." Dengan kepala yang masih terasa pening, Arthur berdiri.
Berusaha menyeimbangkan cara berjalannya, dan berjalan keluar ruangan. Ia menutup pintu di belakangnya agak keras. Masih belum merasa sehat benar.
.
Kelas senjata api yang dimaksud Arthur ternyata merupakan sebuah lapangan tembak bawah tanah yang lengkap dengan peredam suara. Nesia sedang berada di luarnya, megintip dari kaca lebar transparan yang menampilkan sedikit bagian dari ruangan yang besar itu.
Di dalamnya beberapa pria sedang mencoba menembakan peluru tepat pada sasaran. Mereka menggunakan Mark-23, pistol otomatis yang cukup canggih. Namun biasa saja bagi Nesia. Di ujung lain ruangan, seorang pemuda berambut pirang dengan alis yang menukik tengah menjelaskan sesuatu tentang senjata yang berada di meja di sampingnya. Siswa-siswa memusatkan perhatian mereka padanya, kecuali yang sedang menembak tadi.
Nesia masuk ke ruangan itu. Bunyi-bunyi ledakan yang nyaring kini terdengar jelas. Diatara pria-pria yang sedang menembak, Nesia melihat Jasper. Caranya menggunakan senjata begitu luwes. Tembakannya hampir selalu tepat sasaran. Nesia cukup takjub dengan anak-anak sekolahan yang hebat ini. Usia mereka terbilang muda namun sudah mahir bersenjata.
Dari lapangan tembak, ia beralih pada kerumunan dan instruktur mereka. Yang ternyata, kerumunan itu berada dalam ruangan kaca kedap suara yang terisolasi dari lapangan tembak. Jelas ini dibuat agar apa yang dikatakan instruktur dapat didengar dengan jelas. Nesia memasuki ruangan itu. Di dalam begitu hening, hanya logat khas Jerman-Swiss yang bersuara memecah sepi. Ketika Nesia masuk, semua pandangan beralih padanya. Instruktur orang Swiss itu nampaknya sedikit kesal pelajarannya terganggu oleh Nesia.
"Hei! Siapa namamu, orang baru?" katanya galak.
Nesia sedikit terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba itu, namun ia tetap menjawab, "Garuda Pancarana, sir," katanya lantang.
"Berani benar mengganggu pelajaranku! Sekarang, deskripsikan yang kau ketahui tentang senjata ini!" perintahnya menunjuk pada senjata di atas meja.
Nesia tahu benar apa yang harus dideskripsikannya. Ia mulai berbicara dengan santai.
"Namanya SR-25. Senapan runduk semi-otomatis, SR-25 dirancang oleh Eugene Stoner dan diproduksi oleh Knight's Armament Company. Menggunakan metoda rotating bolt dan sistem gas direct impingement. Dasar mekanismenya mirip AR-10 Stoner, yang dirancang ulang untuk kaliber 7.62 x 51 mm NATO. Lebih dari 60% komponen SR-25 serupa dengan komponen AR15/M16 – kecuali receiver, hammer, laras dan carrier. Laras SR-25 dibuat oleh Remington Arms dengan model rifling 5R, dengan twist 1:11.25. Panjang laras 609mm jenis free-floating dengan tingkat akurasi 0,75 MOA – sangat bagus untuk semi-otomatis. Semua model SR-25 dilengkapi dengan sistem rel Picatinny-weaver pada bagian atasnya untuk dipasangi berbagai macam alat teropong bidik, termasuk tuas penjinjing M16A3 dengan pisir logamnya. SR-25…" Nesia berhenti karena merasa terlalu 'menonjol', membuat siswa-siswa lainnya tercengang hebat. Ia sadar sudah kelewatan.
"Maaf, sir…" tambahnya.
Pria yang dipanggil sir itu menggeleng karena kagum. Sorot matanya menggambarkan rasa bangga yang begitu besar. Baru kali ini ia menemukan siswa yang begitu tahu mendetail tentang senjata. Kebanyakan yang lain hanya sekilas tahu dan senang ketika praktek saja.
Instruktur itu berjalan menuju Nesia.
"Kau pasti murid baru itu," katanya pada akhirnya.
"Kenalkan, namaku Vash Zwingli –instruktur pelajaran senjata api disini," ujarnya penuh hormat.
Nesia membalas, "Sekali lagi, namaku Garuda Pancarana, aku sangat senang bisa mengikuti kelasmu…"
Vash Zwingli ternyata sangat-sangat muda.
.
Gilbert tengah serius mendengarkan penjelasan Zwingli tentang SR-25, ketika tiba-tiba pintu kaca bergeser. Membuat perhatiannya beralih pada sosok baru dalam ruangan. Sosok yang pernah sekali ditemuinya di lobby. Si murid baru itu, Gara. Ia kelihatan begitu kikuk, namun sesuatu dalam diri Gilbert meyakinkan bahwa orang itu hanya berakting saja.
Zwingli marah karena Gara mengganggu kelasnya. Ia menyuruh anak baru itu untuk menjelaskan sekali lagi tentang SR-25. Tentu saja orang itu tak akan tahu, Gilbert baru melihatnya memasuki ruangan ketika penjelasan oleh Zwingli berhenti dikumandangkan. Itu berarti, kalau Gara memang baru memasuki sekolah yang bergengsi seperti ini, ia tak akan bisa menjawab.
Namun sejurus kemudian, pupil diantara iris merah Gilbert mengecil. Merasa tak percaya dengan penjelasan detail yang diberikan Gara tentang senjata itu. Bahkan, orang itu lebih tahu dari Zwingli. Gilbert curiga. Kemudian ia mengingat kata-kata Kiku tentang Gara. Orang yang patut diwaspadai. Dan Gilbert benar-benar merasakannya sekarang, Gara bukan bocah lugu biasa.
Zwingli kelihatan begitu tertarik pada Gara. Bahkan, ia tak melanjutkan penjelasannya lagi. Hal ini membuat Gilbert sedikit kesal.
"Sir, apa kau tak akan melanjutkan penjelasanmu?" tanya Gilbert dengan suara yang lantang. Membuat iris yang berwarna-warni itu menatap iris merah miliknya.
Zwingli ikut menoleh, sungguh, panggilan Sir sangat tak cocok untuknya.
"Ah, ya, kita langsung saja praktek bagaimana?"
Siswa yang lain kelihatan setuju, bahkan bisa dibilang excited. Kecuali Gilbert.
"Aku tidak setuju," katanya dingin.
Baik Zwingli maupun Nesia menatap heran pada Gilbert yang tiba-tiba marah.
"Jangan karena dia tahu banyak tentang SR-25 kau membuang kita begitu saja, semua anak disini sama berharganya, baik ia pintar atau tidak!"
Zwingli merasa heran, "Ada apa sih denganmu?"
"Oh, tak ada apa-apa. Hanya berusaha menuntut apa yang seharusnya…"
"Cukup!" kata suara dari arah pintu.
Semua pandangan beralih lagi. Kini yang mereka temukan adalah sosok Arthur dan Ivan.
"Gilbert, aku perlu bicara denganmu…" kata Arthur tegas.
Ketika jiwa pemimpinnya menyeruak keluar, tak ada yang berani membantah Arthur. Bahkan, Gilbert yang sedang marah sekali pun.
Arthur menambahkan, "Oh ya, dan kau juga… Gara."
.
Jasper baru selesai dengan latihan menembaknya, ketika dua orang pria itu memasuki ruangan. Yang satu wajahnya cerah dan yang lain sebaliknya. Jasper mengenali mereka berdua, namun tak terlalu dekat. Pria dengan wajah cerah itu merupakan kepala sekolahnya –Ivan. Sedangkan yang satunya lagi merupakan sang 'ketua' –Arthur. Keduanya berjalan menuju ruang pembelajaran teori. Jasper memperhatikan mereka sebari beristirahat dari latihannya. Pria Belanda itu meraih botol air dan meminumnya.
Arthur terlihat mengatakan sesuatu di ambang pintu kaca, kemudian setelah itu Gilbert dan Gara keluar ruangan. Itu berarti, Arthur memanggil mereka keluar tadi. Arthur dan Gilbert segera beranjak dan keluar ruangan. Sementara Gara ditinggalkan dengan Ivan. Gara tampak sedikit cemas. Mungkin Gara mendapat sebuah masalah baru, atau paling tidak, segera.
Beberapa menit kemudian, benar saja insting Jasper, meskipun masalah itu bukan berasal dari Ivan, Gara mendapatkannya. Seorang siswa yang tengah berlatih menembak, tiba-tiba mengarahkan moncong pistolnya ke arah lain. Ke arah Gara dan Ivan yang ketika itu tengah berbincang.
Pupil Jasper mengecil.
CLEK
DOR
Bunyi pelatuk dan tembakan peluru itu terdengar beruntut. Berdesing datang ke arah Nesia, wanita itu melihat peluru yang berkilat tertimpa cahaya lampu. Nesia menyadari sasaran orang itu adalah mereka berdua, atau paling tidak salah satu dari mereka. Ivan berdiri membelakangi lapangan tembak, sehingga hanya Nesia yang menyadari datangnya sebuah peluru. Ia segera mendorong tubuh Ivan menjauhi arah datang peluru itu. Ivan berhasil diselamatkan.
SHUT
Satu peluru berhasil dihindari. Kini ia bersarang pada kaca pembatas kelas. Siswa-siswa yang berada di dalam tampak terkesiap, terutama Zwingli.
DOR
Peluru kedua datang. Nesia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Namun ia tak sempat berpikir apa-apa, juga tak sempat menghindar, peluru itu bersarang di tangan kanannya. Nesia ambruk dengan darah segar yang memancar membasahi lantai ruangan. Siswa-siswa di kelas, termasuk sang instruktur -Zwingli, berlarian menolongnya. Memang sering terjadi insiden peluru nyasar disini. Namun tak pernah sampai dua peluru berturut-turut. Tampaknya ini bukan ketidaksengajaan.
Jasper yang melihat kelakuan temannya yang tak waras itu, segera bertindak. Ia segera berlari ke arah penembak, melingkarkan kedua tangannya pada tubuh pria itu. Postur Jasper yang besar sanggup mengunci gerakan si penembak. Tembakan-tembakan itu berhenti. Tubuh pria penembak itu tak bergerak atau meronta-ronta. Ia hanya diam.
"APA KAU GILA?!" bentak Jasper pada penembak.
Siswa yang lain datang mengerubungi.
Hanya senyum licik yang mengembang di wajah Lukas. Pria itu terlihat puas.
.
.
To be continue...
.
.
Chapter ini sedikit terburu-buru mungkin... entahlah, apa pendapat kalian?
Ditunggu reviewnya :')
p.s ada character baru yang muncul, lho...
-Warmlatte-
