.

Nesia mendaftar ke sekolah asrama khusus laki-laki, apa yang sebenarnya ia lakukan disana?

.

.

An Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei


.

Arthur dan Gilbert tengah menyusuri lorong yang menghubungkan ruang kelas senjata api dengan Underground Hall. Mereka berdua terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun sebenarnya tidak.

Arthur begitu ingin bercerita pada Gilbert tentang kejadian aneh yang baru dialaminya ketika menemui Gara tadi. Dan betapa Gilbert ingin menceritakan keganjilan yang dirasakannya pada Gara. Ya, sebenarnya keduanya tengah memikirkan objek yang sama. Yaitu, Gara.

Beberapa lama kemudian, ketika mereka mulai merasakan hangatnya sinar mentari yang memancar dari ujung tangga keluar, Gilbert membuka percakapan.

"Sebenarnya, apa yang membuatmu mengeluarkanku dari kelas tadi? Bukankah pertikaian seperti tadi itu sering terjadi?"

Arthur berhenti sejenak. Tangannya meraih pegangan tangga yang terbuat dari marmer putih. Kesan suram dan berbahaya yang ditimbulkan interior ruang kelas senjata api sudah tak terasa lagi disini. Undeground Hall merupakan tempat yang menyenangkan untuk dilihat. Lantainya terbuat dari marmer cream dan begitu kau melihat langit-langit, kau akan merasa sedang berada di ruang dansa Istana Hermitage, Rusia.

Di center U. Hall, berdiri air mancur mewah yang amat berkelas. Air mancur itu menjadi pusat dari ruang bawah tanah ini. Beberapa lorong mengitarinya membentuk formasi bintang. Lorong menuju ruang kelas senjata api, archery, kelas sejarah, kelas bela diri pedang dan terakhir markas LS. Tangga menuju pintu keluar sendiri berada tepat di seberang lorong kelas senjata api.

"Aku merasa aneh, Gilbert… aku merasa ragu pada diriku sendiri, dan kau tahu aku tak pernah mengalami itu…"

Gilbert setuju. Satu-satunya orang yang dikenal Gilbert paling berani dan paling percaya pada dirinya sendiri adalah Arthur. Apapun masalah yang melibatkannya, ia tak pernah merasa salah. Ia selalu yakin bahwa yang dilakukannya adalah yang terbaik dan yang terbenar. Terdengar egois, memang.

"Ada masalah apa?"

Arthur menggeleng, " Justru itu, ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai masalah, Gilbert."

"Ceritakan saja,"

Tepat ketika Arthur memantapkan niatnya untuk bercerita, sebuah langkah kaki terdengar nyaring membelah kesunyian lorong. Langkah yang tergesa-gesa dan tak teratur. Ketika mereka berdua menoleh, seorang lelaki muda dengan rambut coklat yang ikal tengah gemetaran.

"A..Aku.. Aku disuruh untuk menyusul kalian, ada… ada… masalah di kelas senjata api,"

Gilbert langsung memberi tanggapan, "Masalah apa?"

Lelaki yang ditanya semakin gemetar ketika ia menjawab, "Lukas, dia... dia hampir saja membunuh Kepala Sekolah Ivan…"

Meski tak terdengar sedikit pun kepanikan di nada bicaranya, namun Gilbert dapat melihat dengan jelas pupil mata Arthur yang mengecil. Pria itu sebetulnya panik.

"Kumpulkan semua anggota LS, Gilbert. Kita akan segera mengadakan rapat…"


.

"Kau tidak apa-apa?"

Nesia menoleh dan mendapatkan sosok Jasper yang berdiri di ambang pintu kamar mandi asrama. Bayangannya yang berupa lelaki tegap, terpantul jelas di kaca toilet. Wanita yang menyamar itu hanya mengangguk simpul. Kemudian, Jasper berjalan mendekatinya.

"Aku sejujurnya terkejut ketika menghadapi kejadian itu, namun aku lebih terkejut lagi ketika kau tiba-tiba berlari keluar ruangan dengan darah yang memancar …"

Nesia hanya diam. Membuat atmosfer diantara mereka terasa canggung dan dingin.

"Kau tak bertemu siapa-siapa dalam perjalanan kemari?" tanya Jasper lagi.

"Tidak,"

"Arthur dan Gilbert? Aku lihat tadi mereka keluar kelas,"

"Tidak ada siapapun kecuali pria penjaga lobby itu,"

"Hmm," sahut Jasper. Kini ia berdiri di sebelah kiri Nesia, agak bersender ke tembok kamar mandi.

"Bagaimana kau bisa…"

Kalimat itu tak dilanjutkannya. Seakan memberi petunjuk, Jasper menatap pada perban luka yang terlilit rapi di sekeliling lengan kanan atas Nesia.

"Aku belajar pengobatan modern,"

"Tapi, kau bahkan baru masuk…"

"Sebelumnya aku juga bersekolah, Jasper." Timpal Nesia ketus.

Jasper jadi merasa tak enak, sebetulnya lebih ke perasaan ganjil. Sosok yang dihadapinya kini berbeda jauh dengan sosok yang dihadapinya beberapa jam lalu. Jasper mengingat-ngingat kesalahan yang mungkin dilakukannya hingga membuat sikap teman barunya jadi seperti ini. Namun, dari runtutan kejadian yang baru ia alami, rasanya justru ia baru menyelamatkan nyawa orang itu.

"Maafkan-…" ujar Jasper sebari menepuk bahu kiri Nesia.

"Jangan sentuh aku!"

Jasper terperanjat. Kenapa?. Ia merasa apa yang baru dilakukannya adalah hal yang wajar.

"Kau keturunan Belanda, yah?" tanya Nesia tiba-tiba. Entah kenapa, kalimat itu mengalir begitu saja. Membuat Jasper yang belum sempat berpikir jauh, kebingungan.

"Umm, ya, dari mana kau tahu?"

"Tidak penting."

"Lantas, ada apa?"

"Kau tahu? Kalian memang sama saja, tidak tahu diri,"

Jasper dapat melihat pantulan wajah Asia itu melalui kaca, Gara jelas sedang mencibir. Namun, ia masih belum mengerti maksud Gara.

"Apa maksudmu?!"

"Apa maksudku? Kau tak ingat sejarah bangsamu dan bangsaku? Aku berasal dari Indonesia, Jasper,"

Tiba-tiba Jasper teringat akan sejarah kelam itu. Betapa dahulu, bangsanya telah menyiksa bangsa Indonesia, hanya demi kepentingan keuangan sepihak. Mereka menghalalkan segala cara agar kas negara kembali stabil.

Sesuatu yang menyakitkan muncul di hati pria Belanda itu.

"Kenapa kau masih mengungkitnya? Dan… dan apa hubungannya dengan situasi kita sekarang?!"

Tak ada respon.

"Kita sudah berdamai, baik negara-mu maupun milikku, sudah saling memaafkan, itu sudah menjadi masa lalu, maumu apa? Mengapa kau mengungkitnya lagi? Perlukah aku meminta maaf padamu atas perbuatan nenek moyangku?" ujar pria itu setengah histeris.

Nesia terdiam. Kini, ia sadar apa telah dikatakannya dapat berujung rumit. Awalnya, ia hanya bermaksud mengusir Jasper dari kamar mandi, itu saja. Ia kira dengan menyinggung sejarah bangsa Jasper, pria itu akan menghindar atau semacamnya. Nyatanya tidak sama sekali. Jasper tak seperti orang Belanda pada umumnya.

Dan kini Nesia menyesali keputusannya itu.

"Jawab aku! Apa maksud perkataanmu tadi?!" suara Jasper begitu tegas dan menuntut. Ia bergema di dalam ruangan persegi itu.

"Ya,"

Jasper mengernyit, "Ya, apa?"

"Aku ingin kau meminta maaf atas perbuatan nenek moyangmu,"

Ups, batin Nesia kesal. Lagi-lagi muncul kalimat ambigu dari mulutnya. Kini Nesia tak tahu lagi apa yang akan pria itu lakukan. Menendangnya keluar? Mencekiknya? Atau mungkin ia akan berakhir menjadi mayat mutilasi yang ditemukan di dalam bis. Oh my God.

Sempat terjadi kekosongan alur dalam pertikaian mereka. Namun, sedetik kemudian, Jasper memutar tubuh Nesia ke arahnya, dan pria kekar itu segera berlutut.

.

Tak ada lagi yang memulai percakapan sejak kejadian awkward tadi. Jasper tak menoleh dari layar laptopnya, begitu juga Nesia.

Sebetulnya Nesia merasa tak enak pada Jasper. Jelas perilakunya tadi sudah melewati batas kelaziman. Ia bahkan masih bingung mengapa jalan itu yang ditempuhnya untuk mengusir Jasper. Ditambah, respon pria itu yang benar-benar diluar dugaan. Membuat batin Nesia mengutuk perbuatannya terhadap si pemuda Belanda.

Akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf.

"Um, Jess…"

Jasper menoleh ke arahnya.

"Aku minta maaf soal tadi…"

"Tak masalah,"

"Kau yakin? Tadi aku benar-benar kelewatan, bahkan aku tak tahu dari mana asalnya pemikiran itu…"

Jasper hanya mengangguk singkat, pandangannya sudah beralih ke layar laptop."Aku mengerti, sudahlah, aku rasa pikiranmu belum benar akibat peristiwa tadi,"

Nesia mengiyakan, "Ya, aku memang masih memikirkan kejadian penembakan itu, aku tak tahu apa maksudnya…"

"Kau mengenal penembak itu?"

Nesia menggeleng.

"Ya sudahlah, kau lapar? Aku mau makan siang,"

"Aku ikut,"

Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin (A.K.A restoran) sekolah.

Dunia laki-laki memang gila, batin Nesia tergelak dalam hati.


.

"Bawa dia masuk!"

Pria tanpa ekspresi itu memasuki ruangan persegi panjang yang mirip dengan ruang rapat. Matanya bergerak liar, menjelajahi wajah-wajah tak asing yang mengisi ruangan. Diujung meja, tempat pemimpin rapat berada, Arthur Kirkland menatapnya dengan sinis. Iris emerald itu tak terlihat tenang lagi.

Kedua tangan Lukas diborgol di belakang. Tak hanya itu, lengan kekar milik Ludwig dan Gilbert mengunci rapat pergerakannya. Tak ada peluang untuk melarikan diri.

"Bawa dia ke hadapanku," perintah Arthur.

Ketika tersangka itu tiba di hadapan sang ketua, ia segera mendapat hadiah atas pekerjaannya. Hadiah yang membuat rahangnya terasa remuk, membuat isi perutnya serasa diaduk-aduk, dan membuat tubuhnya jatuh tersungkur mencumbu kaki sang ketua. Darah segar mengalir dari hidungnya, telinga, serta mulutnya yanhg terasa mati. Lukas tak mampu lagi berdiri.

"Beraninya kau! Siapa kau sebenarnya?! Apa maumu?!" bentak Arthur dengan volume maksimal.

"Tenang, Arthur…" ujar Kiku yang duduk di samping kirinya.

"Kita hanya perlu bernostalgia ke hari dimana ia diangkat menjadi anggota LS…" timpal Antonio. Wajahnya yang tampan kini benar-benar serius.

"Seingatku tak ada yang aneh darinya, dia nomor 7, kan?" ujar Alfred.

"Datang dari keluarga baik-baik, selalu mendapat A di setiap mata pelajaran yang diambil, meraih banyak penghargaan di bidang sosial, oh, dan…"

Ia berhenti sejenak, sebelum melanjutkan, "…Penguasaan terhadap senjata api, A+…"

Kemudian, Antonio mengernyit setelah selesai membaca keterangan itu.

"A+? Antonio?" tanya Kiku dengan nada mengambang. Seakan mengutarakan pertanyaan di pikiran Antonio.

Antonio mengangguk pelan.

"Namun, umm… mengapa ia tak berhasil menembak Ivan?"

"Itulah yang aku pikirkan, kawanku, nampaknya melukai Ivan bukanlah tujuannya,"

"Aku dengar Ivan berhasil diselamatkan oleh siswa baru itu, Kiku." sambung Gilbert yang kini mengisi tempat kosong miliknya.

Ludwig menyandarkan tubuh Lukas pada dinding dekat kursi Arthur. Pria itu memang tak sadarkan diri, namun, siapa yang tahu ia telah sadar atau belum. Ia bisa saja menyerang secara tiba-tiba. Maka dari itu, sebaiknya ia tak jauh dari Arthur.

"Lagi-lagi dia…" gumam Arthur pelan.

"Lalu bagaimana kejadiannya?"

"Yah, singkatnya, tembakan Lukas yang pertama meleset karena Gara, dan yang kedua mengenai Gara," jelas Gilbert pada Antonio.

"Dia cukup cekatan,"

"Maksudmu, Kiku?"

"Dia hanya murid sekolah biasa di Australia, bila aku lihat riwayatnya. Aku heran, mengapa dia bisa begitu cepat merespon suatu kejadian? Menghindari peluru tak semudah menghindar dari bola basket, kecepatan peluru tak bisa disamakan dengan kecepatan bola baseball, dia jelas bukan orang biasa,"

"Bisa saja faktor keberuntungan. Buktinya, peluru kedua bersarang di lengannya?"

"Benar, Gilbert. Boleh aku tahu alur selanjutnya dari peristiwa ini?"

"Umm, yah, siswa junior itu bilang…"

Gilbert seakan baru tersadar, "Gara… dia berlari keluar ruangan dengan luka yang memancar…"

Kiku tersenyum puas. Anggota LS yang lain hanya mengernyit menyadari keganjilan ini.

"Mengapa dia…"

"Siswa biasa tak mungkin melakukan hal seperti itu," timpal Kiku.

Suasana di ruangan itu hening sejenak. Arthur menatap satu-persatu wajah rekan-rekannya. Mereka semua serius menanggapi masalah ini. semua telah menyumbangkan opini mereka, hanya Ludwig yang sejak tadi belum berbicara.

"Lalu…um, motif Lukas adalah?" tanya Alfred memecah keheningan.

"Spekulasiku, ia hanya ingin melukai satu siswa…"

"Gara?"

"Ya, Alfred, Gara…"


.

Ivan meraih kenop pintu dan segera memutar kasar-nya. Pintu ruangan itu terbuka, menampakan interior mewah khas Rusia. Ivan menyeberanginya dengan terengah-engah, bukan karena takut, ia hanya dilanda syok, hanya syok.

Ketika ia sibuk mencari obat penenang di atas perapian, gadis berambut platinum yang sedari tadi bersandar pada sofa, bangkit menghampiri Ivan. Pria itu terkejut setengah mati.

"Natalya!" pekiknya sedikit histeris.

"Ya?"

Ivan menghela nafas, "Tolong jangan memasuki ruanganku seenaknya.."

"Maafkan aku," ujarnya singkat, tanpa sedikit pun rasa menyesal. Hal ini memang terlampau sering terjadi.

Tak lama, Ivan berhasil menemukan toples kecil berwarna putih itu. Ia segera membuka dan mengambil 2 butir tablet merah dari dalamnya. Tablet-tablet itu masuk ke dalam kerongkongan Ivan dalam sekali telan.

"Kau mengalami syok lagi… ada apa?"

"Tidak, hanya… masalah kecil, bagaimana Canna?"

"Berjalan dengan baik, kurasa,"

"Aku percaya, kau memang hebat dalam mengatur siswi-siswi itu…"

"Mereka tak se-patuh yang kau bayangkan…"

Ivan hanya mengangguk simpul, "Silahkan duduk,"

"Aku sudah duduk tadi…maaf,"

"Permintaan maaf-mu, aku terima,"

Ivan menyandarkan tubuhnya di sofa, Natalya mengikuti.

"Harus ku-akui, bahwa akhir-akhir ini banyak terjadi hal aneh di hidupku…" ujar Ivan menerawang.

"Kau terlalu menganggapnya serius saja,"

Natalya merubah haluan pembicaraan mereka.

"Sudah siap untuk pesta dansa kelulusan nanti?"

"Masih 2 minggu lagi, kan?"

"Ya, aku harap kau tidak mengecewakan siswi-siswi-ku, mereka sudah mempersiapkan gaun pesta dari sekarang…"

Ivan tersenyum mengerti. Wanita memang selalu terburu-buru, batinnya.

"Oh, ya, peristiwa apa yang membuatmu syok tadi?"

Ivan memejamkan matanya. Seakan berusaha kembali pada kejadian beberapa jam lalu itu.

"Ada peluru yang melesat ke arahku, untungnya meleset, namun yang kedua mengenai murid baru, yang berada di sampingku. Aku sendiri belum tahu motive pelaku hingga kini, "

"Siapa penembaknya?" tanya Natalya dengan suara yang tegas.

"Salah satu anggota LS, namanya Lukas –Lukas Bondevik…"

Sedetik kemudian, iris violet itu melebar.

.


.

Sudah hampir pukul sebelas malam, dan rapat darurat itu belum juga berakhir. Memang mereka tak sepenuhnya rapat berjam-jam, tetap ada rehat. Namun, dalam waktu yang cukup lama itu, tak ada satupun teori masuk akal tentang peristiwa penembakan siang tadi.

Lukas baru saja tak sadarkan diri lagi, setelah Arthur kembali melayangkan tinju pada wajahnya. Lukas masih enggan membuka mulut, meski kekerasan sudah dipergunakan. Kini ia bersandar pada tembok yang sama ketika ia pertama kali tak sadarkan diri.

Gilbert adalah yang terakhir menyampaikan teori. Kini semua pandangan tengah terpusat kepadanya.

"Aku masih tak mengerti apa maksud teorimu, Gilbert?" tanya Arthur sebari memijat kepalanya yang pening.

Sama seperti-nya, anggota LS yang lain pun tengah dilanda rasa sakit pada kepala mereka. Mungkin akibat kafein yang berlebihan, atau memang kasus ini terlalu sulit untuk dipecahkan.

"Menurutku, Gara adalah seorang yang istimewa, katakanlah dia adalah seorang mata-mata, atau apapun itu. Kemudian, Lukas mengetahui identitasnya, kau tahu kan dia memang sedikit misterius dan pendiam?"

Alfred memotong, "Lalu sangkut-pautnya dengan peristiwa penembakan itu?"

"Bisa jadi Lukas justru ingin melindungi kita, ia berusaha menembak Ivan karena tahu respon Gara pasti cukup cepat untuk membuatnya meleset, dan yang kedua… yah, jelas ia mengenai sasaran,"

Lalu Ludwig berbicara, mulutnya pekat dengan aroma kopi, "Ia tak menembak Gara di jantung atau bagian vital lainnya, jelaskan itu, Gil,"

"Ya, rencananya memang bukan untuk membunuh Gara, hanya membuat sedikit gertakan agar dia meninggalkan sekolah,"

"Dan mengapa ada seorang agen di sekolah ini?" sambung Arthur.

"Mencari informasi penting? Harta karun?"

Terdengar beberapa gelakan dari para anggota itu.

Gilbert memang merasa teorinya sedikit meragukan dan terdengar lucu, tapi tunggu sampai mereka semua mendengar apa yang muncul di pikirannya beberapa jam lalu.

"Lalu kalian sudah lupa pada legenda harta karun sekolah kita ini?"

Semua terdiam, membuat suasana menjadi hening. Hanya bunyi pendingin ruangan yang terdengar.

"Harta karun elang hitam?" lanjut Gilbert.

Semua orang terkejut. Legenda lama itu bagai berputar di ingatan mereka. Memang hanya sebuah cerita, namun tak ada yang dapat memastikan bahwa itu hanya sekedar cerita. Tak ada yang tahu, apa harta itu benar-benar ada atau tidak, atau bahkan dimana keberadaannya.

Arthur segera bertindak cepat, hanya ini satu-satunya cara pencegahan yang dapat ia lakukan.

"Aku akan menemui Ivan," katanya seraya meninggalkan ruangan.


.

Ivan tengah menikmati vodkanya menjelang tengah malam itu. Ia duduk membelakangi ruangan, menghadap ke jendela. Pemandangan yang dilihatnya hanyalah butiran salju yang turun sangat rapat, entah kapan akan berhenti. Cahaya bulan tak bersinar, hanya lampu taman dengan sinarnya yang kekuningan yang menerangi halaman tersebut. Sangat temaram dan suram.

Ivan kembali mendengar erangan dari arah belakang. Sudah pasti itu suara Natalya yang terlalu banyak meminum vodka. Wanita itu belum meninggalkannya sejak siang tadi. Kini, ia tengah berbaring di sofa depan perapian.

Mereka memang tak 'melakukan' apa-apa. Hanya sekedar berbincang tentang banyak hal. Namun, banyak orang yang menyiratkan kebersamaan mereka sebagai sesuatu yang berbau romantis.

Terkadang Ivan hanya tersenyum menghadapi kabar miring tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Ivan segera beranjak untuk membukanya.

"Arthur…" katanya setelah membuka pintu, sedikit bisa menebak apa yang mungkin membawa Arthur kemari.

Sosok Arthur tampak kusut dan berantakan. Jelas terlihat dari caranya berpakaian sekarang.

"Aku minta maaf telah mengganggu-mu, namun, ketika aku lihat lampu kantor-mu masih menyala, aku memberanikan diri untuk langsung kesini,"

"Masih tentang peristiwa siang tadi?"

"Ah, bisa dibilang begitu… bolehkah aku masuk?"

Ivan mempersilahkan.

Arthur berjalan melintasi ruangan, bermaksud duduk di sofa depan perapian. Namun, ketika menemukan Natalya, ia segera berbalik arah. Akhirnya, ia duduk pada kursi di seberang jendela. Kursi dimana siswa baru itu pernah duduk.

Ivan duduk ditempatnya tadi, namun tak mengarah pada jendela. Kini, ia menghadap ke arah yang seharusnya.

"Maafkan aku, bila mengganggu waktumu dengan…"

Ivan memotong kalimat Arthur, "Oh, tidak sama sekali, kami sudah selesai…"

Wajah Arthur sedikit memerah membayangkan apa yang baru saja selesai. Namun, sesungguhnya ekspetasi-nya melenceng jauh dari kenyataan.

"Jadi, bagaimana?" tanya Ivan.

"Ya, kami sudah mendiskusikan beberapa teori, itupun terpaksa, karena tersangka menutup mulutnya rapat-rapat. Dan teori Gilbert yang mungkin sedikit mengarah pada kenyataan."

"Dan bagaimana teorinya?"

Arthur menjelaskan pada Ivan. Secara detail, menyeluruh, dan ditambah argumennya mengenai teori tersebut.

Kemudian ia menambahkan, "Aku harus tahu tentang harta karun elang hitam untuk melindunginya…"

Ivan hanya mengangguk pelan.

Anggukan yang tak menyiratkan apa-apa.

.

.

.

To be continue...

.

.


POJOK AUTHOR

Mohon maaf soal keterlambatan update huhuhu :"

Ini semua karena PR yang tak kunjung habis. Beres satu ada lagi, nambah lagi, makin numpuk. Kurang lebih, begitulah siklusnya.

Btw, aku ingin bertanya... apakah chapter ini terlalu terburu2? Apakah ada sesuatu yang kurang jelas, misal latar, tokoh dll? kalo alur tak bolehlah bertanya

Oh iya, sepertinya chapter ini kurang padat, no? Saya pikir waktunya membuat suatu pengenalan untuk tokoh baru seperti Natalya atau sisa dari anggota LS yang lain. Jadi tak terlalu banyak tindakan dari para tokoh. Kemungkinan alur padat akan muncul di chapter selanjutnya, hiks *jih* ._.

silahkan menikmati dan review terbuka lebar untuk anda semua...

salam,

Warmlatte.

.

Mau jawab...

HetaliaFeliciano : Sayang sekali bung, tebakan bung salah hehe coba lagi ayoo. Sebenarnya bukan 'new' dalam arti yang sesungguhnya kok, mungkin suatu saat nanti akan mengerti...

terima kasih sudah menilai fic chapter lalu hehe, enggak kok gak bikin onaar ;D malah aku seneng bangeeetts sama komentar kamuu.

dan maaf nih ngomong-ngomong baru bales-_-