.

Apa yang suara hatimu katakan?

.

.

An Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei

.


.

Bunyi nyaring dari ketikan keyboard terdengar hingga ranjang samping. Jasper yang baru saja berencana tidur, menunda maksudnya itu. Dia hanya bisa tidur dalam situasi yang tenang dan gelap. Sayangnya, teman sekamarnya –Gara, sedang melakukan aktivitas di laptop miliknya. Menyebabkan cahaya layar menyemburat kemana-mana, dan suara ketikan yang tiada henti terdengar.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jasper dengan suara yang terhalang bantal.

"Sebentar lagi beres," jawab temannya itu.

Nesia baru saja mendapat pesan masuk ketika Jasper menegurnya. Surel tersebut merupakan pesan acak yang tak berpola. Kau harus perlahan menyaring maksud dari keseluruhannya.

" From : L004

To: N025

Lanjutkan, tak ada apa-apa. Seribu manusia di globe rahasia mereka. Dunia mereka terlalu pintar. Kau tak tahu mereka. Kau bahkan tak pernah membukukan semua arsip. Kapal laut itu manual. Maka itu, kerajaan Romawi runtuh, aku berlari ke laut. Mengutusmu turun. Selidiki masa lalumu. Tempat kau pernah kemari, penyimpanan arsip pada kertas hitam. Dia adalah sepertimu, manusia dengan topeng. Waspadalah, selama suku Inca hidup kita punya musuh."

Hanya ada beberapa kata yang sebenarnya ingin disampaikan Logan. Sisanya hanya berupa kata acak yang digunakan untuk mengisi kalimat rancu. Setelah disaring, surel itu akan berbunyi seperti ini :

"Tak ada apa-apa di globe rahasia mereka. Mereka terlalu pintar, mereka membukukan semua arsip manual. Maka itu, aku mengutusmu. Selidiki penyimpanan arsip.

Dia adalah sepertimu. Waspadalah, kita punya musuh."

Nesia berhasil memecahkan pesan acak itu dalam waktu 5 menit. Cukup brilian untuk seorang agen wanita yang sedang berada di bawah tekanan, di tempat asing yang berisi orang-orang hebat. Surel itu mungkin saja disadap, dan tak ada kata tak mungkin organisasi LS berhasil memecahkan pesan acak Logan. Karena itulah Nesia cepat-cepat memecahkan sandi dan langsung memblokir akun yang baru digunakannya.

Arti dari surel itu sendiri mengarah pada beberapa pertanyaan Nesia. Pertama, Nesia meminta keterangan lebih mengenai harta karun yang tersembunyi di HIS –Halcon (semi-military) International School. Globe disini melambangkan jaringan internet atau apapun yang bersangkutan dengannya. Dan ternyata, HIS tak membuat catatan di alat elektronik, website atau apapun yang dapat disadap. Sayang sekali, mereka membukukan semuanya secara manual.

Kedua, Nesia bertanya tentang Lukas. Dan itulah yang didapatnya, ternyata Lukas juga merupakan agen intelejen sepertinya. Namun bukan berasal dari organisasi yang sama. Entah apa misi Lukas yang sebenarnya di HIS, dan entah apa maksudnya menembakan peluru ke arah Nesia. Mungkinkah untuk memberi petunjuk tentang keberadaan dirinya? Nesia yakin, Lukas pun tahu bahwa Nesia adalah seorang agen yang menyusup.

Nesia menutup laptopnya dan menaruhnya di bawah bantal. Ia membenarkan posisi tidurnya, menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Nesia terdiam menatap langit-langit yang gelap. Baru saja ia melewati satu hari, namun, keadaan begitu drastis berubah. Semua rencananya gagal akibat peristiwa penembakan itu.

Kini rasa khawatir memenuhi batinnya. Ia takut tak bisa menyelesaikan misi ini. HIS terlalu banyak menyimpan rahasia, terlalu banyak hal yang harus digalinya. Dan seharusnya, untuk menggali semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Misi penyamarannya yang lalu saja membutuhkan waktu hampir 2 tahun. Sekarang? Baru saja satu hari, dan identitasnya hampir terungkap. Bahkan Arthur telah melihat rupa aslinya, kalau saja tidak dibius dan dibuat lupa ingatan.

Apakah karena ia terlalu meremehkan anak-anak sekolahan?

Yah, seharusnya ia mendengarkan kata Logan. Sekolah ini bisa saja kedok. LS bisa saja merupakan organisasi intelejen sungguhan.

Pikiran Nesia melayang lebih jauh. Matanya kini semakin sulit untuk dipejamkan.

"Kau belum tidur juga?"

Nesia sedikit terperanjat ketika suara itu menghamburkan semua pikirannya. Ketika ia menoleh, baru tersadar ia bahwa Jasper berbaring menghadapnya.

"Kau tak apa?" tanya pria itu sekali lagi.

Nesia menghadapkan tubuhnya pada ranjang Jasper.

"Aku baik-baik saja…"

"Kau terlihat masih syok, sudahlah… lupakan saja peristiwa tadi,"

Nesia tersenyum.

Mungkin satu-satunya orang yang dapat ia percayai kini, hanya Jasper. Dia pemuda yang cukup baik. Mungkin hanya dia yang tak pernah menaruh curiga padanya. Dan hanya dia siswa non-LS, yang Nesia kenal.

Ketika Jasper kembali tidur, Nesia memandangi wajah pemuda itu. Rambut pirangnya tak lagi berbentuk tulip. Rupa-nya sama ketika Jasper baru saja mandi. Raut wajahnya yang keras kini terlihat seperti bayi yang sedang tidur pulas. Nesia sedikit tergelak.

Setelah puas menertawai Jasper, Nesia memejamkan matanya dan tidur. Kini hatinya terasa tenang.


.

Natalia terbangun. Dan hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya yang kabur adalah dua sosok pria yang sedang berdiskusi di meja kerja Ivan.

Satu pria diyakininya adalah Ivan sendiri, sedangkan yang satunya lagi mirip dengan ketua LS. Atau itu memang Arthur?

"Ivan…" gumamnya laun.

Natalya berusaha memanggil Ivan, namun rasa pening di kepalanya membuat wanita itu setengah sadar. Suara yang keluar dari mulutnya tak seberapa dibanding suara-suara pria yang tengah berdiskusi itu.

Ivan melihat sekilas pada Natalya dan segera menghentikan percakapannya dengan Arthur.

"Oh, kau sudah bangun?" sahut Ivan segera menghampiri sofa.

Melihat Natalya telah sadarkan diri, Arthur merasa ia dan Ivan tak lagi dapat berbicara mengenai sesuatu yang rahasia. Maka, ia memutuskan untuk kembali ke markas, dan menemui Ivan di esok hari.

"Maaf, aku akan kembali ke markas sekarang, besok aku akan kembali menemuimu," kata Arthur sebari meninggalkan ruangan.

Pintu kayu tertutup keras selepas-nya pergi.

"Ty v poryadke?" tanya Ivan yang melihat kejanggalan pada Natalya. Wanita itu terus-menerus memegangi kepalanya.

"Aku merasa sangat pening," jawab Natalya.

"Mungkin terlalu banyak minum, sebaiknya kau istirahat. Mau aku antar pulang?"

Natalya mengangguk dengan antusias, "Lewat jalan biasa,"

"Ya, aku tahu,"

Ivan meraih kedua mantel yang tergantung tak jauh dari sofa. Yang hitam miliknya dan yang berwarna coklat milik Natalya. Dia membantu Natalya mengenakan mantel coklatnya yang modis. Ketimbang kekasih, Ivan lebih menganggap Natalya sebagai adik kandungnya sendiri.

Sedang Natalya, bukan hanya kekasih, dia sangat berharap dapat menikahi Ivan. Iris violetnya selalu berkilat tiap bertatapan dengan iris ungu Ivan. Ia merasa jantungnya bekerja sangat cepat tatkala berada dekat sosok itu. Meski sangat terobsesi, sejauh ini Natalya belum berhasil menyadarkan Ivan akan perasaannya.

Kini mereka berdua tengah menyusuri lorong kosong sekolah menuju taman labirin. Dia terletak di belakang bangunan sekolah, paling dekat dengan perbatasan HIS dan Canna. Taman ini merupakan bagian HIS yang paling jarang dikunjungi. Kebanyakan siswa menganggapnya sebagai taman biasa yang membosankan. Alih –alih pergi ke taman, mereka lebih suka dengan Underground Hall.

Di taman tersebut terdapat labirin semak yang cukup rumit. Pada pusatnya, terdapat tingkap rahasia menuju lorong bawah tanah yang menghubungkan Canna dengan HIS. Jalan rahasia itu hanya diketahui oleh Ivan dan Natalya. Melalui lorong itulah Natalya biasa memasuki HIS tanpa diketahui orang. Bahkan, petugas keamanan HIS sendiri.

Natalya berjalan di samping kanan Ivan sebari memeluk erat tangannya.

Tak ada yang menyangkal bahwa Natalya adalah wanita yang cantik. Rambut platinum berpadu dengan kulit putih bersih bak porselen. Dia memiliki iris violet dan bibir merah yang memikat. Tubuhnya terpahat sempurna, sangat indah dan ramping. Namun, entah kenapa, belum ada yang berani mengencaninya. Bahkan, sekedar memberi bunga padanya pun tak ada.

Entah itu karena berita kedekatannya dengan Ivan, atau Natalya memang tak pernah berniat membiarkan pria lain memasuki kehidupannya. Kecuali Ivan, hanya Ivan satu-satunya.

"Berhati-hatilah. Setelah kau sampai… beri tahu aku," ujar Ivan ketika mereka tiba di pusat labirin.

Salju kembali turun memenuhi langit malam. Cahaya kuning lampu taman mendominasi. Ivan membuka tingkap, sementara Natalya memantau keadaan sekitar.

"Selamat malam, Ivan," kata Natalya sebari menuruni tingkap.

Jika saja dia bisa melakukan sesuatu yang lebih dari ucapan selamat malam, maka dia akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Namun, dia tak bisa, Natalya selalu tak mampu mengungkapkan perasaannya.

Tak ada respon untuk ucapan selamat malam itu.

Ivan berdiri di sisi tingkap, sementara setengah tubuh Natalya sudah terbenam ke dalamnya. Sebelum sosok wanita itu benar-benar menghilang, Ivan akhirnya mengatakan sesuatu. Kata-kata yang membuat hati Natalya bergejolak tak menentu. Entah itu perasaan sedih atau justru bahagia. Kata-kata itu terus berdengung di telinganya. Bahkan, ketika ia telah berbaring di tempat tidurnya, kata-kata yang meluncur dari mulut orang yang paling dicintainya itu masih terasa nyata.

Wajah Natalya berubah merah ketika dirinya mengucap ulang kata-kata Ivan.

"Ya tebya lyublyu, sestra…"


.

Lukas sudah tersadar sejak beberapa jam yang lalu. Namun, ia harus berpura-pura tak sadarkan diri. Mendengar secara diam-diam perbincangan antara anggota LS yang tengah menelaah kasusnya. Tak ada yang mengena sejak awal perbincangan. Namun, di akhir, Gilbert membuat teori yang tepat sasaran –sedikit.

Dia benar karena telah menuduh Gara sebagai mata-mata. Ya, Gara memang seorang mata-mata. Atau bisa dipanggil Nesia –The Poisonous Orchid. Juga benar untuk teori sasaran penembakannya. Namun, sayang, salah besar untuk teori terakhir. Lukas tentu saja tidak bermaksud untuk melindungi sekolah.

Kini, diperkirakan olehnya, sudah mencapai pukul satu pagi. Dan Arthur belum juga kembali dari kantor Ivan. Alfred tertidur pulas di kursinya. Lukas hanya bisa mengintip sedikit, terhalangi tubuh Ludwig dan meja rapat. Sisa anggota sepertinya masih terjaga. Mereka memang tak banyak berbicara, namun ada saat ketika topik itu kembali dibahas di meja rapat.

"Aku ingin menemui siswa baru itu," ujar salah seorang anggota, menurut Lukas, adalah Kiku yang berbicara.

"Belum saatnya kita menginterogasi dia, belum…" kali ini mirip dengan suara Gilbert.

"Tidak, justru dia-lah yang seharusnya kita interogasi paling awal," balas pria berlogat Spanyol.

"Ingatlah posisinya disini, dia adalah korban, yang pantas kita interogasi tentu saja Lukas,"

"Dia tak berguna, tak mau membuka mulut," Ludwig berkata dengan suaranya yang amat berat.

"Ya, itu membuktikan ada sesuatu yang disembunyikannya," kata Gilbert.

"Semua ini membuatku gila!" seru pemilik logat Spanyol.

Percakapan mereka terhenti. Kini terdengar suara jemari yang beradu dengan keyboard laptop.

"Apa yang sedang kau lakukan, Kiku?" tanya Gilbert.

"Mencari sesuatu tentang Gara,"

"Again?"

"Aku terusik oleh kehadirannya di HIS, aku curiga teorimu memang benar Gilbert,"

"Kau benar-benar percaya bahwa dia adalah…"

Belum sempat Gilbert menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan berderit. Dari luar, masuk seorang pemuda berambut pirang yang terlihat sangat lelah. Arthur telah kembali.

"Lebih baik kita akhiri rapat hari ini, aku tak mau suasana HIS jadi menegang akibat rapat kita yang berkepanjangan."

"Tapi, Arthur, bagaimana dengan dia?" bantah Antonio sebari menunjuk pada tubuh pria yang bersandar ke dinding.

"Karena dia berada satu kamar dengan Ludwig…"

"Ya, aku mengerti Arthur, aku akan bertanggung jawab atas-nya." Timpal Ludwig ketus.

"Bagus. Lagipula, tidak mungkin dia dapat menembus sistem keamanan HIS. Kalian sudah mengerti? Tunggu apa lagi?! Bubar!"

Dan dalam waktu yang benar-benar singkat, pemandangan yang terlihat oleh Lukas kini adalah punggung lebar milik Ludwig. Lukas tak berani memberontak ketika Ludwig adalah penanggung jawabnya. Itu sama saja dia bunuh diri.


.

Lorong itu sunyi dan senyap. Arthur mematung di depan pintu kamar 113. Kamar yang dihuni oleh Jasper dan si murid baru. Tangannya tertahan ketika ingin mengetuk pintu kamar itu. Tidak, dia tak boleh mengganggu jam tidur siswa lain. Lagipula, Jasper pasti sudah menenangkannya, pria Belanda itu cukup tangguh. Arthur sendiri menyesal lebih memillih Lukas ketimbang Jasper saat itu.

Tak terdengar suara apapun dari dalam kamar. Mungkin mereka berdua sudah tidur. Kini hampir pukul dua pagi. Ya, sepertinya mereka sudah tidur.

Oh, betapa Arthur ingin memasuki kamar itu sekali lagi. Menanyakan kabar murid baru yang dituduh sebagai mata-mata oleh kawan-kawannya. Sebagian besar dirinya memang membenarkan tuduhan itu, karena memang tak ada pilihan lain untuk situasi ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia yakin Gara hanyalah siswa biasa yang perlu beradaptasi.

Dia merasa kasihan pada Gara. Seandainya, dia dapat berbuat lebih. Apapun, sungguh, supaya murid baru itu dapat menjalani hidupnya dengan normal di HIS. Tanpa dituduh sebagai mata-mata, tanpa ditembaki peluru.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam ruangan. Sebelum Arthur sempat merubah posisi berdirinya, pintu itu terbuka.

CLEK

Dari dalam kegelapan, muncul sosok tinggi yang dikenali Arthur sebagai…

"Jasper?"

"Arthur?"

"Apa yang kau lakukan?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Harusnya aku yang berhak bertanya seperti itu, sedang apa kau di depan kamarku?"

Arthur berlagak normal, "Hanya lewat, baru saja aku mau masuk ke kamarku,"

"Oh, begitu."

Kemudian hening. Sesaat kemudian Arthur baru menyadari keganjilan yang ditemukannya.

"Mengapa kau keluar kamarmu? Mau kemana kau? Siswa dilarang berkeliaran diatas jam sebelas malam."

"Aku tahu, aku tahu! Aku hanya lapar, mau ke dapur."

"Aku orang yang terakhir masuk gedung asrama, dan aku telah memasang alarm keamanan. Tak ada yang bisa meninggalkan atau masuk gedung."

"Terserah kau, sebenarnya aku hanya ingin menghisap ini," bantah Jasper sambil memperlihatkan batangan cerutu yang terbungkus peti besi kecil dari sakunya.

"Dan sebenarnya ada larangan untuk benda itu, tapi ya sudahlah…"

Jasper berjalan meninggalkan Arthur tanpa mendengarkan omongan pria itu. Satu-satunya siswa yang paling berani bersikap pada Arthur adalah dia. Maka itu Arthur sempat memperingatkan Gara ketika dia baru tiba di HIS. Arthur takut Jasper berbuat semena-mena pada si murid baru. Bagaimana pun, Gara adalah tanggung jawabnya.

Sebelum sosok itu mengilang di tikungan lorong, Arthur menangkap sedikit kata-katanya. Kalau dia tidak salah dengar, Jasper berkata…

"Aku mengganjal pintu kamar, aku tahu kau ingin bertemu dia. Dia baru saja tertidur beberapa menit lalu…"

TIDAK!

Arthur melawan keras keinginan hati yang menyuruhnya untuk masuk kamar 113. Dia tak mungkin memasuki kamar siswa lain seenaknya. Tidak! Terutama karena siswa itu sendiri sudah tidur. Untuk apa dia masuk jika tidak bisa berkomunikasi.

Dengan gesit, Arthur membalikan badan dan berlari masuk kamar 124.

.


.

Malam yang cukup mencekam dan terasa ganjil bagi Ludwig. Sekamar dengan seorang yang kini mengalami krisis identitas. Siapa Lukas? Dan apa tujuan sebenarnya dari penembakan itu?

Ludwig tak mengalihkan pandangannya dari sosok yang kini terbaring di kasur. Masih terikat kedua tangannya, dan masih tersumpal pula mulutnya.

Situasi ini lebih ganjil daripada menyembunyikan mayat seorang penjahat di kamarnya, seperti yang dia lakukan beberapa bulan lalu.

"Lukas, aku tahu kau sudah tersadar," kata Ludwig beberapa menit setelah dia memantau gerak pernafasan Lukas.

Lukas tak mau berbuat konyol dengan berakting pingsan di depan Ludwig. Lagipula, Ludwig adalah teman terdekatnya selama di HIS, kecil kemungkinan untuk-nya langsung menghajar Lukas seperti yang dilakukan Arthur.

Lantas Lukas membuka kedua matanya perlahan.

Ludwig mendekati tubuhnya, dan membuka simpul kain yang menyumpal mulutnya.

"Aku mohon padamu. Aku tak mau kau jadi buronan LS, beri tahu aku, Lukas. Kau bisa mempercayaiku, aku akan berusaha membersihkan namamu. Aku tahu maksudmu baik…"

Lukas menggerakkan rahangnya yang tegang. Setelah terasa cukup relaks, dia mulai berbicara.

"Aku… hanya berusaha melindungi kalian," kata Lukas meng-kopi teori Gilbert tentangnya.

"Melindungi kami dari apa?"

"Aku akan beri tahu ketika waktunya tiba. Lindungi harta karun itu."

"Aku bahkan tak yakin harta karun itu benar-benar ada…" kata Ludwig bingung. Teori Gilbert? Semudah itukah memecahkan kasus ini?

"ADA! Dia nyata! Kau percaya padaku, kan?"

Ludwig merasa ragu pada awalnya. Namun, setelah dia lekat-lekat menatap kedua manik biru Lukas yang serius, dia jadi percaya. Lukas sedang tidak berbohong. Ludwig bisa memastikan itu. Jika Lukas menyuruhnya untuk melindungi harta karun itu, pasti ada sesuatu yang mengancam. Sesuatu atau seorang yang ingin merebutnya dari HIS. Siapa atau pihak mana yang tiba-tiba datang dan bermaksud mencurinya?

Spekulasi Ludwig kembali pada teori Gilbert. Namun, jauh dalam hatinya, Ludwig berharap ini tidak ada sangkut pautnya dengan si murid baru –Garuda Pancarana.

"Ya, aku percaya. Dan besok, aku akan membersihkan namamu, tenang saja Lukas."

.


.

Ruang kerja beraroma cendana itu masih terisi aktivitas. Seorang pria dengan secangkir kopi di sebelah laptopnya masih terus bekerja. Mengetik tiada henti, membalas surel-surel berisi pesan acak dari anak buah-anak buahnya. Membalasi surel-surel itu sama dengan melatih kecakapan berbahasanya. Karena pengirim- pengirim surel itu sendiri berasal dari tempat tugas yang berlainan. Turki, Hungaria, Serbia, Italia, Irak, Inggris, dan masih banyak lagi hingga Logan merasa pening.

Namun dari sekian banyak surel yang masuk, hanya satu yang mendapat perhatian lebih darinya. Yaitu surel yang berasal dari London, Inggris. Dari agennya yang berinisial N025. Dibacanya pesan acak itu dengan sangat jeli, begitu juga cara dia membalasnya.

Setelah mengirim pesan, Logan tak menunggu balasan dari N025, karena dia tahu, agennya pasti langsung memblokir akun yang baru digunakan. Padahal, dia masih ingin berbincang dengan si pengirim. Tidak berbincang mengenai misi, tapi membicarakan hal yang lain. Seperti kabar, suasana hati atau apapun yang berhubungan dengan gadis itu. Nesia.

Logan tak pernah menyebutkan nama belakang Nesia. Dia terlalu takut ada seseorang yang mendengar dan langsung menghabisi anggota keluarga pemilik identitas itu. Kesalahan seperti itu hampir tak pernah dilakukannya lagi. Terakhir kali, pembantaian keluarga agen terjadi pada Ricardo -R010. Arthur tak sengaja menyebut Cruz pada gurauan mereka di kedai pizza. Dan yang terjadi… yah, kau tahu? Semua anggota keluarga-nya ditemukan tewas tanpa jejak pembunuh.

Setahun kemudian, R010 berhasil membalaskan dendamnya pada si komplotan pembunuh.

Selepas membalas surel, Logan menyeruput kembali kopinya yang sudah dingin. Jika ada Nesia, dia tak mungkin meminum kopi dingin. Nesia selalu mengganti kopinya setiap 30 menit sekali. Nesia selalu menemaninya kerja lembur, bahkan ikut membantu memecahkan masalah kerja yang dialaminya. Nesia juga sering bergurau di malam hari, membuat Logan yang telah letih kembali bersemangat lagi. Bahkan bila ada Nesia, 24 jam terasa begitu singkat.

Selalu Nesia. Mengapa? Mengapa selalu wanita itu?

Tanpa sadar, kini tangan Logan berada di pointer, dia tengah membuka folder pribadi di laptopnya. Folder yang tersembunyi dan dikunci dengan kata sandi.

N025. Itulah judul folder terkunci itu.

Lyubit. Dan itulah kata sandi yang dia gunakan untuk mengunci folder.

Setelah dia men-double click-nya, folder itu terbuka. Terpampang beratus-ratus potretan satu objek. Dimulai dari seorang gadis muda yang memakai rompi anti-peluru, hingga seorang wanita yang sedang tertawa di tepi pantai pada saat matahari mulai terbenam. Warna langit dan kulit wanita itu tampak singkron. Cantik dan memikat.

Semua potret kamera itu hanya menampakan satu objek yang sama. Gadis dan wanita itu adalah satu orang yang sama,

N025, Nesia. Semua yang ada di folder itu berkaitan dengan Nesia.

Logan bergumam,

"Kapan kau akan kembali, Nesia?"

.

.

To be continue...

.

.


POJOK AUTHOR

Ada beberapa hal yang harus aku translate..

1. "Ty v poryadke?" artinya "Are you okay?"

2. "Ya tebya lyublyu, sestra…" artinya "I love you, sister..."

3. Lyubit artinya Love.

Komentar :

Oke, pertama, makasih banyak buat yang udah baca dan masih ngikutin cerita ini ;) hehe

Mungkin sekarang ceritanya jadi mulai serius soalnya, well, udah menuju konflik.

Kenapa aku ngasih judul conscience? soalnya... di chapter ini kebanyakan yang dibahas perasaan para tokoh. Nesia, Natalya, Arthur, Ludwig, dan terakhir Logan. yang belum cukup banyak dibahas cuma Jasper, no?

Buat pendukung ArNes (ArthurxNesia), tenang, tenang! jangan panas sama kedekatan JaNes yang semakin menjadi-jadi. Tunggu aja tanggal mainnya... liatin! mereka berdua pasti akan bertemu... HUAHAHAHA *evil laugh* *ditabok*

ADA YANG KURANG JELAS? ANDA INGIN MENAMBAHKAN KOMENTAR? SARAN ATAU BAHKAN KRITIK MEMBANGUNG?

DO NOT FORGET TO REVIEW !

*lagi lagi ditabok*

Maaf... hehe

Sekian dari saya,

Warmlatte *muach!*