Setiap manusia punya sisi lain dalam dirinya...

.

.

A Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei

.

.


.

Malam sebelumnya.

"Aku tahu itu hanya kisah kuno, childish dan tak berdasar. Tapi apa yang kami, maksudku, kita hadapi kini, mungkin ada sangkut pautnya dengan harta karun itu…" kata Arthur dengan suara yang ketus.

"Begini…" Ivan menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan, "Dulu, ketika aku bahkan belum menjabat, pihak sekolah menutupi masalah harta itu dari LS, namun kau tahu sendiri bagaimana LS? Kabar harta karun itu pada akhirnya sampai ke pendengaran mereka. Untuk meredam rumor, kami, maksudku, pengelola sekolah yang dulu, bernegosiasi dengan LS. Dan berakhirlah rumor itu menjadi kisah yang tak nyata."

"Jadi, harta itu benar-benar ada?"

Ivan mengangguk, sementara Arthur semakin tercengang. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui kebenaran cerita ini?

"Aku yakin lambat laun kau akan mengerti…"

"Aku ingin mengerti sekarang!"

"Oh, santai saja. Pertama, ceritakan padaku apa yang kau ketahui tentang harta itu."

"Emm, baik. Harta milik para pendiri sekolah, berupa 5 benda paling berharga di dunia. Tak pernah disebutkan apa saja bendanya, juga tak pernah disebutkan tempat penyimpanannya. Itulah yang membuatnya terdengar tak nyata."

"Dan dari mana para pendiri mendapatkan kelima barang itu?"

"Sebagian diturunkan dari keluarga mereka, dan ada beberapa yang merupakan titipan atau pemberian, entahlah, aku tak terlalu ingat kisah itu…"

"Tak apa, kerja bagus, Arthur!"

"Tapi itu tak cukup! Aku harus mengetahui lokasi penyimpanan mereka!"

"Tenang, Arthur. Kau hanya perlu membaca…"

"Membaca?"

Sebelum Ivan sempat menjawab, terdengar suara lain di ruangan itu.

"Ivan…" kata Natalya yang baru tersadar.


.

"Bangunn!"

Suara keras itu mengejutkan saraf-saraf Nesia yang sedang beristirahat. Seketika dia bangun dan langsung siap dengan posisi berdiri di atas kasurnya.

Jasper tertawa keras, "Apa yang kau lakukan?"

Nesia bahkan belum membuka matanya. Apa yang baru saja terjadi, hanya reflek seorang agen yang harus selalu dalam keadaan siap. Dia banyak dilatih soal reflek.

Ketika Nesia membuka mata, pemandangan yang pertama dilihatnya adalah Jasper. Dia tertawa, sudah berseragam rapi, dan rambutnya tertata bagai tulip.

"Damn you!" kutuk Nesia pada perbuatan biadab Jasper. Jika bukan karena teriakannya, Nesia kini sedang bermimpi berdansa dengan T.O.P. Dia memang sedikit terbawa demam K-Pop.

"Oh, Gara.. Garaa. Kau tak pernah letih membuatku tertawa, yah?"

Nesia mendengus marah, "Terserah kau lah!"

"Well, well, sebaiknya kau cepat bersiap untuk memulai hari ini…"

"Memangnya sekarang pukul berapa?"

Jasper hanya menunjuk pada jam digital yang melingkar di tangannya.

09:35!

Tanpa makian yang menyertai, Nesia segera melompat ke kamar mandi. Tak lupa dia mengunci pintu.

Knock knock.

Pintu kamar mandi diketuk.

"Apa?!" sahut Nesia dari dalam.

"Kau melewati jam sarapan, dan itu artinya tidak ada jatah makan. Aku sarankan, kau pergi ke dapur dan temui wanita tua bernama Alice, dia akan memberimu roti daging yang sangat enak. Aku pergi dulu, dah!"

Nesia mendengar bantingan pintu yang cukup keras. Kemudian suasana ruangan menjadi hening.


.

Arthur berlari menyusuri lorong yang gelap. Berusaha mengejar titik cahaya yang terlihat sangat jauh dari tempatnya berada. Suara-suara semu yang selalu memenuhi pikirannya, kini kembali terdengar. Semakin keras, semakin memuakkan. Arthur berusaha keras melawan suara-suara itu. namun mereka tak juga berhenti.

"Lindungi harta itu!"

"Aku bahkan tak tahu dimana…"

"Kau tidak bertanggung jawab!"

"Aku…"

"Pemimpin yang buruk!"

"Mengapa Ivan memilihmu?"

"Bukan hanya Ivan yang…"

"Penghianat!"

"Tak pantas jadi pemimpin LS!"

Anggota LS yang lain, muncul dari dalam kegelapan. Raut mereka ketus. Tatapan mereka yang tajam, seakan menusuk pandangan Arthur.

"Ya, Arthur, kau tak berguna!"

"Kau bahkan tak dapat melindungiku!" Kata Lukas.

"Kau hanya ingin numpang tenar!"

"Payah!"

"Aku tak percaya lagi padamu!"

Gilbert maju ke hadapannya, dengan sombong dia berkata, "Aku bahkan lebih cerdas darimu, aku lebih pantas menjadi pemimpin mereka,"

"TIDAK!" bentak Arthur pada kerumunan yang terus mengecamnya itu.

Mendadak mereka lenyap. Mereka hilang seperti bayangan yang ditelan gelap malam.

Kini muncul seorang wanita dari dalam kegelapan. Seorang wanita yang pernah dilihatnya di suatu tempat. Bukan Natalya atau ibunya. Dia wanita asing yang pernah mendatangi mimpinya dulu.

Wanita itu mengenakan gaun hitam yang elegan, sangat pas di tubuhnya. Membuat dia terlihat sangat dewasa.

"Masih ingat aku?"

"Siapa kau? Aku tak punya waktu berurusan denganmu,"

"Kau tak ingat?" Wanita itu menjulurkan tangannya, menyentuh lembut permukaan wajah Arthur dengan punggung tangan.

Arthur segera menepisnya, "Sungguh, aku tak punya waktu!"

"Oh, kau pasti punya…karena semua ini, adalah tentangku…"

"Apa maksudmu?"

"Tentangku, Arthur. Kau sebenarnya tahu itu,"

Cahaya kecil yang berada di ujung lorong meredup. Kini Arthur benar-benar tidak menanggapinya. Dia harus kembali berlari mengejar cahaya itu.

"Tak ada gunanya, Arthur,"

"Apa?"

"Kau mengejar cahaya yang ada di belakangku? Semakin kau mengejarnya, dia akan semakin menjauh,"

Arthur hanya terdiam. Lagi-lagi perasaan ragu menguasai batinnya.

"Tak ada gunanya, Arthur."

"Tutup mulutmu!"

"Kau hanya perlu bangun…" kata wanita itu dengan lembut.

"Bangun…" Dia berjalan mundur menuju sisi yang gelap.

"Kau! Kau tak bisa lagi berbuat seenaknya kepadaku!" Arthur mengejarnya, namun wanita itu terlalu cepat. Dia sudah hilang.

"Dan sekarang, kau akan… BANGUN!"

SPLASH

Cahaya terang membuat Arthur tersadar dari mimpi. Dia langsung bangkit dari tidurnya, dan berakhir dalam posisi duduk. Bagus, dia hanya bermimpi. Arthur mengerjapkan matanya untuk mendapat pandangan yang lebih baik.

"Kau baik?" kata Antonio yang baru membuka tirai kamar.

"Hanya bermimpi…"

"Kau terlambat bangun, Arthur," Pria Spanyol itu tertawa, "Tapi sepertinya semua anggota LS terlambat bangun! Hahaha!"

Arthur tidak menghiraukan gurauan pagi itu.

"Aku ada kelas pagi, jadi… aku duluan," kata pria itu seraya berjalan menuju pintu keluar.

"Sebelum kau meninggalkan gedung asrama…"

"Lukas? Aku tahu. Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik, Ludwig punya kabar baru untuk LS,"

Arthur hanya mengangguk.

"Sampai bertemu lagi…"

Terdengar bunyi pintu yang ditutup. Antonio sudah keluar kamar.

Selang beberapa detik, Arthur mendengar suara-suara samar dari lorong.

"Oh, selamat pagi, Jasper! Bagaimana Gara?"


.

KRIET.

KRIET.

BRUK.

Dua pintu menutup secara bersamaan. Dua manusia yang berdiri di depannya kini saling bertatapan.

"Pagi," kata Nesia memulai.

"Pagi," jawab Arthur singkat.

Arthur tampak lebih berantakan dibanding saat mereka terakhir kali bertemu di ruang kelas senjata api. Bola matanya yang dulu bersih, kini dihiasi guratan-guratan merah akibat kurang tidur. Rambut pirangnya berantakan, mirip dengan bintang rock. Nampaknya Arthur lupa atau memang sengaja tidak menyisirnya.

Nesia berjalan lebih dulu, menuju lift di ujung lorong.

Arthur berjalan tepat setelahnya. Pembicaraan yang ingin dia lakukan kemarin, kini lenyap entah kemana. Rasanya bodoh mengasihani sesama lelaki.

Diri lain Arthur, kini tengah menguasai raganya. Tak ada lagi Arthur yang baik, dan penuh perhatian. Yang ada kini, Arthur yang tegas dan penuh kekejaman. Dua sisi dalam satu raga, tetapi bukan berkepribadian ganda. Dia sama-sama Arthur, hanya bertolak belakang masalah sifat. Lembut dan keras.

Lorong itu kosong. Hanya disusuri oleh mereka berdua. Siswa yang lain telah berada di gedung sekolah. Nesia merasa was-was, dia mempercepat langkah kakinya. Lift tinggal beberapa meter lagi, dia harap Arthur turun lewat tangga darurat.

Namun ternyata tidak. Ketika Nesia berhenti di depan pintu lift, Arthur ikut mengantri di belakangnya.

Pintu lift terbuka, menampilkan kabin kecil yang kosong. Tampaknya hanya mereka berdua yang akan menjadi penumpang lift. Nesia masuk, diikuti Arthur. Kemudian, pintu lift menutup.

Arthur berdiri di sisi kanan Nesia. Pantulan dari pintu menampakan dua sosok manusia yang berdiri canggung.

"Kau mau pergi ke kelas mana?" kata Nesia berusaha membuat suasana.

"Interpretasi simbol."

"Really? Aku juga!"

"O.." jawab Arthur singkat, sekaligus mengakhiri percakapan mereka.

Sigh….

Tak ada lagi yang berniat memulai percakapan. Bahkan hingga pintu lift terbuka dan menampakan sosok Asia yang berpakaian rapi.

Benar juga kata Antonio, semua anggota LS tampaknya bangun kesiangan. Bahkan Kiku yang terkenal disiplin pun melewatkan jam sarapan.

"Pagi, Kiku." sapa Arthur agak normal. Lebih ramah dibanding ketika dia berbicara pada Nesia.

Kiku mengangguk sopan, kemudian memasuki lift. Sekilas, pandangannya terarah pada Gara.

"Bagaimana malammu?" tanya Arthur ketika menyadari mata Kiku begitu merah.

"Tak baik, aku hanya tidur beberapa menit, itu pun ter-tidur,"

"Pantas. Apa yang kau kerjakan?" Arthur merasa penasaran.

"Nanti saja," jawab Kiku singkat. Iris monokromnya seperti memberi isyarat bahwa ada orang lain yang patut dicurigai di sini.

Pintu lift kembali terbuka. Kini masuk dua orang lain yang terdaftar sebagai anggota LS. Lukas dan Ludwig. Tangan Lukas sudah tak dililit tali lagi.

Arthur terperanjat, Nesia terperanjat, bahkan Lukas sendiri, ketika melihat kehadiran Nesia, terperanjat. Rasanya sangat canggung ketika lift itu kini terisi oleh orang-orang yang sedang mengalami konflik. Nesia berusaha menjaga sikapnya. Sebaik mungkin, dia harus terlihat polos dan wajar.

"Siapa yang memberimu izin membuka ikatannya, Ludwig?" kata Arthur ketus.

"Aku yang bertanggung jawab, tenang saja. Lukas sekutu kita."

Pintu lift menutup. Sekumpulan siswa itu terisolasi sementara dari dunia luar.

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kau lupa kejadian kemarin?!" teriak Arthur sebari menari kerah kemeja Ludwig. Baju pria Jerman itu kini berantakan.

Meski tubuh Ludwig jauh lebih besar darinya, namun tak sedikitpun Arthur merasa takut. Justru sebaliknya, Ludwig-lah yang merasa gentar.

Ludwig tak menjawab.

"Ada yang bawa borgol? Tali? Atau apapun yang bisa mengikatnya?!" kata Arthur setengah berteriak.

Manusia lainnya hanya diam. Termasuk Nesia yang bisa dikategorikan sebagai korban dari kejadian kemarin. Rasanya Arthur terlalu berlebihan. Nesia hanya takut emosi Lukas akan terpancing oleh omongannya yang kejam.

Nesia tahu dia harusnya lebih membela Arthur. Namun, tindakan Arthur saat ini sangat kurang tepat. Sama seperti Arthur, dia juga ingin mengintrogasi Lukas yang ternyata seorang agen itu. Dia juga ingin menjaga Lukas agar tidak menjatuhkan korban lain. Tapi semua itu butuh waktu. Dan pagi ini bukan waktu yang tepat untuk marah-marah pada tersangka.

"Kenapa kalian diam? Tak ada yang memiliki pendengaran disini?!"

Nesia menjawab sok polos, "Aku punya…" Dia hanya bermaksud membuat humor, sayangnya di waktu yang salah pula.

Serentak, semua pandangan tertuju padanya. Pandangan Arthur adalah yang paling menakutkan. Sedang pandangan yang lain seperti berkata, "Oh, man, kau tak harus menjawab pertanyaan itu!"

"Aku tak bertanya padamu! Kau pikir kau siapa? Ini urusan LS!" bentak Arthur pada Nesia. Arthur yang ini adalah Arthur lain yang non-Englishman.

Lukas yang awalnya diam kini berbicara. Suaranya dalam dan sedikit serak, "Aku bukan seorang buronan, Arthur. Kau tak perlu memborgolku segala! Toh, kau tahu sendiri aku tak mungkin kabur dari HIS?"

Arthur melotot. Entah perasaan Nesia saja, atau memang bola mata Arthur terlihat hampir meloncat keluar.

"Apa kau bilang?! APA?!" bentak Arthur pada Lukas. Suaranya yang keras memekikkan telinga, mengingat lift ini berdinding metal, dia tak meredam bunyi, justru memantulkannya.

Arthur mendorong tubuh Lukas hingga menabrak dinding lift. Berkali-kali dia membenturkannya pada dinding metal yang dingin. Suara benturan itu membuat pendengaran Nesia terasa ngilu. Namun anehnya, Lukas diam saja. Tidak melawan, tidak protes, bahkan rautnya datar saja, seperti kejadian ini adalah hal yang biasa.

Ludwig dan Nesia segera menarik kedua manusia itu saling menjauh satu sama lain. Ludwig melindungi Lukas, sedang Nesia menarik-narik Arthur agar menjauh dari siswa malang itu. Kiku berdiam di tempatnya. Tak bereaksi apa-apa terhadap kejadian ini.

"Kau sadar apa yang telah kau perbuat? Kau sadar dampaknya pada LS?!" bentak Arthur lagi.

Kini, kedua orang itu berada di dua sudut lift yang berbeda.

"Dan kau!" kata Arthur setelah menyadari bahwa yang menariknya menjauhi Lukas adalah si murid baru.

"Bisakah kau berhenti mencampuri urusanku?"

"Aku tak pernah mencampuri urusanmu!"

"Oh ya? Lalu kenapa kau menarikku menjauhinya?"

Nesia mendengus, "Harusnya kau berpikir sebelum bertindak! Dia…"

"Dia yang sudah menembakmu!" potong Arthur.

Sebelum Nesia sempat membalas, terdengar suara lain yang lebih berwibawa, "Arthur sudahlah," kata Kiku, mengakhiri perdebatan.

"Seharusnya kau berpikir lebih jernih, ada apa dengan dirimu yang sekarang?" lanjut pria berkulit pucat itu.

Arthur merasa konyol. Sejak kapan semua orang jadi menceramahinya begini?

"Oh, kalian semua yang bodoh! Aku turun disini!" dengan cepat Arthur menekan tombol "2" yang berada si samping pintu lift.

Kebetulan, kabin kecil itu memang sedang berada di lantai 2. Pintu lift terbuka. Arthur yang mukanya memerah segera keluar.

Setelah pintu kembali menutup, barulah Nesia berani berbicara.

"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Nesia pelan.

Entah dia bertanya pada Kiku, Ludwig, Lukas atau mungkin pada dirinya sendiri. Karena sampai mereka tiba di lantai dasar, tak ada satupun dari ketiga orang itu yang menjawab pertanyaannya. Bahkan melirik ke arahnya pun tidak. Nesia dianggap tak ada.


..

Arthur berjalan dengan perasaan geram yang menyelimuti hatinya. Disusurinya lorong lantai dua yang sepi. Kalau tidak segera meninggalkan gedung, dia akan terlambat pelajaran interpretasi simbol. Dia tahu, dia memang bermaksud absen hari ini. Ada masalah lain yang harus diurusnya. Lukas, Gara, harta itu. Semuanya berputar-putar di pikiran Arthur.

Dan ada satu hal lagi. Membaca. Itu kata terakhir Ivan yang membuatnya penasaran. Apa yang harus dia baca? Sejarah HIS? Bukan. Tapi apa? Bacaan apa yang ada sangkut-pautnya dengan misteri harta HIS?

Tanpa disadari, Arthur berjalan menuju balkon asrama. Tempat itu dipenuhi kursi-kursi plastik. Balkon yang cukup luas itu merupakan tempat siswa-siswa biasa menghabiskan sunset mereka. Tempat kedua, yang paling sering dikunjungi di HIS.

Sebelum Arthur sempat mendorong pintu kaca menuju balkon, terdengar olehnya suara seseorang yang tak asing. Pandangan Arthur menyapu sekeliling. Dan yang ditemukannya adalah siluet pria jangkung yang duduk di pembatas balkon. Dia Jasper, Arthur yakin itu.

Jasper terlihat sedang berbicara sendiri. Wajahnya benar-benar serius. Arthur penasaran apa yang sedang dilakukannya. Jika memang dia sedang bertelepon, mengapa kedua tangannya bertumpu pada lutut? Lalu dengan siapa dia berbicara?

Arthur diam mendengarkan. Nampaknya ini bukan percakapan biasa.

"Ya, ya. Aku tahu. Itu bisa diatur, bagaimana pun caranya…" kata Jasper seakan membalas kata-kata seseorang.

Setelah hening, dia kembali berbicara,"Yah… sejauh ini berhasil. Dia cukup memikirkan itu. Aku rasa mereka mulai mengingatnya kembali…"

Setelah jeda yang sangat lama, dia kembali berkata, "Sangat membantu. Kehadirannya sangat menguntungkan, kita memang sedang butuh kambing hitam…"

DEG

Arthur merasa curiga. Terutama setelah kata 'kambing hitam' itu terucap. Mungkinkah percakapan yang dilakukan Jasper ada hubungannya dengan kejadian penembakan Gara? Dia harus segera mencari tahu.

"Ehem!" seru Arthur sebari memasuki balkon.

Pikirannya yang sedang kacau, membuatnya menyusun rencana yang begitu berantakan. Arthur berencana mengintrogasi Jasper sekarang juga. Well?

Dia berjalan menuju tempat Jasper duduk.

Jasper yang seakan tertangkap basah, tak terlihat panik sedikit pun. Dengan santainya, dia mencabut transceiver yang terselip di telinga, kemudian memasukannya ke saku kemeja.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Arthur dingin. Menurutnya, pria ini sudah terlalu banyak melanggar peraturan HIS. Membawa cerutu, keluar malam, absen dari kelas, dan sekarang melakukan percakapan yang mencurigakan.

"Dan kau?" kata pria itu balik bertanya.

Arthur tidak memedulikannya, "Dengan siapa kau berbicara tadi?" tanya Arthur lagi.

"Mengapa kau sangat ingin tahu kehidupan seseorang? Tidak cukupkah kau menjalani hidupmu sendiri?"

Jasper turun dari pembatas balkon.

"Berani sekali, kau!" seru Arthur emosi. Mood-nya yang tadi sudah baikan, kini memburuk lagi.

Jasper tak bereaksi apa-apa. Dia hanya berdiri mematung sebari menatap Arthur. Tubuh Jasper lebih jangkung dibanding Arthur.

"Aku tak pernah takut kepadamu, Arthur. Seharusnya kau tahu sedang berbicara dengan siapa…" kata Jasper mencibir.

DEG.

Aliran darah Arthur menderas.

"…Kau tak lebih dari bocah ingusan yang baru diberi kekuasaan!"

Arthur geram. Jasper telah menginjak-nginjak harga dirinya. Selama ini, belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu kepadanya. Belum pernah ada yang berani menceramahinya. Bahkan, kedua orang tuanya sekalipun. Tangan Arthur bergetar. Rasanya, ingin sekali dia melampiaskan seluruh emosinya dalam satu tinju ke muka Jasper.

Sisi lain Arthur kembali berbisik, "Kenapa tidak? Tunjukan padanya siapa yang berkuasa di sini!"

Balkon itu sepi. Tak ada siapa pun selain mereka di sana. Kalau pun perkelahian terjadi, satu sekolah pasti lebih membela Arthur dibanding Jasper. Dia punya banyak pendukung. Dan Ivan tak mungkin memberinya skorsing. Dia sang ketua, ingat?

Tak ada yang akan mencegah, takkan ada bersaksi. Dan Arthur yakin sepenuhnya, semua ini salah Jasper.

BUGH!

Kepalan tangan yang awalnya hanya bergetar itu, melesat membentur wajah tirus sang pemuda Belanda. Jasper mundur beberapa langkah akibat gaya besar yang mengenainya.

Dia merasa tulang rahangnya tergeser ke arah yang salah. Namun itu bukan masalah. Jasper merasa senang, karena Arthur telah masuk ke dalam perangkapnya.

"Kau ingin berkelahi?" kata Jasper menantang, "Baik!"


Nesia baru selesai menyantap roti daging yang diberikan Alice. Memang benar kata Jasper, roti itu sangat enak, masih hangat, dan Alice dengan senang hati memberikannya kepada Nesia. Kini, dia tengah menyusuri koridor sekolah menuju ruang kelas interpretasi simbol. Dia sebenarnya sudah terlambat. Namun, dia tidak peduli lagi dengan masalah nilai. Prioritas utamanya kini adalah misinya. Semakin cepat dia selesaikan, semakin baik. Dan semakin lama dia berada di HIS, semakin bahaya hidupnya.

Tiba-tiba, teriakan seorang lelaki memenuhi lorong. Disusul derap langkah yang sangat tergesa-gesa. Teriakan itu berisi berita hangat yang mengejutkan. Awalnya Nesia sama sekali tidak peduli, namun setelah dia menangkap maksud teriakan itu, dia segera mengubah haluannya. Nesia berlari membelah kerumunan yang mengelilingi sang pembawa pesan.

"DIMANA?!" pekik Nesia pada pria itu.

"Gedung asrama! Depan gedung asrama!" jawab pria itu, sama paniknya.

"Bagaimana keadaannya?!"

"Dia masih belum sadarkan diri,"

"Baiklah, terima kasih!" ucap Nesia singkat.

Tanpa berpikir panjang, Nesia segera berlari menuju tempat itu. Menabrak orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Nesia panik. Kejadian ini terasa ganjil dan tak masuk akal, karena seingatnya, Jasper telah meninggalkan gedung asrama jauh sebelum dirinya selesai berpakaian.

Setelah Nesia pergi, pria dengan rambut coklat itu kembali meneriakan berita yang diketahuinya. Siswa-siswa yang berada dalam kelas berhamburan keluar untuk mendengar berita lengkapnya.

"BERITA BARU! KEJADIAN BARU! ARTHUR MEMBUAT SISWA BERNAMA JASPER JATUH DARI BALKON ASRAMA! ARTHUR MEMBUAT SISWA BERNAMA JASPER JATUH DARI BALKON ASRAMA! HINGGA KINI JASPER BELUM SADARKAN DIRI! JASPER BELUM SADARKAN DIRI!"

Suara itu terus berkumandang, hingga akhirnya sampai ke depan ruangan Ivan.

.

.

.

.

To be continued...

.

.


POJOK AUTHOR

YUP! Akhirnya fic ini mulai masuk pada bagian rumit, sebenarnya tidak rumit sih, hanya lebih banyak aksi dibanding yang sebelumnya.

Kalau ada yang bertanya-tanya sebenernya Arthur itu kenapa, mari saya jelaskan.

Jadi, manusia sok perfect yang bernama Arthur Kirkland itu memang cerdas, tampan, dan berbakat. Tapi semua itu bagai cabe kering dalam bungkus kado. Memang indah dari luar, tapi pada dasarnya dia hanya manusia labil yang suka menutupi kekurangannya. Oke, kayanya cukup segitu.

Btw, makasih banyak yang masih ngikutin cerita ini. Makasih udah baca :-)

Kalau ada yang ingin di sampaikan, silahkan me- review.

Terus ikutin ceritanya yah huehehehehe

Salam,

Warmlatte