.
.
A Hetalia Fanfiction
.
.
Undercover
.
.
Hetalia milik Himaruya -sensei
.
.
.
"Aku tidak melakukannya!" bentak Arthur melawan tuduhan Gilbert.
Mereka berada di ruang interogasi yang tak jauh dari markas LS. Kedua ruangan itu berada dalam satu lorong yang sama. Ruangan interogasi terbagi menjadi dua. Tempat penginterogasian, yakni tempat tersangka diajukan berbagai pertanyaan. Dan tempat pemantauan yang berada di balik kaca satu arah. Kiku dan Alfred berada di ruang pemantauan, sedang, Gilbert yang bertugas menginterogasi.
Salah satu keistimewaan HIS adalah mereka memiliki alat pendeteksi kejujuran yang biasa ada pada rumah sakit-rumah sakit besar atau badan intelejen negara. Dan siapapun yang berada di ruang interogasi, dapat terlacak kejujuran omongannya melalui beberapa reaksi dalam tubuh yang terekam di alat pemindai.
Ruang interogasi didominasi dengan warna metal-abu. Dindingnya dilapisi dengan bantalan-bantalan peredam suara yang tebal. Tidak seperti kebanyakan ruang interogasi yang berada di film-film kriminal yang remang-remang, ruang interogasi HIS memiliki pencahayaan yang sangat memadai. Dalam ruangan itu, hanya terdapat sebuah meja kayu ukuran sedang dan tiga buah kursi yang mengitarinya.
Sedang, ruang pemantauan sendiri, mirip dengan ruangan kepala kemanan yang dilengkapi banyak monitor, alat-alat pemindai, komputer, serta mikrofon yang langsung terhubung dengan sosok penginterogasi.
Kiku duduk sebagai operator dari alat-alat pemindai yang kini mulai berdebu akibat jarang dipergunakan. Dia memang memiliki kelebihan di bidang IT dibanding rekan se-LSnya. Alfred berdiri di depan kaca satu arah. Dia bisa melihat dengan jelas pemandangan di ruang interogasi. Sedangkan orang-orang dari ruang interogasi tidak dapat melihatnya. Mereka hanya melihat pantulan bayangan diri di kaca lebar itu.
Namun, sebenarnya percuma saja. Toh, Arthur sudah tau seluk-beluk ruangan ini.
"Lalu jelaskan, mengapa dia bisa jatuh dari balkon?" tanya Gilbert laun. Baru kali ini dia menginterogasi ketua-nya sendiri. Dan baru kali ini Arthur diperlakukan sebagai tersangka.
"Entahlah, Dia loncat dengan sendirinya! Lihat saja rekaman CCTV kalau tidak percaya,"
Gilbert menggeleng dengan sabar, "Tak ada kamera CCTV di balkon, Arthur. Tapi kami sudah lihat rekaman di koridor lantai dua. Dan justru, itu memberatkan dirimu. Kau benar-benar berada di balkon saat itu, kan?"
Seketika, keringat dingin membasahi tubuh Arthur. Fitnah! Dia benar-benar dijebak oleh iblis bernama Jasper itu. Meski berkelahi, Arthur tak pernah berniat untuk mencelakakan. Apalagi membunuh dengan mendorong Jasper dari lantai dua. Arthur melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Jasperlah yang menjatuhkan dirinya ke bawah. Perkelahian memang sedang sengit-sengitnya ketika Jasper tiba-tiba berlari ke pembatas balkon dan meloncat.
Arthur yakin, Jasper punya rencana di balik semua ini. Rencana yang ada sangkut pautnya dengan Lukas. Ya! Kenapa tak terpikirkan olehnya? Lukas, dan Jasper. Apakah mereka bersekongkol? Dan apa yang mereka rencanakan? Mengapa mereka memilih Gara dan dirinya untuk dimasukan ke dalam perangkap? Arthur terus berpikir dalam situasi yang memojokkannya. Jika dia salah langkah, dalam posisi benar sekalipun, Arthur bisa dituduh sebagai penjahat dalam cerita.
"Kau tahu aku, Gilbert. Apa menurutmu aku melakukannya?" kata Arthur berusaha meyakinkann Gilbert.
Kini tak ada lagi perlindungan dari LS. Tak ada lagi Gilbert yang siap mendengar keluh kesahnya. Tatapan Gilbert sudah berubah. Tatapan bersahabat itu kini menjadi dingin, kaku, dan penuh dengan kecurigaan. Arthur semakin gelisah.
Gilbert hanya diam. Dia menolehkan pandangannya pada kaca satu arah, berharap anggota LS yang lain merasakan perasaan yang sama dengannya.
Di ruang pemantauan, Kiku sedang mengutak-ngatik alat pemindai yang mendeteksi kejujuran. Seperti biasa, dia terlalu serius sehingga tidak menyadari rasa penasaran Alfred yang begitu menggelitik karena tak mengerti bagaimana cara membaca alat itu.
"Bagaimana, Kiku?"
Selang beberapa menit, barulah Kiku menjawab pertanyaan Alfred.
"Sejauh ini yang dikatakannya jujur,"
"Bagaimana bisa?" gumam pria itu.
"Tidak ada pelebaran pembuluh darah dekat mata, suhu tubuhnya tidak meningkat, sejauh ini dia normal…"
"Tapi, jika dia jujur, itu berarti…" Alfred menggeleng, "Lagipula, mengapa Jasper menjatuhkan dirinya sendiri?"
"Tanya saja, suruh Gilbert bertanya,"
Alfred langsung mematuhi saran Gilbert, "By the way, mana anggota yang lain?"
Kiku hanya menggeleng. Sebenarnya, dia sudah mengumumkan rapat darurat yang kedua ini melalui interkom. Dia juga sudah mengajukan surat dispensasi ke setiap kelas yang mereka masuki pagi itu. Tapi, entah apa yang membuat sisa anggota LS hingga kini belum datang juga. Situasi genting yang kedua kali dalam seminggu ini jarang terjadi. Dan seharusnya, mereka bertiga sadar betapa kehadiran satu orang sangat diperlukan. Kiku tak mau ambil pusing seperti Arthur. Menurut Kiku, semua siswa yang masuk HIS pastilah sudah dewasa dan dapat menentukan keputusannya sendiri. Bila keputusan Ludwig, Antonio dan satu lagi anggotanya yang berada dalam status asing, adalah tidak menghadiri rapat. Maka mereka pastilah sudah siap menerima konsekuensinya.
Jika Arthur yang berada di posisinya sekarang, pastilah ia sedang sibuk memasuki kelas-kelas untuk menemui secara langsung para anggota.
Alfred berbicara lewat mikrofon yang berada di dekat kaca satu arah, "Gil, tanyakan alasan Jasper menjatuhkan dirinya,"
Gilbert melirik singkat pada Alfred.
"Arthur, kita sudah mengenal satu sama lain sejak kelas satu, tolong jujur kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu? Apa yang terjadi disana? Dan jika memang Jasper melompat sendiri, mengapa dia melakukan itu?"
Arthur menghela nafas, menghembuskannya. Jika ia tahu apa yang terjadi, maka ia pasti telah menceritakannya sejak awal. Namun, ia sendiri saja -yang mengalami kejadiannya, masih tak mengerti apa yang terjadi. Otaknya masih berkutat menghubungkan satu masalah dengan masalah lainnya. Apapun jawaban yang ia berikan, tak akan membuat Gilbert atau orang-orang yang berada di balik kaca satu arah puas. Karena semua itu masih spekulasi. Ia belum mendapatkan fakta apa-apa.
"Aku tahu jawabanku tak akan membuatmu puas, atau membuatmu jadi percaya. Aku masih memikirkan ini semua, Gil. Tapi, aku sudah jujur padamu. Aku memang tak tahu apa-apa mengenai ini. Mengenai alasan Jasper, atau peristiwa penembakan kemarin."
Arthur berhenti. Dia ingin melihat reaksi Gilbert atas jawabannya. Mungkin sekarang, dia tidak terlalu dipercaya lagi seperti dulu. Mungkin sekarang, status keanggotaannya sama dengan Lukas, asing. Dia telah membuat Jasper cedera parah. Setidaknya, 'terlibat' dalam kejadian di balkon itu.
"Ah, Arthur. Seandainya aku pribadi boleh memutuskan, mungkin aku sudah membebaskanmu dari tuduhan,"
Arthur tersenyum pahit. "Gil, kau ingat ketika kita keluar dari kelas senjata api, kemarin?" tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia belum sempat menceritakan pikiran-pikirannya kepada Gilbert.
Di ruang pemantauan, Kiku menemukan perubahan pada denyut jantung Arthur.
"Denyut jantungnya menjadi lebih cepat," gumam Kiku memberitahu keadaan pada Alfred.
"Apa artinya?"
"Semacam ingatan yang membuatnya gugup atau takut?"
"Bukan berbohong atau mengarang?"
Kiku menggeleng, "Bukan. Ciri-cirinya berbeda,"
Gilbert berusaha mengingatnya. Ya, kalau tidak salah, sebelum bocah Latvia itu datang menghampiri mereka, Arthur bermaksud untuk menceritakannya sesuatu.
"Sesuatu yang kau sebut bukan masalah itu?"
"Ya. Kau masih ingat? Waktu itu aku belum sempat menceritakannya, boleh aku bercerita sekarang?"
Gilbert menaikkan bahunya, "Jika kau tak keberatan orang-orang itu ikut mendengar juga…"
Arthur mengalihkan pandangannya ke kaca. Meski yang ia lihat kini hanya pantulan bayangan dirinya dan Gilbert, namun dibalik sana, pastilah anggota LS yang lain sedang memantaunya.
"Ada siapa saja disana?"
"Kiku dan Alfred," jawab Gilbert sebari memastikan. Jika jawabannya salah, Alfred pasti langsung meralat lewat mikrofon. Namun ternyata tidak. Tiga anggota lain belum juga hadir hingga kini.
"Tak masalah. Baiklah, aku akan mulai…"
Gilbert memperbaiki posisi duduknya agar lebih relaks. "Aku akan mendengarkan,"
.
Unit kesehatan HIS terletak di lantai dua, belakang bangunan sekolah. Rupa-nya seperti aula besar yang diisi dengan ranjang-ranjang rumah sakit, meja kecil, kursi penunggu, serta tirai-tirai putih yang memisahkan antara satu ranjang dengan ranjang lainnya. Langit-langitnya sangat tinggi, sehingga membuat ruangan terlihat lebih luas dari yang seharusnya. Di sepanjang dinding yang menghadap ke taman, jendela-jendela besar nan tinggi terbuka lebar. Berkat jendela-jendela itu, ruangan ini memiliki intensitas cahaya matahari dan sirkulasi udara yang sangat baik.
Beberapa siswa menyebutnya klinik HIS, karena fasilitasnya hampir menyerupai sebuah klinik dibanding unit kesehatan sekolah. HIS punya dokter mereka sendiri, ditambah beberapa perawat pria yang cekatan.
Hari ini, klinik HIS kedatangan satu pasien. Ya, siswa HIS memang jarang jatuh sakit. Pasien ini didampingi oleh banyak siswa –yang sebetulnya, lebih karena penasaran dibanding mendampingi. Setelah disaring oleh dokter, hanya satu orang dari kerumunan itu yang benar-benar berniat mendampinginya. Dia adalah seorang siswa Asia yang wajahnya masih asing bagi si dokter. Mungkin merupakan murid baru yang banyak dibicarakan itu.
"Aku temannya! Aku temannya!" seru siswa itu sambil berjingkat-jingkat, berusaha menyetarakan tinggi tubuhnya yang tak seberapa.
Dokter Chao segera mengeluarkannya dari kerumunan. Hanya siswa ini yang diperbolehkan ikut masuk ke dalam klinik. Siswa yang lain dibubarkan.
Kini, pasien telah selesai diobati. Beberapa lukanya telah dijahit, dan bagian tubuhnya yang memar telah diperban. Kaki kanannya terkilir, namun akan segera pulih. Untung saja tidak ada luka yang serius.
"Terima kasih telah menyelamatkannya," kata siswa itu setelah Dr. Chao menyelesaikan tugasnya. Kini, Chao tengah mengepak peralatan medisnya ke dalam sebuah tas putih berlambang HIS. Perawatnya sudah meninggalkan klinik.
Jasper sempat sadarkan diri, namun Chao memberinya obat penenang agar lukanya yang masih basah tak terasa sakit. Kini, tubuh kekar itu terbaring di ranjang dekat jendela tanpa bergerak sedikit pun. Bukan pingsan, kini Jasper sedang tidur lelap.
"Sama-sama, aku hanya mengerjakan tugasku…" kata Chao sambil tersenyum. Jarang menemukan siswa berparas Asia Tenggara di HIS. Dan ketika melihat siswa ini, Chao seakan teringat kampung halamannya.
"Aku Garuda," kata siswa itu memperkenalkan dirinya.
"Sudah kuduga kau berasal dari Asia Tenggara! Aku Kasem Chao,"
"Aku juga sudah menduganya. Logat Thailand mu sangat kental,"
Chao kembali tersenyum. Entah kapan terakhir kalinya dia melakukan percakapan sesantai ini dengan siswa. Kebanyakan siswa yang lain terlalu kaku dan dingin.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Chao sedikit penasaran.
Dia sudah lama bergelut dalam bidang medis. Sudah sering menghadapi berbagai macam pasien. Dan sembilan tahun di HIS membuatnya terbiasa menghadapi kondisi tubuh para siswa. Namun, baru kali ini dia menghadapi Jasper. Dan baru kali ini dia merasakan hal yang aneh pada tubuh seorang siswa. Pada siswa lain, ketika baru mendapatkan kecelakaan atau apapun yang membuat tubuh melemah, denyut jantung akan berada di bawah rata-rata. Respon terhadap rangsang akan berkurang, dan kulit biasanya memucat.
Namun, apa yang dia temukan pada Jasper justru berlainan. Kondisi tubuh Jasper bisa dibilang sangat normal. Padahal, luka yang dialaminya cukup banyak. Itulah yang membuatnya penasaran. Sebenarnya, apa yang baru dialami Jasper?
"Oh, aku tidak tahu cerita lengkapnya, tapi… dia jatuh dari balkon asrama,"
Chao terkejut, "Bagaimana bisa?"
"Nah, itulah masalahnya. Ada yang bilang, Arthur yang mendorongnya jatuh…"
Chao memotong, "Arthur? Tidak mungkin, Garuda,"
Gara mengernyit, "Mengapa tidak?"
"Nanti juga kau tahu. Arthur bukan tipikal yang cocok sebagai tersangka,"
Chao telah selesai mengepak alat-alatnya. Dia bangkit, "Aku tinggal dulu, yah. Jika kau butuh bantuan, bunyikan saja bel itu," katanya menunjuk pada sebuah lonceng kecil yang berada di sisi kanan tempat tidur. Lonceng itu menempel ke dinding.
Sekarang, ruangan besar itu hanya dihuni oleh mereka berdua. Jasper si pasien, dan pendampingnya –Nesia. Suasana ruangan benar-benar hening. Bahkan, bunyi detakan jarum jam di ujung ruangan dapat terdengar nyaring. Sebenarnya, itu karena gema yang ditimbulkan ruangan besar ini. Semilir angin berhembus dari jendela besar yang berada di belakang ranjang Jasper.
Semua hal yang berada di ruangan ini membuat Nesia mengantuk. Matahari bahkan belum tinggi, namun dia sudah mengantuk. oh, tidak…
Jika dia hanya membuang-buang waktu seperti ini, maka misi utamanya berada di HIS terancam gagal. Keberadaan LS dan Lukas cukup mengganggu, sekarang ditambah Jasper. Dia tak mungkin meninggalkan Jasper begitu saja. Meski dia baru mengenalinya dalam waktu dua hari, tapi perasaannya mengatakan bahwa Jasper adalah sosok baik yang dapat dipercaya. Nesia menatap wajah Jasper. Dia berharap, wajah inilah yang nantinya akan membantu tugasnya di HIS.
Nesia bangkit dan berjalan menuju jendela besar di belakang ranjang. Dia berusaha keras mengusir rasa kantuk dengan memenuhi pikirannya. Apa yang selanjutnya harus dia lakukan? Dan bagaimana dia menyingkirkan Lukas dari wilayahnya? Harta curian apa yang telah dirampas HIS dari kantornya? Siapa Arthur sebenarnya? Apa yang Lukas kerjakan di HIS?
Pikiran-pikiran itu semakin banyak hingga menutupi rasa kantuk yang tadi dialaminya. Nesia terus berjalan hingga tiba di depan jendela. Dia menyandarkan kepalanya ke bingkai kayu itu.
Pemandangan yang dilihatnya cukup menyejukkan mata. Dia baru tahu HIS memiliki taman labirin yang klasik seperti ini. Meski beberapa dinding mulai berantakan, tapi bentuk asli labirin masih terlihat jelas. Cukup rumit polanya. Nesia sendiri tak yakin bisa sampai ke pusatnya dan keluar dengan selamat. Siapa yang tahu? Barangkali banyak jebakan dipasang di labirin itu. Dia salut dengan wanita berambut platinum yang baru saja keluar dari labirin…
What?!
Nesia langsung bersembunyi di bawah jendela. Dia berharap wanita itu tidak melihatnya. Wanita? Bukankah suatu larangan wanita memasuki kawasan HIS? Well, dirinya memang terlanjur menyalahi aturan. Kecuali, jika wanita itu memiliki izin atau semacamnya, seperti Alice yang memang bekerja di dapur. Alice sendiri dibatasi teritorinya. Sudah seperti wilayah perang saja.
Mengapa wanita itu keluar dari labirin? Apa sebelumnya dia masuk kesana, atau bagaimana?
Pikiran Nesia bertambah. Belum sempat dia memikirkan jalan keluar misinya, kini bertambah lagi satu keanehan HIS. Ternyata perkataan Logan patut diperhitungkan. HIS mungkin bukan benar-benar sebuah sekolah.
Ranjang yang berada di belakangnya berderit.
"Eukh…" erang Jasper, membuat Nesia segera berlari ke arahnya. Urusan wanita itu bisa disimpan.
"Kau sudah baikan?"
Jasper sedikit membuka matanya, "Gara,"
"Kenapa? Kau memerlukan sesuatu?"
Jasper menggerakan jari-jarinya, mengisyaratkan Nesia agar mendekat.
"Kemarilah,"
Nesia mencondongkan kepalanya ke arah Jasper.
"Kau harus membantuku. Kau harus melindungi harta HIS dari Arthur…"
Belum sempat Jasper meneruskan kalimatnya, Nesia sudah berteriak histeris, "APA?!"
Jasper mengelus telinganya yang sakit akibat teriakan Nesia, "Dengarkan aku dulu!"
"Maaf, maaf…"
"Kau harus pergi ke ruang penyimpanan arsip HIS, kau harus…"
"Tunggu," kata Nesia sebari mengangkat telapak tangannya, menghentikan omongan Jasper.
"Kenapa aku? Kenapa kau yang repot? Kenapa harus kita? Kenapa harus Arthur? Kenapa bukan LS yang mengurusinya? Kenapa kau langsung ingat akan hal itu padahal kau baru sadar? Keganjilan apalagi yang harus aku hadapi disini?! Oww, Tuhanku!" jerit Nesia bagai orang yang baru mendapat surat penggusuran rumahnya.
Jasper hanya tersenyum kecil. Dia bangkit dan duduk di ranjang. "Hanya kita yang tahu, Gara,"
"Ralat! Hanya kau yang tahu!"
"Baik, baik! Aku baru saja akan memberitahumu,"
"Memberitahu apa?"
"HIS mempunyai harta kuno yang tak ternilai harganya. Harta itu benar-benar ada, dan berada di wilayah sekolah…"
Nesia mengangguk-ngangguk, "Lalu? Mengapa harus kita amankan jika harta itu sudah tersimpan aman sejak dulu?"
"Arthur!" seru Jasper dramatik. "Sebentar lagi tahun kelulusan Arthur. Dan satu-satunya tujuan dia bersekolah disini adalah untuk mencari tahu tentang harta itu. Aku tahu, karena aku mengawasinya sejak tahun pertama kami,"
"Jadi… itu alasan kau berkelahi dengannya di balkon?"
Jasper mengangguk pasti, "Jika kau tidak cepat, Arthur akan mendapatkan harta itu,"
Nesia masih tak mengerti. Jika Arthur memang mengincar harta itu sejak awal, mengapa dia baru berniat mencurinya sekarang? Apakah bertahun-tahun tidak cukup baginya untuk menemukan harta berharga di suatu wilayah terbatas –seperti HIS? Lagipula, jika Arthur berhasil membawanya keluar HIS, bukankah dia menjadi buronan polisi?
"Tapi, Jasper, jika Arthur…"
"Untuk melindungi dirinya dari tuduhan, Arthur menyusun rencana untuk mendapatkan jabatan tinggi selama bertahun-tahun di HIS, dan dia berhasil. Kini, dia tinggal memanen hasil usahanya itu," jelas Jasper seakan menerawang pikiran Nesia.
Seingatnya, Arthur memang memiliki jabatan yang cukup tinggi. Bahkan hanya dua tingkat di bawah kepala sekolah. Arthur memiliki hak istimewa. Arthur mendapat perlindungan dari berbagai tuduhan. Kecuali, jika dia telah membuat seorang siswa terluka 'parah'. Hanya itu pantangannya. Lalu, semua hak serta jabatannya dicabut. Peraturan yang dangkal, terlalu mudah untuk dimanipulasi.
"Siapa sebenarnya Arthur?" tanya Nesia pada akhirnya.
Dunia apa yang sebenarnya tengah dia masuki kini? Dunia para agen sepertinya? Atau dunia para pemburu harta? Terlalu banyak penjelasan yang dibutuhkannya. Terlalu jauh dari logika, semua peristiwa yang diterimanya. Bahkan, mengingat peristiwa penembakan yang dilakukan Lukas saja, dia masih belum mendapat kesimpulan.
"Arthur adalah sosok mengerikan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kau pernah dengar kabar kalau dia psikopat?"
"Psikopat?" ulang Nesia heran. Mengapa semuanya semakin ngawur saja?
"Kau lihat perilakunya yang seolah-olah merupakan pria Inggris terhormat? Dan aku yakin, kau juga telah melihat ulahnya kepadaku? Well, itu sudah jauh membuktikan bahwa dia psikopat,"
Nesia mengernyit, "Jasper… mengapa kau memberitahuku semua ini?"
Nafas yang tertahan, akhirnya Jasper hembuskan, "Aku hanya ingin kau mempercayaiku. Itu saja…"
Pupil mata Nesia seringkali melebar ketika berhadapan dengan manik hijau milik Jasper. Dan kini, itu terjadi lagi. Bagaimana dia tidak percaya? Selama ini, Jasper yang selalu membantunya. Dia ingat, saat peristiwa penembakan itu, Jasperlah yang mengamankan Lukas, Jasperlah satu-satunya orang yang berlari mengejarnya ke asrama. Jasper yang selalu menanyakan keadaannya. Hanya Jasper satu-satunya orang Belanda terbaik yang ditemuinya. Jasper…
Tunggu, jangan bilang bahwa dia jatuh cinta lagi! Sudah berkali-kali dia mendapat teguran dari Logan untuk tidak jatuh cinta ketika sedang bertugas. Cinta hanya akan menghambat semuanya. Cinta hanya akan menimbulkan human error pada setiap misi. Orang terakhir yang membuatnya jatuh cinta, adalah penjahat utama. Penjahat yang selalu mengincar nyawanya. Untung saja Logan datang tepat waktu, ketika belati itu hampir menembus jantung Nesia.
Oke, itu masa lalu. Kini, dia yakin telah jatuh cinta pada orang yang tepat. Sudah lama Nesia tidak merasakan adanya kehadiran seseorang yang secara tulus mengkhawatirkannya. Well, setidaknya Jasper terlihat seperti itu. Terakhir kali dia memiliki sosok seperti itu, adalah ketika masih mengemban status sebagai pengangguran dan tinggal di rumah ibu angkatnya.
"Gara…" panggil Jasper menarik Nesia kembali ke dunia nyata. "Maukah kau melakukannya? Untuk HIS, untuk kita semua. Jika kau berhasil, bukan tidak mungkin, jabatan Arthur akan berpindah ke tanganmu…"
Nesia sedikit ragu, meski sebenarnya, memang untuk ini dia ditugaskan ke HIS. Namun, bagaimana jika LS menemukannya? LS bisa saja lebih mempercayai Arthur ketimbang fakta yang diketahuinya. Dan jika itu terjadi, bukan hanya dirinya yang akan terlibat masalah, tapi juga Jasper. Arthur si psikopat pasti telah membuat alibi untuk kejadian di balkon tadi. Tapi jika Nesia tidak melakukannya, misinya di HIS akan gagal, dan Arthur tetap akan menuduh Jasper sebagai tersangka.
Pada akhirnya, Nesia harus melakukannya. Nesia harus memulai aksi nyatanya di hari kedua ini.
"Aku bersedia, beritahu aku apa yang harus dilakukan,"
.
"Ivan!" seru sebuah suara diiringi dobrakan pintu yang membuat Ivan terkejut.
"Ahh! Natalya, aku sudah bilang jangan…"
Wanita itu memotong kalimat Ivan, "Kejadian apa yang baru terjadi di HIS? Siswi-siswi Canna sibuk bergosip mengenainya,"
"Hmm, ada kecelakaan lagi," gumam Ivan kembali melanjutkan pekerjaannya di meja.
Rasanya dia enggan mengurusi hal itu. Lagipula memang bukan kewajibannya. LS sudah mengambil alih setengah dari tugasnya sebagai kepala sekolah. LS dan LS, rasanya dia ingin membubarkan LS -kalau itu mungkin. Anak-anak yang belum cukup umur itu hanya akan semakin sombong bila diberi kekuasaan lebih. Seandainya dia bekerja di sekolah biasa –bukan HIS, maka apa yang dihadapinya paling-paling kenakalan remaja biasa. Seperti contek-mencontek atau vandalisme.
Natalya berjalan ke arahnya. Kemudian, dia duduk di atas meja, di samping berkas-berkas yang sedang Ivan kerjakan.
"Benar Arthur yang terlibat?" tanya wanita itu dengan suaranya yang tegas.
"Da. Dia membuat seorang siswa bernama Jasper jatuh dari balkon lantai dua,"
Natalya mendecak prihatin, "Mengapa kau masih disini?"
Ivan mengernyit, "Apa maksudmu? Ini memang kantorku,"
"Tidak, bukan. Maksudku, kenapa kau tidak menginterogasinya sebagai tersangka?"
Natalya belum mengerti juga, "LS, Natalya," kata Ivan dingin.
"Oh, aku lupa…"
Ivan tak memberikan respon apa-apa lagi. Dia terus mengerjakan apa yang masih bisa dikerjakannya. Apapun, selain mengurusi kejadian-kejadian aneh yang tidak berpola dan mengurusi harta HIS. Persetan dengan harta itu.
"Nat, kau sudah mengunci tingkap dari labirin itu?" tanya Ivan tiba-tiba teringat.
"Sudah,"
Kini, Natalya telah berpindah posisi. Dia berbaring di tempat favoritnya –sofa depan perapian.
"Yakin tak ada yang melihatmu masuk?"
"Yeah, taman itu kosong seperti biasa, siswa-siswa sedang berada di kelas. Kenapa?"
Ivan sedikit tersenyum, "Kau tak tahu betapa berharganya lorong itu…" gumamnya hampir tidak terdengar.
Natalya mengalihkan pandangannya pada Ivan. Pria itu masih melakukan aktivitas seperti sebelumnya, namun ekspresi wajahnya kini berubah. Dia tersenyum, tapi ada suatu keganjilan dalam senyumannya. Keganjilan yang membuat dirinya merinding.
"Kau kenapa, Ivan?"
Ivan terkekeh sendiri, "Mereka terlalu sombong…"
Natalya mengernyit, "Siapa?"
Sejurus kemudian, raut wajah Ivan kembali normal. "Tidak, Natalya. Aku hanya bergumam pada diriku sendiri,"
.
"Wah, Arthur. Itu tuduhan yang cukup serius," komentar Gilbert setelah selesai mendengarkan cerita Arthur tentang mimpi, pendapat, serta teorinya.
Pertama, menurut pendapat Arthur, Gara adalah seorang agen wanita yang sedang menyamar. Agak mirip dengan teorinya. Kedua, Jasper adalah seorang mata-mata. Dia memiliki hubungan dengan kejadian penembakan, juga dengan Lukas. Oh ya, dan Lukas juga menurutnya adalah seorang mata-mata.
"Kita semua punya pendapat," kata Arthur sebari mencondongkan tubuhnya ke meja.
"Dan kau berharap kami mempercayai pendapatmu itu?"
"Well, memang agak sulit, tapi… ya, aku berharap kau mempercayainya,"
Gilbert sedikit menggeleng, "Arthur, bahkan Ivan tak mungkin mempercayainya. Kita semua memang boleh berpendapat, tapi kau harus memiliki bukti agar pendapatmu dapat dipercaya,"
Gilbert menolehkan pandangannya pada kaca satu arah. Alfred yang berada di baliknya segera menyadari maksud Gilbert.
"Kiku?" tanya Alfred selanjutnya.
"Anehnya… jujur, Al,"
Alfred tak mengerti. Bagaimana bisa omong kosong itu merupakan suatu kejujuran? Siswa yang melompat dengan sendirinya, lelaki yang sebenarnya perempuan, siswa yang sebenarnya seorang mata-mata? Mungkin, masalah mimpi masih bisa diterimanya. Tapi, soal Jasper?
Tiba-tiba pintu keluar yang berada di ruang pemantauan terbuka lebar. Sosok tampan dengan kulit tan yang terbakar matahari melangkah masuk. Di belakangnya, dua orang yang berkulit pucat mengikuti. Mereka adalah Antonio, Lukas dan Ludwig. Raut mereka terlihat sangat serius dan tegas.
Alfred yang menyadari kedatangan mereka segera berbalik.
"Dari mana saja? Kiku telah mendispensasikan kalian sejak tadi pagi,"
Antonio menjawab tak kalah dingin, sangat jarang dia berbicara dengan nada seperti ini.
"Kami baru saja menyelesaikan diskusi mengenai pemecahan masalah ini,"
Alfred melipat kedua lengannya di atas dada, "Oh, forum dalam forum, rupanya…"
Antonio maju beberapa langkah mendekati Alfred, "Kami melakukannya untuk LS! Harusnya kau mengerti, kita sudah terlalu banyak menghadapi masalah dalam dua hari ini! Tolong berhenti bersikap egois!" bentak Antonio penuh emosi. Suaranya yang lantang masuk lewat mikrofon dan terdengar oleh Gilbert.
"Aku tak menyuruhmu berteriak!" balas Alfred tak kalah lantang.
Gilbert tersadar ada yang tidak beres di ruang pemantauan. Suara-suara teriakan itulah yang membuatnya tahu. Dia segera bangkit, kemudian berjalan menuju ruang pemantauan. Ditinggalkannya Arthur yang merasa kebingungan.
"Ada apa, Gil?" tanya Arthur ketika Gilbert membuka pintu menuju ruang pemantauan.
"Sebentar," jawab Gilbert sebari mengisyaratkan Arthur agar tetap berada di posisinya.
Pintu itu dibukanya perlahan. Dan perlahan juga, suara-suara teriakan semakin jelas terdengar. Kini, ruangan itu terisi oleh lima orang anggota LS –tak termasuk dirinya. Suasana diantara mereka diisi oleh ketegangan. Ditambah adu mulut yang masih terjadi antara Alfred dan Antonio.
"Ada apa ini?" tanya Gilbert menghentikan perseteruan Antonio-Alfred.
Tiba-tiba Lukas menjawab, "Kami bertiga telah menemukan sebuah fakta yang mungkin… bisa dikatakan menarik,"
"Fakta apa?" sambung Gilbert dingin. Beraninya anggota berstatus asing ini bicara dalam forum.
"Fakta yang dapat menjelaskan keganjilan pada alat pemindai ini. Bukan begitu, Kiku?"
Kiku menoleh dengan tatapan yang bingung. Lukas adalah seniornya di HIS, dan dia tak berani untuk menentang. Apa yang dimaksud Lukas, sebenarnya Kiku tak mengerti. Tapi, ya sudah, yang penting dia memberikan jawaban yang positif.
"Aku memang menemukan keganjilan. Alat ini selalu mengatakan bahwa Arthur berkata jujur,"
"Tepat! Antonio, tolong jelaskan teori selanjutnya. Mungkin aku tak cukup pantas berbicara di forum ini," kata Lukas sebari melirik pada Gilbert.
Gilbert jadi terbawa emosi. Berani benar Lukas membuat teori! Mempengaruhi teman-temannya pula. Gilbert tak mau percaya padanya. Sekuat apapun teori yang dia kemukakan, Gilbert jauh lebih mempertimbangkan spekulasi Arthur. Jauh dalam hatinya, Gilbert lebih mempercayai omong kosong Arthur, dibanding fakta milik Lukas.
Antonio sempat menghela nafas sebelum kembali berbicara. Rasanya tak tega menuduh ketua sendiri sebagai tersangka. Tapi, apa boleh buat. Sejauh ini, hanya teori itu yang dapat diterima nalarnya.
"Arthur…" kata Antonio, kembali membuat jeda. "…dia adalah seorang agen yang ditugaskan untuk merusak HIS dari dalam,"
.
.
To Be Continued...
.
.
POJOK AUTHOR (GALAU)
Fusosososososososo...
Akhirnya beres juga chapter 8 yang penuh perjuangan ini :'). Saya sempat galau nih, bingung cara menjelaskan situasi genting di HIS, dan bingung harus mulai dari mana... Saya berencana membuat cerita yang disusun rapi dari awal, dan... tiba-tiba semuanya meledak berkeping-keping. Tapi apa daya, masih cupu dalam membuat fic yang bagus. Maap sekali lagi .
Sepertinya chapter 9 akan lebih panjang T.T
Semoga chapter ini bisa memuaskan para reader, yah :3 Kalau tidak... ya sudahlah, yang penting saya sudah berusaha membuatnya dengan segenap aura positif yang ada *EEAA* AWEUU*Mengkopi Kiku
Ngomong-ngomong kalo ceritanya makin ngawur... maap-maap aja nih yah wkwkwk :3
Coba, saya pingin nguji sejauh mana analisis kalian pada tokoh jahat di cerita ini. Menurut kalian nih, siapa sih tokoh antagonisnya?
Ditunggu jawabannya yaaah...
Makasih sudah baca, maap nih kalo garing (baik fic maupun pojok authornya).
Eh iya lupa... Reviewnya juga ditunggu :3 Tiap kali review nambah tuh rasanya bagaikan terbang ke langit ke tujuh, ketemu Arthur yang naik unicorn (emang unicorn bisa terbang?), kemudian dilempar ke samudra antartika dan ketemu Lukas yang lagi berlayar, dihempaskan ke ladang tulip dan bertemu Jasper yang lagi piknik *mimisan*ditabok*
Salam,
Warmlatte.
Udah aja, garing...
.
Mau jawab :
HetaliaFeliciano: Hai! lama tak jumpa :3 (emang pernah jumpa?*ditampar* wkwk) Wah, semangat ujiannya! Maap maap nih telat nyemangatin wkwk Wahh ayoo selamat menganalisis lagii... cerita akan terus bergulir bagai roda motor Ducatinya Alfred (apasih). Makasih udah review yaah!
