Warning!

Dalam rangka memberi kejelasan akan kelanjutan kisah ini, saya selaku author memutuskan untuk ...aduh formal abis

Kita santai aja yaaah...*Mulai gaje*

Cerita ini aku lanjutin, kok! Santai aja hehe tapi itu dia masalahnya. Karena dilanjutin, jadinya makin panjang. Di sela-sela menulis itulah aku gatel pingin ngepost something, akhirnya terbuatlah chapter ini...hehe maaf ya kalo harkos-_- disangka update chapter padahal isinya mirip OVA gitu... Sorry :(

Doain yah semoga cerita ini cepet beres hehe unda gatel nih pingin ganti story stat jadi COMPLETE ! :D

Yang peka pasti bisa meramalkan sesuatu pas beres baca chapter ini... hihihi ;;)

Selamat membacaaaaaa...


.

A Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei

.

Bonus Chapter of Undercover

.

.

The Story of :

Nesia Adiphurusa

Logan

Arthur Kirkland

.

.

.


Nesia.

Sydney, 16 Januari 2011

.

"Baik, Nesia Adiphurusa. Mari kita lihat hasil tes mu…"

Pria muda dengan plester di hidungnya itu membuka map biru tua yang tersimpan di atas meja. Mereka duduk berhadapan, mengapit meja kayu persegi yang mahal. Wanita bernama Nesia Adiphurusa mengenakan stelan blazer berwarna merah marun yang apik. Sedangkan, pria yang duduk di hadapannya mengenakan setelan hitam, dari atas sampai bawah.

"Wah!" kata pria itu setelah selesai membaca hasil tes Nesia.

Tes itu meliputi tes IQ, kesehatan, dan kepribadian. Hari sebelumnya, Nesia menjalani tiga tes itu, dan kini dia dipanggil ke gedung yang sama untuk diwawancarai.

"Hasilnya sangat bagus! Namun, memang ada sedikit masalah dengan umurmu yang terlalu muda, dan… well, tapi tak apa! Jangan terlalu dipikirkan. Nesia, seandainya kau diterima, jabatan apa yang kau inginkan?"

"Hmm, sebenarnya aku tak terlalu bermasalah dengan jabatan apa yang akan aku dapatkan nanti. Tapi, seandainya aku bisa memilih, aku ingin menjadi…" Nesia berhenti, seakan takut apa yang akan diutarakannya salah. Namun, Logan bisa mengerti itu. Dia langsung mempersilahkan.

"Oh, santai saja! Ceritakan padaku keinginanmu, aku tak keberatan mendengarkan. Sambil kau bercerita, aku ingin minum kopiku dulu…"

Logan menyambar cangkir putih yang berada di sisi kanan meja. Dia meminumnya perlahan, seakan benar-benar menikmati teguk demi teguknya.

"Sejak dulu, sebenarnya aku sangat ingin menjadi sekretaris di perusahaan…"

"Uhuk! Uhuk!" Logan tersedak air kopinya sendiri. Dia terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan cairan yang salah masuk ke tenggorokannya.

"Maaf, kau tak apa-apa?" kata Nesia khawatir. Logan tak menghiraukannya.

Setelah Logan berhenti terbatuk-batuk, dia menatap Nesia dengan raut yang amat serius.

"Apa kau tahu kau sedang melamar kerja pada siapa?" tanya Logan.

Nesia merasa heran, "Tentu saja, Menara Cardin lantai 12, perusahaan Petroleum MM?"

Logan menggelengkan kepalanya, "Kau baru melamar pekerjaan menjadi seorang secret agent, Nesia. Sayangnya, karena kecerdasanmu, kau kuterima. Dan sekarang, kau tak bisa mundur. Kau sudah tahu tentang kami, dan kau harus tetap merahasiakannya. Bersiaplah,"

"A…APA?! Jadi? Tunggu! Bersiap? Bersiap untuk apa?!"

Logan mengambil sebuah benda dari kantung jasnya. Kemudian, dia meletakannya di meja.

"Pernah menggunakan ini?"

"PISTOL?!" pekik Nesia syok. Baru kali ini dia melihat senjata api dari jarak yang begitu dekat.

"Glock! Dia disebut Glock, Nesia! Kau belum pernah menggunakan senjata?"

Nesia menggeleng. Wajahnya memucat.

"Santai saja. Kalau begitu, mulai besok kau harus bangun lebih pagi. Sangat pagi, pukul lima, bagaimana?"

"APA?!"

"Mulai besok, aku akan melatihmu tentang bela diri dan segala tetek bengeknya."

"Tapi…"

"Sayang sekali jika kecerdasanmu itu hanya dipergunakan untuk menyusun file…"

Tiba-tiba saja perut Nesia terasa teraduk-aduk. Perasaan stress bercampur dengan ketakutan, tekanan, dan pikiran-pikiran negatif yang menghantuinya. Dia? Wanita biasa, menjadi seorang secret agent ?

"Maaf, aku ingin muntah," kata Nesia segera berlari keluar ruangan.

.


Logan

Sydney, 10 Juli 2010

.

"Good job, agent!" puji seorang pria tua yang menjabat sebagai atasan Logan.

Logan hanya balas tersenyum.

Dia baru saja membunuh seorang petinggi militer Belarus yang sedang merencanakan sebuah kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Namun, secara tidak sengaja, Logan ikut membunuh istri sang target. Jika saja wanita itu tidak berusaha menembaknya mati, Logan pun tak akan berani-berani melukainya. Belum lagi anak perempuannya yang berusaha menusuk Logan dengan sebilah pisau. Untung saja Logan bisa mengendalikan diri, dia tidak menghabisi anak perempuan itu.

Mungkin jika dia melakukan misinya di kantor si target, misinya akan berjalan lebih mudah. Logan tak menyangka keluarga pejabat seperti itu memiliki kemampuan beladiri yang bagus. Yah, yang penting dia berhasil menuntaskannya.

Setelah berhasil menuntaskan misinya, Logan kembali mendapat misi untuk menyusup ke pemerintahan Kerajaan Norway. Dia ditugaskan atas nama Kerajaan Inggris, secara rahasia tentunya. Dengan memakai jasa agen swasta, resiko yang akan ditanggung sebuah negara dalam kegiatan spionase lebih kecil. Kalaupun keberadaan agen itu terdeteksi, identitas agen hanya akan menunjukan dari organisasi apa dia berasal, bukan untuk siapa dia bekerja. Itulah kelebihan jasa agen swasta. Namun, seorang agen negara, begitu terungkap identitasnya akan diketahui untuk negara mana dia bekerja. Inilah yang memicu perang spionase antar negara.

Sebelum kembali ke bandara, Logan memutuskan untuk sedikit bersantai terlebih dahulu di griya tawangnya di Sydney.

Logan menuang vodka –nya ke dalam cangkir kristal yang klasik. Setelah mendapat satu tegukan, Logan berjalan menuju balkon. Dia bersandar pada batas balkon, kemudian menikmati pemandangan laut dari lantai sepuluh.

Ketika itu, matahari telah tenggelam. Bulan purnama memantulkan bayangan keperakan di atas permukaan air laut. Pelabuhan Sydney yang sibuk tampak dipenuhi kilauan lampu.

Logan tersenyum miris.

Sampai kapan dia bertahan dalam hidupnya yang seperti ini? Berapa nyawa lagi yang harus direnggutnya?

Logan memang mendapat banyak harta dari pekerjaan ini. Dia juga mendapatkan banyak keahlian yang luar biasa dari pekerjaannya, keahlian diatas rata-rata manusia pada umumnya. Namun hanya itu. Dia tidak memperoleh kebahagiaan atau setidaknya bertemu "the one".

Enam bulan lagi akan dibuka pendaftaran agen baru. Logan harap, salah satu dari mereka bisa menggantikan posisinya, atau mungkin membuat hidupnya agak lebih berwarna.

Entahlah, dia punya firasat baik untuk kegiatan itu.

..


Arthur

London, 20 Juli 2014

.

Sebuah Rolls-Royce Silver Wraith membelah jalanan London dengan kecepatan sedang. Di dalamnya duduk dua orang penumpang, satu supir, dan satu penjaga. Kedua staff pekerja itu berpakaian stelan hitam rapi. Sedang kedua penumpangnya, berpakaian Inggris klasik. Nyonya besar dan putranya itu sangat elegan. Terutama putranya yang sangat tampan, mampu menyihir pandangan orang-orang yang berada di trotoar. Mereka berdua adalah anggota keluarga Kirkland. Salah satu keluarga bangsawan yang sangat disegani di Inggris.

Hari ini adalah hari pertama Arthur Kirkland masuk sekolah tingginya –HIS. Sekolah paling mahsyur di Eropa, dan mungkin di dunia. Tak banyak yang diterima di sana. Hanya pria-pria istimewa yang mampu lulus tes masuk HIS. Mungkin perbandingannya sekitar seribu banding satu, untuk peluang diterima disana.

Untungnya, Arthur termasuk salah satu pria istimewa itu.

Dalam empat tahun ke depan, Arthur akan menjalani sekolah semi-militer yang berstandar tinggi. HIS menjamin semua siswanya akan mencapai cita-cita mereka ketika sudah lulus nanti. Dan itu memang terbukti, hampir semua lulusan HIS menempati jabatan-jabatan penting di tempat mereka bekerja.

Cita-cita Arthur adalah menjadi seorang pembuat strategi. Sayangnya, dia tidak pernah bilang akan menjadi pembuat strategi apa nantinya.

"Kau siap, Arthur?" tanya Lady Kirkland dengan suaranya yang halus.

Lady Kirkland seharusnya sudah terlihat seperti seorang nenek-nenek sekarang, jika kita mengetahui umur aslinya. Tapi, pada kenyataannya, dia masih terlihat segar dan modis. Bahkan terbilang sangat cantik jika dibandingkan dengan wanita lain yang empat tahun lebih muda darinya.

Arthur mengangguk sopan.

"Oh, ya, kau sudah berumur 18 tahun…"

"Lalu?" tanya Arthur dengan nada datar, sebenarnya dia sudah tahu kemana arah pembicaraan ibunya.

"Ibu sudah mendapatkan calon yang tepat untukmu,"

"Siapa?"

"Marianne Bonnefoy. Dia sangat cantik, pintar, berjiwa sosial yang tinggi…"

"Tidak."

Victoria Kirkland tertawa lirih, "Apa?"

"Aku hanya menikahi wanita yang ingin aku nikahi,"

"Jangan bodoh! Kau akan berada di HIS dalam empat tahun ke depan. Kau hanya akan bertemu pria disana! Bagaimana kau akan mencari wanita?"

"Tak usah khawatir. Aku akan membawa wanita saat pulang nanti…"

"Bagaimana kau-…" Victoria terhenti, matanya terbelalak memandang keluar jendela.

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah pintu masuk dengan pagar beton yang tinggi bertuliskan HIS.

"Kau yakin ingin masuk HIS, Arthur?" tanya Victoria lirih.

Arthur tersenyum penuh kebanggaan, "Sangat yakin,"


Pojok Author

.

Sekian lama~ aku menunggu.. untuk~ kedatanganmuu~

Datanglaaah~ kedatanganmu kutunggu~

Anda ingat lagu itu? Ya, mungkin sangat cocok untuk cerita ini.

Sekian lama, saya menunggu...

Ini cerita kenapa gak beres2?! itu yang review udah pada rusuh gara2 ceritanya ngegantung...

Maafkan saya yah... saya gak bermaksud untuk gak ngelanjutin kok! Hanya saja... banyak halangan hehe

Bagian ini memang cuma bonus chapter yang... yaaa~ sejujurnya kalo menurut saya agak boring ya? hehe *dimasukin ke karung*ditimpukin*

Tapi! Ini adalah pembuktian saya, bahwa saya masih suka ngurusin fanfic-fanfic saya *jih*timpuk gayung*

Mohon Reviewnya yah ! hehe... Rindu dapat notif review :') hiks T_T

.

Salam Hangat/Panas/Hot(?),

Warmlatte