.

(Warning : OC, OOC, AU, typo, dan masih banyak lagi~)

.

A Hetalia Fanfiction

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya -sensei

.

.


.

Nesia berlari menuju ruang bawah tanah, yang menurut instruksi Jasper, adalah jalan menuju ruang penyimpanan arsip. Sol sepatu yang beradu dengan tangga besi menimbulkan bunyi nyaring yang bergema. Nesia menuruni tangga yang entah membawanya ke tempat macam apa. Nesia menyimpulkan bahwa HIS benar-benar menyembunyikan ruang penyimpanan arsip. Bahkan dirinya pun tak menyangka bahwa jalan kumuh inilah yang akan membawanya ke tempat paling berharga itu.

Tangga itu berputar menuruni sebuah lorong dengan bentuk vertikal. Bentuknya mirip dengan jalan menuju bunker perang. Lorong tersebut terlihat tak berujung. Nesia hanya mengandalkan sebuah senter mini yang dipinjamnya dari Dr. Choi. Tanpa peta, atau petunjuk lainnya, Nesia berjalan menuruni wilayah asing itu seiring atmosfer dingin membuat bulu kuduknya merinding. Tempat itu gelap, sempit, dan begitu lembab. Tak jarang Nesia hampir terpeleset ketika bertemu dengan genangan air kotor yang agak kental.

Setelah beberapa lama, lorong vertikal itu mulai menampakkan dasarnya. Nesia akhirnya dapat menjejakkan kakinya ke tanah. Dia mengarahkan senter kecilnya ke sekeliling, berusaha mendapat gambaran akan dasar yang dia temui. Nesia menyinari bagian kanan, kiri, kemudian bagian depan dan belakang. Masih tak percaya, Nesia pun mengarahkan senternya ke tanah. Oh tidak, dia bertemu jalan buntu.

Bata merah, bata merah, bata merah, dan disusul lagi dengan jenis pondasi bangunan yang sama –bata merah. Nesia kembali berpikir apakah dirinya yang salah menginterpretasikan instruksi Jasper, atau memang ruang penyimpanan arsip HIS tak pernah ada. Dan mungkin Arthur juga bukan seorang mata-mata. Nesia masih ragu akan tuduhan itu.

Di tengah kegundahannya, Nesia kembali memutar akal.

HIS adalah sekolah istimewa. Semuanya di HIS serba menggunakan otak. Bahkan praktek fisika yang mudah, dibuat sulit dengan diterapkannya ilmu tersebut ke dalam teknik menembak. Dan mungkin, hal macam itu juga yang terjadi disini. Mungkin, menemukan ruang penyimpanan arsip tak semudah menemukan ruang kelas yang lain. Pasti ada sesuatu yang harus dilakukan Nesia agar pintu menuju ruangan itu terbuka.

Nesia berjalan mendekati dinding. Menyoroti satu persatu bongkahan bata merah yang telah dilapisi lumut. Pada lapisan lumut yang paling tipis, dia tempelkan telapak tangannya, kemudian menggosokannya ke permukaan bata. Nesia berusaha menyingkirkan lapisan lumut tersebut.

Selalu ada alasan dari setiap peristiwa. Dengan lingkungan yang sama, tak mungkin lumut di ruangan ini tumbuh tidak merata. Kecuali, tempat ini sering diusik di bagian tertentu saja. Mungkin tidak terlalu sering, tapi sisa campur tangan manusia selalu terlihat jelas. Dinding yang berlapis tipis lumut adalah salah satunya. Dinding ini pernah diusik, dan Nesia untungnya dapat melihat hal itu.

Setelah hampir semua lapisan lumut tersingkirkan, barulah nampak sebuah tombol rahasia diantara dua bongkah bata merah tersebut. Nyaris tidak terlihat, karena keberadaanya menyatu dengan dinding. Nesia tersenyum puas. Selalu sesuatu yang rumit yang membawanya ke sesuatu yang berharga. Dengan perlahan, dia menekan tombol persegi itu.


.

"Arthur…" kata Antonio, kembali membuat jeda. "…dia adalah seorang agen yang ditugaskan untuk merusak HIS dari dalam,"

Gilbert melotot, tapi lama-kelamaan dia terbahak, "Agen? Merusak HIS dari dalam? Apa yang sedang kita bicarakan sebenarnya?"

"Jangan meremehkan situasi ini, Gil," ujar Lukas ketus.

Gilbert langsung berhenti,"Oh, jadi sekarang kau yang menganggapnya serius?"

"Apa maksudmu?"

Gilbert berdecak, "Kau lupa apa yang telah kau perbuat, wahai penembak?"

Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Gilbert. Sedang, iris merah itu hanya menatap pada satu arah. Gilbert menatap Lukas dengan pandangannya yang dingin.

"Aku punya alasan, jika masalah itu yang kau…"

"Beritahu kami." potong Gilbert.

Lukas menghembuskan nafasnya. "Baik…Aku berusaha membuat situasi yang tidak kondusif di HIS…"

Kiku memperhatikan satu-persatu air muka rekan-rekannya. Otot-otot di sekitar kening mereka menenggang, alis mereka menukik, dan semua pandangan itu fokus. Mereka sedang berpikir.

Kemudian, Kiku mengalihkan pandangannya ke ruang interogasi. Arthur sedang termenung disana, memikirkan sesuatu yang tak dapat Kiku prediksikan. Kondisi fisiknya tampak sangat buruk.

"Untuk apa?" tanya Gilbert lagi, suaranya dingin dan ketus.

"Untuk membuka identitas dua mata-mata kita,"

"Dua?" tanya Alfred bingung.

"Arthur dan Gara."

"Kau bercanda?" sela Gilbert.

"Bukankah kau sendiri yang bilang? Aku masih ingat teorimu. Kau bilang Gara adalah seorang mata-mata, dan hanya aku yang mengetahui identitas aslinya. Ya! Teorimu benar, Gil. Memang itu yang sebenarnya terjadi. Itulah alasan aku menembaknya. Aku ingin kalian membaca petunjukku tentang Gara. Aku ingin kalian lebih… memperhatikannya,"

Gilbert memang pernah mengeluarkan teori macam itu. Tetapi hanya karena Lukas tidak juga mau membuka mulut. Gelagat Gara memang sedikit mencurigakan, namun itu tidak membuktikan bahwa dia adalah seorang agen intelejen. Teori yang dibuatnya waktu itu sangat dangkal.

"Mengapa kau tidak langsung memberitahukannya pada kami?" kata Kiku.

"Apa kalian akan langsung mempercayaiku? Kalian hanya mendengar Arthur, jika aku tidak bertindak… maka suaraku pun tidak akan dipertimbangkan!"

Semuanya diam. Selama ini mereka memang terlalu mengandalkan Arthur, terlalu bergantung padanya. Namun itu semua ada alasannya. Arthur adalah orang yang paling cerdas, paling bisa dipercaya.

Well, beda lagi keadaannya dengan sekarang.

"Lalu… Arthur?" tanya Alfred.

"Menurutmu apa alasannya mendorong Jasper dari balkon?"

"Um… entahlah,"

"Seperti aku yang mengetahui identitas Gara, Jasper mengetahui identitas Arthur. Mereka adu argumen, Arthur tersulut emosi… dan itulah yang terjadi,"

"Bagaimana kau bisa mengatakan semua ini? Apa yang dapat memperkuat argumenmu?" tanya Kiku.

"Itu bukan argumen, Kiku! Itu fakta. Antonio dan Ludwig saksinya,"

"Saksi apa? Saksi kebohonganmu?" sela Gil.

"Kau tidak percaya pada mereka?"

"Gil," ujar Antonio, dia menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa yang dikatakan Lukas memang benar.

"Mereka temanmu, Gil. Bahkan, aku pun temanmu, dulu. Kau tak percaya pada kami?"

"Apa yang kau katakan pada mereka?" gumam Gilbert dengan gigi yang gemertak.

"Gil, kendalikan emosimu," bisik Kiku yang menemukan tangan Gilbert sudah membentuk kepalan.

"Gil, dia adalah seorang agen! Dia bukan bagian dari kita! Aku percaya pada Lukas," timpal Ludwig.

Gilbert menolehkan kepalanya pada Ludwig seraya melemparkan tatapan tidak percaya.

"Bagaimana kau…" lirih Gilbert.

Bahkan Ludwig telah terkena tipu daya Pria Norwegia itu. Hati Gilbert hancur ketika satu-persatu temannya kini lenyap. Mereka yang berkumpul di ruangan ini bukanlah mereka yang dulu. Mereka bukan anggota LS yang dapat dipercayainya seperti dulu. Kini, mereka hanyalah sekumpulan pria asing yang mempermasalahkan identitas siswa lain.

Kemudian Gilbert beralih pada Alfred dan Kiku. Mereka yang masih berpikiran netral adalah sisa anggota LS yang Gilbert harapkan dapat mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Mungkin dirinya masih bisa mempengaruhi mereka.

"Al, Kiku," bisik Gilbert pada kedua pria itu. "Aku lebih mempercayai Arthur…"

"Aku denganmu," balas Alfred yakin.

Gilbert menatap Kiku. Kemudian, pria Jepang itu hanya mengangguk simpul, tanda dia pun berada di pihak Gilbert.

"Kenapa, Gil?" cibir Lukas menghentikan forum dalam forum itu. "Krisis kepercayaan?"

Gilbert tak membalas. Dia sedang menyusun sebuah rencana di otaknya.

"Sekarang begini, lebih baik Alfred dan Kiku pergi menemui Ivan. Kita harus melindungi harta itu dari Arthur. Barangkali Gara sedang berkeliaran di luar sana? Tonio dan Ludwig akan menjaga Arthur, dan kau… sebaiknya pergi ke asrama," terang Lukas seolah mendapat jabatan pemimpin baru LS.

"Apa maksudmu?! Siapa kau seenaknya memerintah kami?!" bantah Alfred seraya mengacungkan jarinya ke depan muka Lukas. Namun Gilbert segera menepisnya.

"Aku tidak bermaksud untuk mengambil jabatan Arthur. Hanya saja, itu mungkin tindakan terbaik yang dapat dilakukan…"

Kiku bangkit seraya berkata, "Aku rasa kita tidak bisa menentukan baik-buruknya tindakan yang kita lakukan di masa kini. Semua bergantung pada takdir. Tindakan yang kita anggap buruk, tidak selalu berakhir buruk. Begitu juga sebaliknya. Mungkin kau menganggap rencanamu yang terbaik. Tapi belum tentu, lagipula… firasatku mengatakan kita harus melakukan tindakan yang lain,"

Lukas menyipit, "Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"

"Aku rasa…"

Tiba-tiba Kiku terhenti karena di bahunya kini terdapat tangan Gilbert.

Pria berambut perak itu menarik Kiku mendekat seraya berbisik, "Cukup Kiku, jangan membuka kartu…"

Gilbert sudah mendapat konsep dari rencana yang akan dilakukannya. Dan firasat yang didapat Kiku menambah kuat konsep itu. Kurang-lebih apa yang direncanakan Gilbert bertentangan dengan apa yang baru saja diintruksikan Lukas.

Gilbert menoleh kepada kedua temannya secara bergiliran. Semoga keputusannya ini tidak salah.

Kemudian dia kembali berbisik, "Dalam hitungan ketiga, Al dan aku akan menahan mereka, kau Kiku, bebaskan Arthur… dia pasti tahu apa yang harus diperbuatnya,"

"Apa yang sedang kalian bicarakan?!" tanya Lukas berjalan mendekati Gilbert.

"Tiga!" seru Gilbert, langsung diikuti gerakan cepat dari kedua temannya.

Aku mempercayaimu, Arthur, batin Gilbert ketika menerjang tubuh Lukas.

.


.

Ada sesuatu yang mengganjal pikiran Logan malam itu. Akhirnya, sepulang lembur dia memutuskan untuk mengunjungi sebuah bar terlebih dahulu. Bar itu berada di pinggiran Sydney. Tidak terlalu ramai dan terkenal, namun merupakan tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu sendirian. Pemiliknya adalah seorang pria gemuk yang ramah. Itu alasan lain mengapa Logan menyukai bar bernama 'Shore' ini.

"Lembur lagi, kawan?" tanya pemilik Shore ketika Logan duduk di meja bar.

"Hmm, aku banyak pikiran," jawab Logan singkat.

"Sepertinya pekerjaanmu itu berat, yah?" kata pemilik bar seraya berlalu untuk membereskan gelas-gelas.

Logan menyetujui pendapat pria gemuk itu. Pekerjaannya memang berat, juga sangat menyita waktu. Jika bukan karena pekerjaannya, mungkin Logan sudah memiliki dua anak saat ini.

Kemudian pikirannya kembali pada permasalahan awal, yaitu misi yang sedang Nesia jalani. Dia baru sadar, merupakan sebuah keganjilan terdapat agen lain di HIS. Belum lagi, agen tersebut telah menjadi mantan agen sejak bertahun-tahun yang lalu. Jika dia tidak memiliki misi apa-apa, lantas apa yang sedang dikerjakannya disana?

Nesia bilang dia telah menjadi siswa HIS selama beberapa tahun. Artinya, dia telah memulai apa yang direncanakannya lebih dulu dibanding Nesia. Sebelum dikeluarkan dari pekerjaannya, Lukas memiliki jabatan yang terbilang rendah. Tidak sepantasnya dia tahu akan keberadaan harta berharga di HIS. Lagipula, agen intelejen negara sepertinya kurang kompeten dalam penyamaran di lapangan. Seharusnya dia tidak bisa bertahan lama, apalagi di sekolah macam HIS.

Atau mungkin, ada seseorang yang meng-cover-nya. Orang itu pastinya jauh lebih mahir dari Lukas, jauh lebih berkompeten. Mungkin orang itulah yang membuat kerja Lukas lebih mudah. Adakah orang seperti itu di dunia ini? well, jika bukan berasal dari dunia agen, mungkin dia berasal dari dunia para penjahat.

Baik, dua orang penyusup laki-laki di HIS, ditambah satu penyusup perempuan yang berasal dari organisasinya. Jika, tujuan Nesia di HIS adalah untuk menuntaskan misinya, lalu apa tujuan kedua laki-laki itu? Mereka tak mungkin menjalankan misi, karena Lukas sendiri bukanlah seorang agen lagi.

Logan meneguk birnya kemudian kembali berpikir.

Atau mungkin mereka adalah pemburu harta?

Tiba-tiba pintu bar terbuka. Seorang wanita berambut ikal memasuki ruangan. Dia mengenakan setelan rapi berwarna merah, serta rok hitam yang panjangnya di atas lutut. Kulitnya berwarna coklat terbakar matahari. Kedua irisnya berwarna hijau. Raut wajahnya kaku, bibirnya membentuk ekspresi yang statis. Wanita itu sangat cantik, sekaligus menyeramkan.

"Ahh, selamat datang!" kata pemilik bar.

Wanita itu berjalan ke arah Logan, kemudian duduk di sebelah kanannya.

"Champagne?" tawar pria gendut itu.

"Vermouth," kata wanita itu ketus.

"Baik…" setelah berlalu dua menit, pemilik bar kembali dengan segelas Vermouth di tangannya.

Wanita itu menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Logan hampir tak percaya ada wanita yang bisa hebat seperti itu.

"Wah, kau mengejutkan juga…" kata Logan pelan.

Wanita itu menoleh pada Logan sebari tersenyum, "Aku sudah terbiasa minum, itu selalu membuatku merasa lebih baik,"

Logan balas tersenyum.

"Aku Lara," kata wanita itu, membuat Logan sedikit terkejut.

"Hai, Lara," balas Logan tanpa bermaksud untuk berkenalan balik.

.


.

Nesia tak mengerti mengapa HIS memiliki standar bangunan jauh diatas rata-rata sekolah swasta lainnya. Bahkan menurutnya, ini sudah terlampau melewati standar bangunan kantor.

Ruang penyimpanan arsip HIS dibatasi dengan lapisan kedap udara. Maka, jika kita berada di dalam ruang arsip, kadar oksigen ruangan harus diatur terlebih dahulu dari ruangan bagian luarnya. Itu dimaksudkan agar kertas-kertas tua yang sudah rapuh dapat terjaga keutuhannya. Nesia pernah melihat tempat penyimpanan arsip yang serupa dengan HIS. Sungguh mengejutkan, karena tempat macam itu ada di Vatikan. Yang berarti HIS memiliki standar yang sama dengan Vatican City.

Nesia berdecak kagum.

Lemari-lemari besi berjajar rapi. Lapisan-lapisan ruangan dibatasi oleh kaca. Dan ditengah ruangan terdapat sebuah meja besi yang berbentuk lingkaran.

Namun, sebelum dapat mengatur itu semua, Nesia harus terlebih dahulu memecahkan passcode yang mengunci ruang penyimpanan arsip keseluruhan. Alat pembuka ruangan itu berbentuk seperti kalkulator digital yang menempel pada lapisan dinding besi yang berada di belakang lapisan bata merah.

Kini, Nesia telah berhasil membobol masuk, bahkan sudah menemukan apa yang dicarinya. Dia juga sudah mendapat kemungkinan tempat harta itu tersimpan.

Dengan membandingkan denah HIS dari tahun ke tahun, Nesia akhrinya menemukan keganjilan. Ada beberapa daerah yang dihapus dari denah semenjak beredarnya kabar mengenai harta itu. Pada denah-denah selanjutnya, perubahan yang terjadi hanya sebagian kecil taman atau ruang penyimpanan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang cepat terdengar mendekat, disusul dengan suara berat dari seorang lelaki.

"APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISINI?!" bentak suara itu, membuat Nesia menghamburkan kertas-kertas denah yang tengah di genggamnya.

Nesia terperanjat, tamat sudah penyamarannya.

"Siapa kau?!" kata suara itu lagi.

Nesia membalikkan badannya. Dia semakin terperanjat ketika menemukan sosok Arthur yang berada di ambang pintu.

"GARA?!"

"ARTHUR?!"

"Gara?! Apa yang kau-? Bagaimana kau-? Arghh! Ada apa dengan dunia ini?!" keluh Arthur sebari mengacak-ngacak rambut pirangnya.

Nesia berusaha berperilaku normal, meskipun keberadaannya disini pun sudah tidak normal.

"Arthur, tenanglah! aku…"

"Kau… bukan siswa Gara!" potong Arthur mendekat dengan cepat, menyudutkan Nesia ke lemari besi. "Aku yakin itu! Tak ada siswa lain yang mengetahui kode itu! Bahkan, tak ada siswa yang tahu keberadaan tempat ini… Apa yang kau inginkan, Gara? Apa yang kau incar dari HIS?"

Nesia melipat kertas denah dan memasukkannya ke saku blazer secara perlahan. Untungnya, Arthur tidak sadar akan tindakan itu.

"Aku bisa menjelaskannya padamu,"

"Aku tak perlu penjelasanmu, aku hanya butuh jawabanmu! Apa yang kau lakukan disini?"

Nesia merasa jantungnya berdegup kencang. Wajah Arthur hanya berjarak empat centi dari wajahnya.

"Bisakah kau menjauh sedikit?"

"Apa?" tanya Arthur bingung.

"Wajahmu… wajahmu terlalu dekat…"

Nesia merasa wajahnya memerah sekarang.

"Apa yang kau pikirkan?! Jawab pertanyaanku!"

"Ivan menugaskanku! Puas? Sekarang mundurlah!" jawab Nesia spontan.

"A…apa?"

"Ya! Dia menyuruhku mengambil sebuah file, kemudian mengantarkannya ke kantor,"

Arthur mengernyit. Itu alasan yang sangat bodoh untuk diterima. Ivan tak semudah itu mempercayai orang. Bahkan dirinya butuh bertahun-tahun untuk tahu keberadaan serta kode untuk masuk ke ruangan ini.

Arthur menjauhkan tubuhnya dari Nesia. "Kenapa dia menugaskanmu?"

Nesia memutar bola matanya, "Karena kalian –LS, sedang melakukan interogasi, bukan?"

Untunglah Nesia sempat mendengarkan gosip dari pria heboh itu tadi pagi. Sekilas, Nesia tahu LS akan mengadakan interogasi terhadap Arthur. Namun, mengapa Arthur ada disini sekarang?

"Kau…" gumam Arthur melangkah mundur, menciptakan jarak yang semakin lebar antara mereka.

"Sekarang, kenapa kau berada disini, Arthur? Kau melarikan diri?" kata Nesia ketika menemukan Arthur yang semakin lengah.

Arthur meneguk ludah. Pupilnya melebar. Dia merasa tersudut, namun berusaha menutupinya.

Dia kemari untuk mencari informasi akan keberadaan harta HIS. Dia harus menemukannya terlebih dahulu, kemudian melindunginya. Arthur tak peduli apa tanggapan Ivan jika mengetahui tindakan sembrono yang dilakukannya ini. Toh, sebagian anggota LS pun berada di pihaknya. Gilbert mempercayainya. Dan, toh! Ada siswa lain yang ternyata mendahuluinya memasuki ruangan ini.

"Siapa yang memberimu akses kesini?" tanya Arthur lagi.

"Kau mengelak dari pertanyaanku!" kata Nesia.

"Siapa kau?" tanya Arthur.

"Mengapa kau tidak bersama LS, Arthur?" balas Nesia.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Kau sendiri?" kata Nesia balik bertanya.

"Apa tujuanmu di HIS?"

"Apa tujuanmu, Arthur?"

"Aku tak mempercayaimu, Gara! Aku tak akan pernah! Kau hanya seorang-…"

"Kau kira aku mempercayaimu? Aku sendiri bertanya-tanya, mengapa seorang psikopat bisa menjadi pemimpin LS?"

Arthur terbelalak, "APA KAU BILANG?!"

Arthur berlari menerjang Nesia. Dia harus menyingkirkan pengganggu ini terlebih dahulu.

SHUSH!

Kepalan tangan Arthur melesat ke arah Nesia. Namun, tinju itu ditangkisnya dengan mudah. Kini giliran Nesia yang menyerang. Nesia memilih teknik menyerang Judo dengan menarik tubuh Arthur kemudian menghempaskannya ke lantai. Sayangnya Arthur tak semudah itu kehilangan keseimbangan. Dia meraih kerah baju Nesia, dan ikut menariknya ke lantai. Mereka berdua ambruk.

Arthur meninju rahang Nesia, Nesia membalas. Arthur membanting kepala Nesia ke lantai, Nesia membalas. Arthur menggulingkan lawannya, kini dia berada di atas tubuh Nesia. Nesia tak bisa membalas. Pergerakan tangannya terkunci. Arthur melesatkan tinju bertubi-tubi ke arah rahang Nesia, menyebabkan kulit wajah agen itu robek dan mengeluarkan darah.

Nesia berusaha membalikkan keadaan. Dia menendang Arthur hingga tubuh pria itu membentur lemari besi. Nesia segera bangkit, kemudian dia berlari ke arah Arthur, menerjang tubuh itu hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras, antara Arthur dan lemari besi.

Arthur melawan. Tubuh Nesia yang ringan diangkatnya tinggi-tinggi, kemudian dilemparkannya ke arah meja besi yang berada di tengah ruangan. Seragam bagian siku Nesia robek, tak hanya itu, kulitnya pun ikut robek. Tulangnya mengalami dislokasi. Darah segar menciprat ke meja besi.

Arthur berlari ke dinding utara, mengambil kapak darurat yang terbingkai kaca. Tangan yang dipergunakannya untuk memecahkan lapisan kaca mengalami luka yang cukup serius. Setelah berhasil mendapat yang dibutuhkannya, Arthur berlari menerpa Nesia. Menjatuhkan sosok itu dari atas meja.

Belum sempat Nesia bangkit, Arthur kembali menahan Nesia di lantai. Dia berlutut dengan menjepit kedua tangan Nesia.

Mata kapak ditekan ke kerongkongan lawan. Arthur berusaha mengancam Nesia agar mau berkata yang sebenarnya.

Tetes-tetes darah mulai bermunculan di permukaan. Nesia menahan rasa sakit yang mengiris lapisan dermis kulitnya.

"Katakan yang sejujurnya tentang dirimu!"

Nesia tidak menjawab. Ancaman seperti ini tidak mempan untuknya.

"JAWAB!" perintah Arthur lagi.

Arthur menambah tekanan pada kapak yang menempel di permukaan leher Nesia.

Nesia berusaha menahan rasa perih itu. Dia tak akan berbicara, bahkan jika bocah ini berhasil memutuskan pembuluh darahnya.

"Jangan hanya menatapku! Katakan sesuatu!" bentak Arthur yang semakin panik karena lawan yang dihadapinya ternyata cukup tangguh.

Nesia memang hanya menatap Arthur saja sejak tadi. Meskipun rasa sakit seolah membakar lehernya, namun tak dapat dibantah, Arthur memiliki sepasang mata yang sangat indah. Berkali-kali bertemu pandang telah membuat Nesia sadar akan hal itu.

Tiba-tiba, mereka berdua mendengar suara lain yang mendekat. Suara langkah kaki yang teratur, diikuti bayangan tubuh seorang pria yang jangkung.

Ketika Arthur sedikit menolehkan kepalanya, Nesia mendapatkan peluang. Dia membenturkan kepalanya ke dahi Arthur. Pria Inggris itu terjengkang, Nesia berhasil lolos dari ancaman.

.


.

Natalya menemukan aktivitas yang ganjil di ruang penyimpanan arsip. Dia memang tak tahu dimana ruangan itu berada, namun yang pasti, tak seharusnya dua siswa itu melakukan perkelahian disana.

Sepertinya, semua itu sudah dimulai.

Natalya tersenyum tipis. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat Ivan.

Ivan sedang menghubungi dapur HIS, dia sedang mengatur makan siang untuknya dan Natalya. Sementara Natalya menggantikan Ivan memantau kedaan HIS dari monitor besar yang muncul dari langit-langit di atas meja kerjanya.

Setelah selesai, Ivan kembali ke meja kerjanya. Natalya buru-buru mematikan kamera pemantauan di ruang arsip.

"Ada masalah?"

"Tidak," jawab Natalya datar.

.


.

"HENTIKAN! CUKUP, SEMUANYA!" bentak Gilbert berhasil menghentikan perkelahian intern itu.

Kiku dan Antonio telah ambruk di lantai. Sebenarnya luka mereka tidak terlalu parah, mungkin mereka tidak terbiasa bertarung. Dilihat dari record nilai pun, mereka tidak terlalu baik dalam pertahanan diri.

Sisa anggota LS yang lain terluka cukup parah. Bahkan keusakan yang mereka timbulkan juga parah.

"Kita telah bertindak bodoh…" pandangan Gil menyapu ke seluruh bagian ruangan, hanya kehancuran yang dilihatnya.

"Sekarang kau baru menyadarinya! Lihat apa yang telah kau perbuat!" balas Lukas.

"'Aku' tidak bertindak bodoh! Tapi, 'Kita'!"

"Siapa yang punya ide membebaskan Arthur?!"

"Aku melakukan yang terbaik!"

"Siapa bilang tindakanmu yang terbaik?!"

"Kau tidak percaya pada Arthur? Setelah bertahun-tahun kau berada di bawah pimpinannya?" kata Alfred berusaha meyakinkan Lukas dan Ludwig.

Ludwig menundukkan kepalanya. Nampaknya dia mempertimbangkan kata-kata Alfred.

Tiba-tiba tangan Lukas meraih sesuatu dari saku dalam blazernya.

Lukas berkata, "Tidak. Dan aku pun tak percaya pada kalian!"

Ludwig terbelalak, "LUKAS, BAGAIMANA KAU-…"

DOR! DOR! DOR!

Terdengar tiga kali tembakan, diiringi bunyi berdebum yang cukup keras.

"SIAPA KAU SEBENARNYA?!" bentak Gilbert sambil menahan rasa perih yang menyiksa kakinya.

Tiga peluru Lukas bersarang di pergelangan kaki masing-masing temannya. Membuat ketiga pria itu sulit untuk bergerak.

Lukas kemudian menghancurkan sisa peralatan milik HIS yang ada di ruangan tersebut. Ruang pemantauan yang kedap suara membuat aksinya berjalan lebih lancar.

"Lukas jawab pertanyaanku!"

Lukas melirik Gilbert dengan tatapan yang dingin. Tatapan paling dingin yang pernah diterima Gilbert selama hidupnya. Lukas hanya berdiam diri menggenggam pistol hitam yang entah darimana dia dapatkan.

"Seharusnya aku tidak mempercayaimu! Seharusnya aku tidak berusaha membersihkan namamu!" lirih Ludwig sebari merangkak mendekati tubuh Antonio yang terkapar. Ludwig tahu Antonio selalu membawa ponselnya kemana-mana, bahkan ke ruang pemantauan sekalipun.

Sayangnya, Lukas bergerak lebih cepat. Dia meraih ponsel Antonio, dan menginjaknya hingga remuk.

"Kalian harus berterima kasih padaku," kata Lukas dengan suara yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. "Aku tidak membunuh kalian, bukan? Well, katakanlah itu sebagai ucapan terima kasih karena kalian pernah mempercayaiku…"

"PERSETAN DENGAN KEPERCAYAAN!"

"Hush, Gil. Jangan terlalu banyak berbicara, atau giliran kepalamu nanti yang bersarang peluru,"

Bunyi gemertak kembali terdengar dari mulut Gilbert. Itu salah satu caranya menahan emosi.

"Aku mengerti sekarang…" lirih Alfred.

"Apa katamu?" tanya Lukas.

"Aku mengerti semua ini… Kaulah mata-matanya, Lukas! Kaulah yang mengincar harta HIS! Kau hanya menjadikan Arthur sebagai kambing hitam…"

"Lalu, Alfred?" pancing Lukas tenang.

"Kau juga menjadikan Gara sebagai kambing hitam. Jika harta HIS tiba-tiba dicuri, kita semua akan berpikir merekalah pencurinya. Bukankah itu yang sedang kau usahakan sejak tadi? Kau berusaha menerapkan penglihatan seperti itu pada kami…"

Lukas menimbang-nimbang senjatanya. Dia menyibakkan rambutnya, berlagak seperti semuanya sedang dalam keadaan normal.

"Deduksi yang bagus… well…kurang lebih begitu… bye!"

"Apa?!"

DOR!

Gilbert memejamkan matanya. Dan ketika dia membuka mata, pemandangan pertamanya adalah sebuah bingkai peristiwa yang menyedihkan. Gilbert terbelalak tak percaya. Adrenalinnya terpacu hebat. Dia marah, emosi, sekaligus hancur.

Tubuh Alfred tergenang darah. Kepalanya ditembus timah panas. Kacamata yang dikenakannya terlempar mendekati Gilbert. Pemuda Amerika itu sudah pergi untuk selama-lamanya.

"HOW DARE YOU?!" teriak Gilbert penuh amarah. Otot-otot lehernya menegang.

Hati Ludwig mencelos tidak percaya. Orang yang selama ini selalu bersamanya, orang yang selalu berada di sisinya tega membunuh temannya sendiri. Kilas balik kehidupan mereka bersama bagaikan memori yang pahit. Bagaimana bisa dia tidak tahu akan identitas Lukas? Apa yang dia lewatkan selama ini?

Air mata jatuh mengikuti gravitasi bumi. Ludwig tak sanggup memikirkan apa-apa lagi, selain penyesalan. Hanya rasa bersalah yang kini memenuhi jiwa raganya.

Lukas hanya tersenyum simpul. Senyum yang sama ketika dia berhasil membuat pelurunya tubuh si murid baru.

.


.

"Mengapa…kau ada disini?" tanya Nesia mengambang. Arthur hanya membelalakan matanya.

"Hanya ingin membantumu, mungkin kau mendapat kesulitan?" kata pemilik iris hijau terang itu.

"Jasper…" lirih Nesia.

Entah kenapa hatinya serasa berdesir. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Tangkap ini, Gara," kata Jasper sebari melemparkan sebuah Mark 23 ke arah Nesia. Senjata itu jatuh tepat ke tangan Nesia.

"Bagaimana kau memilikinya?"

"Kau tidak perlu tahu. Sekarang, sudahilah dulu perkelahianmu itu,"

"Sudahi?" ulang Nesia bingung.

"Kau mengerti maksudku, bukan?"

"Kau menyuruhku membunuhnya?"

Hati Arthur mencelos. Sudah dia duga Gara dan Jasper adalah mata-mata. Arthur ingin melawan, tetapi apa daya. Kapaknya pasti kalah telak dengan peluru.

"Apa itu perlu, Jasper?"

"Menurutmu? Kau ingin memecahkan teka-teki itu sebari ada orang yang mengincar nyawamu?"

"Umm, tapi…"

"Terserah kau lah," balas Jasper acuh.

Nesia segera menyela, "Baik, akan kulakukan,"

Nesia menoleh pada Arthur dengan tatapan bersalah. Pria itu terlalu muda untuk mati. Mungkin ada sesuatu yang dapat Nesia lakukan. Sesuatu yang tidak mengecewakan Jasper, tapi tidak membunuh Arthur.

Pasti ada...

.

.

To be continue...

.

.

On Next Chapter...

"Kau harusnya sadar akulah yang menyelamatkanmu!"

"Dan kau harusnya sadar kaulah yang berusaha membunuhku!"

Nesia menekan sumber pendarahan itu dengan kedua tangannya. Yang terluka meringis kesakitan.

..


.

POJOK AUTHOR
.

YOSH! Akhirnya nge-update (beneran) juga!

Maaf kalo ternyata chapter ini kurang panjang dari yang diharapkan, hehe. Awalnya mau dipanjangin baanget, tapi udah gatel duluan pingin nge post. Tiba-tiba jari saya bergerak sendiri nge post cerita ini... saya tidak bisa berbuat apa-apa, maafkan saya! *diterjang* maudong diterjang Arthur *eh

Bagaimana UKNesnya? Saya membayangkan ilustrasi mereka berantem kaya cat fight gitu wkwkwk uhh so sweetnyaaa!

Chapter selanjutnya saya janji UKNesnya lebih banyak dehh ;)

Oh iya, Lara itu femnya Spain yaah. Apa perannya disini? Kita lihat di chapter selanjutnya!

Dan... oh, maafkan aku Alfred, aku terpaksa mematikan peranmu disini... :''( semoga kau tenang, disana...

Lukas jahat, ya? iya. Nah satu penjahat udah kebongkar identitasnya, tinggal satu lagi nih... siapa yah kira-kira?

Ada kritik, saran atau komentar mengenai chapter ini? ditunggu reviewnya yaaah :D

Ada yang tidak jelas?

Salam,

Warmlatte :D