.

.

A Hetalia Fanfiction

.

.

.

Undercover

.

.

Hetalia milik Himaruya-sensei :)


DOR!

Arthur terpental menabrak rak besi dengan punggungnya.

Bunyi ledakan peluru itu memekikkan telinga. Jasper sempat memejamkan matanya ketika timah panas itu menembus kulit Arthur. Kemudian, tubuh English man itu ambruk ke lantai.

Nesia sudah memperhitungkan tembakannya. Peluru itu tidak akan membunuh Arthur, Nesia sengaja membuatnya meleset beberapa derajat. Arthur hanya akan pingsan, dan well, sedikit kehilangan darah. Menimbulkan kesan luka yang serius. Dia berharap Arthur bisa mengatasi syok yang sebentar lagi melanda tubuhnya.

Setelah kembali membuka penglihatannya, Jasper tersenyum puas di balik kaca pembatas. Entah apa yang telah Jasper lakukan, dan entah kapan, Nesia tak menyadarinya, kini pintu kaca yang membatasi ruangan arsip dengan ruang pengaturan, tertutup seperti awal. Nesia dan Jasper terhalang oleh dua lapis kaca.

Tiba-tiba terbesit beberapa hal di benak Nesia. Sesuatu yang sedikit ganjil.

Nesia kembali teringat akan tuduhan Jasper terhadap Arthur. Ternyata Arthur memang patut dicurigai. Kedatangan Arthur ke ruang arsip memberi sebuah tanda tanya besar bagi Nesia. Pertama, apa tujuannya kemari? Dan apa yang membuatnya tiba-tiba kemari? Seharusnya dia berada di ruang interogasi, bukan?

Kemudian, Nesia teringat akan kondisi Jasper terakhir kali mereka bertemu. Kondisi Jasper tidak memungkinkannya untuk pergi melindungi harta HIS. Well, itu yang dikatakan Jasper. Lalu mengapa dia bisa berada disini sekarang?

"Kau baik-baik saja?" tanya Nesia pada Jasper. Sedikit mengesampingkan pikirannya yang tadi.

"Ya," jawab pria itu sebari mengangguk.

"Aku kira tubuhmu-…"

Jasper segera memotongnya, "Aku memang masih lemah. Aku terpaksa kesini, karena tadi aku melihat Arthur berjalan ke arah ruang arsip,"

"Maafkan aku…" kata Nesia menyesal.

Jasper hanya mengangguk simpul, "Aku tak ingin membiarkan psikopat itu menghabisimu…"

Jantung Nesia terpacu.

"Jadi… kau sudah menemukan denah itu, Gara? Bagaimana hasilnya?" kata Jasper mengalihkan topik.

"Denah? Tapi, aku belum memberitahumu tentang…"

Jasper dengan cepat memotong perkataan Nesia, "Sudah. Aku sudah bilang padamu, bahwa kau harus mencari denah HIS yang tepat, yang akan membawa kita pada harta itu,"

Nesia mengernyit. Benarkah? Ia tak merasa pernah diberitahu soal itu. Ia baru saja berhasil menyimpulkan letak harta HIS tadi. Hatinya sedikit gusar, terlalu banyak keganjilan disini.

"Jadi kau sudah menemukannya apa belum?!" bentak Jasper membuyarkan pikiran Nesia.

"Sudah. Aku sudah membandingkan semua denah yang pernah HIS keluarkan. Aku menemukan denah bawah tanah yang kemudian dihapuskan di denah selanjutnya. Kau tahu taman labirin?"

"Hmm, ya. Ada apa dengan taman itu?"

"Pernahkah kau menemukan pusat dari labirin itu?"

Jasper menggeleng, "Aku kurang tertarik untuk memecahkannya,"

"Pantas saja HIS membuatnya begitu berantakan, begitu tak terurus. Mereka berusaha mengalihkan perhatian kita darinya,"

"Dari pusat labirin itu-"

"Ya, Jasper. Dari pusat labirin itulah terdapat pintu menuju lorong bawah tanah. Aku rasa, kita bisa memulai pencarian hartanya dari sana,"

"Hmm…" gumam Jasper.

"Tapi, sekali lagi, apakah kita tidak terlalu berlebihan?" tanya Nesia.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, ya… kau tahu kan, Arthur sendiri sudah seperti ini," kata Nesia sebari melirik pada tubuh yang terkapar di lantai. Dia tidak berani mengatakan kata 'tewas', karena Arthur sebenarnya masih bernafas.

Jasper terdiam, menunggu Nesia untuk mengatakan hal lain. Benar saja, dua detik kemudian Nesia kembali berbicara.

"Kau bilang Arthur ingin mencuri harta itu, kan?"

"Ya,"

"Karena Arthur berakhir dengan keadaan seperti ini… aku rasa, ya… tugas kita sudah selesai bukan?"

Jasper hanya terdiam. Statis. Dengan tatapan dari iris hijaunya yang lurus nan tajam. Serta tubuh tegapnya yang berdiri percis di depan Nesia, hanya terhalang oleh 2 lapis kaca. Entah kenapa, pria itu membuat Nesia sedikit percaya, bahwa pekerjaan yang cocok untuknya adalah menjadi agen seperti Nesia.

"Boleh aku tahu apa yang kalian bicarakan di balkon waktu itu?" tanya Nesia memecah kesunyian, akhirnya.

"Kenapa kau ingin tahu? Bukankah sudah jelas…"

"Kau berusaha melindungi harta itu darinya? Bagaimana kau bisa tahu tentang harta itu? Bagaimana kau bisa tahu tentang ruangan ini?"

"Apa maksudmu? Cepat sekali bicaramu itu…" tanya Jasper bingung.

"Arthur bilang tak ada siswa yang mengetahui tentang keberadaan ruangan ini,"

"O," kata Jasper mencibir. "Jadi sekarang kau berada di pihak Arthur?"

Nesia segera menyela, "Bukan itu maksudku!"

"Kau percaya padaku, kan?" uji Jasper lagi.

Nesia merasa jantungnya berdebar keras, lagi. "Tapi aku berhak tahu yang sebenarnya,"

"Ah, artinya kau tidak mempercayaiku sepenuhnya?"

Nesia menggeleng, "Aku mempercayaimu!" katanya cepat. Oh tidak, spontanitas. Lagi-lagi perasaan menguasai dirinya. Tidak. Dia tak mau pikirannya menjadi subjektif. Nesia mati-matian berusaha mengosongkan isi hatinya. Dia harus netral, dia harus menjalankan misi ini dengan objektif. Nesia tak ingin misinya gagal lagi hanya karena dirinya salah mempercayai orang.

"Tentang harta itu, kau yakin tidak ingin menemukannya sekarang?" kata Jasper memecah jeda yang terasa canggung diantara mereka.

"Tidak. Kenapa? Sudahlah, keluarkan aku dari sini. Ruangan ini pengap sekali. Lagi pula, Arthur, kan…"

Jasper menatap wajah innocent Nesia dari balik lapisan kaca itu. Tatapan yang ganjil, terkesan merendahkan, tetapi ada sedikit unsur mengasihani di dalamnya. Tatapan itu seakan pernah Nesia terima sebelumnya. Nesia berusaha mengingat-ingat, siapa yang pernah melemparkan tatapan macam itu padanya.

"Kau yakin?" kata Jasper lagi.

"Ya, Jas. Aku yakin. Justru yang harus kita khawatirkan sekarang adalah bagaimana kita bisa lolos dari semua tuduhan yang akan…"

Jasper memotong, "Bukankah itu yang kau cari disini?"

"Apa?" kata Nesia bingung. Kedua alisnya menukik.

"Tinggal selangkah lagi, dan misimu bisa terselesaikan…"

"Misi? Misi apa? Apa yang sedang kau bicarakan, sih?"

"Kau mencari pena itu juga, kan?...Nesia…."

DEG!

Lukas berdiri tegap, dengan rasa bangga yang meluap-luap dari hatinya. Dan dia satu-satunya orang yang berdiri di ruangan itu. Tak perlu aku ceritakan bagaimana keadaan yang lain. Memar, luka tertembus timah, mati? Yah, salah satu diantara mereka ada yang telah berubah menjadi mayat, seonggok daging yang tak berarti. Padahal, dulunya mayat itu adalah orang yang cerdas, sangat berguna. Sayang sekali.

"AKAN KU BUNUH KAU! BAJ*NGAN!" Ludwig berteriak, seraya bangkit dan menerjang tubuh Lukas.

Sayang, pria dengan pistol di tangannya itu terlalu kuat, bahkan untuk seorang Ludwig. Lukas menendangkan kakinya ke arah dada Ludwig, membuat pria Jerman itu terhempas ke dinding. Entah kenapa, Lukas menjadi begitu kuat. Atau memang, dia sudah sekuat ini sejak dulu, namun tak pernah menunjukannya.

"Ckckck. Jangan terlalu memaksakan dirimu, Ludwig! Aku tahu kau terluka, sendi kakimu…serta… hatimu, benar?" kata pria itu mencibir.

Ludwig mengepal kedua tangannya sambil menahan tangis.

"Cengeng…" kata Lukas lagi.

"Lukas…" panggil Gilbert tiba-tiba.

Lukas menoleh tanpa membalikkan badannya dari Ludwig. Gilbert berada tepat di sisi kanannya.

"TERIMA INII!" seru Gilbert sebari melesatkan lempengan besi yang berasal dari rangka kursi tak jauh dari tempatnya terkapar.

Lempengan itu terlalu cepat untuk Lukas tangkis. Bahkan, terlalu cepat untuk sekedar dilihatnya.

BUK!

Tepat mengenai dahi Lukas! Pria itu jatuh terkapar, pistolnya terpental mendekati tubuh Kiku.

"Ludwig! Cepat!" kata Gilbert kembali memegang komando. Ludwig segera menahan Lukas di pergelangan tangan. Mengunci pergerakan pria itu.

"Kau tahan dia disini, oke? Aku akan mencari Arthur,"

"Aku mempercayaimu," kata Ludwig. Gilbert hanya tersenyum simpul.

"Kiku! Kiku! Sadar! Kau harus beritahu Ivan tentang kejadian ini!" Gilbert kini mengguncang-guncang tubuh Kiku.

"A-apa yang terjadi?" kata Kiku sebari memijit-mijit kepalanya.

"Tak ada waktu untuk menjelaskan! Ingat-ingat saja di jalan, sekarang kau pergi ke kantor Ivan, dan jelaskan padanya apa yang terjadi! Cepat!"

Gilbert mengambil pistol yang terkapar dekat Kiku, lalu kembali merangkak mendekati tubuh Antonio.

"OI OI! Antonio !" teriak Gilbert, untungnya berhasil menyadarkan Antonio.

"APA?!" seru pria itu spontan bangun. Celinguk kiri-kanan, seperti baru pertama dilahirkan ke dunia.

"Cari bantuan! Kita sedang mengalami krisis disini!"

"Kemana?"

"Canna? Entahlah, kemana saja! Asal… jangan polisi, please,"

Jantung Nesia serasa berhenti berdetak. Nesia membelalakkan matanya.

Kejadian itu terulang lagi. Kini Nesia ingat siapa yang pernah melemparkan tatapan macam itu kepadanya. Tatapan yang membuatnya hancur, karena dia telah mempercayai orang yang salah. Gupta! Dulu dia telah jatuh cinta pada orang itu. Seorang akuntan yang Nesia percayai dalam misinya di Mesir, sekaligus merupakan agen yang mengincar nyawa Nesia sejak awal.

Human error membuatnya buta akan identitas seseorang. Dia tak percaya Jasper adalah pria macam Gupta.

Nesia merasa hatinya perih.

"Kenapa kau diam saja, Nesia? Kau terkejut aku mengetahui identitasmu?" kata Jasper dengan nada khawatir yang dibuat-buat. "Oh, atau kau terkejut aku mengetahui harta yang sedang kau incar di HIS?" ujarnya lagi.

Nesia hanya mematung. Tubuhnya gemetar, pupil matanya melebar. Nesia ingin menangis sekencang-kencangnya. Mengapa dia selalu jatuh cinta pada seorang penjahat? Rasa perih yang dialaminya kini, itu patah hati, kan?

"Aku…bukan…"

"Tenang saja. Aku berasal dari organisasi yang sama denganmu, dengan Logan. Aku adalah seniormu…"

Kata-kata Jasper seakan membawa secercah harapan bagi Nesia. Rasa sakit itu tiba-tiba memudar.

"Apa?" tanya Nesia penuh harap.

"Ya… seharusnya benar! Seharusnya aku telah menjadi seniormu, jika bukan karena ketua sialan itu!"

DEG.

Hatinya hancur. Namun, dia harus bangkit dari keterpurukannya. Ini yang terakhir! Dia tak ingin jatuh cinta lagi, dia tak ingin mempercayai siapapun lagi. Termasuk orang-orang dari organisasinya.

Sebutir air mata pecah membelah pipi Nesia.

"Logan?" kata Nesia dengan nada mengambang.

"Logan?" Jasper terbahak. "Dia hanya anak ingusan! Kau tidak tahu betapa tinggi tingkatan organisasimu itu?"

Nesia terdiam. Organisasinya memang telah berkembang pesat. Dan dia tahu ada bepuluh-puluh agen yang tingkatannya lebih tinggi darinya. Tapi dia tak pernah tahu ada agen buangan seperti Jasper disana.

"Mereka hanya kumpulan orang yang merasa paling penting. Merasa dirinya paling suci, paling hebat! Pikirkan Nesia, sudah berapa kali mereka meremehkan nyawamu? Hitung berapa sering mereka memberimu tugas yang tak jelas?!"

Setelah dia pikir-pikir, misinya di HIS pun bagai permainan anak-anak. Dia tak tahu apa yang harus dicarinya, namun nyawanya jadi taruhan. Dia tak diberi alat-alat khusus, hanya sebuah rambut palsu dan pakaian yang menyamarkan identitas wanitanya. Dia ditugaskan di HIS, dan seharusnya mereka tahu seperti apa HIS itu. Seharusnya mereka tahu, tanpa alat-alat khusus, tugasnya akan sangat sulit dilaksanakan.

Kini dia harus mencari jalan keluar. Nyawanya ada di tangannya sendiri. Ralat, nyawa Arthur juga. Dia harus berhasil keluar dari ruangan ini, bagaimana pun caranya. Nesia harap Jasper memberinya peluang.

"Dulu, aku adalah seorang agen sepertimu. Menjalankan misi berdasarkan perintah. Membunuh orang berdasarkan list target. Mengabdi sepenuh jiwa. Hingga suatu saat, maut berada di hadapanku. Sudah siap untuk mencabut nyawaku. Disana, kata hatiku muncul, aku bertindak di luar perintah, aku berusaha menyelamatkan hidupku. Dan kau tahu apa tanggapan mereka?"

Nesia sudah bisa menebak. Tindakan pengecut macam itu akan dianggap sebagai…

"Membelot! Aku dituduh membelot! Aku dibuang, tetapi mereka mengambil hasil dari misi yang aku kerjakan waktu itu. Mereka tak menghargai nyawaku! Perjuanganku untuk mendapatkannya! Mereka hanya ingin hasilnya. Aku beritahu, itu akan segera terjadi padamu…"

"Maksudmu?"

"Kau tahu apa yang sedang kau cari di HIS?"

"Harta,"

"Harta macam apa?" pancing Jasper lagi.

"Kau bilang… sebuah pena…tidak, aku tidak tahu apa yang harus aku cari…"

"Pfft!" Jasper mencibir dengan ekspresi penuh kebanggaan. "Mereka mengincar sebuah pena. Namun itu bukan pena biasa. Pena itu berisi data, data identitas seluruh agen swasta dari organisasimu. Aku rasa organisasimu ingin mengingkari perjanjian yang telah dibuat…"

"Perjanjian?"

Jasper hanya menaikkan kedua alisnya. "Organisasimu, telah terikat perjanjian dengan HIS. HIS adalah bawahan organisasimu. Banyak alumni HIS yang akhirnya bekerja disana. Tapi itu dulu. Sejak sepuluh tahun yang lalu, organisasimu sepertinya telah mem-blacklist HIS. Tak ada satupun lulusan HIS yang diterima disana, aku tak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam sana. Aku sudah dibuang saat itu,"

"Tapi kau juga mengincarnya, kan?" kata Nesia lagi.

"Well, ya. Aku punya tujuanku sendiri…"

"Apa tujuanmu?"

Tercipta jeda yang sangat canggung. Namun beberapa detik kemudian, Jasper kembali berbicara.

"Kau sangat ingin tahu, yah? Menurutmu apa?"

Jasper adalah seorang agen buangan. Jika harta HIS yang berharga baginya adalah pena itu, maka satu-satunya tujuan Jasper adalah untuk membongkar identitas agen-agen lain.

"Kau ingin balas dendam, bukan? Seperti Skyfall…"

"Apa?"

"Tidak," balas Nesia cepat.

Nesia tak ingin membahasnya lagi. Sudah jelas tujuan Jasper di HIS baginya. Dan kedatangannya di HIS dapat Jasper manfaatkan dengan baik. Mungkin Jasper tak dapat memecahkan kode ruangan ini. Dan mungkin, Jasper memanfaatkan Nesia sebagai kambing hitam.

"Apa kau tidak merasa keberatan?" tanya Jasper tiba-tiba.

Ruangan arsip semakin terasa pengap. Kandungan oksigen telah menipis.

"Keberatan apa?"

"Bahkan, mereka tak memberi tahumu tentang harta itu, kan? Kau hanya dianggap sebagai lebah yang mengumpulkan madu untuk mereka! Kenapa kau menerima misi ini begitu saja?"

Nesia membalas dengan dingin, "Karena ini sudah tugasku-…"

"Bahkan bila kau tewas dalam misi ini?"

"Itu sudah tugasku,"

Jasper berjalan hilir-mudik di depan lapisan kaca. Sementara, Nesia terus berharap agar Arthur dapat bertahan menghadapi syoknya. Seandainya dia bisa mendekati tubuh pria itu untuk sekedar memberinya semangat hidup atau apapun!

Tapi dia tak bisa. Sekali mendekat, maka nyawa mereka berdua melayang.

"Akan ku tawarkan dua hal kepadamu," kata Jasper sebari memutar-mutar senjata di telunjuknya. "Membelotlah bersamaku, lalu kita pergi mencari harta itu. Atau kau tetap patuh pada mereka, dan aku akan membiarkan oksigen di ruangan ini habis dengan sendirinya. Cukup adil, bukan?"

Hati Nesia mencelos. Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dia bisa saja berpura-pura membelot, mendapatkan harta itu, dan segera pergi dari HIS. Tapi, bagaimana dengan Arthur? Arthur masih hidup. Nesia bertanggung jawab atas nyawa lelaki itu.

"Bagaimana, Nesia? Kau cukup cantik untuk menjadi asistenku. Kau tahu? Aku mati-matian menahan diri ketika kita berada di kamar yang sama,"

Nesia melirik Jasper dengan tatapan benci, "Mengapa kau tega? Kau orang baik, Jas. Pikirkan lagi keputusanmu itu…"

"Pikirkan lagi?!" ulang Jasper dengan volume yang keras. "Kau kira apa yang aku kerjakan bertahun-tahun di HIS? Hari ini adalah hari besarku, dan kau masih menyuruhku untuk memikirkan lagi keputusanku?!"

Jasper berjalan ke arah monitor pengaturan.

"Jangan jatuh cinta terlalu cepat, Nesia. Itukan yang menjadi faktor kegagalan misi-misimu yang sebelumnya?"

"Tapi, aku percaya padamu."

Jasper menaikkan bahunya, "Sayang sekali, instingmu salah,"

Suasana kembali hening. Nesia memutar otaknya, dia harus mencari jalan keluar.

Tiba-tiba suaranya memecah keheningan, "Tidak," kata Nesia yakin, membuat Jasper menghentikan langkahnya.

Nesia berjalan mendekati kaca. Membuat jarak antara dirinya dan Jasper semakin dekat.

"Apa maksudmu tidak?" tanya Jasper.

"Instingku tidak salah. Aku memutuskan untuk percaya padamu, Jas,"

Mereka saling berpandangan. Saling mencari kepercayaan satu-sama lain.

Jasper ikut mendekat, "Artinya kau menerima tawaranku?" tanya Jasper sangsi.

Nesia tak menjawab. Tetapi dari tatapan matanya dia berusaha meyakinkan Jasper. Satu-satunya jalan keluar dari semua ini adalah dengan mengelabui Jasper. Setidaknya sampai pria itu membukakan pintu kaca yang membatasi ruang arsip dengan udara bebas. Kehabisan oksigen adalah satu-satunya faktor yang tengah mengancam nyawanya dan nyawa Arthur saat ini.

"Biarkan aku keluar dari ruangan ini… aku akan membantumu menemukan harta itu,"

Jasper menatap Nesia sangsi. Dia memang membutuhkan Nesia dalam banyak hal. Bahkan untuk memecahkan kode ruangan ini pun dia membutuhkan Nesia. Wanita itu sangat pintar, sangat cerdas dalam teori. Tapi sayang, wanita itu terlalu perasa. Terlalu banyak menggunakan hati ketika menghadapi manusia.

"Aku memutuskan untuk menjadi sepertimu, Jasper. Aku ingin bebas dari tugas ini. Aku baru menyadarinya, kata-katamu lah yang menyadarkanku. Aku sudah bodoh, aku biarkan mereka memperalatku," kata Nesia lagi.

Muncul rasa percaya di hati Jasper. Namun, dia harus berhati-hati. Bagaimana pun, Nesia sudah terlatih untuk berbohong. Sama sepertinya. Bisa saja itu hanya tipu daya Nesia agar dirinya mau membukakan pintu kaca.

"Buktikan bahwa kau bersungguh-sungguh,"

"Aku sudah membunuhnya," kata Nesia sebari melirik pada Arthur. "Aku mempercayaimu,"

Nesia menatap Jasper dengan raut yang memelas. Tetapi tatapan pria itu tak berubah, iris hijaunya tetap saja dingin. Akhirnya, Nesia memutuskan untuk membuka penyamarannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jasper ketika Nesia menarik lepas rambut palsunya.

Kini rambut hitam sepanjang pinggang membingkai wajah innocent itu. Jasper terpesona, dia tak menyangka Nesia bisa semanis ini.

"Aku membuka penyamaranku. Aku ingin membuktikan padamu, aku bersungguh-sungguh. Semua akan tahu bahwa aku seorang wanita, sekaligus seorang penyusup."

"Well," kata Nesia sebari berkacak pinggang. "Pembuktian apa lagi yang kau butuhkan?"

"Kau benar-benar menerima tawaranku…" kata Jasper dengan nada yang mengambang. Merasa tak percaya. Jasper tak menyangka Nesia bisa semudah itu merubah pendiriannya. Nesia memang terlalu banyak menggunakan perasaan. Tapi…

"Apa kau disadap?" tanya Jasper.

"Tidak," jawab Nesia.

Jasper akhirnya memutuskan untuk memasukkan Nesia ke dalam misinya.

"Baiklah," kata pria itu sebari berjalan menuju monitor kontrol.

Jarinya hampir menekan tombol merah yang berfungsi membuka kaca pembatas ruangan, jika bukan karena suara batuk Arthur.

"Uhuk uhuk!" cairan kental berwarna merah menyembur dari mulut Arthur.

Jasper segera tersadar. Nesia ternyata tak membunuhnya. Tak mungkin ini sebuah ketidaksengajaan, karena Jasper tahu bagaimana akurasi seorang agen dalam menembak sasarannya. Nesia sengaja membiarkan Arthur hidup. Nesia telah berhasil mengelabuinya, hampir berhasil.

Jasper memelototi Nesia dengan perasaan tidak percaya. Beberapa detik sebelumnya, dia benar-benar mempercayai Nesia. Dia merasa, Nesia telah benar-benar jatuh ke tangannya.

Hati Jasper mencelos. Dia tersadar. Kini, dirinya lah yang terlalu banyak menggunakan perasaan.

"Beraninya kau mengelabuiku!" bentak Jasper.

Nesia hanya mematung. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Membusuklah kau bersama psikopat itu!"

Jasper beralih pada monitor kontrol. Dia mematikan pendingin ruangan ruang arsip.


Pojok Author

.

Ampun Mas, Mbak! Maaf saya bertahun-tahun menghilang, hihihi

Baru aktif lagi, nih. UN udah saya lewati, tinggal SBMPTN ! yosh! doain saya, yah :D

*lah oot*

Makasih udah baca :) Mind to review?