MY STOIC MANAGER
Cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Kim Joonmyun
Zhang Yixing (gs)
Do Kyungsoo
Genre : Drama, Romance, lilbit Comedy
Rated : T
Author : Ohorat
Warning : YAOI. BL. TYPO(s)
.
.
.
.
"Lihatlah, bukankah dia sangat bodoh?" Joonmyun masih menatap jijik namja dihadapannya. Sehun tak menjawab, ia hanya meringis ketika sang Presdir menendang kursi itu cukup keras.
"Ireona!" perintahnya datar namun terdengar nada kesal disana.
Jongin terjatuh dari kursinya, tangan kanannya refleks mengelus bokongnya yang pertama mencium lantai. Mata hitam itu terbuka dan bibirnya mendesis kesal juga sakit.
"Apa tidak ada cara yang lebih sopan untuk membangunkanku? Kau jahat sekali hyung!" Jongin mendumal sebelum kemudian bangkit merapikan rambutnya.
Joonmyun tetap tenang, "Itu satu-satunya cara agar kau cepat bangun."
Adiknya yang masih terlihat ngantuk itu mendecak kesal, "Ada apa?"
Sang Presdir menggerakkan kepalanya ke arah Sehun yang masih bergeming, "Kau bilang kau butuh manager pribadi, kan? Dia sudah datang."
Jongin menatap Sehun yang tengah membungkuk memberi salam.
"Oh Sehun im-"
"Siapa yang tanya namamu?" kata Jongin ketus dan sukses membuat Sehun mengepalkan tangan kanan dibalik mantelnya.
"Maaf." Ucap Sehun.
"Hyung, kenapa kau tidak memberitahuku dulu soal manager baru ini? Aku-"
"Jangan protes. Kau artisku disini, aku yang berhak menentukan siapa yang akan menjadi managermu sekarang." Joonmyun melihat adiknya mendengus, "Aku tidak ingin mendengar kau memecat manager lagi. Aku yakin Sehun bisa bekerja dengan baik. Dan kau, jangan berbuat kasar seperti itu lagi. Dia lebih tua darimu."
Inginnya Jongin memprotes petuah-petuah dari kakaknya barusan, namun Joonmyun langsung pergi setelahnya, meninggalkan Jongin dan Sehun berdua di ruang make up.
Sehun hanya bisa menahan tawanya ketika melihat Jongin tak jadi mengeluarkan protesannya.
"YA! Apanya yang lucu?" tegur Jongin melirik namja didepannya yang kini menelan saliva karena kaget.
"Tidak ada."
Beberapa detik mereka terdiam, Jongin mendaratkan bokongnya di kursi yang sempat ia gunakan untuk tidur.
"Memangnya berapa umurmu?" suaranya masih terdengar ketus.
"Dua puluh lima-"
Jongin terkekeh, "Hanya berbeda satu tahun. Hyung memang berlebihan. Ya! Tadi siapa namamu?"
Sehun memutar bola matanya malas, "Oh Sehun."
Namja yang kini mengenakan jaket kulit hitam itu mengangguk-angguk setelahnya.
.
.
.
Kerja di hari pertama Sehun tidak terlalu berat karena hari ini jadwal kegiatan Jongin tidak sepadat seperti biasanya. Ia hanya menemani Jongin di 2 acara televisi; Music Bank dan Mcountdown. Masih dalam rangka promosi album pertamanya. Baru kali ini Sehun melihat bagaimana sibuknya para crew di belakang panggung, dan yang paling membuatnya terkesan adalah melihat penampilan Jongin. Anak nakal itu berbeda sekali jika sudah bernyanyi dan menari. Ketika melihatnya, seolah aura bintang memancar dari dalam tubuh Jongin. Mata elangnya, senyum khasnya, suara beratnya pun sangat berbeda dengan saat ia berada di ruang make up siang tadi.
Sehun jadi merasa kasihan pada para penggemar Jongin yang setia menunggunya, berteriak untuknya, dan apapun itu, karena kenyataannya Jongin itu pemalas, tukang tidur, jorok, menyebalkan, seenaknya sendiri, dan tidak se-keren seperti apa yang mereka lihat selama ini.
Tapi karena sekarang Sehun adalah manager pribadinya, ia tidak mungkin membocorkan itu semua kepada para remaja labil itu. Kecuali jika ada bayarannya. Eh?
Sehun melotot tidak percaya kala melihat kertas di genggamannya yang tak lain adalah jadwal Jongin untuk besok. Ini bukan hanya 2 atau 5 jadwal yang harus Jongin lakukan. Mungkin seharian besok tubuhnya akan terasa sakit karena lelah.
Namun seringaian tiba-tiba muncul di bibirnya. Mulai besok ia akan menghukum Jongin atas perilakunya saat pertama kali mereka bertemu.
Kau pintar, Oh Sehun.
.
.
.
"Aku pulang!" Sehun setengah berteriak saat sampai di rumahnya. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil dengan sang Ibu.
"Sehun, kau sudah pulang? Bagaimana hari pertamamu bekerja? Apa semuanya baik-baik saja?" Ibunya yang tiba-tiba datang dari arah dapur itu segera menarik lengan Sehun lalu duduk di sofa panjang, membuat Sehun ikut mendudukkan dirinya juga.
"Ya, semuanya baik-baik saja. Presdir Kim sangat baik padaku." Kata Sehun sambil tersenyum.
"Ah, syukurlah. Lalu bagaimana dengan artismu? Pasti dia anak yang tampan, kan?"
Sehun meringis melihat ekspresi Ibunya yang terlihat semangat itu. Dan apa tadi? Tampan? Melihat kelakuannya yang menyebalkan seperti itu, Sehun jadi harus berpikir panjang untuk menjawabnya.
"Hei, Sehun, kenapa diam saja?"
"I-iya, dia tampan." Mata sipitnya melirik jam dinding, sudah pukul 8 malam ternyata, "Sudah ya, Bu. Aku lelah."
Senyum Ibunya terus terpatri menatap punggung anak semata wayangnya itu yang menghilang dibalik pintu.
.
.
.
Rencana Sehun untuk menghukum Jongin hari ini akan Sehun lakukan denang senang hati. Tepat pukul 6 pagi ia bangun dan sampai di apartemen Jongin pada pukul 7. Anak pemalas seperti Jongin memang harus diberi pelajaran sekali-kali. Dengan sedikit 'kasar' kalau bisa.
TANG! TANG! TANG!
Bunyi penggorengan yang beradu dengan sendok berbahan stainless itu terdengar nyaring memenuhi kamar mewah Jongin. Seseorang yang tengah bergulung di dalam selimut tebal itu menggeliat tidak enak membuat Sehun kembali memunculkan seringaiannya.
Suara gaduh yang tidak enak didengar oleh siapapun itu akan terus Sehun bunyikan sampai si tuan pemalas benar-benar bangkit dari ranjangnya.
"AYO BANGUN~! BANGUN KIM JONGIN~!" teriakan Sehun yang bernada –walaupun tidak seenak suara Jongin- ikut meramaikan kamarnya dan sedikit membuat Jongin menggeram.
"Suara apa itu! Diamlah!" Jongin menenggelamkan kepalanya di bawah bantal namun malah memperkeras bunyi khas penggorengan yang sangat mengganggu telinganya.
"SUDAH WAKTUNYA BANGUN~! AYO BANGUN~!"
Dan Sehun bersorak dalam hati atas kemenangannya. Kini Jongin melempar bantal yang sempat menjadi tempat persembunyiannya itu lalu duduk di atas ranjang dengan wajah kusut.
"Baik, baiklah aku bangun!"
Kedua tangan Sehun berhenti sebelum menyilangkannya di depan dada, "Jadwalmu hari ini sangat padat, Jongin. Kau harus segera bangun, mandi, sarapan, dan setelah itu kita ke lokasi."
Sehun ingin sekali menendang namja itu kala melihat matanya tertutup rapat dengan posisi duduk.
"YA! Jika kau berani tidur lagi, akan kubakar apartemen ini!"
Mata Jongin pun kembali terbuka, "Aish! Iya, iya, aku bangun. Cerewet sekali!"
Dan senyum kemenangan Sehun begitu kentara ketika anak pemalas itu melenggang dengan malas ke dalam toilet.
"Kau benar-benar bisa diandalkan!" puji Sehun pada penggorengan di tangannya.
.
.
.
Sehun, Jongin dan seorang supir sedang di dalam mobil van sekarang. Suasana terasa begitu tenang, setenang jalanan Seoul pagi ini. Sehun hanya melirik Jongin yang sibuk dengan ponselnya di kursi sebelah. Termasuk ketika anak pemalas itu menguap begitu lebar.
"Kau bisa tidur selama perjalanan, tapi kau harus bangun tepat disaat kita sampai lokasi." Kata Sehun begitu tenang. Sepertinya ia menyukai mobil van yang luas itu.
Terdengar Jongin yang terkekeh seolah meremehkan perkataan Sehun.
"Kau berani sekali mengaturku, memangnya kau siapa?"
"Manager pribadimu. Kau lupa?"
Jongin hanya mendengus mendengarnya. Matanya terhenti pada tas hitam dipangkuan Sehun, lebih tepatnya ia menangkap sebuah benda yang muncul keluar dari tas itu.
"Apa itu?"
Sehun mengikuti arah pandang Jongin, lalu mengeluarkan sebuah penggorengan yang membuat Jongin terkejut.
"Kau tidak tahu ini?"
"Untuk apa kau membawa benda itu?!"
Tangan Sehun mengelus penggorengan ditangannya seolah itu adalah benda berharga, "Hanya untuk jaga-jaga jika kau sulit dibangunkan seperti tadi."
Jongin melotot horror menatap namja disampingnya yang tengah menyeringai sambil menodongkan penggorengan ke hadapannya.
.
.
.
Kilatan-kilatan cahaya yang tercipta dari sebuah kamera begitu menyilaukan mata bagi Sehun. Meskipun bukan dirinya yang menjadi model, namun tetap saja karena ini pertama kali dalam hidupnya menyaksikan Jongin berpose dihadapan kamera dengan pakaian yangterus berganti. Tema pakaian-pakaian yang dikenakan Jongin kali ini sangat berbau 'Rock' atau 'Metal'. Semuanya serba hitam dari atas sampai bawah. Dan Sehun berpikir, Jongin memang sangat cocok dengan warna hitam. Bukan karena warna kulitnya yang agak gelap. Hanya saja, dengan melihat Jongin seperti itu membuat Sehun ingin membenarkan jawaban tentang Jongin pada Ibunya kemarin.
Ya, Jongin memang tampan.
Tapi menyebalkan.
"Ya, terima kasih." Ucap Jongin sambil membungkuk pada semua staff disana ketika pemotretan selesai. Namja itu berjalan menghampiri Sehun yang terlihat menatapnya.
"Aku tahu aku tampan." Dengan datarnya Jongin mengucapkan itu sebelum meneguk sebotol air mineral.
"Ternyata kau bisa bersikap sopan juga."
Namja berkulit tan itu terkekeh, "Kau pikir semua yang ada pada diriku itu semuanya negatif? Enak saja!"
"Baiklah. Selanjutnya kau jadi bintang tamu di SUKIRA."
Jongin mendengus, "Apa kau tidak tahu aku sangat lelah?"
"Bukankah itu resiko jadi seorang idola?"
Dan Jongin tidak bisa menjawab apa-apa setelahnya. Ia akui Sehun memang benar. ia sendiri yang memutuskan untuk menjadi seorang idol, maka mau tidak mau, rasa lelah dari pekerjaannya harus ia maklumi.
"Jongin!" seorang namja bertubuh pendek menghampiri mereka. Bibirnya membentuk senyum ketika Jongin berbalik dan menatapnya.
"Kyungsoo, sedang apa kau disini?" tanya Jongin.
"Aku ada jadwal setelahmu," namja itu merangkul lengan Jongin posesif, "Dia siapa?"
Mata bulat itu menatap Sehun yang mulai membungkukkan badannya, "Oh Sehun im-"
"Aku tidak bertanya padamu!"
Sehun memejamkan matanya untuk beberapa detik dan mengepalkan tangan kirinya untuk menahan marah. Ia harus tetap sabar diperlakukan seperti saat Jongin pertama kali bertemu dengannya.
Apa semua artis memang seperti itu, ya?
"Dia manager baruku." Kata Jongin datar.
Mata bulat milik namja pendek itu semakin membulat, "Benarkah? Kukira dia pembantu staff disini."
Gigi-gigi Sehun bergemeletuk mendengarnya. Kepalan ditangannya pun semakin menguat. Baru kali ini ada orang yang berani menghinanya dengan nada tak berarti. Ia harus tetap sabar.
Jongin sendiri terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut manis Kyungsoo disampingnya. Ia menatap Sehun yang terlihat datar dan biasa-biasa saja. Namun ia tahu, Sehun ingin sekali marah kala matanya menangkap kepalan tangan Sehun.
"Uh, bukankah kau ada pemotretan? Jadwalku juga masih banyak. Aku pergi dulu." Setelah memeluk Kyungsoo, Jongin melenggang pergi diikuti Sehun yang menenteng tas besarnya.
Sepeninggal keduanya, mata bulat Kyungsoo tak henti menatap pintu yang sudah tertutup itu.
.
.
.
Langit semakin gelap saat Jongin dan Sehun keluar dari gedung EXO Ent. Hari ini jadwal padat Jongin selesai tepat waktu dan Presdir Kim baru saja memuji hasil kerja Sehun yang menurutnya memuaskan. Berbeda dengan Jongin, ia hanya mencibir kata-kata kakaknya yang terdengar berlebihan di telinganya. Namun ada rasa khawatir saat matanya tak sengaja selalu menangkap Sehun yang terlihat melamun di sela-sela kegiatannya tadi. Apa mungkin ia masih memikirkan perkataan Kyungsoo?
"Besok aku akan membangunkanmu lagi. Ingat, jam 10 kau ada fansign di-"
"Kenapa kau tidak marah?" Jongin bertanya memotong perkataan namja yang sekarang menatapnya bingung.
"Maksudmu?"
"Jelas-jelas perkataan Kyungsoo itu sangat pedas. Kenapa kau tidak marah?"
Sehun mengalihkan pandangannya kala Jongin menatap tepat di matanya. Ia mengeratkan mantel ditubuhnya karena udara malam terasa semakin dingin.
"Untuk apa aku marah? Lagipula, dia tidak mengenalku sebelumnya. Jadi, itu bukan sesuatu yang harus disalahkan." Sehun berusaha tersenyum di akhir kalimatnya.
"Kajja! Aku ingin cepat-cepat tidur." Ujar Sehun lalu memasuki mobil, meninggalkan Jongin yang masih bergeming.
"Bodoh." Gumamnya.
.
.
.
Ding!
Sehun menggeser simbol kunci saat ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Dahinya berkerut heran sambil membaca pesan yang tak lain dan tak bukan dari artisnya.
From: Kim Jongin
Kau tak perlu ke apartemenku, aku sudah di kantor.
Sehun melotot tak percaya sambil meletakkan roti yang baru saja ia gigit, "Bagaimana mungkin dia bangun secepat itu?"
Namja bersurai coklat itu bangkit dari kursinya lalu mengambil tas yang sudah ia siapkan di kursi sebelah, "Bu, aku pergi!"
Sehun berlari keluar dari rumah, tak menghiraukan Ibunya yang terus berteriak agar menghabiskan sarapannya terlebih dahulu.
.
.
.
Jongin menatap remeh Sehun yang baru sampai di gedung EXO dan kini berdiri di hadapannya. Ia bersandar pada balkon dengan kedua tangan menyilang di dada.
"Manager macam apa yang datang telat seperti ini?" sindir Jongin membuat Sehun kesal.
"YA! Aku tidak telat, hanya saja kau yang datang terlalu pagi!" sembur Sehun di sela-sela napasnya yang terengah karena sudah berlari menaiki tangga.
"Bukankah itu lebih baik?" seringai menyebalkan itu masih Jongin pamerkan.
"Ya, pertahankanlah perbuatan terpuji itu." Cibir Sehun.
Jongin melirik tas di punggung Sehun, kali ini tak sebesar kemarin.
"Cepat buang benda itu." Perintah Jongin datar dan membuat kebingungan di wajah Sehun.
"Apanya yang harus dibuang?"
Jongin mendecak, "Benda yang kemarin kau gunakan untuk membangunkanku, cepat buang!"
Bibir tipis Sehun membulat, "Oh, maksudmu penggorengan? Tenang saja, hari ini aku tidak membawanya karena kau sudah bangun lebih pagi."
Namja yang kini mengenakan kemeja panjang berwarna hitam itu buru-buru mengalihkan pandangannya saat Sehun tersenyum di akhir kalimatnya. Entah kenapa, senyum milik Sehun terlihat lebih manis pagi ini.
"Cepatlah, apa jadwal pertamaku?" tanya Jongin sambil berjalan cepat dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantong celana abunya, membuat Sehun mengikutinya dari belakang karena tertinggal.
Sehun membuka tasnya sambil ikut berjalan dan mengeluarkan beberapa lembar kertas, "Jadwal pertamamu untuk hari ini ada-"
Play: Appear – Kim Bum Soo
Ucapannya terhenti, langkahnya terhenti, dan juga tatapannya. Mata sipitnya menangkap sosok namja bertubuh jangkung yang kini ikut terdiam di tempatnya. Jantungnya berdegup cepat kala kedua mata itu bertemu.
"YA! Cepatlah-" Jongin yang merasa kesal karena managernya itu tiba-tiba diam, terpaksa menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya. Jaraknya dan Sehun cukup jauh karena sedari tadi ia berjalan cepat dan tidak menyadari managernya itu terdiam seperti baru melihat hantu.
Matanya mengikuti arah pandang Sehun dan sedikit terkejut melihat siapa yang tengah berdiri cukup jauh di depannya. Ekspresinya tak berbeda dengan Sehun, sama-sama kaget seperti baru melihat hantu. Dan jangan katakan kalau Jongin adalah hantunya, karena sekarang ia berdiri di tengah-tengah mereka.
"K-kau..." ucap Sehun tergagap namun dapat terdengar jelas oleh Jongin.
"Sehun..." dan kening Jongin bertaut bingung karena namja di depannya memanggil Sehun seolah mereka sudah saling mengenal.
Apa mungkin mereka memang saling mengenal?
.
.
.
Tbc
.
.
.
Chapter 2 author apdet kilat, kan? Hehehe
Author gak akan bosen2nya ngucapin makasih buat yang udah baca, favorit, follow dan review ff ini :D
Dan minta maaf juga karena di chapter kemarin banyak banget typonya -_-
Makasih ya buat gyusatan udah koreksi kesalahan author :D Harusnya melanggar malah jadi melarang -_- bener2 kebangetan typonya -_-
Kalo ada kesalahan pengetikan di chapter ini, silahkan koreksi author, asal jangan di rajam aja (?)
Sok ah, di review dulu :D
.
Nb: Buat yang bingung sama posisi di scene terakhir (?) ini author kasih contoh:
SEHUN-JONGIN-NAMJA MISTERIUS (?)
