MY STOIC MANAGER

Cast :

Kim Jongin

Oh Sehun

Park Chanyeol

Zhang Yixing (gs)

Do Kyungsoo

Genre : Drama, Romance, lilbit Comedy

Rated : T

Author : Ohorat

Warning : YAOI. BL. TYPO(s)

.

.

.

.

"Sehun?" namja itu berucap heran. Bagaimana tidak kaget, setelah satu tahun tidak bertemu, sekarang mereka bertatap muka. Di sebuah perusahaan musik.

Yang dipanggil pun maju beberapa langkah dan berhenti tepat di samping artisnya, Jongin. Anak itu masih terlihat bingung.

"Sudah lama tidak bertemu." Kata Sehun sedikit gugup.

Namja itu menatap Sehun dan Jongin bergantian, "Kenapa kau ada disini?"

Sehun menoleh pada namja disampingnya sebelum menjawab, "Aku bekerja disini. Kau sendiri?"

"Benarkah? Aku sama sepertimu. Kenapa bisa kebetulan seperti ini, ya?" katanya sambil tersenyum.

Jongin yang merasa diacuhkan mulai memutar bola matanya malas, "Sepertinya aku mencium aura cinta disini."

Sehun terkejut begitu pula dengan namja didepannya. Bagaimana bisa ia berkata semudah itu? Lagipula apa maksudnya dengan 'aura cinta'?

Jongin bergerak, mengganti posisinya untuk menghadap sang manager, "Kau disini untuk bekerja, kan? Aku akan memecatmu jika sampai aku telat ke lokasi!"

Sehun menatapnya kesal mendengar ucapan menyebalkan Jongin. Anak itu benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya, ya?

"Baiklah, baik. Chanyeol-ah, maaf tapi aku harus pergi."

Si idol yang sedang tidak dalam good mood itu melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun dan melewati namja yang di panggil Chanyeol itu. Sehun yang melihatnya pun hanya bisa mendecak sebelum mengikuti artisnya.

Dan hati Sehun seolah akan keluar dari tempatnya setelah mendengar Chanyeol berteriak, "Kuharap kita bisa makan malam bersama!"

Setelah satu tahun berpisah sejak memutuskan hubungan yang telah mereka rajut sejak SMA, jantung Sehun masih berdegup kencang jika bertemu dengan Chanyeol. Bahkan ia bisa merasakan pipinya memanas karena saking senangnya.

Apakah ini pertanda baik untuknya dan Chanyeol?

.

.

.

Mereka sampai di lokasi acara fansign pukul 10.30. Lokasi yang cukup jauh dari kantor EXO dan itu membuat kejenuhan di dalam mobil van menguasai. Jongin tak banyak berbicara seperti biasanya jika sedang dalam perjalanan. Yang dia lakukan hanya bermain dengan ponselnya lalu menguap. Dan itu membuat tingkat kebosanan meningkat bagi Sehun.

Acara fansign dimulai tepat ketika Jongin duduk di sebuah kursi yang duah disediakan oleh staff. Ratusan fans yang kebanyakan perempuan itu sedikit membuat Sehun terkejut. Ia benar-benar kasihan dengan mereka yang datang jauh-jauh dan rela menunggu hanya untuk sebuah coretan bernama tanda tangan. Ya, nilai plusnya adalah bisa bertemu dengan idola mereka, Kim Jongin.

Sehun benar-benar harus memeriksakan telinganya saat teriakan-teriakan nyaring itu membuatnya pusing. Apa mereka tidak sayang dengan tenggorokannya, ya?

"Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?" salah satu fans bertanya saat gilirannya meminta tanda tangan Jongin.

"Asal jangan yang aneh-aneh saja." Kata Jongin dengan 'angel smile'-nya. Sehun jadi mendengus karena ia tahu itu adalah senyuman palsu.

"Um... hubunganmu dengan Kyungsoo oppa itu tidak benar, kan?"

Senyum Jongin lenyap setelah mendengarnya dan terlihat berpikir.

"Kami hanya berteman."

"Benarkah? Ah, syukurlah! Kalau begitu, terima kasih!"

Sehun mendengus lagi. Ia tahu hubungan mereka bukan hanya sebatas teman. Aish, Jongin itu pintar sekali dalam berbohong!

.

.

.

Manager barunya Kim Jongin tengah berbunga saat ini. Tepat pukul 7 malam, ia sampai di sebuah restoran sea food dan duduk berhadapan dengan seseorang yang masih ia suka. Park Chanyeol, mantan kekasihnya.

Suasananya tidak romantis karena ia tahu Chanyeol adalah type pria yang tidak menyukai hal-hal seperti itu. Namun, dengan adanya Chanyeol sekarang, itu lebih dari sekedar kata romantis bagi Sehun. Jantungnya saja selalu berdegup tak karuan dengan Chanyeol yang biasa, apalagi jika dia adalah type pria romantis. Mungkin Sehun akan masuk rumah sakit karena sakit jantung.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Chanyeol setelah memesan pada pelayan.

Sehun tersenyum, "Cukup baik. Kau sendiri?"

"Dengan vitamin yang selalu kuminum setiap pagi, aku rasa aku cukup baik." Jawabnya terdengar santai. Type pria yang sangat Sehun suka.

"Apa pekerjaanmu cukup berat?"

"Tidak juga. Hanya menemani seorang idol ke beberapa lokasi syuting."

Sehun terbelalak, "Kau seorang manager juga?"

Kening Chanyeol berkerut heran, "Juga? Kau...?"

Namja berkulit seputih susu itu mengangguk seolah apa yang akan Chanyeol tanyakan sudah ia mengerti.

"Aku manager barunya Jongin. Lalu siapa artismu?"

"Byun Baekhyun. Seorang penyanyi, sama seperti Jongin."

"Tapi, kenapa-"

"Tiga hari kemarin kami berada di luar kota untuk promo albumnya."

Dan bibir tipis Sehun membulat dengan kepala mengangguk-angguk sebelum seorang pelayan datang membawa hidangan yang tadi Chanyeol pesan.

.

.

.

Pagi ini salju turun dan itu membuat Sehun sangat enggan pergi kemanapun jika saja ia tak mengingat apa profesinya. Waktu bermesraan dengan ranjang dan selimutnya harus ia relakan untuk pergi ke apartemen Jongin karena anak itu tak mengirim pesan dan itu berarti Jongin belum bangun. Padahal ini sudah jam 9.

Ya, lagi-lagi Sehun harus sabar.

Telunjuk kanannya menekan tombol-tombol nomor di samping pintu apartemen Jongin. Hanya dengan waktu dua minggu menjadi manager baru, ia sudah menghapal benar password apartemen mewah itu.

Kakinya melangkah kala pintu sudah terbuka. Matanya mengedar melihat keadaan ruangan yang terlihat berantakan. Sehun tidak heran, ia sudah sering melihat ini. Kedua kakinya pun berhenti di depan pintu kamar si tukang tidur. Ia meraih knop pintu dan memutarnya sebelum pintu bercat silver itu terbuka dan menampilkan sesuatu yang berhasil membuat mata sipit Sehun membulat sempurna. Juga bibir tipisnya.

Jongin tidur dengan seorang pria yang satu minggu lalu menghinanya.

Sehun jadi kesal jika mengingatnya. Dan pikirannya tiba-tiba tertuju pada penggorengan. Lalu ia berbalik, mengambil penggorengan milik Jongin dari dapur dan membuat kegaduhan di kamar Jongin.

"Ck, suara berisik apa itu?" namja bertubuh mungil itu bangun dan mengucek matanya. Ia terbelalak melihat seseorang tengah berkacak pinggang dengan sebuah penggorengan di tangannya.

"K-kenapa kau ada disini?"

"Untuk membangunkannya!" jawab Sehun datar lalu kembali memukulkan sebuah sendok pada penggorengan.

"KIM JONGIN, CEPAT BANGUN! INI SUDAH SIANG, NANTI REJEKIMU DI PATOK AYAM!"

Suara gaduh itu berhasil membuat Kyungsoo menutup telinganya dan juga membuat Jongin bangun dengan wajah yang terlihat kesal.

"Aish, kenapa berisik sekali?!" Jongin menatap Sehun dengan mata ngantuknya.

"Bukankah hari ini kau masih harus bekerja?" sindir Sehun dan hanya mendapat decakan kesal dari Jongin.

Namja bermarga Oh itu memperhatikan Jongin yang duduk di samping Kyungsoo. Dada bidang Jongin terekspos karena ia tak memakai apapun selain celana jeansnya. Berbeda dengan Kyungsoo, namja itu berpakaian lengkap walau terlihat agak kusut.

Ada perasaan lega karena kemungkinan artisnya ini tidak berbuat asusila dengan pacarnya.

"Cepat mandi, ku tunggu di luar." Perintah Sehun sebelum keluar dari kamar Jongin dan bersiap menunggu di ruang tengah.

Kyungsoo melirik Jongin, "Apa selama ini dia membangunkanmu seperti itu?"

Yang ditanya pun bangkit dari ranjang lalu mengangguk, "Dia memang sedikit aneh."

Namja bertubuh mungil itu ikut bangkit, tangannya melingkar di leher Jongin sambil tersenyum nakal, "Morning kiss?"

Jongin ikut tersenyum sebelum mengecup bibir tebal berbentuk hati milik Kyungsoo.

.

.

.

Jongin memutuskan untuk makan siang di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor SM dan mengajak Sehun. Ia tidak bisa jika makan sendirian, harus selalu ada orang yang menemaninya. Entahlah, Jongin merasa tidak berselera jika hanya makan sendiri. Dan Sehun akan bersedia menemaninya karena ia juga bekerja untuk Jongin.

Beberapa makanan khas Korea sudah tersaji di atas meja. Namun tidak ada soju, karena Sehun yang melarang Jongin agar tidak meminumnya. Semula, anak itu membantah Sehun. Namun si manager ini memang orang yang cukup keras kepala, maka baginya TIDAK tetaplah TIDAK.

Jongin menyeruput sup hangatnya karena udara musim dingin sangatlah menusuk sampai ke tulang. Matanya melirik Sehun yang duduk bersebrangan dengannya. Sendok yang tadi ia genggam pun ia letakkan di samping mangkuk lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Sehun.

"Hey, aku sudah memesan banyak makanan." Ujar Jongin datar. Namun Sehun tak menggubrisnya, ia sedang sibuk dengan ponsel di genggamannya.

Jongin bisa melihat dengan jelas, sesekali namja di depannya itu tersenyum pada ponselnya. Oh, Jongin merasa di abaikan.

"Oh Sehun, aku menyuruhmu kemari itu untuk makan, bukan sibuk dengan ponselmu!" gerutu Jongin dan kini berhasil membuat Sehun menoleh sebelum meletakkan ponsel tipis itu di atas meja.

"Maaf. Baiklah aku makan." Sehun mengambil sumpit dan memasukkan satu potong sushi ke dalam mulutnya.

Jongin mendecak sebentar sebelum kembali menikmati makan siangnya.

Dering Xylophone khas Line terdengar. Jongin memutar matanya jengah dan menaruh sendoknya –lagi. Sehun tahu itu berasal dari ponselnya. Ia pun menatap Jongin takut-takut yang kini menatapnya tajam seolah mengatakan 'Jangan berani menyentuhnya!'

Sebuah ide brilian nan jahat muncul dalam otak Jongin. Tangannya terulur dan mengambil ponsel Sehun dengan gerakan cepat. Melihat sesuatu yang tidak beres, si pemilik ponsel pun menaruh sumpitnya dan menggerakkan tangannya berusaha menggapai ponsel yang kini di genggam Jongin.

Jika hanya ditahan sih tidak apa-apa, sialnya Jongin dengan sengaja membuka room chat di ponsel Sehun.

"Kau makan dimana? Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang bersama." Jongin membacakan kalimat itu membuat Sehun membelalak.

"Jongin, cepat kemarikan!"

Namja berkulit agak gelap itu menggerakkan ibu jarinya di layar datar itu ke atas dan ke bawah. Ia membaca semua chat Sehun dengan Chanyeol dalam hati. Bukankah itu benar-benar keterlaluan?

"Kim Jongin! Kubilang kemarikan! Kau ini-"

Namun namja itu masih saja menatap ponsel Sehun.

"Sebenarnya apa hubungan kalian? Tidak mungkin hanya sekedar teman, kan?" Jongin bertanya tanpa menatap Sehun yang mulai bangkit dan berusaha merebut ponselnya.

"Jongin, kemarikan atau ku sebarkan fotomu dengan Kyungsoo ke internet!" ancam Sehun membuat Jongin menatapnya horror.

"Kau mengambil fotoku? Berani sekali kau!" namja itu kembali menggerakan ibu jarinya dengan cepat, "Dimana? Dimana kau menyimpan fotonya? Akan ku hapus sekarang juga!"

Sehun menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum menyeringai, "Kau tidak akan menemukannya. Foto itu sudah kusimpan di tempat aman."

Tatapan horror itu masih kentara di mata Jongin, "Kau benar-benar tidak akan menyebarkannya, kan?"

"Asal kau mengembalikan ponselku sekarang juga."

Tanpa babibu, Jongin pun melempar benda tipis itu ke arah Sehun yang refleks menangkap ponselnya.

"YA! Ini masih baru, bagaimana kalau terjatuh?!" bentak Sehun sambil menggenggam erat ponsel itu dengan kedua tangannya.

"Akan kubelikan yang baru asal kau tidak menyebarkan foto itu."

Sehun tidak menjawab. Namun hatinya bersorak gembira karena dengan mudahnya Jongin tertipu. Sebenarnya ia sama sekali tidak mengambil foto Jongin ataupun Kyungsoo. Untuk apa juga ia memotret pasangan kekasih itu. Tidak ada untungnya.

.

.

.

Kegiatan promo album baru Jongin sudah selesai. Rasanya semua beban yang teras menumpuk di atas punggungnya sudah hilang. Jongin bisa tidur sepuasnya lagi dan bangun kapanpun dia mau. Namun, semuanya tidak sesuai keinginannya. Terkadang, Kyungsoo datang ke apartemennya dengan keadaan mabuk atau memintanya untuk pergi clubbing. Dan mau tidak mau, ia menuruti kemauan Kyungsoo.

Satu hal lagi yang membuatnya lega, akhir-akhir ini sang Presdir tidak mengganggu ataupun datang untuk memarahinya lagi. Mungkin ini juga berkat Sehun yang berusaha membuat Jongin disiplin waktu.

Sedikitnya, ia berterima kasih.

.

Ini hari ketiga Jongin tidak ada kegiatan. Sehun pun tidak mengunjunginya hanya sekedar untuk minum kopi bersama atau berdebat dengannya. Dan itu membuat Jongin menggerutu sepanjang hari karena rasa bosan yang menguasai apartemennya.

Jam dindingnya baru menunjukkan pukul 9 pagi, tumben sekali anak itu sudah bangun. Dan sebuah ide briliannya muncul lagi ketika matanya menangkap foto Kyungsoo di meja nakas.

Ia harus pergi ke suatu tempat untuk berlibur dan tidak bisa ditemukan oleh Kyungsoo.

.

.

.

"Ibu yakin hanya pergi sendiri?" Sehun menatap khawatir Ibunya yang tengah bersiap dengan sebuah tas yang tidak terlalu besar.

"Daejeon itu dekat, Sehun. Jika kau ikut, bagaimana dengan pekerjaanmu?" Ibunya menatap balik.

"Aku kan sudah bilang, hari ini aku libur. Aku ikut, ya?"

"Tidak, kau jaga rumah saja. Lagipula, Ibu hanya menginap satu malam saja. Ibu akan pulang begitu pamanmu sudah baikan." Tangan halusnya mengelus pipi kanan Sehun.

"Bagaimana kalau tidak?"

"Doakan saja yang terbaik. Ibu yakin, obat herbal buatan Ibu sangat manjur!"

Sehun pun mengantar Ibunya sampai halte dengan tidak rela. Langkahnya melambat saat menuju rumah. Ia akan mati karena kesepian jika hanya sendirian di rumah. Presdir Kim belum mengabarinya juga dan itu berarti masa liburnya belum habis. Ia tidak ingin ke apartemen Jongin hanya untuk menghabiskan waktu liburannya. Yang ada, hanya rasa kesal yang akan membuatnya untuk bersabar dan terus bersabar.

Jadi, lebih baik tidur saja sampai Presdir Kim menghubunginya.

.

.

.

Jongin memakai long coat hitamnya lalu memakai snapback berwarna senada, tak lupa melilitkan syal tebal di lehernya yang berwarna abu. Hari ini Jongin memutuskan untuk pergi berlibur sendiri. Ya, sendiri. Tidak ada Kyungsoo ataupun Sehun. Presdir Kim pun tidak tahu menahu tentang ini. Jongin tidak mau membangunkan singa yang sedang tertidur dan malah membuat rencananya hancur. Maka dari itu, ia pergi diam-diam dan menutupi setengah wajahnya dengan syal.

.

.

Dia sudah sampai di sebuah stasiun kereta bawah tanah sekarang. Matanya memperhatikan lalu lalang orang-orang yang berjalan melewatinya. Ada juga yang terlihat sibuk membaca koran dan sebagainya. Sepertinya ini hanya hari libur untuk Jongin saja. Orang-orang sibuk itu tidak memperhatikan sekitar dan tidak menyadari adanya seorang idol tampan di tengah-tengah mereka. Jongin bersyukur dan ia bisa menghabiskan liburannya dengan tenang.

Beruntung ini masih jam sekolah, di dalam kereta tidak ada satupun siswa ataupun siswi sekolah yang bisa saja menyerangnya secara tiba-tiba. Gerbong yang dipilihnya pun tidak terlalu banyak penumpang, hanya ada beberapa orang tua yang terlihat begitu tenang. Jongin kembali bersyukur.

Ia mengeluarkan sebuah headset dari ransel hitamnya lalu menyambungkan kabel putih itu pada ponselnya untuk mendengarkan lagu. Karena suasana yang cukup tenang, Jongin pun memutar lagu mellow favoritnya. Siapapun yang terjebak dalam situasi tenang seperti ini pasti akan mengantuk. Sama halnya yang terjadi pada Jongin, si tukang tidur. Beberapa kali ia menguap begitu lebar, tak menghiraukan keadaan sekitar. Terkadang, jari telunjuk Jongin dimasukkan ke salah satu lubang hidungnya yang terasa gatal. Dan lagi, ia tak menyadari seseorang tengah memperhatikannya.

Jongin menguap lebar lagi saking ngantuknya. Namun, tubuhnya menegang seketika saat melihat seorang ahjumma duduk di depannya dengan memangku sebuah tas tidak terlalu besar dan menatapnya tanpa berkedip.

'Kenapa dia terus melihat ke arahku? Apa dia tahu kalau aku seorang artis? Aish, kau bodoh, Jongin!'

Ia menggerutu dalam hati sebelum menaikkan syal abunya dengan perlahan sampai bawah mata dan menghindari tatapan sang ahjumma.

.

.

.

Tepat pukul 11 siang, Jongin sampai di kota Daejeon. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum melihat begitu ramainya kota ini. Ia memakai kacamata hitamnya sebelum memasuki pertokoan yang terlihat ramai itu.

Kakinya melangkah masuk ke toko asesoris. Matanya mengamati semua benda-benda di depannya yang terlihat menarik. Entah kebetulan atau bukan, tiba-tiba nama Sehun muncul dalam pikirannya ketika ia melihat sebuah gelang tali berwarna hitam. Gelang itu hanya tersisan dua buah dengan gantungan kunci dan gembok kecil.

"Ini gelang apa?" tanya Jongin pada penjaga toko.

Yang ditanya pun tersenyum ramah, "Itu gelang pasangan. Jika kau sudah memiliki pacar, berikan salah satu dari mereka untuknya. Simbol kunci dan gembok sangat cocok agar hubungan kalian tidak mudah dimasuki orang ketiga."

Penjaga toko itu terkekeh di akhir penjelasannya. Jongin menatap agak lama gelang di genggamannya sebelum kemudian membelinya dengan harga murah.

Jongin suka sekali barang yang murah.

.

.

.

"Jadi kau pergi berlibur ke Daejeon tanpa izin dari Presdir?" Sehun menatap Jongin tidak percaya. Mereka berdua sedang berada di pantry kantor dan Jongin baru saja kena semprot dari kakaknya karena ketahuan pergi dari Seoul seorang diri.

"Kau ini benar-benar gila, Jongin!"

Yang dimarahi pun hanya bergeming dengan bersandar ke dinding dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celana. Sehun semakin kesal melihatnya.

Namja bersurai coklat itu menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya gusar. Lagi-lagi ia harus bersabar karena bukan hanya Jongin yang kena amarah Presdir Kim. Sebagai manager, Sehun pun ikut terlibat dalam masalah ini meskipun ia tidak tahu menahu soal acara-berlibur-Kim Jongin.

"Kenapa kau tidak bilang padaku?" suara Sehun lebih tenang sekarang, ia menatap Jongin yang juga menatapnya.

"Untuk apa? Aku hanya ingin pergi sendiri."

"Tapi tidak jika kau sendiri adalah seorang idola, Kim Jongin! Kenapa kau selalu seenakmu sendiri?!"

"Sudahlah, kau hanya membuatku pusing." Jongin melenggang pergi meninggalkan Sehun yang melotot tidak percaya dengan perlakuan tidak sopan anak itu.

"YA! Urusan kita belum selesai!"

.

.

.

Play : Two People – Remake (The Heirs Ost.)

Semua hal yang terjadi di dalam hidup Jongin terasa memuakkan. Hidup mewah dengan ketenaran dan tidak bisa hidup dengan bebas. Semuanya terasa membunuhnya secara perlahan. Bahkan sebenarnya, ia ingin sekali menyalahkan semua itu pada Kim Joonmyun. Kakaknya yang membuat ia menjadi sebuah boneka tampan yang dikelilingi jutaan fans. Ia sangat menggilai pekerjaan sampai-sampai Jongin harus mengikuti jejaknya –mencari uang di usia muda-. Inginnya, ia melanjutkan sekolahnya setelah lulus SMA, namun single pertamanya meledak di pasaran dan membuatnya harus mendunda impiannya.

Jongin sangat lelah ketika ia harus bangun di pagi hari, padahal ia baru bisa tidur pada dini hari karena urusan pekerjaan. Dan lagi, ketika Joonmyun datang untuk memarahinya, Jongin terasa semakin tersiksa. Hidup mewahnya serba salah. Mungkin, ini tidak bisa dinamakan dengan hidup.

Maka dari itu, bukan tanpa alasan ia pergi ke Daejeon. Ia hanya ingin merasakan kebebasan walau sesaat.

Dan ia ingin sendiri.

Seperti sekarang.

Sebuah kedai coffee favoritnya ia kunjungi untuk menyendiri. Kedai ini memang tidak terlalu banyak pengunjung, hingga Jongin dengan bebasnya bisa duduk santai disini. Memikirkan betapa menyedihkan hidupnya selama ini dan membiarkan secangkir kopi yang dipesannya menjadi dingin.

"Kau ingin apa?" sebuah suara yang ia kenal terdengar dari arah belakang.

"Hot chocolate saja." Dan satu suara lagi yang sangat ia kenal.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Jongin yakin, pemilik suara terakhir itu tengah pergi memesan. Namun beberapa menit kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar.

"Jadi, kenapa kau bisa dimarahi Presdir Kim?" Jongin sangat yakin itu adalah suara Chanyeol.

Sebuah helaan napas terdengar jelas di telinga Jongin yang tengah duduk memunggunginya.

"Dia pergi ke Daejeon tanpa izin dari Presdir. Dan dia tidak memberitahuku!"

Chanyeol terkekeh melihat namja di depannya yang terlihat emosi, "Dia memang begitu. Bahkan dulu, kudengar dia pergi ke Jeju dan berakhir dengan managernya yang dipecat. Kuharap dia tidak memecatmu, Sehun."

"Ya, kuharap begitu." Namja yang dipanggil Sehun itu menyeruput hot chocolate-nya.

"Tapi, kurasa dia menyukaimu."

"Tidak mungkin. Aku ini hanya managernya. Lagipula, jika itu memang benar, aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama."

Jongin menatap kosong secangkir kopi di depannya.

"Dia terlalu kekanakkan dan selalu melakukan apapun seenaknya sendiri. Aku tidak menyukainya."

Chanyeol meletakkan kembali cangkir kopinya, "Lalu, type seperti apa yang kau sukai?"

Sehun menelan salivanya lalu menatap Chanyeol, "Seseorang yang sangat berbeda dengan Jongin. Park Chanyeol."

.

.

.

Tbc

.

.

.

Maaf buat yang nebak itu Kris, anda salah (?)

Author pikir, kalo Kris jadi manager terlalu keren (?) dia lebih cocok jadi artisnya wkwk.

Dan gak mungkin, kan, Sehun punya mantan seorang artis (?) jadi author putuskan namja misterius itu adalah Park Chanyeol.

Selamat bagi yang menjawab dengan benar! Kalian mendapatkan ucapan selamat (?)

Author gak nyangka banyak yang minat sama ff ini. Thank you so much much more :"D

So, kalo mau lanjut lagi, review aja yang banyak! ^^