MY STOIC MANAGER
Cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Kim Joonmyun
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Byun Baekhyun
Genre : Drama, Romance, lilbit Comedy
Rated : T
Author : Ohorat
Warning : YAOI. BL. TYPO(s)
.
.
.
.
Sehun terengah kala sampai di kantor EXO Ent. Beberapa saat yang lalu, ia pergi ke apartemen Jongin untuk membangunkannya. Tapi, hanya kesunyian yang ia dapat. Jongin tak ada disana.
Ia menghela napas lelahnya saat menemukan Jongin dengan seorang penata rias yang tengah mengolesi make up di wajahnya. Jadwal pertamanya adalah menjadi bintang tamu di Weekly Idol.
"Kenapa kau tidak mengirim pesan?" tanya Sehun berusaha tenang.
Jongin tidak menjawab, matanya masih terpejam karena orang disampingnya terlihat sibuk.
Sehun mendecak, "Kau tidak tidur, kan?"
"Kau tidak lihat aku sedang apa?" matanya belum terbuka namun perkataannya terdengar dingin.
Sehun hanya mendengus sebelum kemudian menarik salah satu kursi disana dan mendaratkan bokongnya.
"Kau sudah membuang waktuku, Jongin."
.
.
.
Pekerjaan hari ini terasa sangat membosankan bagi Sehun. Berbeda seperti hari-hari biasanya yang dipenuhi perdebatan dengan Jongin. Hari ini, anak itu tiba-tiba menjadi pendiam. Mulutnya hanya menjawab sekenanya jika Sehun bertanya sesuatu atau menegurnya. Bahkan jika dilihat dengan seksama, Jongin lebih sering melamun dan tidak fokus dengan pekerjaannya. Tidak ada Jongin konyol yang selalu membantah perkataan Sehun.
'Apa ada makhluk lain didalam tubuh Jongin, ya?'
Sehun jadi bingung sendiri karena sikap aneh Jongin. Namun, ia juga tak berani untuk bertanya. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Presdir Kim.
.
Tepat pukul 3 sore, kegiatan Jongin hari ini selesai. Ia dan Sehun berjalan menuju arah pintu keluar. Gedung itu terlihat sepi, hanya ada mereka berdua dan sesekali ada staff yang hanya kebetulan lewat. Langkah kaki Jongin terlihat cepat, Sehun jadi ikut mempercepat juga karena selalu saja tertinggal. Apalagi dengan tangan kanan menenteng tas cukup besar dan tangan kiri yang menggenggam beberapa lembar kertas. Sehun selalu melakukannya setiap hari.
"Jongin, setelah ini kau mau kemana?" tanya Sehun dari belakang. Langkahnya masih tertinggal beberapa centi meter.
Lagi-lagi yang ditanya itu tak menjawab.
"Kuharap kau segera pulang dan istirahat. Jangan pergi kemanapun, besok pekerjaanmu masih banyak-" Perintah Sehun tanpa jeda membuat kaki Jongin terhenti.
Namja berjaket kulit hitam itu berbalik, masih dengan tatapan datarnya.
"Bisakah kau diam untuk satu hari saja? Apa kau tidak tahu, semua ocehanmu itu membuat kepalaku sakit!"
Sehun tertegun mendengarnya, genggamannya mengerat pada tas abu yang ia tenteng.
"Aku hanya-"
"Managerku. Pekerjaanmu itu mengatur semua jadwalku, bukan mengatur hidupku."
Perkataan datar, dingin dan menusuk itu membuat Sehun tidak bisa membalasnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jongin berkata seperti itu. Rasanya lebih menyakitkan daripada dihina Kyungsoo dan dimarahi Presdir Kim. Rasanya, itu bukan Jongin yang ia kenal.
Jongin meninggalkan Sehun yang masih terdiam. Ia menatap sendu punggung yang perlahan menghilang di balik pintu.
.
.
.
"Kau belum tidur?"
Sehun berjalan menuju balkon kamarnya dengan sebuah ponsel yang terhimpit di antara tangan kiri dan telinganya, "Belum. Aku mengkhawatirkan Jongin."
"Apa dia membuat masalah lagi?"
"Tidak. Sikapnya hari ini benar-benar aneh. Tak biasanya ia menjadi sangat pendiam."
"Anak itu memang aneh."
Sehun tersenyum dengan tatapan kosong, "Ya, kau benar."
"Oh, ya, Chanyeol-ah."
Terdengar deheman dari suara khas namja di sebrang telpon.
Sehun mengusap tengkuknya canggung, "Soal kemarin itu, aku minta maaf."
"Gwaenchana. Aku suka jika kau jujur."
Mata sipit Sehun membulat, "Kau tidak marah?"
"Tentu saja tidak. Sudah malam, sebaiknya kau cepat tidur."
"Baiklah."
"Jalja."
Senyum Sehun muncul lagi, kali ini dengan pipi yang bersemu merah. Rasanya seperti kembali pada beberapa tahun lalu saat ia masih menjadi kekasih Chanyeol. Perasaanya masih sama, seperti ada jutaan kupu-kupu beterbangan didalam perutnya kala Chanyeol mengakhiri percakapan malam mereka dengan manis.
.
.
.
Seorang namja berpakaian hitam putih dengan rambut coklat dan sedikit gemuk di bagian pipinya mendecak melihat namja lain yang duduk didepannya terus saja meminta untuk ditambahkan minuman beralkohol ke dalam gelas kosongnya. Tak seperti biasanya, pelanggan yang satu ini bersikap aneh.
"Kau sudah menghabiskan dua botol, Jongin." Ujar namja bername tag Xiumin itu. Jika dilihat dari penampilannya, mungkin ia adalah seorang barista.
"Jangan banyak bicara, cepat tambah lagi!" suara Jongin sedikit berbeda. Sepertinya ia mulai mabuk.
Bukannya menurut, Xiumin menatap kesal namja di depannya, "Sebenarnya apa masalahmu? Aku tidak mau dimarahi kakakmu lagi jika sampai membuatmu mabuk. Lebih baik kau pulang."
Jongin tak menjawab, ia mengurut pangkal hidungnya yang terasa sakit.
"Mana pacarmu? Tumben, dia tidak bersamamu." Kata Xiumin sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling pub yang terlihat remang-remang.
Lagi-lagi, Xiumin tak mendapat jawaban. Jongin bangkit dari duduknya dan berbalik, berjalan dengan sempoyongan menuju arah pintu keluar.
"YA! Kau mau kemana? Jangan membuat masalah lagi!"
Jongin tak menghiraukannya, atau mungkin tidak mendengarnya karena tempat itu terlalu bising. Ia terus berjalan, menyeret kedua tungkainya yang terasa lemas karena pengaruh alkohol. Beberapa orang yang tengah berjalan pun tak sengaja ia tabrak, dan ia tetap menulikan pendengarannya saat orang-orang itu memakinya.
Namun, kali ini sebuah suara kencang terdengar jelas ditelinganya. Teriakan seseorang meminta tolong. Matanya menangkap seorang namja disebrang sana tengah mengambil paksa sebuah tas dari seorang wanita paruh baya yang hendak menyebrang.
Namja yang ia yakin seorang pencuri itu menyebrang dengan cepat dan berlari kencang ke arahnya. Jongin mencegatnya, menghalangi namja itu ke kiri dan ke kanan.
Si pencuri itu terlihat kesal, "YA! Kau menghalangi jalanku, minggir!"
"Kembalikan tasnya." Jongin berkata dingin.
Namja dengan jaket tebal itu terkekeh, "Kau mau mati, ya?"
Dan satu pukulan mendarat di pipi kiri Jongin membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Namun, sedetik kemudian, ia bangkit dan membalas pukulannya di bagian perut. Orang-orang yang tengah berlalu lalang di sekitar sana menghentikan langkahnya dan berkerumun melihat perkelahian Jongin dan si pencuri.
Ada yang terkaget-kaget, memohon untuk behenti, ada yang memotret dan ada juga yang diam saja. Jongin tak menghiraukan itu, tubuhnya terasa semakin lemas karena mendapat beberpa pukulan di sekitar tubuh termasuk perutnya. Sudut bibir dan pipi kanannya pun sedikit robek dan mengeluarkan darah. Tenaganya semakin menghilang kala pengaruh minuman alkohol yang tadi ia minum menjalar ke seluruh tubuhnya. Satu pukulan lagi diperutnya membuat ia terjatuh di atas trotoar dan terbatuk-batuk sambil memegangi bagian perutnya sebelum kesadarannya hilang.
Xiumin berlari keluar pub, matanya membulat saat melihat Jongin terkapar beberapa meter darinya. Ia berlutut dan mengangkat setengah tubuh Jongin ke pangkuannya, "Jongin! Kim Jongin, sadarlah! YA! Berhenti memotret!"
.
.
.
Suasana pagi di ruangan Presdir Kim terasa mencekam. Ia menyuruh Jongin dan Sehun untuk menemuinya dan sekarang kedua namja itu mendapat amarah lebih besar dari masalah kemarin.
PRAK!
Sebuah koran dengan headline 'KIM JONGIN TERTANGKAP MABUK DAN BERKELAHI DI SEKITAR PUB' Joonmyun lempar ke atas meja, tepat di depan Jongin juga Sehun. Ia menatap nyalang adiknya yang masih bergeming dengan kepala menatap meja.
"Kau lihat? Kau berhasil membuat nama perusahaan kita tercoreng hanya karena kelakuan burukmu itu, Jongin!" Mata Joonmyun memerah setelahnya.
"Kau ini public figure! Dimana sebenarnya otakmu?! Ini untuk yang kesekian kalinya kau berulah dan aku sangat kecewa padamu."
Sehun juga tetap bergeming, matanya melirik Jongin yang duduk disampingnya. Beberapa luka memar dan darah yang mengering masih tercetak di wajah Jongin.
"Dan kau Sehun."
Yang dipanggil pun kembali menunduk.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi anak ini? Apa kau tidak mendengarku? Kau juga membuatku kecewa, Sehun."
Nada suaranya memang tidak tinggi, namun Sehun merasa sakit hati karena sudah mengecewakan bos besarnya. Ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
Joonmyun kembali menatap adiknya, "Kuperingatkan sekali lagi. Ini untuk yang terakhir kalinya kau membuat masalah. Dengan terpaksa, semua fasilitasmu ku ambil. Dan jangan pergi kemanapun tanpa Sehun!"
.
.
.
Jongin berjalan cepat meninggalkan Sehun yang masih memanggilnya. Ia masih bergeming sejak keluar dari ruangan Joonmyun. Kepalanya terasa pusing, apalagi sisa efek alkohol semalam sepertinya belum hilang sempurna. Maka, kakinya pun melangkah memasuki lift dan menekan angka 10. Tempat dimana atap gedung ini berada.
Ting!
Pintu lift terbuka. Kedua tungkainya kembali ia seret menyusuri koridor. Namun tatapannya terhenti pada dua orang namja yang terlihat sedang berbincang di dekat pintu menuju pantry. Keduanya tak menyadari Jongin yang tengah melangkah melewatinya. Lantai ini memang cukup sepi dan jarang di lewati orang-orang, dan Jongin tidak heran saat melihat namja yang bertubuh pendek memeluk leher si namja bertubuh tinggi. Jongin memang tidak melihat sepenuhnya, ekor matanya yang tak sengaja melihat itu semua dan terdengar beberapa percakapan mereka,
"Aku merindukanmu." Ucap si namja bertubuh pendek.
"Aku juga. Tapi sekarang kita harus segera bergegas, Baek-ah. Semua orang pasti sudah menunggu." Kata si yang lebih tinggi.
"Ck, baiklah. Tapi jam 3 sore nanti, kau harus menemuiku di ruang make up!"
Si yang lebih tinggi terkekeh, "Iya, iya, Baekkie sayang."
Dan satu hal yang Jongin baru sadari, itu adalah suara Chanyeol dengan Baekhyun.
.
Jongin bergerak mendekati pembatas atap. Kedua tangannya masih setia bersarang di dalam kantong celananya. Napas beratnya berhembus membuat kepulan asap karena musim dingin. Matanya menatap kosong ke depan, dimana gedung-gedung tinggi menjulang begitu terlihat jelas dimatanya.
Ia melirik arloji di lengan kirinya sekilas. Sudah jam 12 dan Jongin tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika kembali ke bawah dan mendengar omelan-omelan managernya, itu akan membuat telinganya mengeluarkan darah. Dan ia tidak mau itu terjadi.
Ding!
Ponsel tipisnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk dan itu dari Kyungsoo. Bibirnya sedikit mendesah malas kala membaca serentetan pesan dari namja itu.
From: Do Kyungsoo
Kau dimana? Aku sudah membaca koran pagi ini. Aku akan kesana sekarang.
Jongin tidak membalasnya. Ia memasukkan kembali ponsel tipis itu ke dalam saku mantelnya. Namun sebuah suara dari arah belakang cukup membuatnya kaget dan membalikkan badan.
"Kenapa tidak membalas pesanku?" namja bermata bulat itu terlihat kesal. Ia berjalan menghampiri Jongin yang sudah kembali berbalik menatap kosong gedung-gedung di depannya.
Jongin baru ingat dan merutuki kebodohannya dalam hati karena Kyungsoo memang tahu kebiasaan Jongin yang selalu berdiam diri di atap gedung. Maka dari itu, tidak heran namja bermata bulat itu sekarang berada disampingnya.
"Kenapa kau berulah lagi?" Kyungsoo melirik Jongin.
"Kenapa kalian semua selalu salah paham terhadapku?" nada tanya Jongin tidak tinggi, bahkan terdengar datar.
Kyungsoo tak langsung menjawabnya, ia menatap sendu namja disampingnya.
"Aku tahu, mungkin kau punya alasan dibalik semuanya. Jangan dipikirkan lagi." Kedua tangan mungil Kyungsoo melingkari pinggang Jongin. Ia memeluknya dari samping namun tetap membuat Jongin tak bergerak sedikitpun.
Kyungsoo mendengus, "Jangan mendiamkanku. Kau tidak merindukanku, huh?"
Jongin mendesah malas lagi sebelum kemudian menjulurkan tangan kirinya untuk membalas pelukan Kyungsoo. Tangannya yang lain masih menghangatkan diri didalam saku mantel.
Kyungsoo tersenyum dan menyamankan tubuhnya dalam dekapan Jongin.
"Jongin, sebenarnya apa hubungan kita?" namja bermata bulat itu menengadah menatap Jongin yang kini ikut menatapnya.
"Teman?"
Mata bulat itu memutar malas, "Jadi, apa seorang teman akan membalas pelukan temannya seperti ini?"
Jongin terdiam, perkataan Kyungsoo ada benarnya juga. Lalu tatapannya kembali beralih kedepan, "Kau sendiri yang bilang padaku tidak mau terikat, kan?"
"Tapi, bagaimana jika aku mencintaimu?"
Ada jeda sebentar sebelum Jongin menjawab, "Aku tidak bisa."
Pandangan Kyungsoo berubah kecewa, "Apa kau mencintai orang lain?"
Jongin tak menjawab.
"Apa ini semua karena manager barumu?"
Jongin tak menjawab lagi. Namun pelukan dipingganya terlepas dan membuatnya menatap Kyungsoo. Namja bertubuh pendek itu terlihat ingin marah.
"Sudah kuduga. Kau memang menyukainya, Jongin."
Dan Jongin belum sempat menjawabnya karena Kyungsoo segera berlari dan menghilang dibalik pintu.
.
.
.
Kyungsoo berjalan cepat, sesekali menghapus jejak air matanya yang terus mengalir sejak ia menutup pintu atap gedung. Lift demi lift ia masuki dan sekarang ia sudah berada di lantai 3. Matanya menatap tajam salah satu pintu disana sebelum kemudian membukanya dengan kasar. Seseorang yang tengah berkutat dengan beberapa kertas diatas meja terlihat kaget dan refleks bangkit dari duduknya.
"Kyungsoo, ada apa?" namja itu bertanya bingung.
"Kau seharusnya tidak berada disini." Jawab Kyungsoo dingin.
"Apa maksudmu?"
Mata merah Kyungoo menatap tajam namja didepannya, "Kau yang membuat semuanya hancur! Aku dan Jongin hancur karenamu!"
Namja yang dibentak itu tertegun, mata sipitnya membulat dan genggaman pada bolpointnya mengerat. Ia masih bingung dengan perkataan Kyungsoo.
"Apa maksudmu dengan Jongin? Apa yang terjadi padanya?"
Kyungsoo tak menjawab, matanya terhenti pada sebuah kaca bening berbentuk persegi panjang yang bertuliskan OH SE HUN diatas meja. Lalu tangan kanannya terulur untuk mengambil benda itu.
"Dan kau tidak seharusnya menjadi seorang manager disini!"
Suara pecahan kaca yang baru saja dilempar Kyungsoo membuat Sehun terkejut –lagi. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam namja bertubuh pendek itu.
"YA! Sebenarnya apa masalahmu?!"
"Ini tak seberapa, Sehun. Kau sudah menghancurkan semuanya, sedangkan aku baru menghancurkan nametag mu. Jangan salahkan aku, karena kau yang memulai."
Sehun dapat melihat seringaian berbahaya dari bibir Kyungsoo sebelum namja itu berlalu pergi.
Tangan kanannya terangkat, mengurut pangkal hidungnya yang terasa sakit. Hari ini terasa buruk untuk Sehun. Pagi-pagi, ia dimarahi lagi Presdir Kim karena masalah Jongin. Belum lagi, anak itu yang tiba-tiba menghilang dan sekarang Kyungsoo datang dengan marah-marah dan menghancurkan nametagnya. Semuanya kesialannya terasa lengkap.
Sehun berjongkok, memunguti pecahan-pecahan kaca di lantai ruangannya dengan perasaan kesal yang berkecamuk. Matanya memerah melihat namanya hancur. Dan sebuah desisan keluar dari bibir tipisnya saat salah satu pecahan itu menggores telunjuknya tak sengaja. Darah merah segar keluar namun tak banyak, ia segera bangkit dan mengambil sebuah plester dari kotak P3K yang tersedia di atas lemari.
"Dimana kau sebenarnya, Jongin?!"
.
.
.
Berdiam diri selama berjam-jam diatas atap dengan suhu dingin membuat Jongin menguap beberapa kali. Ia menurunkan tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada pembatas. Mulutnya menguap lagi sebelum kemudian kedua matanya tertutup karena rasa kantuk yang mendera.
Semuanya tak terdengar karena Jongin sudah terlelap. Namun baru beberapa menit ia merasa tenang, sebuah getaran di dalam saku mantelnya membuat ia mau tak mau membuka matanya.
Jongin melihat nama Sehun di layar datar itu. Ia mendecak kesal sebelum menekan tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu di telinganya.
"Ada apa?"
"YA! Kau dimana? Cepat kemari!" terdengar teriakan dari sana.
"Jika kau hanya ingin mengomel, lebih baik kau simpan tenagamu itu. Aku tidak akan kesana." Nada bicara Jongin tak sedingin tadi, sepertinya moodnya sedikit membaik setelah tidur beberapa menit.
"Justru aku akan mengomel jika kau tidak kembali sekarang juga!"
"Memangnya ada apa?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Cepatlah!"
"Kenapa tidak bicara sekarang saja? Aku akan mendengarnya."
"Aish, kau ini!"
"Cepatlah, atau kututup telponmu."
"YA! Kenapa kau tidak pernah berbicara sopan padaku? Aku ini lebih tua darimu!"
Jongin bersandar nyaman pada pembatas dibelakangnya dan tersenyum, "Usia kita tak jauh berbeda, manager Oh. Kita hanya berbeda satu tahun."
"Tetap saja kau harus memanggilku hyung!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" goda Jongin masih dengan senyumannya.
"Aish, terserah kau saja!"
"Jadi, kau ingin membicarakan apa?"
"Sebenarnya... apa hubunganmu dengan Do Kyungsoo?"
Senyum Jongin lenyap, ia terdiam sebentar sebelum berkata, "Kenapa kau menanyakan itu?"
"Tadi... dia menemuiku dan mengatakan hal yang tidak aku mengerti. Aku harap hubungan kalian baik-baik saja."
Jongin kembali terdiam, tatapan datarnya kembali setelah mendengar akhir kalimat Sehun. Jadi, Sehun benar-benar tidak memiliki perasaan special padanya?
"Jongin, kau masih disana, kan?"
"Hm."
"Jika kau sudah kembali mungkin aku tidak ada di kantor. Jam 3 sore ini aku harus menemui Chanyeol. Jadi, kau bisa pulang duluan."
Jongin tak menjawab.
"Ah, ternyata ini sudah jam 3. Sudah ya, aku harus pergi."
Play : Portents of War – Various Artist
Panggilan pun terputus dan Jongin masih bergeming, ia teringat sesuatu setelah mendengar nama Chanyeol ditelinganya. Matanya membulat lalu melihat jarum jam arlojinya yang menunjukan pukul 3.
Selama itukah ia berada di atap?
Namun itu bukan masalahnya. Ia yakin dan masih mengingat dengan jelas bahwa Chanyeol akan bertemu dengan Baekhyun di ruang make up. Jongin panik, ia bangkit dan berlari keluar dari atap gedung.
Langkahnya terhenti di depan lift dan menekan-nekan angka 4 disampingnya, namun lift itu tak mau membuka dan sukses membuat Jongin menggeram. Ia kembali berlari menuruni tangga alternatif dan melewati beberapa pintu lift yang tertutup. Kilatan panik di matanya begitu kentara. Lalu ia menekan beberapa angka di ponselnya untuk menghubungi Sehun. Namun anak itu tak mengangkatnya, membuat Jongin semakin frustasi. Kedua kaki jenjangnya terus berlari, mau tidak mau ia harus menuruni semua tangga alternatif menuju lantai 4 dan itu akan memakan waktu yang cukup lama.
"Angkat telponku, sialan!" Jongin mengumpat sambil terus berlari. Nada panggil di ponselnya masih terus berbunyi menandakan orang yang ditelponnya belum juga mengangkat panggilannya.
Sementara di tempat lain, Sehun berjalan tenang seorang diri setelah keluar dari lift dengan menenteng sebuah tas berbahan kertas yang berukuran sedang. Senyum manisnya terus terpatri karena ia akan menemui Chanyeol di tempat yang sudah mereka janjikan. Ia sengaja mengubah profil ponselnya agar tak berdering karena ia tahu Jongin pasti akan mengganggunya. Sehun berdoa dalam hati agar Chanyeol tak lupa dengan janji mereka, karena namja itu memang memiliki ingatan yang tidak cukup baik.
.
Jongin menatap angka 4 yang tercetak cukup besar didepannya, ia berbelok ke kiri setelah sampai di lantai 4. Ia masih terus berlari menuju ruang make up yang biasa digunakan Baekhyun, salah satu seniornya di industri musik. Napasnya terengah, ia tak berhenti mencoba menghubungi Sehun sampai langkahnya terhenti beberapa meter dari seorang namja yang kini tengah berdiri di depan sebuah pintu. Detak jantung Jongin terdengar jelas oleh telinganya sendiri. Tangan kanan yang sedari tadi menghimpit benda tipis diantar telinganya turun begitu saja. Matanya melihat dengan jelas sosok Sehun berdiri mematung disana. Mata sipitnya membulat begitu juga bibir tipisnya. Tas yang sempat ia tenteng pun sudah berada dibawah, tepat di samping kaki kirinya.
Sehun terkejut bukan main. Matanya menangkap sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Hatinya terasa dihantam bebatuan besar saat namja yang ingin ia temui tengah berciuman panas dengan seorang namja yang ia tebak adalah Baekhyun, artis Chanyeol.
Jongin melihat Sehun bergerak dan meninggalkan tempatnya. Ia tahu bagaimana perasaan managernya saat ini, meskipun ia sendiri tak melihat apa yang terjadi didalam sana. Kaki Jongin kembali melangkah, kali ini lebih pelan, mengikuti Sehun dari belakang.
Play : Two People – Remake
Sehun berjalan dengan rasa kecewa di dalam hatinya. Matanya menatap kosong setiap lantai yang ia pijak. Rasanya begitu menyakitkan. Pertemuannya dengan Chanyeol beberapa minggu lalu yang ia kira akan menjadi awal mula yang baik ternyata salah. Seharusnya ia sadar bahwa semenjak mereka putus, namja itu memang sudah melupakannya. Chanyeol pasti sudah menemukan yang baru dan itu adalah Byun Baekhyun.
Semuanya terlalu menyakitkan bagi Sehun sampai-sampai ia tak menyadari Jongin tengah mengikutinya dengan langkah yang sama. Begitu pelan dan tenang. Bahkan sampai mereka memasuki lift pun, ia masih tak menyadarinya.
Jongin berdiri di belakang, disamping kiri Sehun. Membuat matanya menangkap telunjuk kiri managernya yang dibalut plester. Tatapannya begitu sendu melihat punggung Sehun yang terlihat sangat rapuh kali ini. Karena ini baru pertama kalinya ia melihat Sehun seperti ini.
"Kenapa rasanya sakit sekali, Jongin?"
Mata elang Jongin membulat. Apa baru saja Sehun berbicara padanya?
Apa sebenarnya ia tahu bahwa sedari tadi Jongin mengikutinya?
.
.
.
Tbc
.
.
.
Maaf buat yang nunggu Kaihun moment, belum ada di chapt ini. Tapi author janji, di chapt selanjutnya bakal ada Kaihun moment yang bikin iritasi mata (?)
Chapt ini lebih panjang lho(?) jadi, jangan minta yang panjang2 lg ya (?)
Sakit hati Jongin terbalaskan disini karena Sehun juga merasakan yang sama (?)
Dan kalo mau next chapt segera di apdet, dimohon agar di review dulu biar author semangat lanjutinnya (?) kalo gak ada yang minat, ya author terpaksa gak lanjutin ini wkwk (?)
So, dont be a silent reader!
Nb: Maaf kalo banyak typo, gak dibaca ulang.
