MY STOIC MANAGER
Cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Park Chanyeol
Zhang Yixing (gs)
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Rated : T
Author : Ohorat
Warning : YAOI. BL. TYPO(s)
.
.
.
.
Jongin masih terdiam dalam keterkejutannya hingga bunyi khas dari pintu lift terdengar begitu terbuka diikuti Sehun yang berjalan keluar. Jongin melakukan hal yang sama, namun berhenti didepan pintu lift sambil memandangi punggung itu yang semakin menjauh.
Lamunannya terbuyar kala ponsel hitamnya bergetar beberapa kali. Ia kembali terkejut saat melihat nama Sehun terpampang disana.
"Jongin, kau dimana?" suara khas milik Sehun menyapa telinganya.
Satu hal yang baru ia mengerti, Sehun tidak tahu kalau ia mengikutinya.
.
.
.
Mereka sampai di depan pintu masuk pertama yang terbuat dari kaca –namun terdapat lapisan blur yang membuat keadaan di dalam tidak bisa terlihat dari luar. Tatapan Sehun masih menyiratkan kekecewaan membuat Jongin jadi canggung untuk memulai pembicaraan.
"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Sehun akhirnya.
Jongin terdiam beberapa saat. "Molla. Mungkin pergi ke pub."
"Aku akan membunuhmu."
"Coba saja."
Sehun melayangkan tatapan kesalnya sebelum menghela napas, "Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi sebagai manager pribadi, aku harus mengikuti artisnya kemanapun ia pergi. Sesuai perintah Presdir Kim."
Jongin mendengus mendengar kalimat akhir yang penuh penekanan. Ia berjalan ke luar dari gedung lalu memasuki mobil van putih diikuti Sehun dibelakangnya.
.
.
.
Chanyeol membuka pintu ruangan make up yang memang sedikit terbuka itu setelah merapikan tatanan rambutnya di cermin. Pandangan tertuju pada sebuah tas berukuran sedang yang hampir saja ia injak. Ia membungkuk dan mengambilnya.
"Milik siapa ini?"
Dahinya mengernyit lalu tangan kanannya terulur untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Dan matanya sukses membulat kala menggenggam sepasang sarung tangan hangat berwarna biru tua. Warna kesukaannya.
'Cuaca semakin dingin. Lain kali akan kubelikan sarung tangan agar kau tak sakit, Chanyeol.'
Sekelebat perkataan Sehun teringat dipikirannya. Ia yakin dengan sangat bahwa pemilik sarung tangan ini adalah Sehun. Genggamannya mengerat, raut emosi begitu kentara di wajahnya karena dengan mudahnya ia bisa lupa bahwa hari ini Sehun akan bertemu dengannya. Disini. Di ruang make up yang Chanyeol janjikan. Dan ia yakin –lagi- Sehun pasti sudah melihat semuanya.
Ia menggeram dengan suara beratnya. Sehun pasti akan membencinya sekarang.
.
.
.
Mobil van itu berhenti di sebuah basement yang sangat Sehun kenal. Matanya melirik bingung ke kanan dan ke kiri sampai ia dan Jongin turun lalu berjalan menuju sebuah pintu. Sehun mengekori Jongin yang terlihat begitu tenang dalam langkahnya. Sekarang mereka tengah berada di koridor apartement.
Mata Sehun masih terlihat bingung lalu mensejajarkan langkahnya dengan Jongin. "Bukankah ini apartemenmu?"
"Kau benar." Jawab yang ditanya begitu santai.
"Tapi, bukankah kau bilang akan pergi ke pub?"
Jongin melirik namja disampingnya, "Aku tidak ingin nyawaku lenyap begitu saja ditanganmu."
Sehun terdiam, kakinya pun ikut terhenti membiarkan Jongin berjalan jauh darinya. Dan ia baru mengerti apa yang dimaksud Jongin barusan.
"YA! Kau mempermainkanku, hah?! Anak itu!"
Diam-diam Jongin tersenyum mendengar teriakan Sehun dibelakangnya. Menggoda namja itu sudah menjadi hobi terbarunya sekarang. Dan derap langkah pun kembali terdengar begitu dekat. Tangan kanannya menekan beberapa tombol untuk memasukkan password sebelum pintu apartemennya terbuka. Manager yang sekarang mengganti rambutnya menjadi berwarna abu itu ikut masuk tanpa diperintah.
"Aku ingin mandi dulu. Kau bisa masuk jika ingin bergabung."
Dan hampir saja sebuah vas bunga yang kebetulan berada dekat dengan tangan Sehun melayang ke arah namja yang baru saja menggodanya. Jongin terkekeh sambil berlari memasuki kamarnya.
Sehun menggerutu di tengah langkahnya menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering setelah semua yang ia alami hari ini. Bayangan-bayangan kejadian dimana Chanyeol berciuman panas dengan Baekhyun membuatnya mematung di depan kulkas yang sudah terbuka. Tatapannya kosong dan denyutan di dada kirinya terasa menyakitkan membuat satu tetes air mata berhasil keluar dari ekor matanya. Sehun buru-buru menghapusnya, tak mau meninggalkan jejak memalukan itu di wajahnya. Lalu matanya terhenti pada sebuah botol berukuran cukup tinggi di deretan minuman yang ia yakin itu adalah alkohol. Tangan kirinya terulur mengambil salah satu botol disana.
Play: Park Shin Hye - Story
Satu tegukan mengaliri tenggorokannya yang begitu kering setelah mendaratkan bokong tipisnya di salah satu kursi di dapur. Cairan bening yang sangat ia tidak inginkan untuk keluar itu kembali mengalir, membasahi pipinya yang mulai terasa panas. Lagi-lagi Sehun segera menghapusnya dengan punggung tangannya. Ia melakukan itu berkali-kali sampai akhirnya ia tak bisa menahan lagi.
Sehun tak bisa menahan dadanya yang semakin sesak. Dan sekarang ia menangis sesenggukan. Wajahnya ia tenggelamkan diantara kedua lengan yang ia lipat di atas meja untuk meredam tangisnya yang semakin menjadi.
Disisi lain, Jongin mendengarnya. Begitu sampai kamar, ia tak benar-benar pergi mandi. Ia malah bersandar dibalik pintu kamarnya dan mendengar tangisan pilu itu dari lantai bawah apartemennya. Untuk pertama kalinya, Jongin mendengar tangisan yang begitu menyakitkan dari orang yang selama ini sangat sabar menghadapi semua masalahnya.
.
.
.
Jongin terlihat lebih segar sekarang. Baru saja ia selesai dengan kegiatan membersihkan badannya lalu memakai baju hangat berwarna cream dengan celana bahan yang terlihat begitu pas di kaki jenjangnya. Ia menuruni tangga menuju lantai bawah dan berjalan menuju dapur, bermaksud mencari Sehun.
Dan namja itu disana. Kepalanya tergeletak lemah diatas meja dengan satu tangan yang menggantung kebawah. Terlihat menyedihkan sekali. Jongin berjalan semakin mendekat dan tangan kanannya terulur, menggoncangkan bahu Sehun.
"Ya! Ireona!" perintahnya datar namun Sehun tak menjawab ataupun bergerak.
"Ck. Sehun, bangunlah. Ini bukan tempat tidur!"
Kali ini hanya sebuah gumaman tak jelas yang terdengar. Mata Jongin pun tertuju pada sebuah botol minuman yang terletak di dekat kepala Sehun. Ia meraihnya dan seketika membelalak melihat botol itu sudah kosong tak bersisa. Mungkin hanya satu-dua tetes saja.
"Oh Sehun! Kenapa kau meminum ini?!"
Karena merasa namanya dipanggil, Sehun pun menegakkan tubuhnya. Matanya menatap sayu pada Jongin yang masih terlihat kaget. Bagaimana tidak, yang ia tahu, Sehun itu bukan peminum seperti dirinya. Jadi, wajar saja jika ia khawatir.
Ada warna kemerahan di sekitar pipi pucat Sehun. Mungkin itu efek dari alkohol yang ia minum terlalu banyak. Tapi, itu membuat Jongin tertegun beberapa saat. Wajah Sehun terlihat berkali-kali lipat lebih manis dari biasanya. Oh tidak, sesuatu di dada kirinya berdenyut lagi.
Suara cegukan dari tenggorokan Sehun cukup membuat Jongin kembali dari alam bawah sadarnya. Namja itu menggembungkan pipinya, seperti ingin mengeluarkan sesuatu dan Jongin tahu itu. Ia segera memapah Sehun menuju wastafel dan Sehun mengeluarkan segala isi perutnya –termasuk minuman beralkohol itu- disana. Jongin mengerutkan hidungnya karena bau tak sedap menguar disekitarnya. Namun ia tak sejahat itu untuk membiarkan Sehun. Tangan kanannya terulur untuk memijat tengkuk managernya.
"Merepotkan sekali!" gerutu Jongin yang dibalas suara khas muntah dari bibir Sehun.
.
.
.
Menurut pengalaman, Jongin yakin jika sudah minum alkohol dan berakhir dengan muntah-muntah, itu akan membuat kepala terasa sakit. Maka dari itu, ia berbaik hati membaringkan Sehun di atas sofa empuknya yang dilapisi beludru berwarna cream dan memberikannya segelas air hangat.
Jongin menarik selimut tebal coklat miliknya untuk menutupi tubuh Sehun yang terlihat lemas. Mata elangnya menatap mata Sehun yang terpejam untuk beberapa saat. Ingatannya kembali pada saat namja itu menangis sesenggukan di atas meja makan.
"Jongin, jam berapa ini?" Lamunannya terbuyar saat suara serak Sehun terdengar. Kepalanya refleks bergerak ke kanan atas, melirik jam dinding di ruang tamu yang sudah menujukkan pukul 9 malam.
Jongin kembali menatap Sehun yang masih terpejam, ia terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Jam 11."
Sehun mendesis, "Ibu pasti mengkhawatirkanku. Aku harus segera pulang."
Tubuh Sehun yang hendak bangkit itu ditahan Jongin membuat mereka bertatapan.
"Ibumu pasti akan lebih khawatir jika melihat keadaanmu seperti ini!" nada bicara Jongin yang menyebalkan itu kembali terdengar. Sepertinya Jongin hanya akan berubah menjadi lembut jika Sehun tidak dalam keadaan sadar.
"Ya, kau benar." Sehun kembali berbaring, tangan kanannya memijit kepalanya yang terasa pening.
"Lebih baik aku menginap sekarang." Mata sipit Sehun menatap Jongin lagi, "Aku minta maaf dan... terima kasih."
Jongin tidak bisa seperti ini. Ia tidak ingin terjebak dalam situasi mengharukan yang bisa saja membuatnya lupa diri dan berubah lembut di depan Sehun. Maka dari itu, ia segera bangkit. Menatap Sehun datar seperti biasa sebelum memasuki kamarnya.
.
.
.
Pagi ini hari yang cukup melelahkan bagi Sehun. Sepulang dari apartemen Jongin, ia dikejutkan dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Ibunya menghilang dan ia menemukan sebuah memo di pintu lemari es. Ternyata Yixing berada di sebuah tempat dimana para tetangga sebayanya berjualan. Ini tidak bisa disebut dengan pasar karena tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pedagang makanan yang sangat sederhana. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Yixing bilang, ia akan ikut berjualan disana. Dengan modal kemampuan memasak ramennya, ia membuka sebuah kedai sederhana. Dan Sehun ikut membantu ibunya.
Wajah manis itu menekuk sedari tadi. Sehun sebenarnya tidak ingin Ibunya ikut banting tulang, cukup dia saja yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun Ibunya sama keras kepala dengan anaknya itu. Mau tidak mau Sehun harus menurut saja apapun keputusan Ibunya.
Sehun bertepuk tangan, membuang debu yang menempel di telapaknya. Matahari sudah naik dan suhu pun sedikitnya menghangat ditambah keringat yang mengucur setelah menata satu meja berukuran panjang dan beberapa kursi untuk pelanggannya nanti.
"Ibu dapat uang dari mana bisa membeli semua perlengkapan ini?" Sehun menunjuk peralatan masak Ibunya yang sudah tersusun rapi diatas meja kayu.
"Setiap kau memberikan uang hasil kerja kerasmu, Ibu menyimpannya sedikit dan juga ada beberapa dari tabungan Ibu sendiri." Jawabnya tenang. Hatinya sedang berada dalam keadaan baik.
"Kenapa tidak berjualan di pasar saja? Disini sepi, siapa yang akan membeli nantinya?" Sehun bersungut-sungut memanyunkan bibir tipisnya.
"Penghasilan kita akan habis hanya dengan membayar tempat. Kau ini seperti tidak tahu perekonomian kita saja."
Sehun mendengus setelahnya lalu mengambil sebuah lap dan membersihkan meja panjang di depannya.
"Yixing-ah, apa benar dia bekerja di perusahaan musik?" seorang wanita semuruan Ibunya mendekati mereka. Sehun memang mendengarnya, namun ia masih sibuk dengan kain lap ditangannya.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Ah, benarkah? Apa dia menjadi seorang manager itu memang benar juga?"
Yixing mengangguk dan terdengar pekikan keras setelahnya. Anak dan Ibu itu mengernyit heran memandang wanita didepannya yang terlihat begitu semangat.
Sehun terkejut saat beberapa wanita lainnya datang menghampiri dan memeluk kedua lengannya.
"Sehunnie, kami tahu kau sangat baik seperti Ibumu." Kata salah satu wanita itu dengan senyum mengembang, "Kau managernya Kim Jongin yang tampan itu, kan?"
Sehun mengangguk ragu. Pekikan keras itu menyapa telinganya –lagi. Tangan-tangan yang terasa kasar –karena rajin bekerja- dilengannya itu terlalu erat, membuat Sehun hanya bisa meringis.
"Bisakah kau meminta tanda tangannya? Putriku sangat mengidolakannya! Aku akan sangat berterima kasih, Sehunnie!"
Sehun tak menjawab, ia menatap Ibunya dengan memelas, seolah mengatakan, 'Tolong aku!'
.
.
.
PRAK!
Sebuah buku catatan berukuran sedang Sehun letakkan cukup keras di atas meja, tepat dihadapan Jongin.
"Apa ini?" tanya Jongin menunjuk buku itu dengan dagunya.
Sehun masih berdiri disamping meja dan memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana.
"Teman-teman Ibuku memaksaku untuk meminta tanda tanganmu. Jadi, aku mohon bantuannya." Jawab Sehun datar tak terlihat memohon seperti perkataannya.
Jongin tertawa meremehkan, "Tak semudah itu kau mendapatkannya. Para fansku saja harus rela antri demi mendapatkan tanda tanganku."
Sehun memutar bola matanya malas, Jongin yang menyebalkan sudah kembali lagi rupanya.
"Jadi kau tidak mau membantuku?" tangan Sehun mengambil kembali buku itu, "Baiklah, aku akan menuntutmu jika terjadi sesuatu pada kedai Ibuku!"
Jongin melotot terkejut, "Apa kau bilang?"
"Aku sangat kecewa padamu, padahal aku selalu rela membantumu." Sehun menunduk, mengubah nada bicara selirih mungkin. Dan itu hanya berpura-pura.
"H-hey, baiklah. Aku akan membantumu. Tapi... kurasa ini akan lebih baik."
Jongin tersenyum membuat Sehun menatapnya tak mengerti. Sepertinya anak itu tengah mendapat sebuah ide gila.
.
.
.
Yixing mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya di atas meja. Ini hari kedua ia membuka kedai ramennya dan hasilnya tak jauh dengan hari kemarin. Sepi. Sejak pagi tadi, ia baru mendapat satu pembeli dan kebanyakan hanya kebetulan lewat saja. Hembusan napas bosannya keluar membentuk sebuah kepulan asap. Mungkin yang dikatakan Sehun ada benarnya juga. Harusnya ia berjualan di pasar saja.
Punggungnya menegak kala melihat sebuah mobil van berhenti tak berapa jauh dari tempatnya. Seorang namja berperawakan kurus keluar dari pintu belakang membuat dahi Yixing berkerut heran. Bukankah itu Sehun?
Yixing berdiri saat Sehun menghampirinya dengan berlari kecil, "Sehun? Kau sudah pulang?"
Yang ditanya pun menggeleng, "Ini akan sedikit merepotkan. Jongin ada disini."
Sehun memang sedikit berbisik saat mengatakan namja Jongin, namun para pedagang lainnya termasuk wanita yang memohon padanya kemarin langsung menghampiri dan mengerubunginya bagaikan lalat. Sehun menjilat bibir bawahnya gugup.
"Kau bilang, Kim Jongin ada disini?"
"Kau tidak bercanda, kan?"
"Mana dia?"
Sehun tak segera menjawabnya karena sekarang semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari mobil mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan kacamata gelap dengan warna senada.
Itu Jongin. Dia berjalan santai bak model diatas panggung dan juga senyum khasnya yang terlihat memabukkan. Para wanita paruh baya itu menjerit histeris, mereka langsung berlari ke arah namja tampan itu dan refleks membuat Sehun segera menghalanginya. Mereka tidak membawa bodyguard, jadi mau tidak mau Sehun yang menggantikannya.
"Tenang, tenanglah! Kita biarkan dia duduk dulu!" kata Sehun sedikit berteriak.
Salah satu dari mereka pun segera menyiapkan sebuah kursi untuk Jongin. Namja tampan itu duduk dengan santainya, ia meminta sebuah meja dan seorang pria yang mungkin salah satu istri dari para wanita itu segera membawakannya dan meletakkannya di depan Jongin.
"Sehunnie!" Yixing menggerakkan tangan kanannya ke arah Sehun mengisyaratkan agar dia menghampirinya.
"Apa?"
Sang Ibu pun memeluk lengan anaknya dan berbisik, "Jadi, dia yang bernama Jongin?"
Sehun mengangguk, "Iya. Benar 'kan yang kubilang? Aku lebih tampan dari dia, kan?"
Yixing tak menjawab, matanya menyipit berusaha memperjelas penglihatannya terhadap Jongin yang berada beberapa meter dari tempatnya. Ia merasa pernah melihat namja itu entah dimana. Kacamata hitam yang dipakainya sedikit mengganggu ingatannya.
"Aku akan memberi kalian tanda tangan." Ujar Jongin dengan melipat kedua tangannya. Jeritan histeris di sekitar masih terdengar.
"Tapi dengan syarat, kalian harus membeli ramen Ibunya Sehun." Tambah namja itu. kini semua orang menatap Yixing dan anaknya yang terlihat panik. Mereka berebut mengambil posisi mengantri untuk mendapatkan ramen.
"Aku pesan duluan!"
"Aku juga!"
"Tidak, aku yang duluan!"
"Kau sudah tua, diam saja!"
Sehun menatap Jongin tak percaya yang tengah memamerkan seringaian tampannya. Selanjutnya, ia menghampiri Yixing dan membantunya menyiapkan puluhan mangkuk untuk para pembeli dadakan itu.
.
.
.
Hari menjelang malam. Acara fansign dadakan Kim Jongin sudah selesai 10 menit yang lalu. Tak diduga, bukan hanya para pedagang dan wanita-wanita seusia Yixing yang mengantri, para remaja yang kebetulan tinggal di daerah sana pun ikut memeriahkan kedai ramen itu demi mendapatkan tanda tangan sang idola.
Sehun dan Ibunya masih terlihat sibuk membereskan perlengkapan dagangnya sebelum menguncinya di lemari kayu yang sudah tersedia. Jongin tak ikut membantu, sebagai artis papan atas, egonya masih tinggi dan lebih suka duduk santai melihat kesibukan orang lain.
"Sehun-ah, ayo pulang!" perintah sang Ibu yang sudah siap dengan tas tentengnya.
Sehun mencuci tangannya sebentar lalu menghampiri sang Ibu dan berjalan menuju si namja berkacamata hitam.
"Kau tidak pulang?" tanya Sehun saat Jongin ikut berdiri.
Namja itu melepas kacamatanya, "Aku sangat lelah. Rumahmu tidak jauh, kan?"
Yixing mengernyit, matanya menyipit lagi saat melihat Jongin dari dekat, detik berikutnya mata itu membulat, "Kau... yang di kereta itu, kan?"
Jongin terkejut bersamaan saat Yixing menatapnya. Bisa-bisanya ia baru menyadari bahwa Ibu Sehun adalah wanita yang terus menatapnya di dalam kereta menuju kota Daejeon. Jongin menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum canggung sebelum membungkuk hormat, "A-aku Kim Jongin."
Sehun kebingungan dan menatap keduanya bergantian, "Kalian saling mengenal?"
"Tidak. Aku bertemu dengannya saat menuju Daejeon. Ternyata dia... sangat tampan, ya!"
Ada nada keraguan dalam kalimat Yixing saat mengatakan bahwa Jongin tampan. Jelas-jelas ia sudah tahu bagaimana kejelekan artis muda itu ketika tanpa sorotan kamera. Tapi, Jongin memang tampan.
"Oh, begitu, ya? Baiklah, kita pulang sekarang. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini."
.
.
.
Selama perjalanan dan sesampainya di kediaman Sehun, Jongin tak terlalu banyak bicara. Ia masih merasa canggung sejak melihat Yixing dan ketahuan bahwa orang aneh di dalam kereta itu adalah dia. Jika ia bisa, inginnya ia berlari sekencangnya dan mengasingkan diri di Afrika. Malu, sangat malu rasanya, apalagi orang yang melihatnya adalah Ibu Sehun, calon mertuanya. Eh?
Jongin tidak pulang. Ia memutuskan untuk menginap di rumah managernya karena jadwal kegiatannya tak sesibuk dulu. Tubuhnya terlalu lelah jika harus kembali ke apartemen. Yang ia inginkan sekarang adalah tidur di ranjang empuk dan hangat. Tentunya, setelah menyuruh Pak supir untuk pulang saja.
Karena masih merasa malu, Jongin tak ikut bergabung untuk makan malam. Ia berdiam diri di kamar Sehun setelah mengganti pakaiannya dengan t-shirt putih dan celana santai milik Sehun. Jongin menguap beberapa kali karena bosan menunggu si pemilik kamar yang tak muncul juga. Maka, ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya.
.
Sehun memutar knop pintu kamar sebelum membukanya. Dan ketika berbalik, ia kaget bukan main melihat Jongin berada di atas ranjang putihnya.
"A-apa yang kau lakukan dikamarku?!" Sehun berdiri di samping ranjangnya.
"Aku tidak bisa tidur di kamar yang sudah kau sediakan. Disini lebih hangat." Jawabnya seraya memeluk guling milik Sehun dengan manja.
Namja yang berstatus sebagai managernya itu melotot tak percaya, ia menarik paksa guling itu membuat Jongin menatapnya tak suka.
"Ya! Aku ngantuk, jangan menggangguku!"
"Memangnya siapa disini yang mengganggu? Kau berada di kamarku, itu tandanya kau yang menggangguku!"
Jongin mendecak lalu bangkit, duduk diatas ranjang itu.
"Ayolah, aku hanya menginap malam ini saja. Aku 'kan sudah membantu Ibumu menjual ramennya!" bela Jongin dengan memelas membuat Sehun jadi tak enak hati. Hey, jadi Jongin tidak ikhlas membantunya?
"Ck, baiklah. Tapi, kau jangan berbuat macam-macam, ok?!"
Jongin terkekeh, "Memangnya kau pikir aku akan berbuat apa?"
Sehun tak menjawab, ia merasa malu dengan perkataannya sendiri. Dan lebih baik ia masuk kamar mandi untuk mengganti bajunya.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sehun dan Jongin masih terjaga dan menikmati pemandangan kota di malam hari dari balkon kamar Sehun. Keduanya mengenakan mantel hangat karena udara malam semakin terasa dingin.
"Apa kau tidak merasa rugi dengan kegiatan tadi siang?" tanya Sehun sambil melirik namja disampingnya.
"Rugi?"
"Yaa... kau tidak mendapat bayaran sedikitpun dari acara fansign dadakan tadi."
Jongin tersenyum dibawah temaram lampu balkon, "Aku akan merasa senang jika membantu orang lain. Jadi, aku tidak merasa rugi."
Sehun tersenyum kecil setelahnya. Jongin tak sepenuhnya terlihat buruk.
Play : Park Shin Hye - Story
"Oh ya, kemarin saat di apartemenku. Kenapa kau bisa sampai mabuk?" kini Jongin yang melirik Sehun. Sebenarnya ia tahu apa jawabannya.
Namja berambut abu itu menunduk, "Itu... aku hanya merasa lelah dengan pekerjaanku akhir-akhir ini. Mungkin dengan sedikit minum, aku akan merasa lebih baik."
"Sampai muntah seperti itu, kau bilang merasa lebih baik?" nada suara Jongin meninggi, ia kesal karena Sehun berbohong.
"Untuk itu... aku-"
"Kau tak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu." Mereka bertatapan. Sehun dengan tatapan sendunya membuat Jongin tak tahan ingin mengatakan kalau ia tahu semuanya.
"Lalu," Jongin terdiam sebentar. "Kenapa kau memanggil namaku saat di lift?"
Kening Sehun mengernyit, ia tak paham dengan pertanyaan Jongin.
"Memanggilmu di lift?"
Jongin tak menjawab, ia masih menatap datar Sehun yang kini terlihat berpikir. Mengingat kembali kejadian kemarin setelah menemukan Chanyeol dengan Baekhyun.
'Kenapa rasanya sakit sekali, Jongin?'
Mata sipit Sehun membulat seketika. Ia ingat. Ia ingat apa yang dikatakannya saat di lift dan baru menyadari bahwa Jongin mengikutinya.
"Kau..."
"Aku tahu semuanya."
.
.
.
Play : Inst. Dream Catcher (The Heirs Ost.)
Matahari sudah terbangun rupanya. Lambat laun ia beranjak, menyinari seluruh kota Seoul yang selalu sibuk setiap harinya. Sinar-sinar itu menelisik masuk melewati jendela kamar Sehun dan membuat matanya mau tak mau harus terbuka. Dan manik coklat hazelnya terpenjara dalam sebuah tatapan si namja bermanik sekelam malam yang seolah menghipnotisnya. Jongin sudah bangun, ia berbaring dengan posisi menyamping –menghadap Sehun dengan bertumpu tangan kirinya. Sehun tidak protes ataupun berbicara, ia membatu dalam tatapannya, membiarkan dirinya hanyut dalam pesona Jongin yang tak pernah ia hiraukan. Ini untuk pertama kali dalam hidupnya, Sehun melihat sisi lembut Jongin dan ini sangat berbeda. Membuat sesuatu dalam rongga dada kirinya berdenyut kencang dan hatinya terasa hangat.
"Pagi... Oh Sehun."
.
.
.
Tbc
.
.
.
Semoga chapter ini gak mengecewakan :"D
Maaf ya, ini backsoundnya hampir semua soundtrack The Heirs. Author suka banget lagu2 + instrumen2nya, jadi kerasa aja feelnya pas lagi bikin ff ini :D
Gak mau banyak cuap2, langsung review aja kalo mau lanjut ^^
