MY STOIC MANAGER
Cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Kim Joonmyun
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Huang ZiTao
Genre : Drama, Romance, lilbit Comedy
Rated : T
Author : Ohorat
Warning : YAOI. BL. TYPO(s)
.
.
.
.
Jongin sudah merasa lega sekarang. Kemarin ia melihat seorang wanita paruh baya di televisi menjawab dengan lantang bahwa ia tidak bersalah dan menyebabkan kekacauan malam itu. Wanita itu adalah korban perampokan di lampu merah dan Jongin kebetulan melihatnya lalu membantunya sampai ia pingsan karena terus dipukuli. Dan si perampok pun akhirnya ditemukan oleh pihak polisi dan dijebloskan ke dalam penjara.
Kim Joonmyun, Presdir sekaligus orang yang telah memarahi Jongin habis-habisan hanya bisa mengurut pangkal hidungnya. Ternyata selama ini ia salah paham terhadap adiknya sendiri? Tapi ini bukan sepenuhnya salah Joonmyun, kenapa Jongin tidak menjelaskan yang sebenarnya saja?
Pria paruh baya itu bangkit dari sofa lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan panggilan cepat nomor dua. Bunyi nada panggil menyapa telinganya beberapa kali pertanda orang dihubunginya belum juga mengangkat panggilannya. Joonmyun menyerah pada akhirnya. Ia menekan panggilan cepat selanjutnya untuk menghubungi Tao, bawahannya.
"Cari tahu dimana Jongin. Jika ada hal yang mencurigakan beritahu aku."
Setelah panggilan terputus, Joonmyun keluar dari ruangannya.
.
.
.
Baekhyun membungkuk hormat kepada semua crew di belakang panggung sebelum berjalan menghampiri managernya, Chanyeol. Ia terlihat melamun di salah satu kursi di ujung koridor sejak bertemu dengannya pagi tadi.
"Kau ada masalah?" tanya Baekhyun yang kini duduk disampingnya.
Yang ditanya pun tersadar, ia menggeleng dan tersenyum tipis membuat Baekhyun berpikir bahwa ini tidak baik-baik saja.
"Kau bohong." Bibir tipis itu mengerucut.
Chanyeol menoleh, menatap mata sipit yang selalu dipoles eyeliner itu gemas. Baekhyun benar, dia memang sedang ada masalah sekarang. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu saat Sehun berjanji untuk menemuinya, ia belum terlihat lagi. Pesan dan chat yang dikirim tak dibalas, panggilan pun tak pernah dijawab. Hanya saja, satu hal yang membuatnya semakin merasa bersalah. Sehun menulis sesuatu di timeline akun LINE-nya.
'Satu-satunya yang tersisa adalah bekas luka yang lelah menunggu.'
Apa sejahat itukah dirinya? Apa ia sudah membuat Sehun menangis? Chanyeol hanya berharap, Sehun tidak akan membencinya setelah ini.
"Kau melamun lagi!" Baekhyun memukul bahu kanan managernya sebelum menyandarkan kepalanya di bahu lebar itu.
Chanyeol hanya diam, ia menatap namja disampingnya dan kembali memikirkan keadaan Sehun yang pasti sangat terluka setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
.
.
.
"Hanya ini yang kudapat." Tao berujar seraya menyerahkan sebuah amplop coklat ke hadapan Joonmyun yang tengah duduk di hadapannya. Malam ini ia baru kembali setelah seharian mencari keberadaan Jongin.
Pria itu mengambilnya dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari amplop tersebut. Matanya membelalak tak percaya melihat Jongin dan Sehun berada di sebuah tempat yang tidak seharusnya Jongin berada disana. Beberapa orang yang kebanyakan berusia seperti dirinya terlihat mengantri di depan Jongin. Dan satu kesimpulan yang ia dapat, itu adalah acara fansign.
"Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?" terdengar amarah di nada rendahnya, matanya berkilat emosi melihat semua foto-foto ditangannya.
"Kudengar, Jongin sendiri yang mengadakan acara itu. Ia ingin membantu Ibu dari managernya yang juga berjualan disana."
Dahi Joonmyun mengernyit sambil menatap Tao, pria yang selama ini selalu menuruti segala perintahnya dan melakukannya dengan baik. Lalu matanya kembali melihat beberapa foto yang belum sempat ia periksa. Dan ia tertegun, bahu tegangnya merosot saat matanya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal berdiri disamping Sehun sambil tersenyum.
"Yixing..."
.
.
.
Play : Big Baby Driver – Here For You
Matahari sudah terbangun rupanya. Lambat laun ia beranjak, menyinari seluruh kota Seoul yang selalu sibuk setiap harinya. Sinar-sinar itu menelisik masuk melewati jendela kamar Sehun dan membuat matanya mau tak mau harus terbuka. Dan manik coklat hazelnya terpenjara dalam sebuah tatapan si namja bermanik sekelam malam yang seolah menghipnotisnya. Jongin sudah bangun, ia berbaring dengan posisi menyamping –menghadap Sehun dengan bertumpu tangan kirinya. Sehun tidak protes ataupun berbicara, ia membatu dalam tatapannya, membiarkan dirinya hanyut dalam pesona Jongin yang tak pernah ia hiraukan. Ini untuk pertama kali dalam hidupnya, Sehun melihat sisi lembut Jongin dan ini sangat berbeda. Membuat sesuatu dalam rongga dada kirinya berdenyut kencang dan hatinya terasa hangat.
"Pagi... Oh Sehun."
Yang menyapanya tersenyum kecil berbeda dengan Sehun yang masih tak bergerak sekedar untuk membalas ucapan selamat paginya.
Sebuah suara ketukan di pintu membuatnya refleks beranjak dan menghilang di balik pintu setelah mendengar sang Ibu berkata, "Sehun, kau sudah bangun? Bantu Ibu siapkan sarapan!"
Jongin menyinggungkan sebuah senyum –lagi. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Di sisi lain, pikiran Sehun masih terbayang dengan kejadian beberapa menit lalu saat ia membuka matanya. Senyum Jongin di bawah sinar mentari pagi yang masuk kedalam kamarnya cukup membuat detak jantungnya bertalu-talu lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar, pipi putihnya pun bersemu merah.
Apa yang terjadi denganku?
.
Jongin berjalan santai dibelakang Sehun yang terlihat kaku sejak pagi tadi. Namja kurus itu berjalan lebih cepat dari biasanya membuat Jongin tersenyum sendiri. Menurut dari pengalamannya, sikap Sehun seperti seorang gadis remaja yang tengah menghindari seseorang yang pernah mengatakan perasaan padanya. Dan Jongin yakin, Sehun pasti tengah malu karena kejadian pagi tadi saat ia terbangun.
"Ya! Jika kau ingin ke toilet bukan ke arah sana!" goda Jongin diakhiri senyum yang tak bisa dilihat Sehun. Namja itu kentara sekali bahwa ia tengah gugup.
Sehun yang mendengarnya pun hanya menggerutu dan tetap berjalan menyusuri koridor yang selalu tampak sepi saat pagi-pagi seperti ini. Mungkin orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bukan seperti dirinya yang masih mencoba menghindari Jongin.
"Ya! Aku tidak sedang berbicara dengan hantu, kan?"
Kali ini Sehun benar-benar kesal, apa Jongin baru saja menyebut dirinya hantu? Ia pun berbalik, menatap Jongin tak suka namun langkahnya terhenti, tak sedikitpun berniat untuk menghampiri namja itu.
"Bisakah kau berhenti bercanda dan percepat langkahmu?"
"Tentu." Jongin tersenyum, ia kembali melangkahkan kakinya dan berhenti tepat disamping Sehun. Menatap namja itu yang kini terlihat terkejut ditempatnya.
"Seperti ini?"
Sehun tak menjawab, ia mengedipkan matanya beberapa kali dan segera menyembunyikan pipinya yang terasa panas dengan meninggalkan Jongin. Namja berkulit kecoklatan itu tertawa kecil sebelum kemudian kembali melangkah.
.
.
.
Chanyeol mendaratkan bokongnya di kursi yang baru saja ia tarik. Ini jam makan siang, ia tengah menunggu Baekhyun untuk makan bersama di salah satu kafe favorit mereka. Tangannya mengeluarkan ponsel berwarna putih miliknya dan menggeser ibu jarinya di atas layar datar itu. Tubuhnya terlonjak saat melihat postingan terbaru dari akun milik Sehun. Matanya memicing membaca serentetan kalimat yang ditulis pukul 1 malam tadi.
'Kenapa rasanya sakit sekali, Jongin?'
Chanyeol membelalak di tempat. Apa maksud Sehun menyebut nama Jongin disana? Apa terjadi sesuatu di antara mereka? Atau Sehun menceritakan semuanya pada namja itu? Pertanyaan-pertanyaan itu kini memenuhi otaknya, berputar-putar dengan jawaban yang belum tentu benar dan membuat kepalanya pusing. Sampai akhirnya Baekhyun datang dengan senyum khas di bibir tipisnya.
.
.
.
"Ada apa kau memanggilku?" Jongin menatap datar Joonmyun yang dibalut tuxedo abu. Ia meminta Jongin untuk datang ke ruangannya setelah jam makan siang.
"Aku sudah mendengar kebenarannya. Aku minta maaf atas kesalahpahamanku." Jawabnya yang juga terdengar datar. Dua saudara ini memang sama keras kepalanya.
Jongin tak menjawab, ia masih menatap atasannya itu seolah menyuruhnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan.
"Kudengar, kemarin kau membantu Sehun dan Ibunya dengan mengadakan acara fansign tanpa satu orang pun staff ada disana."
Mata Jongin membulat dan kegugupan mulai kentara di wajah tampannya. Nada bicara Joonmyun memang tidak tinggi, malah terdengar datar seperti sebelumnya. Namun itulah yang membuat Jongin gugup. Siapa tahu saja dibalik semua ini terdapat kemarahan yang sangat besar. Jongin tidak mengharapkan itu.
"A-aku hanya –mereka ingin bertemu denganku. Bukankah tidak adil jika anak-anak remaja saja yang bisa mendapatkan tanda tanganku?" Jongin berusaha membela diri.
Joonmyun tersenyum kecut mendengarnya, "Jadi, kau sudah mulai peduli rupanya?"
"Tentu saja! Aku tak sepenuhnya buruk, Presdir Kim." Sindir Jongin dan membuat mata tenang itu membulat karena perkataannya. "Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi."
Namja itu bangkit dari sofa dan bermaksud membuka pintu ruangan Joonmyun jika pria itu tidak menahannya dan berkata, "Kau bukan type orang yang mudah untuk peduli. Aku sangat tahu bagaimana dirimu."
Joonmyun menatap punggung Jongin yang masih mematung, "Kurasa, Sehun sudah berhasil merubahmu menjadi lebih baik. Jadi... jangan sampai membuatnya kecewa."
Jongin masih bergeming sampai ia pergi dan menutup pintu dari luar. Sudut bibir Joonmyun tertarik membentuk senyuman, ia mengambil foto yang tersimpan di atas meja kerjanya dan menatap lekat sosok wanita disana.
"Sehun mirip sekali denganmu."
.
.
.
Sudah hampir 10 menit Jongin diam mematung di sudut ruangan. Matanya tak lepas dari aktifitas Sehun yang terlihat sangat sibuk di depannya. Sebagai manager baru, Sehun terbilang sangat rajin dalam membantu para staff. Mengangkat ini, mengangkat itu. Mengambilkan ini, mengambilkan itu. Sehun selalu melakukan itu semua jika pekerjaannya selesai atau tidak ada kerjaan seperti sekarang ini. Jadwal Jongin tidak terlalu padat membuat waktunya tidak terlalu sibuk. Mata elangnya memperhatikan Sehun yang bergerak ke kiri dan ke kanan, tak sadar membuat sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.
Detik selanjutnya senyum itu lenyap. Chanyeol menghampiri Sehun dan kentara sekali namja kurus itu sangat gugup. Dilihatnya Chanyeol berkata sesuatu sebelum ia keluar dari ruangan diikuti Sehun. Jongin mengernyit heran lalu mengikuti keduanya tanpa mereka tahu.
.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanya Chanyeol setelah mereka berhenti di koridor. Suasana cukup sepi di saat siang seperti ini.
Sehun tak langsung menjawab, lidahnya terlalu kelu hanya untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu.
"Kenapa kau tidak mengangkat telponku?"
Yang ditanya terdiam sebentar, tangannya mengepal dan sedikit bergetar. Luka itu masih terasa sakit di dadanya.
"Aku terlalu sibuk. Maaf." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Mata Chanyeol terlihat marah, ia tahu Sehun sedang berbohong. Anak itu memang tidak pandai dalam melakukannya. Chanyeol sangat tahu bagaimana Sehun.
Menghela napas sebentar, "Aku minta maaf. Ini semua salahku."
Tidak. Sehun tidak ingin mengingatnya lagi.
"Kau pasti membenciku sekarang."
Chanyeol menatap tepat dimata Sehun yang tengah bergetar menahan gumpalan air matanya sekarang. Tatapan marahnya berubah menjadi sendu, ia benar-benar menyesal.
"Katakan sesuatu, Sehun. Aku tidak ingin kau seperti ini."
Tenggorokan Sehun terlalu kering untuk berbicara. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang, tatapan sendu itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Chanyeol menelan salivanya, ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap namja didepannya.
"Aku dan Baekhyun –tengah menjalin sebuah hubungan."
Tidak! Jangan katakan itu!
"Aku tahu." Sebuah kalimat yang seharusnya tidak Sehun katakan membuat Chanyeol tertegun sesaat. Ia masih setia menatap mata hazel yang terlihat menyedihkan itu.
"Maaf karena tidak menepati janjiku. Aku tahu kau pasti sangat marah-"
"Tentu saja!"
Mata Sehun membelalak mendapati Jongin tengah berdiri disampingnya, merangkul bahunya posesif dan memotong perkataan Chanyeol dengan tak sopan. Namja bertubuh jangkung didepannya pun tak jauh berbeda, ia menatap Jongin tak suka.
"Semua orang pasti akan sangat marah pada orang yang tidak menepati janjinya." Sindir Jongin membuat mata Sehun makin membulat.
"Maaf, tapi kau tak berhak mencampuri urusan kami." Kata Chanyeol dingin.
Jongin tersenyum menyeringai, "Aku tahu. Dan sepertinya kau sangat peduli dengan Sehun."
"Dia kekasihku. Dulu."
Sehun tertegun, ia melihat Chanyeol tengah menatap dingin ke arah Jongin. Sepertinya Chanyeol mulai tak menyukai namja berkulit hitam eksotis itu.
"Dulu, ya?" Jongin tertawa kecil sebelum kemudian menatap Sehun dan berkata, "Maaf, tapi dia sudah melupakanmu, benar kan, manager Oh?"
Kini Jongin tersenyum meremehkan ke arah Chanyeol. Kentara sekali namja berambut pirang itu sangat marah. Rahangnya terlihat menegas dan kedua tangan di samping kiri-kanannya mengepal erat.
.
.
.
Play : Lena Park – My Wish
"Kenapa kau mengatakan itu padanya?!" teriak Sehun dengan mata memerah. Setelah mengalahkan Chanyeol, Jongin membawa Sehun ke atap gedung.
"Karena aku harus mengatakannya."
"Kau tidak berhak mengatakannya! Kau pikir kau siapa?!"
Jongin tertegun dengan ucapan Sehun. Apa yang tadi ia lakukan itu adalah kesalahan yang besar?
"Kenapa kau selalu melakukan apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain?! Aku tahu hidupku menyedihkan, tapi bisakah kau tidak memperburuk semuanya?!" air mata yang sempat tertahan itu akhirnya terjatuh, Jongin tersentak melihatnya.
"Aku mencintainya! Dan kau tak berhak terlibat dalam urusan kami!"
"Kau yang membuatku terlibat dalam semua ini, Oh Sehun!" napas Jongin terengah setelah berteriak membuat Sehun seketika terdiam.
"Kau yang membawaku ke dalam masalah kalian berdua! Tatapanmu selalu memaksaku untuk melindungimu!"
"Kau salah, Jongin. Kau tidak-"
"BISAKAH KAU DIAM SAJA DAN MENYUKAIKU?!"
Mata Sehun membulat untuk kesekian kalinya hari ini. Pipinya semakin terasa panas ditambah jejak air matanya yang belum mengering. Jantung yang terus berdetak cepat sejak pembicaraannya dengan Chanyeol semakin terasa cepat sekarang.
"Aku menyukaimu. Oh Sehun."
.
.
.
Tbc
.
.
.
Jangan berharap banyak di chapter ini (?) Ide saya lagi macet dan jadilah begini wkwk
Ternyata disini silent readernya cukup banyak ya, sampe ribuan lagi -_- apa tulisan saya tidak pantas dihargai, ya? :'(
Tolong dong, jangan jadi hantu. Saya kan nulis cerita ini gak asal-asalan :"
Mohon kerja samanya buat para silent reader yang masih malu-malu buat ninggalin review. Saya gak gigit kok :'D
Dan buat yang selalu pantengin cerita ini apalagi selalu ninggalin review, saya benar2 berterimakasih. Semoga amal ibadah kalian diterima (?) maksudnya semoga kalian mendapat pahala yang setimpal (?)
Pokoknya keep review aja buat yang udah baca :D
