MY STOIC MANAGER
Cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Kim Joonmyun
Zhang Yixing (gs)
Genre : Drama, Romance, lilbit Comedy
Rated : T
Author : Ohorat
Warning : YAOI. BL. TYPO(s)
.
.
.
.
"Aku menyukaimu. Oh Sehun." lirih Jongin. Ia menatap sendu namja didepannya yang terlihat terkejut.
Sehun tak langsung menjawab, matanya yang berair masih terasa bergetar sampai ke tangan yang sedari tadi mengepal erat. Ia menatap Jongin tak percaya. Apa baru saja Jongin mengungkapkan perasaannya?
Angin sore di atap gedung tinggi itu menyapa surai-surai mereka. Membuat kering jejak air mata di pipi Sehun dan seolah membawa segala masalahnya ke udara. Sehun masih bergeming sampai butiran-butiran salju yang tampak seperti kapas turun membasahi bumi.
Jongin pun tak percaya. Namja kurus itu pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun sore itu.
.
.
.
'Kau tak berhak mencampuri urusan kami.'
'Sepertinya kau sangat peduli dengan Sehun.'
'Dia kekasihku. Dulu.'
'Maaf, tapi dia sudah melupakanmu, benar kan, manager Oh?'
'Kau yang membuatku terlibat dalam semua ini, Oh Sehun!'
'Aku menyukaimu.'
Sehun menenggelamkan seluruh wajahnya diatas lengan yang ia lipat dimeja. Perkataan-perkataan dari dua namja menyebalkan kemarin itu masih terus berputar-putar di kepalanya. Membuatnya enggan keluar dari ruangan dan membantu para staff seperti biasanya. Semuanya terlalu memusingkan dan menyesakkan dada. Bahkan tatapan sendu Chanyeol kemarin masih terekam di otaknya dan juga ketika Jongin mengungkapkan perasaannya. Itu cukup membuat dadanya kembali berdenyut seperti saat namja itu menatapnya di saat bangun tempo hari.
Tok! Tok! Tok!
Sehun mengangkat kepalanya. Terdengar ketukan pintu dari luar dan ia refleks berkata, "Masuk." Namun matanya seketika membulat saat melihat siapa yang datang. Sehun buru-buru bangkit dan membungkuk hormat dan meminta maaf atas ketidak sopanannya pada Presdir Kim.
"Silahkan duduk, Presdir." Kata Sehun gugup. Joonmyun tersenyum kecil melihatnya sebelum mengikuti perintah Sehun.
"Apa Presdir membutuhkanku? Kenapa anda tidak menelponku saja? Aku bisa-"
"Tenang saja, Oh Sehun. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu." Potong Joonmyun tenang.
Sehun memiringkan kepalanya bingung, "Sesuatu?"
"Ini mengenai masalah pribadi. Bolehkah?"
Namja kurus itu mengangguk ragu, "T-tentu saja."
Ada jeda sebentar. Joonmyun menghela napasnya.
"Bagaimana kabar ayahmu?"
"Ayahku? Bagaimana kau –um, dia meninggal karena kecelakaan 5 tahun yang lalu." Sehun menunduk tak melihat bagaimana keterkejutan pria di depannya.
"Maaf." Ucap Joonmyun dan hanya dibalas sebuah gelengan dan senyuman Sehun.
"Lalu, Ibumu?"
"Dia baik-baik saja. Lambat laun, ia sudah bisa menerima kepergian ayah."
Ada rasa lega di dalam hati Joonmyun setelah mendengarnya. Jadi, Yixing baik-baik saja.
"Um, kenapa Presdir menanyakan mereka?" Sehun benar-benar terlihat bingung sekarang.
Joonmyun tersadar lalu tersenyum, "Tidak apa-apa. Tapi, Sehun-ah-"
Pria yang mengenakan black suit itu menatap langsung ke manik hazelnya. "-bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?"
"...Apa?"
.
.
.
"Silahkan masuk. Maaf, rumahku sedikit berantakan." Joonmyun melepas sepatunya dan memakai sendal rumah yang sudah tersedia di depan pintu apartemen kecil Sehun. Pria itu melihat sekeliling ruangan yang tampak sederhana namun tertata rapi. Semuanya jelas menggambarkan kepribadian Yixing, membuatnya tak sadar menarik sudut bibirnya.
Sehun masih terlihat gugup sejak atasannya itu meminta untuk berkunjung. Ia tak habis pikir, kenapa Joonmyun ingin ke rumahnya? Apa ia sedang menyelidiki Sehun takut-takut pegawainya itu adalah seorang penjahat? Oh, itu film sekali. Namun pada akhirnya, Sehun mengiyakan saja dan sekarang menyuruh sang Presdir untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Aku akan membuatkan minum sebentar. Mungkin Ibu sedang ada di dapur."
Begitu Sehun menyebutkan 'Ibu', tubuh Joonmyun menegang seketika. Bukankah malam ini ia sudah menyiapkan segalanya untuk bertemu Yixing? Kenapa semuanya terasa seperti 20 tahun lalu saat mereka bertemu di universitas dan jatuh dalam pesona wanita itu? Apa Yixing juga akan merasakan hal yang sama ketika mereka bertemu lagi?
5 menit berlalu dan jantungnya berdegup tak normal. Sehun belum muncul juga membuat Joonmyun harap-harap cemas ditempatnya. Dan semua organ di dalam tubuhnya terasa berhenti saat itu juga. Seorang wanita paruh baya muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan beberapa cemilan. Kedua matanya bertemu, Yixing menghentikan langkahnya begitu pula dengan Joonmyun yang entah sejak kapan sudah bangkit dari sofa.
"Ibu, sepertinya saladnya habis!" teriakan Sehun dari dapur membuat dua manusia yang tengah bertatapan itu tersadar. Yixing menoleh ke arah dapur masih dalam posisinya.
"Kau beli saja, sekalian beli persediaan yang sudah habis!" perintahnya sebelum kemudian menghampiri Joonmyun untuk meletakan jamuan di atas meja.
Sehun keluar dari dapur, ia menatap atasannya, "Presdir, sepertinya aku harus membeli sesuatu. Apa tidak apa-apa jika kutinggal sebentar?"
Yang ditanya pun tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu disini."
Mendengar itu, Yixing merasa gugup setengah mati sambil meletakan cemilan-cemilan yang dibawanya. Apa sebenarnya maksud kedatangan Joonmyun?
"Baiklah." Sehun menghilang di balik pintu dan Joonmyun kembali mendaratkan bokongnya di atas sofa, seperti Yixing.
Suasana canggung kentara sekali di ruangan itu, Joonmyun terlihat menelan salivanya dan bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Yixing, meskipun ia terlihat lebih tenang, namun tetap saja detak jantungnya masih berdegup terlalu cepat.
"Bagaimana kabarmu?" itulah kalimat pertama Joonmyun yang keluar setelah melawan kegugupan untuk beberapa detik.
Yixing tersenyum, masih berusaha tenang, "Baik. Kau sendiri?"
"Lebih baik setelah bertemu denganmu."
Wanita itu tertawa kecil, ternyata Joonmyun tak pernah berubah. Ia senang sekali menggodanya seperti saat 20 tahun lalu.
"Kau tak pernah berubah, ya?"
Joonmyun tersenyum mendengarnya, "Kau juga. Tetap cantik seperti saat pertama kali kita bertemu."
"Tapi aku semakin tua. Bahkan anakku sudah dewasa."
Pria tampan itu masih setia menatap Yixing, rasa rindu yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya bisa terluapkan. Meskipun sebenarnya, ia ingin memeluk wanita itu.
"Itu tak membuat rasa cintaku luntur sedikitpun."
Yixing memeras mantel bagian bawahnya. Jantungnya berdenyut lagi. Ternyata Joonmyun masih menunggunya?
"Aku merindukanmu, Yixing."
Wanita itu menatap lekat mata hitam Joonmyun. Semuanya terasa seperti kembali pada saat 20 tahun lalu ketika Joonmyun mengungkapkan perasaannya di atap gedung universitas. Tak ada kebohongan disana, meskipun ia mencarinya sedalam apapun, Yixing tetap tak menemukannya. Tatapan tulusnya masih sama. Dan sekarang terulang kembali.
"Kau bahkan tak pernah memanggilku noona."
.
.
.
Sehun berjalan keluar dari minimarket dengan menenteng satu kantong plastik berukuran sedang. Jarak rumahnya tak terlalu jauh, sehingga ia memilih untuk berjalan kaki walaupun akan memakan waktu beberapa puluh menit. Matanya berbinar saat melihat sebuah kedai bubble tea di depan matanya. Tanpa berpikir panjang, Sehun segera melangkah masuk ke dalam kedai tersebut dan membeli minuman favoritnya itu meskipun udara terasa sangat dingin malam ini.
Ia melangkah pelan menghampiri sebuah kursi kayu panjang di taman sekitar apartemennya. Bibir tipis itu masih setia menghisap minuman dingin berwarna cokelat melalui sedotan. Hatinya terasa lebih baik sekarang. Bubble tea memang tak pernah mengecewakan Sehun.
Play : Love is (Comic Vers.) The Heirs Ost.
Namja bersurai abu itu berjengit dari tempatnya ketika merasakan sesuatu menempel di telinga kirinya. Sehun menoleh dan matanya membulat kaget mendapati Jongin tengah duduk disampingnya. Anak itu baru saja menempelkan salah satu earphone miliknya ke telinga kiri Sehun.
"A-apa yang kau lakukan disini?"
"Tidak sengaja lewat dan melihatmu." Jawabnya santai. Jongin lagi-lagi mengenakan serba hitam sekarang. Dan apa itu? Malam-malam begini memakai kacamata hitam, apa tidak gelap?
Sehun masih menatapnya tak percaya membuat Jongin mendecak lalu melepas kacamata hitamnya.
"Coba dengarkan." Katanya sambil menekan earphone di telinga Sehun.
"Aish, kau membuat telingaku sakit!"
"Berisik."
Sehun mendengus. Anak ini sudah kembali menjadi menyebalkan, rupanya. Mau tak mau, Sehun pun mendengarkan lagu yang mengalun dari earphone milik Jongin. Ia tidak tahu apa judul lagu itu dan siapa penyanyinya. Yang ia tahu, semua liriknya dalam bahasa Inggris dan Sehun tidak terlalu tahu soal musik mancanegara, kecuali lagu-lagu Justin Bieber.
Suasana disekitar terasa hening karena malam semakin gelap dan hanya diterangi lampu-lampu taman. Sesekali ia menyedot minumannya dan tak sadar mengundang perhatian Jongin. Namja yang tengah mengenakan mantel hitam itu memperhatikan Sehun dan cup yang digenggamnya.
"Apa itu?"
Sehun mengikuti arah mata Jongin. "Oh, ini. Bubble tea."
"Bagaimana rasanya?"
"Menyenangkan. Apalagi dengan bola-bola hitam yang menggemaskan ini, kau pasti akan ketagihan jika sudah meminumnya!" jelas Sehun bangga.
Jongin tertawa meremehkan, "Kekanakan sekali."
Senyum Sehun lenyap seketika, ia menatap Jongin tak suka karena namja itu sudah mengejek minuman kesukaannya. Baru kali ini, ada orang yang menolak minuman menyenangkan seperti bubble tea. Dan parahnya, di depan Sehun.
"Jangan bertanya jika akhirnya hanya ingin menghina." Cibir Sehun sebelum kemudian kembali menyesap minuman itu.
Jongin tak mengindahkan perkataan Sehun. Matanya tetap memperhatikan bagaimana bola-bola kecil berwarna hitam itu naik melewati sedotan dan berakhir di telan tenggorokan Sehun. Sepertinya enak dan tak sadar, ia menelan salivanya sendiri.
Lagi-lagi Sehun dibuat terkejut malam ini. Baru saja tangan nakal Jongin merebut cup digenggamannya dan namja itu langsung menyedot minuman itu sampai habis. Sehun melotot tak percaya ditambah rasa kesal yang sudah memenuhi ubun-ubun.
"YA! Apa yang kau lakukan?!"
Jongin tak menghiraukan Sehun, ia tetap menikmati bola-bola kecil menggemaskan itu melewati tenggorokannya.
"Sekarang siapa yang kekanakan?!"
Sehun mendengus, ia mengeluarkan ponsel dari mantelnya lalu membuka akun LINE-nya. Ia menggerakkan ibu jarinya di atas layar datar itu ke atas dan ke bawah. Menekan tombol profil untuk mengganti display picturenya. Namun, tatapannya terhenti pada tulisan teratas di timelinenya sendiri. Dahinya mengernyit ketika membaca serentetan kalimat yang sepertinya belum pernah ia posting.
'Kenapa rasanya sakit sekali, Jongin?'
Mata sipitnya membulat, "S-siapa yang menulis ini?!"
Ia menoleh kesamping, tepat dimana Jongin kini tengah duduk bersandar pada kursi dengan nyaman. Cup bubble tea miliknya sudah bersarang di tempat sampah.
"YA! Kau yang menulis ini, kan?!" semprotnya setelah memukul bahu Jongin membuat namja itu mengaduh sekaligus kaget.
"Apa maksudmu memukulku? Kau membuat jantungku hampir copot!"
"Itu lebih baik!"
"Apa? Jadi kau senang kalau aku mati sekarang?"
"Tentu saja! Itu hukumanmu karena sudah membajak akun milik orang lain!"
Jongin mengernyit, ia baru teringat sesuatu, "Aku tidak membajaknya."
"Lalu apa ini? Jangan mengelak! Kau sudah membuat teman-temanku berpikiran yang tidak-tidak! Aish, kau ini benar-benar!"
Sehun cepat-cepat menghapus postingan Jongin, sedangkan anak itu kembali duduk dengan nyaman.
"Kapan kau menulisnya? Kenapa ponselku bisa ada ditanganmu?"
"Tidurmu sangat pulas bahkan kau mendengkur membuatku tak bisa tidur. Jadi kubuka ponselmu dan-"
"Jadi kau mengambil ponselku saat aku tidur?! YA! Kim Jongin, apa kau tidak tahu sopan santun?!" potong Sehun sambil kembali melayangkan pukulannya di bahu Jongin.
"YA! Bisakah kau tidak memukulku?"
"Tidak. Dan aku tidak mendengkur!"
"Kau melakukannya."
"Tidak!"
"Dari mana kau tahu? Kau tidur dan tidak akan tahu apa yang kau lakukan!"
Sehun melotot tak percaya, ia tak tahu harus menjawab apa sekarang. Yang bisa ia lihat hanya seringai menyebalkan Jongin. Suasana pun menjadi hening, Sehun membenarkan posisi duduknya disamping Jongin lalu keduanya menatap butiran salju yang sudah mulai turun.
"Kau sudah memikirkannya?" suara Jongin memecah keheningan malam itu.
Sehun menoleh, dahinya mengernyit bingung, "Hm?"
Jongin menatap Sehun dalam dengan posisi masih bersandar nyaman
"Tentang perasaanku."
Play : Lena Park – My Wish
Nada bicaranya yang dingin namun serius itu membuat bahu Sehun menegang, ia segera mengalihkan pandangannya. Kemana saja asal tidak menatap mata kelam itu.
Keheningan yang sempat menghilang itu kini kembali, menyelimuti keduanya yang terlarut dalam pikiran masing-masing. Tangan Sehun masih menggenggam ponselnya. Hatinya campur aduk sekarang, yang ia inginkan semua kejadian kemarin itu tidak pernah terjadi. Ia ingin melupakannya tapi baru saja Jongin membuka semuanya. Memaksanya untuk kembali mengingat dan berpikir keras apa yang harus ia katakan pada Jongin.
Sehun belum mengerti bagaimana perasaannya pada Jongin. Bohong jika ia tidak merasa nyaman didekat namja itu. Namun, ia pun tak tahu apa benar Jongin menyukainya? Sehun tahu bagaimana Jongin, anak itu nakal, suka main-main, dan selalu membuat masalah. Ia hanya tak ingin menjadi mainan Jongin. Cukup Chanyeol saja yang mempermainkannya. Ia tidak mau membenci Jongin jika sampai itu terjadi.
"Maaf, Ibu sudah menungguku." Sehun membawa kantong plastik belanjaannya terburu-buru. Ia tidak ingin membahas soal perasaannya ataupun perasaan Jongin. Maka dari itu ia bangkit, bermaksud meninggalkan namja itu jika saja sebuah cengkraman di lengannya tak menahannya pergi sehingga ia terduduk kembali.
Dengan bibir tebal milik Jongin mencium bibir tipis miliknya.
Mata sipit itu kembali membulat. Semuanya terlalu cepat dan Sehun tak tahu harus bagaimana sekarang. Suasana terasa semakin hening, hanya detakan jantungnya sendiri yang dapat terdengar jelas. Kantong belanjanya pun sudah tak ada ditangannya, ia membiarkannya terjatuh di atas rumput taman begitu juga dengan ponselnya.
Ciuman itu terlepas, Jongin menatap Sehun yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Jarak keduanya masih begitu dekat, Sehun bisa merasakan napas Jongin menyapu wajahnya.
"Aku akan melakukan ini jika kau pergi lagi."
Belum sempat Sehun mengeluarkan protes, Jongin menghapus kembali jarak mereka. Ia mencium Sehun lebih dalam sekarang. Seolah menumpahkan semua perasaannya agar Sehun bisa mempercayai bagaimana perasaannya.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Gimana? Apdetnya cepet kan?
Seneng deh banyak yang nunggu ni ff :'D
Maaf kalo chapter ini pendek dan gak sesuai harapan kalian /ketawa nista/ ide saya bener2 lagi mentok akhir2 ini :"
Dan buat yang nanya2 apa hubungan SuLay, udah saya jelasin di chapt ini :D kalo kurang jelas, silahkan hubungi orang2 yg bersangkutan (?)
Big thanks buat yang selalu baca, follow, favo,dan review ff ini. Kalian luar biasaaaa~
Sok atuh di review lagi biar next chap segera apdet :D
