Author : PrincessZitao

Rated : T

Genre : Friendship, hurt,romance(?)

Main cast : Tao, Luhan, Kris, Sehun,Baekhyun

Other cast : Sungyeol (Infinite), dll

Warning : Typo, BL, Shounen-ai, alur kecepatan, cerita pasaran.

Don't Like, Don't like. This is Yaoi/BoyXboy.


Happy Reading

.

.

KALAU GAK SUKA, JANGAN BACA!

.

.

.

Luhan memijit pelipisnya pelan, berurusan dengan Tao benar-benar membuat kepalanya terasa pusing.

"Pusing ya?" Luhan mendongak, ia menatap Sehun yang tengah tersenyum kecil ke arahnya.

"Bukan urusan mu" Ucap Luhan ketus, Sehun tersenyum simpul.

"Cantik-cantik kok galak" Luhan mendelik tajam, ucapan Sehun adalah racun baginya.

"Aku namja bodoh" Gertak Luhan kesal, Sehun terkekeh pelan.

"Yayaya, aku tahu. Maaf" Ucap Sehun tersenyum simpul, Luhan mendengus sebal.

Tiba-tiba saja suasana menjadi hening, tidak ada yang berniat memulai pembicaraan sedikitpun. Sehun menatap lurus kedepan, ia menatap jalannan yang tadi di lalui Kris dan Tao sebelum keduanya menghilang di tikungan.

"Dulu Tao tidak seperti itu" Suara itu tertelan oleh angin, Luhan menatap Sehun dengan tatapan bingung. Maksudnya?

"Dulu Tao anak yang pendiam, dia pemalu dan tidak suka bersosialisasi" Luhan mengernyit bingung, Tao anak yang pendiam? Benarkah? Lalu apa yang terjadi dengan Tao yang sekarang? Kepalanya terbentur tembok dan Tao jadi berubah. Begitu?

Hahaha, lucu sekali

"Tao tidak punya teman"

Hah?

Ucapan Sehun menghilangkan pemikiran konyol Luhan tentang Tao, namja yang mempunyai surai berwarna coklat itu menatapnya bingung sekaligus penasaran pada sosok Sehun.

"Apa?" Luhan bertanya pelan, bukannya ia tidak mengerti atau tidak mendengar ucapan Sehun. Tapi Luhan ingin Sehun melanjutkan ceritanya.

Sehun memejamkan kedua matanya, ia tersenyum merasakan hembusan angin lembut yang menyentuh helaian rambutnya. Beberapa detik, Luhan menatap Sehun dalam sebuah keterpanaan . Namja tampan itu, terlihat begitu mempesona. Luhan merasa sedikit kecewa, kenapa ia tidak di lahirkan setampan Sehun atau Kris.

"Waktu itu..." Sehun kembali membuka kedua bola matanya.

"Untuk pertama kalinya ada orang yang mau berteman dengan
Tao"

.

.

Hening

.

.

Luhan terdiam, membiarkan keheningan menguasai keduanya. Angin berhembus pelan, mengurung keduanya dalam buaian lembut yang memabukkan. Tanpa sadar Luhan kembali menunggu Sehun melanjutkan ceritanya, ia ingin tahu, apa yang terjadi dengan Tao...dimasa lalu.

Sehun menghela nafas pelan, namja tampan dengan kulit seputih susu itu mendongak menatap langit. Kedua sudut bibir Sehun terangkat, membentuk senyuman mempesona yang membuat Luhan iri. Sekali lagi, kenapa Luhan tidak di lahirkan setampan Sehun? Tanpa sadar Luhan menatap lekat Sehun yang sedang menerawang menatap langit.

"Anak itu, dia sangat berbeda dengan Tao. Dia anak yang baik, ceria, ramah, dan suka bersosialisasi" Sekilas tatapan Sehun berubah menajdi sendu, namja yang umurnya lebih muda dari Luhan itu menundukkan kepalanya dan menghela nafas pelan. Melihat perubahan pada diri Sehun, Luhan mengernyit bingung, ada apa dengan Sehun?

"Ekhem.." Luhan berdehem pelan, mencoba memecah keheningan yang membuatnya menjadi sedikit canggung.

"Kalau dia baik, lalu kenapa sekarang dia tidak bersama Tao lagi? Apa dia bosan? Atau mungkin dia merasa pusing karena harus terus berurusan dengan bocah Panda itu?" Sehun mendongak menatap Luhan, tangannya terulur mengusak tatanan rambut Luhan yang sewarna dengan miliknya. Sehun menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang membuat Luhan merona.

"Dia_

.

.

Angin lembut kembali berhembus.

.

.

_Sudah meninggal"

.

.

Deg

.

.

Luhan tercekat, seluruh tubuhnya seketika membeku tidak bisa bergerak.

Mening...gal?

Itu sangat jauh dari perkiraan Luhan sebelumnya. Luhan Kira...Luhan kira...melihat Tao selalu tersenyum cerah, membuat Luhan berpikir bahwa hidup Tao selalu dipenuhi oleh kebahagiaan. Tapi ternyata_

.

.

.

_tidak ada hidup yang sempurna.

.

Sehun tersenyum simpul, namja tampan itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Luhan yang masih mematung. Luhan masih terdiam, pikirannya masih terkurung dalam kenangan Tao di masa lalu.

.

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap

.

Baru lima langkan berjalan, Sehun kembali menghentikan langkahnya.

"Luhan hyung"

Sehun berbalik dan menatap Luhan. Bersamaan dengan angin yang berhembus menerpa keduanya, Luhan menoleh menatap Sehun. Surai coklat namja cantik itu bergerak-gerak kecil karena terpaan angin, sehingga poninya yang sudah sedikit memanjang menghalangi pandangan Luhan.

"Sejak saat itu..." Sehun kembali tersenyum di balik awan jingga yang menghiasi langit. Senyumannya yang terlihat sempurna untuk di padukan dengan keindahan alam, keindahan yang begitu mempesona sehingga Luhan tidak bisa berpaling walau hanya satu detik.

"Tao berubah"

.

.

Deg

.

.

Hening

.

Keduanya saling bertatapan dengan ekspresi tak terbaca, saling terdiam dan membiarkan keheningan menguasai keduanya. Apa yang Luhan ketahui sekarang cukup membuatnya terkejut, tapi Luhan tidak tahu harus berekpresi seperti apa? Atau bagaimana? Luhan hanya bisa terdiam, mencoba mencari kebohongaan pada dua keping hazel milik Sehun.

Tapi tidak ada.

Sehun kembali berbalik, membiarkan Luhan menatap punggung tegapnya. Namun Sehun tetap terdiam, tidak berniat melanjutkan langkahnya yang terhenti.

"Kau, adalah orang kedua setelah Kris_

.

.

.

_Yang Tao anggap teman"

.

.

Deg

.

.

Luhan tersentak, kedua bola matanya menyiratkan sebuah keterkejutan. Sehun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, kali ini namja tampan itu tidak berbalik atau pun berhenti. Sehun terus berjalan hingga kedua bola mata Luhan tidak bisa menggapainya lagi. Ia pergi, meninggalkan Luhan dalam kesendirian yang sepi.

"Dia_

.

_Sudah meninggal"

.

Hening

.

Luhan menundukkan kepalanya, ia menatap ujung sepatu yang entah kenapa terlihat begitu menarik baginya. Luhan tidak tau, ia tidak tahu tau harus bagaimana? Luhan tidak mengerti, tentang perasaannya saat ini.

.

"Sejak saat itu_

_Tao berubah"

.

Butir-butir ingatan saat pertama kali Luhan bertemu dengan Tao mulai bermunculan di kepalanya, berputar-putar seperti layar proyektor yang rusak. Ini menyebalkan, Luhan tidak mau mengingatnya. Tapi...Luhan tidak bisa menghentikannya. Luhan harus apa?

Dulu, Tao adalah satu-satunya Hobae yang mau berteman dengan Luhan. Bukannya Luhan orang jahat, sehingga semua orang tidak mau berteman dengan Luhan. Hanya saja, sikap Luhan yang sedikit kasar dan dingin membuat semua orang enggan berteman dengannya. Tapi...Tao, dia satu-satunya orang yang selalu mencoba untuk lebih dekat dengan Luhan.

Kenapa?

Bahkan sekarang Luhan baru sadar, bahwa sifat dinginnya perlahan-lahan selalu mencair saat bersama Tao. Jika bersama Tao, Luhan juga akan lebih banyak bicara dari biasanya. Ya..walaupun yang Luhan katakan hanya akan berisi kata-kata ...ini pertama kalinya untuk Luhan.

Pertama kalinya.

Kenapa?

.

.

Bongkahan es yang selama ini Luhan jaga agar selalu membeku...mulai mencair.

.

.

Kenapa?

.

.

Aku tercipta untuk sendirian

Tapi ternyata...

Aku masih bisa bertemu dengan mu.

(SNSD : Divine)

.

.

.

Dibawah sebuah pohon Maple yang besar, terlihat dua orang namja yang sedang duduk bersama. Salah satunya terlihat tengah serius membaca sebuah buku, sedangkan salah satunya lagi terlihat sedang serius mendengarkan setiap bait kata yang di bacakan temannya dari dalam buku tersebut. Wajah serius seorang namja bermata panda terlihat begitu menggemaskan saat ia mendengarkan cerita yang di bacakan temannya dengan begitu antusias.

.

.

Peri hijau adalah peri penyembuh, dia suka datang saat senja tiba karena peri hijau suka langait yang berwarna jingga. Tapi kau juga bisa menemukan peri hijau ketika pelangi muncul, karena peri hijau juga suka pelangi.

Suatu hari, ada seorang putri cantik yang jatuh sakit. Semua tabib tidak bisa menyembuhkannya karena sang putri sakit parah. Sakit parah yang tidak di katahui apa penyebabnya. Karena tidak ada satupun tabib yang mampu mengobati sang putri, para pelayan istana pun pergi untuk mencari peri hijau. Karena mereka yakin peri hijau dapat menyembuhkan sang putri. Dan karena perjuangan keras para pelayan, mereka pun dapat menemukan peri hijau. Peri hijau adalah peri yang baik hati, maka dari itu peri hijau bersedia menyembuhkan sang putri hingga sehat kembali.

.

.

"Horeeee...wah, ini sangan hebat" Teriak namja bersurai raven dengan nyaringnya, kedua bola matanya yang terlihat mirip panda berbinar terang seperti anak kecil. Terlihat jelas sekali kalau namja tersebut begitu menyukai cerita yang baru saja di bacakan temannya. Namja yang lebih tua tersenyum lebar, ia kemudia menutup bukunya dan menatap namja bermata panda di depannya dengan kedua mata bulatnya yang selalu bersinar cerah.

"Kau suka, Zitao" Tanyanya ceria, Zitao mengangguk semangat. Namja manis dengan surai raven itu tersenyum hingga kedua bola matanya menghilang dalam lengkungan bulan sabit, tampak begitu menggemaskan untuk di cubbit.

"Ya, aku suka. Sangaaattt sukaaa, Sungyeol hyung" Namja yang bernama Sungyeol itu tersenyum lebar, sebelah tangannya terangkat untuk mengusak rambut Zitao dengan gemas.

"Benarkah, Zi?" Zitao mengangguk semangat.

"Benar, ceritanya bagus sekali. Peri hijau baik, dia suka menyembuhkan banyak orang" Ucap Zita dengan semangat seperti anak kecil, Sungyeol kembali tersenyum. Zitao selalu tampak menggemaskan dimatanya.

"Zitao suka peri hijau?" Anggukkan semangat dari Zitao kembali Seungyeol dapat.

"Ne, Zitao suka" Sungyeol terkekeh pelan.

"Zitao mau menjadi peri hijau?" Tanyanya lagi.

"Hah?" Kedua bola Zitao membelalak lucu, namja manis itu menampilkan ekspresi terkejut yang menggemaskan. Sungyeol mengernyit bingung melihat ekspresi Zitao, kenapa? Apa ada yang salah?

"Kenapa, Zi?" Tanya Sungyeol bingung, Zitao mengerucutkan bibirnya.

"Zitao tidak mau menjadi peri hijau" Sungyeol menaikkan sebelah halisnya.

"Nanti kalau Zitao menjadi peri hijau, berarti saat itu Zitao bukan manusia lagi dong" Ucap Zitao dengan kedua bola mata yang sengaja di bulatkan, membuat ekspresi dramatis yang sebenarnya terlihat lucu juga menggemaskan. Sungyeol tercengang. Apa yang Zitao bilang tadi?

"Mama, Baba pasti sedih kalau tau Zitao berubah menjadi peri hijau. Itu berarti Zitao bukan anak Mama dan Baba lagi. Dan bagaiman jika nanti Baba marah dan membuang semua boneka panda Zitao. Andweeeee...Zitao tidak mau itu terjadi" Teriak Zitao dengan hebohnya.

"Huff...Pfff" Sungyeol membekap mulutnya sendiri, namja bermata bulat itu mencoba menahan tawa saat melihat ekspresi Zitao saat panik sendiri. Sebuah perempatan muncul di dahi Zitao, namja manis itu menatap Sungyeol tidak suka.

"Hahahahaha" Sungyeol tertawa keras, mengabaikan Zitao yang mengerucutkan bibirnya kesal. Zitao menatap Sungyeol kesal dan memalingkan wajahnya.

Sungyeol hyung menyebalkan.

Kenapa malah tertawa?

"Hahahahaha" Sungyeol menggeleng-gelengkan kepalanya sambil ...Zitao, ada-ada saja. Zitao itu lucu ya? Saat pertama kali bertemu, hal ini juga yang membuat Sungyeol suka pada Zitao. Zitao itu menggemaskan. Sungyeol suka Zitao, sangat suka. Tapi hanya Sungyeol yang menyukai Zitao.

Hanya Sungyeol.

Kenapa?

Zitao mengerucutkan bibirnya lucu, apa-apan itu? Kenapa Sungyeol hyung menertawakannya? Memangnya ada yang lucu ya?

"Hahaha...Zitao itu lucu ya" Zitao mendengus kesal.

"Zitao juga menggemaskan" Zitao memalingkan wajahnya, ia masih kesal kepada Sungyeol.

"Zitao juga sangat manis" Kedua pipi Zitao mulai merona.

"Aku suka Zitao" Zitao tercengang, namja manis dengan lingkaran mata seperti Panda itu menoleh menatap Sungyeol dengan horor.

"Sungyeol hyung, suka Zitao?" Tanyanya dengan ekspresi terkejut yang sedikit berlebihan, Sunyeol mengangguk mantap dan tersenyum.

"Ya, Sungyeol hyung suka Zitao" Kedua bola mata Zitao membola lucu, namja manis itu kemudian menutup mulutnya dan menatap Sungyeol tak percaya. Zitao menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis, sedikit berlebihan memang, tapi Zitao tetap terlihat menggemaskan. Sunyeol menatapnya bingung.

"Tidak, tidak boleh. Ini berbahaya, bagaimana jika Myungsoo hyung tau , lalu ia marah dan mencincang ku. Andweee...itu tidak boleh terjadi, Sungyeol hyung tidak boleh menyukai ku"

Ppfff...Sungyeol kembali menahan tawanya, dasar Zitao.

"Hahahaha" Zitao kembali mengerucutkan bibirnyya, dan menatap kesal pada Sungyeol. Menangnya ada yang lucu ya?

Sungyeol berdehem pelan, namja manis berpipi chuby itu mencoba meredakan tawanya yang terus-terusan meledak karena Zitao. Sungyeol tersenyum manis dan menatap Zitao.

"Zitao harus terus seperti ini ya" Zitao mengernyit.

"Maksudnya?" Tanya Zitao bingung, namja manis itu tidak mengerti maksud dari ucapan Sungyeol. Harus terus seperti ini? Maksudnya apa?

Sungyeol tersenyum " Zitao harus selalu terlihat lucu, Zitao harus selalu terlihat menggemaskan, Zitao harus selalu membuat orang lain tertawa, dan Zitao_

.

.

_harus selalu bahagia"

.

Angin lembut kembali berhembus, menerbangkan setiap helaian daun maple yang mulai berguguran. Keduanya terdiam dengan ekspresi dan perasaan yang berbeda. Sungyeol tersenyum, dan Zitao diam membisu.

Kenapa...berbicara seperti itu?

"Zitao, Zitao tau? matahari tidak suka awan mendung. Karena awan mendung selalu menghalanginya menatap bumi"

"Ke..napa?" Zitao bertanya pelan, perasaan bahagia dan semangat yang sempat ia rasakan tiba-tiba saja menguap entah kemana.

Tiba-tiba saja, Zitao merasa hampa.

"Karena jika awan mendung datang, Matahari tidak bisa melihat orang-orang bahagia di bawah sinarnya"

"..."

Zitao terdiam, namja manis dengan surai raven itu kemudian menundukkan wajahnya dengan ekspresi sedih. Kedua bola matanya yang tadi berbinar terang kini berubah menjadi sendu. Entah kenapa, tiba-tiba saja Zitao merasa sedih.

Sungyeol tersenyum dan menggenggam kedua tangan Zitao lembut, meremasnya pelan seolah memberi kekuatan pada Zitao.

"Zitao" Zitao masih menunduk, namja manis itu enggan menatap Sungyeol.

"Zitao, aku ingin melihat Zitao bahagia" Zitao menggigit bibir bawahnya kuat, kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.

"Zitao harus selalu bahagia ya_

.

.

_Walaupun, tanpaku"

"Hiks" Isakan kecil berhasil lolos dari belahan bibir kucing Zitao, sesak tiba-tiba menghimpit dadanya.

Zitao tidak bisa bersosialisasi, bukannya tidak mau bersosialisasi. Zitao tidak punya teman, bukannya tidak mau punya teman. Zitao ingin sekali punya teman, tapi tidak ada orang yang mau berteman dengannya.

Tidak ada.

Kenapa?

Namun sekarang Zitao punya teman, sekarang Zitao punya Sungyeol. Tapi kenapa, sekarang Zitao merasa akan sendirian kembali. Zitao tidak suka sendirian.

Rasanya sepi.

Sesak.

"Hiks" Zitao mendongakkan kepalanya, namja manis itu menatap Sungyeol dengan lelehan air mata yang mengalir melewati belahan pipinya. Surainya yang sehitam malam bergerak-gerak kecil karena terpaan angin.

"Aku..." Nafas Zitao tersendat.

"Aku akan hidup bahagia, aku akan selalu hidup bagaia. Tapi_

.

.

Helaian dedaunan kembali terbang terbawa angin.

.

.

_Sungyeol hyung harus selalu berada di sisiku"

.

Namja manis berpipi chuby itu menatap Zitao dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Sungyeol berharap, angin juga bisa menerbangkan kesedihannya. Menghilangkan setiap beban yang menyesakkan dadanya.

"Zi...Tao"

"A-aku tidak peduli jika aku tidak mempunyai teman, aku tidak peduli hiks...hiks..."

Angin tidak bisa meredam isakan Zitao yang semakin kencang, Zitao merasa tercekik oleh rasa sesak. Rasanya benar-benar menyakitkan.

"Aku hanya butuh Sungyeol hyung, hiks.." Lirih Zitao sambil terisak, Sungyeol menggigit bibirnya yang muali bergetar. Ia membawa namja manis yang lebih muda darinya itu kedalam pelukan hangatnya. Sungyeol juga merasa sesak, ia juga terluka. Perlahan, lelehan air mata meluncur dari kedua sudut mata bulatnya.

"Aku hanya butuh Sungyeol hyung, aku hanya butuh Sungyeol hyung" Sungyeol mengeratkan pelukannya pada Zitao, isakan kecilnya mulai beradu dengan isakan Zitao. Keduanya berpelukan sangat erat, seolah mencoba saling menyembuhkan luka yang mulai melebar.

"Aku hanya ingin...Sungyeol hyung selalu berada di sisi ku" Sungyeol tersenyum pahit, bisakah? Bisakah Sungyeol selalu berada disisi Zitao?

"Ya, tentu saja...aku akan selalu berada disisimu_

.

Benarkah?

.

_Setidaknya untuk saat ini"

.

.

.

Hanya untuk saat ini saja.

.

.

Aku selalu berjalan sendirian

Ketika aku meoleh semua orang begitu jauh

Meski begitu aku terus berjalan

'Aku tidak takut apapun'

Suatu hari nanti setiap orang akan sendirian
Hidup dalam kenangan saja

Aku berjuang agar aku dapat mencintai
Dan tertawa meskipun kesepian

Aku tidak akan menunjukkan air mata ku.

(Tada Aoi : Angel Beast)

.

.

.

"YAKS...APA YANG KAU LAKUKAN" Teriak Luhan kencang, kedua bola mata rusanya menatap nyalang pada sosok namja manis yang tengah menunduk takut di depannya.

"KAU SENGAJA YA, HEH?" Bentak Luhan kembali, mengabaikan tatapan semua orang yang tengan mengarah padanya. Luhan tidak ambil pusing jika saat ini ai sedang menjadi sorotan utama seluruh penghuni kantin, toh...itu bukanlah masalah besar baginya. Yang menjadi masalah besar bagi Luhan adalah jika ia bersikap baik pada namja yang saat ini tengah berdiri di depannya. Sementara itu Tao-namja yang sedang menunduk takut di depan Luhan- memainkan ujung seragam sekolahnya dengan gusar, Tao sangat menyesal...sungguh.

"Ma-maaf ge, aku tidak sengaja" Cicit Tao ketakutan, Luhan mendengus kesal. Namja cantik penyuka rusa itu menggerakkan tangannya untuk mengusap bagian seragam sekolahnya yang terkena tumpahan Jus strowbery.

"Gege" Tao mendongak, ia menatap Luhan dengan tatapan memelasnya. Namja manis itu juga menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Membuat ekspresi memohon yang menggemaskan-itu menurut Kris-.

"Gege, Tao tidak sengaja. Maaf ya, please"

"Baiklah, tidak apa-achap pa" Itu jika Kris yang berada di posisi Luhan, tapi sayangnya bukan. Luhan kembali mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.

Tidak sengaja Tao bilang?

Hah? yang benar saja.

"Sudahlah Lu, maafkan saja. Tao-kan sudah minta maaf pada mu" Ucap Baekhyun santai mengabaikan tatapan tajam Luhan yang mengarah kepadanya.

"Kau mengatakan hal itu karena dia sepupumu, Baek" Ucap Luhan sarkatik. Luhan sudah cukup kesal dengan tingkah aneh Tao akhir-akhir ini, dan Luhan tidak bisa bersabar lagi ketika namja manis itu membuat kesalahan dengan menumpahkan Jus strowbery pada seragam sekolahnya. Bekhyun memutar bola matanya malas.

"Dengar ya, Luhan" Baekhyun berdiri dengan angkuh, tangan kirinya ia taruh di pinggang kecilnya, sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menunjuk wajah menyebalkan Luhan-menurut Baekhyun- dengan jari lentiknya.

"Aku mengatakan hal itu bukan karena aku sepupu, Tao. Tapi karena Tao memang pantas untuk di maafkan" Luhan memutar bola matanya jengah.

"Alasan" Baekhyun menghela nafas kasar, namja manis sepupu Tao itu menatap Luhan dengan ekspresi gemas menahan kesal.

Luhan itu selain menyebalkan, juga keras kepala.

"Dengar ya, Luhan. Walaupun Tao bukan sepupuku, aku akan tetap memaafkannya. Karena Tao adalah teman ku" Luhan memandang Baekhyun tidak suka dan sedikit risih. Jujur, mendengar Baekhyun mengatakan 'teman' membuat telinga Luhan terasa sakit. Apa-apaan sih Baekhyun?

"Trus?" Tanya Luhan dengan nada sinis, tingkah Luhan sekarang seperti gadis remaja yang masih labil. Masih butuh bimbingan dalam segala hal, termasuk dalam hal menahan emosi.

"Seharusnya kau juga memaafkan Tao, Luhan" Jawab Baekhyun gemas, Luhan tersenyum mengejek. Senyum yang sangat kontras di wajah cantiknya.

Baekhyun itu ya, sudah di bilang tidak mau masih saja ngotot.

Luhan menatap Baekhyun remeh "Aku? Memaafkan, Tao?" Tanyanya dengan nada menyebalkan, jari telunjuk Luhan bergerak untuk menunjuk dirinya sendiri. Baekhyun mengangguk.

"Ya" Jawab Baekhyun.

Ha-ha-ha

Luhan tertawa hambar, tawa yang sangat jelas terdengar seperti sedang mengejek Baekhyun. Baekhyun mengepalkan kedua tangannya erat, Luhan benar-benar menyebalkan. Ingin sekali Baekhyun membuang Luhan ke sungai Amazon sekarang juga.

"Hah, kau bercanda Baek? Kenapa aku harus memaafkan, Tao. Memangnya siapa dia?" Ucap Luhan menyeringai remeh, Baekhyun menggeram kesal.

"KARENA KAU JUGA TEMANNYA BODOH"

.

Deg

.

Luhan tersentak, namja cantik itu terdiam membisu. Tidak tau harus berbicara apa? Wajah Baekhyun memerah dengan nafas dengan Luhan, benar-benar membuat Baekhyun emosi. Tao yang sedari tadi hanya melihat sambil menggigit kuku jarinya merasa semakin khawatir. Sepertinya masalah ini akan bertambah semakin rumit. Sekilas tatapan Luhan berubah menjadi sendu.

Teman...ya?

Suasana kantin berubah menjadi hening, beberapa orang mencoba mengabaikan perseteruan antara Luhan dan Baekhyun dengan kembali pada aktivitasnya masing-masing, seperti makan, minum, dan bergosip. Terlihat juga beberapa orang yang melirik Luhan dan Baekhyun secara sembunyi-sembunyi, mungkin penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

Teman

Teman

Teman

.

Satu kata itu terus berputar-putar dalam kepala Luhan, melayang-layang seolah tengah mengejek Luhan. Wajah Luhan mengeras dengan kedua tangan terkepal erat. Luhan benci dengan kata 'teman', ia sangat tidak menyukainya. Dan kenapa semua orang selalu beranggapan bahwa Tao itu teman Luhan? Tidakkah mereka lihat bahwa Luhan sangat membenci Tao. Apakah kurang jelas? Atau mereka semua buta?

Tao menatap Luhan khawatir, namja manis itu sangat takut. Luhan pasti akan sangat membenci Tao. Dilihat dari wajah Luhan yang tiba-tiba saja menjadi datar, sudat terlihat jelas bahwa namja cantik itu benar-benar marah dan sangat kesal sekarang.

Aduh...Tao harus bagaimana dong?

"Err...su-sudah tidak papa, ini memang salah ku. Jadi sudah sepantasnya Luhan ge tidak memaafkan ku" Ucap Tao mencoba menengahi, dalam hati Tao merasa tidak rela saat mengatakan bahwa Luhan 'pantas tidak memaafkannya'. Bagaimanapun Tap memang tidak sengaja menumpahkan jus strowbery ke seragamnya Luhan. Baekhyun menatap Tao tajam.

"Yaks...tidak bisa seperti itu dong, Tao" Teriaknya kesal. Tao menatap Baekhyun dengan bibir mengerucut lucu. Kedua mata pandanya sedikit melirik Luhan khawatir sebelum akhirnya menatap Baekhyun sebal. Dalam hati Tao menyalahkan Baekhyun, kalau saja Baekhyun tidak ikut campur, Luhan pasti tidak akan semakin marah pada Tao. Tapi...ugh, Tao tidak boleh menyalahkan Baekhyun. Bagaimanapun sepupunya itu sudah berusaha membantu, walaupun masalahnya malah semakin rumit. Tapi setidaknya Baekhyun sudah mencoba untuk membantu Tao.

"Baekhyun hyung, tidak papa. Ini memang salah ku" Ucap Tao sedikit merajuk, Baekhyun berdecak kesal. Tao itu ternyata sangat keras kepala ya.

"Tapi tetap saja, seharusnya Luhan itu memaafkan mu Tao" Tao merenggut sebal, Baekhyun juga sama keras kepalanya.

Baru saja Tao akan mengeluarkan kata-kata untuk membalas ucapan Baekhyun, tipi tidak jadi ketika kedua mata pandanya melihat Luhan yang tiba-tiba saja beranjak pergi meninggalkannya dan Baekhyun. Dalam sekejap Tao berubah menjadi panik.

'Aduh...Luhan ge pasti benar-benar marah padaku?'

Dengan cepat Tao segera berlari dan mengejar Luhan.

"Luhan ge, tunggu ak_Kyaaaaaaaa"

.

Bruukkk

.

.

Ah!

.

Semua orang di dalam kantin membelalakkan matanya tak percaya, suasana kantin lagi-lagi menjadi hening. Kali ini semua penghuni kantin menatap pada satu objek yang menjadi sumber masalah saat ini.

Huang Zi Tao.

Semua mata menatap penasaran pada sosok tersebut, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Baekhyun membuka mulutnya tak percaya, satu kata untuk Tao.

.

Ceroboh.

.

Panda membuat sang Rusa marah besar kembali.

Tao menggigit bibirnya bawahnya dan menunduk takut, Tao tidak berani menatap Luhan. Tao takut, jika ia menatap Luhan, Seluruh kulit di tubuhnya akan mengelupas lalu Tao mati begitu saja. Ok, mungkin sedikit berlebihan. Tapi sungguh, Tao benar-benar sangat takut. Lagi-lagi Tao membuat kesalahan, dan kali ini Tao yakin Luhan pasti tidak akan memaafkannya. Tapi, sunggu...Tao tidak sengaja.

Tadi Tao panik sekali saat melihat Luhan yang tiba-tiba saja pergi, dengan tergesa-gesa Tao pun segera berlari mengejar Luhan. Hanya saja saat Tao berlari tadi kakinya tidak sengaja tersandung sesuatu. Akibatnya Tao tidak bisa menjaga keseimbangannya, dan terjatuh. Saat Tao akan terjatuh, tangannya tidak sengaja mendorong Luhan yang berada di depannya. Alhasil Luhan juga ikut terjatuh bersamanya, tapi masalahnya bukan itu saja. Tadi sebelum Luhan terjatuh, Luhan tidak sengaja menabrak dua orang yeoja yang sedang membawa nampan berisi makanan. Dan sekarang Luhan jatuh terduduk dengan pakaian yang kotor dan basah karena tumpahan soup dan orange jus.

Oh, Tuhan. Tolong sembunyikan Tao sekarang juga.

Luhan menundukkan kepalanya dengan kedua tangan terkepal erat menahan emosi, Luhan menggeram kesal.

Tao itu ya_

.

_Benar-benar menyebalkan.

.

Luhan mendongak menatap Tao tajam, tatapan tajam yang begitu syarat akan kemarahan. Jika tatapan bisa membunuh, maka Tao sudah mati saat itu juga.

"HUANG ZI TAO"

Tubuh Tao bergetar kecil karena takut, mendengar Luhan membentaknya membuat nyali Tao menciut seketika.

'Bagaimana ini?'

Baekhyun menggelengkan kepalanya prihatin, untuk kali ini Baekhyun tidak bisa menolong Tao lagi.

"Kau" Luhan mendesis tajam, Luhan ingin sekali membentak bocah Panda yang sedang bergetar ketakutan di depannya. Tapi kemarahan yang melingkupu Luhan membuatnya tidak bisa mengatakan apapun, membentaknya bukanlah satu-satunya hal yang pantas Luhan lakukan kepada Tao.

Tao harus mendapatkan lebih.

Tao menggigir bibir bawahnya takut, Tao mulai berpikir mungkin saat ini juga Luhan akan membunuhnya di depan semua orang, atau mungkin yang lebih parah Luhan akan mencuri dan membakar semua koleksi boneka pandanya.

Oh, tidak.

Tao menggelengkan kepalanya pelan, mengusir segala pemikiran negative yang singgah di kepalanya. Namja manis bermata panda itu berdiri dan menghampiri Luhan dengan langkah takut. Tao masih berpikir mungkin Luhan akan benar-benar mencuri dan membakar semua koleksi boneka pandanya.

"Luhan ge, maafkan aku" Tao berjongkongkok pelan di depan Luhan, berharap Luhan tidak mencekik lehernya saat itu juga. Perlahan Tao melirik seragam sekolah yang di kenakkan Luhan, dan kedua keping black pearl itu seketika membelalak kaget.

Benar-benar kotor.

Bahaya.

"Hueee...Mamaaa Tao berbuat salah, bagaimana ini? Luhan ge, tolong maafkan akuuuu" Dengan panik Tao segera mencoba membersihkan seragam Luhan menggunakan saputangan bergambar kepala panda miliknya, tapi dengan cepat Luhan menepis tangan Tao kasar. Luhan menatap Tao tajam dan benci, namja cantik itu benar-benar marah dan kesal sekarang. Tao tersentak dan menundukkan kepalanya takut, melihat tatapan Luhan tiba-tiba saja nyalinya kembali menciut.

.

.

Bruukk

.

Ugh!

.

Kedua mata sipit Baekhyun terbelalak kaget menatap Luhan, apa-apaan itu? Tiba-tiba saja Luhan mendorong Tao yang sedang berjongkok di depannya hingga terjatuh.

Tao menatap Luhan kaget juga takut, tubuhnya meringsut mundur saat melihat Luhan yang mulai beranjak berdiri. Sekarang Luhan menjulang tinggi berdiri di depan Tao dengan tatapan bencinya.

"Kau" Jeda sebentar.

"MENJAUH DARI KU"

Tao menundukkan kepalanya dalam, rasanya Tao ingin sekali menangis. Dalam hati Tao menjerit meminta tolong. Ternyata Luhan sangat menakutkan saat marah.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, kedua bola matanya bergerak kesana kemari dengan gusar. Berharap menemukan seseorang yang dapat menolong Tao, tapi tidak ada. Baekhyun ingin sekali menolong Tao, tapi...ugh, Luhan benar-benar menyeramkan saat marah. Baekhyun jadi takut.

Semua orang di dalam kantin menatap antusian tontonan gratis yang sedang terjadi di depan mereka, semuanya ingin tau apa yang kiranya akan di lakukan Luhan kepada Tao. Apakah Luhan akan menyiksa Panda manis itu? Mungkin saja. Ini pasti akan sangat menarik, dan semua orang tidak ingin melewatkannya sedikitpun.

Mungkin ini sedikit berlebihan, memangnya Luhan itu adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawa Tao apa? Kenapa semua orang berpikir Luhan akan menyakiti Tao? Berlebihan.

Tapi sebenarnya, kalau melihat wajah Luhan sekarang, siapapun pasti akan berpikir seperti itu.

Luhan seperti seorang macan yang ingin menerkam dan mencabik-cabik mangsanya-dalam kasus ini Panda.

Tao menatap Luhan dengan ekspresi takut yang menggemaskan, lebih terlihat seperti ekspresi bayi ketika menahan tangis. Jika Kris berada di posisi Luhan, ia pasti sudah menculik Tao dan membawanya ke kamar saat itu juga. Tapi sayang, Luhan bukanlah Kris.

"Ge...gege"

"BERHENTI MEMANGGILKU GEGE, MULAI SEKARANG MENJAUH DARI KU. JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI, PERGI SAJA SANA TEMUI IBU-MU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI. DASAR PENGGANGGU"

.

.

DEG

.

.

"SIALAN KAU XI LUHAN"

.

.

Plaakkk

.

.

.

TBC

Stop or Next? Jawabanyya tulis di kotak Review.

Aku harap kalian gak bosen baca FF ini,sebenarnya FF ini sudah ada 3 chap dan tingal buat chap 4. Tapi chap 4 ratednya agak naik jdi aku belum bias buat krn bulan puasa dan kehilangan feel nulis T_T

Sequel Return udah di buat, tpi gk akan banyakyg di ubah kembali #RibetAmat

Makasihya atasReviewnya,maaf aku gk bias balassatu2 krn gksempet T_T

Oh...ya, buat ajib4ff udah baca PM dari aku belum? eh...ke kirim gk ya? ?_?

Buat yg nanya pairingnya,ayo kita main tebak2an aja #DiGantung

Ngomong2...tadi aku salah update nih FF hiks T_T rasanya tuh jantungku mau copot T_T tapi yg salah tetep aja aku-" krn gk fokus #NyengirGaje

Last

Reviewnya ya..