.

.

"Ge...gege"

"BERHENTI MEMANGGILKU GEGE, MULAI SEKARANG MENJAUH DARI KU. JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI, PERGI SAJA SANA TEMUI IBU-MU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI. DASAR PENGGANGGU"

.

DEG
.

"SIALAN KAU XI LUHAN"

.

Plaakkk

.

.


Tittle : You Are My Friend

Author : PrincessZitao

Main Cast : Xi Lihan,Huang Zitao , Wu Yifan, Oh Sehun, Byun Baekhyun

Rated : T

Genre : Hurt, Friendsip, humor(?), Romance(?)

Warning : Typo, BL, Shounen-ai, alur kecepatan, cerita pasaran.

Don't Like, Don't like. This is Yaoi/BoyXboy.

Chapter 3


.

.

Ah!

.

.

Semua orang membelalak kaget, kejadiannya terlalu cepat sehingga membuat semua orang-termasuk Luhan- sangat terkejut. Beberapa detik setelah Luhan membentak Tao, tiba-tiba saja Baekhyun berteriak marah lalu berjalan menghampiri Luhan dan menamparnya keras. Sungguh di luar dugaan.

Luhan memejamkan keduan bola matanya erat, mencoba menahan emosi yang ingin meluap. Sebelah tangan Luhan bergerak menyentuh pipi kanannya yang memerah dan terasa perih akibat tamparan Baekhyun. Sungguh demi apa, Baekhyun itu kecil tapi tenaganya kuat.

Luhan menoleh dan menatap Baekhyun tajam, tatapan Luhan terlihat sangat menakutkan karena menyiratkan kebencian. Tapi Baekhyun tidak takut, semua kemarahan Baekhyun menghilangkan ketakutannya terhadap Luhan.

"Kau...apa yang kau lakukan?" Desisi Luhan tajam, entah kenapa suasana kantin jadi terasa sangat menegangkan. Wajah Baekhyun memerah dan nafasnya memburu. Sekarang bukan Luhan saja yang marah, tapi Baekhyun juga.

"KAU MENYURUH TAO MATI, HEH?" Terak Baekhyun marah, Baekhyun tidak peduli jika ia sudah berbicara kasar pada Luhan. Toh...Luhan juga pantas menerimanya-menurut Baekhyun-.

Luhan berdecak kesal, namja bersurai caramel itu menatap Baekhyun remeh. Baekhyun berlebihan menurut Luhan.

"Memangnya kenapa?" Tanya Luhan menantang Baekhyun, Luhan menyeringai ketika melihat Baekhyun yang menggeram kesal.

"Memangnya kenapa kalau aku minyu..."

.

Mati.

Hah?

Ma...ti?

.

Luhan terdiam, kata-kata Baekhyun yang berputar di kepalanya membuat Luhan tidak bisa berpikir. Kemarahan yang ingin Luhan luapkan juga tiba-tiba saja menguap entah kemana.

Semuanya menjadi Blank.

Tatapan Luhan yang tadi memancarkan kebencian dan kemarahan kini berubah menjadi sendu dan...kosong. Apa_

.

.

_Maksud Baekhyun?

.

Mati?

Kenapa?

.

"Sudahlah Tao-ie, ayo kita pergi!" Baekhyun membantu Tao berdiri, ia melirik Luhan kesal dan benci.

"Aku tidak bisa berlama-lama berada di ruanggan yang sama_

.

.

_Dengan orang yang tidak punya hati"

.

Deg

.

Luhan tersentak, jauh di dalam matanya yang dingin. Tersimpan sebuah luka yang tidak dapat di lihat semua orang.

Tidak punya hati.

Siapa?

Luhan-kah?

Apakah benar Begitu?

Luhan merasa dadanya terhimpit sesuatu, namja kelahiran Beijing itu tiba-tiba merasa sesak. Seperti ada sesuatu yang berat menghimpit dadanya. Tapi kenapa?

Luhan hanya terdiam saat melihat Baekhyun membawa Tao pergi. Entah hanya perasaan Luhan saja atau apa, tapi saat ini Tao terlihat seperti sebuah raga tanpa nyawa.

Lemah dan rapuh.

Tapi kenapa?

Karena Luhan kah?

Apakah Luhan sudah keterlaluan?

"Hyung" Suara lembut Tao menghentikan langkah Baekhyun, namjan mungil itu menatap Tao yang tengah menunduk sambil meremas ujung jas sekolahnya.

"Ada apa, Baby?"

Baekhyun itu baik, Baekhyun selalu bersikap lembut pada Tao. Baekhyun juga sangat perhatian, Tao sayang Baekhyun.

"Baby, ada apa?" Baekhyun mengernyit saat Tao tak kunjung menjawab pertanyaannya, sebelah tangan Baekhyun terulur menepuk pipi kanan Tao pelan.

"Hey...Tao-ie, kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Tao malah berbalik dan berjalan menghampiri Luhan dengan langkah pelan. Baekhyun mengernyit bingung.

"Tao-ie...Tao...TAO, HEY...kamu mau kemana?" Mengabaikan teriakan Baekhyun, Tao terus berjalan menghampiri Luhan. Semua orang menahan nafas dan menatap penuh minat pada Tao.

Apa...yang akan Tao lakukan?

"Gege" Tao menghentikan langkahnya tepat di depan Luhan, Namja manis itu menatap Luhan sedih dan penuh penyesalan. Sekilas, Luhan merasa iba pada sosok polos tersebut.

"Maafkan aku, ge" Luhan terhenyak.

"Aku...aku...aku..." Bibir Tao bergetar menahan tangis, namja penyuka panda itu menundukkan kepalanya. Tao tidak berani melihat Luhan yang terus menatap lurus padanya.

"Aku...sungguh-sungguh tidak sengaja"

Kenapa?

Kenapa ya?

Kenapa Luhan merasa sedih?

Kedua keping black pearl yang terlihat berkaca-kaca itu mendongak dan menatap Luhan kembali. Dada Luhan bergemuruh, hatinya merasa sakit tanpa ada alasan. Luhan bertanya-tanya pada hatinya, mencoba menemukan jawaban atas apa yang Luhan rasakan.

Sakit.

Sesak.

Sedih.

Namun Luhan tak dapat menemukannya.

Tao tersenyum manis, terkesan di paksakan namun sangat tulus. Senyuman yang membuat Luhan mengutuk semua perasaannya saat ini. Perasaan membingungkan, perasaan yang tidak dapat Luhan mengerti. Atau, mungkin Luhan mengerti perasaannya. Namun, Luhan tidak mau menerima kenyataannya. Kenyataan bahwa Luhan merasakan sebuah perasaan lain...terhadap Tao.

Tapi apa?

Peduli?

Sayang?

Khawatir?

Atau apa? Semua itu tidak mungkin bukan?

Kenapa Tao membuat Luhan merasakan kembali perasaan yang ingin Luhan kubur dalam-dalam.

"Aku juga ingin bertemu Ibu, gege". Luhan dan Baekhyun tersentak.

"Tapi...tidak bisa". Luhan bisa mendengar suara lirih Tao yang bergetar.

Sedang menahan tangaiskah?

Tapi kenapa bocah panda di hadapannya ini masih saja tersenyum? Sudah tau terluka, masih saja mencoba tersenyum.

Dasar bodoh

Dasar Idiot

Dasar_

.

.

_Huang Zi Tao.

.

.

"Aku sangat merindukan Ibu, aku selalu memanggilnya di setiap waktu dan menyimpan namanya di setiap kata. Aku berharap Ibu kembali, aku ingin melihat ibu. Tapi...tidak bisa" Tatapan Luhan semakin sendu, namja cantik itu menatap Tao dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

.

.

Aku juga merasakannya...

Aku juga ingin kembali melihat orang yang aku sayangi.

Sangat ingin.

Tapi sosoknya tidak akan pernah datang meski aku memanggil namanya sebanyak apapun.

Dia...

.

.

sudah pergi.

.

.

"Saat aku pulang ke rumah, Ibu tidak pernah ada disana. Aku tidak bisa lagi melihat senyum hangat ibu yang selalu menyambutku ketika pulang sekolah. Aku tidak bisa"

.

.

Setiap hari aku selalu berharap semuanya mimpi...

Agar saat aku terbangun aku tau semuanya tidak nyata.

Tapi hidup tidak seindah mimpi

Dan kenyataan lebih menyakitkan dari sekedar mimpi.

.

.

"Tapi yang bisa aku lihat setiap harinya adalah kamar Ibu yang sudah kosong, dan sisa bajunya yang masih menggantung di lemari. Mengelilingi rumah setiap waktu, berharap aku menemukan sosoknya. Tapi tidak ada, aku tidak bisa menemukannya"

.

.

Semua kenangan yang pernah ku ukir bersamamu menyakiti ku

aku tidak ingin melupakan mu, tapi aku terluka.

Tapi jika aku melupakan mu, maka aku akan semakin terluka.

Apa yang harus aku lakukan?

Kamu memberiku luka di setiap kebahagiaan dan kesedihan.

.

.

"Tao" Baekhyun menarik tangan kanan Tao lembut.

"Sudah, ayo pergi" Kali ini Tao tidak menolak ajakan Baekhyun untuk pergi, Tao terus berjalan dengan tangan Baekhyun yang terus menggenggam tangannya erat namun penuh kelembutan.

Luhan masih terdiam ditempat layaknya patung, tidak bergerak satu inicipun. Kedua mata rusanya menatap kosong pada satu objek yang mulai menghilang dari pandangannya.

Huang Zi Tao.

Luhan merasa tertarik ke masa lalu, melihat Tao tersakiti seperti membuka luka lama bagi Luhan. Kenangan yang ingin Luhan tutup rapat-rapat kembali terbuka lebar dan mencekik Luhan hingga ia merasa sesak juga sakit. Sesaat, Luhan merasa tidak berdaya.

"Kau bodoh atau pikun, eoh?" Ejekan yang seharusnya bisa membuat Luhan marah kini ia abaikan. Oh Sehun memang begitu, walaupun Luhan lebih tua dari Sehun, tapi Sehun tidak pernah bersikap formal pada Luhan. Entah kenapa? Mungkin Sehun memang tidak sopan orangnya.

"Satu bulan yang lalu bukankah kita baru saja menghadiri upacara pemakaman Ibu Tao, apa kau lupa?" Luhan terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Sehun dan malah menunduk menatap ujung sepatunya yang sedikit basah karena terkena tumpahan Soup.

Satu bulan yang lalu ya?

Kenapa Luhan bisa lupa?

Sehun terdiam, namja yang satu angkatan dengan Tao itu menatap Luhan yang masih menunduk.

Sehun tidak tau apa yang sedang Luhan rasakan saat ini.

Sehun tidak tau apa yang sedang Luhan pikirkan saat ini.

Sehun tidak tau.

Tadi saat Sehun dan Kris sedang bermain Basket di lapangan, tiba-tiba saja Yesung datang dan memberitahukan kabar yang membuat Kris dan Sehun segera berlari menuju Kantin dengan tergesa-gesa.

.

.

"Hey...Kris, namja yang kau sukai lagi buat masalah lagi tuh"

"Hah?"

"Tao, cepat pergi ke kantin"

.

.

Dan benar saja, saat Kris dan Sehun datang ke kantin. Luhan sedang berteriak marah kepada Tao sebelum akhirnya tamparan Baekhyun melayang di pipi Kanan Luhan. Sehun tidak tau apa yang terjadi, tapi melihat penampilan Luhan yang sangat kacau sepertinya masalah yang dibuat Tao cukup serius. Sehun menghela nafas pelan.

"Tidak papa" Bisik Sehun pelan, sudut bibir Sehun tertarik membentuk senyuman lembut yang menenangkan.

"Semuanya akan baik-baik saja" Luhan menoleh dan menatap Sehun dengan tatapan kosong penuh kebingungan, sebelah halis Luhan terangkat sebelah.

"Tao pasti akan memaafkan mu" Ucap Sehun pelan, Luhan terdiam. Namja penyuka Rusa itu menatap Sehun dengan pandangan yang err...sulit di artikan.

Terluka?

Kecewa?

Atau apa?

Melihat Luhan yang hanya terdiam dan terus menatapnya, membuat Sehun sedikit canggung dan grogi.

"Eum...Luhan" Panggil Sehun hati-hati, Luhan mengabaikan Sehun dan melangkahkan kakinya pergi begitu saja. Sehun mengernyit bingung, langkah Luhan terlihat begitu lemah dan tidak bertenaga. Entah apa yang membuat Luhan menjadi seperti itu? Karena Tao kah?

Hahh

Sehun tidak tau, memikirkan Luhan benar-benar membuat kepala Sehun terasa pusing. Namun, sepertinya Luhan mempunyai beban yang sangat berat. Sangat berat, sehingga Luhan tidak mampu untuk sekedar melangkahkan kakinya.

Sebenarnya Luhan itu orang yang baik, namun Luhan tidak pernah membiarkan orang lain mengetahuinya. Sehun ingin mengenal Luhan lebih jauh, tapi Luhan selalu menjauh dan tidak pernah membiarkan Sehun mendekat. Kenapa?

Kenapa Luhan bersikap seperti itu?

.

.

Braaakkk

.

Eh?

.

Sehun menoleh ke belakang dengan ekspresi bingung, Sehun cukup terkejut saat mendengar suara yang cukup keras dari arah belakang tubuhnya.

Ada apa?

Sehun menaikkan sebelah halisnya tinggi saat melihat Kris sedang menarik kerah baju seorang namja dan menatapnya tajam. Ada apa lagi? Kenapa Kris tiba-tiba saja bersikap kasar kepada orang yang sedang lewat di depannya, Ternyata selain Tao, Kris juga suka membuat masalah dengan orang lain.

"Kau mau kemana?" Suara dingin Kris terdengar sangat tidak bersahabat.

"A-apa-apaan kau? Lepaskan" Namja tersebut berteriak ketakutan dan mencoba memberontak, semua orang cukup dibuat bingung dengan reaksi aneh namja tersebut. Apa namja tersebut melakukan kesalahan? Reaksi ketakutannya aneh sekali? Kris tersenyum miring.

"Kau kan dalang dari semua ini?" Namja tersebut terlihat gelagapan.

"Apa maksudmu? Dalang apa? Bukan aku yang membuat Tao jatuh...ups"

Ouh~

Begitu!

Jadi namja ini adalah biang dari permasalahn Luhan dan Tao.

Namja tersebut terdiam dengan jawah pucat pasi, dalam hati ia mengutuk ucapannya sedikit yang keceplosan. Kris menyeringai seram.

"Dapat kau" Namja tersebut menelan ludahnya kasar.

"Ikut aku" Dengan kasar Kris menarik kerah baju namja tersebut lalu membawanya keluar dari kantin. Namja yang tidak Sehun kenali tersebut terus memberontak dalam cengkraman Kris, mencoba untuk melarikan diri. Tapi toh itu tidak berarti, Kris itu kuat, dan najma tersebut tidak akan bisa lepas dari cengkraman Kris.

Entah akan dibawa kemana? Dan di apakan namja tersebut. Entahlah, tidak ada yang tau. Berdoa saja semoga namja tersebut masih bisa pergi sekolah besoknya.

Sehun menghela nafas pelan, Sehun benar-benar merasa pusing saat ini. Perlahan Sehun melangkahkan kakinya keluar dari Kantin, meninggalkan segala aktivitas di dalam kantin yang kembali berjalan normal.

Ngomong-ngomong...bagaimana Kris bisa tau ya?

.

.

.

Luhan melangkah di koridor sekolah dengan langkah pelan, tiba-tiba saja kedua kakinya terasa sangat berat hanya untuk di gerakkan.

Kenapa?

Sesuatu yang besar seperti menghimpit dada Luhan, Luhan merasa sesak dan sakit. Bayang-bayang masa lalu yang ingin Luhan lupakan kembali berdatangan menghantui Luhan. Sesaat, Luhan merasa tidak sanggup untuk melanjutkan langkahnya kembali.

Terlalu berat.

Pancaran kedua bola matanya yang selalu terlihat dingin, kini berubah menjadi sendu dan penuh kesedihan. Kekosongan yang tersirat dalam kedua keping hazel Luhan memancarkan rasa sakit yang begitu dalam. Sekilas, tatapan mata Luhan terlihat seperti tengah menjerit dan meminta pertolongan.

Luhan juga terluka.

Tapi tidak pernah ada yang tau.

"Kenapa?" Suara lirih Luhan terbenam dalam hembusan angin, diantara rasa sakit yang menghimpit dan memberatkan langkahnya Luhan terus berjalan pelan mengabaikan tatapan aneh dan bingung beberapa siswa yang mengarah padanya. Lagi pula siapa yang tidak bingung, jika melihat seorang siswa berjalan di koridor dengan penampilan yang cukup berantakan dan kotor.

"Kenapa seperti ini?"

Luhan mencoba mencari jawaban dari segala rasa sakit, tapi ia tidak menemukannya. Luhan merasa begitu lelah, semua hal yang berputar di kepalanya membuat Luhan semakin terluka. Sesaat...Luhan merasa tidak berdaya.

Tao selalu mengingatkan Luhan akan masa lalu yang ingin Luhan kubur dalam-dalam, dan Luhan merasa sangat lemah akan hal itu. Luhan merasa lelah, tapi Luhan tidak tau bagaimana caranya menghentikan semua ini.

Luhan menghentikan langkahnya, sosok cantik itu jatuh merosot ke lantai dengan lemah. Sebelah tangannya bergerak mencengkram dadanya yang terasa sakit. Beruntung saat ini Luhan sedang berada di koridor yang sepi, sehingga tidak ada orang yang dapat melihan Luhan dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

"Kenapa dia begitu mirip dengan mu?"

Hembusan angin yang lembut menyamarkan suara lirih Luhan, sepasang hazel yang selalu terlihat sedingin es itu mulai terlihat berkaca-kaca.

"Kenapa?"

Seseorang yang tidak bisa Luhan lupakan muncul kembali dalam ingatannya, Luhan merasa begitu lelah, tapi Luhan juga tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Kerinduan yang membuat Luhan terluka benar-benar menyiksanya.

Tidak bisakah semuanya berjalan lebih baik?

Luhan benci saat terlihat rapuh, Luhan benci saat terlihat lemah, sangat benci. Dan hanya satu orang yang bisa membuat Luhan terlihat rapuh dan lemah seperti ini.

Hanya satu orang.

Dia adalah kepingan puzzle yang telah hancur dalam kenangan Luhan, kepingan puzzle yang tidak bisa Luhan perbaiki dan satukan kembali bagaimanapun caranya.

Tidak akan pernah bisa.

"Kenapa?" Luhan semakin mencengkram dadanya kuat, setetes air mata mengalir melewati belahan pipinya.

"Kenapa dia begitu mirip dengan-mu?" Pandangan Luhan mulai mengabur karena tetesan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.

"Aku takut"

.

.

Wujud mu yang aku simpan di dalam hati..

Aku melihatnya dalam diri seseorang.

Berada di dekatnya membuatku tersiksa

Tapi aku juga tidak ingin jauh darinya.

.

.

Kenapa aku merasa takut?

Apa karena kamu?

"Aku takut melakukan kesalahan yang sama"

Hatiku yang ketakutan membuatku menyakitinya, aku terluka dan menyesal. Tapi aku selalu mengulangnya, itu karena_

.

"Aku takut_

.

_Kamu

.

.

.

_Yixing"

.

.

.

.

TBC

.

.

Meski hanya satu kata tapi Review kalian adalah penyemangat bagiku.

Mohon kritik dan sarannya, maaf jika terdapat banyak typo. Krn aku tdk mengeditnya terlebioh dahulu.

Semoga chap ini tiidak mengecewakan.

Last...Review!

.