Disclaimer : Naruto by Kishimoto Masashi-sensei

-Owari nai yume a song by Aikawa Nanase-

Warning : Inih fic masih asli straight. Buat yang suka sama yang aneh-aneh, tidak terlalu dianjurkan untuk membaca fic inih.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

-

-

Owari nai Yume

-Unending Dream-

-

-

"Ta-tapi hokage sama. Bukankah hal yang seperti itu, seharusnya Hinata dijauhkan dari Naruto agar tidak pernah bertemu, dengan begitu Hinata tak akan gugup lagi?" tanya Kiba setelah mendengar penjelasan Tsunade mengenai sindrom Hinata.

"Benar…" Shino yang sejak tadi pasif dalam pembicaraan ini pun ikut angkat bicara.

"Tidak! Kalau Hinata semakin dijauhkan dari Naruto, maka rasa tertekan akibat rindunya akan semakin menekan impuls sarafnya. Hingga apabila suatu saat Hinata bertemu dengan Naruto secara tidak sengaja, Hinata akan langsung pingsan lagi. Bahkan mungkin akan lebih parah dari ini. Ahh… intinya, maksudku mendekatkan Hinata dengan Naruto adalah sebagai terapi mental untuk Hinata," jelas Tsunade.

"Ah, apa itu akan berhasil…?" tanya Naruto dengan nada mencemooh.

"Ya, aku yakin itu…" kata Tsunade sambil berlalu. Naruto dan yang lainya hanya bisa memandangnya menjauh.

Naruto masih bingung dengan apa yang dilakukannya sekarang. Menjadi kekasih Hinata? Sangat tidak terbayangkan baginya. Belum lagi harus memikirkan cara-cara yang akan dilakukannya agar Hinata tak tegang di dekatnya. Apa…? Apa…?

"Pok!" Kiba menepuk pundak Naruto.

"Kau harus membuatnya bahagia. Berjuanglah!" Kiba tersenyum dan melangkah pergi diikuti Shino.

-

-

where shal we go up to

our future roams around now

-

-

Kemudian Naruto masuk ke dalam ruang tempat Hinata tadi dirawat. Agak tegang juga dia, tak tahu mesti apa. Pintu dibuka. Putri itu sedang tertidur dengan anggunnya. Wajahnya tenang seperti sedang bermimpi hal yang menyenangkan. Naruto memandang wajah Hinata. Cantik… Seperti seorang putri tanpa cela. Dia masih terlalu bingung untuk mencerna keadaan ini. Antara bingung, sedih ataukah harus bahagia berada di dekat sang putri. Bingung harus berbuat apa. Sedih, karena sejujurnya Naruto tidak sepenuh hati menjalankan 'misi' seperti ini. Di hati Naruto, kini masih tertancap kuat perasaanya pada Sakura. Bidadarinya. Ataukah dia harus bahagia, karena bisa merasakan kasih sayang yang hanya akan diberikan sang putri kepadanya? Yang selama ini belum pernah dirasakannya, bahkan dari kedua orang tuanya…? Entah.

Sang putri bangun. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Naruto kaget, dia berdiri dan mundur.

"Nggh…?"

"Hi-Hinata…?" panggil Naruto pelan.

"Naruto…" kata Hinata sesaat setelah ia benar-benar sadar dari tidurnya. Matanya membelalak. Wajahnya merona. Tak percaya Naruto ada di ruangan ini bersamanya… Sendiri… Hanya berdua dengannya… Kemudian buru-buru dia menundukkan kepalanya.

"Ke-kenapa Naruto… ada di sini? Tidak latihan…?" tanya Hinata.

Mendengar pertanyaannya, Naruto merasa ini adalah kesempatan bagus untuk memulai 'misi' ini. Dia harus membuat Hinata terbiasa kepadanya.

"Ya, aku di sini karena disuruh hokage untuk menemanimu…" jawab Naruto sambil menunjukkan senyum khasnya.

"Menemani…? Naruto sengaja menemaniku… Jangan-jangan, pembicaraan yang aku dengar tadi itu kenyataan, dan bukan mimpi… Jadi… Jadi… Sekarang Naruto… Kekasihku…??" batin Hinata tak percaya. Wajahnya memerah lagi. Kini lebih memerah dibanding tadi. Hampir saja dia pingsan lagi mengingat hal ini. Tapi Naruto berhasil menenangkannya.

"Hei, Hinata… Kau jangan pingsan lagi… Ah, sebaiknya kau duduk saja. Jangan tegang kalau bersamaku. Aku kan bukan monster. Ya? Aku akan selalu ada di sini."

Hinata benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang dialaminya kali ini. Naruto sendiri harus menjalankan misi ini dengan penuh kehati-hatian. Supaya Hinata tidak pingsan setiap kali ada di dekatnya.

-

-

and we continue with our journey

the place of eternity, and endless dream

I want to chase after it without letting go of this hand

forever

-

-

Suatu sore seusai latihan…

"Hinata, kau sedang apa?" Naruto bertanya pada Hinata yang masih ada di dekat pohon tempal latihan kunai.

"Ngg… aku, aku masih harus membereskan kunai dan shuriken ini…" jawabnya agak gugup.

"Oooh… Kalau begitu biar aku bantu ya?" tawar Naruto.

"Ti, tidak usah… Naruto-kun pulang saja…"

"Kau ini… Kau lupa ya, aku ini kan sekarang sudah menjadi kekasihmu… Jadi wajar dong kalau aku ikut membantumu…" kata Naruto sambil memunguti kunai.

"Ke-kekasih…?" bisik Hinata.

"PRAKK…" setumpuk kunai jatuh dari genggaman Hinata. Lagi-lagi Hinata pingsan dengan wajah merah padam. Untung sebelum ambruk, tubuhnya berhasil ditangkap Naruto.

"Yaaah… Pingsan lagi!"

Tak berapa lama Hinata sadar.

"Ma-maaf… Aku, merepotkan Naruto-kun…"

"Tidak apa… Ayo, kita sebaiknya pulang. Biar aku antar kau."

"I-iya…"

Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Seperti kebiasaan Hinata yang dulu apabila sedang dekat dengan Naruto, dia selalu memalingkan wajah sambil memainkan kedua ujung jari telunjuknya. Kini meskipun dia sedang berjalan berdampingan dengan Naruto, tak berani sedetik pun untuk menatap Naruto. Paling hanya sekali dua kali dia mencuri pandang ke arah Naruto. Itu pun segera dia alihkan, karena matanya tiba-tiba beradu dengan mata biru Naruto.

Akhirnya Naruto yang merasa gemas dan tidak sabar dengan 'kegiatan' Hinata yang begitu-begitu saja, mengambil alih keadaan.

"Hei, Hinata… kau ini sepertinya selalu begitu kalau aku ada di dekatmu ya? Tangan ini, seharusnya tidak begini…" Naruto menyaut sebelah tangan Hinata dan menautkan jemari Hinata dengan jemari tangannya sendiri.

"Tetapi begini…"

Dan mereka berdua bergandengan tangan. Hinata kaget sekali.

"Waaah… Hinata, tanganmu dingin ya? Bagaimana kalau begini?" Naruto menggenggam lebih erat tangan Hinata, dan menaruhnya di depan dada Naruto. Bukan main perasaan Hinata sekarang. Hampir pingsan lagi dia. Tapi sepertinya genggaman erat tangan Naruto mampu mengalahkan apa yang dirasanya. Dia tidak pingsan kali ini, tetapi dia menikmati saat-saat seperti ini… Khayalannya melambung tinggi, menuju tempat impian. Seandainya bisa, genggaman tangan ini tidak akan pernah dia lepaskan, selamanya…

***

"Hinata! Ayo…"

"Ah… Naruto, tunggu…!"

Begitu akrab mereka berdua semenjak 'misi itu'. Kemana Hinata pergi, di situ pula ada Naruto. Bagaimanapun juga, Naruto tidak diperbolehkan Tsunade untuk meninggalkan Hinata semenit pun. Hinata sendiri selalu merasa bahagia berada di dekat Naruto. Di akademi, saat latihan, ataupun ketika misi. Kelompok delapan kini semakin meriah dengan lima orang anggotanya. Termasuk Akamaru dan ditambah Naruto.

Bagaimana dengan sindrom Hinata? Sulit untuk benar-benar menghilangkannya. Naruto kadang dibuat repot dengan pingsannya Hinata yang tiba-tiba. Tapi mungkin itu juga adalah kesalahan pada pendekatannya Naruto. Sudah tahu Hinata itu sangat peka padanya, masih juga Naruto suka menggodanya. Yah, sebenarnya bukan maksudnya untuk menggoda Hinata. Saat itu mungkin Naruto tidak hati-hati ketika bicara dengannya.

Kali ini, Naruto sedang berjalan di tengah hutan dengan Hinata sehabis dari misi di Kirigakure. Mereka disuruh mengawal para tetua desa yang habis melakukan lawatan ke Konohagakure.

"Aaah, Hinata. Kau ini lamban. Kutinggal ya? Hahaha…"

"Ah, tunggu…"

Duk! Gabrukk!! "Kyaaa!!!" Kaki Hinata terantuk batu. Dia jatuh tersungkur.

Naruto menoleh. "Hinata?!" Kemudian menghampirinya.

"Kau tidak apa-apa? Bisa berdiri?" Naruto membantu Hinata berdiri.

"Kakiku…"

Naruto melihat lutut Hinata. Sebuah luka lecet terbentuk di kulit putih lututnya dan mengeluarkan darah.

"Kau terluka… Sini!" Dengan cekatan Naruto membalut lukanya dengan kain. Hinata memerah ketika Naruto mengobatinya.

"Waah… lukamu cukup lebar nih! Ayo, naik…" Naruto memunggungi Hinata. Yang dimaksud langsung mengerti kalau Naruto sedang menawarkan diri untuk menggendong Hinata.

"Ti, tidak usah… Aku tak apa…" belum selesai dia bicara, Naruto sudah menarik tubuh Hinata ke punggungnya. Jadilah Hinata digendong Naruto. Betapa merahnya rona yang menghiasi wajah Hinata kali ini, tak terlukiskan dibenak Naruto. Jantung Hinata seperti tak terkendali. Debarannya semakin kencang. Wajahnya memanas. Dia sudah hampir pingsan kalau Naruto tak mengajaknya bicara.

"Aku senang, kau sekarang jarang pingsan lagi kalau di dekatku…"

Hinata yang merona di belakang punggungnya tersenyum. "Benar… Ini semua karena Naruto-kun. Itu karena kau ada di dekatku… Aku senang sekali…" ucapnya dalam hati.

"Waaah, sudah hampir malam nih! Sebaiknya kita cepat-cepat… Hinata sih, tadi jalannya lambat sekali…" kata Naruto sambil menoleh.

"Ma, maaf… Aku merepotkan Naruto-kun ya?" jawab Hinata pelan.

"Hehehe… Tidak kok. Tak masalah!" Naruto menunjukkan senyumannya. "Nah! Siap-siap ya Hinata-chan, pegangan yang erat…!"

HUP! Naruto loncat, dan secepat kilat berlari menuju kampung Konoha di sebelah barat hutan.

Hinata mempererat pelukannya. Naruto berlari ngebut.

"Punggung Naruto… Hangat… Bau tubuhnya… Rambutnya… Sekarang dekat sekali denganku… Seperti mimpi… Andai ini mimpi, aku tak ingin bangun dari mimpi ini… Ya Tuhan, aku ingin selalu berada di dekat Naruto-kun… Aku mencintainya…" kata Hinata dalam hati. Perasaannya kini sudah mencapai puncak. Hinata ingin sekali mengungkapkannya pada Naruto. Tapi keberaniannya belumlah cukup untuk mengutarakannya. Jangankan bilang suka, berada di dekatnya selama beberapa hari ini saja Hinata sudah sedemikian gugupnya. Kini dia benar-benar berharap supaya Tuhan melambatkan waktu kali ini. Karena dengan begitu, dia akan semakin lama di punggung Naruto.

Tapi bagaimanapun juga, waktu terus berputar. Matahari kian tenggelam di ufuk barat. Meninggalkan rona merah di cakrawala. Langit yang cantik seusai dicumbu sang mentari…

Akhirnya Naruto dan Hinata sampai di Konoha menjelang malam…

-

-

To be continue

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Bagaimana…? Bagaimana? Bagaimana? Gaje-kah fic ini? Ha-ha saya ini memang payah ya, bikin fic romance… X) Oh, ya. Terimakasih yang sudah bersedia mereview di chapter sebelumnya. Dan akhirnya saya berani mem-publish lanjutannya. Terimakasih banyaaak… -membungkuk hormat-. Jangan lupa, yang chapter ini juga direview ya…?

Review! YEAH!!

Hyoran.