Disclaimer : Kishimoto Masashi-sensei

-Owari nai yume a song by Aikawa Nanase-

Warning : Saya masih berniat membawa fic ini ke jalan yang lurus. Buat yang suka sama yang aneh-aneh, tidak terlalu dianjurkan untuk membaca fic inih.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

-

-

Owari nai Yume

-Unending Dream-

Pagi seperti biasa, Naruto bangun dan bersiap pergi ke akademi ninja. Di jalan dia bertemu dengan kawan satu timnya. Sakura Haruno. Ya, dialah bidadari yang selama ini disukai Naruto. Perawan bermata hijau jernih itu sepertinya memang menunggu Naruto untuk lewat di jalan itu. Dia melangkah mendekati Naruto.

"Selamat pagi, Naruto." Senyuman segar diikuti lambaian tangan anggunnya membangunkan pikiran Naruto dengan segera.

Bagi Naruto, sapaan di pagi hari seperti ini bahkan lebih menyenangkan daripada mendapatkan semangkuk ramen super gratis. Jarang-jarang Sakura mau menyapanya lebih dulu seperti ini, kecuali beberapa tahun lalu sewaktu Sasuke masih ada. Paling-paling Sakura mau mengajaknya bicara hanya kalau dia sedang marah karena kekasihnya diledek Naruto. Kesempatan ini tentu tak akan disia-siakan Naruto.

"Selamat pagi…"

"Tumben kau sudah berangkat sepagi ini?" tanya Sakura.

"Kau sendiri kenapa jam segini sudah berangkat? Ada latihan ya dari Tsunade baa-chan?"

"Mmm… Tidak juga."

Pembicaraan mereka terlalu canggung. Tidak biasanya Naruto agak pendiam jika berhadapan dengan Sakura. Kalau biasanya, dia pasti sudah berisik menggoda Sakura dengan lelucon-lelucon aneh yang tak lucu.

"Kau… Akhir-akhir ini sepertinya selalu dekat dengan Hinata ya?"

"Ha-ha… Yaah, begitulah. Aku diberi tugas oleh Hokage-sama untuk menjaganya dan…" Naruto menggantungkan kalimatnya.

"Dan apa…?"

"Ah, tidak… Bukan hal penting."

"Tidak usah berbohong, kami semua tahu kok. Kalau sekarang kau ini menjadi kekasihnya Hinata. Iya kan…?" kata Sakura sambil menunjukkan senyumnya.

"Aku… Tapi…"

"Kau beruntung mendapatkan putri seorang Hyuuga. Bukankah dia cantik? Dan juga… Hinata itu, dia sangat menyukaimu…" ujar Sakura dengan wajah serius.

"Ah! Sudah dulu ya, aku ada perlu di rumah Ino. Aku duluan ya…?" kata Sakura tiba-tiba sambil meninggalkannya.

Kata-kata Sakura barusan terdengar begitu menggema di telinga Naruto. 'Hinata itu, dia sangat menyukaimu…'. Naruto sangat tahu kata-kata itu. Tapi, kenapa Sakura mengatakan hal itu, seolah-olah itu pesan agar Naruto selalu berada di dekat Hinata? Baginya, menjadi kekasih Hinata ini hanyalah sebuah 'misi'. Tidak lebih. Bahkan tidak ada bedanya dengan menjadi pembantu, dalam sebuah misi lainnya. Jika misi ini usai, maka semuanya akan kembali. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan perasaannya. Baginya, perasaannya yang sesungguhnya hanyalah untuk Sakura semata. Tidak ada yang lain.

-

-

in the ocean in the turquoise-colored heart

the signals of the ship's light can be heard

I need to go faster, of this impatient feeling

-

-

Sementara itu, Hinata sedang bersama tim delapan lainnya sedang menunggu kehadiran Naruto untuk latihan.

"Hinata, sekarang sepertinya kau semakin ceria ya?" kata Kiba.

"A-apa iya… Tidak juga kok…"

"Aaah! Pasti karena Naruto sekarang menjadi pacarmu kan? Oh, ya ngomong-ngomong, memangnya kau sudah pernah mengatakan perasaanmu itu sama dia?"

"Mengatakan perasaanku? Apa maksudmu…?"

"Ya, tentu saja mengutarakan apa yang sebenarnya selama ini kau rasakan terhadapnya. Sepertinya kau belum pernah mengatakannya sejak kau pacaran dengan dia. Dan lagi, sepertinya kau itu hanya menjalaninya seperti air mengalir saja. Sesuai dengan apa yang diperintahkan Hokage-sama. Kau sama sekali tak melakukan apa-apa kan? Kau itu terlalu apa adanya Hinata… Kalau kau begitu terus, hubungan kalian ini tidak akan ada perkembangannya sama sekali… Iya kan Akamaru…?" celoteh Kiba.

"Auk-auk!"

"Ta-tapi aku… Aku tidak berani. Bagiku, asal Naruto ada di dekatku dan bahagia… Itu sudah cukup."

"Aaah, kau ini… Tapi apa kau juga pernah tahu bagaimana perasaan Naruto yang sebenarnya kepadamu? Apa kau tahu apakah Naruto sendiri menyukaimu atau tidak? Apa kau tahu kalau Naruto bahagia di dekatmu atau tidak…?" kata Kiba cepat.

"Ki, Kiba-kun…"

"Hhh! Aku sendiri masih ragu untuk menyerahkan kau pada dia. Karena sepertinya, sejak awal dia itu tidak terlalu rela menjadi kekasihmu. Apa kau tahu itu Hinata?"

"…" Hinata terdiam sesaat. "Lalu maksudmu, aku harus bagaimana?"

"Semuanya terserah padamu 'kan?" kata Kiba akhirnya.

Pembicaraan mereka pun akhirnya terhenti saat Naruto datang, dan mereka memulai latihan.

***

Hari ini, seusai latihan adalah jadwal Naruto untuk mengantar Hinata check up. Maksudnya adalah memeriksakan perkembangannya pada Tsunade. Lagipula Tsunade sendirilah yang menyuruhnya agar rutin melakukan pemeriksaan mengenai sindrom yang dialami Hinata itu.

"Tok-tok," Naruto mengetuk pintu ruangan Tsunade.

"Masuklah," jawab Tsunade dari dalam. Mereka pun masuk.

"Kalian, rupanya…"

Setelah kalimat singkat itu, dengan cepat Tsunade memeriksa di sana-sini pada tubuh Hinata. Tentunya dengan ninjutsu medisnya. Naruto menunggu di ruang tunggu. Kemudian…

"Bagus… Rupanya penyembuhan sindrom Hinata mengalami peningkatan. Kalau begini, kau bisa benar-benar sembuh," kata Tsunade gembira. Hinata dan Naruto pun ikut gembira.

"Dan itu artinya, pengobatan dengan cara mendekatkan kau dengan Hinata berhasil, Naruto…" kata Tsunade.

"Iya. Kalau begitu kami pamit dulu. Terimakasih Tsunade baa-chan!"

Di luar…

"Bagaimana?" tanya Kiba tiba-tiba yang ternyata masih menunggu di luar bersama Shino.

"Katanya Hinata sudah hampir sembuh," jawab Naruto.

"Baguslah…"

"Hei, ayo kita mampir ke ichiraku ramen! Aku sudah lapar nih…" ajak Naruto. Kemudian mereka berjalan menuju Ichiraku ramen untuk menikmati semangkuk ramen panas.

Hari ini, Hinata merasa sangat bahagia. Ternyata kegugupannya kepada Naruto sudah bisa dibilang sembuh. Pangerannya itu, benar-benar bisa membuat keajaiban untuknya. Tapi tak berapa lama, pikirannya terusik dengan kata-kata Kiba, mengenai Naruto pagi tadi. Benar apa katanya. Selama ini dia tak pernah tahu bagaimana perasaan Naruto padanya. Yang dia tahu, Naruto bersedia menjadi kekasihnya sejak disuruh Tsunade waktu itu. Tapi kata Kiba yang tadi, 'Sepertinya, sejak awal Naruto tidak terlalu rela menjadi kekasihmu'. Apa benar begitu?

"Ah, baiklah… Aku akan memastikannya besok," kata Hinata dalam hati.

­***

Esok harinya, Naruto agak tergesa-gesa menuju kantor Hokage. Dia ingin mempertanyakan perihal misinya itu.

"Tsunade baa-chan! Tsunade baa-chan!" teriaknya sambil membuka pintu.

"Ada apa Naruto…! Kau ini tidak bisa masuk dengan tenang, apa?!"

"Ah, aku hanya ingin tanya. Kau bilang kemarin kalau Hinata itu sudah sembuh, kan? Itu berarti aku sudah menyelesaikan misi ini kan?" tanya Naruto beruntun. "Dan aku sudah tidak harus menjadi kekasih Hinata lagi kan?"

"Belum!" kata Tsunade tegas.

"Be-belum…?"

"Hinata memang sudah hampir sembuh. Tapi belum sembuh benar. Kau tahu kan, dia itu sangat peka. Kalau sekarang ini kau mengatakan satu hal saja yang akan bisa menyakitinya, kembungkinan sindromnya itu tidak akan sembuh. Bahkan bisa berakibat lebih fatal. Coba kau pikirkan. Kalau tiba-tiba kau memutuskan hubunganmu dengan Hinata sekarang, apa yang akan dirasakannya? Dia akan terluka, Naruto…" Tsunade menghela nafas.

"Cobalah mengerti pikiran wanita. Pokoknya, aku sarankan untuk sekarang sebaiknya kau jangan bertindak lebih jauh dulu tanpa seizinku. Kali ini, aku mohon untuk mengontrol tindakan sembronomu ini…"

Naruto sama sekali tak bisa menolak, bahkan menyangkal. Dia tahu Hinata menyayanginya, bahkan lebih lagi… Tapi perasaannya pada Sakura benar-benar tidak bisa hilang. Ini sama saja dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Ah, entah harus bagaimana dia sekarang.

Naruto keluar dari kantor Hokage. Tapi kemudian dia bertemu dengan Hinata di jalan menuju akademi ninja.

"Ah, selamat pagi Naruto-kun…?"

"Oh, Hinata. Selamat pagi… Kau tidak bersama Kiba dan Shino ya?"

"Ti, tidak…" jawab Hinata.

"Kamu kenapa Hinata? Jangan-jangan penyakit gugupmu itu kambuh lagi ya…?"

"Hah! Oh, tidak… Bukan itu…" Hinata diam sejenak.

"Na, Naruto-kun… Ada… Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan… Padamu…" tanyanya kemudian.

"Ya, apa?"

"Ng… Kau… Sekarang ini kau adalah kekasihku kan?"

"Sudah jelas kan, mau tanya apa…?"

"Ma-maksudku… Apakah… Apakah kau menyukaiku? Benar-benar menyukaiku…?" tanya Hinata dengan pelan.

Namun sepelan apapun ucapan Hinata tadi, rasanya begitu menusuk hati Naruto. Naruto menatap wajah Hinata yang merona dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dadanya. Naruto begitu tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Hinata. Karena dia begitu tahu perasaan Hianta terhadapnya. Dia teringat perkataan Tsunade pagi tadi.

"Na, Naruto-kun…" Panggilan Hinata menyadarkannya.

"Te, tentu saja… Aku menyukaimu…" ucap Naruto akhirnya sambil tersenyum.

"Syukurlah…!" Terdengar teriakan girang namun pelan dari bibir Hinata. Semburat senyum kebahagiaan menghiasi rona merah di wajahnya.

"Nyuuuut…" Dada naruto serasa diremas. Dia merasa tidak rela mengatakan hal itu, tetapi dia akan merasa lebih tidak rela lagi jika harus membohongi Hinata.

Latihan kali itu serasa hambar bagi Naruto. Entah perasaan apa yang mengganjal di hatinya. Yang jelas, pria bermata safir itu tak bersemangat hari itu. Yang ada di pikirannya kali ini adalah bayangan dua orang gadis. Sakura dan Hinata. Sakura? Kenapa gadis itu juga dipikirkannya…? Ah, kini pikirannya bercampur aduk jadi satu. Otak polosnya itu seakan mau meledak memikirkan pilihan di depan matanya. Sakura, ataukah Hinata?

-

-

To be continue

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Waduh… Waduh… Saya jadi nggak tahu mesti gimana… Tapi kayaknya udah ketahuan deh, ini cerita bakal kemana… :) Ohoho! Ada yang nonton Naruto Shippuden episode 33? Saya membayangkan Hinata yang seperti itu setiap kali bertemu Naruto. Hahaha! ;p

Sebenarnya, saya benar-benar nggak ada keberanian mempublish fic nggak jelas ini. Tapi, ya daripada membusuk di hardisk, saya pilih publish. Ehehe… Huweee, tolong jangan benci saya yang miskin kreasi ini! T_T.

Tolong bantu saya dengan mengirim review anda ya… Arigatou!

Hyoran.