Disclaimer : Kishimoto Masashi-sensei
-Owari nai yume a song by Aikawa Nanase-
Warning : Sekali lagi, saya akan membuat cerita yang ber-ending straight. Buat yang suka sama yang aneh-aneh, tidak terlalu dianjurkan untuk membaca fic ini :).
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
-
-
Owari nai Yume
-Unending Dream-
By : Akatsuki no Hyoran
Naruto tetap melanjutkan latihannya dengan tim delapan, meski perasaanya tak menentu. Hatinya terasa sakit karena telah membohongi Hinata. Tapi apa boleh buat, seandainya pun dia jujur, akan ada hati yang terluka. Dan dia tak mau itu terjadi pada Hinata…
-
-
no words are needed
and a lie is always
hiding in the words sweetly
-
-
Sore harinya…
"Naruto, kalau begitu aku duluan ya…?" ujar Hinata kemudian pergi bersama Shino dan Kiba.
"Ya, hati-hati…!"
Naruto masih di lapangan usai latihan. Dia disuruh menunggu di situ untuk mendiskusikan sesuatu dengan Iruka-sensei. Tetapi yang ditunggu Naruto itu rupanya tak datang-datang. Apa penyakit ngaret-nya Kakashi itu sudah menular padanya, pikirnya. Tapi kemudian dia menangkap bayangan satu sosok manis sedang duduk di bawah pohon sakura yang sedang tidak berbunga. Sakura… Benar, yang duduk itu adalah Sakura. Dia berjalan menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.
"Oh, kau Naruto…" Dengan agak terburu-buru Sakura menyeka air di pipinya sambil memalingkan wajahnya dari Naruto.
Meskipun tidak melihat secara jelas, tapi Naruto dapat menerka kalau Sakura habis menangis. Matanya merah, dan di bawah kelopak matanya masih tersisa sedikit air. Suaranya juga terdengar parau sewaktu menyapanya tadi. Selama beberapa detik mereka saling berdiam diri.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto kemudian.
"A, aah… tidak apa-apa kok."
"Kau… Pasti sedang menangisi Sasuke ya? Kau merindukannya kan?" tanya Naruto tanpa menoleh.
"A, apa? Siapa bilang… Aku tidak…"
"Sakura…" potongnya. "Aku mengerti. Kau sangat merindukannya. Aku pun begitu… Ini semua gara-gara Orochimaru… Seandainya waktu itu aku… Seandainya aku bisa mencegahnya pergi, pasti tidak akan begini. Aku tidak akan membuatmu menangis…"
"Sudahlah Naruto, ini bukan salah siapapun. Kejadian itu mungkin sudah takdir. Aku sekarang sedang berusaha untuk menerima keadaan ini. Aku mencoba melupakannya."
"Sakura…"
--
Sementara itu Hinata…
"Aaah! Tunggu! Sepertinya kantung senjataku masih tertinggal di tempat latihan tadi deh!" teriak Hinata pada dua temannya.
"Haah, Hinata! Kau ini apa sih yang kau ingat-ingat… Seharusnya benda seperti itu kan tak mungkin ketinggalan," ujar Kiba.
"Habisnya… Sebelum pulang tadi aku kan pergi ke toilet, lalu kulepas. Setelah kembali, kalian mengajakku cepat pulang, kan?"
"Ya sudah. Ayo kutemani…" tawar Kiba.
"Baiklah…" Hinata dan Kiba kembali ke akademi.
--
Di tempat Naruto dan Sakura…
"Oh, ya. Sebaiknya kau juga melupakan aku Naruto…"
Naruto tersentak. "Me, melupakan…?"
"Kau kan sekarang ini sudah menjadi kekasihnya Hinata… Tidak sepantasnya kau masih memikirkan aku. Cobalah mengerti perasaan wanita. Khususnya Hinata. Kau tak ingin membuatnya kecewa, kan?"
"Ta, tapi…" ucap Naruto pelan.
--
Sementara itu, Kiba yang menuju akademi ninja dengan Hinata, melihat Sakura dan Naruto sedang berduaan, merasa curiga.
"Tunggu, Hinata! Itu Naruto… Kenapa dia bersama Sakura?"
"Sakura-chan?"
"Benar… Sepertinya mereka membicarakan hal yang serius… Aku ingin tahu, apa yang mereka bicarakan ya?" Akhirnya Kiba menguping mereka dari balik bangunan. Sebenarnya Hinata sudah melarangnya, tapi dasar insting anjing, dilarang seperti apapun dia malah nekat.
"Aku mohon Naruto… Aku tidak ingin memikirkan siapapun lagi sekarang. Lagipula aku tidak mau membuat Hinata membenciku, gara-gara kau mendekatiku…" ucap Sakura sambil menatap Naruto serius.
"Mulai sekarang, jauhilah aku dan terimalah Hinata sebagai kekasihmu. Sayangilah dia sebagaimana kau pernah menyayangiku dulu…" kata Sakura lembut.
"Heh, hahaha…! Kau bilang aku harus menyayangi Hinata?" Naruto tertawa.
"Aku sudah mencobanya Sakura… Lagipula, bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu. Ini hanyalah sebuah misi! Aku menjadi kekasih Hinata ini hanyalah sekedar 'misi' Sakura…! Aku menjalankan misi menjadi kekasihnya Hinata sampai Hinata sembuh dari sindromnya. Kata Tsunade baa-chan juga begitu…!" kata Naruto keras.
"Sejak awal ini hanyalah misi ninja. Dan yang namanya misi, setelah kita menyelesaikannya, sudah!! Semuanya sudah selesai. Tidak ada hubungannya lagi dengan seseorang yang menyewa jasa kita tadi, kan? Kali ini aku memang menjadi kekasih Hinata karena aku masih menjalankan misi ini. Selepas itu, Hinata bukan siapa-siapaku lagi. Dan aku pun bukan milik siapapun lagi! Naruto yang bebas mencintai siapapun…!" tegas Naruto.
"Naruto…!"
"Aku menyukaimu Sakura!! Dan setelah misi ini selesai, aku berjanji, aku pasti akan membahagiakanmu…!"
Hinata yang mendengar secara langsung kata-kata Naruto tadi merasa sangat terpukul. Telinganya bagai mendengar sambaran petir. Suara Naruto barusan yang mengucapkan kata-kata tadi terdengar sangat jelas. Membuat hatinya sakit bagaikan ditusuk duri beracun.
"Brukk…" Hinata jatuh terduduk. Tenggorokannya tercekat. Air matanya jatuh bergulir, menapaki pipinya dan akhirnya jatuh membasahi tanah. "Tidak mungkin…"
"Jadi benar… Aku… Aku ini bukan apa-apa di hati Naruto. Jadi perkataannya tadi pagi itu hanya dusta?! Kenapa Naruto-kun…? Kalau kau memang tidak menyukaiku sejak awal, kenapa kau tidak menolak saja menjadi kekasihku… Padahal kau sudah terlalu jauh masuk ke dalam perasaanku… Misi… Iya, benar… Ini hanya misi, kan? Rupanya aku sudah bermimpi terlalu jauh Naruto-kun. Bermimpi mendapatkan seorang pangeran sepertimu…" batinnya.
"Hinata…?" Kiba memegang pundak Hinata.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
"Kurang ajar Naruto…!" geramnya.
"Akan kubunuh dia!!!" katanya kemudian sambil berlari dengan menahan amarah.
"Ki, Kiba…!" teriak Hinata, namun tak dihiraukannya.
"Narutooo!!!"
"Ki-Kiba…" Naruto sadar, kemudian bangkit karena teriakan Kiba.
"BUAGGH!!" Sebuah pukulan keras mendarat di pipi kiri naruto dan meninggalkan bekas lebam. Kiba menubruk dan mendorong tubuh Naruto sampai menempel di pohon. Dia mencengkeram leher Naruto dengan jari-jarinya yang kuat.
"Sa, sakiiit! Apa-apaan kau!" teriaknya yang hampir kehabisan nafas.
"Sakit katamu?! Pukulan tadi masih belum ada apa-apanya dibandingkan perkataanmu barusan tahu! Kau baru saja melukai hati seorang gadis…!!!" bentaknya keras.
"A, apa…?" Naruto menoleh. Di belakang Kiba ada Hinata yang berlari menyusul Kiba.
"Hi-Hinata… Kau…" Naruto melihat ada air mata di pipi Hinata.
"DEGG!!!" Jantungnya berdegup keras. Ternyata tadi Hinata ada di sana. Dan… Dan dia mendengar perkataannya barusan…! Perkataannya pada Sakura!
"Rasakan ini!" Kiba kembali memukul wajah Naruto dengan keras. Naruto terpelanting ke tanah.
"Kau kemanakan perasaanmu itu Naruto!?" teriak Kiba sambil berusaha menyerang Naruto kembali. Naruto menghindar. Serangan Kiba akhirnya hanya menghantam tanah.
"Tega-teganya kau menghianati perasaan Hinata yang sangat mencintaimu…!" Kiba masih terus memburu Naruto dengan serangan cakarannya. Naruto tak mampu membalas pertanyaannya dalam situasi menghindar dari serangan Kiba.
"Kiba…! Hentikan!" teriak Hinata.
"Kiba! Naruto…!" Sakura ikut berteriak. Namun dia tidak berani melerai pertengkaran kedua lelaki ini. Bagaimanapun kuatnya dia, dia tak akan mampu menahan serangan Kiba yang membabi buta ini.
"Kau ini benar-benar seorang munafik!!!" geram Kiba.
"BUAGH!!!" akhirnya serangan Kiba berhasil mengenai dadanya dengan keras. Naruto kembali jatuh tersungkur.
"Kalau tahu begini, aku tak akan pernah rela menyerahkan Hinata padamu!!!"
"Heh… Seenaknya saja kau bicara…" Naruto bangkit sambil memegangi dadanya. "Seandainya… Seandainya kau yang berada di posisiku, apa yang akan kau lakukan…? Apa yang akan kau lakukan, haa??!" Naruto membalas serangan Kiba dengan pukulan di pipinya.
"DHUAKK!!"
"Ku, kurang ajar!" wajah Kiba memerah karena marah. "Hyaaah!"
"BUAGH!!" adu pukul diantara mereka kembali terjadi.
"Kiba…! Naruto, hentikaaan…!!!" teriak Hinata sambil menangis.
"Diamlah Hinata! Aku tak akan mengampuni orang yang sudah menyakiti perasaanmu!! Tak akan kubiarkan orang yang sudah menyakiti orang yang kusukai…!!!!"
Hinata tersentak. "Ki, Kiba… kau…!"
"Mati kau Naruto…! Gatsuuga!!!" teriak Kiba akhirnya. Dia mengeluarkan jurus andalannya itu.
"Tidaaak! Jangaaan…!!!" Hinata berlari ke arah Naruto. Sementara itu, Naruto yang tidak menyadari kalau ada serangan gatsuuga dari Kiba, tidak sempat mengelak.
"HIYAAAAAAHHHH…!!!"
"ZRRUUUKK…" serangan putaran gatsuuga mengenai tubuh seseorang. Darah segar memuncrat dari tubuh orang itu. Teriakan kesakitan terdengar sayup-sayup diantara bunyi serangan gatsuuga. Tapi… Itu bukan Naruto.
"Bruukk…!" Tubuh seorang gadis ambruk diantara Kiba dan Naruto. Ya, dia Hinata. Tubuhnya sudah bersimbah darah. Pakaiannya koyak di bagian depan. Mata Kiba dan Naruto tak percaya melihat apa yang ada di depan mereka.
"Hi… Hinata…?" bisik Naruto dengan mata membelalak. Tak percaya dengan penglihatannya.
"Hi, Hinata……" Kiba menatap tangannya yang berlumuran darah segar. Di wajahnya juga penuh dengan cipratan darah. Darah Hinata…
"Hinataaa!!!" teriak Naruto sambil menghampiri tubuh Hinata.
"Hinata! Bangun Hinata…! Hinata!!!" Naruto mengguncang-guncang tubuh Hinata lalu memeluknya.
"Na, Naruto-kun…" suara Hinata terdengar lemah.
"Hinata… Bertahanlah! Sakura, tolong Hinata!"
Dengan cepat, Sakura mengeluarkan jutsu medisnya, dia berusaha menutup luka di dada Hinata yang terus mengucurkan darah.
"Na… ruto… A… ku," ucap Hinata terbata. Dia berusaha menggapai wajah Naruto. Kemudian dengan perlahan tangannya menyentuh wajah Naruto yang mulai menangis.
"Hinata… Maafkan aku…" Naruto memegang punggung tangan Hinata yang menempel di pipinya.
"Sudahlah…" kata Hinata pelan. Tangan Hinata bergerak lemah seakan ingin menarik wajah Naruto mendekat. Naruto menurunkan kepalanya sedikit.
"Maafkan aku Hinata… Maaf…" Naruto berkata di sela isakannya.
"Tak apa… Aku… men… cintaimu, Naruto…" Jemari Hinata menyentuh bibir Naruto pelan. Wajah mereka semakin dekat. Bibir mereka pun bertemu. Akhirnya Naruto mencium bibir Hinata dengan lembut.
"Naru… to…"
"Hinata…"
Tak ada jawaban yang terdengar.
"Hinata…?"
Tangan Hinata terjatuh pelan ke dadanya.
"Hinataaa…???"
"Naruto…" Sakura menghentikan usahanya untuk menyembuhkan luka Hinata. Kemudian dia menggeleng sambil menitikkan air mata.
"Ke, kenapa? Kenapa kau menghentikannya Sakura…?!"
"Naruto…! Hinata… Hinata sudah…"
"Ini tidak mungkin! Mustahil!!! Hinata!!! Bangun Hinata…!!! Kau tidak boleh mati Hinata! Kau belum dengar aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya kan?! Dengar Hinata, kalau kau bangun, aku berjanji akan membahagiakanmu Hinata! Aku akan mencintaimu seperti kau mencintaiku…! Aku berjanji…!! Aku… Aku juga menyukaimu Hinata…!" teriak Naruto sambil mengguncang-guncang tubuh Hinata yang masih menutup matanya. Air matanya mulai bercucuran, membasahi tubuh Hinata yang terkulai di pelukannya.
-
-
let the two of us become one
holding on to te coward waves
we continue with our journey
the space between our hug
an endless dream
cutting trough te rainbow
heading for the promised light
-
-
Sang putri telah kembali tertidur. Tertidur untuk selamanya. Tidur untuk menanti mimpinya bertemu dengan sang pangeran. Bermimpi untuk selamanya. Kini harapannya terkabul sudah. Dia tidak perlu lagi bangun dan menyadari kalau bayangan yang baru saja ada di pikirannya itu hanyalah sebuah mimpi. Karena kini, dia bisa bermimpi sepuasnya tanpa harus takut akan terjaga dan berpisah dengan pangerannya. Dia sudah pergi. Pergi untuk menjemput mimpi abadinya. Mimpi yang tiada akhir. Selamanya…
-
-
"HINATAAAAAAAA………!!!!!!"
-
-
-THE END-
-
-
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Omake
Hyoran : Yak! CUT!!! Bagus… Bagus… Akting yang bagus, Hinata, Naruto. Semuanya terimakasih ya…
Hinata : (Berdiri) Yaaah… Bajuku bolong deh… Kotor kena darah (baca:saus dan kecap) lagi!
Hyoran : Tar dilaundry ajah!!
Naruto : Jah! Lebay amat gua tadi yah!
Hyoran : Kagak ape-ape pan? Elu pan emang cocok peran kayak gitu.
Naruto : Cih! (pergi)
Sasuke : (tiba-tiba nongol dan ngomel) Kok gue nggak ada di fic ini sih!
Hyoran : Tenang aje… Di fic selanjutnya bakalan ada elu kok.
Sasuke : Bener ya!!
Gyahahahaha…!!! Akhirnya selesai jugah! Selesai! Yeah! Selesai coy! Selesai niiih! (lebay).
Gyaaaaaaaaaah!!! Gajegajegajegajegajegaje! Nggak nyangka nih fic bakal super-duper-wuper-kamenrider(halah) gaje. Sumpah. Awalnya sih, saia kepingin bikin fic yang romantis gitu. Lah, kok nyampe tengahnya makin nggak jelas yah?! Yaaah, udah deh. Maap yah, yang enggak sreg banget ma nih penpik. Oh, ya... Adakah yang menyangka kalo ini fic sebenernya tentang penghianatan? Nyehehe… Perlu ganti genre gak ya? Tapih kasihan banget yak, si Hinata… (author kejam) udah dihianatin, eh akhirnya mati. Naruto lebih kejam lagih! Tega-teganya dia menghianati perasaan sucinya gadis manis seperti Hinata! Hiks! Eh, terus si Kiba ngapain noh! Nongol-nongol cuma buat ngehajar Naruto. Kasihan juga dia. Padahal yang suka beneran ma Hinata kan dia…
Maaf, kalau endingnya mengecewakan anda sekalian X(. Tolong jangan benci saya… Tapi beneran, ntu maksudnya Naruto jadi sadar kalau dia tu jadi suka Hinata…
Okay! Terimakasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan bagi para pembaca sekalian. Review dari anda masih sangat saya butuhkan untuk pembuatan fic yang selanjutnya. Semoga kita masih akan terus bertemu dalam fic-fic yang lainnya. Review ya! Arigatou gozaimasu. ^_^
Salam.
Hyoran.
