Disclaimer: Naruto hanya milik Om Makis
Warning:OOC, TYPOS, ETC, ETC, ETC.
.
.
.
Hinata menghitung isi dompetnya, uang jajannya bulan ini lumayan. Dia menabung sejak bertemu Itachi. Menonton ditemani orang itu~yang kata-katanya selalu sinis~ membuat Hinata senang. Dia rela tidak jajan di kantin dan membawa bekal ke sekolah, dia rela menyimpan uangnya yang sudah dia jadwalkan untuk membeli tas usang karena hampir tiga tahun belum diganti, dia menahan keinginan menyambar barang-barang lucu dari etalase toko tempat biasa dia lewat pulang sekolah, semua itu demi satu tujuan! Menyewa Itachi menemaninya seharian!
Sudah sebulan sejak terakhir Hinata melihatnya. Lelaki itu tidak mengamen di jalan lagi, mungkin dia sibuk dengan bar gay itu. Hinata merinding memikirkan Itachi bermanis muka pada pada lelaki di sana. Untung saja dia memiliki email Itachi sebagai bonus tidak sampai tiga jam waktu mereka karena film yang dipilih Hinata membuat Itachi mau muntah, film romantis dengan adegan kejar-kejaran yang membuat Itachi lelah. Lelah hanya dengan melihatnya.
Akhirnya setelah berdebar-debar menunggu jawaban itu, Itachi mengiyakan setelah Hinata menambahkan akan membayarnya. Dan Hinata cemberut sendiri merasakan betapa mahalnya waktu bersama lelaki itu.
Kalau begini aku baru bisa menemuinya sebulan sekali, sementara para lelaki gay itu menikmati ketampanan dan bisa menggodanya terus. Hinata sempat berpikir banting setir menjadi full time worker demi membayar jasa Itachi yang sudah seperti harga sewa hotel. Tapi dia urungkan karena akan sia-sia jika waktunya dia habiskan untuk kerja dan sekolah tanpa bisa menemui lelaki itu.
.
.
Masalah utama wanita hanya dua; terlalu banyak baju dan tidak punya baju. Hinata, tengah menghadapi yang kedua. Dia ingin tampil maksimal tetapi merasa tidak punya baju bagus, dan itu membuatnya sangat sedih. Akhirnya, dia hanya mengenakan jaket gobrongnya yang biasa dengan celana menutupi lututnya. Begitu akan bersiap menunggu lelaki itu, ternyata dia sudah hadir dan sedang mengetuk-ngetuk jarinya di atas gitar.
"Itachi!" pekik Hinata.
"Pagi …."
"I-ini terlalu pagi!" katanya, antara senang dan salah tingkah. Tapi akhirnya dia bergegas mengambil sesuatu dari lemari es~sebuah kue.
Hinata meletakkan kue itu di atas tatami, menatap Itachi dan berkata hari ini adalah ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
"Kalau begitu hari ini gratis."
Manik mutiara milik Hinata berkilauan. "Benarkah? Gratis? Seharian penuh?"
Lelaki itu hanya menggumam.
"Oniichan memang baik hati," kata Hinata kalem.
"Kau menyindirku, ya?"
"Tidak, tapi apa boleh aku minta hadiah juga?"
"Kau serakah."
"Sedih sekali hari ulang tahun tidak ada yang memberi hadiah," gadis itu berubah jadi murung.
Itachi menghela napas, kenapa dia merasa bertanggung jawab atas kesedihan gadis itu?
"Aku tidak punya banyak uang," jawab Itachi akhirnya.
"Aku tidak minta barang mahal," kata Hinata mulai terdengar bersemangat.
"Lalu?"
"Main denganku besok, ya?"
"Besok aku kerja."
"Aku tunggu."
"Kau yang traktir?"
"Apa Oniichan tidak malu berkata begitu terus?" Hinata memandang polos pada Itachi.
"Aku jujur," bela Itachi sambil menyendok kuenya.
"Mulai sekarang jangan tanya hal seperti itu, aku sedih sekali mendengarnya. Sedih memikirkan kalau kita bukan teman sungguhan. Mulai sekarang Itachi-kun tidak perlu tanya hal begitu. Aku akan berusaha keras, lebih dan lebih lagi supaya ..."
"Hinata?" tiba-tiba wajah Itachi meneliti setiap jengkal tubuh Hinata.
"A-apa?!" pekik gadis belia itu gugup.
"Kau itu kaya, ya?"
"Apa?" Hinata tidak mengerti.
"Kau itu orang kaya, ya?"
"T-tidak, memangnya kenapa, Itachi-kun?"
"Kalau kau kaya, menikah saja denganku."
Satu detik berlalu. Dua detik berlalu. Lima detik dan otak Hinata baru saja tersinkronisasi.
"APA?!"
Perkataan lelaki rupawan itu membuat Hinata berlari ke kamarnya. Mungkin Itachi bercanda, tapi tubuhnya menggigil karena kata-kata itu. Dadanya terasa sesak oleh kebahagiaan yang meluap. Itachi mengajaknya menikah! Menikah!
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan.
"Hinata?"
"Y-ya, Itachi-kun?"
"Kau kenapa?"
Kenapa kau malah tanya kenapa?!
"Ti-tidak ... tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku pulang. Kuenya enak."
Hinata masih ingin bersama lelaki itu. Hinata mau dia bernyanyi untuk ulang tahunnya, Hinata mau menghabiskan seharian meski cuma menonton dorama bersama Itachi. Tapi degup jantungnya yang sedang tidak karuan mencegahnya melakukan hal-hal yang dia tunggu selama sebulan. Degup jantung yang khawatir terdengar oleh Itachi. Maka Hinata tidak menjawab ketika Itachi pamit. Namun tiba-tiba akal sehatnya kembali.
"Itachi?!" Hinata buru-buru membuka pintu khawatir Itachi sudah jauh. Ternyata Hinata berteriak tepat di hadapan bartender itu.
"Kenapa?"
Malunya nanti saja, aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
"B-besok?"
Lelaki itu terkekeh. Tangannya mengacak surai indigo Hinata pelan.
"Kalau demammu besok sudah turun, tunggu aku di halte. Tapi sepertinya kau sakit parah, tuh wajahmu merah."
Hinata menutup pintunya cepat-cepat, tidak sanggup lagi bertahan dari serangan Itachi.
.
.
.
Lima menit datang lebih awal dan dibuat menunggu selama tiga puluh menit Hinata jadi putus asa. Apakah Itachi sangat penting hingga bisa ingkar janji dan membuat waktu menunggunya sia-sia? Hinata lelah dan ingin menangis. Orang-orang mulai melihat ke arahnya dengan pandangan kasihan. Mirip sekali dengan adegan dorama dimana sang perempuan sudah berdandan all out lalu tiba-tiba kekasihnya kecelakaan.
Gadis itu menggeleng keras menolak hal yang begitu saja melintas dalam kepalanya. Hinata tahu dia harus berusaha keras sejak pertama bertemu dengan orang angkuh tetapi punya sifat buruk itu, jadi tidak ada yang bisa menghalanginya mendatangi bar itu lagi, tidak sekalipun dia akan cakar-cakaran memperebutkan Itachi. Sepertinya itu terlalu berlebihan. Hinata tidak berkuku panjang jadi tidak bisa cakar-cakaran.
Benar saja apa yang Hinata pikirkan. Itachi ditahan dua makhluk absurd; satu mirip ikan, satunya lagi transgender mungkin?
Menunggu selama hampir satu jam berhasil membesarkan hati Hinata. Dia merasa pantas mendapat waktu Itachi. Jadi langsung saja masuk dan menarik tangan lelaki itu dari om-om.
"Hoi, hoi, Gadis Kecil ... kau tidak punya sopan-santun, ya?" tanya si muka hiu.
"Halo adik manis, perkenalkan aku Deidara, mungkin nanti akan jadi kakak iparmu," sapa transgender berambut kuning lebih ramah.
"Ayo, Oniichan! Kau sudah janji denganku!" Hinata tahu dia keras kepala. Dia bahkan tahu dia bisa saja celaka menantang makhluk-makhluk beda dunia itu, tapi selama bisa bersama Itachi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Esoknya belum tentu datang, dan kemarin sudah lewat. Tidak punya keluarga membuat Hinata putus asa mempertahankan pertemanan pura-pura antara dia dan Itachi. Setidaknya Hinata tahu, dia tahu untuk pertama kalinya bahwa dia ingin hidup, bukan kemarin ketika paman Jiraya masih ada, bukan juga besok yang tidak pasti, Hinata cuma ingin hidup hari ini dimana dia bisa melihat Itachi, titik.
Tampaknya Itachi berada dalam dilema. Pekerjaannya lumayan mudah dan dia punya waktu senggang untuk meraih cita-citanya jadi musisi, juga bayarannya yang tinggi. Tetapi menghadapi orang-orang seperti ini setiap hari ternyata melelahkan juga. Terlebih saat Hinata mulai datang. Orang-orang di sini tidak percaya dengan mudah bahwa Hinata adiknya, tentu saja itu berdampak negatif dengan meningkatnya atmosfer posesif dan ingin memiliki sang primadona.
"Ayo, Oniichan! Ayo! Aku sudah kesal menunggu lama." Hinata menarik tangan. Aktingmu semakin baik, Hinata. Pikir lelaki itu ditengah kisruh memperebutkan dirinya.
Tapi tensi kembali menegang saat tangan Hinata disentak paksa hingga tubuh kecilnya terpelanting menabrak meja di depannya. Gelas setengah penuh jatuh di dekatnya. Kaca gelas bertebaran, beberapa menancap di tangan gadis itu dan darah segar mengucur.
"Lepaskan aku Kisame-san," perintah Itachi.
"Jangan pergi," kata si wajah ikan.
Hinata mengeluarkan air mata. Tangannya perih. Kepalanya terbentur sedikit sehingga pandangannya jadi kabur. Tangan lainnya yang tidak luka berusaha mengeluarkan serpihan kaca dari permukaan kulit. Buruknya tangan yang tadi sehat kini ikut mengucurkan darah karena tergores-gores serpihan.
"Lepaskan aku!" Satu tinju ke perut Kisame berhasil melumpuhkannya. Lelaki berbadan kekar itu meringis. Deidara histeris. Sasori yang hanya menonton buru-buru memanggil Hidan. Itachi mendekati Hinata, mencegah tangannya bergerak.
"Kau bisa jalan, Hinata?"
Hinata sedikit terguncang, tapi masih sadar. "Ya, bisa."
"Bagus, ayo kita pergi."
Itachi melingkari tangannya di pinggang Hinata untuk membantunya berjalan.
"Itachi! Kalau kau keluar dari pintu itu, kau dipecat!" teriak Hidan.
"Silahkan saja."
Hidan harusnya punya senjata lain untuk mengancam Itachi, tapi dia memang tidak bisa menemukan cela lelaki itu.
"Jangan pecat dia, Hidan, Kisame yang salah, si muka ikan itu membuat adik Itachi celaka," sambar Deidara yang tidak senang dengan ancaman Hidan.
"Aku yakin dia bukan adiknya," kata Kisame disela napasnya yang tersengal.
Itachi berhenti di pintu dan menatap kerumunan yang melihatnya.
"Dia memang bukan adikku. Kalau kalian berani menyentuhnya, kalian tahu behadapan dengan siapa. Kalau aku cukup kuat membuat Kisame jatuh karena pukulan main-main, maka kalian harus bisa mengambil kesimpulan akibat yang mungkin kalian dapat jika mengusik hidupku."
Setelah itu bar menjadi ganjil tanpa keramahan Itachi. Kisame meretakkan gelas yang dipegangnya.
"Itachi itu ... makin marah makin keren, ya? Dadaku jadi berdebar-debar melihat dia marah. Dia bahkan bisa mengalahkan si muka ikan ini sekali pukul," kata Deidara memecah keheningan.
"Aku tidak terima!"
"It sih kau yang bodoh! Kau mungkin tidak tahu karena baru di sini, tapi kau bukan satu-satunya lelaki kekar yang dibanting Itachi karena keras kepala. Kau tidak tahu seni mencintai, sih~ seni mencintai itu, ketika perasaanmu meledak saat memikirkannya. Tidak perlu posesif memiliki, cukup dengan dekat dan bisa merasakan kobarannya, itu baru seni!"
"Persetan dengan senimu! Aku tidak terima ... aku akan mencari anak itu."
"Kau mau mati, ya?"
Kisame meninggalkan bar dengan perasaan terhina. Dipukul Itachi sekali hajar, diceramahi cinta oleh transgender, juga dipandang hina oleh orang-orang di bar, dia harus menemukan anak perempuan itu, tidak peduli bagaimana caranya. Dia akan membalas dendam. Filosofinya adalah membunuh atau dibunuh untuk bertahan. Jika dia tidak bisa memiliki Itachi, maka tidak siapapun, termasuk anak kecil itu.
.
.
.
TBC
Special thanks to Mayu Watanabe for waiting. I almost forgot this one.
Terimakasih sudah menunggu. Saya cinta kalian *toa-mode-on*
