Summary: Akankah hujan selama hidupku menjadi sumber bencana? Aku ingin sesekali hujan membuatkan aku memori yang tak terlupakan dalam hidupku. Kenangan manis yang akan kuingat seumur hidup. Sakura POV, AU...

Disclaimer: Masih punya Masashi Kishimoto kok… Belum pindah tangan.. *Di lempar shuriken*

Jawab review dulu:

Hyuuzu-chan: wah penyuka SaiSaku yah? Sama donk kalau gitu… baca fic ku yang SaiSaku juga yah! XD

Kakkoii-chan: Sasuke? Kalau bukan? Hehehe... tetep baca yah! Entar tahu kok siapa yang menjadi tunangan Sakura di chapter ini...

Aika Uchiha: ayo baca lagi yah! XD

: ceritaku menarik? Wah senangnya ada yang suka ma ni fanfic! wah dijadiin kuntianak! Gak mau!!! Ni chapter 2nya, Read n Review lagi yah!

Hiryuka Nishimori: iya kasihan si Saku. Tapi.... *Tersenyum ala devil* tetep baca yah!

.mIZzu: salam kenal juga! Sasuke yah? Hmmmmm... Baca lagi yah, nanti kau akan tahu!

Hanaruki-chibi: iya si Saku benci hujan *ceritanya sih gitu* Sasuke? Gaara? Tau deh... ni chapter 2nya...

Thank yang udah review... kok pada nebak si Sasuke? Emangnya yang putih Sasu doang? *digetok ma yang review* hehehe... baca lagi ampe ending!

Enjoy this chapter.... Siapin Tissu yah!!! Maaf yah yang gak sesuai dengan harapan.

The Rain Story..

By: Uzuki_chan

Chapter 2

"Aku Neji. Neji Hyuuga..." Ujarnya sambil menyambut tangannku.

"Sakura, Neji ini sudah kuliah lho... walaupun bukan di kota ini. Neji, kuliahmu dimana?" Ujar papa Minato kepada Neji.

"Di Oto, jurusan Arsitek." Jawabnya.

"Wah, calon pembangun negeri nih..."

"Yah begitulah Minato." Ujar Om Hizashi, papanya Neji.

"Neji, ayo ajak Sakura bicara. Kami akan meninggalkan kalian dahulu. Biar kalian saling kenal gitu..." Ujar papa Minato kepada Neji.

"Ah, Iya Om." Jawabnya halus.

Akhirnya kami ditinggal berdua di ruang tengah. Butuh waktu yang membuatku dapat mengeluarkan suaruku dan berbicara dengannya. Aku berpikir kami sama sekali tidak cocok. Kami sama – sama pendiam. Hanya diam yang mengelilingi kami, sampai akhirnya suaranya memecahkan keheningan.

"Sakura, apa rencanamu setelah ini?" Tanya Neji kepadaku.

"Rencana? Apa maksudmu?" Aku bingung dengan perkataanya.

"Maksudnya, apa kau setuju dan benar – benar bertunangan denganku? Aku sama sekali tidak pernah berfikir tentang masalah ini. Yang kupikir papa akan menjodohkan aku dengan gadis lain, bukan dirimu. Secara aku tidak pernah mengenal dirimu." Ujarnya tajam.

Kata – katanya menusuk diriku, "Entahlah aku tak tahu, aku hanya ingin menyenangkan hati papa dan mama saja. Aku tak pernah mengenal cowok selain Naruto."

"Aku berpikir kalau nanti kita jadi bertunangan, aku takut aku tidak bisa membahagiakanmu..."

"Akan akan berusaha menjadi pasangan terbaik untuk hidupmu."

'"Bukan hanya menjadi pasangan terbaik Sakura. Ini masalah hidup kita nanti. Kalau kau tidak suka kau bisa berkata denganku dan kita tak usah melanjutkan hubungan ini! Aku juga tak mau kalau kau hanya berdasarkan paksaan orang tuamu!" Ujar Neji kasar kepadaku.

"Aku mau Neji! Aku mau bersamamu! Aku gak akan pernah mau mengecewakan papa dan mama! Aku siap melakukan hubungan yang lebih serius denganmu! Aku berjanji akan selalu menjadi milikmu seorang!" Ujarku sambil meraih tangan Neji dan menggenggamnya.

"Hn, kau serius? Aku tak tahu apa aku bisa. Tapi aku akan berusaha. Thank Sakura!" Ujar Neji lembut dan mengecup keningku.

"Terima kasih atas kepercayaanmu Neji." Ujarku senang.

Hari pertunanganku dengan Neji tinggal menghitung jam. Aku memandang langit yang gelap seperti akan turun hujan lebat. Apakah pertanda bahwa akan terjadi yang tidak kuinginkan? Aku takut sekali dengan hujan. Hujan selalu membawa pertanda buruk bagiku. Mulai dari hari kematian orang tuaku.. aku gak mau kehilangan apapun di hari hujan. Aku mulai cemas karena Neji tak kunjung datang. Aku terus bertanya kepada papa Minato kemana perginya Neji.

"Sabar Sakura, dia pasti datang, kau tidak usah khawatir sayang. Dia sudah janji padamu kan?" Ujar lembut papa Minato kepadaku.

"Tapi pa? Ini sudah lebih dari 30 menit, dan papa tahu diluar gelap sekali. Aku takut akan ada pertanda atau apalah!"

"Jangan berfikir seperti itu Sakura! Neji pasti datang! Kamu harus selalu berfikir positif. Mungkin hujan kali ini akan membawa berita bagus untuk kita. Mungkin saja macet di jalanan." Ujar papa Minato sambil mengusap pipi ku dengan kedua tangan lembutnya.

"Tapi?"

Sejam telah berlalu, Neji belum juga datang! Tubuhku mulai berkeringat dingin. Hujan diluar sangat lebat, seperti mau badai saja. Aku melihat papanya Neji cemas, dia sedari tadi menghubungi Neji lewat ponselnya tapi seakan – akan Neji tidak menjawab ponselnya. Aku juga melihat Hinata, sepupu Neji yang sedari tadi mondar mandir.

Aku sangat takut....

Kringg.....

Bunyi telepon memecahkan keheningan kami.

"Ha.. halo?" Ujar papa Minato kepada orang diseberang telepon.

"Halo? Apa ini keluarga Uzumaki?"

"Ah iya betul, Saya Minato. Maaf ini siapa?" Ujar papaku tergesa – gesa.

"Pak Minato, Saya Kakashi dari kepolisian Konoha, saya ingin bertanya apa anda mengenal seorang pemuda bernama Neji Hyuuga?" Ujarnya.

"Ah Iya saya mengenalnya, kenapa dengan Neji?" Ujar papa kaget. Setelah mendengar kata 'Neji' jantungku terasa tak beraturan.

"Kami menemukan tubuh Neji Hyuuga di jalan raya dekat Universitas Konoha dalam keadaan berlumuran darah. Korban mengalami kecelakaan, dan meninggal sebelum tiba di rumah sakit karena kehabisan darah." Ujar pak polisi itu dalam telepon.

Deg...

Papa Minato melepaskan gagang telepon dan syok. Syok dengan perkataan pak polisi itu. Ia memandang kesemua orang. Wajahnya pucat. Akhirnya papa Minato menghampiri om Hizashi dan berbisik sesuatu.

Om Hizashi terkejut, wajahnya menjadi pucat dia juga menutup wajah dengan tangannya. Papa Minato memberitahu mama Kushina. Mama Kushina juga terkejut lalu memeluk papa Minato dan menangis. 'Kenapa? Kenapa dengan Neji? Kashi tahu aku, Pa?' hatiku menjerit.

"Pa, Neji kenapa?" Ujarku kepada papa Minato?

"Pa kenapa Neji? KENAPA NEJIIIII!!!!" teriakku dan menarik tangan papa.

"Sakura," dia memandangku perih, "Neji.... Neji telah meninggal." Ujarnya pelan.

Hatiku terasa tertusuk pedang. Wajahku menjadi pucat, keringatku mengalir deras. Tubuhku menjadi kaku dan akhirnya terjatuh. Aku memegangi kepalaku.

"Bohong. Papa bohongkan? Jangan bercanda pa! Neji sudah berjanji pa! Katakan kalau itu TIDAK BENAR PA!!!!" Teriakku kencang sambil menggoyangkan tubuhnya.

"Itu benar Sakura. Maafkan papa. Papa harus kesana, ayo Hizashi." Ujar papa Minato sambil melepaskan tanganku.

"Kami akan menyusul." Ujar mama.

Aku masih tak percaya, diriku mengalami perdebatan luar biasa. Memoriku terasa berputar bahkan aku tak dapat mendengar mama memanggil diriku. Aku tak mau kehilangan Neji, 'Neji jangan pergi.' Jeritku dalam hati.

Aku merasa pikiranku menjadi ringan bergitu juga tubuhku. Aku dapat merasakan dengkulku menubruk lantai.

"SAKURA!!!!" Aku dapat mendengar teriakan mereka memanggil namaku.

Aku menghadiri pemakaman Neji. Hatiku sedih, padahal kami baru saja akan bertunangan. Tapi, dia sudah pergi meninggalkan aku. Sedih saat orang yang akan menjadi milikmu seorang pergi, pergi untuk selama – lamanya. Hatiku hancur. Langit di sekitar pemakaman Neji menjadi gelap. Hujan, kenapa hujan selalu menghantarkan kesedihan tak berujung padaku. Kenapa hujan identik dengan hidupku?

Aku tak kuat saat melihat peti mati Neji diturunkan. Aku pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Naruto yang melihatku pergi mencegahku, "Sakura, jangan pergi. Tolong tahan air matamu. Ini saat terakhir kau melihat Neji. Aku tak mau kau dibayangin rasa bersalah. Jangan pernah kau menyalahkan dirimu dengan apa yang menimpanya. Neji hanya ingin kau bahagia. Kecelakaan bukan sesuatu penghalang. Walaupun dia sudah tiada. Aku yakin Neji akan selalu mendoakan kebahagianmu, Sakura." Ujar lembut Naruto sambil memelukku.

Air mataku pun jatuh didada Naruto. Aku ingin menangis, tapi Naruto benar, aku harus kuat. Ini saat terakhir aku melihat Neji. Jangan sampai ada penyesalan di hatiku, menyesal karena tak mengantar Neji ketempat istirahat terakhirnya.

Aku pun membalikkan badan dan berdiri disamping Naruto. Tangan Naruto memegang bahuku. Seaakan – akan tangannya berkata 'aku akan selalu memberimu semangat agar kau dapat menjalani kehidupan ini'.

Aku menaburkan bunga ke makamnya Neji. Lalu mengelus nisannya dan berkata, "Selamat jalan Neji. Semoga kau bahagia disana. Aku akan baik – baik saja, karena aku masih memiliki mereka orang – orang yang sangat menyayangiku selalu. Byee."

Setahun telah berlalu sejak hari pemakamannya Neji. Aku sudah mulai tersenyum kembali. Menata kembali hidupku. Aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah ini, rumah yang sudah kutinggali selama 8 tahun. Aku akan mencari pekerjaan dan hidup di kota. Aku akan pergi ke Suna. Kebetulan sahabatku Tenten menawariku pekerjaan sebagai guru privat. Aku senang sekali mendengarnya, dan tanpa pikir panjang lagi, akupun menerimanya.

Sebenarnya papa dan mamaku tak mau, tapi aku meyakinkan mereka bahwa aku mampu hidup sendiri. Sebelum pergi ke Suna, aku berencana pergi ke makam ayah dan ibuku, dan juga Neji. Aku ingin mereka tahu bahwa aku sudah mandiri dan memberi doa untuk mereka.

Semua barang sudah kukemas. Aku melihat kamarku untuk terakhir kalinya, mungkin saja aku akan pergi lama. Aku menarik koperku sampai halaman rumah, lalu berpelukan dengan mama dan papa. Mereka adalah orangtua ku yang sangat aku sayangin, walaupun mereka bukan orang tua asliku. Tapi aku bersyukur mereka mau menyayangiku selama ini.

"Sakura, jaga dirimu baik – baik. Selalu telepon kerumah yah sayang, kabarin mama yah." Ucap lembut mama Kushina kepadaku.

"Kau juga harus jaga diri yah! Papa akan selalu mendoakan untuk keselamatn dirimu." Ucap papa.

"Pah, mah, gak usah khawatir. Aku akan selalu ingat semua pesan papa dan mama. Kalau aku kembali dan berhasil, apakah aku masih dianggap anak oleh kalian berdua?"

"Tentu saja. Kau adalah putri kami." Ucap mereka berdua dan mencium keningku, lalu melepaskan aku. Aku melihat senyum Naruto dan menghampirinya.

"Hmm, kau sudah dewasa, Sakura! Jangan cengeng lagi yah! Sekarang sampai seterusnya aku tak berada disampingmu lagi. Jadilah gadis yang kuat! Gapailah cita – citamu! Raihlah mimpimu! Dan paling penting, temukan cinta sejatimu! Lalu hiduplah dengan bahagia. Maka kau akan menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini." Ujar Naruto sambil menggenggam kedua tanganku."

"Iya, nii-chan." Jawabku sambil tersenyum.

"Eh nii-chan?" tanyanya bingung.

"Karena kau sudah ku anggap sebagai kakak dalam hidupku. Kau lebih pantas disebut sebagai seorang kakak daripada seorang teman!"

"Baiklah kalau begitu." Ujar Naruto tersenyum sambil melepaskan genggamannya.

"Baiklah, semua! Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi. Terimakasih atas semua kebaikan kalian semua. Maaf jika sudah merepotkan kalian selama ini." Ujarku sambil melambaikan tanganku kearah mereka dan masuk kedalam mobil dan menuju ke stasiun.

Sebulan kemudian...

"Sakura, bagaimana dengan pekerjaannya?" tanya sahabatku TenTen.

"Bagus aku suka sekali. Bekerja di dua tempat menang capek. Tapi menyenangkan! Kau tahu kenapa?" tanyaku pada sahabatku.

"Iya, aku tahu! Karena uang! Kau akan mendapatkan uang lebih banyak! Tapi kau harus ingat, nanti kau malah sakit. Jaga kesehatanmu Sakura!"

"Iya aku tahu... Oh ya Tenten. Apa kau sudah punya pacar?" tanyaku sama Tenten.

"Pacar? Sudah! Aku menyukai dirinya!"

"Siapa? Kok kau tak pernah bilang – bilang!" Ujarku sambil mengelap piring.

"Aku tak mau kasih tahu.." Ujar Tenten sambil mencomot kripik.

"Pelit!" Cibirku.

"Habisnya, kau belum punya pacar! Sakura! Cepetlah punya pacar! Terus kita double date! Dengan gitu kita saling memperkenalkan cowok kita masing – masing." Ujarnya.

"Emangnya gampang apa nyari pacar? Susah tahu!"

"Makanya usaha dunk! Kau kan cantik! Terus manis! Terus pintar! Masa cowok aja gak bisa kau takhlukkan! Payah kau!" ledek Tenten.

"Iya, iya. Ntar kita double date! Tapi nanti, kalau aku sudah punya pacar yang seribu kali lipat lebih ganteng dari pacarmu!" ujarku kesel sama Tenten.

Aku berjalan sendirian ditaman kota. Sudah sebulan aku meninggalkan rumah. Meninggalkan papa, mama, dan Naruto. Bagaimana kabar mereka yah! Baik – baik pasti. Ingin aku telepon mereka. Tapi aku harus sabar. Aku harus bisa lebih mandiri. 2 hari yang lalu aku baru telepon mereka untuk sekian kalinya. Mereka senang sekali mendengar suaraku. Mereka senang aku bahagia di sini.

Angin ditaman semakin kencang. Pasti sebentar lagi akan masuk musim salju. Setelah musim salju, maka akan lebih dingin lagi. Kau akan melihat seluruh kota tertimbun salju. Melihat anak – anak bermain bola salju, saling melempar, sama dengan ku waktu aku masih kecil, suka bermain lempar salju dengan Naruto.

Aku menatap langit. Gelap. Akankah turun hujan?

Akankah hujan selama hidupku menjadi sumber bencana? Aku ingin sesekali hujan membuatkan aku memori yang tak terlupakan dalam hidupku. Kenangan manis yang akan kuingat seumur hidup.

Tapi apakah itu akan terjadi pada hidupku? Bahkan aku tak akan pernah tahu...

End Chapter 2...

Wah sedih... gue sebagai author ngetik sambil dengerin lagu – lagu yang sedih, makin mendalam aja kisah ini...

Semoga yang baca pada kuat ampe akhir *maksudnya gak pada nangis gitu*..

Akankah Sakura terus mengalami kesialan di setiap hujan turun? Hanya author yang tahu... *di timpuk ma reader" RnR yah....