Summary: Akankah hujan selama hidupku menjadi bencana? Aku ingin sesekali hujan membuatkan aku memori yang tak terlupakan dalam hidupku. Kenangan manis yang akan kuingat seumur hidup. Sakura POV, AU, OOC...

Disclaimer: Masih punya Masashi Kishimoto kok… Belum pindah tangan.. *Di lempar shuriken*

Jawab Review dulu yah!!

Hyuuzu-chan: iya baca warningnya dulu yah! Iya si Neji disini mati.. SaiSaku? Buat ending?

Uchiha Yuki-chan: iya, pinginnya sih gitu! Naruto? Narutokan kakaknya Sakura, tidak mungkin ada cinta ya kan?

Hanaruki-chibi: iya Neji mati.. Hahaha *tertawa bahagia* Sakura bahagia? Pinginnya sih gitu.. tapi… hanya author yang tahu… *disambit Hanaruki* :D

Hiryuka Nishimori: Kok pada bilang gue kejam *Nangis lebay* Gaara? Tetap baca yah!!

Kakkoi-chan: Asik ada yang suka NejiSaku!!! Terus baca yah!!

Furukara Kyu: tetep baca yah! Enjoy sampai akhir yah!!

: Happy? Ada kok saat dimana Sakura akan happy! Tetep baca yah!!

.mIZzu: banjir? Kan sudah ada warningnya! XP

Hiwatari Nana-chan.7ven: kok gue dibilang kejam sih?? Apa salah diriku? Yang mati kan Cuma Neji? Hhee… XP

The fir3 flam3r: makasih udah bilang ceritaku menarik!! Sasuke? baca saja! XD

Oh ya. Bagi yang menunggu kelanjutan fic ku yang Baby and If You're Here With Me, tunggu yah! Contekkannya hilang.. *ditabok reader*


The Rain Story..

Chapter 3

Pagi hari di musim salju pertama di bulan desember ini, kulihat ke luar jendela kamarku. Kulihat salju menumpuk disepanjang jalanan. Angin dingin menembus masuk kekamarku. Hawanya sampai menusuk tulangku. Dingin...

Aku menutup jendela kamarku dan menarik selimut kembali. Hangat terasa bila kau menutupi dirimu dengan selimut tebal. Tapi lebih hangat lagi jika kau bersama dengan pria yang kau sukai. Tidur berdua di atas kasur yang nyaman, saling bercerita tentang masa depan. Lalu saling berpelukan dan melupakan kejadian yang membuatmu tak nyaman. Benarkan?

Tapi itu tak terjadi denganku. Aku sendirian dikamar ini. Sampai kapan aku harus sendiri? Bahkan Tenten sudah memiliki gandengan, begitu juga dengan Naruto. Naruto memberitahuku bahwa dia sudah berpacaran dengan Hinata, adik dari Neji alias mantan tunanganku.

Aku tidak menuntut banyak dari seorang pria. Aku hanya ingin dia selalu melindungi aku, menyayangi aku, memberiku perhatian. Aku tak butuh harta, yang kubutuhkan hanyalah cinta. Cinta sejati yang tak pernah mati.

Tapi siapa dia??

Aku juga tidak tahu...

Aku menyusuri jalan menuju tempat aku bekerja. Aku bekerja sebagai guru privat di sebuah rumah yang tak jauh dari rumahku. Apa yang kuajarkan padanya? Musik. Aku mengajari seorang pemuda. Ia ingin aku menjadi guru privatnya. Aku juga heran kenapa dia minta aku yang mengajarkannya? Katanya, "Klo gurunya secantik kamu aku pasti dengan mudah menyerapnya."

'Gombal. Tetap saja kalau dia tidak bisa bermain sama saja, bukan karena aku yang mengajarkannya terus dia bisa.' Pikirku.

"Ah, Sakura-sensei kau sudah datang. Lama! Padahal aku sudah menunggu lama!" ujar seseorang membuyarkan lamunanku.

"Sudah kubilang panggil aku Sakura saja. Tidak usah pada sensei segala. Kitakan seumuran!" Bentakku.

"Gak enak. Kenapa kau lama? Apa salju meniban tubuhmu? Senyum donk Sakura-sensei! Kau tahukan hari ini adalah salju pertama di bulan desember." Ujar cowok itu yang ternyata muridku.

"Aku tahu kok. Lagian kenapa kau tidak sabaran sih. Kan aku datangnya selalu tepat waktu."

"Karena aku kangen padamu! Seminggu itu lama!! Aku kangen sekali." Tambah cowok berambut hitam itu.

Wajahku memerah dan membuang muka lalu pura - pura mencari hpku.

"Apa yang akan kau ajari ke aku? Bermain bass? Piano? Atau harmonika? Bagaimana kalau kita tak usah latihan dulu? Aku ingin sekali kau melukis bersama aku? Aku yakin ini saat yang tepat untuk melukis bersama. Aku ambil alat – alat lukis dulu yah!" ujarnya.

"Eh, Sai tunggu!" dia tak mendengarkan aku.

"Sakura-sensei, apa kau sudah punya pacar?" ujarnya sambil mencelupkan kuas ke cat air.

"Pacar? Belum." Jawabku.

"Sensei jadi pacarku saja yah! Aku juga lagi single."

"Gak ah! Aku malu pacaran dengan murid sendiri." Tolakku. Kulihat wajah putihnya cemberut. Lucu juga kalau dia cemberut.

"Kenapa? Aku bisa menjadi pacar yang baik kok. Apa karena aku childish. Jadi kau tidak mau pacaran denganku?" Sai sepertinya patah hati mendengar ucapan ku.

"Bukan gitu. Kau baik. Tapi aku gak mau. Bukan karena kau itu childish! tapi...." aku menghentikan ucapan ku.

"Tapi kenapa? Pasti begitu." Sai cemberut.

"Sudahlah. Ayo kita gambar lagi. Kau gambar apa Sa......" Belum selesai aku berkata dia sudah meninggalkan aku. Apa aku salah ngomong yah? Bukannya aku tak mau pacaran dengannya, tapi dia memang masih kekanak – kanakan. Aku memang pingin punya pacar yang dewasa. Apa ucapan aku menyinggung perasaannya?

Aku jadi merasa bersalah. Kulihat pintu kamarnya Sai tertutup. Aku ingin mengetuk pintu kamarnya, tapi....

Aku mengurungkan niatku. Aku tak ingin menyakiti perasaannya. Akhirnya kuberanikan diriku dan membuka pintu kamarnya. Mataku mencari sosok Sai, dan aku menemukannya. Aku berjalan kearah pemuda itu, mendekati sosoknya. Tapi ia membuang wajahnya.

"Sai, maaf, aku tak bermaksud berkata seperti itu. Maafkan aku." Ujarku sambil mengusap pundaknya dengan lembut.

"Tak apa – apa. Aku yang terlalu banyak menuntut. Aku hanya ingin kau tahu, sensei. Aku menyukaimu. Itu sebabnya aku ingin kau jadi guruku dan jangan kau sedih mulu... kau itu lebih cantik bila tersenyum." Ujarnya sambil membelai pipiku.

"..."

"Kenapa diam? Katakan sesuatu? Kau tahu kenapa aku ingin kau jadi pacarku? Aku ingin sekali mengisi hari – harimu dengan cinta, dengan senyuman, aku tak ingin kau sedih ataupun merasa sendirian. Kau itu harus tahu bahwa kau masih memiliki aku dan juga sahabatmu, Tenten. Walaupun keluargamu tak ada di sini. Aku ingin kau tahu bahwa aku peduli denganmu!" ujarnya sambil menatap wajahku. Aku menjadi sedikit salting ketika mendengar ucapannya. Tak kusangka dia akan mengeluarkan kata – kata yang sedikit mententeramkan hatiku yang sepi ini.

"Terimakasih Sai!" ujarku. "Nah, sekarang ayo kita mulai privatnya!" aku mulai semangat.

"Yah.... males ah!" Ujarnya sambil membuang muka.

"Ayo Sai. Jangan malas! bangun!" Aku mencoba menarik tangannya.

"Iya....."

Pelajaran privatku telah selesai. Aku kembali pulang. Kulihat langit gelap. Salju mungkin akan turun lebih banyak daripada semalam. Aku harus cepat – cepat pulang. Aku tak mau salju harus menghentikan perjalananku.

Tapi dugaanku salah, salju turun dahulu sebelum aku tiba di rumahku. Perjalanan pun kuhentikan. Aku merasa ada yang getar dari kantongku. Aku mencoba merogoh handphoneku, dan...

Bruk!!

Aku merasa menabrak seseorang. Orang itupun jatuh duluan. Aku juga jatuh. Posisi berjatuhan kami aneh. Aku jatuh tepat di dadanya. Wajahku memerah. Aku mencoba melihat wajahnya.

"Aduh.... kalau jalan liat – liat donk!" Bentaknya.

"Ah maaf – maaf!" ujarku sambil menjauhkan tubuhku dari orang ini.

"Huh... bikin kaget saja! Kukira ada apa! Misi!" Bentaknya lagi.

'Huh ini orang udah bilang maaf, eh bentak lagi!' pikirku. "Maaf yah!" aku berdiri lalu membungkukkan badan di depannya.

"Hn." Jawabnya singkat sambil merapihkan pakaiannya dan meninggalkan aku sendiri.

'Idih ini orang sombong banget sih! Paling enggak dia nengok kek! Ini emang kesalahanku, tapi kenapa di begitu jutek. Padahal dia rada tampan.' Pikirku dalam hati.

Pluk..

Salju jatuh dipipiku. Aku mengadah keatas langit. Salju semakin banyak. Aku harus buru – buru pulang. Uhhh aku tak ingin bertemu makhluk kayak tadi. Jutek bangetttttt.

"Sakura? Akhirnya kau pulang juga! Aku kira kau nginap dirumahnya Sai." Sapa Tenten begitu aku tiba didepan pintu.

"Nginep? Males ah! Mendingan di rumah sendiri, Tenten kau masak apa? aku lapar!!" Ujarku manja dan membuka jaket lalu melemparkannya begitu saja.

"Sakura! Taruh yang benar donk!" ujarnya sambil mengambil jaketku dan menggantungkannya di sudut ruangan.

"Iya, maaf! Tapi kau mengambilnya juga kan?" ledekku.

"Ter-pak-sa!" ejanya lalu cemberut. "Oh ya Sakura! Tadi ada telepon untukmu! Di bilang sih namanya Sasuke! Tapi pas aku bilang kau belum balik, dia langsung mematikan teleponnya.

"Eh? Sasuke? Aku tidak kenal nama itu!" Sahutku.

"Masa? Katanya dia menemukan handphonemu jatuh gitu! Coba kau cari dulu dimana handphonemu!" ujar Tenten sambil menuangkan sup hangat kemangkokku.

Sesuai perintah Tenten aku mengambil jaketku yang ditaruh sama Tenten, dan merogoh kesetiap kantong. Benar! Handphoneku tak ada. Lalu mencari ke tas selempangku, juga tak ada! Aku mulai mengingatnya kembali ketika aku keluar dari rumahnya Sai sampai ketika aku menabrak orang itu.

Trinnggg....

Aku dapat mengingatnya. Ketika itu aku sedang mengeluarkan handphone dan karena tak melihat jalan, aku menabraknya dan.... handphoneku pun terjatuh ke..... aku lupa jatuh dimana? Kenapa ada pada orang itu? Apakah handphoneku jatuh ke jaketnya?

Aaaaarrrrrrrgggggghhhhhhhhhhhhhh!!!!!

Teriakku kencang.

"Ada apa Sakura? Kenapa kau?" Tenten menghampiriku dengan tampang khawatir.

"Tenten aku ingat! Handphoneku jatuh. Ketika kau mencoba mengeluarkannya dari kantong, tapi karena terburu – buru aku menabrak seseorang, dan aku lupa dengan apapun!! Tenten! Handphoneku!!!" teriakku sama sahabatku.

"Sabar Saku!!! Nanti dia pasti akan menelepon lagi." Ujarnya.

"Tapi? Klo dia gak telepon lagi gimana? Ten! Disitu banyak kenanganku! Banyak photo – photonya! Ada photo Naruto! Neji juga!" aku mulai stress memikirkannya.

"Sabar Saku." Ujarnya sambil merebahkan diriku di atas bangku. "Dia pasti telepon lagi! Aku makan dulu supnya, nanti keburu dingin."

"Baiklah kalau itu dapat membuatku sedikit santai."

Aku mulai stress memikirkan nasib handphoneku. Aku menunggu sepanjang hari didepan telepon, ato aku telepon Tenten untuk memastikan bahwa cowok itu menelepon ke handphonenya. Tapi tetap nihil.

Untuk menghilangkan stress, aku memutuskan untuk berjalan ketempat aku menjatuhkan barang malang itu. Mondar mandir didepan tempat tersebut. Mencari sosoknya. Tapi aku tak berhasil menemukannya. Yang kulihat malah seseorang yang tak lain adalah muridku, Sai.

"Sensei? Kenapa ada disini? Aku daritadi lihat kau mondar – mandir ditempat ini. Kau mencari sesuatu?" ujarnya sambil mendekatiku

"Ah Sai!" aku menatap wajahnya, "Iya aku mencari seseorang. Kemarin malam aku menjatuhkan handphoneku, terus dipungut seseorang. Aku ingat tampangnya, tapi aku tak tahu siapa dia."

"Wah gawat tuh sensei. Harus dicari. Tampangnya kayak apa? Mungkin aku mengenalnya! Kan aku lebih lama tinggal disini daripada sensei."

"Cowok, seumuran denganmu, terus wajahnya rada jutek, kulitnya putih." Jelasku.

"Model rambutnya?" Tanyanya lagi.

"Aku lupa, karena gelap. Tapi rambutnya berwarna hitam." Aku mencoba mengingat tentang orang itu.

"Hitam? Sasuke kali!" ujarnya sambil mikir – mikir.

"Ah! Sasuke! Iya namanya Sasuke! Kau mengenalnya?" Ujarku kaget.

"Tentu! Di adalah temanku. Jadi handphonenya sensei ada sama dia? Yasudah aku telepon dia saja sekarang." Tawar Sai kepadaku.

"Ah aku setuju. Buruan Sai!" aku menyanggupi tawarannya.

"Iya." Ujarnya sambil tersenyum.

Sai memijit handphonenya. Mencari nomer milik Sasuke.

"Halo? Sasuke? Ini Sai! Kau ada dimana sekarang?" Ujar Sai kepada lawan bicaranya.

"Sai? Ada apa? Tumben." Jawabnya.

"Aku mau tanya, apa benar kau mengambil handphone atas nama Sakura didalamnya?"

"Hn." Jawabnya.

"Tolong kembaliin donk. Orangnya cemas nih."

"Gak mau. Suruh siapa nindihin aku. Lagipula dia tak ada niat buat nyari handphonenya. Kenapa kau yang repot?" Ujar Sasuke dingin.

"Yah jangan gitu donk Sas. Kasihan nih. Ayolah Sas, handphone yang kamu temukan itu punya temanku. Kembalikan dong." Pinta Sai.

"Hn. tapi kenalkan aku padanya yah! Menurut gambar di handphonenya dia kelihatan manis. Klo kau tidak mengenalkan aku padanya, handphonenya akan kubuang." Ancam Sasuke.

"Ja...Jangan donk Sas, iya nanti aku kenalkan kamu padanya." Sai pun pasrah mendengar ucapannya Sasuke. Lalu ia memasukkan handphonenya kembali di kantong celananya. "Iya akan kembalikan." Tambahnya lagi.

"Kapan?" Ujar Sakura sambil menatap Sai.

"Apa?"

"Kapan? Kapan Sai?" aku menegaskan Sai kembali.

"Nanti sore aku akan ke apartemennya. Dia ingin berkenalan denganmu. Ikut yah?" tawarnya.

"Pasti dong." Ujarku sambil tersenyum.

Sai dan aku tiba di apartemennya Sasuke. Cuaca disini begitu dingin. Salju sudah mulai tebal. Tadinya Sai menyuruhku pulang, dia takut aku bakalan kedinginan, tapi aku ingin bertemu langsung dengan yang namanya Sasuke, Sai pun pasrah mendengar ucapanku.

Teeenggg tonngggg...

Sai memencet bel apartemen Sasuke..

"Iya." Jawab si pemilik Apartement.

Sasukepun membukakan pintu, ia melihat aku dan Sai. Wajahnya tetap dingin ketika ia membuka pintu itu.

"kau Sai, ayo masuk! Diluar dinginkan." Dia mempersilahkan Sai masuk. "Kau?" di melirikku dan menunjukku.

"Ah, aku Sakura, salam kenal Sasuke-san." Ujarku sambil membukukkan badan.

"Ayo masuk, ngomongnya didalam saja." Aku pun masuk ke apartemennya. Lalu Sasuke menutu pintunya kembali.

Aku melepaskan sepatuku, begitu juga dengan Sai. Lalu kami masuk keruangan yang ukurannya 4*6. aku dapat melihat banyak photo yang tergantung rapih di dinding dengan catnya yang berwarna biru muda. Juga ada perapian, yang menambah hangatnya ruangan ini. Aku melepaskan jaket ku ke gantungan begitu juga dengan Sai. Sasuke lalu mempersilahkan kami duduk. Didepan kami sudah terhidang seteko teh, aku dapat melihatnya karena warna agak coklat bening, juga ada beberapa kue di meja. Sepertinya Sasuke sudah mempersiapkan ini semua.

"Ayo diminum, biar tubuh kalian menjadi hangat." Ia menungkanteh itu kegelas kami.

"Terima kasih." Jawabku dan Sai bersamaan.

"Jadi, Handphone ini milikmu?" Sasuke menunjukkan Handphone itu kepada ku.

"Ah iya, tolong kembalikan. Itu sangat penting bagiku." Ujarku sambil mengenggam cangkir itu.

"Tapi aku mau tanya dulu," ujarnya, "Siapa cowok yang bersamamu?" dia menunjukkan seseorang yang bergandengan tangan denganku.

"Ah, namanya Neji. Ia mantang tunanganku." Ujarku lirih.

"Tunangan? Berarti kau tidak single dong?" balasnya lagi.

"Dia sudah meninggal tepat kami akan bertunangan, tepatnya setahun yang lalu."

"Meninggal? Kenapa?" tanyanya lagi.

"Kecelakaan." Ujarku singkat. Tanpa sadar aku dapat merasakan air mataku jatuh dipipiku.

"Sakura?" ujar Sai sambil menatapku.

"Hn. Kenapa kau masih menyimpannya? Diakan sudah mati. Apa kau menyesal kehilangan dia? Atau kau masih sangat mencintainya. Menurutku itu adalah masa lalu, dan sebaiknya masa lalu dilupakan saja, daripada hanya membuat beban." Ujarnya ringan seperti tak punya beban sambil menatap mataku tajam.

Hatiku sakit mendengar ucapannya. "Kenapa kau ngomong begitu? Aku memang masih mencintainya! Dia meninggal karena salahku! Kalau saja dia tak mengenalku, dia takkan mengalami kecelakaan itu dan akhirnya mati!!!" ujarku sambil manatap benci Sasuke.

"Emang benarkan? Masa lalu seharusnya dibuang saja, yang harus kau lakukan adalah menatap masa depanmu. Kau harus bangkit dan melangkah kedepan. Lupakan semua penderitaanmu yang hanya akan menjadi beban tak berujung dalam hatimu, termasuk tunanganmu yang sudah meninggal itu."

"Hei! Kau itu orang yang tak punya hati yah! Bisa – bisanya kau mengeluarkan ucapan seperti itu. Emang benar aku menyesal dengan semua yang menimpa Neji. Jika Neji tak mengenalku, di pasti masih hidup.....!!!" tangisku pecah. Tanganku langsung menyambar kasar handphone yang di genggam Sasuke, lalu langsung keluar dari ruangan menyebalkan itu.

BLAMMM...

Orang yang sangat menyebalkan! Kenapa dia bisa – bisanya ngomong hal seperti itu. Padahal aku ingin melupakan semua itu, semua tentang Neji. Tapi sepertinya dia ingin aku mengungkit semua itu! Siapa dia? Siapa Sasuke yang sebenarnya?

Aku berjalan sepanjang jalan menuju apartemenku. Dingin.. baru ingat aku lupa mengambil jaket dan sepatuku.. sekarang aku kedinginan, karena tak memakai jaket juga sepatu. Aku tak mungkinkan kembali ke apartemennya dan mengambil jaket dan sepatuku.

Salju turun semakin tebal. Aku semakin kedinginan. Pandanganku terasa kabur. Aku tak dapat melihat dengan jelas jalan yang hendak aku lalui. Aku pun menggoyangkan kepalaku. Tangan dan kakiku terasa membeku. Aku mengusap – usapkan kedua tangan sambil menghembuskan nafas lewat mulut ke tangan supaya hangat.

Tapi udara tetep saja dingin. Kepalaku mulai terasa pusing. Aku pun memutuskan untuk menelpon Sai. Aku keluarkan handphone dari kantong celanaku. Memijit nomernya, lalu memanggilnya.

"Sai?" ujarku.

"Saku? Untunglah kau menelponku, kau dimana, aku mencarimu! Sakura kembalilah! Aku ada di sekitar apartemen Sasuke." Ujar Sai panik.

"Aku gak mau balik kesitu! Aku gak mau beetemu dengan sonbong kayak dia! Dia gak mengerti perasaanku! Aku benci Sasuke!" maki ku.

"Tapi? Salju sudah mulai tebal. Sakura kau pasti kedinginan kan? Kau dimana? Kau lihat apa? Beritahu aku. Aku sudah membawa jaket dan sepatumu."

"Sai. Aku ada di taman Suna yang biasanya anak – anak sering bermain. Aku tak melihat secara pas..ti......."

Bruk... aku merasa tubuhku jatuh... aku tak kuat lagi menahan dinginnya salju yang serasa membekukan diriku....

End Chapter 3....


Huhuhu.... gila endingnya jelek amat sih...

Talkshow..

Sai: Eh author! Kok gue dibikin childish seh! Emangnya tampang gue mendukung apa?

Author: Sebenarnya sih kagak! Tapi waktu lagi ngetik ni panpik, gue kepikiran satu fic yang tokoh utamanya jadi childish, en kayaknya menarik gitu.. klo dibikin rada childish kayak itu chara..

Sai: Tapi kan gue kagak mau! Gila kenapa sih gue selalu apes dibikin cerita ma lo.. yang ini childish, yang lagi hiatus sakit. Laen kali bikin yang bener kenapa?

Author: Maunya kayak apa? Mesum?

Sai: Itu juga kagak mau! Pokoknye fic ini bikin endingnya gue jadian ma Sakura!

Author: Terserah yang baca aja! Kalau pada setuju yah gue bikin lo jadian ma Sakura, tapi kalau gak, yah Sakura jadian ma yang laen... XP

Review? Endingnya bagusan Sakura jadian ma Sai atau Sasuke, kenapa?? Kirim lewat review yah!!! Di tunggu....