Summary: "Kalau kau ikut pergi, kau pasti tidak akan kecewa. Aku akan tetap jaga jarak denganmu kok. Ayo..." Sakura POV, AU, OOC...
Disclaimer: Masih... dan masih.... Mashashi Kishimoto...
Oh ya maaf ya bagi chapter 3 kemarin yang rada membosankan! Semoga chapter ini dapat menggantikan itu.. Enjoy...
The Rain Story..
By: Takuya Uzuki-chan
Chapter 4
Aku dapat merasakan tubuhku menghangat, membuka kedua mataku pelan-pelan, lalu melihat kesekeliling tempat itu.
"Kau sudah bangun?" aku dapat mendengar sesorang seperti sedang berbicara padaku.
"Kau sudah bangun?" Ulangnya lagi. Kali ini aku dapat merasakan tangannya menyentuh pipiku. Hangat. Itu yang kurasakan. Tapi? Dia siapa??
"Bagus deh tubuhmu gak apa-apa! Sekarang makanlah sup hangat ini, agar tubuhmu menjadi sedikit lebih hangat. Aku akan pergi sebentar, jangan kemana-mana yah."
Aku dapat melihat orang itu pergi dan menutup pintu kamar ini. Siapa dia? Dan dimana aku?
Akhirnya aku bangun dari tempat tidur itu. Aku mengambil mangkok yang berisi sup hangat itu. Memakannya dengan hati-hati. Hangat. Aku dapat merasakan hangatnya sup itu ketika masuk ke tenggerokanku.
Aku dapat merasakan tubuhku menghangat, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhku. Aku dapat melihat baju yang kemarin kupakai. Berarti?
Aku meletakkan mangkok itu dan lari keluar kamar. Benar! Ternyata aku ada di rumah yang sama. Aku ada di rumah Sasuke! Aku ingat dekorasi kamar itu. Tapi kenapa aku ada dikamar tersebut? Apakah Sasuke yang menemukan aku?
"Wah kau sudah bisa lari-larian rupanya?" Ujar seseorang. Aku dapat melihatnya dan dugaanku benar. Aku di rumahnya.
"Kau?" Ujarku membeku.
"Kenapa? Seharusnya kau bersyukur aku dapat menemukanmu! Kau hampir mati kedinginan tahu..." Ujarnya. Mata kami saling bertemu.
"Tapi? Mana Sai?"
"Kenapa kau masih memikirkan dia? Kan yang menyelamatinmu dari salju tadi malam adalah aku."
"Ah... Sankyuu kalau begitu."
"Tidak perlu. Lagian aku hanya tak ingin kau bernasib seperti mantan pacarku."
"Maksudmu?" ujarku bingung.
"Tidak ada apa-apa. Sudah anggap saja aku tak pernah bilang kepadamu. Oh ya, kalau tubuhmu sudah sehat kau boleh meninggalkan tempat ini. Maaf aku tak bisa mengantarmu." Ujarnya sambil mengeluarkan sebatang rokok.
"Kau merokok?" tanyaku.
"Kenapa? Kau? Pasti kau tidak. Rokok adalah sahabatku di kala sepi seperti ini."
"Rokok bukan sahabat yang baik! Sahabat yang baik adalah orang yang mengerti keadaanmu!" Ujarku marah.
"Tapi siapa yang mau menemanin aku yang kesepian di musim salju ini?"
"Kenapa kau tidak menelpon pacar atau temanmu?"
"Aku tinggal didunia ini sendirian. Keluargaku sudah meninggal. Pacarku juga mengalami hal yang sama denganku. Sahabat? Tidak ada orang yang dapat kusebut sahabat! Mereka semua pengkhianat!" ujarnya marah.
Aku memberanikan diri untuk duduk dikursi di sampingnya.
"Kenapa? Kenapa mereka meninggalkanmu? Berarti kau sendirian?"
"Iya! Aku sudah tinggal disini 3 tahun! Tanpa keluarga! Teman yang kupunya hanyalah Sai! Tapi aku tidak pernah dekat dengannya! Lagipula dia hanya mampir kalau ada perlu saja! Sudahlah aku harus pergi bekerja. Kalau kau masih ingin tinggal disini juga tak apa-apa." Sasukepun berlalu.
"Terimakasih." Ujarku.
Aku tak mengerti, sepertinya ada yang Sasuke sembunyikan. Aku membasahi tubuhku dengan air hangat di kamar mandi Sasuke, menghilangkan semua kepenatan dan merilexan tubuhku. Aku terus berpikir. Oh ya Sai! Kenapa aku tidak tanya dengannya? Pasti dia tahu...
"Plis! Sai katakan! Kenapa dengan Sasuke!" rengekku.
"Tidak! Ini adalah rahasia! Walaupun kau adalah calon pacarku tetap tidak akan kukasih tahu.."
"Baiklah kalau gitu... aku gak mau kenal denganmu lagi deh.. Sayonara Sai!!" ujarku lalu meninggalkan Sai yang bengong.
"Tunggu! Iya-iya akan kuceritakan sesuatu untukmu! Tapi berjanjilah untuk menyimpan rahasia ini! Soalnya Sasuke tidak mau ada yang mengasihani dirinya. Kau mengertikan??"
"Iya!!" Sai pun bercerita tentang masa lalu Sasuke. Aku terharu mendengar semua itu. Tapi kok ada yang??
"Gitu... Kau mengertikan? Itu sebabnya Sasuke sendirian! Sebenarnya aku kasihan dengan dirinya. Tapi setiap aku ingin membantunya, dia selalu menolakku. Aku jadi serba salah." Dia pun menghela napas.
"Iya! Thank ya Sai! Oh ya aku pulang dulu yah! Soalnya dari tadi TenTen telepon mulu. Mungkin dia khawatir padaku. Da....." Akupun melambaikan tangan ke Sai.
"Da..." Balasnya.
Aku terus memikirkan tentang perkataan Sai. Sasuke. Kenapa nama itu sekarang terngiang di kepalaku. Aku tak bisa melupakan raut wajahnya yang sedih itu. Apa benar dia juga memiliki masa lalu yang menyakitkan? Jadi itu sebabnya dia berkata padaku?
Semakin tak bisa kumengerti, Neji.. andai kau ada disini apa yang akan kaukatakan kepadaku?
Hari telah berganti malam, sekarang aku sudah tiba di kamarku. Tadi ketika kupulang TenTen marah-marah padaku. Dia kecewa karena aku tak menelpon dia. Tapi akhirnya dia mau memahami kondisiku. Aku sedih kenapa aku tak bisa memahami persaannya. TenTen adalah sahabatku, tapi aku lebih menganggapnya teman biasa. Padahal dia sudah menganggapku saudara.
Aku membaringkan tubuhku di kasur yang empuku, menarik selimut, lalu membaca doa. Aku tidur secara perlahan lalu masuk kealam tidurku jauh lebih lelap jauh lebih dalam.
"Sakura? Apa kabar kau?" hem... aku dapat mendengar seseorang memanggilku.
"Sakura?" ujarnya. Aku dapat merasakan tangannya menyentuh pipiku. Aku pun bangung dan menatap tak percaya.
"Neji??"
"Iya ini aku... apa kabarmu?" air mataku tak dapat kutahan. Aku menangis dan langsung memeluk tubuh yang sangat kukenal itu.
"Aku? Baik.." Aku masih menangis.
"Sakura? Aku yakin sebentar lagi kamu akan menemukan cintamu." Ujarnya.
"Eh? Emangnya kamu tahu..."
"Nebak saja. Kau pasti sangat kangen padaku yah? Tapi kau gak usah khawatir, aku selalu mendoakan kebahagianmu.."
"Neji? Terimakasih..." ia lalu menghapus air mataku dengan tangannya.
"Sekarang kembalilah tidur."
"Tidak mau! Kalau aku bangun au tidak ada disampingku! Aku pasti sendirian!" akupun cemberut.
"Sakura, roda kehidupan akan terus berjalan.. kelak kita pasti bertemu kembali, walaupun hanya dimimpi. Ingat Sakura, kehidupanmu masih terus berjalan... sampai kau tidak akan tahu dimana batasnya. Terus hidup dan selalu berpikir positif. Satu lagi, hujan bukanlah sumber bencana untukmu. Hujan adalah anugrah! Mungkin saja suatu saat kau akan menemukan arti kehidupanmu di saat hujan. Ingatlah itu selalu." Ucapnya, aku terkejut dia berkata manis kepadaku.
"Dan berjanjilah untuk selalu tegar dalam menjalani kehidupan ini." Ujarnya lalu meninggalkan aku.
"Mau kemana? Jangan tinggalkan aku!"
"Pergi. Kau juga! Matahari sebentar lagi akan muncul di ufuk timur. Bangun! Dan persiapkan dirimu hari ini!" Tambah Neji lalu ia menghilang bagaikan hantu.
"Neji... ah..." aku bangun dari tidurku.
"Neji? Kau hadir dalam mimpiku? Neji. Aku janji akan menjalankan hidup ini dengan selalu bersemangat! Aku gak mau mengecewakan kamu! Ayo Sakura! Semangat!!" ujarku sambil menyemangatin diri sendiri.
Aku langsung mandi lalu berpakaian, terus turun kebawah mengambil sarapan pagi buatan TenTen.
"Pagi TenTen!!" sapaku.
"Oh Sakura! Tumben bangun pagi!" Ujarnya.
"Iya! Aku mau pergi nih! Mana sarapan aku?"
"Itu, ambilah. Oh ya Sakura! Bisa gak abis kau selesai urusanmu, kau ku suruh belanja? Abisnya aku males keluar rumah hari ini. Tadi kata ramalan cuaca, hari ini salju akan turun lebat. Mau yah!" pintanya.
Aku menimbang sesaat. "Baiklah! Kau tulis apa saja yang kau perlukan. Terus sekalian uangnya."
"Iya! Ini semua daftar belanjaannya." Aku mengambil catatan dan uang TenTen.
"Banyak sekali? Ini semua barang yang sudah abis?" tanyaku.
"Sekalian dengan perlengkapan pribadi ku." Tambahnya.
"Pantesan!! Yaudah.. aku akan belikan semua."
"Nanti kalau kau keberatan minta sama Sai saja yah!" ledeknya.
"Ih! Aku kuat kok."
"Yaudah sana berangkat. Oh ya ini bekalmu. Jangan pulang terlalu malam yah!" ia memperingatkan aku.
"Iya! TenTen senpai." Ledekku.
Berjalan di atas tumpukan salju hanya terjadi di musim salju. Melihat kesekeliling rumah yang tertimbun salju. Apa di rumah mama Kushina saljunya sebanyak ini?
Aku kembali menyusuri jalan setapak menuju rumah Sasuke. Aku masih bingung dengan sikapnya. Aku ingin sekali mengobrol dengannya. Tapi dia terlalu dingin. Aku tidak tahan kalau bicara dengan orang sedingin itu.
"Sakura?" aku menyadari ada yang memanggilku, dan menengok kebelakang. Mata kami saling bertemu. Hijau bertemu hitam.
"Sasuke? Pagi sasuke!" salamku kepadanya.
"Pagi. Ngapain kau jalan di tempat ini pagi-pagi?" Ujarnya ketus.
"Cuma ingin jalan-jalan saja." Ujarku sambil tersenyum kepadanya.
"Bukankah kau kerja? Kau kerja dimana?" Tanyanya.
"Guru privat. Aku menjadi guru privat musik bagi Sai."
"Musik? Kau bisa musik?"
"Lumayan. Kenapa apa kau juga bisa main alat musik?"
"Tidak." Jawabnya pendek. "Oh ya hari ini aku ingin pergi kesuatu tempat. Kau mau ikut denganku?" tawarnya.
Eh, dia menawariku pergi? Tolak atau ikut?
"Kalau kau ikut pergi, kau pasti tidak akan kecewa. Aku akan tetap jaga jarak denganmu kok. Ayo..." dia mengulurkan tangannya kepadaku.
"Em.. Baiklah. Tapi jangan sampai sore yah!" akupun menyambut uluran tangannya.
"Tidak sampai sore kok." Diapun mengandeng tanganku.
Akhirnya aku dan Sasuke pergi. Kami naik kereta menuju suatu tempat. Dia tak bicara sepatah katapun kepadaku. Kami masih bergandengan tangan. Aku memutuskan untuk diri, dan mempersilahkan orang lain untuk duduk. Dia bingung.
"Kenapa kau berdiri? Bukankan lebih naik jika duduk?" tanyanya penuh heran.
"Aku ingin berdiri. Berdiri sampingmu." Aku menggenggam tangannya erat.
"Terserah kaulah."
"3 stasiun lagi kita akan tiba. Lebih baik kau lepas syalmu. Karena kota itu tidak terlalu dingin."
"Eh masa? Bukankah sekarang masih musim salju?"
"Nanti kau akan merasakannya sendiri."
Benar saja. Kota yang Sasuke tujui tidak terlalu dingin. Kami telah tiba di kota Oto ini. Bahkan salju disini sudah mencair.
"Kau heran? Kota ini hanya sebentar mengalami musim salju.. kota yang aneh! Memang begitu juga dengan penduduknya." Kekehnya.
"Aneh?" ujarku bingung.
"Nanti kau juga akan tahu..."
"Kita mau kemana Sasuke?"
"Sekarang kita akan kerumah orang tuaku yang sekarang."
"Eh... maksudmu?" aku bingung.
"Iya... kita berjiarah dulu. Ayo.." dia kembali menarik tanganku lembut.
Aku menatap wajah Sasuke yang sedikit melembut. Wajah dinginnya berangsung hilang yang ada hanyalah wajah itu.
"Itu.." Dia menunjuk kesebuah tempat yang tak jauh dari tempat kami berpijak. Aku dapat melihat tempat yang sangat damai, rindang, dan tempat yang sangat membekas dihatiku, ya pemakaman.
"Nanti kau akan bertemu dengan ayah, ibu juga mantan pacarku, oh ya kakakku juga..."
"Kakak? Kakakmu juga sudah meninggal?"
"Iya! Berbarengan dengan orang tuaku. Dan mantan pacarku meninggal karena kecelakaan 2 tahun yang lalu. Sekarang aku sendirian."
"Kenapa ayah dan ibumu meninggal? Dibunuh seseorang?" kulihat ekspresi wajahnya berubah.
"Kau tahu..." Dia menengok kepadaku.
"Sai cerita semua itu kepadaku." Tiba-tiba di melepas genggaman tangannya.
"Hmm... sudah kuduga pasti dia akan bicara padamu." Sasuke menutup wajahnya. "Iya! Mereka bertiga dibunuh."
"Itu sebabnya kau menyuruhku untuk melupakan masa lalu yang merepotkan itu? Padahal aku tahu kau sangat ingin seseorang yang dapat memahami dirimu? Iya kan? Kau sama denganku! Bedanya hanya tempat kita berpijak." Tambahku.
"Kau memang gadis yang cerdas, Sakura! Iya! Itu benar. Semua yang kau katakan itu benar..." aku dapat melihat dia menitikkan air matanya.
"Kenapa pacarmu bisa kecelakaan?" tanyaku.
"Karena, saat itu aku dan dia berkencan, tapi bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Aku hanya luka ringan, tapi dia mengalami yang lebih parah dariku. Serpihan kaca itu menembus nadinya. Dia kehabisan darah sebelum tiba dirumah sakit."
"Apakah waktu itu hujan?"
"Iya! Aku ingin sekali melupakan semua itu. Itu sebabnya aku marah padamu, ketika kau mengulang kejadian itu.. maafkan aku Sakura." Dia menepuk pundakku.
"Tidak apa-apa! Sekarang aku dapat mengerti, ternyata kau itu rapuh juga. Kupikir kau kuat! Ternyata..." aku pun tersenyum.
"Iya-iya puas kau!!" ucapnya rada kesal. "Ayo kita bertemu dengan keluargaku! Doakan keluargaku yah!" Pintanya.
"iya!" Ujarku dan mengikuti arah berjalan Sasuke.
End chapter 4...
*Garuk2 kepala* masih bersambung lagi... maap yah.. kayaknya masih jauh dari kata TAMAT...
Ayo... review ya!!!
NB: maaf yah bila ada tulisan yang rada mirip dengan fic Sayonara, Sasuke-kun..
