Title :Oppa Saranghae

Main Cast : - Suga BTS

- Kim Su Min (Baek Su Min)

Genre : Romance? Drama ?

Rate : M, NC

Anyeong ^-^

Mianhae, lagi-lagi aku telalu lama mengupdate chapter 3 ini. Karena sedang liburan aku sulit membagi waktu, biasa bolang –bocah ilang- /plaaakkk/. Warning typo-typo manja yang mengganggu pandangan kalian.

.

.

Enjoy ^^ Chapter 3

.

.

.

"Haaaa... jadi kau juga suka menonton film seperti ini Sumin-ah". Terdengar jelas suara namja dari sisi kanan Su Min membuat dirinya terkejut menggerakkan cepat tubuhknya ke kiri menjauhkan diri dari suara itu.

"Ssuga ooppa...". Su Min menelan ludahnya dengan susah payah. 'Ottokhae?'. Su Min benar-benar lupa bahwa ada orang lain yang sedang menginap di rumahnya. "Ssejak kapan oppa ada ddisini?". Su Min beusaha mengeluarkan suaranya.

"Sumin-ah..". Suga menggenggam pergelansgan tangan kanan Su Min. Matanya terus menatap mata Su Min seperti elang yang baru saja menemukan makanannya, Suga memperkecil jarak di antara mereka. Sdikit demi sedikit Su Min memundurkan tubuhnya, tangan kirinya dijadikan sebagai tumpuan tubuhnya. "Bisakah satu orang saja yang mengetahui apa pekerjaan mu?".

Su Min menghempaskan nafasnya yang sedari tadi tertahan. "Anniya...".

"Yakk... Kenapa kau menjadi keras kepala seperti ini hah.. hah..". Suga menyentil kening Su Min berkali- kali.

"Yaaakk... Oppa". Su Min mendorong Suga sampai jatuh terduduk. "Oppa.. Saat ini aku bukanlah anak kecil lagi eoh. Aku juga ingin mempunyai sebuah privasi"

"Ne, kau bukan anak kecil lagi". Suga mengacak rambut Su Min. "Sumin-ah, kenapa sikapmu berubah padaku? Apa aku pernah melukaimu?"

Deg~ Jantung Su Min benar-benar berdegup kencang. Pertanyaan macam apa ini? Mana mungkin Su Min menjawab pertanyaannya. Menjawab sama saja mengakui bahwa hatinya benar-benar terluka setelah melihat Suga dan Hayoung di ruang osis beberapa bulan lalu.

"Ah.. anni…"

"Emm.. Sumin-ah bukankah ini Park Sora kekasih Jhope eoh?"

Mata Su Min membulat mendengar ucapan Suga, ia langsung menyambar laptopnya. Menutupnya dengan kasar. Su Min berdiri dan membawa semua peralatannya.

"Sumin-ah". Suga ikut berdiri. "Apa kau melakukannya juga? Apa benar kau menjual diri mu seperti itu?! Jawab aku Sumin-ah..."

"Oppa... Jangan pernah mencapuri urusan ku. Lebih sedikit yang oppa tahu itu akan semakin baik". Su Min berjalan meninggalkan Suga tanpa melihatnya sedikitpun.

"Sial...". Suga mengepal tangannya menahan semua amarah yang di rasakannya.

.

.

.

Pagi yang cukup gelap karena diselimuti awan hitam di langit kota Seoul. Seperti biasa Su Min menolak Jin untuk mengatarnya ke sekolah. Su Min lebih senang berjalan ke halte dan menaiki bis dari sana. Su Min berdiri dari duduknya melihat bis yang di tunggu telah datang. Su Min mengeluarkan membercardnya untuk membayar ongkos didalam bis itu.

Phip… Phip..

Su Min terdiam menengok cepat ke arah belakangnya "joheon achimieyo, Sumin-ah. Anggap saja itu bayaran selama aku menumpang di rumah mu". Suga tersenyum, berjalan melewati Su Min yang masih terdiam.

"Hey, kau nak, jangan berdiri mematung menghalangi orang yang ingin menaiki bis ini". Tegur ahjussi pengendara bis.

"ah ne, mianhaeyo..". Su Min membungkukkan tubuhnya sedikit dan berjalan berdiri di dekat Suga yang mendapatkan tempat duduk. Bis mulai melaju, Su Min berpegangan pada besi yang di sediakan untuk penumpang. "Oppa, kenapa oppa tidak membawa mobil atau berangkat bersama Jin Oppa?". Tanya Su Min penasaran. Su Min lupa bahwa Suga menginap tidak membawa mobilnya dan tentu saja ia menaiki bis untuk tetap bersama Su Min.

"Aish berisiknya…". Suga mengusap kasar telinganya, lalu melipat kedua tangannya di dada. Su Min mengepalkan tangannya memasang gaya seperti orang ingin meninju. "Bukankah ini menguntungkanmu? Aku tau kau bukan wanita yang menyukai hal yang didapatkan secara cuma-cuma jadi anggap saja ini bayaran aku menyewa kamar semalam"

"Yakk.. Mana ada harga kamar semalam setara dengan harga naik bis"

"Yakk.. Aku akan membayar bis saat pulang dan membelikan apa saja yang kau inginkan"

"Termasuk membayarkan aku nonton teater dan makan setiap pulang sekolah"

"Kau mengajakku kencan eoh?". Suga melempar pertanyaan yang membuat pipi Su Min merah merona.

"Anyeong Sumin-ah". Sapa namja tinggi yang baru naik dari dua halte setelah halte rumah Su Min, Jungkook berdiri di sisi Su Min. Teman sekelas Su Min yang banyak diincar oleh para Yoeja.

"Oh Jungkook-ah, anyeong"

"Apa tidurmu nyenyak?". Jungkook bertanya tanpa megesr tatapan matanya seditikpun da Su Min.

"Ne, ten…". Tubuh Su Min di tarik sampai terjatuh di bangku penumpang oleh Suga yang sudah berdiri dan menghalangi Su Min dan Jungkook. Suga berdiri seperti orang yang tidak mempunyai dosa.

"Dahulukan wanita, jadi silakan duduk Sumin-ah"

"Ken…"

"Hoaamm…". Suga merentangkan tangannya, menggeser tubuhnya agar Jungkook semakin terhalang. Akhirnya mereka bertiga terdiam dalam keheniingan. Disisi lain Suga tertawa melihat wajah Su Min yang sangat jengkel karena ulahnya. Bis akhirnya berhenti di halte sekolah mereka, Suga mendorong Jungkook agar cepat turun terlebih dahulu. Jungkook sedikit bingung dengan tingkah sunbaenimnya itu tapi Jungkook akhirnya menurut turun terlebih dahulu, lalu Suga. Suga turun dari bis untuk pertama kalinya ia naiki, Suga kembali melihat ke arah pintu bis, melihat tangan Su Min yang di genggam Jungkook. Ya, Jungkook membantu Su Min turun dari bis. Rasa senang Suga menaiki bis melupakan rencana awalnya untuk mendekati Su Min.

"Gumawo..". Ucap Su Min. Butir demi butir hujan turun semakin banyak dan cepat, dengan sigap Jungkook membuka blazer sekolahnya untuk menutupi kepalanya dan Su Min. Mereka berlari berdua menuju gedung sekolah yang sekitar 100meter dari halte.

"Hah… Sial..". Suga berlari menyusul Su Min, menarik tangannya sampai ia keluar dari blazer Jungkook. Su Min dan Suga berlari menerjang air hujan yang turun cukup deras.

"Oppa…". Mata Su Min melebar hebat."Apa yang kau lakukan? Lihat semuanya basah eoh?"

"Kalau begitu, untuk hari ini mari kita bolos". Ucap Suga serius mengukir sedikit senyum dibibirnya. Suga memberhentikan sebuah taksi, menaikinya bersama Su Min. Su Min awalnya menolak dan tidak mau ikut tapi mau bagaimana lagi pakaian, tas, sepatu semuanya basah. Lagi pula Su Min belum pernah membolos sekolah jadi ia menerima tawaran Suga.

Taksi yang di tumpangi Su Min dan Suga berhenti di depan rumah mewah perumahan Gangnam. Su Min keluar dari taksi dengan terus memandangi rumah mewah bercatkan putih di depannya tanpa menyadari hujan yang semakin deras menghantam seluruh tubuhnya. Ini pertama kali Su Min ke rumah Suga. Walaupun Jin adalah sahabat Suga tapi Jin tidak pernah mengajak Su Min ke rumah Suga. Ya, karena selain Suga lebih suka tidur di rumah orang lain dari pada rumah meawahnya. Suga menekan sandi pada pintunya dan membuka pintu mewah tanpa penjagaan yang ketat. Di rumah Suga saat ini hanya ada pembantu yang sehari-hari memasak dan merapihkan rumah saja.

"Silakan masuk". Suga mempersilakan Su Min masuk terlebih dahulu.

"Tuan muda, anda pulang hari ini? Nyonya mengatakan…"

"Ne, aku mengerti, Lee perkenalkan ini, Kim Su Min, ia adik dari Kim Seokjin. Jadi tolong sambut jika ia datang kesini nde". Suga menghusap punggung ahjussi tua yang sudah bekerja berpuluh-puluh tahun di rumahnya.

"Anyeonghaseyo, jeo-neun Kim Su Min imnida". Su Min membungkukkan tubuhnya sopan. Ahjussi itu hanya tersenyum dan ikut membungkukkan tubuhnya.

"Anyeonghaseyo, panggil saja saya Lee. Saya kepala pelayan disini."

"Sudah cukup perkenalannya, lebih baik kau ganti pakaian terlebih dahulu". Suga merangkul Su Min menuju kamarnya.

"Uuntuk apa kita kekamarmu?"

"Apa dalamanmu basah?"

"Yakk. Oppa, pertanyaan mu"

"Aku tanya apa dalamanmu juga basah?"

"Mmm… sedikit… aku pinjam hair dryer saja. Pasti eomma mu memilikinya bukan?" tanya Su Min berhati-hati.

"Baiklah, aku akan meminta Lee untuk mengambilkannya. Ini pakaian dan celanaku, maaf jika ukurannya terlalu besar untuk mu. Aku akan mengganti pakaianku di tempat lain". Suga meletakkan pakaiannya di tempat tidur miliknya. Ruang tidur yang cukup besar dengan latar warna putih di padukan warna coklat muda pada kayu-kayu yang mengisi ruangan ini. Suga meninggalkan ruang tidurnya. Kini Su Min hanya sendirian, ia melihat satu rak buku yang berisika ratusan komik koleksi Suga, dan koleksi-koleksi miniatur karakter anime yang di sukai Suga.

"Permisi Nona Kim"

"Oh". Su Min menghampiri ahjussi tua itu. "Panggil saja aku Sumin"

"Itu sudah tugas saya nona, saya permisi". Lee keluar ruangan setelah memberikan hair dryer sesuai dengan permintaan Su Min.

Su Min membersihkan tubuhnya dan mengeringkan semua pakaian dalamnya yang akan ia gunakan lagi setelah kering. Setengah jam berlalu, Su Min keluar dari ruang tidur Suga, mencari keberadaan sang pemilik rumah. Terdengar suara tawa pemilik rumah itu yang tengah duduk bersantai di ruang tengahnya dengan televisi yang menyalah dengan film Kung Fu Panda. Aigoo, orang ini tidak ingatkah ia sudah berusia berapa…

"Yak.. Oppa kau seperti anak usia 3 tahun eoh". Su Min duduk di sofa tepat di sisi Suga.

"Jinjja? Semuda itukah wajahku?"

"Uwek… bukan wajahmu tapi tingkahmu."Su Min mengambil remote televisi dan menggantinya dengan chanel drama.

"Aishh.. Berisik. Kenapa kau menggangguku eoh?"

"Kenapa kau mengajakku kerumahmu eoh?". Su Min berhasil membungkam mulut Suga.

"Tuan muda, semua makan yang anda inginkan telah disiapkan". Ujar Lee.

"Thanks. Tubuh mu sudah terlalu tua, beristirahatlah". Titah Suga kepada Lee. Suga menggenggam tangan Su Min, mengajaknya keruang makan yang megah terdapat meja makan yang besar memanjang dan dua belas kursi yang mendampingi, diatasnya terdapat delapan pasang lampu gantung yang berjajar tambah menerangi meja makan. Diatas meja telah tersedia makanan khas Korea berserta buah-buahan yang segar. Suga menarik satu kursi dan mempersilakan Su Min untuk duduk.

"Gumawo"

Suga tersenyum dan duduk berseberangan dengan Su Min. Mereka memulai makan pagi mereka yang sempat tertunda tadi pagi, karena Su Min dan Suga terbiasa makan pagi di sekolahnya yang juga menyiapkan makan pagi sebelum pelajaran di mulai. Lee menghampiri dan menuangkan minum di gelas kristal milik Suga.

"Sudah ku bilang seharusnya kau beristirahat Lee. Ingatlah umur mu kakek tua". Lee menghiraukan ocehan tuan muda kesayangannya itu dan berjalan menuangkan ke gelas kristal milik Su Min.

"Gumawo ahjussi Lee". Ucap Su Min canggung.

"Panggil saja saya Lee". Membungkukkan lagi tubuhnya ke Su Min dan Suga lalu meninggalkan mereka berdua. Melihat Suga sudah melahap makanannya Su Min mulai ikut melahap makanan yang sudah di sediahkan. Su Min menyicip satu daging bulgogi, rasanya benar-benar lezat bagaikan masakan hotel berbintang. Padahal Su Min sering memasak makanan ini tetapi kenapa ini sangat berbeda. Su Min ikut melahap semua makan yang di meja makan. Suga tersenyum melihat Su Min yang lahap memakan semua makanan.

"Yak dapatkah kau makan perlahan"

"Ne". ketuk Su Min dengan wajah jengkel. Suga menyimpan senyumnya saat melihat wajah jengkel Su Min. Selang beberapa menit Su Min dan Suga menyelesaikan makanan mereka. Suga berjalan menatap punggung Su Min yang berjalan di depannya yang tertutupu t-shirt biru muda yang kebesaran untuk tubuh munggil Su Min.

"Sumin-ah, mau aku beritahu suatu rahasia?"

"Aniya"

"haisss..". Suga mengalungkan lengannya ke leher Su Min.

"Yakk oppa, lepaskan pabo". Su Min memukuli kepala Suga dengan telapak tangannya.

"Beraninya kau mengejekku pabo?"

"Oppa lepaskah. Uhuk.. Uhuk..". Suga melepaskan lengannya dari leher Su Min. "Kau ingin membunuhku eoh?"

"Kau sungguh berlebihan Sumin-ah, aku tidak setega itu, lagi pula jika aku ingin membunuhmu aku tidak akan membiarkan kau merasakan sakit sedikitpun. Kajja"

"Shireo", Su Min mejulurkan lidahnya keluar dari mulutnya dan berjalan menuju ruang tangan Suga mendarat di wajah Su Min dan menariknya sampai belakang kepalanya menyentuh dada bidang Suga. Su Min mendorong kepala Suga. Mereka berjalan menaiki tangga ke lantai 2 dengan canda tawa mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Langkah mereka terhenti di sebuah lorong buntu, Su Min memperhatikan Suga yang menekan nomor pada lock digital seperti yang terpasang pada pintu masuk rumah pada umumnya.

'Welcome'

Itulah yang tertulis pada layar kecil alat itu. Buusshh… Bunyi mensin, keluarlah anak tangga dari langit-langit rumah itu. Su Min terkejut melihatnya, inikah yang dimaksud rahasia menurut Suga, ia memiliki ruangan yang sama seperti ruang tidurnya di rumah Su Min. Hanya saja tangganya sudah memakai teknologi yang canggih sedangkan Su Min membuka pintunya menggunakan tali yang terlihat seperti alat menyalahkan lampu pada jaman dahulu.

Su Min masuk ke ruangan yang terlihat seperti rumah pada pohon, lantai dan dindingnya terbuat dari kayu,bukan kayu sungguhan. Atap ruangan ini adalah kaca yang besar. Dari dalam kita dapat melihat rintikan hujan dan awan yang gelap sekaligus kilat yang menyambar. Su Min tersentak kaget melihat cahaya kilat, tapi anehnya dia tidak mendengar gemuruh hujan dan petir.

"Kau takut? Apa sebaiknya aku tutup saja eoh?"

"Oh tidak perlu, aku suka melihatnya". Su Min tersenyum senang dan menatap lagi langit yang ada di atas kepalanya, Su Min merasa ia tubuhnya di hujani tetapi air hujan itu tidak dapan menyentuh tubuhnya. Suga membaringkan tubuhnya di kasur lantai miliknya.

"Kau tidak pegal melihat ke atas terus menerus seperti itu eoh, berbaring lah"

Su Min melihat Suga yang sudah berbaring menatap langit. Su Min tersenyum dan ikut membaringkan tubuhnya di sisi Suga. Suga memiringkan tubuhnya menghadap Su Min.

"Kau suka?"

"Ne". Su Min menengokkan kepalanya ke arah Suga, kedua mata mereka saling menatap dalam, saling mengaggumi satu sama lain. Entah setan apa yang menggerakkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Su Min. Dalam sekejap Suga mencium bibir merah muda Su Min.

"Sumin-ah aku berjanji melakukannya perlahan, percayalah pada ku"

"Bagaimana dengan Hayoung?". Tanya Su Min mengerti dengan apa yang di maksud Suga. Tanpa menjawab Suga melumat kembali bibir Su Min. menjadikan lengan kirinya bantalan untuk kepala Su Min. Su Min membalas lumatannya dengan canggung. Ini pertama kalinya untuk Su Min. Suga menggigit bibir bawah Su Min, lalu berjalan ke pipi kiri Su Min mengecupnya dan berpindah ke bawah telinga Su Min, mengecup inci demi inci leher Su Min. Tangan kanan Suga membelai lembut rambut hitam, kemudian pipinya dan terus turun kedada Su Min bersamaan dengan wajahnya. Suga mencium dada Su Min dengan satu tangannya yang meremas lembut dada kirinya. Suga mengangkat kembali kepalanya agar sejajar dengan wajah Su Min, melihat mata Su Min yang masih terpejam menikmati pelakuan lembut Suga, Suga menglumat lagi bibir Su Min, di tariknya tangan kiri yang ia fungsikan sebagai bantal untuk kepala Su Min, kini kedua tangannya bebas meremas kedua dada Su Min. Kedua tangannnya menaikan t-shirt yang di pakai Su min sampai telihat dua bongkah daging putih yang masih tertutup bra merah muda dengan renda hitam yang menghiasinya. Suga mencium dan mengeluarkan isi bra merah muda itu.

Lidah Suga menari-nari di nipple Su Min, tangan kanannya memilin lembut nipple kiri Su Min dengan sesekali meremasnya. Suga memasukan payudara Su Min ke dalam mulutnya, menghisapnya, menggigit kecil nipple Su Min.

"Aghh..". Desah Su Min yang masih terpejam dengan tangannya meremas rambut coklat Suga.

Tangan kanan Suga menghusap paha luar Su Min yang semakin lama husapannya ke paha dalam dan memijat lembut orgam intim Su Min yang masih tertutup celana pendek ketat yang di pakai Su Min. "Mmh..". Su Min merapatkan kedua kakinya, menjepit tangan Suga yang berada di antara kedua kakinya. Suga menarik tangannya dan menurunkan celana Su Min.

"Opp..". Suga melumat kedua bibir Su Min, mata sayup Su Min menatap wajah tampan Suga yang telihat semakin menuntut. Dalam keadaan seperti ini entah mengapa Su Min juga tidak dapat menahan Suga untuk tidak melakukannya, jauh di lubuh hati Su Min ia benar-benar takut. Ini pertama kalinya untuk Su Min dan seperti yang di katakan orang, jika ini pertama kalinya melakukan itu akan terasa sangat sakit dan mengeluarkan darah. Su Min semakin ketakutan mengingat semua itu.

Setelah berhasil membuka celana Su Min, Suga juga membuka semua celananyadan berlutut di antara kedua kaki Su Min, Tubuh Suga mebebani tubuh Su Min.

"Oppa aku takut"

"Sumin-ah percaya padaku, aku tidak akan membiarkan mu merasakan sakit, aku akan melakukannya perlahan, aku mohon percaya pada ku". Suga menggenggam satu tangan Su Min sedangkan tangannya yang lain membimbing juniornya ke lubang intim Su Min. Kepala junior Suga mulai menerobos masuk secara perlahan.

"Ah.. Sakit oppa..". Su Min mencengkram kasur lantai yang ada di bawahnya, Suga mempererat genggaman tangannya dan terus memasukan juniornya di lubang semping milik Su Min. Benar-benar sempit Suga terus berusaha mendorong pinggulnya perlahan. Air mata Su Min mulai terjatuh, menahan rasa sakit pada vaginanya. Suga menyelipkan kedua tangannya di tubuh Su Min, memeluknya erat, mencium bibir, leher sampai dadanya, menghisap nipple Su Min, tangannya menghusap, memijat bagian organ intim Su Min. Setengah junior Suga yang masuk dalam vagina, berhasil merobek salaput darah Su Min. Suga memasukan semua batang kejantanannya itu.

"Aaarggg…". Su Min memukul bahu Suga. "Sakit… Sudah oppa..". Su Min akhirnya menangis kesakitan merasakan benda asing menerobos masuk sampai ke perutnya.

"Sebentar lagi sakitnya akan hilang nde". Ucap Suga lembut menghusap rambut Su Min, mencium kening Su Min. "Sumin-ah, kau boleh mencakar bahkan menjambak rambutku jika kau merasakan sakit, ugh". Suga mengeluarkan juniornya perlahan dan memasukkannya lagi. Terasa sekali juniornya di pijat oleh dinding vagina Su Min yang sempit ini.

"Nggghh..". Su Min memeluk dan mencengkram pakaian Suga, dan menyembunyikan wajahnya di bahu Suga, Suga memeluk tubuh Su Min menciumi, menjilat, menggigit kecil leher Su Min. Junior Suga terus memompa vagina Su Min yang sudah beradaptasi dengan junior Suga. "Ahh.. ahh…". Desah Su Min mengikuti irama hentakan pinggul Suga. Suga melumat bibir Su Min. "Mmmh..".Su Min juga membalas lumatan Suga. Kedua tangan Suga meremas dada Su Min yang bergucang seperti terkena gempa. Gerakan Suga semakin cepat, membuat Su Min merasakan sampai ke puncaknya.

"Oppah, aku ingin…"

"Keluarkan saja Su Min". Junior Suga terus menghantam vagina Su Min dengan gerakan yang semakin cepat.

"Aaaaarrggghh…". Desah pajang Su Min dengan keluarnya cairan vaginanya. Tak lama Suga mengeluarkan semua isi spermanya di dalam vagina Su Min. Terasa vagina Sumin berkedut memijat junior Suga yang hangat. Suga mencium lagi kening, hidung, dan bibir Su Min yang tengah tertidur lelah setelah mengalami pengalaman pertamanya, bercinta dengan orang yang ia cintai. Suga mengeluarkan Juniornya dari sarang impiannya, melihat darah yang bercampur dengan spermanya keluar dari vagina Su Min, terukir senyum yang bahagia di bibirnya. Akhirnya Suga tahu bahwa ia lah yang petama untuk Su Min, begitu juga Suga. Ini adalah yang pertama untuk Suga.

Suga mengangkat tubuh Su Min memindahkannya ke single bed yang biasa di gunakan Suga tidur menyediri. Suga mengambil air hangat dan handuk kecil. Di bersihkannya semua bagian intim dan paha Su Min. melihat vagina Su Min, Suga menelan salivanya, menahar birahinya untuk menyetubuhi Su Min yang sedang kepayahan. Suga memejamkan matanya, menutup kedua kaki Su Min dan ikut berbaring di sisi Su Min dan memeluknya.

.

.

.

Su Min terbangun menemukan Suga yang masih tertidur dan memeluk dirinya. Su Min mencoba membangunkan tubuhnya tetapi terasa sakit sekali bagian perut sampai pahanya.

"Oppa..". Su Min mengguncang-guncang tubuh Suga.

"Emmm…". Suga mengeratkan pelukannya.

"Oppa bangun, hari sudah semakin sore aku harus pulang"

Suga mengankat kepalanya sedikit. "Andwae, kau harus tetap disini setidaknya sampai esok pagi. Ara?". Suga kembali menidurkan kepalanya, mencium bahu Su Min.

.

.

.

TBC lagi. Ini bukan TBC penyakit loh _ gumawo sudah menyempatkan diri untuk membaca dan mereview.. ^-^

Kecup basah, lepek, banjir dari bebe :*