Love Competition
.
.
.
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, OOC, typo, language, etc.
Rate : T – M
DLDR/R&R
.
.
.
Chapter 2
"Love Declaration"
.
.
.
Happy reading
.
.
.
ooOOOoo
.
.
.
"P-perkenalkan, a-aku Hyuuga Hinata, salam kenal!" terang Hinata dengan senyum termanisnya, untuk kesan pertama.
Ia merutuki kegugupannya, karena membuat ia terbata-bata dalam berbicara. Tapi, mau bagaimana lagi, sudah menjadi kebiasaan.
Semua orang menatap Hinata, menatap seluruhnya ke arah ia berdiri, seakan mengintimidasi dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Membuat Hinata semakin memerah saja. Malu. Apa ada yang salah dengannya? Apa ia terlalu kuno untuk semua jenis makhluk yang ekstra modren?
"Hyuuga Hinata" desis Sasuke.
DEG...
Sasuke menatap Hinata penuh. Ia tidak pernah melihat perempuan secantik, semanis dan sesempurna Hinata. Paras menawan dan menarik serta satu alasan lagi yang Sasuke tak tahu jawabannya. Intinya, ia menyukai wanita ini.
Entah mengapa dan ada apa, saat menyebutkan nama gadis baru yang tengah berdiri didepannya, jantung Sasuke seakan mau keluar, aliran darah juga terasa tak teratur. Apa ini namanya cinta pandangan pertama? Entahlah, Sasuke baru merasakannya hari ini, detik ini dan saat ini.
Untuk kali pertama, Sasuke terkapar oleh samudra mata keperakan yang tak pernah ia temui sebelumnya, ini sangat tiba-tiba. Siapa gadis ini sebenarnya? Apa ia diturunkan oleh Tuhan untuk Sasuke semata? Katakan iya.
"owh, shit!" umpat Sasuke. Apa yang terjadi dengan dirinya_dengan jantungnya. Tangan kekar itu menjulur untuk menenangkan organ dalam tubuh yang mendadak berdenyut keras, hingga mengagetkan seluruh peredaran darah. Seakan denyut tersebut adalah benda penghantam untuk mengatur ulang jalannya eritrosit dan oksigen.
.
"Aku akan mendapatkannya, Teme!"
.
Terdengar di gendang telinga Sasuke teman sebelahnya, Naruto membisikkan kalimat itu. Kata yang jarang lelaki jabrik itu katakan, karena tak pernah Naruto berniat mendapatkan seorang wanita, yang ada malah mereka yang tergila-gila dengan senyum penerus Namikaze Ltd. ini. Entah senyum serigai maupun kekonyolan karena tingkah lakunya.
What?
Apa yang Naruto katakan?
Mendapatkan Hinata?
Tunggu?
Bagaimana bila sang wanita yang masih berdiri didepannya ini bersama Naruto? Bagaimana bila Naruto memeluknya? Bagaimana bila wanita cantik itu tersenyum bahagia karena bertemu dengan Naruto? Bagaimana bila dan bagaimana bila dan, dan, dan?
Berbagai pikiran-pikiran negatif tentang apa yang akan terjadi diantara mereka_Naruto dan Hinata berkecamuk dalam otak jenius Sasuke. Sasuke tahu kepandaian Naruto dalam menangkap wanita, karena itu ia tidak rela bila Hinata akan jatuh ke pelukan teman sejak kecilnya ini.
Bagaimanapun caranya, Sasuke harus mendapatkan Hinata, ia tak akan pernah memberikan Hinata pada kawannya ini. Sasuke takut Hinata akan dicampakkan seperti yang dilakukan Naruto pada kebanyakan wanita sebelumnya. Sayang sekali, Hinata terlalu berharga.
Sasuke tersenyum simpul.
"Jangan terlalu berharap, Dobe. Bagaimana bila aku menginginkannya?" batin Sasuke.
Tiba-tiba muncul sebuah ide dalam benaknya.
"Hn, boleh tanya?" Sasuke mengajukan pertanyaan pada gadis yang masih berdiri tepat didepannya.
"Eh..." seluruh warga yang terkena adegan langsung ber-eh ria.
Kalimat pembuka Sasuke mengagetkan Hinata, karena tingkah pria raven itu, seluruh manusia yang berada dikelas terkejut sangat. Apa ada yang spesial?
Bagi teman-teman Sasuke, tidak biasanya kawan tampannya ini memulai pembicaraan, apalagi dengan wanita. Pria dingin seribu bahasa nan penuh pesona itu memperhatikan perempuan baru dan tak dikenal, bukan, baru dikenal. Sepertinya dunia akan berputar terbalik. Dan secara bersamaan, mereka_teman Sasuke menyipitkan mata dan mengalihkan muka dari sosok Hinata ke si kawan yang biasa dipanggil Teme ini.
1 menit kemudian.
Tiba-tiba Shikamaru mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Ia mengarahkan sebuah lensa kamera berukuran 16 megapixel kearah Sasuke.
"Klik!"
Terdengar bunyi nyaring keluar dari ponsel anak tunggal kepala Kepolisian Konoha tersebut.
"Kau merekamnya?" Shino angkat bicara setelah telinganya menangkap sebuah suara.
"Moment yang perlu diabadikan" jawab Shikamaru yang tau arah pembicaraannya.
.
Hinata yang tak mau mengulur waktu dan sudah tak sabar ingin segera duduk serta ingin moment perkenalan ini cepat selesai, akhirnya ia menjawab pertanyaan Sasuke. Tatapan pria itu memang seakan menyuruhnya untuk cepat menjawab apa yang ditanyakan tadi. Dasar. Hinata mulai berpikir, pantas saja semua orang kaget dengan ucapannya tadi, mungkin ia memang orang yang jarang bicara serta setiap ia bicara pasti yang mendengar akan diam seribu bahasa.
"Y-ya?" jawab Hinata.
"Hn, berapa umurmu?"
DOENGGG!
"..."
Pertanyaan macam apa itu?
"21 tahun" jawab Hinata tegas.
Dalam pikiran Hinata, untuk apa pria ini menanyakan hal itu? Sungguh pria aneh. Ya, kan?
Pertanyaan biasa, batin semuanya.
.
"Hn, kau sudah punya pacar?"
.
Lanjut Sasuke dengan serigai diwajahnya.
"APA?" sontak seluruh kelas heboh dengan pertanyaan Sasuke.
Nah, ini yang luar biasa.
Tunggu dulu?
What the? Itu masalah pribadi kan? Sejak kapan urusan pribadi boleh ditanyakan?
Sebenarnya tidak salah, siapa yang tak mengijinkan mengeluarkan pertanyaan? Undang-undang saja mengatur boleh berpendapat. Jadi, bukan Sasuke yang salah.
Lalu, sebenarnya apa mau si pria onyxs ini menanyakan hal pribadi pada orang yang baru dikenal dan didepan banyak orang? Hanya Sasuke yang tahu.
Wajah Hinata kembali merona merah. Namun, jika melihat serigai Sasuke, sepertinya Sasuke menyukai tingkahnya. Yang benar saja, ini diluar pribadi Sasuke.
Sebentar….Wow, Sasuke bisa membuat Hinata merona, hal yang paling konyol yang pernah ia lakukan, tapi yang paling dibanggakan dalam rekor dunia, dalam catatan jurnal Sasuke. Apa-apaan itu?
Dan semua orang yang ada didalam kelas hanya bisa menampakkan wajah tak percaya mereka.
"Teme, kau tahu apa yang kau ucapkan?" Naruto ikut protes.
"Hn?" pertanyaan yang susah dijawab untuk suatu keadaan yang memang dia tidak salah kan?
Kakashi kemudian menengahi suasana tak pantas itu, setelah sebelumnya ia juga terkena virus yang namanya terpukau dari pesona Hyuuga ini, dan akhirnya lamunan itu buyar seketika setelah Sasuke membuat kegaduhan_bukan Sasuke yang sebenarnya harus disalahkan, maksudnya.
"Maaf, jika kau ingin mengenalnya lebih dalam, lebih baik diluar jam pelajaran nanti." titah Kakashi, 'aku juga', tambahnya dalam hati. Dasar.
"Hn" gumaman Sasuke menandakan ia menerima perintah sensei aneh ini. Mata onyxsnya melirik Hinata yang masih berdiri, memberikan sedikit senyum dan tatapan menghanyutkan untuk Hinata. Sedangkan Hinata semakin sibuk dengan rona merah yang makin bertambah di pipinya.
Sasuke menyukai kejahilannya membuat wanita itu menampilkan warna merah di wajah manis itu. Sepertinya ia akan mengulangi kesenangannya ini lagi. Ya, Sasuke hanya meyakinkan keadaan bahwa dirinyalah penguasa sebenarnya.
"Duduklah, Hinata!" perintah Tsunade.
"Baiklah, aku harus kembali keruanganku" lanjut Tsunade kemudian melangkahkan kaki jenjangnya keluar kelas.
Disusul dengan Hinata yang berjalan diantara deretan 2 baris kursi berjajar rapi, memilah tempat duduk yang akan ia tempati. Hinata memilih tempat duduk disamping murid manis bercepol 2. Sepertinya keturunan Cina, pikir Hinata.
"Hai!" sapa gadis berambut coklat yang dicepol itu.
"H-hai!" balas Hinata.
"Aku Tenten" katanya sambil menjulurkan tangan disertai seulas senyum bersahabat dibibirnya. Orang yang ramah.
"H-Hinata, senang berkenalan denganmu" balas Hinata dengan senyum manisnya pula.
"Kau cantik sekali" puji Tenten
Blush
Wajah Hinata kembali memerah mendengar pujian Tenten. Walau Hinata sering mendapat pujian tersebut berulang kali, namun, rasa malu masih tetap menggantung di dirinya. Entah dari mulut perempuan atau laki-laki, baginya sama saja. Kadang Nii-san-nya-pun ikut menggodanya, Neji. Tapi bagi Hinata, pujian Neji adalah yang paling benar, karena Neji adalah kakak yang sangat menyayanginya dan selalu ada saat suka dan duka.
"T-terima kasih" jawab Hinata.
Tanpa disadari Hinata, seseorang memperhatikannya dengan intens, memperhatikan segala gerak Hinata dari awal perkenalan sampai dengan sekarang. Uchiha Sasuke.
Katakan sekali lagi, apa ini cinta?
"Hn, selamat Hyuuga Hinata, kau memenangkan hatiku" batin Sasuke.
Cepatnya.
Ya, Sasuke menyadari bahwa gadis yang baru dikenalnya saat ini adalah pemegang kunci jantungnya, pemilik hatinya, yang Sasuke sendiri tak tahu bagaimana bisa. Hinata adalah wanita pertama pengisi relung jiwanya, Sasuke tak pernah merasakan cinta pada wanita sebelumnya, karena bagi Sasuke semua wanita yang mendekatinya adalah ayam berbulu domba. Mengagumi Sasuke dari luar, melihat kekayaannya dan paras tampannya, sehingga jika keadaan berbalik, Sasuke yang miskin dan buruk rupa, mungkin mereka tak akan pernah memuja-muja Sasuke.
Cinta pandangan pertama-kah?
Jadi begini rasanya?
Untuk Hinata, Sasuke tak habis pikir, setiap wanita yang melihatnya mesti, pasti dan wajib akan terus memandang Sasuke, tapi gadis Hyuuga itu? Saat perkenalan tadi, Hinata tak pernah melihat Sasuke, Hinata selalu melihat ke arah sensei atau ke arah depan yang tak terfokus dan atau menundukkan kepala. Ketika Sasuke mengajukan pertanyaan tadi, sebenarnya Sasuke hanya ingin Hinata melihat dirinya. Menurut Sasuke, Hinata tidak menyadari pria tampan di depan mata amethyst itu, tapi malah sebaliknya-perkiraan Sasuke salah kaprah, Hinata semakin menunduk dan tak mau melihatnya, bukannya senang dan berbinar-binar mendapat perhatian khusus dari seorang Uchiha Sasuke malah malu. Aneh, pikir Sasuke.
Tanpa disadari Sasuke pula, beberapa orang juga memperhatikannya karena sempat Sasuke melayangkan kata-kata manis untuk Hinata saat perkenalan tadi.
"Kau tidak akan kubiarkan jatuh cinta pada Hyuuga, Sasuke!" desis Sakura.
Dan pelajaranpun dimulai.
.
.
Jam Istirahat.
Hinata dan Tenten berjalan diantara para pengunjung kantin. Sebenarnya Hinata tak suka dengan keadaan ini, bukan masalah mengenai ia tak lapar, bahkan ia sangat lapar, mengingat karena ia lupa membawa bekal untuk dibawa saat pagi tadi, ia terbangun kesiangan karena tidur terlalu malam, kebiasaan nonton dorama yang ia sukai, dan juga karena kelelahan ia baru saja pindah ke Konoha. Hinata tak menyukai keadaan ini adalah karena tatapan-tatapan yang beraneka ragam ditunjukkan kepadanya.
Seluruh mata lelaki yang berada di area itu, menatap dirinya seolah ia adalah mangsa untuk serigala-serigala yang lapar, sedangkan para wanita disana memberikan tatapan tajam dan menusuk disertai gumaman tak jelas yang di tangkap gendang telinga Hinata. Para mahasiswi berbagai jurusan tersebut seolah menyatakan mereka tak suka dengan kehadirannya.
Ini dikarenakan ulah seorang Sasuke yang memberikan setetes perhatian yang tak pernah para fans-nya berikan untuk mereka, bahkan salah satu dari mereka-pun tak ada. Dan berita itupun dengan secepat roda berputar 100 km per jam tersebar secara mendadak dan menjadi perbincangan seluruh warga dikampus internasional tersebut.
Tenten yang peka dengan keadaan Hinata, walau baru beberapa jam tadi mereka berteman, ia dapat memahami kadaan teman barunya ini. Berusaha memecah kesenduan dari wajah Hinata, Tenten memecah keheningan diantara mereka.
"Hinata, kau ingin makan apa?"
"Eh, a-ano, aku, a-aku i-ikut denganmu saja" jawab Hinata.
"Um, baiklah!" kata Tenten seraya menarik lengan Hinata menuju sebuah stand makanan.
Tenten terlihat sibuk memilih-milih makanan yang akan dipesannya, terlihat dari bolamata coklatnya yang memperhatikan beberapa menu yang ada. Sedangkan Hinata hanya terdiam dan memperhatikan tingkah teman barunya itu dengan jarak beberapa langkah darinya.
Namun, disaat Hinata tengah senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Tenten yang terlihat memperhitungkan kalori atau karbohidrat dan sebangsanya, tanpa disadari seseorang dengan sengaja menabrak Hinata dari samping kanan.
"BRUK!"
PRANG!
Terdengar sebuah gelas pecah dilantai.
"Auw...!" rintih Hinata saat merasakan panas di paha sebelah kanannya. Itu adalah karena tumpahan sup panas dari orang yang menabraknya.
"Eh, maaf aku tak sengaja" kata orang itu dengan lagak santai seolah tak ada dosa dihidupnya. Hinata hanya mengangguk ringan tanpa melihat orang itu, ia hanya terpaku pada ujung dress yang basah dan kulit paha yang terasa panas. Sebenarnya ia ingin marah, mengatakan apa orang itu tak punya mata? Namun, nurani Hinata yang selembut satin mengalahkan emosi yang menggebu, lagipula ini adalah hari pertama ia masuk kuliah di Universitas Konoha kan, bersikap baiklah untuk berterima kasih pada keberuntungan yang mengantarnya ke tempat pembelajaran terbesar sedunia itu.
Saat Hinata menengok ke arah orang tersebut, ternyata wanita yang menabraknya itu telah berbalik menjauhinya, dan terdengar gelak tawa tengah tertuju padanya.
Apanya yang lucu?
"Kau tak apa-apa, Hinata?" tanya Tenten tiba-tiba setelah mendengar rintihan Hinata.
"HEI, KAU...!" teriak Tenten, lagi.
Namun, ucapan Tenten untuk memanggil wanita kurang kerjaan disana berhenti karena tangan Hinata menggenggam jemari Tenten, menyuruhnya agar tak terlalu memperbesar masalah ini.
"A-aku tak apa, Te-Tenten-san" kata Hinata meyakinkan teman barunya ini.
Tenten memandang wajah cantik Hinata, tersirat sebuah ketulusan untuk memaafkan perbuatan wanita yang sengaja membuat perkara tadi. Andai dirinya dipihak Hinata, ia akan segera mengejar orang itu, dan menghajarnya habis-habisan dengan kemampuan karate yang ia miliki. Tapi Hinata bukan Tenten.
"Kau tak apa, Hinata?" suara khas laki-laki tiba-tiba terdengar di telinga kedua perempuan itu. Terasa berat didengar, namun menyimpan nada kekhawatiran disana.
"I-iya" jawab Hinata dengan senyum yang dipaksakan karena menahan sakit, tangan kanannya masih mengelus-elus pahanya yang nyeri. Entah siapa orang itu, Hinata tak mengenalnya, namun yang ia tahu, laki-laki ini adalah teman sekelasnya.
"Pe-permisi, a-aku mau ke-ke kamar mandi" kata Hinata seraya berlari kecil menjauhi kedua temannnya yang masih terpaku menatap dirinya khawatir.
Tenten dan pemuda yang baru saja datang hanya memandang kepergian Hinata yang semakin menjauh. Akhirnya sang pria memulai pembicaraan lagi.
"Kau tahu siapa yang melakukan ini padanya?" tanya pria itu.
"Sakura" jawab Tenten sekenanya, ia benci dengan kelakuan teman berambut pink yang sangat terobsesi dengan Sasuke itu, dan semua orang sudah tahu.
"Hm, sepertinya kau harus mengikuti Hinata, aku takut terjadi sesuatu yang aneh-aneh dengannya lagi" kata pria itu seraya berjalan menjauhi Tenten.
Sedangkan Tenten hanya memandangi kepergian pria tersebut yang semakin jauh, menerjang kerumunan orang.
"Apa lagi yang akan dilakukan Sakura pada Hinata? Aku harus menemuinya?" batin pria itu seraya berjalan menjauhi Tenten.
Kembali ke Tenten yang masih melongo dengan perhatian pria itu pada sahabat barunya_Hinata. Namun, setelah menyadari apa yang tadi pemuda itu katakan, Tenten segera berlari untuk memastikan tak terjadi apa-apa pada Hinata.
.
.
Hinata buru-buru memasuki kamar toilet yang kosong, cepat-cepat ia menutup pintu kamar mandinya, namun sengaja tak mengunci karena yakin ia hanya sebentar saja didalam sana. Hinata membasuh ujung pahanya yang panas dengan alir mengalir, serta mencuci bagian ujung dress-nya yang kotor.
Namun, kepanikannya kembali terjadi.
KLIK…!
Sebuah suara pintu yang dikunci mengagetkan Hinata. Ia menoleh ke daun pintu kamar mandi itu, cepat-cepat ia gapai engsel pintu dan mencoba untuk membuka. Namun sayang, pintunya memang telah dikunci dari luar.
"To-tolong! To-tolong buka pintunya, ku-mohon. Si-siapa saja disana! A-aku mohon, bukakan pintunya, hiks..." teriak Hinata dengan sesenggukan karena berusaha menahan tangis. Tangannya masih tetap setia memegang ganggang pintu dan berusaha untuk membukanya, walau ia tahu usahanya tetap sia-sia.
"K-kumohon, bukakan pintunya, hiks...hiks..." lirih Hinata hingga suaranya hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri. Ia sudah tak dapat menahan tangis, semua air mata ia keluarkan untuk pelampiasan kesedihannya.
.
Terdengar cekikikan dari para mahasiswa yang ada didalam toilet, mereka ikut menertawakan nasib Hinata yang terkurung didalam kamar mandi itu.
"Jangan pernah ada yang membuka pintu itu" kata wanita berambut buble gummy, jemari lentiknya sambil menunjuk salah satu pintu yang bertuliskan "RUSAK". Sengaja wanita itu lakukan agar tak ada yang menggunakannya, ataupun jika mendengar tangis Hinata mereka akan mengira bahwa suara itu adalah suara hantu.
BRAK!
Pintu masuk lorong kamar mandi dibuka paksa oleh seorang wanita kecil namun berotot_Tenten. Terdengar nafas yang memburu wanita cantik itu hempaskan, karena saking paniknya pada kawannya_Hinata, ia berlari untuk cepat sampai di ruangan bersekat-sekat ini.
"Hah, sepertinya pengecualian untuk wanita yang baru datang ini" tandas Sakura lagi.
Sakura berjalan diantara selipan beberapa orang, sampai tepat dihadapan Tenten yang masih ngos-ngosan, ia menatap sinis kawan sekelasnya ini.
"Bilang pada temanmu itu, Sasuke tak akan menyukainya, jadi jangan pernah mencuri keadaan dan perhatian Sasuke, mengerti!" kata Sakura seraya memberikan senyum sinisnya, kemudian ia melenggang pergi dengan sengaja menabrak bahu kiri Tenten.
Tenten hanya menggeram marah, ia tak mau ambil pusing untuk menjadi perhatian dalam suasana toilet yang terlalu ramai jika dibilang. Tenten hanya mendengus kesal, beberapa kali pula ia harus mengatur pernafasan rongga dada. Hingga tiba-tiba suara seseorang yang menangis terdengar sama-samar ditelinganya, cepat ia menyadari bahwa itu adalah Hinata.
Tenten berjalan menerjang beberapa orang untuk mencari tahu asal suara itu berada. Semakin dekat, suara itu makin jelas. Terdengar lebih nyaring dalam balik pintu yang bertuliskan "RUSAK" di daun pintu yang berwarna putih tulang itu.
"Hinata kau di dalam?" teriak Tenten.
Gadis yang berada di balik pintu segera menyadari bahwa itu adalah suara teman barunya_Tenten. Sedikit perasaan lega menghampiri relung batin yang sedih.
"Te-Tenten-san? K-kau-kah itu? Hiks…." jawab Hinata sekaligus pertanyaan berbalik.
"Iya, kau tak apa, Hinata?" jawab Tenten.
Sedikit perasaan lega tergantikan dengan perasaan lega sepenuhnya. Tenten datang untuk menolongnya.
"Te-Tenten-san, to-tolong! To-tolong bukakan pintu ini!" teriak Hinata seraya memutar-mutar knop pintu yang tak berdosa.
"Mundur, Hinata! Aku akan mendobraknya!" suara lantang Tenten menyuruh Hinata mundur, membuat sang gadis Hyuuga itu menuruti kemauan temannya. Hinata menyandarkan punggungnya di tepi tembok sebelah kanan.
BRUAKK…!
Akhirnya terbukalah pintu yang telah mengunci Hinata tadi dengan sangat mengenaskan. Hinata memandang Tenten dengan sangat tidak percayanya. Wanita lucu ini mempunyai kemampuan bela diri yang luar biasa.
"Kau baik-baik saja, Hinata? Ayo keluar! Biar nanti aku yang jelaskan pada Yamato-sensei tentang kerusakan ini" kata Tenten setelah menemukan Hinata.
"Te-terima kasih, Te-Tenten-san" ucap Hinata seraya berhambur keluar dan sebentar memeluk Tenten karena telah menolongnya.
.
.
Love Competition
.
.
Disebuah ruangan megah bergaya modern, duduk seorang direktur ternama atas perusahan yang mendunia sembari membolak-balik beberapa lembaran kertas putih berderet beberapa tulisan. Wajah tampan yang terdapat 2 garis di antara hidung dan mata menandakan kedewasaannya. Pria berbadan atletis dengan segala kesempurnaannya kemudian berdiri dengan membaca sebuah map berwarna biru tua, dan tubuhnya ia sandarkan pada pinggiran meja minimalis tempat ia berkutik dengan berbagai data.
Rambut hitam panjang melambai-lambai halus mengikuti guyuran udara AC. Untuk kesekian kali si pria membuka map biru berisikan pemberitahuan itu. Entah apa isinya itu, yang pasti lembaran tersebut telah menyita seluruh otak dan matanya untuk focus kesana. Sang pria terus membuka-buka lembar per lembar data yang ada. Sedikit_sangat sedikit sang lelaki bermata onyxs ini mengangkat sudut bibirnya, menyunggingkan senyum tak tertawarkan.
"Hanya perusahaan kecil" gumam sang lelaki itu.
Perusahaan kecil katanya? Kalau di map itu hanya perusahaan kecil, seberapa besar-kah perusahaan yang ia pimpin?
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka kasar oleh seseorang. Dasar tidak tahu sopan-santun, pikir pria itu.
Seorang wanita berambut biru dengan hiasan bunga mawar sebagai mahkota kepalanya, membuka paksa pintu yang lebarnya melebihi 20 orang berjajar dengan sedikit kasar. Wanita itu sepertinya sedang menahan amarah, diperkuat dengan peluh bercucuran di dahi putihnya. Mungkin ia sedang tergesa-gesa.
"Apa alasanmu mengakhiri hubungan kita, Itachi?" teriak sang wanita, kemudian berjalan mendekati pria pemilik perusahaan itu yang diketahui bernama Itachi.
"Aku sudah tak menginginkanmu" jawabnya.
"Kenapa?" suaranya menurun karena terlalu lelah menghadapi hari ini. Ia diputuskan oleh Itachi.
Itachi bangkit dari senderan meja kebesarannya, melenggang, melangkahkan kaki menuju ke jendela kaca yang besar untuk melihat pemandangan kota Konoha yang ramai dan padat dari ketinggian 170 lantai.
"Kau, wanita yang hanya menginginkan kekayaanku" kata Itachi datar.
TES
Setitik air mengalir diwajah wanita cantik itu.
"I-I-Itachi, te-tega sekali kau merendahkanku" katanya tak percaya dengan apa yang dikatakan direktur berumur 27 tahun dihadapannya.
"Semua wanita yang mendekati seorang Uchiha, pasti hanya untuk mendapat kucuran kemewahan, itu sudah rumus pasti, Konan"
Dan wanita yang bernama Konan tersebut sudah tak mampu lagi membendung air mata. Tumpahlah sudah genangan air murni dari matanya, hingga terlihat kantung hitam dibawah mata yang bengkak, menandakan bahwa wanita yang bernama Konan ini menahan tangis sedari tadi.
Konan nama wanita ini, sudah lama menjadi kekasih Itachi. Sekitar 2 tahun lalu, Itachi menyatakan cinta pada dirinya, selama itu pula perjalanan cinta terukir dengan sang sulung Uchiha. Segala bentuk senang dan sedih, marah dan bahagia telah menuliskan sejarah untuk mereka. Tapi disaat tak terjadi apa-apa, tiba-tiba Itachi mengatakan bahwa hubungan mereka harus diakhiri, apa maksudnya? Apa salah dirinya? Sungguh Konan tak mengerti.
"Jika sudah cukup untuk penjelasannya, kau boleh keluar dari ruanganku" perintah Itachi.
Namun, bukannya menuruti apa yang dibilang Itachi, Konan malah berhambur memeluk Itachi dari belakang.
BRUK
"Kenapa? Hiks...kau menyakitiku, Itachi. Aku, hiks...aku bukan wanita seperti itu, hiks...aku, hiks...aku sungguh mencintaimu, sungguh" pengakuan Konan dengan air mata yang mengalir deras.
Kedua tangan lelaki penerus Uchiha terseut meraih tangan Konan yang memeluk tubuhnya, berniat untuk melepaskan pelukan yang tak ia inginkan.
Konan semakin tak kuasa menahan tangisnya, Itachi tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Pergi dari ruanganku, sekarang" ucap Itachi kembali.
"Kau, hiks...jika kau cemburu karena aktingku dengan beberapa laki-laki di pekerjaanku, hiks...aku bisa memutuskan kontrak, hiks...aku akan melakukan apapun untukmu" kata Konan dengan menyeka air mata dipipinya, berusaha berpikir positif dengan sedikit memberikan senyum yang dipaksakan.
"Tak ada hubungannya denganmu, sekarang pergilah"
Kembali, wanita cantik ini meneteskan air matanya. Jika bukan karena cemburu, lalu apa?
Itachi benar, disaat ia berakting dengan beberapa lelaki, bahkan dengan berpelukan ataupun bercumbu, Itachi tak pernah cemburu padanya, bahkan menganggap hal tersebut sudah biasa ataupun saat ia bertanya apa tak ada rasa tidak suka pada adegan tersebut, dengan santai Itachi menjawab, itu demi ke-profesionalan. Sungguh menganggap tak terjadi apa-apa.
Dan disaat seperti ini, ia harus mengakui Itachi cemburu? Sepertinya salah besar.
"Pergi dari ruanganku segera, atau kupanggilkan security?" usir Itachi lagi.
Dan dengan segala ketidak-percayaannya, Konan keluar dari ruangan mewah itu dengan air mata yang terus mengalir deras melewati pipinya.
Setelah kepergian Konan, pria berambut panjang itu mengeluarkan sesuatu dalam sakunya.
Foto.
"Kau kembali, Hime"
.
.
.
.
To be Continue
Salam kenal!
Saya Author baru disini, iseng-iseng buat fanfic karena, yah memang saya suka baca fanfic, jadi mencoba bikin-bikin sendiri aja.
Awalnya karena terlalu menunggu lama berbagai fanfic yang ber-to be continue a.k.a bersambung…yah, akhirnya bikin sendiri. *curhat.
Terima kasih bagi yang telah membaca dan bahkan me-review fic gaje ini, saya berterima kasih dengan sebesar-besarnya *bungkuk-bungkuk, resmi banget. Dengan adanya masukan minna-san sekalian saya berusaha menjadi Author yang baik. *cieileh! Ngusap-ngusap rambut.
Yah, pokoknya minta bantuan aja, saran dan masukannya dari para reader dan senpai sekalian.
Bales repiu:
amu-b : emb….*berpikir mode…siapa yak? hihihi….baca aja yak, saya kan fans Kakashi, jadi suka ngasih kejutan. Bwhahahah….#ketawa gaje! Mungkin sampai disini sudah ada gambaran kan? Makasih reviewnya ^^
: o…o…bukan Sasuke yang diputusin Hinata, next chapter ada jawabnya *chapternya lagi dalam proyek pengerjaan. Mungkin ada feeling? Makasih reviewnya ^^
Hilda9Achillius9Fitra : #gubrag! *kibarkan bendera putih. Bukan Sasuke, Hilda-san….next chapter akan ada jawabnya. Ditunggu yak, jangan patah hati dulu….. makasih reviewnya ^^
Mint Convallaris : aaa..nih udah update^^. Awalnya bukan maksud bertele-tele, tapi aku pengen cari feel-nya, *gak tau tu kemana feelnya pergi….jadi , yaudah jadi kepanjangan. Hihihi…OK. Thanks masukannya. Nanti gak diulangi lagi dah #kayaknya… makasih reviewnya ^^
Liu : yak, ni dah lanjut… makasih reviewnya ^^
Syuchi Hyu : hwaaa…juga…*plak! Yak, salam kenal juga, namaku ada di inisial itu kok *kalau mau kenalan. Wow, dirimu keren juga, bisa menebak… makasih reviewnya ^^
SMAN1RHLOVMHPxUztad : yak, ni dah lanjut…. makasih reviewnya ^^
ailla-ansory : Hah, arigatou! ^^ yak ni dah lanjut. Diusahakan gak terlalu lelet kok, paling sebulan sekali. Hihihi… makasih reviewnya ^^
Guest (Anna) : Arigatou! Yak, ni dah dilanjutin kok. Saya fans Kakashi sih *sebenernya, cuman saya pair Sasu-Hina, gak tau tu ada magnet apaan? Sepertinya saya akan berubah fans…*Kakashi syok berat…. makasih reviewnya ^^
SweetMafia95 : Aa…ya, salam kenal juga! ^^ emb, *berpikir mode…gimana yak, cerita gak ya? Ntar dulu deh yak, ntar akan tahu sendiri…*Author pelit… makasih reviewnya ^^
Hinataholic : Arigatou! Ni udah update lagi… makasih reviewnya ^^
Hana : Arigatou gozaimas! ^^ Glekk! *kibarkan bendera putih_lagi…diusahakan sih secepat proyeknya rampung, bahkan sebelum tu asap abis….bwahahaha…*Author koplak… aku juga sasuhina lovers…makasih reviewnya ^^
hinatauchiha69 : Hn…*ngikutin Sasuke…ok, ok, ini udah update. Emb…yah, "salah satunya"…hihihi… makasih reviewnya ^^
Sasu'ai'hina : Mungkin Author akan mengabulkan permintaanmu. *wani piro?...Author kan baik hati *Gubrag! Pingsan semua. Emb, untuk lemonnya, sepertinya nanti agak soft-soft aja, maksudnya samar-samar, gak terlalu hard banget, abis aku gak tahu, tapi jangan sedih doeloe, Author kan perhatian *cieileh, diusahakan nanti aku bikin dech. Untuk soal T-M, bukan maksud ngegantungin *emang pacaran, soalnya untuk awal-awal ini emang sepertinya _diperjelas lagi sepertinya, di rate-T, cuman agak kesananya nanti ada ituehemitu, cuman lagi proses bikin chapter 3 dulu. Tunggu aja. OK. Makasih reviewnya ^^
Sebenernya, siapa sih yang diputusin Hinata?
Hehehe, silahkan diterka-terka sendiri…
Jaa…
Ketemu next chap lagi…
Arigatou gozaimas! ^0^
