Love Competition
.
.
.
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, OOC, typo, language, etc.
Rate : T – M
DLDR/R&R
.
.
.
Chapter 3
"The Competition Begin"
.
.
.
Happy reading
.
.
.
ooOOOoo
.
Hari-hari pertama masuk kuliah sang gadis indigo_Hinata Hyuuga lalui dengan berbagai alur drama. Perasaan tak suka dari para mahasiswi disana, dapat ia rasakan. Sebenarnya apa masalahnya, ia sendiri tak tahu. Bagi gadis cantik ini, ia hanyalah seorang gadis biasa yang sedang mengejar ilmu bisnis untuk meneruskan usaha ayahnya.
Tapi, sepertinya ia harus mengakui, bahwa setiap cita-cita itu selalu ada kendala untuk mencapainya, karena orang tak akan dibilang sukses jika tak ada berbagai rintangan yang dilalui. Tapi, apakah masalah tatapan sinis berbagai wanita terhadapnya juga bisa dibilang begitu?
Gadis sulung Hyuuga yang kemarin lusa datang ke kampus ternama itu tengah duduk dibangkunya. Ia sedang meratapi nasib yang menimpa akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, selama seminggu mengayom pendidikan ia seperti orang aneh yang selalu dikuntit semua orang, entah kesalahan fatal apa yang telah ia lakukan, tapi sepertinya sangat besar pengaruhnya. Dan hari ini, ia berharap adalah hari tenang_semoga saja.
Suasana sepi karena para pengisi kelas berhambur keluar untuk mengisi perut keroncongan mereka. Kecuali Hinata, sendirian di kelas yang sepi. Karena Tenten tidak masuk hari ini, ia terpaksa menghadapi hari seorang diri. Ya, Tenten sudah menelponnya tadi malam, bahwa ia tidak masuk kuliah karena kesibukan. Dan akhirnya, Hinata sempatkan membuat bento untuk bekalnya dikampus, daripada hal yang tak diinginkan kembali terjadi di kantin, seperti minggu lalu.
Hinata membuka kotak bentonya, menghirup aroma masakan buatannya pagi tadi. Harum. Ia sunggingkan sedikit senyum dengan penilaian untuk hasil masakannya, kemudian mulai menyuapkan sesuap nasi di mulutnya dan merasakan makanan yang bercampur dengan enzim ptialin dikerongkongan. Enak.
Tiba-tiba, seseorang dari luar kelas memasuki ruangan dengan membawa buku ditangan kanannya. Hinata mengacuhkan laki-laki tersebut, setelah sekilas melihat ke arah laki-laki yang tengah membuka pintu, dan Hinata memilih menikmati bento penyangga perut kosongnya.
Tanpa disadari, pria yang barusan datang dengan santainya menyeret bangku sebelah Hinata, dan segera saja si pria itu menduduki bangku tersebut. Hinata yang tau, memilih untuk diam dan tak menggubris laki-laki yang tak dikenalnya ini, meskipun ia tahu pria ini adalah teman sekelasnya.
"Ehem"
Lelaki itu berdehem mencari perhatian
Beberapa detik berlalu, si gadis yang ia incar tak merasa dipanggil. Apa-apaan ini?
Merasa tak diacuhkan Hinata, ia berdehem beberapa kali. Sepertinya hari ini image-nya sedang turun. Menjengkelkan.
Dan yang lebih menjengkelkan lagi, walaupun kini ia telah menurunkan harga dirinya, hasilpun nihil juga, Hinata tak mengindahkannya.
Oh, keberuntungan sedang tak berpihak padanya hari ini.
Dia diacuhkan? Ini tidak ada dikamus hidupnya.
Tidak diperhatikan wanita? Sejak kapan?
Dengan wanita incarannya? Huhf! Akan dia buat wanita itu mengerti bahwa dia itu siapa.
"Kau tidak mendengarku?" tanya lelaki itu kesal.
"..."
"Kau tuli?" nada si pria sedikit di naikkan. Saking kesalnya karena Hinata hanya diam saja.
Namun, karena akhirnya Hinata jengah juga dengan tindakan laki-laki ini, ia-pun buka suara. Lagipula mau sampai kapan si lelaki ini akan mengomeli dirinya tanpa henti, bisa-bisa kupingnya sakit.
"Ma-maaf, a-apa kau mengajakku bi-bicara?" jawab Hinata, mesti tak menoleh sedikitpun. Bukankah si lelaki tersebut hanya berdehem beberapa kali dan tak mengatakan apapun? Kenapa dia marah dan mengatakan Hinata tak mendengarnya? Mendengar 'ehem'-nya, iya. Dasar.
"Oh, bolehkah aku berkenalan denganmu? Aku Sai, Kaito Sai. Aku 21 tahun. Diusiaku yang masih muda aku sudah mampu berbisnis, pemilik cafe dan bar terbesar di Konoha" katanya panjang lebar.
Pe-de-nya setinggi gunung Fuji. Hinata menanggapi dengan menghela nafasnya. Apa mau lelaki aneh ini, sombong sekali dia. Hinata tak peduli. Beberapa orang aneh harus ditemuinya di awal-awal ia masuk universitas baru. Lagi pula untuk apa pria yang bernama Sai ini menjelaskan pekerjaannya, bukankah Hinata tak menanyakan apa-apa?
Sepertinya doa untuk hari ini adalah hari tenang tidak terkabulkan.
"Dan kau? Emb... maksudku, maukah kau menjadi pacarku?" kata Sai dengan senyuman merayunya.
Astaga. Apakah ini tidak terlalu cepat?
Berkali-kali Sai menggunakan jurus andalannya, yaitu senyum manis untuk menaklukkan mangsa. Tapi, sepertinya senjata ampuh milik Sai sedang tak bekerja hari ini. Bahkan, ia mungkin bisa dibilang orang gila, senyum-senyum sendiri untuk mencari perhatian Hinata. Sungguh, image-nya turun drastis.
Kenapa? Karena saat Sai melayangkan penawaran pada Hinata untuk menjadi pacarnya, gadis itu malah terlihat tak tertarik sedikitpun, bahkan menoleh ke arahnyapun, tidak. Berbeda dengan gadis-gadis lain saat Sai menawarkan posisi "pacar" untuk mereka, cenderung para wanita itu gembira, suka dan bahagia bercampur menjadi satu, kemudian membalas dengan anggukkan dan langsung memeluk Sai. Manusia rendahan.
Jadi, harus diakui, bahwa Hinata adalah makhuk tinggi_harga diri. Dan apakah Hinata akan menolaknya juga?
"Ti-tidak, terima kasih" jawab Hinata kemudian menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
APA? Benarkan dugaannya.
JDER!
Petir menyambar.
Untuk pertama kalinya, Sai ditolak.
Oh, Tuhan. Ingin rasanya Sai mencekik leher wanita didepannya ini. Dengan tanpa dosa dan beraninya menolak seorang SAI? Apa wanita ini tak punya mata? Bukankah Sai itu keren? Tampan? Kaya? Apa yang kurang darinya? Wanita ini sedang buta.
Sai menghela nafas pelan-pelan, berusaha meredam rasa kesal akibat ditolak wanita, baru saja. Sialan. Sabar, Sai. Untuk menetralisir kegundahan hatinya, Sai menampakkan senyum palsu, bukan, tapi serigai.
"Hm, ternyata kau menarik juga? Dan kau, kau belum berkenalan denganku" ucap Sai sembari menjulurkan tangan, mengalihkan perasaan marah untuk tetap tenang, padahal ingin rasanya Sai memaki wanita ini yang telah berani mengijak martabat seorang pangeran tampan. Dasar Hyuuga, pikirnya.
Hinata menghela nafas lelah, kemudian meletakkan sumpit makan diatas wadah bentonya. Ia tak habis pikir dengan lelaki ini, jika ingin berkenalan, sebaiknya dengan baik-baik saja dan tak besar-besarnya menyombongkan diri, memangnya siapa dia? Berani-beraninya baru awal bertemu, mengajak Hinata menjadi pacar. What the?
Ya, memang selama ini Hinata selalu menutup diri, ia hanya akan bergelanyut bersama Tenten saja dan tak mau bergaul dengan siapapun, lagipula tempat duduknya adalah paling belakang. Siapa yang mau susah-susah menengok kesana, hanya akan membuat kepala keseleo.
Padahal jikalau Hinata tau, banyak sekali yang memperhatikan dirinya, mulai dari para lelaki yang takluk akan pesonanya, serta para perempuan yang iri padanya. Dan selama itu pula, sebenarnya Sai mencari waktu yang tepat, dimana Hinata akan sendirian. Bukan berarti ia tidak gentle, melainkan ia tak mau terlalu mencolok. Lagipula, semenjak mendengar kejadian minggu lalu_hari pertama Hinata masuk kuliah disini, nama Tenten menjadi naik daun, karena dengan beraninya melawan seorang Haruno Sakura, serta kesetiakawanannya pada Hinata. Dan Sai tak mau berhubungan dengan wanita ahli bela diri itu. Takut-takut mukanya tidak rupawan lagi. Dasar.
Tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk Sai.
"Y-ya, dan k-kau sudah tau na-namaku kan?" Hinata membalas uluran tangan Sai, walau sedikit rasa tak suka pada kelakuan lelaki itu bertengger didada. Namun, saat Sai akan mencium punggung tangannya. Hinata segera menarik tangannya cepat. Bahkan ini lebih buruk dari perkiraannya.
"Hahaha, kau sudah punya pacar?" tanya Sai yang sebenarnya keberatan saat ia akan mencium tangan Hinata. Lagi-lagi, Sai dibuat kesal, rasanya ia ingin mengutuk wanita ini menjadi mumi.
"B-belum" jawab Hinata acuh walau sedikit blushing mampir di wajah putih itu, kemudian melanjutkan acara makan_lagi.
Sai menyunggingkan senyum menyeramkan. Kesempatan terbuka lebar untuknya.
"Aku juga belum"
"A-aku tidak bertanya" kata Hinata tak tertarik dengan pengakuan Sai.
Sungguh, Sai dibuat mati oleh wanita ini.
Silahkan tertawa jika kau ingin menertawakan Sai.
"Hahaha, kau lucu sekali" Sai tertawa kecil menanggapi perkataan Hinata.
"Dasar orang aneh" pikir Hinata.
Akhirnya, laki-laki bernama Sai itu ingin mengakhiri obrolan tak penting ini. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan Hinata. Apapun caranya.
"Jika kau mau menjadi pacarku, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, bagaimana Hime?" tawar Sai dengan nada seriusnya.
"..."
"Kalau kau tidak mau, aku akan memaksa"
"..."
Hinata masih mengacuhkan perkataan Sai, ia hanya terfokus pada bekal makanan yang ada didepannya itu.
Merasa tak ditanggapi lagi, Sai menghela nafas dan segera berdiri dari bangkunya. Mendekat ke arah Hinata, lalu menjulurkan tangannya menyentuh dagu Hinata, dan memaksa gadis cantik itu menoleh untuk menatapnya. Dan ...
.
.
Ditempat lain
Sasuke dan teman kelompoknya berkumpul di bangku kantin yang menjadi favorit mereka. Teduh karena dekat dengan pohon yang rindang, dan tempatnya yang luas sehingga cocok untuk berkumpul. Namun sepertinya hari ini ada yang kurang.
Sasuke merasa ganjil dengan teman-temannya, sepertinya ada salah satu dari mereka yang tak ada.
Tiba-tiba, Shikamaru menjawab pertanyaan Sasuke.
"Kau mencari Sai?" tanya Shikamaru seolah tau apa yang dipikirkan Sasuke.
"Hn"
"Kurasa ia berbelok arah dipertigaan tangga lantai 2 tadi" jawabnya santai.
Sasuke mengernyitkan dahi. "Mau kemana dia?"
"Entahlah, aku bukan orang tuanya. Kurasa ia sudah dewasa, pasti punya tujuan sendiri" jawab Shikamaru malas, kemudian menyeruput jus jeruk sembari memainkan handphone kesayangannya.
Sasuke nampak berfikir dalam.
"Oh ya, kalian tahu tidak, aku dengar kita akan diundang Sakura untuk acara ulang tahunnya nanti" celutuk naruto tiba-tiba, karena baru saja memesan mie ramen kesukaannya.
"Apa bagusnya?" tanya Shino tak tertarik. Bukankah itu sudah menjadi kebiasaan.
"Yah, tentu saja Sasuke, dia akan menjadi orang yang ditunggu-tunggu Sakura. Kalian tahu kan dia fans berat si Teme?" lanjut Naruto.
"Itu sudah tak mustahil" kata Shino singkat. Tidak ada yang menarik dari berita ini.
Naruto memutar bola matanya, kesal. "Haah, bukan itu, Shino Aburame..." Naruto lepas emosi. Yah, memang diantara kelompok mereka yang paling over adalah Naruto Uzumaki.
"Kalian ingat saat Sakura dulu juga mengundang kita? Terutama si Teme itu, tapi malah tidak datang dan apa akan seperti itu lagi? Dan akan berulang-ulang lagi? Padahal sudah berkali-kali Sasuke tak pernah datang, tapi masih saja Sakura itu tak pernah menyerah" lanjut Naruto panjang.
Sasuke yang menjadi pusat perbincangan malah tak merasa mendengar, ia lebih memilih memikirkan Sai yang pergi tak wajar dan tak biasa, karena biasanya ia akan memberitahukan dulu kepada temen-temannya.
"Sasuke, bagai-..." kalimat Naruto terpotong karena tiba-tiba Sasuke berdiri dari tempat duduknya, berjalan pergi meninggalkan teman-teman yang melonggo tak mengerti.
Dan Sasuke-pun ikut-ikutan seperti Sai, pergi tanpa alasan.
"Sasukee...!"
Teriak Naruto tapi tak di indahkan oleh pria raven itu.
"Heh, apa-apaan dia" gerutu Naruto.
.
.
Sasuke berjalan sesuai feeling otaknya dimana Sai berada dan...
Benar, Sasuke menemukan Sai dikelas yang sedang berbicara dengan Hinata, dengan gayanya mendekati wanita yang Sasuke tau. Rupa-rupanya Sai juga menyukai Hinata. Ia tidak menyangka bila perasaan Sai sama dengan dirinya, menyukai wanita yang sama, padahal saat istirahat ini Sasuke ingin mengutarakan pada mereka_teman-temannya mengenai keadaan yang tak wajar ini. Alih-alih bercerita, Sasuke malah dihadapkan pada kenyataan tak terduga.
Bersaing dengan temannya sendiri.
Tapi bagaimana dengan persahabatan mereka? Apakah akan rusak dengan ini?
Sepertinya tak akan pernah, Sasuke yakin. Teman adalah teman, jika temanmu adalah kawan yang baik, tali pengikatnya tak akan pernah putus apapun goncangannya, itulah persahabatan.
Tapi bila memang harus bersaing, entahlah, Sasuke masih harus berpikir lagi. Namun, jika ia harus merelakan wanita yang telah menerobos hatinya dimiliki orang lain, ia tak akan diam saja.
Jadi?
Fine.
Serigai muncul di sudut bibir Uchiha bungsu ini.
Tiba-tiba, Uchiha bungsu itu dikagetkan dengan Sai yang memegang dagu Hinata dan memaksanya untuk menciumnya. Sasuke tidak terima, kemudian ia melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Ia tak akan membiarkan Sai bertindak lebih jauh, baginya Hinata adalah barang berharga untuknya. Hanya untuk Sasuke Uchiha. Tegaskan itu sekali lagi.
Sasuke berjalan memasuki kelas, saat akan sampai di bangkunya, ia dengan sengaja menendang kaki meja belajar itu lumayan keras.
BRUAK...!
Sontak saja Sai kaget dan menjauh dari wajah Hinata yang tinggal sedikit saja.
"Apa yang kau lakukan?" gumam Sai kesal pada Sasuke yang mengganggu kegiatannya.
Sai berjalan menjauh dari Hinata dengan rasa sebal, langkahnya tenang kemudian duduk disamping Sasuke. Hinata melepas udara leganya saat Sai pergi menjauh. Sepertinya ia harus berterima kasih pada orang aneh pula, entah namanya siapa, karena orang yang menyelamatkan dirinya ini adalah yang bertanya pertanyaan kocak minggu lalu.
Kembali pada Sai yang duduk bersampingan dengan Sasuke. Sasuke hanya diam dengan memejamkan matanya, berusaha meredam marah pula seperti Sai yang kegiatannya diinterogasi oleh teman baiknya ini.
"Kau marah?" tanya Sai tenang. Namun, Sasuke masih tetap terdiam.
Sai menghela nafas. Ia tahu kebiasaan kawan baiknya ini. Tapi Sai semakin yakin dengan keyakinannya, bahwa Sasuke menyukai Hinata.
"Baiklah" Sai berdiri dari kursinya.
"Kita bersaing" lanjutnya dengan menjulurkan tangan kanan yang terkepal kehadapan Sasuke. Menantang.
"..." Sasuke membuka matanya. Kaget? Tentu saja, tapi ia pandai mengatur ekspresi. Sai mengajaknya bersaing? Untuk mendapatkan Hinata? Ketakutan yang sempat ia pikirkan tadi akhirnya malah terjadi.
"Kau takut?" kata Sai tenang. Sebenarnya bukan maksud Sai mengajak Sasuke_teman baiknya bersaing untuk mendapatkan Hinata, tapi, entah naluri apa atau memang perasaan ingin memiliki Hinata sepenuhnya telah menguasai diri. Ia menginginkan wanita yang diseberang sana_yang duduk sembari mencuri percakapan mereka.
"Hn. Aku tidak mau menjadikannya mainan" jawab Sasuke dengan memalingkan wajah ke arah jendela.
Bukan hanya itu, sebenarnya Sasuke masih bingung memilih antara mendapatkan Hinata atau keutuhan persahabatannya. Bukan tidak masalah, ia adalah lelaki yang super hebat dimata dunia, segala yang ia inginkan pasti akan tercapai. Tapi, bukan itu kendalanya. Sasuke ingat, dan masih sangat ingat pertemuan mereka berawal. Yaitu disaat mereka tengah menjadi kelompok ketika pertama kali masuk Universitas disini.
Saat itu, terjadi sebuah kejadian yang tak diinginkan. Gerombolan pembunuh bayaran tengah mengincar Sasuke untuk balas dendam. Saat Sasuke tengah terpojok karena waktu itu ia tak membawa pengawal, serta banyaknya orang yang mengejarnya, ke-empat kawannya itu_Shikamaru, Sai, Naruto dan Shino datang membantu. Ya, walaupun mereka tak bersenjata dan mereka kalah jumlah, namun, akhirnya mereka mampu mengalahkan para penjahat itu. Sayangnya, Sasuke terkena tembakan dilengan kirinya. Dan dengan susah payah pula, kawan-kawan setia yang juga tengah terluka membantu Sasuke yang hampir terenggut nyawanya.
Mereka memang telah berkawan lama, tapi mulai hari itu ikatan persahabatan mereka semakin kuat. Disini, mereka dapat mengetahui kebenaran seorang Uchiha Sasuke yang pendiam dan dingin. Tapi dibalik itulah rahasia besar tersimpan didalam diri Sasuke. Dan semenjak hari itu, kawan-kawannya mengetahui keadaan Sasuke sebenarnya.
"Akupun juga tak ingin seperti itu, aku hanya ingin mendapatkannya. Entah mengapa aku ingin memilikinya, dia berbeda dari wanita lain" kata Sai.
"Aku tak akan merelakannya untuk orang lain, aku benar-benar menyukainya" lanjut Sai lagi.
Sepertinya Sai jadi banyak bicara.
Sasuke tak habis pikir untuk ke dua kalinya, sejak kapan Sai bisa benar-benar menyukai wanita, dengan serius seperti ini? Baru kali ini. Sebelumnya, Sai mesti hanya menyukai sebentar saja, 2 jam atau paling lama 1x24 jam, kemudian Sai akan meninggalkan wanita itu. Dan sekarang sepertinya Sai sedang eror.
"Aku ikut" suara cempreng yang sangat terkenal itu mengagetkan mereka, siapa lagi kalau bukan Naruto, penerus tunggal Namikaze Ltd. milik ayahnya.
"Aku juga menyukainya" lanjut Naruto.
"Tak kusangka" Sai menanggapi perkataan Naruto.
Naruto tersenyum, "Aku menginginkannya" katanya dengan mengepalkan tangan, kemdian menjulurkan kedepan, tegak lurus dengan arah kepalan tangan Sai. Seseorang yang benar-benar menerima tantangan.
"Akupun juga menginginkannya" balas Sai dengan tangan menggenggamnya tadi kemudian menyentuh ujung kepalan tangan Naruto, melawan Naruto.
"Kita tetap bersahabat, tapi persaingan tetap persaingan, dalam pelajaran dan dalam mendapatkan cinta" jelas Naruto.
"Aku setuju" jawab Sai dengan menyunggingkan senyum.
Sasuke tampak berpikir sejenak. Tak dipungkiri bila ia juga setuju, sahabat tetap sahabat, tapi cinta tetap cinta, persaingan-pun tetap persaingan.
Sesaat Sasuke melirik Hinata, dan ternyata juga sedang menatapnya, bukan, maksudnya mereka. Hinata yang mendapat tatapan intens Sasuke, buru-buru mengalihkan matanya kembali ke bento yang belum selesai.
Sasuke tersenyum tipis, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Akhirnya, Sasuke-pun ikut mengepalkan tangan dan bergabung dengan kedua tangan temannya dan berhadapan membuat perjanjian.
.
"Aku-lebih-menginginkannya" kata Sasuke dengan menekankan setiap kata.
.
Hinata yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka memilih pura-pura tak mendengar, walaupun ia tahu maksud kesepakatan mereka.
"Aku tak akan semudah yang kalian kira" gumam Hinata.
.
.
Disuatu tempat yang menjadi pusat perbelanjaan, berdiri berpuluh-puluh toko berjejer-berderatan membuat barisan. Salah satunya adalah sebuah toko kue yang lumayan terkenal dan terbesar di Konoha dan sangat ramai pengunjungya.
"Nona, aku beli kue yang ini"
"..." si pemilik toko kue yang dipanggil Nona hanya diam saja, tak menjawab perkataan pembelinya.
"..." sang pembeli mengernyikan dahi. Heran. Apa yang terjadi dengan wanita didepannya ini?
"..." masih diam membisu. Namun, tatapannya tak bisa dialihkan dari sosok pembeli yang ada di hadapannya.
"Nona?" panggil sang pembeli.
"..."
"Nona, hei!" seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah pemilik toko kue itu.
"Nona?" ulang si pembeli lagi.
"Eh, ya? Ma-maaf" kata si "Nona" dengan sedikit malu.
"Berapa kue ini?" tanya si pembeli.
Reflek, sang pemilik toko kue tersebut menoleh ke arah kue yang ditunjuk.
"Oh, i-ini? Gratis!" segera saja tangan mungil itu mengambil beberapa kue yang ditunjuk tadi. Sekerat kue yang terdapat butiran-butiran choco-chips bertebaran diatasnya.
"..." si pembeli semakin tak mengerti dengan kelakuan penjual kue ini.
"Sebagai perkenalan saja, silahkan!" katanya seolah menjawab ketidak-mengertian orang dihadapannya, sembari menyodorkan satu kantong plastik yang berisikan beberapa kue yang dipilih tadi.
"Hm. Terima kasih" balas si pembeli kemudian pergi meninggalkan toko kue ternama tersebut.
"Sama-sama" seraya mengangguk dengan masih memasang senyum manis. Mata coklatnya terus memandang punggung orang yang membeli kuenya tadi, hingga sosoknya hilang dimakan pintu keluar. Samar-samar ia masih dapat melihat orang itu menaiki sebuah mobil sport mewah berwarna hitam.
"Sungguh, pria yang tampan" gumam sang penjaga toko
.
.
Saat pukul 11 siang, semua mahasiswa berhambur keluar kampus menuju rumah mereka masing-masing. Hari ini adalah hari jum'at, hari dimana jam perkuliahan hanya 2 mata kuliah saja, jadi pulang lebih awal. Hinata berdiri sendirian di halte kampus. Banyak orang menawarinya tumpangan dan akan mengantarnya pulang, namun ia menolak dengan halus. Secepat itukah Hinata langsung terkenal diarea kampus ternama ini?
Siapapun akan mengenal Hinata, seorang gadis cantik dengan segala keindahannya serta kebaikannya yang sangat disukai para pria.
Tiba-tiba, seseorang berjalan melewati Hinata, namun sengaja menabrak tubuh mungil itu, hingga jatuh tersungkur.
BRUK...!
"Auw...!" pekik Hinata.
Hinata kemudian melirik ke arah orang yang berani mengusik ketenangannya, namun, ia malah mendapat deathglared dari wanita bermata ruby yang tengah berdiri dihadapannya. Wanita minggu lalu yang sengaja mencelakainya. Dan dengan tanpa dosa lagi, si wanita ini memberikan senyum sinis kemudian melenggang pergi tanpa meminta maaf pada Hinata.
"Eh, kau tak apa?" tanya laki-laki berambut mangkok yang datang tiba-tiba.
"E-eh, y-ya. A-aku tak apa. Te-terima kasih" balas Hinata.
Kemudian Hinata bangkit berdiri dengan sedikit bantuan si rambut mangkok itu.
Andaikan Tenten masuk hari ini, pasti semua akan baik-baik saja. Sayangnya, Tenten tidak dapat masuk kuliah karena ia sedang sibuk. Salahkan Nii-san-nya pula_Neji yang kenapa sampai sekarang belum menjemputnya.
"Kau harus berhati-hati dengannya. Namanya Sakura. Setiap ada orang yang menyukai Sasuke, ia akan bertindak aneh-aneh" kata satu orang lagi yang mempunyai tato segitiga merah diwajahnya.
"A-aku tak mengenal Sasuke?" kata Hinata.
"Oh, ralat, dalam kasus ini Sasuke yang menyukaimu" sanggah si laki-laki bertato merah_lagi.
What?
Hinata mengernyitkan dahinya, ia semakin tak mengerti. Darimana mereka tau? Sekelas saja tidak, Hinata juga tak mengenal kedua pria ini, tapi kenapa sebegitu mengertinya dengan dirinya. Siapa mereka? Apalagi dengan nama Sasuke? Siapa Sasuke? Apa pula hubungan mereka dengan Sasuke? Dan Sakura, wanita pink yang sengaja menjahilinya. Hinata semakin tak mengerti.
"Oh ya, maaf kami harus pulang cepat, ada urusan mendadak" lanjut si pria bertato merah itu, kemudian melenggang pergi.
"Oh ya, Hinata, aku Lee dan itu tadi Kiba, salam kenal! Kita hanya beda kelas saja kok, dan seangkatan pula. Aku pulang dulu, Jaa" kata Lee dengan melambaikan tangan kemudian pergi menyusul Kiba.
Dan kedua orang itu juga tau namanya?
Entah darimana, tiba-tiba diujung jalan sana terparkir mobil sport mewah Ferrari Laferrari berwarna merah darah yang sengaja menunggu kedatangan Lee dan Kiba.
Hinata hanya memandangi kepergian Kiba dan Lee sampai punggung mereka tak terlihat _ setelah menaiki mobil mewah yang entah arahnya kemana. Yang ia pikirkan adalah seberapa jauh lagi informasi yang telah didapat mereka berdua.
Apa mereka seorang detektif?
Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?
Tanpa disadari, mobil sport_lagi berwarna hitam mengkilat_Pagani Zonda C 12F menghampiri Hinata.
Astaga, orang yang bersekolah disini ternyata memang orang-orang kaya semua.
Surai-surai indigo melambai karena angin menyambarnya. Hinata hanya terpaku dengan kemewahan mobil itu, bahkan sebelumnya tadi_Lee dan Kiba. Sepertinya semua sedang merencanakan sesuatu untuknya. Firasat apa ini? Tapi bukankah Nii-san-nya-pun mempunyai mobil mewah pula?
Lalu apa yang istimewa dari kedatangan mobil tersebut?
.
.
.
To be Continue
Hai, saya update chapter 3 nih…
Maaf ya kalo ceritanya jelek dan lain sebagainya, soalnya aku juga gak pandai bikin kata-kata dan ini juga cerita murni dan asli karangan saya, hasil pemikiran saya sendiri, jadi maaf kalo 'aneh' *kayak orangnya. Dan juga kalo ada salah yang bertebaran disana, mohon dimaklumi ya *siapa lo?, kan saya masih newbie *alesan…hehehe…tapi terima kasih semua atas masukannya, akan saya jadikan pedoman hidup saya, *gubrag!, maksudnya pedoman untuk memperbaiki lagi, begono…*ditimpukin masal…
Oh ya, untuk "" aku minta maaf, karena untuk balesan review chapter 2, namamu tidak muncul disebelah balesan review-mu, gak tau kenapa, padahal di file-ku ada tau, , *siapa yang error?
Curhat lagi dong, *pe-de banget sih, temen-temen FF ternyata seru-seru yak, terutama disini maksud saya_Fandom SasuHina. Seneng deh akunya! ^^
Bales review:
Syuchi Hyu : saya juga seneng Hinata direbutin, cowok-cowok ganteng pula *tepar. Hehehe, iya tu Itachi emang nunggu Hinata, ntar di next chapter *gak tau chap berapa, bakalan tau deh kenapa Itachi nunggu Hinata. Emb…Neji kapan-kapan akan datang kok *naek sapu terbang?. Yah, ni dah lanjut. Astaga…mau seberapa panjang sih? Ngetik ini aja jari-jariku udah pada keriting *nunjukin jarinya. Hehehe, tenang aja, ntar kapan-kapan diusahain lebih panjang deh, , #kayaknya. Thanks reviewnya ^^
Mint Convallaris : Arigatou!^^ selamat tahun baru juga *telat. Oh ya, makasihnya koreksinya. Soalnya kan ada yang dibatin, jadi aku kasih tanda petik satu, yah, mugkin tu keyword-nya error kali, gak ngerti maksudku *nyalahin keyword, hehehe…ok ok ntar aku lebih perhatiin deh, #kayaknya…hehehe..tapi saya akan berusaha sekuat tenaga. Wah, soal itu ya, aku lupa bawa kebiasaan nulis sms sama disini, wkwkwkwk…Eh, salah yak? Arigatou gozaimasu? Abisnya orang pada ngomong arigatou gozaimas, yaudah aku ngikutin gitu, *ngeles. Ha'i, arigatou gozaimasu untuk reviewnya ^^ #dah bener kan? Hehehe
SweetMafia95 : Sebenernya aku juga iri tau sama Hinata yang digilai banyak orang. Emb, itu sudah pasti dong, tenang aja harapanmu akan Author kabulkan *wani piro, Author kan baik hati *nggak nanya?. Cuma masih di chap yang agak jauh ya, sekali lagi "agak jauh" *gak jauh-jauh amat kok. Ok ok, akan saya usahakan banyak Hinatanya, tapi ini baru dimulai lho ya persaingannya, *Author koplak. Thanks reviewnya ^^
hinatauchiha69 : Iya, ni udah update…yeyyy! Waduh? *garuk-garuk kepala. Lime-nya pasti ada, tapi sabar dulu yak, untuk awal-awal masih belum ada, makanya aku cepetin ni updatenya, biar cepet selesai. Soalnya kan aku juga capek kalo nunggu lama, ntar udah kelupaan ceritanya dulu gimana *curhat. Oh tentu saja, endingnya tetep SasuHina. Thanks reviewnya ^^
indigolavenderwhite : Arigatou ^^. Yak ni udah update. Thanks reviewnya ^^
snhindigohime : Waah, kau tau aja, kamu dukun yak? *plakk. Hm, tentu saja, Konan cinta mati ma Itachi ^^. Thanks reviewnya ^^
Yamanaka Emo : Emb…*berpikir mode, kasih tau gak ya? Ntar aja deh, ntar di chap selanjutnya akan ada jawabnya, atau silahkan anda terka-terka sendiri lagi *dibawain parang, Author kabur…. Ukh, masak sih kamu suka ma aku *gubrag! Ntar kalo lihat aku yang sebenarnya gak jadi suka lagi? Katanya hlo, #katanya, saya tu orangnya pendiem tau, padahal kan aku ngoceh mulu *ngalahin burung beo. Yah, gak pa-pa, terserah orang mau bilang apa. Wah, bener sekali, aku tu capek banget nunggu fic yang bersambung *curhat, apalagi yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, astaga…aku udah mau bakar gunung Krakatau tau…#busset. Yah, sebenernya malah bagus sih, bikin penasaran orang, lagipula setiap orang kan punya kesibukan sendiri-sendiri, aku pengertian kok, dan akhirnya saya-pun juga sabar menunggu itu FF. *haiyah. Hehehe. Thanks reviewnya ^^
kirei- neko : iya, gak apa-apa kok, malahan seneng aku ^^. Chap 1 yak, mungkin bisa dibilang begitu, soalnya jarang obrolannya yak. Menurutku malah dua-duanya tu. Hehehe. Yak, ni udah lanjut. Thanks reviewnya.
Lulukminamcullen : iya, ni udah lanjut ^^. Oh itu tenang aja, aku-pun juga begitu *plakk-nya dibagi dua. Thanks reviewnya ^^
Sherinaru : emb…mungkin iya. Wah, tenang saja, disini nanti akan banyak cobaan buat Hinata dan Sasuke, tapi walaupun Hinata lemah-lembut nanti dia akan tetap kuat kok. Nanti diusahain deh biar bisa seperti yang kamu harapkan #kayaknya. Hehehe. Thanks reviewnya^^
Sasu'ai'hina : so pasti, ni udah update lagi, semangat 45 malahan. Thanks reviewnya ^^
Hakeriouss : Arigatou…Arigatou…Arigatou…Ni udah update lagi. Thanks reviewnya ^^
Liu : Yah, aku memang lucu. Kalau kamu pasti cewek ya? Oh, itu rahasia pabrik dong. Hehehe. Ntar aka nada jawabnya. Thanks revewnya ^^
Guest-siska: Aduh maaf ya, itu aku salah ketik. Kamu krirtis juga. Keren *tepuk tangan untuk Siska. Yak, Kakashi cuma ada rasa sedikit pesona aja kok, dia nanti gak ikut dalam persaingannya. Thanks reviewnya ^^
SMAN1RHLOVMHPxUztad : silahkan tebak sendiri #Author tak bertanggung jawab. Yak ni dah update, di chap berikutnya diusahakan akan ketahuan siapa yang diputusin Hinata. Thanks reviewnya ^^.
Huah, terima kasih pada para reader dan reviewer sekalian.
Siapa sih yang dating menghampiri Hinata dengan mobil sport Pagani Zonda C 12F itu?
Silahkan menerka-nerka lagi…
#Author kabur…
Ketemu next chapter…Jaa…^^
