Love Competition
.
.
.
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, OOC, typo, language, etc.
Rate : M
DLDR/R&R
.
.
.
Chapter 4
"Itachi's Say"
.
.
.
Happy reading
.
.
.
ooOOOoo
.
"Kita tetap bersahabat, tapi persaingan tetap persaingan, dalam pelajaran dan dalam mendapatkan cinta" jelas Naruto.
"Aku setuju" jawab Sai dengan menyunggingkan senyum.
Sasuke tampak berpikir sejenak. Tak dipungkiri bila ia juga setuju, sahabat tetap sahabat, tapi cinta tetap cinta, persaingan-pun tetap persaingan.
Sesaat Sasuke melirik Hinata, dan ternyata juga sedang menatapnya, bukan, maksudnya mereka. Hinata yang mendapat tatapan intens Sasuke, buru-buru mengalihkan matanya kembali ke bento yang belum selesai.
Sasuke tersenyum tipis, kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.
Akhirnya, Sasuke-pun ikut mengepalkan tangan dan bergabung dengan kedua tangan temannya, berhadapan membuat perjanjian.
.
"Aku-lebih-menginginkannya" kata Sasuke dengan menekankan setiap kata.
.
Hinata yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka memilih pura-pura tak mendengar, walaupun ia tahu maksud kesepakatan mereka.
"Aku tak akan semudah yang kalian kira" gumam Hinata.
Ya, ia tak ingin hal seperti dulu kembali terjadi, ia tidak ingin dipermainkan lagi, ia tak ingin dibuat kecewa lagi. Sungguh, pengalaman dengan "seseorang" dulu yang ternyata ia hanya sebuah barang taruhan, kini kembali terulang.
Bahkan, ia harus melihat sendiri kesepakatan mereka, sangat jauh berbeda dengan keadaan kemarin, ia mendengar kabar mengecewakan tersebut setelah ia merasakan sesuatu hal lain didirinya, suatu perasaan ikhlas untuk membuat dia bahagia dan membuat dirinya tenang didekatnya.
Saat itu, beberapa lelaki berusaha menaklukkan Hinata, seorang gadis yang notabene adalah mahasiswi disana, seorang gadis jelita dengan sejuta pesona yang ada, namun susah untuk didapatkan oleh lelaki manapun, bahkan tak satupun para pria yang sanggup mendapatkan Hinata sebelumnya. Gadis yang diagung-agungkan namanya karena kebaikan serta kepandaiannya dalam berbagai mata kuliah, mampu menyita perhatian segerombolan laki-laki untuk bersaing mendapatkannya.
Dan di suatu hari, suatu kabar menggemparkan seluruh universitas, yaitu sayembara mendapatkan Hinata dimulai. Tak ada hadiah atau bonus atau penghargaan apapun yang tengah dikejar, yang menjadi pokok tujuan adalah seorang Hinata Hyuuga, mendapatkan Hinata.
Tidak diketahui siapa pelopor persaingan itu, namun, berita ini sanggup menarik seluruh perhatian publik kampus.
Dan yang menjadi sorotan adalah, seorang anak bungsu dari pemilik universitas juga ikut dalam kompetisi ini. Dan akhirnyapun, mau-tak-mau, iya-atau-tidak, seluruh peserta sekalian mundur dengan terpaksa, karena dengan berbagai cara pewaris harta pemilik sekolah itu lakukan untuk memenangkannya.
Kesalahan fatal yang dilakukan Hinata adalah menerima tawaran pria pemilik kampus untuk menerima dan harus kencan dengannya, setelah itu ia harus menjadi kekasihnya. Sebenarnya Hinata bisa menolak, tapi dikarenakan sang pria juga mengancam Hinata dengan berbagai alasan sehingga ia terpaksa menerima tawarannya. Salah satunya adalah Hinata dapat dikeluarkan dari kampus tersebut dengan dan atau tidak ada alasan yang jelas.
Hinata tak tahu harus bagaimana, jika ia menceritakan masalahnya pada Nii-san atau ayahnya, sungguh, ia akan menjadi seorang yang masih bergantung pada mereka, padahal ini urusan pribadi kan? Bukankah semenjak kematian ibunya ia sudah berjanji akan lebih mandiri lagi? Atas dasar itu, ia akan mengemban beban ini sendiri.
Hinata berpikir tak ada salahnya jika menerima seseorang dalam kehidupannya, mungkin dengan seperti ini ia akan menjadi Hinata yang lebih dewasa, padahal tak ada cinta dan kasih yang mendasari, hanya saja ia takut, takut atas ancaman pria itu. Dikeluarkan secara tak terhormat? Tidak.
Dan bila dipikir-pikir, tak ada salahnya juga jika Hinata mampu menjadi diri sendiri dan menentukan jalan hidupnya. Tapi hal ini dilakukan hanya untuk keberadaannya semata, untuk eksistensi diri agar tak terlalu menyusahkan keluarga. Lagipula, kampus yang ia huni tersebut adalah kampus ternama, andaikan ia keluar atau dikeluarkan, ia mungkin akan merasa bersalah pada ayahnya yang sudah susah-susah menyekolahkan sampai disitu. Berapa juta yen yang telah dikeluarkan ayah semata wayang hingga sampai ke jenjang perguruan tinggi. Hinata tidak mau mengulang kebangkrutan ayahnya lagi.
Wajar saja jika para pria penasaran dengan gadis ini. Gadis lugu dari keturunan sederhana namun berada, tapi tak mampu membuka diri untuk hal cinta pada laki-laki. Siapapun pasti akan penasaran, karena disitulah titik keistimewaannya.
Hal inilah yang menjadi alasan seorang lelaki ternama tersebut_pewaris kekayaan pemilik kampus, selain kecantikan gadis itu, jumlah pria yang mengaguminya juga menjadi alasannya. Pria itu berpikir, bahwa semakin banyak saingannya, akan semakin seru pula cara untuk mendapatkannya. Terbukti dengan berbagai ancaman saja, gadis itu telah takluk pada dirinya. Sangat mudah, bukan? Tak sesulit yang ia kira.
Sayangnya, gadis itu berbeda dengan wanita-wanita kebanyakan. Ia tak pernah minta apapun. Berbalik, dirinyalah yang sering meminta sesuatu pada Hinata, seperti ajakan kencan, mengantar dia pulang kuliah, beli buku dan sebagainya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ia tak diijinkan untuk menyentuh bahkan mencium sedikit saja disuatu titik diwajah cantik itu. Padahal ingin rasanya ia menikmati apa yang telah ia miliki.
Alasannya, Hinata akan bersedia dikeluarkan bila ia berani berbuat seperti itu. Aneh?
Si pria tersebut merasa hubungannya seperti pacaran anak kecil saja, pacaran yang biasa-biasa.
Tak ada yang lebih.
Setiap pagi, setiap bertemu dengan gadisnya itu, ia hanya akan menerima sapaan lembut, senyum manis dari gadisnya ini, namun, entah kenapa ia merasa itu sudah cukup untuk membahagiakan hati. Ia berpikir, telah terjadi sesuatu pada dirinya semenjak bersama dengan kekasih barunya ini.
Setiap ia bertemu, bersama dengan kekasihnya, sesuatu dalam diri mendobrak pertahanan jiwanya. Perasaan tenang dan tentram merayapi lubuk hati, ia selalu ingin menyentuh gadis tersebut, namun ia ingat akan ancaman gadis itu pula, dan harus mati-matian pula ia menahan syahwatnya. Dan disaat naluri laki-laki untuk urusan biologis itu datang, ia hanya mampu menyalurkan pada wanita lain dan mendesahkan nama Hinata.
Tak berangsur lama, satu bulan kemudian Hinata mengetahui kebenaran bahwa dirinya telah menjadi barang taruhan dari beberapa pria. Dan salah satunya adalah kekasih yang menjadikannya pacar dengan segala keterpaksaan Hinata. Untung saja, ia tak pernah mengakui bahwa ia menyukai pria itu, walaupun sedikit torehan perhatian ia berikan, hanya sebagai suatu ungkapan terima kasih padanya karena telah melindunginya, serta balasan untuk segala perhatian si pria pada Hinata.
Namun, sangat disesalkan Hinata, disaat ia mulai membuka hati untuk pria itu, ia harus mengakhiri.
Setelah gadis Hyuuga itu tahu, serta dengan diperkuat oleh pengakuan jujur dari pria itu, Hinata memutuskan untuk mengakhiri hubungannya. Ia terlalu kecewa dengan segala kebenaran yang ada, bahkan ia mampu memberanikan diri untuk bisa mengambil keputusan untuk dikeluarkan dari sekolah ternama tersebut.
Sayangnya, keadaan beralih lagi pada pria itu, ia tidak akan mengeluarkan Hinata apapun alasannya. Tapi, sulung Hinata tak menyerah sampai disitu, beberapa kali ia tetap meminta keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka, namun orang tersebut juga tidak pernah menyetujuinya, ia tetap menganggap Hinata adalah milik si pria. Sungguh, saat itu ia harus membenarkan perkataan Nii-san-nya_Neji. Hati-hati pada pada setiap lelaki.
Disaat tak terduga, seperti takdir dari Dewi Fortuna datang menghampiri Hinata, sebuah takdir yang bagaikan cahaya kebahagiaan bersinar menerpa tubuhnya yang tengah kecewa.
Ayahnya menyuruh ia pindah ke Konoha untuk melanjutkan studi, setelah itu ia harus menjadi pemimpin di kursi direktur di cabang Hyuuga pertama di Konoha untuk menggantikan Neji. Dan bersamaan setelah keputusan ayahnya itu, Hinata-pun juga memutuskan secara sepihak mengenai hubungannya sebelum pergi. Ia menyatakan bebas dari belenggu pria yang telah mengecewakannya itu. Sekaligus akan membatalkan kuncup bunga yang tengah bersemi. Cinta pada lelaki disana.
.
Love Competition
.
Hinata hanya memandangi kepergian Kiba dan Lee sampai punggung mereka tak terlihat _ setelah menaiki mobil mewah yang entah arahnya kemana. Yang ia pikirkan adalah seberapa jauh lagi informasi yang telah didapat mereka berdua.
Apa mereka seorang detektif?
Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?
Tanpa disadari, mobil sport_lagi berwarna hitam mengkilat_Pagani Zonda C 12F menghampiri Hinata.
Astaga, orang yang bersekolah disini ternyata memang orang-orang kaya semua.
Surai-surai indigo melambai karena angin menyambarnya. Hinata hanya terpaku dengan kemewahan mobil itu, bahkan sebelumnya tadi_Lee dan Kiba. Sepertinya semua sedang merencanakan sesuatu untuknya. Firasat apa ini? Tapi bukankah Nii-san-nya-pun mempunyai mobil mewah pula?
Lalu apa yang istimewa dari kedatangan mobil tersebut?
Perlahan kaca mobil bagian pengemudi diturunkan. Menampakkan seseorang yang sekilas tadi Hinata lihat dari balik kaca tersebut.
"Kaito Sai?" gumam Hinata.
Masih sangat segar di ingatan Hinata jam istirahat tadi, Sai ikut dalam persaingan untuk mendapatkan dirinya. Apa ini sudah termasuk langkah-langkah Sai? Lalu, bagaimana ini? Apakah ia harus lari?
Sekali lagi, salahkan hari ini pada Neji yang terlambat menjemputnya. Kemana perginya Nii-san tak bertanggung jawab itu?
Hinata menghela nafas lelahnya.
"Mau kuantar?" kata Sai dengan menyunggingkan senyum_lagi.
"T-tidak, t-terima kasih, S-Sai" jawab Hinata lembut dengan senyum manis, berusaha menutupi ketakutannya.
Dan sayang sekali, ini diartikan lain oleh Sai. Ia berpikir bahwa Hinata memberi peluang luas untuknya. Terbukti dengan senyum menawan Hinata yang diberikan padanya saat ini.
"Kau dijemput?"
"Y-ya" jawab Hinata setenang mungkin.
Sai mengalihkan pandangannya dari Hinata kedepan menembus layar kaca mobil depan. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah lembaran kertas sejenis "tiket" dengan tangan kirinya ke hadapan Hinata.
Hinata mengerjapkan matanya, bingung dengan kelakuan Sai.
"A-apa ini?" tanya Hinata.
Sai tersenyum kearah Hinata. "Itu tiket masuk ke gallery-ku. Kuharap kau bisa datang. Aku menunggu kedatanganmu" jawab Sai.
"Eh-" Hinata kembali berpikir. Tiket masuk gallery? Ada acara apa? Kemudian ia membaca isi tiket tersebut.
"Pa-pameran lu-lukisan?" jelas Hinata.
"Ya, datanglah untukku"
"..." Hinata nampak menimang-nimang perkataan Sai. Entah ia mau datang atau tidak Hinata masih bingung. Tapi, Sai sendiri yang mengundangnya langsung, jika ia tak datang ia akan semakin merasa tak menghargai Sai. Ya, apa salahnya datang untuk menghormati pemilik gallery karena dia adalah temannya.
"I-itu, na-nanti a-aku usahakan" jawab Hinata dengan lembut.
Oh, Sai terbuai dengan suara indah Hinata.
"Ok, baiklah, sampai besok, Hime, Jaa" Sai melambaikan tangan dan kemudian menjalankan mobilnya.
Hinata menghela nafas, begitu banyak cerita di awal masuk dirinya di sekolah ini, semua bagai ada udang dibalik batu, ada maksud yang tersembunyi. Mulai dari perkenalan, persaingan, persahabatan dan permusuhan. Memikirkan itu, membuat ia semakin lelah saja, lelah otak, pikiran, jiwa dan raga.
Andai saja ibunya masih ada, ia akan menceritakan semua kelu-kesalnya. Hinata bisa berbagi dengan ibunya, seperti orang-orang lain yang masih bisa bergelanyut di bawah tangan ibunya. Sungguh, Hinata saat ini sedang merindukan ibunya, sangat rindu, sehingga tak terasa air matanya mengaliri kedua pipinya, tak terbendung lagi.
"Kaa-san" lirih Hinata.
Dari kejauhan tampak seseorang memperhatikannya, tapi ia tak melihat Hinata sedang menangis. Sang pengintai sedang enak-enaknya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang tengah berdiri sendirian di halte kampus. Hinata yang cantik, putih, bersih, rambut indigo yang di kuncir kuda, menampakkan leher jenjang putihnya yang semakin bersinar diterpa matahari. Kaki jenjang putih dengan rok di bawah lulutnya tak menghalangi keindahan tubuhnya. Wanita satu ini memang sangat menggoda iman.
Entah pikiran jelek dari setan tipe apa saja telah memenuhi otaknya. Mesum. Ia gumamkan kata itu untuk memaki dirinya yang tak bisa melawan gambaran-gambaran vulgar tentang Hinata yang hinggap di imaginasinya. Dasar.
Si pengintai di mobil mewah pula berwarna Black Gold Dream tak kuasa menahan air kucuran yang keluar dari kulit kekarnya. Ia membuka satu per satu kancing bajunya, sampai semuanya tanggal sudah, menampakkan dada bidangnya yang atletis. Tanpa diduga tangan kekarnya menjalar ke arah bagian kejantanan seorang laki-laki. Terasa sesak disana. Ingin sekali si junior itu segera di keluarkan.
"Shit, aku ereksi" umpatnya.
Sesuatu didalam dirinya sedang ingin dipuaskan secara biologis. Astaga, apa yang sedang terjadi? Hanya dengan melihat seorang gadis yang beberapa hari lalu ia kenal, ia telah jatuh cinta fisik dan rasa.
"Harus tersampaikan" lirihnya dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya. Kelakuan yang tak pernah ia lakukan.
Tiba-tiba senyumnya hilang kala sebuah mobil menghampiri Hinata.
Mobil sport Koenigsegg CCVR Trevita X-1 Concept berhenti didepan Hinata.
Hinata segera tahu siapa pemilik mobil mewah ini juga, dia adalah teman_juga orang yang ikut bersaing untuk mendapatkannya, entahlah siapa namanya. Walaupun kemarin sempat berinteraksi dengannya_saat di kantin, ia lupa menanyakan nama pria ini.
Dengan kacamata hitamnya, si pria yang masih didalam mobil melambaikan tangan, serta seulas senyum ceria menampakkan deretan gigi putihnya. Rambut kuningnya bergerak-gerak menyapu dahinya_terkena angin.
Cepat-cepat Hinata mengusap air matanya.
"Kau belum pulang, Hinata?" tanyanya.
"A-aku me-menunggu se-seseorang"
"Apa? Siapa?" sedikit terkejut, namun segera ia depak dari ekspresi wajahnya.
"Emb..." Hinata nampak berpikir lagi, mana Nii-san-nya?
BRUUMM...
Sebuah suara mobil yang sangat Hinata kenali dan ditunggu-tunggu, akhirnya datang.
"i-itu d-dia sudah datang" kata Hinata sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang baru saja datang, kemudian berhenti tepat didepan mobil temannya ini.
Terlihat sumringah Hinata saat mengetahui mobil tersebut sudah datang. Siapa dia? Pikir tsi jabrik kuning itu.
Seorang pria berambut coklat panjang, tampan dan dewasa keluar dari mobil tersebut. Kemudian berjalan mendekati Hinata dengan langkah kehormatannya.
"Siapa dia?" tanya pria itu datar.
"Dia temanku" jawab Hinata tanpa terbata-bata.
Teman Hinata yang terdiam seribu bahasa membelalakkan mata birunya. Hinata berbicara dengan laki-laki itu tanpa terbata-bata, 'Aneh', pikirnya.
"Ayo kita pulang" titah pria itu dan kemudian menarik tangan Hinata menuju mobilnya.
"A-aku duluan, Jaa!" pamit Hinata, yang kemudian dibalas dengan anggukan ringan dari teman berambut jabrik itu.
Setelahnya, pria yang diketahui bernama Naruto itu masih terbengong di mobilnya, ia hanya bisa memandang kepergian mobil hitam mewah yang membawa Hinata pergi, lalu memakai kacamata hitamnya lagi.
"Sial, ada saingan lagi rupanya" umpatnya.
Kemudian, Sulung Namikaze tersebut mengeluarkan ponsel hitam mengkilat disaku celana, mencari sebuah nama dari beberapa daftar nama, lalu menekan tombol call.
"Ya, bagaimana?"
"Sakura mencelakainya lagi?"
"Baguslah bila tak terjadi apa-apa, awasi terus Hinata dari Sakura, beri tahu aku secepatnya"
"Ya"
Tuutt tuutt...
Setelah percakapan telepon selesai, ia kemudian menjalankan mobilnya, melenggang pergi menjauh dari area kampus.
Ternyata, Naruto_pria yang juga ikut persaingan untuk mendapatkan Hinata, juga mengawasi Hinata dari kujauhan, ia tak ingin terjadi apa-apa dengan gadis incarannya karena ulah Sakura.
Sungguh pria yang perhatian.
Dari kejauhan pula, sepasang mata onyx melihat kejadian semuanya. Ia memang tahu kepiawaian teman-temannya menangkap wanita, tapi, sekali lagi ia tak mengira akan bersaing dengan teman-temannya sendiri.
Ia melepas nafas beratnya, menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskannya lagi.
Laki-laki ini yang diketahui bernama Sasuke itu, kemudian menjalankan mobil Mercedes-Benz SLR Mc. Laren 999 "Black Gold Dream"-nya.
.
.
"Kau harus berhati-hati ke semua laki-laki" kata Neji di dalam mobil.
Kepada semua laki-laki? Tak mustahil Neji selalu memperingatkannya tentang ini, berulang kali Neji meyerukan kalimat itu ketika Hinata sedang di hadapkan pada beberapa lelaki.
"Ya, termasuk Nii-san" cibir Hinata.
"..."
Ckiiitt…!
sreett...! suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan yang panas.
DUK
"Auw...!"
Rem mendadak Neji membuat Hinata mengaduh nyeri. Entah mengapa kesialan dicelakai orang sudah dua kali ini ia dapat dalam waktu kurang dari setengah jam. Menyebalkan.
"Apa maksudmu?" Neji sedikit membentak Hinata.
"Apa maksudku? Nii-san mengerem mendadak, kepalaku membentur kaca, sakit!" marah Hinata sambil memegangi jidatnya.
"Bukan! Perkataanmu yang tadi"
"Apa?" Hinata mengernyitkan dahi.
"Heh? Lupakan!" Neji menjadi kesal.
"Oh" Hinata sumringah setelah mengetahui maksud Nii-san-nya ini.
Sedikit lega menghampiri Neji karena Hinata kemudian mengerti maksudnya, jadi ia tak perlu susah payah untuk menjelaskan perkataannya.
"Nii-san bilang 'pada laki-laki', memang Neji Nii-san bukan laki-laki?"
Jawaban konyol, harusnya Neji tidak berpikir neko-neko tentang Hinata, dengan mengambil kesimpulan bahwa Hinata mengetahui perasaannya. Ya, itu tidak akan mungkin terjadi, karena Hinata menganggap Neji adalah kakaknya, ya, hanya kakak. Hanya kakak, Neji. Tidak lebih.
"Hn"
"Nii-san, kau kenapa?" tanya Hinata heran melihat perubahan sikap Neji.
"Tidak"
"..."
"Maaf, Nii-san menjemputmu terlambat. Nii-san ke toko kue dulu" kata Neji, mengalihkan pembicaraan.
"Makanlah, kau pasti lapar" lanjut Neji, berharap Hinata tak menganggap serius apa yang barusan mereka bicarakan, kemudian ia menjalankan mobilnya kembali menuju rumah mereka.
'Ada yang kau sembunyikan, Nii-san'
.
.
Di kediaman Uchiha...
Sasuke mengganti channel TV, tak sesuai? ia mengganti lagi, tak suka? ganti lagi, begitu seterusnya hingga...
Klip
TV-nya mati?
Tapi lampu ruangan menyala.
Sasuke memaksa menghidupkan TV tak bernyawa tersebut dengan remote yang bukan Tuhan. Memaksanya hidup dengan memencet tombol merah paling ujung atas kiri. Tanpa disadari, orang tak diundang duduk disampingnya.
"Daripada kau merusakkan TV itu, aku lebih memilih jaringan otakmu yang rusak"
"..."
"Karena jika TV itu rusak, tak akan ada hiburan, tapi kalau kau yang rusak, aku akan dengan mudah dapat mengeser posisimu di tingkat IQ no.1 di Klan Uchiha, Sasuke"
Sasuke mendenguskan sebalnya.
"Sejak kapan kau pulang, Baka Aniki?"
"Sejak tadi" jawab Itachi seraya menyeruput cappucino-nya.
"Oh ya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Baka Otoutou" lanjutnya.
Sasuke mengernyitkan dahi. Setahunya, jika kakaknya menanyakan sesuatu, pasti masalah kantor. Sasuke tahu. Pasti Itachi akan menanyakan bagaimana perkembangan perusahaanmu, bagaimana menyelesaikan ini, itu, bagaimana keuangan kita, dan bla-bla-bla-bla.
Bukankah dia yang lulusan master?
Tapi untuk saat ini Sasuke sedang tidak mood membicarakan itu, membahasnya apalagi.
"Ada murid baru dikampusmu?" tanya Itachi to the point.
Sasuke membelalakkan matanya. Perkiraannya salah.
Kampus? Baru kali ini Itachi menanyakan soal kampusnya.
Tapi, kenapa Itachi bisa tahu ada anak baru?
"Keluarga Hyuuga?" tebak Itachi sambil membuka sebuah majalah bisnis Uchiha.
"..."
"Seorang gadis belia?" lanjutnya dengan membolak-balikkan halaman majalahnya.
Sasuke semakin bingung dengan Itachi yang mendadak menjadi detective yang mengetahui alur cerita.
"Hyuuga Hinata?"
Sasuke menyambar majalah yang dipegang kakaknya.
"Darimana kau tahu? Dan apa urusanmu?"
"Informasi Hyuuga" jawab Itachi santai.
"Apa maksudmu?" Sasuke semakin tak mengerti.
"Detail perkembangan Hyuuga yang sekarang sedang melebarkan sayapnya di Konoha" kemudian menyodorkan map biru kepada Sasuke.
Sasuke membolak-balikkan kertas yang menyajikan data perusahaan Hyuuga. Dan ternyata ada hubungannya dengan perusahaan kan? Sasuke sedikit lega, mungkin tak akan ada hubungannya dengan Hinata. Berharaplah, Sasuke.
"Perusahaannya akan menjadi saingan kita disini"
"Lalu apa masalahmu? Apa yang kau khawatirkan? Keuangan kita seribu kali jauh lebih baik" kata Sasuke ketus.
"Dan apa maksudmu menanyakan Hinata padaku?" lanjut Sasuke.
Itachi mengambil posisi duduk berbeda dari sebelumnya. Menyandarkan bahunya di sofa berwarna hitam dan empuk, kemudian melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Hancurkan Hyuuga!"
"Apa?" sontak Sasuke kaget dengan keputusan Itachi. Mana mungkin ia harus menjatuhkan Hinata yang kini telah mengisi hatinya.
Sasuke berdiri dari duduknya.
"Aku menolak" tolak Sasuke.
Itachi menatap tajam adik semata wayangnya ini.
"Aku memintamu menghancurkannya, dan selanjutnya kita yang membangkitkan mereka, kau mengerti maksudku, Sasuke?" Itachi kesal dengan penolakan Sasuke.
"Urusan perusahaan tidak ada hubungannya dengan Hinata"
"..."
"Jika kau ingin jadi pebisnis handal, bersainglah dengan sehat, pecundang!"
Sasuke melangkahkan kakinya menjauhi Itachi.
"Kau menyukainya?"
Pertanyaan Itachi menghentikan langkah Sasuke.
"Tak ada hubungannya denganmu" jawab Sasuke dengan sedikit melirik Itachi dari ekor matanya. Kemudian melangkahkan kakinya lagi.
"Tentu ada" kata Itachi seraya berdiridari duduknya.
Langkah Sasuke terhenti lagi. Ia lalu menoleh ke arah Itachi. Pernyataan Itachi membuat ia harus menghadap ke arah lelaki berambut panjang itu.
"Apa maksudmu?" Sasuke menyipitkan mata onyx-nya.
"Kau akan bersaing denganku" jawab Itachi tegas.
Sasuke segera tahu maksudnya dan mengambil kesimpulan atas pernyataan kakaknya ini.
.
Itachi menginginkan Hinata.
.
Sebenarnya aura apa yang ada di tubuh Hinata, sehingga banyak orang menginginkannya? Termasuk Sasuke sendiri.
Hinata memang cantik melebihi bidadari surga, dan hal itu yang dirutuki Sasuke. Karena paras dan keanggunannya, ia harus bersaing dengan banyak orang, tak ujung sahabatnya bahkan kakaknya sendiri.
Kompetisi Cinta tingkat apa ini?
"Dan kau juga akan bersaing dengan adikmu" Sasuke sedikit menyunggingkan senyum devilnya.
"..."
"Selamat berjuang, Itachi!"
Dan Sasuke masuk kedalam kamarnya, menutup pintu dengan sedikit keras, hingga terdengar suara...
BLAM
"Kau lupa atau tidak tahu, Sasuke?" desis Itachi.
.
Pria raven yang tengah memasuki kamarnya, berjalan menuju tembok dengan yang terdapat poster besar seorang wanita.
Sasuke lelah menghadapi hari akhir-akhir ini. Pertemuan cinta, persaingan cinta dan terakhir, kehancuran Hyuuga?
Tunggu.
Apa?
Kehancuran Hyuuga?
"Oh, jadi itu alasannya" dengan senyum devilnya, Sasuke mengusap-usap kertas tebal itu.
Salah satu tangannya mengepalkan, kemudian ia hantamkan pada meja tak berdosa hingga beberapa barang harus terlonjak_kaget.
"Jadi, sebab Konan-nee tak pernah datang seminggu ini, karena?" Sasuke kembali tersenyum devil.
"Hn. Sayangnya, aku yang akan mendapatkannya, para peserta sekalian"
.
.
.
To be Continue
Hi...! aku update lagi. ^^
Sekali lagi, aku minta maaf atas semua kejelekan di ff saja ini. Aku memang gak pandai bikin kata-kata, tapi aku berusaha ngedit-ngedit buat nemuin kata-kata yang pas. Astaga...maklum, aku bukan jurusan bahasa *ngeles. Tapi segala masukannya, aku terima kasih banget.
Maaf, gak bisa bales repiuw-nya, dikarenakan waktu dan tempat telah menyempitkan saya *lihat jam tangan. Tapi udah aku baca kok ^^. Pokoknya terimakasih untuk semua masukannya. Saya akan lebih berusaha lagi. *capek sampean. Untuk Hilda-san, makasih banget yak, repiuw-mu sampe dua.
Untuk feel-nya, maaf kalo aku gak dapet *ngoret-ngoret tanah, soalnya aku-pun juga merasakan demikian, susah banget *suer. Tapi aku tetap berusaha kok.
Ketemu chap selanjutnya...jaaa...^^
