Love Competition
.
.
.
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, OOC, typo, language, etc.
Rate : M
DLDR/R&R
.
.
.
Chapter 5
"THE MEETING WITH"
.
.
.
Happy reading
.
.
.
ooOOOoo
.
Keesokan harinya...
Suasana kelas tenang, hanya ada suara pulpen yang gemerisik menggores diatas kertas putih. Ujung pulpen yang tajam menggambarkan deretan huruf-huruf yang diartikan sebagai jawaban atas lembaran disebelahnya.
Kenapa? Karena hari ini ada ulangan mendadak yang diberikan oleh Kurenai Sensei. Dosen senior dan berpengalaman itu tengah mengawasi para mahasiswa yang sibuk dengan lembaran mereka dari tempat duduknya, berharap akan kelancaran ulangan hari ini.
Sasuke juga terlihat tenang dan menikmati soal-soal yang berderet seperti makanan enak untuk disantap habis. Tangan kekarnya tak henti-hentinya menggoreskan jawaban diatas lembar jawab yang ada dihadapannya.
Hinata juga tampak diam dan menikmati kegiatannya. Namun, Tenten, teman sebelah bangku Hinata, ia tampak gusar. Mungkin soal-soal itu terlalu rumit untuknya.
Hening
Tak ada yang mampu bersuara.
Tiba-tiba, sebuah colekan kecil Hinata rasakan dipinggangnya. Saat ia menoleh, benar saja, Tenten menunjukkan tangannya. Menegakkan jari telunjuk dan jari tengah_membentuk huruf V, sedang yang lain ditekuk.
Hinata tau maksudnya. Tenten bertanya jawaban no.2.
Kembali Hinata melihat ke lembar jawabnya, berniat untuk melihat jawaban yang tertera disana. Karena ini bukan soal pilihan ganda, melainkan essay untuk mapel matematika bisnis, Hinata sedikit kesulitan bagaimana cara memberitahu Tenten.
Dan disaat Hinata akan menoleh, Kurenai sensei berjalan ke arah murid-muridnya. Alhasil, ia harus mengurungkan niat dosanya itu.
Tapi, kehendak hati yang terlalu empati, memaksa kepalanya untuk melihat kearah teman baiknya itu. Dan, benarkan. Tatapan temannya itu seperti memaksa dan memelas, ia tidak tega.
Tak apalah, demi segala kebaikan temannya itu, Hinata ingin membalas. Dan dengan tekadnya ia memaksa bergumam pada Tenten. Namun, karena tidak terlalu keras untuk diterima telinga Tenten, Hinata mencoba agak menaikkan suaranya. Sayangnya, tindakannya ini terlalu ceroboh. Sehingga...
"Hinata!"
"Eh?" Hinata menoleh kesumber suara.
Seluruh murid kelas itu menoleh ke arahnya.
"Sedang apa kau?"
"T-t-tidak, Ku-Kurenai sensei" jawab Hinata takut-takut.
"Lalu?"
"E-eto" Hinata gelagapan mencari alasan, kedua telunjuknya berputar-putar_ia mainkan didepan dadanya. Tanda ia sudah terpojok.
Tiba-tiba Kurenai mengambil kertas jawaban Hinata.
"Kau keluar sekarang, nona Hyuuga!"
Hinata mendongakkan wajahnya menatap senseinya itu. Kurenai sensei berjalan menjauh dan kembali ke tempatnya tadi.
"Hyuuga" ulang Kurenei Sensei menyebut nama keluarga Hinata.
"I-iya"
Hinata berdiri dari tempat duduknya, menoleh sesaat ke arah Tenten. Dilihatnya Tenten sedih dan menyesal membuat Hinata dihukum dosennya, namun Hinata tersenyum hambar menandakan dirinya baik-baik saja.
Hinata keluar dari kelasnya. Menutup pintu yang besar dan menjulang tinggi setelah berada di luar kelas. Sebenarnya terasa sangat disayangkan, hanya kurang beberapa soal lagi ia akan selesai mengerjakan seluruh soal itu, tapi tak apalah, itu memang kesalahannya.
Gadis Hyuuga itu berjalan mengikuti lorong kosong dan lurus tak berkehidupan karena memang belum saatnya istirahat, ia tak tahu harus kemana sekarang, walaupun hari ini masih pagi, entah mengapa kampus besar ini sangat sepi saat jam pelajaran mulai. Tapi sepertinya keheningan lebih baik daripada suasana yang berisik.
Ngomong-ngomong soal keheningan, sepertinya Hinata mulai memikirkan suatu tempat yang sesuai dengan definisi tersebut. Akhirnya, ia-pun memutuskan pergi ke perpustakaan.
Sesampainya di gudang yang penuh dengan buku-buku itu, Hinata membuka pintu masuk dan melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam ruangan megah yang didesain dengan gaya eropa klasik. Terlihat disana hanya beberapa orang yang tengah membaca sembari duduk dibangku, serta beberapa orang yang sedang mencari sesuatu diantara rak-rak yang tingginya mencapai 5 meter.
Hinata menerima sapaan dari penjaga perpustakaan tersebut dan demi kesopanan ia membalas dengan senyum manis yang ia punya.
Gadis keturunan Hyuuga itu sempat berpikir jika nanti ia akan dijahili lagi oleh seseorang, tapi sepertinya ia harus berpikir ulang, bahwa tempat yang hampir seluas dunia masih ada orang yang baik. Contohnya, perpustakaan ini, semua orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, tak ada tatapan tajam dan sinis yang mereka berikan. Berbeda dengan kantin minggu lalu. Apa karena makanan mereka berbeda-kah? Makanan otak vs makanan perut.
Hinata berjalan diantara beberapa rak buku, mata peraknya meneliti beberapa buku yang berjajar rapi, deretan buku dengan berbagai judul memusingkan otaknya untuk memilih yang mana. Tiba-tiba matanya berhenti di sebuah judul yang menarik.
"The Secret of Love" eja Hinata. Kemudian ia menarik buku itu dari barisannya.
Setelah mendapatkan yang ia inginkan, Hinata mengambil tempat duduk nyaman untuk segera membaca buku itu.
Namun, ada seseorang yang tiba-tiba duduk didepannya.
.
.
Sasuke melihat Hinata telah menutup pintu kelas, ingin sekali Sasuke menyusul Hinata_waktu yang tepat untuk berdua dengan gadis itu. Sayang sekali, Sasuke masih terlalu gengsi untuk menunjukkan bahwa ia menginginkan Hinata, padahal ini adalah waktu yang tepat, ditambah lagi dengan ia telah selesai mengerjakan ulangannya. Kesempatan Hinata yang sendirian itu jarang sekali bukan? Ayolah, Sasuke. Apa yang kau tunggu?
SREKK
Tiba-tiba tubuhnya berdiri dengan sendirinya. Astaga, apa yang terjadi?
Seluruh mata tertuju pada Sasuke yang menggeser kursinya mundur.
Sasuke, sepertinya tubuhmu sudah diluar kendali otakmu. Otot-otot tubuhnya bergerak sendiri.
Tapi otak jenius itu masih bisa diajak kerjasama. Ikuti kata hati.
Sasuke berjalan dengan membawa kertas jawabannya. Ia melangkahkan kakinya ringan dan meletakkan lembar jawab beserta soal di hadapan Kurenai Sensei. Dan hal itu dihadapi dengan senyum ramah dari sensei cantik itu. Tak mengapa, karena Kurenai dapat menduga bahwa keturunan Uchiha itu IQ-nya diatas rata-rata.
Sasuke kembali berjalan tanpa menoleh ke yang lain, kedua tangannya ia masukkan kesaku jasnya, terlihat santai dan tak menghiraukan keadaan sekitar, padahal ada satu maksud tertentu. Berkebalikan dengan Sai serta Naruto, sepertinya mereka tahu tujuan kawannya itu.
Sasuke membuka pintu keluar, melangkahkan kaki jenjangnya keluar ruangan kelas dan segera menutup pintu. Udara yang sesak karena sempat bergelut dengan soal-soal yang memeras otak kini tergantikan dengan segarnya udara luar ruangan.
Kembali ia harus fokus pada tujuan utama.
Mata onyxsnya menyala ketika menemukan seseorang yang ia cari kini tengah berjalan kearah koridor kiri_Hinata. Tanpa berniat memanggilnya, Sasuke mengikuti Hinata yang sedang berjalan sendiri memunggunginya.
Sasuke terus melangkahkan kakinya untuk mengikuti Hinata, kedua bola matanya tak bisa ia alihkan dari sosok wanita itu. Entah magnet apa yang menghisap seluruh pandangannya dan pikiran jenius Sasuke. Seluruh langkah kaki seakan melayang tak berpijak dengan lantai. Sasuke dapat membenarkan perkataan orang yang tengah jatuh cinta, dunia milik berdua, dan sekarang Sasuke dapat mengambil kesimpulan itu, tak hanya dunia milik mereka tapi karena didunia itu hanya ada mereka saja.
Perpustakaan?
Andaikan saja Hinata membawanya kesebuah kamar. Astaga, apa yang kau pikirkan? Sasuke menggelengkan kepalanya, berusaha menolak pikiran mesum yang tiba-tiba hinggap diotak jeniusnya.
Apa Hinata tak menyadari kehadiran Sasuke?
Sasuke mengamati segala gerak Hinata. Lunglai, lembut dan sederhana.
Hinata terlihat sangat anggun, tipikal bidadari yang tengah mengisi hati si bungsu Uchiha. Entah karena paras wajah yang teduh atau apa, yang jelas bagi Sasuke, Hinata adalah sempurna. Belum pernah dia menemukan wanita seperti Hinata, Sasuke dapat merasakan perasaan yang kuat bahwa Hinata sangat jauh berbeda dengan yang lain. Dan Sasuke menyadari pula, saingan untuk mendapatkan Hinata juga tak biasa_kakak dan kawan sendiri.
Tapi, ia akan menjadi pemenang.
"Apapun caranya, dengan melawan cara apapun" pikir Sasuke.
Dilihatnya Hinata duduk dikursi sudut ruangan. Tanpa menyia-nyiakan waktu Sasuke-pun berjalan menghampiri Hinata, menarik kursi didepan Hinata dan segera duduk dan membuka buku yang ia ambil asal tadi, sekedar basa-basi.
Hinata yang menyadari akan kehadiran seseorang, mendongakkan kepalanya, dan menemukan orang yang minggu lalu menanyakan umurnya. Entah siapa namanya, ia tak tahu, tak kenal dan tak mau tahu.
Hinata memilih diam dan kembali menatap buku yang ia pegang, serasa buku itu lebih menarik dari pria itu.
Hening.
"Kurasa saat kau bersama Sai kau menanggapinya. Jangan salah sangka, aku kemari hanya ingin menagih hutangmu" Sasuke membuka pembicaraan.
"..." Hinata memandang Sasuke sekilas.
"..."
"Ma-maaf, ku-kurasa a-aku tidak punya hutang dengan si-siapapun" akhirnya Hinata membuka suaranya.
"Pertanyaanku minggu lalu"
Minggu lalu?
Apa?
Hinata mulai mengingat-ingat. Yah, walau akhirnya ia ingat juga.
Kau sudah punya pacar?
Sejak kapan pertanyaan yang belum dijawab bisa jadi hutang? Padahal Hinata tak pernah menjanjikan apapun.
"I-itu tidak penting" tukas Hinata yang seolah tak menyukai pembicaraan ini.
"Penting bagiku. Dan aku tidak meminta pertanyaan balik darimu"
Sasuke dibuat kesal. Tak pernah sekalipun dalam umurnya ia dibantah, apalagi oleh seorang wanita.
Hinata melepas nafas jengkelnya. Entah wahyu Tuhan darimana tiba-tiba ia dapat mengambil kesimpulan bahwa lelaki ini egois, segala yang ia minta harus terpenuhi. Memang dia siapa? Dasar orang yang otoriter.
"Ti-tidak ada"
Sasuke sedikit menyunggingkan senyum. Sedikit.
"A-ada lagi?" Kata Hinata sambil menoleh ke arah Sasuke yang menatapnya dengan menyatukan jemari di depan wajah, sedangkan sikunya sebagai penopang tangan pada meja perpustakaan.
"Hn"
"Ka-kau hanya bergumam, e..."
Hinata tak meneruskan perkataannya, ia tak tahu nama pria didepannya.
"Sasuke" kata Sasuke.
"Oh, Sa-Sasuke-san?" Hinata melanjutkan perkataannya.
Jadi dia yang namanya Sasuke, pikir Hinata. Lumayan tampan, pantas saja wanita yang bernama Sakura menggilainya.
"Cukup itu pertanyaanku. Satu hal lagi, tak kusangka seorang Hyuuga yang meminta perkenalan terlebih dahulu denganku, tapi memang seharusnya begitu" kata Sasuke seraya menutup buku yang ia pegang.
"..."
Kesimpulan dari Sasuke, pria coklat kemarin bukan pacar Hinata.
Kesempatannya terbuka lebar.
Sasuke berdiri dari duduknya, kemudian segera melangkahkan kaki menjauhi Hinata.
Hinata yang tak mengerti maksud Sasuke terus memandangi kepergian Sasuke hingga pintu perpustakaan ditutup oleh pria yang bernama Sasuke itu.
Apa-apaan dia? Bukankah kemarin pria itu juga ikut bersaing untuk mendapatkannya. Apa pria itu tak menyukai dirinya? Atau ini hanya permainannya saja?
"Jadi dia hanya ingin bermain-main saja? Huh, memang ini permainan, Hinata" gumam Hinata sendiri
.
.
Hari berikutnya...
Hinata berdiri didepan pintu lokernya. Suasana kelas masih sunyi karena mungkin terlalu pagi untuk datang kesekolah. Ia membuka pintu loker tersebut untuk mengambil beberapa buku yang dianggap sebagai pelajaran hari ini. Namun, ia seperti merasakan sesuatu yang janggal, sesuatu yang seperti sebuah amplop kecil menempel dibalik pintu lokernya. Segera saja ia mengambil surat itu dan membuka lipatannya.
"Kutunggu kau di lapangan basket indoor sepulang kuliah, Hinata."
From: Naruto
Singkat, padat dan jelas tulisan tangan yang dibuat Naruto.
"N-Naruto" gumam Hinata.
Samar-samar seseorang dibalik tembok mendengar gumaman Hinata.
.
.
Saat jam pulang sudah tiba, tampak Naruto memainkan bola basket di lapangan basket indoor ditemani seorang gadis yang berdiri di pinggir garis.
Beberapa kali Naruto memasukkan bola ke basketnya. Karena memang terlalu mahir didunia olahraga, nyaris bola basket tersebut tak pernah absen masuk ke keranjangnya.
DANGGG!
Bola basket itu kembali masuk dan lolos meluncur jatuh ke lantai. Dengan sangat lihai, kedua tangan Naruto segera menangkap benda bundar tersebut setelah bola itu memantul beberapa kali.
"Kau yakin, Sakura?" suara Naruto memulai percakapan.
"Aku yakin dia akan datang, aku sudah menulis surat kecil untuknya" jawab wanita pink itu.
"Kurasa dia bukan wanita yang mudah dipaksa, apalagi aku baru mengenalnya." lanjut Naruto tak yakin. Tangan tan-nya sibuk memainkan bola basket dengan memantulkannya ke lantai.
"Kau hanya butuh pengakuannya, ia menjawab mau menjadi pacarmu dan itu selesai" jelas Sakura berusaha meyakinkan Naruto.
"Dan kau yakin Sasuke akan menerimamu setelah ini?" tanya Naruto yang kemudian siap melempar bola basket ke keranjangnya.
"Laki-laki hanya takluk pada pesona"
DAAANNGGG! Naruto kemballi berhasil mencapai ring basket. Ia kemudian mengambil bola itu lagi.
"Kurasa Sasuke bukan tipe seperti itu" tukas Naruto seraya mengambil ancang-ancang untuk melempar bola lagi.
"Jika dia tidak seperti itu, ia tak mungkin menyukai gadis Hyuuga itu" suara Sakura seakan berat saat menyebut nama Hyuuga.
"Dan bila rencanamu gagal?"
DAAANNGG!
"Ahh, sial! Kenapa tidak masuk? Andai Gai-sensei melihat, aku akan dihukum 100 kali sit up" gerutu Naruto karena gagal memasukkan bolanya.
"Aku akan membuat Sasuke tak bisa meninggalkanku"
"Dengan cara? Oh, tidak perlu kau menjelaskan, aku sudah tahu maksudmu" kata Naruto seraya memungut bola yang telah gagal tadi.
Mungkin Sakura akan memaksa Sasuke untuk tidur dengannya dan setelah itu Sasuke harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Cara kuno. Sebenarnya Naruto tak yakin Sasuke akan terjebak, mustahil sekali, bahkan mungkin Sasuke bisa membalikkan fakta. Manusia tingkat Dewa Iblis memang Sasuke baginya.
"Kau salah, Naruto. Aku sudah biasa tidur dengan Sasuke, tidak hanya kau."
Naruto mengernyitkan dahinya. Sakura membaca pikirannya? Tidak? Firasat itu pasti ada.
"Karena aku akan menggunakan Hinata sebagai tawananku"
Naruto bersiap melempar bolanya.
"Jangan pernah kau sakiti Hinata!"
DAANNGG! Bola kembali masuk.
"Oh, kau takut sekali aku akan menyakitinya. Tenang saja, selama dia juga tak melawanku"
"Jika hal seperti di kantin minggu lalu serta di halte bus kau ulangi lagi. Aku tak akan memaafkanmu."
Naruto kembali mengambil bola basket yang memantul ke arahnya.
"Tenang saja, aku akan selalu was-was, karena Lee dan Kiba selalu mengawasiku kan?" kata Sakura.
Berdebat dengan wanita ini memang tak ada habisnya, dan ending-nya mesti Naruto yang kalah.
"Bagaimana bila kita berdua tak mendapatkan mereka?" Tanya Naruto.
Sakura nampak berpikir sejenak.
.
"Kau harus menggantikan Sasuke, dan aku akan menggantikan Hinata."
.
Naruto mendengus.
"Pelarian!" sindir Naruto seraya memasukkan kembali bolanya.
Narutopun juga tak yakin dengan kemenangannya atas Sasuke untuk mendapatkan Hinata, mungkin Sai masih bisa dikompromi, tapi Sasuke? Sudahlah, ia hanya butuh keoptimisan.
Sakura berjalan mengambil bola yang tadi dilempar Naruto, kemudian menyodorkan bola itu kehadapan kawan kelasnya itu.
"Terima kasih atas pujianmu, Naruto. Aku harus pergi, sepertinya ada yang datang"
CUP
Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir pewaris tunggal Namikaze.
"Aku akan meminta lebih setelah ini, Sakura."
"Kutunggu di tempat biasa" jawab Sakura seraya mengedipkan matanya, kemudian berjalan menjauhi Naruto yang berdiri sendirian.
Tak lama kemudian, Naruto mandengar langkah kaki. Tanpa disangka orang yang ia tunggupun datang, Hinata.
Dengan kemeja putih tulang yang bagian bawahnya dimasukkan kedalam rok cream yang panjangnya selutut, sepatu ballerina cream yang pas dikaki putihnya yang melebihi putihnya salju, rambut ungu gelap yang diikat kuda, keanggunan gadis indigo ini tak mampu dikalahkan, tentunya menambah pula daya tarik Naruto.
"Ka-kau yang bernama Na-Naruto?"
Raut mukanya yang memerah, membuatnya tampak lebih cantik dari bidadari surga.
"Hm, memang ada siapa lagi disini selain aku."
"Go-gomen, a-ada apa kau memanggilku?"
Astaga. Tak bisakah Hinata basa-basi sedikit saja. Naruto tak bisa langsung menyatakan cinta kan?
"Hanya untuk menemaniku sebentar, kau tidak keberatan kan?" jawab Naruto sekenanya, karena ia juga bingung harus beralasan apa.
"A-aku harus pulang cepat, Na-Naruto, kalau tidak Nii-san akan mencariku"
"Oh, jadi yang kemarin itu Nii-sanmu? Tak apa, Hinata, aku akan mengantarmu pulang" jawabnya santai.
Hinata merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya jika ia terus bersama dengan orang ini.
"Go-gomen, ji-jika tak ada perlu a-aku harus pergi sekarang"
SETT…!
Sebelum Hinata melangkahkan kakinya, tangan Naruto menangkap pergelangan tangan kanan Hinata untuk tidak beranjak dari tempatnya. Hinata menoleh pada Naruto, memandang mata biru-nya, menangkap jelas maksud Naruto bahwa laki-laki didepannya itu menginginkan dirinya.
"Aku menyukaimu, Hinata!"
Keadaan memaksa Naruto harus mengatakan itu.
Blush
Wajah Hinata menjadi merah memalu. Secepat inikah?
"Ma-maaf, a-aku harus pulang sekarang" kata Hinata dengan sedikit rontaan untuk melepas tangan Naruto dipergelangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"K-kau tidak menanyakan sesuatu?"
Hinata mencari alasan.
"Maksudku, apa kau mau menjadi pacarku?"
"..."
"..."
"..."
"Hinata?"
"Ma-maaf, a-aku tidak menyukaimu"
"..." Naruto membelalakkan matanya. Kaget?
Tak percaya?
Apa?
Sejak kapan ada wanita tak menyukainya? Bahkan seorang Sakurapun sempat menyukainya walau wanita Ruby itu lebih menyukai Sasuke.
"Apa maksudmu? Apa yang kurang dari diriku, Hime? Aku kaya, aku terkenal, aku punya segalanya, kau tak tertarik denganku sedikitpun? Lucu" kata Naruto dengan sedikit terkikik tak percaya.
"Go-gomen"
DUNG!
Naruto membanting bola basketnya ke lantai.
"Bagaimana kalau aku memaksamu? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu. Kau akan jatuh dipelukanku" kata Naruto dengan sedikit ada kemarahan di dirinya.
"G-gomen, Nii-san sudah menungguku"
Hinata melepas paksa pegangan Naruto, dan cepat-cepat ia berlari dari ruangan itu, meninggalkan Naruto yang berdiri menjadi patung.
"Aku benar-benar ditolak wanita? Huh, tapi persaingan belum selesai" desis Naruto.
Tanpa disadari, sepasang mata onyxs memperhatikan seluruh kejadian sejak tadi, bahkan sebelum Hinata datang. Ia menyerigai puas dengan apa yang ia lihat tadi.
.
Hinata berlari di koridor deretan ruang untuk sampai di pintu keluar. Sesampainya diambang pintu, sebuah suara perempuan mengagetkannya.
"Hyuuga!"
Sebuah panggilan menghentikan langkah kakinya.
Hinata menengok ke belakang. Tampak wanita dengan rambut pink dengan setelan jas berwarna pink pula keluar dari sebuah ruangan.
Sakura
Orang yang sengaja menabraknya kemarin.
"Kuperingatkan padamu, Sasuke tak mungkin mencintaimu. Jadi, jangan bertindak leluasa seolah kau menghindarinya" kata Sakura dengan menunjuk-nunjuk bahu Hinata.
"..."
"Kutegaskan sekali lagi, Sasuke adalah milikku, dia mencintaiku, tidak mencintaimu, kau mengerti?"
Apakah harus saat ini Hinata akan membalas perbuatan Sakura kemarin? Dengan menatap lantai yang ia pijak, Hinata memberanikan diri melawan kelemahannya.
"Be-begitu-kah? Ka-kalau Sasuke tak mencintaiku, ba-bagaimana jika ku buat dia mencintaiku?" kata Hinata tanpa melirik ke arah Sakura.
Sakura membelalakkan mata rubynya. Tak disangka wanita yang ia kira lemah, mampu mengancamnya seperti ini.
"Jika kau bertindak seperti itu, kau akan berhadapan denganku" ancam Sakura. Lalu berjalan kearah mobil pink-nya. Kemudian menjalankan mobil itu meninggalkan Hinata sendiri di tangga keluar gedung.
Hinata tak peduli. Ia hanya memandang kepergian mobil Sakura dengan pandangan tak berartinya.
"PROKK! PROKK! PROKK!"
Terdengar seseorang sedang bertepuk tangan, untuknya. Hinata menoleh.
Sasuke?
"Hn. Jadi kau ingin berjuang mendapatkanku?"
Hinata memerah ria.
"Ja-jangan terlalu senang Sa-Sasuke-san. A-aku hanya ingin membalas wanita itu saja" kata Hinata dengan memalingkan wajahnya.
"Oh, ya? Kalau begitu, aku tak akan mudah untuk kau dapatkan, Hime" kata Sasuke dengan serigainya.
"Dan aku tak akan mudah kau dapatkan pula, Sa-Sasuke-san" masih enggan menatap Sasuke.
Perasaan malu mendera Hinata.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita bekerjasama? Aku mendapatkanmu dan kau mendapatkanku. Hm?" dengan serigainya, Sasuke berjalan kearah Hinata.
"A-aku tak serius dengan ucapanku pada Sakura. Lupakanlah!" jawab Hinata kemudian melenggangkan kaki jenjangnya menuruni tangga gedung.
Tinggalah seorang Sasuke yang berdiri sendiri diujung koridor sekolah.
"Aku tak akan lupa"
.
Love Competition
.
Kriinnggg kriiinnngg…!
Cklekk
"Moshi-mohi"
_"Hyuuga Neji, bisakah kita bertemu?"_
"Kau siapa? Dan apa tujuanmu?"
_"Aku Uchiha Itachi. Ini berhubungan dengan bisnis anda"_
"I-ITACHI?"
_"Hn. Anda masih mengingatku? Bagus. Ku tunggu kau di Resto Uchiha sekarang"_
TUUUTT…TUUTTT…
Neji berdiri dari kursi direkturnya.
"Hei, tunggu! Hei...!"
BRAKK...! Neji meletakkan ganggang telepon dengan kasar.
"Sial, mau apa lagi Uchiha itu?"
.
.
.
To be Continue
spesial thanks to: shinta-chan, guest, nakano matsumi, bica, ashumy, jasmine, akira, hinata uchiha69, the trouble, hinataholic, liu, kirigaya, ariefafelov, , rainhug, luluk minam, himenaina, hirano, samael, anita, ookami, guest, n, ryuuke, n, mint convallaris, me, sherinaru, siska, yamanaka emo, syuchi, anita indah, Hilda, saitou, kirei, sman1rhlovmhpxuztad, hakerius, sasu'ia'hina, snhindigohime, indigolavenderwhite, hana, anna, ailla, dwt, amu, and para readers sekalian.
Gomenne atas segala salah yang ada, aku yakin diatas masih banyak kesalahan.
Semua cerita diatas hanyalah fiktif belaka, ide murni dari pikiran saya semata.
Gomenne juga gak bisa bales satu-satu, tapi aku sangat berterima kasih atas semua masukannya. *bungkuk-bungkuk.
Astaga, aku kehilangan semua file, readers sekalian, so aku ulang lagi nih ngetiknya. Padahal aku udah hampir putus asa, aku gak mau ngelanjutin fic ini. Tapi, berhubung aku juga reader disini, waktu baca fic yang gak dilanjutin kayaknya sayang banget. Yaudah, aku ngetik ulang, padahal kemarin kerangkanya sampe belasan. Huhf…*ngelap keringat, capek hati dan tenaga. Tapi gak apa-apa, aku update ff gaje ini termasuk kesenangan hati saya juga. Bwahahahaha…..*ketawa garing.
Ok. Sekian kicauan dari saya.
Akhir kata, saya ucapkan Arigatou Gozaimassu…..^^
