Love Competition
.
.
.
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance & Drama
Warning : AU, OOC, typo, language, etc.
Rate : M
DLDR/R&R
.
.
.
Chapter 6
" Sa-Sasuke?"
.
.
.
Happy reading
.
.
.
ooOOOoo
.
Kriinnggg kriiinnngg…!
Cklekk
"Moshi-moshi"
_"Hyuuga Neji, bisakah kita bertemu?"_
"Kau siapa? Dan apa tujuanmu?"
_"Aku Uchiha Itachi. Ini berhubungan dengan bisnis anda"_
"I-ITACHI?"
_"Hn. Anda masih mengingatku? Bagus. Ku tunggu kau di Resto Uchiha sekarang"_
TUUUTT…TUUTTT…
Neji berdiri dari kursi direkturnya.
"Hei, tunggu! Hei...!"
BRAKK...! Neji meletakkan ganggang telepon dengan kasar.
"Sial, mau apa lagi Uchiha itu?"
Uchiha. Siapa yang tak kenal nama itu? Perusahaan keluarga yang menduduki tingkat perdagangan dunia dan hampir memonopoli seluruh obligasi dari segala bentuk perusahaan internasional. Haruskah Neji berurusan dengan mereka lagi?
Sebenarnya, inilah tujuan dari Hyuuga Hiashi membuka cabang di Konoha. Ia ingin melampaui Uchiha, melihat segala bentuk perkembangan perusahaan raksasa ini dari titik pusatnya. Karena itu, ia menyuruh Hinata untuk segera mengatur perusahaan ayahnya di Konoha.
Neji menghembuskan nafas letihnya, kembali duduk dan menyandarkan kepala yang tiba-tiba terasa nyeri sekali. Haruskah ia menemui Uchiha itu sekarang?
Tunggu dulu?
Bisnis? Uchiha sulung itu mengatakan urusan bisnis?
Tak ada alasan untuk menolak, kalau berhubungan dengan perusahaan tak ada alasan untuk menolaknya. Segera Neji mengetik nomor yang sudah ia hafal, kemudian menekan tombol call.
"Moshi-moshi, Hinata?"
_"Iya. Nii-san, dimana?"_
"Gomen, Hinata. Aku tak bisa menjemputmu hari ini. Aku ada urusan penting"
_"Oh, baiklah. Aku akan naik taksi saja"_
Perasaan bersalah dan melewatkan waktu bersama Hinata terasa sangat menyedihkan.
"Hati-hati"
_"Tentu. Jaa, Nii-san"_
Piipp piipp
.
.
CLEKK
Sebuah pistol berjenis F2000 Assault rifle dipersiapkan oleh seorang pria berjubah hitam yang tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.
"Aku tahu. Persiapkan semua. Atur rencanamu, karena aku yang akan membunuh perdana mentri itu. Lakukan sekarang!"
_"Bagaimana denganmu?"_
"Aku akan segera sampai"
BET
Pistol berwarna hitam tersebut kembali masuk dalam saku jas hitamnya.
Setelahnya hanya terdengar langkah kaki yang menjauh dari tempat semula.
"Si-siapa? Pe-perdana me-mentri? Bu-bunuh?" suara seorang gadis yang tidak sengaja mendengar perbincangan laki-laki dibalik dinding koridor terdengar mencicit seperti tikus, dengan wajah horornya terduduk lemah di lantai dengan mencerna setiap kalimat yang diucapkan pria tadi.
.
.
"Huh, kenapa Nii-san tidak bilang dari tadi?" gerutu Hinata di halte pemberhentian bus.
Sudah hampir 15 menit Hinata menunggu bus tapi sayangnya tidak ada satupun yang lewat.
"Hinata?"
"…?" Hinata kaget dengan sapaan tiba-tiba dari seseorang.
Sosok perempuan berlari menghampirinya. Hinata kenal orang itu.
"Kau belum pulang?" Tanya si wanita yang sangat dikenal Hinata tersebut.
"I-iya. Te-Tenten-san sendiri kenapa belum pulang?"
"Ano, itu, aku dapat soal remedi dari Kurenai sensei karena ulangan kemarin"
"Um" Hinata hanya mengangguk mengerti.
"Hinata, kudengar kau sedang jadi target taruhan Sasuke, Naruto dan Sai? Apa itu benar?" nada bicara Tenten menjadi serius.
GLEKK
Gadis Hyuuga itu dibuat bingung dengan pertanyaan Tenten barusan. Hinata benci membahas soal itu.
"Ke-kenapa Te-Tenten-san bertanya soal itu?"
"Karena aku akan membantumu menentukan pilihan. Sebagai pertimbangan, Hinata"
Sepertinya Hinata akan dapat sebuah informasi baru, atau malah masalah baru yang harus ia renungi seperti kemarin di halte ini pula?
"Ma-maksudnya?" Hinata pura-pura tak mengerti arah pembicaraan Tenten. Memang ia tak mengerti.
"Begini. Kalau kau memilih Sai, ia seorang jutawan, tampan dan pintar. Memiliki usaha bisnis bar terbesar di Konoha. Dia juga seniman. Kau tahu, Sai itu pandai melukis."
"Um" Hinata mengerti.
"Naruto. Naruto adalah penerus tunggal Namikaze. Ltd., pemilik saham terbesar di bidang ekspor produk Konoha. Ia juga tampan, keren pula. Naruto pandai dalam urusan olahraga, terutama basket. Kau tahu, jika kau menjadi kekasih Naruto, kau akan aman selalu bersamanya, karena ia ahli bela diri."
"Um" Hinata tersenyum menanggapi semua penjelasan temannya ini.
"Kalau Sasuke..." Tenten memotong perkataannya.
"..." Hinata terdiam, senyum yang mengembang tadi tergantikan dengan aura penasaran.
"Dia adalah bungsu pemilik perusahaan dunia. Kekayaannya mampu membeli setengah dari dunia ini. Tapi…."
"Ta-tapi?" Hinata penasaran.
Tenten menatap Hinata dengan pandangan sendunya.
"Kuharap kau tak akan pernah memilihnya." lanjut Tenten dengan wajah masam.
Hinata terdiam. Apa maksud dari perkataan Tenten ini?
"Aku sempat menyukainya" jujur Tenten.
Oh, jadi itu alasannya?
"Bukan itu alasannya, Hinata?"
Hinata kembali membisu. Kalau bukan itu, lalu apa?
"Ka-kalau kau menyukainya, ti-tidak apa-apa. A-aku tidak menyukai Sa-Sasuke-san." Kata Hinata
Entah mengapa pandangan Tenten berubah menjadi sendu.
"Sebenarnya, kau wanita yang beruntung, Hinata."
"…"
Hinata semakin tak mengerti arah pembicaraan teman sekelasnya ini.
"Ini untuk pertama kali dalam 22 tahun Sasuke hidup ada yang mampu menarik hatinya. Yaitu, kau, Hyuuga Hinata" kata Tenten dengan senyum terindahnya.
"E-eh?"
"Bersyukurlah!" Tenten berujar.
Bersyukur dalam hal apa? Tak ada yang dibanggakan
"Perasaanku pupus juga saat mendengar ia ingin mendapatkanmu" kata Tenten.
Sedikit rasa bersalah hinggap perasaan gadis Hyuuga itu.
"Oh, go-gomen. Tapi, a-aku tidak menyukai Sa-Sasuke-san."
Tenten menarik nafas dalam-dalam.
"Tapi Sasuke menyukaimu. Sudahlah, aku juga sudah tak berniat ingin mendapatkannya"
"Ke-kenapa?" Hinata mengernyitkan dahi.
Hancur sudah harapan Hinata untuk melarikan diri.
"Karena kemarin aku bertemu dengan laki-laki tampan, memiliki mata sepertimu. Ukh, aku ingin mendapatkan laki-laki itu" seru Tenten menjadi semangat.
"Nii-san?" batin Hinata.
"Ka-kau melihatnya dimana?" Tanya Hinata penasaran.
"Kemarin dia ke toko kueku" jawab Tenten wajahnya yang memerah.
Hinata menyunggingkan senyum. Jadi roti yang kemarin dibeli Nii-sannya adalah dari toko kue milik Tenten.
"TAKSI!" teriak Tenten
"Hinata, aku pulang dulu. Kau juga cepatlah pulang, ada taksi dibelakang sana, Jaa!" seru Tenten seraya melambaikan tangannya.
"Pikirkan lagi keputusanmu!" bisikTenten sebelum masuk kedalam taksi tersebut.
Mobil berwarna putih itupun berlalu meninggalkan Hinata sendiri.
.
.
Disebuah restoran bergaya Italia klasik, duduk 2 orang laki-laki tampan di sebelah jendela besar. Mereka hanya terdiam menikmati suguhan kopi hangat yang terdapat dimeja bundar itu.
"Ada urusan apa lagi anda memanggilku?" Neji membuka pembicaraan.
"Hn. Kau memang laki-laki yang tidak bisa mengulur waktu. Padahal aku masih ingin berlama-lama menikmati reuni kecil-kecilan kita. Baiklah, aku akan langsung ke tujuan utamaku" jawab Itachi.
Neji menatap intens lelaki berwibawa didepannya. Semoga saja hal yang tidak ia inginkan tidak terjadi. Untuk sekedar mengalihkan kegugupannya ia menyesap kopi berbau Arabica tersebut, lagi.
.
"Aku menginginkan sepupumu"
.
"Ppffftt!" Neji nyaris tersedak mendengar penuturan Itachi.
"APA?"
Bahkan ini lebih buruk dari perkiraannya.
"Apa aku kurang jelas?"
"Tidak bisa!" jawab Neji tegas.
"Kalau begitu, aku akan menghancurkan perusahaanmu. Kau tahu kekuatan Uchiha, kan? Aku yakin seorang pebisnis handal sepertimu pasti mengenal seorang Uchiha. Bukankah kau sudah bermain dengan Uchiha, Neji Hyuuga?"
Astaga. Bahkan yang sempat ditakutkanpun juga menjadi kenyataan.
"Kau ingin sepupuku atau menghancurkan perusahaanku?"
"Tujuan utamaku adalah Hinata. Tapi jika itu tak tercapai, aku akan menggunakan cara lama untuk mendapatkannya. Kau mengerti?"
"Pecundang!" ejek Neji sakartis.
"Aku tahu. Adikku juga bilang begitu. Tapi, sainganku adalah adik kandungku sendiri kau tahu? Jadi, aku tak masalah dibilang pecundang hanya untuk mendapatkan seorang Hime" jawab Itachi dengan tampang datarnya.
"Siapa adik kandungmu?"
"Hn. Kau pasti akan kaget bila mendengarnya"
"..."
"Uchiha Sasuke"
"Apa?" Neji membelalakkan matanya.
"Kenapa? Kau mengenalnya? Ya, dia adalah manusia setengah iblis. Sudah berapa banyak nyawa melayang ditangannya. Jadi, kau mau bekerja sama denganku?"
"Kau ingin menghancurkan adikmu?" Tanya Neji.
"Tidak. Tapi aku ingin menang darinya."
"Dengan cara kau ingin menghancurkan perusahaan Hinata?" Tanya Neji lagi.
"…?" Itachi menatap Neji dengan menuntut pertanyaan. Apa maksudnya?
"Aku tak mampu membantumu dalam hal perusahaan, Itachi. Kau tahu, yang kupimpin bukan perusahaanku. Tapi, itu milik Hinata. Sampai dia lulus kuliahnya, perusahaan itu akan ke tangan Hinata. Jadi, jika kau menghancurkan perusahaan baru ini, kau juga menghancurkan Hinata" jawab Neji panjang lebar.
"..."
"Akupun juga menginginkan Hinata. Tak pantas bila seseorang yang menyukai gadisnya malah membantu orang lain untuk mendapatkannya" kata Neji sembari mengalihkan pandangannya.
"Apa, ah?, itu tidak baik Neji. Seorang Neji mempermalukan dirinya sendiri di depan nama cinta saudara? Kau harus punya harga diri, Brother" kata Itachi yang image-nya hampir runtuh karena tertawa seenaknya.
"Ya, aku tahu. Tapi, bagaimana dengan seorang Uchiha yang tega melakukan hal-hal konyol pada perusahaan kecil untuk mendapatkan seorang wanita? Dimana image-mu, Tuan Uchiha?" nada Neji terdengar melecehkan.
"Kau merendahkanku?" Itachi bertanya balik pada Neji.
"Demi cinta? Bukankah para wanita yang berusaha melakukan segala cara untuk mendapatkan Uchiha? Itu lebih memalukan, Itachi. Harusnya kau bersaing sehat, cinta adalah cinta, dan harga diri tetap harga diri. Kau harus mempertahankan keduanya, jangan sampai hanya satu saja tujuanmu kau kehilangan keduanya, Brother" Neji membalik kata saudara untuk Itachi.
Itachi nampak diam memikirkan perkataan Neji.
Salah satu cara adalah mempertahankan keduanya atau melepas salah satu dan focus pada salah satunya.
Resiko. Tapi Uchiha memang suka mengambil resiko.
"Hn. Tapi aku tak punya pilihan. Aku tak sekuat adikku, karena itu aku ingin kau membantuku" Itachi kembali ke wajah datarnya.
"Hinata bukanlah gadis yang mudah jatuh cinta pada seseorang."
Kembali sang sulung Uchiha terdiam mendengar penuturan Neji.
"Karena itu, banyak yang menginginkannya kan?" jawab Itachi kemudian.
"Mungkin" jawab Neji singkat.
"Baiklah, aku akan menggunakan cara yang baik untuk mendapatkan sepupumu" tukas Itachi seraya menyesap kopi mocca-nya.
"Sepertinya" lanjutnya.
.
Love Competition
.
"Terima kasih, Nona" kata pengemudi taksi dengan menganggukkan kepala.
"Sa-sama-sama" jawab Hinata.
Hinata-pun berjalan menjauhi mobil taksi yang tadi ia naiki. Setelah membuka pagar bercat hitam kemudian ia membuka pintu rumahnya dan segera masuk kedalamnya. Tanpa disadari seseorang memperhatikannya.
Setelah Hinata tak terlihat, sang sopir taksi-pun mengeluarkan handphonenya.
"Moshi-moshi"
"Ya, Tuan. Nona Hyuuga Hinata bersekolah di Universitas Internasional Konoha. Dia sekarang tinggal diperumahan dekat ibukota Konoha"
.
"Kerja bagus."
Tuutt tuutt
Sang empu menutup teleponnya. Entah mengapa berita ini memberikan embun baik untuk hatinya.
"Kutemukan kau, Hime"
.
Love Competition
.
BUKK
Hinata membanting tas sekolahnya ke kasur king size berwarna ungu yang biasa ia jadikan tempat tidurnya. Ia rebahkan tubuh lemasnya, dan mulai memejamkan mata untuk menghilangkan rasa stres yang sedang melanda pikiran. Hari-hari yang melelahkan.
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu kamar diketuk seseorang.
Hinata kembali membuka mata dan segera menjadikan posisinya untuk duduk menghadap jendela bertirai transparan.
"Ya, masuk!"
CKLEK
Hinata menoleh ke arah pintu, menemukan pemandangan seorang Neji membawa seikat bunga mawar merah.
"Nii-san, ada apa?"
"Aku membawakan bunga untukmu"
Neji melangkah masuk ke kamar Hinata, kemudian menyerahkan bunga itu pada seepupunya yang terlihat sangat kelelahan.
"Dari siapa?" Tanya Hinata dengan menatap mata pearl Neji.
"Entahlah" Neji mendudukkan diri di sofa dekat tempat tidur yang menghadap ke sebuah cermin. Merefleksikan gambaran diri Neji yang juga sedikit berantakan karena baru saja bertemu dengan seorang direktur Uchiha.
Hinata sedang sibuk memilah-milah bunga pemberian kakak sepupunya ini untuk mencari kartu nama yang mungkin bisa diketahui siapa pengirimnya.
To: Hinata
From: Sai
"Sai?"
"Siapa, Sai?" tanya Neji penasaran.
"Teman baruku di Konoha"
Fans baru Hinata. Wajar saja banyak yang menyukai Hinata. Neji tak memungkiri takdir ini.
Hari ini terlalu mengejutkan untuknya. Pertemuan dengan Uchiha, dan pernyataan si sulung Uchiha untuk menjadikan Hinata miliknya. Benar-benar hari yang sial.
Tapi, Neji tak akan memberitahu Hinata soal pertemuannya tadi dengan Itachi, mengingat cepet atau lambat, Itachi pasti akan melakukan sesuatu. Ia hanya akan menunggu dan melihat apa yang akan dilakukan direktur tersohor tersebut. Setelahnya ia hanya perlu mempertahankan Hinata dan tak akan menyerahkan begitu saja.
Neji yakin, Hinata adalah wanita yang sulit ditaklukkan. Ia juga tak mau kejadian saat itu, Hinata yang jadi barang taruhan pemilik perusahaan terkemuka terulang lagi. Walau hanya ia yang tahu diantara keluarga, tapi ia tetap berusaha untuk melindungi Hinata.
"Kau menyukai Sai?"
"Tidak"
Neji tersenyum. Ia sudah menduga jawaban itu.
"Berarti dia menyukaimu?"
Hinata tersenyum hambar.
"Entahlah, Nii-san. Bahkan dia dan 2 orang lain sedang taruhan"
"Untuk mendapatkanmu?" suara Neji terdengar tak tertarik dengan pembicaraan ini.
"Mungkin. Tapi aku mendengar sendiri kesepakatan mereka"
"Siapa keduanya?"
"Naruto dan Sasuke"
Neji membelalakkan matanya. Kali ini ia tertarik dengan penuturan Hinata.
Hinata menengok ke arah Neji yang nampak kaget dengan pernyataannya. Kenapa tiba-tiba Nii-san-nya terdiam? Apa dia salah ucap.
"Sasuke?" Neji memperjelas pernyataan Hinata.
"Nii-san mengenalnya?" Hinata penasaran. Bukannya menjawab malah balik bertanya.
Tak disangka Neji harus mendengar nama Sasuke dari Hinata sendiri, setelah deklarasi dari Itachi beberapa menit lalu.
"Nii-san?" Hinata menginterupsi. Neji tampak aneh mendengar nama Sasuke.
"Hm?" Neji terbangun dari lamunannya.
"Nii-san kenapa? Kau mengenal Sasuke?"
"Tidak. Sudahlah, aku ingin istirahat sebentar." Neji berdiri dari tempat duduknya.
Hinata semakin tak mengerti dengan kelakuan kakaknya itu. Kakak sepupunya itu akhirnya pergi meninggalkan Hinata yang masih bertanya-tanya. Kemungkinan besar Neji memang mengenal Sasuke. Itu kesimpulan Hinata.
"Aku tak peduli"
.
ooOOoo
.
Pukul 10.00 malam di Sai's Gallery…..
Suara hiruk-pikuk kerumunan orang yang sedang memperhatikan berbagai macam gambar dengan berjuta corak warna memenuhi indra pendengaran Hinata. Berbagai bahasa terdengar sangat memusingkan otaknya. Hinata tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ini adalah undangan dengan menghadirkan berbagai warga negara asing.
Andai Hinata tahu jika terlalu ramai disini, ia tak akan menolak tawaran Neji yang akan menemaninya sebelum ia berangkat.
"Hinata?"
Hinata terlonjak kaget dengan panggilan seseorang yang tiba-tiba. Ia menoleh ke sumber suara, dan ternyata disana berdiri seorang Sai yang tampan dengan mengenakan setelan kemeja hitam dan dasi berwarna merah keemasan.
"Sa-Sai?"
Sai memandang Hinata dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hinata terlihat sederhana dengan menggunakan dress selutut berwarna hitam dengan lengan mencapai tiga perempat dari tangan mungilnya, serta dengan hiasan renda berwarna sepadan dikedua lengan dan perutnya.
Simple. Tapi Sai suka.
"Kau cantik sekali malam ini. Kau datang karena aku, ah?" Tanya Sai.
Hinata terdiam. Andai Sai sendiri yang tak mengundangnya dan andai Sai bukan teman sekelasnya, Hinata tak akan datang.
"Tuan Sai!"
Seseorang disana memanggil Sai.
Sai yang merasa dipanggil menolehkan ke asal suara. Seorang laki-laki dengan postur tinggi melambai kearah Sai.
"Hinata, ayo!"
Dan Hinata hanya menurut saja saat Sai menarik sebelah tangannya untuk menemui seseorang tadi.
Sesampainya didekat orang tersebut, Hinata ditawan oleh sebuah lukisan besar yang hampir menyita satu tembok pameran. Dilukisan tersebut digambarkan seorang gadis dengan helaian rambutnya yang panjang tengah berdiri di ambang tebing sebuah laut yang berwarna biru gelap dengan sinar matahari yang menuju senja.
Terlihat sedih dan sendu, tapi lukisan tersebut menampakkan keindahan disetiap goresannya. Nyata keadaan hampir serupa dengan kita menyaksikan sendiri gambaran lukisan tersebut.
Sai benar-benar seniman. Padahal ia punya cafe, kapan Sai sempat melukis sebanyak ini?
"Sangat nyata" gumam Hinata.
Disampingnya, terlihat Sai yang berbicara dengan pria tinggi tadi. Namun, sekilas Sai melihat Hinata, ia menghentikan pembicaraannya. Kemudian ia menghampiri Hinata.
"Kau suka?" Tanya Sai.
Hinata menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Jika kau mau, ambillah!"
"Be-benarkah?" Tanya Hinata tak percaya. Lukisan sebesar ini diberikan untuknya dengan percuma.
"Ya" jawab Sai.
"Ta-tapi, ka-kau sudah su-susah payah membuatnya. A-aku tak semudah itu me-memilikinya kan?"
"Kau hanya perlu membayar dengan menjadi kekasihku."
Hinata terdiam. Sai memang tak pernah memberikan secara gratis.
"Tuan?" kembali seseorang memanggil Sai.
"Tunggu sebentar Hinata" kata Sai kemudian meninggalkan Hinata.
Hinata kembali memandangi lukisan besar dihadapannya. Dan tiba-tiba, seseorang menarik tangannya.
"Hei, si-siapa kau?" teriak Hinata.
Tanpa disadari orang yang menarik Hinata berhenti disebuah taman yang sepi dengan sebuah kolam dengan hiasan air memuncar ke atas ditengahnya.
"Sa-Sakura?" jelas Hinata.
Gadis berambut pink itu berbalik dan menatap Hinata penuh amarah.
"Ya. Kemana Sasuke pergi? Aku yakin kau bertemu Sasuke di Galeri ini. Kau tahu, aku berangkat dengan Sasuke kemari, jadi jangan berniat untuk mengajak Sasuke pulang denganmu"
"A-aku tidak bertemu dengan Sa-Sasuke" jawab Hinata.
"Kau pikir aku percaya padamu?"
"Su-sungguh, a-aku tidak bertemu dengannya."
Sakura menatap Hinata lekat-lekat. Sungguh ironis dirinya yang harus percaya dengan Hinata.
"Mandilah dengan air itu hingga pakaianmu basah seluruhnya, setidaknya itu akan membuatku percaya padamu. Kau tidak berbohong kan? Jadi, lakukanlah!"
Hinata tampak menimang-nimang permintaan Sakura. Astaga, apa yang akan terjadi nanti bila setelah ini ia harus pulang, ia belum berpamitan dengan tuan dari acaranya.
"Lakukan!" perintah Sakura.
Sungguh, hanya demi membuat Sakura percaya dan setelah ini Hinata berharap dapat membalas perlakuan gadis pink ini suatu saat nanti.
Akhirnya, Hinata-pun melakukan apa yang diperintahkan Sakura.
Dan tanpa ba-bi-bu, Sakura pergi meninggalkan Hinata yang sudah terlihat basah kuyup bermandikan air kucuran ditengah taman. Harus Sakura akui, ia percaya dengan Hinata saat ini.
Hinata yang kedinginan, hanya mampu menangis dibawah air yang mengguyur seluruh tubuhnya. Andai semua orang tahu, betapa malunya dia. Tanpa terasa lututnya jatuh menyentuh dasar dari kolam tersebut. Hinata ingin pingsan, tapi ia ingin berdiri dan pergi dari tempat itu. Namun, lututnya terasa sudah kaku didalam air.
Hingga…
BETT
"Bangunlah!"
Seseorang datang memberikan jaketnya walau akhirnya basah juga terkena air. Hinata mendongak guna melihat siapa gerangan orang tersebut.
"Sa-Sasuke?"
.
.
.
.
To be continue
Hi, aku update lagi…
Wah, kemarin ada yang review tepat sasaran. Aku jadi malu, sebenernya itu juga termasuk alasannya…*ngumpet…
Spesial thanks to: Hilda, dewijomblo, hinatachanhime, kakashipyon, fain yu, Adonis, saki-chan, I am er, jasmine, pinus, guest, hinataholic, sherinaru, snhindigohime, sadness angel, kirigaya, hinatauchiha69, syuchi hyu, vampire uchiha, anita, luluk minam, hinahime, hirano.
Thanks banget buat semuanya. Maaf banget kalo gak seperti yang dipikirkan para readers sekalian. Untuk masalah Lemon-nya, nanti, sabar yak…ada kok…Cuma belum waktunya. *Author mimisan.
Curhat dong, file ku gak jadi hilang para readers sekalian, yeyyy! Aku punya simpenan alias copy-an di email-ku, hahahaha…*stress-nya gak jadi.
Ok. Ketemu chap berikutnya…^^
