Love Competition

.

Naruto by Masashi Kishimoto

LC by QQ

Pairing: Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

Genre: Romance and Drama

Notes: AU, OOC, typos, Language, etc.

RnR / DLDR

.

.

.

Chapter 7

"This feeling"

.

.

.

Happy reading

.

.

.

"Sa-Sasuke?", cicit gadis berambut indigo yang kedinginan-menatap manik kelam lelaki yang menenggelamkan dunianya. Sang lelaki hanya terdiam mendengar gadis yang ia selamatkan-bukan-ingin ia selamatkan dari dinginnya air malam-menyebutkan sebuah nama.

Sasuke, huh?

Sang lelaki menatap tajam gadis yang setengah badannya terendam oleh kubangan air, memberikan sorotan intimidasi, mengisyaratkan bahwa ia sangat keberatan dengan panggilan itu. Kenapa?

Karena dia bukan Sasuke.

Apa dirinya mirip Sasuke hingga Hinata-wanita yang basah kuyup ini tak dapat membedakan diantara mereka?

Atau?

"Kau mengharap Sasuke yang menolongmu saat ini, huh?", tanyanya parau, ia benci mengakuinya.

.

Love Competition

.

Kriieet...

Suara pintu terbuka, menandakan seseorang tengah membuka pintu satu layar dirumah sewaan.

Neji yang menyadari seseorang masuk ke kediamannya segera beranjak dari kursi tempat ia duduk. Dugaannya tak pernah meleset, Hinata sudah pulang. Memangnya siapa lagi yang berkuasa atas rumah ini selain ia dan Hinata? Namun, kejanggalan atas kepulangan Hinata membuat kening Neji berkerut.

"Ada apa dengan bajumu?", tanyanya mengintimidasi.

"Tadaima!", ucap Hinata seraya terus berjalan melewati kakak sepupunya itu. Bukannya menjawab pertanyaan Neji, Hinata segera menaiki tangga yang membawanya ke kamar kesayangannya.

"Hinata?", panggil Neji. Bukan masalah tidak menghormati sepupunya yang bertanya baik-baik, tapi Hinata merasa itu tidak penting-lebih tepatnya untuk saat ini ia malas membahasnya. Padahal nanti-pun pasti akan ia ceritakan pada Neji, tapi ia ingin segera mandi sekarang.

Neji menatap punggung Hinata hingga gadis itu hilang ditelan pintu kamarnya. Ya, sebenarnya ia khawatir melihat keadaan ganjil adik sepupunya sepulang dari undangan kawannya, tapi ia hafal segala perilaku Hinata. Dan setelahnya Hinata akan segera memberitahukan alasan gadis itu pulang dengan keadaan seperti menerjang badai hujan, nyatanya titik air-pun tak ada yang turun dari langit. Segera saja ia kembali ke tempat ia sebelumnya.

Nonton TV.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Saat jemari Neji mengait ke ganggang cangkir kopinya, seseorang tengah duduk disebelahnya dengan memakai baju tidur berwarna biru navy.

"Kau siap menceritakan tentang musibahmu tadi?", tanya Neji dengan menyeruputkan sedikit cairan kopi ke mulutnya.

Hinata menjawab dengan pejaman manik emeraldnya. Pasti ia akan ceritakan. Neji terlalu buru-buru, padahal ia baru saja mendudukkan diri. "Bukan masalah penting, hanya seseorang yang bertingkah kekanak-kanakan."

"Apa masalahnya?"

"Entahlah, Nii-san. Mungkin kurang pendidikan dari ibunya. Lupakan masalah itu, aku tak terlalu memusingkannya", Hinata menyesapi kalimatnya. Termasuk dirinya pula, yang dengan sungkan mengikuti perintah perempuan pink itu. Ia hanya bermaksud, dengan begitu gadis yang biasa dipanggil Sakura di kampus itu tak akan pernah dewasa, setelah apa yang ia pinta terpenuhi. Puas.

Neji harap Hinata akan selalu baik-baik saja. "Jika ada yang melakukan ini lagi, bicaralah padaku."

"Nii-san, aku ingin mempercepat kelulusanku. Setelah itu aku akan langsung terjun ke dunia bisnis. Bagaimana menurut, Nii-san?", Hinata berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air. Juga mengalihkan pembicaraan sebelumnya. Terlalu kesal kejadian tadi sebenarnya, tapi ia pastikan akan membalas perbuatan wanita permen itu.

" Jika itu memang terbaik, aku akan mendukung", kata Neji, sekembalinya Hinata dari dapur dengan segelas air putih ditangannya.

Hinata kembali duduk ditempatnya, dengan meletakkan gelas dimeja. Menata hati untuk kembali memikirkan semua yang akan ia jalani. Sebenarnya yang Hinata takutkan adalah ia tak bisa mengelola bisnis orang tuanya. Takut ia tidak bisa mengatur dan membuat keputusan yang tepat, akhirnya management perusahaan rusak. Dan akhirnya, ayahnya kecewa. Tapi, berusaha itu tak ada batasnya.

Hinata yakin dengan kemampuannya. Berusaha.

"Kuharap ini adalah jalan terbaik yang kuambil"

.

QQ

.

Tap tap tap

Suara langkah kaki menapaki koridor sepi dan gelap bergema di sebuah gedung yang setengah selesai dari pembangunannya. Lebih mistis lagi dengan segala sarang laba-laba yang menumpuk disetiap sisi sudut ruangan beserta bercak warna hitam karena kubangan air hujan yang mengering. Tak ada lampu. Tapi ada sebuah jeritan mengenaskan diujung jalan. Ada seseorang disana yang sedang mengiba.

Siapakah dia?

Sesosok manusia kelam dengan setelan celana dan kemeja berwarna hitam berjalan dengan angkuh sembari menghisap putung rokoknya kuat-kuat, dan membuangnya asal setelah sampai didepan sebuah pintu yang memperdengarkan jeritan itu dengan semakin jelas.

Brakk

Pintu terbuka lebar.

Manampakkan seseorang yang terikat di kursi rapuh dengan tangan diikat kebelakang kursi serta kedua kaki yang dibelit tali.

Cttarr!

"Arrgghh...", jerit lepas lelaki mengenaskan yang duduk dikursi setelah mendapat cambukan kuat dari seorang lain dengan kacamata hitam.

"Cukup Shino main-mainnya, Sasuke sudah datang!", tegur Shikamaru malas dengan adegan cambukan kawan serangganya, membosankan. Sejak setengah jam berlalu, teman sepermainannya ini entah mengapa tak jengah dengan melayang-layangkan belt hitam bergerigi ke tubuh kurus lelaki malang dikursi tak sehat itu.

"Aku hanya ingin sampai merobek seluruh jas kehormatannya ini.", jawab Shino yang menyadari kehadiran Sasuke, kemudian mundur menjauh dari korban. Seolah memberi isyarat pada Sasuke untuk mengambil alih bagiannya.

Pria malang yang duduk dikursi kesayangannya melirik lewat ekor matanya sembari menundukkan kepalanya, menahan sakit disekujur tubuh akibat berpuluh-puluh kali cambukan maut pria brengsek bernama Shino itu.

Sasuke berjalan mendekati lelaki malang tersebut. Menapaki selangkah demi selangkah lantai yang membawanya semakin dekat dengan pak tua laknat yang berniat membunuhnya. Satu kaki miliknya ia naikkan guna menjadikan paha pria malang tersebut sebagai pijakan.

"Lama tidak bertemu, Tobirama Senju!", bisik Sasuke dengan mendekatkan wajahnya ke telinga pria yang tengah meringis kesakitan. Sasuke ingin tertawa melihat penderitaan pria ini, dengan tubuh penuh sayatan dan darah yang mengalir dari seluruh rongga tubuhnya. "Apa masih kurang siksaannya? Atau kau ingin segera mengakhiri ini?"

"Aargh..."

Sasuke menarik rambut pria itu kebelakang hingga membuat wajah mengenaskan sang lelaki mendongak menatap langit-langit gedung yang retak. "Berapa juta yen kau keluarkan untuk biaya operasi wajah tuamu ini?". Srett...

"Arrgh...!", rintih lagi sang pria karena Sasuke menyayat pipi rentanya dengan pisau lipat.

"Sasuke, sebenarnya ia adalah warga asli Konoha. Tapi, mungkin materi yang diberikan musuhmu itu terlalu tinggi, ia tunduk dibawahnya dan pindah kota. Merubah nama menjadi Danzou Shimura sebagai perdana mentri Konoha selama 2 bulan, kemudian akan mencari celah membunuhmu dengan sebelumnya masuk organisasi pembuat senjata dibagian kemiliteran. Dan ketua misi pembunuhan ketika kita masuk universitas ini adalah Dia, kawan sekelas kita saat Junior School"

Sasuke terdiam menikmati penjelasan Shino. "Sangat cerdas. Aku bahkan tidak sadar. Bahkan, menyeretmu kemaripun, aku harus berhadapan dengan berpuluh-puluh prajurit pengawalmu.", Sasuke membanting kepala perdana mentri itu kedepan setelah sebelumnya ia tarik kebelakang.

"Brengsek!"

Sasuke ingat, saat pertama kali ia masuk perkuliahan disini. Hari pertama ketika seluruh mahasiswa dikumpulkan di lapangan indoor kampus, terjadi sebuah insiden mengejutkan. Seseorang yang dikenal juga mahasiswa baru dengan sengaja menembakkan senjata apinya ke atap gedung. Sontak semua orang kaget dan berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.

-Flashback:-

Sasuke yang saat itu menyadari seseorang mengincarnya memilih diam ditempat. Karena malam sebelumnya ia menerima sms pemberitahuan mengenai incaran misi ini. Sasuke tak mengenal nomor tersebut, sms disana hanya memberitahukannya untuk bersiap-siap menghadapi kematiannya ditengah banyak orang.

Dan saat itu Sasuke menyadari, seseorang yang mengincarnya itu telah menemukannya. Menemukan waktu yang dianggapnya tepat. Sasuke berdiam, berdiri ditengah lapangan tanpa gerak sedikitpun. Ia-pun juga sama, telah menyiapkan semuanya. Bedanya, Sasuke akan menghadapi musuh tak diketahuinya itu sendirian.

Beberapa menit berlalu membuat seluruh ruangan sepi melebihi makam ditengah hut an, hingga tiba-tiba sebuah peluru meluncur ke arah Sasuke yang berdiri. Dengan insting yang dimiliki ia cepat menghindar, dan berlari cepat menuju ke belakang kursi penonton demi menghindari serangan peluru yang bertubi-tubi. Cepat ia mengeluarkan senjatanya. Sialnya, tembakan lanjutan hampir mengenainya, namun terhalang oleh kursi tempat berlindungnya.

"Damn!"

Dengan geraman kesalnya menyertai kejengahannya pada orang tersebut yang hanya bermain dibalik layar, Sasuke berdiri mencari dimana seseorang tersebut bersembunyi. Kilatan matanya mengarah pada satu jendela besar yang tengah terbuka di salah satu sudut atap. Tanpa pikir panjang, saat orang dibalik kaca disana menampakkan tubuhnya dari tembok disebelahnya, Sasuke mengarahkan pistolnya cepat dan menembakkan satu peluru kearah sasaran.

Doorr!

Siapa yang mampu menandingi kemampuan menembak Sasuke? Bahkan sejak umur 3 tahun, ayahnya telah mengajarinya berburu binatang buas. Ketrampilan yang telah diasah sejak kecil. Bahkan Itachi sendiri takut akan kemampuan adiknya itu, ia lebih memilih dunia bisnis daripada urusan adrenaline.

Brukk...!

Seketika orang disana roboh dan entah hilang kemana. Satu peluru Sasuke mengenai tepat kepala orang itu. Dan beberapa detik kemudian segerombolan orang-orang berpakaian serba hitam dengan kacamata dan topi senada membludak masuk ruangan luas tersebut. Dengan tanpa ada jeda, seseorang diantaranya menembakkan timah panas ke arah Sasuke. Dan Sasuke berhasil menghindar.

Setelahnya, seluruh orang misterius itu menembakkan pistolnya kembali dengan bersamaan, hal ini menyulitkan Sasuke yang terdesak karena sendirian. Dengan sedikit celah diantara kursi penonton Sasuke menyerang dengan menembak beberapa orang yang berlari kearah ia bersembunyi.

Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!

Satu...tiga...lima...tujuh...sembilan orang tumbang dalam 3 detik di 9 tembakan oleh seorang Sasuke Uchiha.

Sasuke menarik ujung bibirnya sedikit. Puas dengan kepanikan pria lainnya karena setengah kawannya tewas seketika. Namun, kembali kepanikan menyerang pria Uchiha ini, peluru dalam pistolnya telah habis. Ia menengok ke arah samping, sialnya peluru cadangannya menggelinding disana.

"Sial!"

Sasuke beranjak untuk mengambil butiran peluru-pelurunya yang berceceran.

Dor!

Bangsat. Seseorang menembak tempat peluru-peluru itu berada. Hampir mengenai tangan kekarnya.

Dor!

"Arrgh...!"

Damn. Pria lain menembak punggung Sasuke hingga darah mengalir dibalik kemeja biru navy-nya.

"Sudah menyerah eh, rupanya tuan muda Uchiha Sasuke? Bagaimana kalau kita bermain-main dulu sebelum kematian menjemputmu, Tuan?", kata seorang misterius itu dengan senyum diwajahnya.

Duak...!

"Argh...!", rintih Sasuke ketika seorang lain menendang punggungnya yang sebelum itu terkena tembakan. Sasuke meringis kesakitan karena timah panas yang bersarang ditubuhnya hampir mengenai sistem saraf jantung. Sial. Kenapa ia tidak mempersiapkan kawanannya jika lawannya sebanyak ini.

"Sampaikan salam Pecundang dariku untuk ketuamu!", kata Sasuke dengan kedua sudut bibir mengalir darah segar. Sasuke memandang sinis ke arah lelaki bertubuh besar yang ada dihadapannya.

Merasa terhina, sang lelaki yang tepat berada didepan pria Uchiha brengsek tersebut melayangkan kakinya hingga tepat mengenai wajah tampan Sasuke. Sial bagi Sasuke karena tak sempat menghindar. Itu dikarenakan seluruh pembuluh darah tak mampu menggerakkan otot-otot sarafnya.

Cklek

"Selamat tinggal tuan muda Uchiha yang kejam!", ucap salah satu pria dengan menodongkan pistol tepat ke arah kepala Sasuke. Sasuke yang tak kuat menahan nyeri yang hampir melamahkan 90% tubuhnya, tak dapat melakukan gerak apapun.

"Setidaknya dendamku telah terbalaskan!", kata Sasuke berusaha bicara sekuatnya untuk memberi peringatan.

Dor...!

Brukk...!

Namun.

Pria yang menodongkan pistol ke arah Sasuke tiba-tiba bersujud dihadapan bungsu Uchiha yang masih tak tahu keadaan sekarang. Tiba-tiba perhatiannya teralih pada sosok pahlawan bak kesiangan dengan gaya bermalas-malasan ditengah pintu masuk lapangan. Siapa mereka? Sasuke tak kenal seseorangpun di kampus ini. Apa mereka termasuk anggotanya yang dikirimkan Kakuzu untuknya? Sekali lagi, Sasuke tak mengenal.

"Kalian mengganggu acara tidurku! Merepotkan.", ucap pria berambut kuncir nanas yang diketahui bernama Shikamaru dari name tag-nya.

"Aku hanya mencoba riffle baruku", ucap seorang berkacamata tua hitam dengan senjata tak dikenal_karena keluaran baru ditangannya.

"Hah, aku benci dengan perkelahian yang tak seimbang.", dan seorang lagi dengan wajah pucatnya.

Ketiga orang tersebut dengan cepat menerjang jajaran lelaki berbaju hitam dengan seni berkelahi yang mereka miliki. Beberapa orang tumbang karena pukulan, hantaman ke lantai dan sebagainya oleh pahlawan baru itu. Walau sedikit ngos-ngosan karena menguras tenaga mereka.

"Segini saja kemampuan nya, kenapa bisa satu sekolah mampu dibuat bisu dengan beberapa orang itu.", celutuk Sai si lelaki berwajah pucat.

"Kurasa belum selesai permainannya.", kata Shikamaru yang kembali berdiri tegap dan merapikan jas almamater universitas. "Lihatlah, beberapa orang menuju kemari", lanjutnya dengan menatap pintu ruangan diikuti pandangan lainnya.

"Shit! Harusnya aku membawa meriam saja.", umpat Shino menyadari berpuluh-puluh gerombolan manusia berpakaian hitam berlari kearah mereka.

Shikamaru menarik ujung bibirnya.

"Sepertinya ini akan menyenangkan. Kita taruhan, siapa yang akan mati duluan.", kata Shikamaru menepuk pundak kedua kawan mainnya ini. " Aku bertaruh diantara kalian"

"Kau yang mati duluan!", teriak bebarengan Sai dan Shino. Dan hanya ditanggapi malas oleh pria Nara itu. Hingga suara seseorang menginterupsi mereka.

"Kalian ikut campur dalam urusanku. Pergilah kalian! Mereka hanya mengincarku.", kata Sasuke sembari berusaha berdiri dengan sebelumnya memunguti kembali butiran peluru miliknya. "Aku tidak butuh kalian. Pergilah!"

Ketiga orang yang tengah asyik memandang segerombolan berlari kearahnya menoleh kesumber suara. Dan saat ingin menanggapi perkataan pria Uchiha itu, jarak diantara kepungan orang tinggal beberapa meter lagi.

"Kau pikir aku berniat menolongmu? Aku hanya kasihan padamu, Uchiha!", jawab Shino acuh.

Kembali fokus ke gerombolan serba hitam.

"Show time!", seru Sai.

"Maaf, kawan. Sepertinya aku harus meladeni komplotan menyebalkan ini.", kata Shikamaru menoleh ke arah Sasuke berdiri.

Dan pertempuran terjadi dengan cepat.

Duak...! Sai menghantamkan dengkulnya ke arah perut dalam musuh, hingga sang musuh tersedak memuntahkan darah dari mulutnya.

Brak...! Shikamaru membanting tubuh pria kelam kelantai hingga terasa remuk seluruh tulang musuhnya.

Dor...! Shino meletupkan senjatanya ketika salah seorang dari mereka mencuri celah membunuhnya dari keramaian. Karena satu-satunya orang yang membawa senjata hanya dia diantara ketiga sekutunya.

Sasuke yang hanya asyik menonton dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menodongkan pistol kearah kepalanya. Tanpa menoleh, ia tahu pemilik rambut merah itu. "Kau sudah berakhir, kawan!", katanya dengan memasang senyum kemenangannya.

"Sombong sekali kau berani menghadapi kami sendirian? Dan ternyata kau butuh bantuan juga. Padahal jika semua menonton kematianmu, aku yakin kau akan ada di cover semua media, Uchiha Sasuke. Kau terlalu meremehkan aku.", lanjutnya.

Cklek

Sasuke juga mengarahkan pistolnya kearah jantung lelaki berambut merah itu. "Sepertinya belum saatnya aku mati, bagaimana jika kau terlebih dahulu?"

Pria dihadapan Sasuke sedikit tertawa, dan Sasuke benci melihatnya.

"Tch, kau berani berduel dor to dor dengan tubuh gemetaran seperti itu. Kau pikir badanmu sanggup, sudah mampu reinkarnasi kembali menjadi kuat rupanta. Aku harusnya membunuh bawahanku yang tak menembak jantungmu tadi."

"Berharap saja mereka akan mengkhianatimu"

Dan hanya dibalas dengan wajah benci dari berambut merah tampan itu.

Beberapa detik mereka berpandangan, insting mereka yang sama membawa tubuh masing-masing mundur beberapa langkah. Sasuke dengan susah payah menyeret kedua kakinya yang lemah, tahu akan permainannya. Dan kedua tangan masing-masing belum bergerak dari arah tujuan utamanya.

Satu detik, dua detik, tiga detik...DOR...DOR...! Brukk...! Bruk...!

Dan kedua pria perkasa berambut merah dan Uchiha Sasuke sama-sama terpental kebelakang, menabrak deretan kursi podium. Dalam detik yang sama saling menembak kearah lawannya.

.

Duak...! Shikamaru terpental menggulir beberapa kali dilantai. Hantaman sebuah kayu besar mengena ditubuhnya oleh salah satu pria berjubah hitam. Shikamaru yang tak mau membuang waktu, kembali bangkit dengan tubuh penuh memar. "Kalian merusak reputasi kejeniusanku!", katanya seraya mengambil rantai besi besar yang ia temukan disaat ia tersengkur. "Terimalah dendamku ini!", lanjutnya kemudian menerjang seluruh kawanan yang jumlahnya kembali bertambah.

Shino sedikit kewalahan dengan kekuatan fisik dengan perbandingan mereka 20:1, seakan ia sedang dihakimi massa. Terbukti dengan keretakan dikedua lensanya. Tapi, saat ia tengah menahan nafas dengan menaruh telapak tangan didada, suatu benda menonjol terasa tergenggam. Ya, Shino baru teringat bahwa ada sebuah granat menggantung dalam saku bajunya.

"Untung tidak lepas pengaitnya.", batin Shino. Dengan cekatan ia raih senjata terakhirnya, setelah melepaskan pengaitnya, ia segera lempar kearah gerombolan ganas tersebut.

BLARR...!

20% aset kampus rusak. Dan menambah jumlah yang tewas dalam perkelahian ini. Sayangnya, Shino bangga dengan hasil kerjanya. "Lagi-lagi, senjata baru buatanku sangat berguna", gumamnya.

Berbeda dengan yang lainnya, Sai Kaito sedikit terluka parah. Wajah tampannya mengalirkan darah segar. Padahal hanya tersisa satu orang saja, tapi fisiknya sudah tak kuat menahan beban tubuhnya. Tapi, ia berusaha untuk bangkit dari duduknya, dan nihil. Karena diantara semuanya hanya ia yang berkelahi dengan tangan kosong, tanpa bantuan senjata.

Dan saat pria berjubah hitam terakhir itu berlari menerjang kearahnya, dilihatnya Sasuke berusaha bangkit dan segera menodongkan pistolnya ke arah pria serba gelap yang tengah menuju Sai. Tapi...

Crasshh...!

Seseorang berambut kuning datang dengan cepat menusuk perut musuh terakhir Sai. Darah mengucur deras dari bagian sana. Dipastikan isi perutnya telah terkoyak. Dan akhirnya, pria hitam tersebut jatuh tertelungkup ke dasar lantai.

Sasuke yang masih bertahan dengan 2 peluru didadanya berusaha melihat siapa dewa penyelamat selanjutnya itu. Sedikit tak melihat wajahnya karena wajah pria itu tertutup oleh kepala pria berjubah hitam yang lalu.

Dan ketika musuh terakhir itu merosot ke lantai. Sasuke melihat wajah pria berambut kuning. Sayangnya ia kembali tak mengenalnya. Padahal yang Sasuke inginkan adalah kelompoknya. Kenapa mereka tidak datang?

"Hai, apa aku datang terlambat?", tanyanya dengan cengiran lebar. Dia adalah Naruto Namikaze.

-End.-

Sasuke beranjak menjauh untuk meletakkan berat tubuhnya dikursi samping Shikamaru. Bocah Nara tersebut hanya memandang malas segala drama dihadapannya, seolah ingin segera mengakhiri moment penghabisan waktu ini.

Cklek

Sasuke mengarahkan pistolnya dengan tangan kiri kearah pria malang disana. "Ada pesan terakhir, kawan lama?", tanya Sasuke dingin.

Pria yang pergerakannya ditahan oleh tali disana memasang senyum meremehkan. "Bodoh sekali kau Uchiha Sasuke, Dia lebih dekat dari jantungmu", kata sang pria sambil terkekeh.

Sasuke memandang malas.

"Kuanggap tidak ada."

DOR!

Dan letupan pistol Sasuke mengakhiri hidup pria itu tepat di kepalanya.

Brukk...sang pria malang tersungkur mencium lantai.

Sasuke bangkit dari duduknya. "Kirim kerumah Sasori!", perintah Sasuke entah pada siapa, namun semua tetap tahu siapa yang harus melakukannya. Terbukti dengan anggukan seluruh bawahannya kemudian bergegas mengemasi mayat lelaki itu.

Shino dan Shikamaru ikut menyusul langkah Sasuke keluar ruangan. Setelah sampai di depan mobil masing-masing, Shikamaru mengeluarkan suaranya. "Lama sekali kau menyusul setelah aku tinggal di galeri, kau berkencan dengan Hinata?"

Sasuke menghentikan langkahnya.

"Tidak"

Shikamaru memiringkan kepalanya, lalu apa yang membuat Sasuke setengah jam tak menyusul dia dan Shino? "Lalu?"

" Mengikuti Aniki mengantar Hinata sampai pertengahan jalan."

Shikamaru dan Shino melempar pandang. Apa maksud dengan setengah jalan? Tidak jadi mengantar Hinata.

Sasuke membuka pintu mobilnya. "Aku mengikutinya terlalu dekat.", kemudian ia masuk ke dalam mobilnya. Seolah ia tahu kebingungan kedua temannya ini.

"Dan akhirnya Itachi menurunkan Hinata di jalan, kemudian Itachi kira kau mengikutinya, dan menyelesaikan urusan sebagai pria, tapi kau kembali menanggapi dengan tak menanggapi permintaannya, berkelok arah ke perjalanan pembunuhan ini?", ujar Shino yang bersandar di mobil Zenvo ST-1 miliknya. Dan pertanyaan retorisnya dijawab dengan deruman mobil Sasuke yang menyala.

"Kurasa dugaanmu tidak meleset", puji Shikamaru. Sayangnya, Sasuke tak menanggapi obrolan temannya dengan segera melajukan mobil hitam miliknya, meninggalkan kedua orang yang masih sibuk dengan dugaan mereka yang benar.

.

Didalam mobilnya Sasuke mengeram kesal. Perjalanannya sebelum menemui Shikamaru dan Shino adalah melihat Itachi menolong Hinata disaat ia juga tengah akan berlari. Brengsek. Kenapa waktu tak mendukungnya. Dan lagi, bagaimana bisa si Itachi itu datang kesana. Hah, itu pasti, mengingat mereka juga rekanan dalam bisnis.

Parahnya, kenapa saat ia mengikutinya, Hinata diturunkan ditengah jalan untuk berganti ke taksi yang kebetulan lewat. Sialan. Dengan sempatnya si rambut panjang itu memberikan tatapan tajamnya sebelum ia pergi. Benar apa yang dikatakan Shino. Itachi menginginkan ia mengikutinya, tapi Sasuke punya urusan lain.

Dan jangan lupakan sesuatu Sasuke.

Hinata memakai jaket Itachi.

Bangsat!

Sasuke meremas rambutnya yang melawan gravitasi bumi. Benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana bisa hanya karena hal sepele tersebut membuatnya kacau. Harusnya jaketnya-lah yang dipakai Hinata, bukan Itachi. Damn.

Dunia pasti menertawakannya sekarang. Seorang Sasuke yang jauh dari kata baik perilaku, pendendam, dan lagi seorang pembunuh, ternyata harga dirinya turun karena hal rendah seperti itu. Brengsek kau dunia. Kau mempermainkan Sasuke. Andai Sasuke dapat membunuh takdir, ia pastikan Hinata tercipta hanya untuk Sasuke Uchiha seorang. Catat itu sebagai sejarah dunia.

Dan gadis bermarga Hyuuga itu, bagaimana bisa ia sama sekali tak meliriknya, sekurang-kurangnya kagum dengan tampannya seorang Sasuke Uchiha, anehnya ia malah sama sekali tak mengenalnya. Demi matahari tak terbit lagi. Sasuke benci pada dirinya saat ini. Sasuke sangat menginginkan wanita ! Sejak kapan ia sangat terobsesi dengan Hinata, huh?

Oh, Sasuke ingat. Sejak pertama kali ia melihat Hinata. Hari pertama Hinata masuk di kampusnya. Seorang gadis bodoh yang dengan bodohnya memperlihatkan kaki putih jenjangnya di hadapan makhluk dunia. Seorang gadis bodoh dengan polos memperlihatkan manis senyumnya di depan semua orang. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Apa gadis itu tak tahu akibat dari perilakunya itu, heh? Dan saat itu Sasuke tergoda. Iblis manapun, diharap kembali ketempat asalnya.

Ditambah saat melihat reaksi semua kawan lelakinya, seperti serigala lapar dan berliuran untuk menerka mangsanya. Sial. Kenapa ia belum pernah melihat Hinata sebelumnya. Andai ia lebih dulu mengenal Hinata, Sasuke pastikan akan menjadikan Hinata wanita rumahan, hanya Sasuke yang boleh menikmati keindahan yang gadis itu miliki. Kami-sama, Kau menciptakan keindahan dunia yang tidak tepat.

Keinginannya saat ini adalah memiliki Hinata sepenuhnya, setelahnya ia akan melindungi hartanya itu daripada siapapun. Tak ada yang boleh melihatnya. Duniapun juga tak boleh. Ia akan menjadikan Hinata harta yang nilainya lebih tinggi dari segala-galanya.

"Kupastikan kau jadi milikku, Nona Hyuuga!".

.

Love Competition

.

Hinata tengah menatap langit-langit kamarnya. Terasa tak ada yang berubah semenjak kepindahannya kesini. Tapi, ada yang berubah. Dengan dirinya.

Bagaimana bisa disaat ia tertekan seperti tadi, ia menyebut...siapa?

Sasuke.

Kami-sama, racun apa yang memenuhi otaknya? kenapa bisa nama pria aneh itu begitu mudah meluncur dari mulutnya?

Kemudian wajah Hinata menjadi menggemaskan. Kedua alisnya bertaut seakan ingin bertemu karena terpisahkan. Bibirnya ia lengkungkan kebawah. Pipinya bersemu merah. Tanda ia sedang kesal. "Me-memang wajahnya sama seperti Sa-Sasuke", uhk...jantung Hinata seakan ingin meledak menyebut nama laki-laki itu. Maksudnya ia hanya ingin membela diri dari perang batin jiwanya.

Apa ia mulai menyukai Sasuke?

Tidak mungkin. Tidak ada yang istimewa dari pria itu.

Secepat itukah.

Lelaki yang menyelamatkannya tak mau memberitahu namanya. Memang Hinata tak menanyakan. Tapi, perkataan pria tersebut membuat ia sedikit tak enak hati. Siapa yang menolong, siapa yang ia panggil. Pasti sakit.

Dan ketika pria itu mengantarnya, ia hanya diam. Berawal dari balas budi karena menyelamatkannya, ia menuruti lelaki itu mengantarnya. Tapi, karena Hinata tak nyaman dengan keheningan yang mencekam, ia memilih pulang sendiri saja. Syukur, lelaki itu tidak keberatan.

Semenjak Tenten membicarakan Sasuke sore itu, Hinata memang menjadi penasaran dengan Sasuke. Akhir-akhir ini ia sering mengamati kelakuan Sasuke yang menurutnya biasa saja. Yang menarik hanya, dia pendiam, tidak banyak bicara, digilai seluruh siswa, bahkan seolah Sasuke adalah lelaki tersempurna sedunia. Bahkan lagi ada yang menjadikan gambar muka Sasuke menjadi tattoo dibadannya.

Teriakan histeris para wanita-wanita menyebut nama Sasuke menjadikan ia harus terbiasa dengan mengenal sosok Sasuke. Anehnya pria itu sama sekali tak menghiraukan panggilan memuja para penggemarnya. Mungkin sudah biasa.

Menyebalkan sekali lelaki itu. Tapi, kenapa ia cukup geli dengan keikutsertaan pria itu mendapatkannya. Tak terasa Hinata menyunggingkan senyumnya. Oh, dan jangan lupakan rona merah yang hampir memenuhi wajahnya.

Buuk

Refleks ia menimpakan sebuah bantal untuk menutupi wajahnya. Apa yang barusan ia pikirkan. Huh...

Tidak.

"Aku tak akan kalah."

.

Love Competition

.

"Siapkan penerbangan ke Konoha!"

"Baik, Tuan!"

Cklek

Sang pelayan keluar ruangan VVIP.

Setelah kepergian pembantu setia dibalik pintu, pemuda berparas tampan yang sebelumnya duduk di singgasana kerjanya beranjak berdiri, berjalan beberapa langkah guna menohokkan pandangan matanya ke keramaian ibukota. Terlihat pantulan dirinya dari kaca gedung yang menjulang tinggi, pakaian rapi yang ia kenakan tak serapi hatinya yang gemuruh menahan rindu selama sebulan ini.

Jauh dari seseorang.

"Kita akan segera bertemu, Hime-sama"

.

.

.

To be continue

Hai...*ngintip dibalik pintu...

Iya, saya tahu...lelet, sampai ada yang nge-pm, thanks very much *muach...(°)3

Gomen atas kesalahan saya yang segedhe gajah *reader mual-mual

Tapi kata bapak saya, lebih baik telat daripada tidak sama sekali...(^•^)v

Yiah, maklum author newbie juga manusia, andai author Masashi Kishimoto ya pasti Sasuke with Hinata...*woooo...disorakin penonton...gak lucu...

Salah satu penyebabnya adalah FFn diblokir. Sial.

OK. Keep follow me...

And keep review...

See you next chapter...(^_^)