Love Competition
Chapter 8
"Final Decision"
Naruto by Masashi Kishimoto
LC by QQ
Pairing: Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Notes: AU, OOC, Typos, language, etc.
.
.
.
Enjoy
Seorang gadis cantik sedang duduk manis dibawah pohon sakura yang tengah menggugurkan bunganya. Angin yang sepoi membawa helaian indigonya menari-nari. Wajah cantiknya tak menunjukkan ia sedang menikmati suasana siang hari ini tepatnya waktu istirahatnya, melainkan ia fokus pada mata kuliah yang diberikan dosennya. Ingat, Hinata ingin mempercepat kelulusannya.
Dari kejauhan seseorang tengah memperhatikan Hinata, dan berniat untuk mendekatinya. Namun, satu langkah saja baru ia lakukan, tiba-tiba seseorang menghampiri gadisnya. Siapa lagi kalau bukan teman seperjuangannya. Namikaze Naruto. Dan ia hanya mampu waspada dari kejauhan agar bocah kuning itu tak bertindak aneh-aneh.
"Hinata, kau sedang apa?", Naruto yang tiba-tiba nimbrung langsung membuka percakapan.
"E-Eh, Na-Naruto-san! Ti-tidak, ha-hanya menyelesaikan tugas Ku-Kurenai Sensei", tidak mungkin Hinata menjawab jujur jika ia ingin mempercepat kelulusannya kan.
"Eh, tapi aku tidak menerima tugas apapun?", sembari mendudukkan dirinya disamping Hinata. Naruto penasaran dengan tugas mandiri ini, mengingat Kurenai Sensei tidak hadir kemarin pagi.
"Go-gomen, A-ano... ha-hanya tu-tugas biasa, bu-bukan untuk ni-nilai mata kuliah", berusaha meyakinkan. Harusnya ia bawa pulang saja dan dikerjakan dirumah, didalam area kampus tidak aman. Apalagi kalau ini ketahuan Tenten, ia pasti bingung harus beralasan apa lagi.
"Na-Naruto-san, se-sepertinya jam se-selanjutnya a-akan di-dimulai", alihkan topik pembicaraan.
"Oh, Ok. Ayo, kita ke kelas!", Naruto berdiri dari duduknya. Menepuk sekilas celana belakangnya untuk memastikan guguran bunga Sakura tak ikut menempel di celananya. "Hinata?", Naruto mengulurkan tangannya berniat menggandeng tangan si gadis Hyuuga.
"E-Eh...A-ano, a-aku..."
SET...!
"Sudah cepatlah! Jam selanjutnya itu Anko-sensei, jadi kita harus cepat!"
Sebelum Hinata menyelesaikan perkataannya, teman jabriknya ini memotong jatah bicaranya dan memberikan alasan yang tidak masuk akal. Tidak ada hubungan fisika antara terburu-buru dengan bergandengan tangan kan? Dasar Naruto.
Naruto segera menarik Hinata untuk mengikuti langkahnya.
Pria yang bersembunyi dibalik pagar akhirnya keluar dari sana. Dan hanya menyaksikan keakraban teman kuningnya dengan gadis pujaannya. Menyesal? Terlambat.
Belum ada satu bulan taruhan berjalan, tapi ia sadar tak melakukan apapun. Karena terlalu naif dan terlalu percaya diri bahwa apa yang ia perkirakan pasti terjadi. Nyatanya, Hinata tak berbuat apapun padanya. Dan apakah ia akan berdiam diri saja seperti ini? Sementara Naruto dan Sai telah banyak berinteraksi dengan gadisnya.
Sasuke, kau terlalu banyak bermimpi, apa ada yang kau perbuat?
"Aku harus segera mengakhiri ini"
Akhirnya, penyelesaian cepatlah yang ia ambil. Dan segera ia menyusul Hinata dan Naruto ke kelasnya.
.
"Hey, kawan semua, aku pulang duluan. Ada janji sebentar dengan sepupu. Jaa ne!", Naruto berpamitan pada teman-temannya, dan tanpa menghiraukan balasan dari kawan-kawannya ia langsung berlari dengan antusias.
"Aku tak pernah bertemu dengan sepupu Naruto. Apa dia wanita atau laki-laki?", Sai bergumam tidak jelas.
"Hahh...akhirnya besok libur, aku tidak sabar ingin tidur seharian!", Shikamaru mengungkapkan kelelahannya.
"Hanya tidur yang ada di otakmu!", tanggap Shino merapikan bukunya dan segera pergi keluar kelas. Diikuti Sai dan kawan-kawan lain.
Tersisa Hinata dan Sasuke.
Sasuke sengaja menunggu hingga seluruh teman-temannya keluar. Mengingat Hinata pasti dijemput oleh laki-laki berambut coklat biasa, yang ia tebak pasti saudaranya_walau tidak ada kemiripannya, hanya bola mata mereka saja yang sama.
Hinata yang telah selesai berkemas, kemudian segera melangkahkan kakinya untuk mencapai pintu luar kelas. Ia tahu hanya tinggal ia dan Sasuke di dalam ruangan ini. Tak biasanya Sasuke tidak pulang bersama teman-teman mereka, mengingat mereka selalu bersama. Dan masih tetap berusaha berpikir positif, Hinata tetap berjalan senormal mungkin untuk menghilangkan kegugupannya. Entah mengapa pintu keluar itu terasa jauh sekali. Dan saat melewati bangku depan milik Sasuke.
"Hyuuga Hinata!"
DEG
.
Love Competition
.
Hari libur...
Hari ini adalah hari minggu. Hari dimana semua kegiatan dan kesibukan di liburkan. Tak terkecuali untuk keluarga Uchiha.
KRINGG...!
Jam beker milik Sasuke berdering, membangunkan sang tuannya.
Sasuke yang terusik dengan suara cempreng tersebut segera membuka mata onyxs-nya. Posisi tidurnya yang tengkurap tanpa baju dengan hanya mengenakan celana pendek hitam selutut, tanpa balutan selimut berniat untuk melanjutkan tidurnya. Sayang, wajahnya harus menghadap ke tirai transparan yang telah di tembus cahaya matahari pagi. Silau. Terpaksa ia membuka kelopak matanya lagi.
Sasuke berdiri dari tempat tidurnya, berjalan mendekati jendela bertirai transparan yang mengganggu mimpi dan akan ia lanjutkan kembali.
Saat pria raven keturunan Uchiha itu akan menutup tirai tersebut , ia mengurungkan niatnya untuk sesuatu yang jarang dilihat. Tampak pemandangan halaman depan rumahnya yang masih berembun dari lantai 3, kembali ia melirik ke arah jam yang masih tersenyum di jarum pendek menunjukkan angka 6, ternyata masih pagi. Apa mungkin ia memang baru pertama kali bangun sepagi ini, sehingga embun saja terlewatkan.
BRUMM...!
Tiba-tiba, pandangannya ia alihkan pada asal sebuah suara yang mengganggu gendang telinga. Suara halus dari deru sebuah mobil. Sasuke semakin intens dan fokus pada asal suara mobil itu. Ia mengenal pemilik suara mobil tersebut. Dan perkiraannya tidak salah. Itachi keluar dari pintu utama rumah pagi-pagi sekali. Sasuke melihat Itachi masuk ke dalam mobil hitam yang telah di sediakan oleh asisten laki-laki kediaman Uchiha.
Bungsu Uchiha tampak berpikir, tak biasanya Itachi keluar pagi-pagi sekali di hari libur. Sekali lagi, apa ia memang terlalu melewatkan suasana dan kegiatan pagi yang tak pernah ia lihat ini.
Sasuke berbalik dari jendela kaca besar tersebut. Kemudian melenggang masuk ke kamar mandi . Terdengar dari bilik pintu, guyuran shower sedang mengalirkan air, Sasuke sedang mandi.
.
.
Sesampainya di tempat tujuan Itachi, yaitu kantor Uchiha, segera sang pemimpin itu turun dari mobilnya, melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gedung Uchiha yang hanya berhuni oleh satpam-satpam yang kebagian hari libur. Itachi menuju ke arah lift utama yang akan membawanya ke ruangannya lebih cepat. Sesampai di lift, ia segera masuk dan memencet angka yang tertera di sebelah kanan pintu lift tersebut.
Sekitar 2 menit, lift itu telah membawa Itachi sampai di dedan ruangannya. Ia keluar dari lift tersebut kemudian berjalan ke pintu besar bergaya modern dan megah yang bertuliskan "Director". Tangan kekarnya membuka pintu tersebut, kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
Sulung Uchiha tersebut nampak membuka-buka map-map yang menumpuk di mejanya. Tak butuh waktu lama, ia kemudian menemukan apa yang ia cari. Sebuah map berwarna biru tua yang berisi dokumen-dokumen dengan beberapa tanda tangan yang ber-materei. Sedikit Itachi menyunggingkan senyum manisnya.
"Hn, kau pasti berurusan dengan Uchiha, Hyuuga!"
Setelah puas dengan hasil yang ia dapatkan, Itachi melirik ke jam tangan. Aksesoris keluaran Uchiha terbaru dengan harga sebanding 1 unit mobil tersebut menunjukkan pukul 07:00. Masih terlalu pagi untuk sebuah hal, yaitu melihat data dari map biru tua. Dasar Uchiha. Seberapa penting map tersebut dengan waktu pagimu?
Kenapa? Karena kemarin sore, Itachi pulang seperti biasa yaitu jam 4 sore, tetapi data tersebut baru datang jam 8 malam seperti yang dikabarkan sekretarisnya pagi tadi, sehingga Itachi baru sempat melihat tanda tangan yang di bubuhkan Neji Hyuuga dalam sebuah pengajuan kerja sama bisnis wilayah.
Terimakasih pada kedudukannya.
.
.
Sasuke mengendarai mobilnya menuju ke salah satu apartemen mewah. Sesampainya ditempat tujuan, ia turun dari mobilnya, kemudian melemparkan kunci mobil kepada salah satu petugas yang menyambut kedatangan seorang Uchiha. Para petugas menunduk mengerti maksud Tuannya, segera saja mobil mewah itu dibawa masuk ke garasi khusus. Tanpa mengindahkan salam hormat dari pelayannya Sasuke segera berjalan memasuki sebuah ruangan yang hanya terdapat satu orang disana.
Pria raven yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan segera mendudukkan diri di sofa besar berwarna hitam yang langsung menatap televisi. Ia melihat sampah makanan bertebaran dimana-mana, putung rokok menumpuk di cawannya, serta pakaian yang bertebaran dimana-mana.
"Ada berita apa, Suigetsu?", Sasuke membuka pembicaraan. Karena tak ingin berlama-lama disana.
"Seorang suruhan Sasori menyelinap ke Konoha", jawab Suigetsu yang memakai kaos tidur berwarna hitam dan celana boxer selutut berwarna biru dongker. Suigetsu hanya sedikit melirik Sasuke yang sedang menatapnya.
Sasuke kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa hitam ditengah ruangan.
"Dimana dia sekarang?"
"Belum diketahui tempat persembunyiannya", jawab Suigetsu seraya menegakkan badan dari tidurnya . "Kemungkinan, ia adalah lawan yang perlu diperhitungkan", lanjutnya.
Sasuke berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kaki jenjangnya mendekat ke arah pintu ruangan milik Suigetsu. "Bawa penyusup itu kehadapanku secepatnya!"
CKLEKK
Sasuke keluar ruangan, kemudian menutup pintu kamar. Ia berjalan untuk segera keluar gedung apartemen yang merupakan salah satu bawahan Uchiha. Sesampainya di teras gedung, Sasuke mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah nama di kontak teleponnya lalu menekan tombol call, seraya menunggu mobilnya dari parkiran.
"Juugo, temukan penyusup itu!"
Tut tut...sambungan diputus.
Tiba-tiba...
DORR...!
Dari balik sebuah jendela bertirai putih, sebuah senapan laras panjang mengarah keluar jendela. Timah panas meluncur keluar dari senjata tersebut.
"PRAANG!"
Peluru berdiameter 5,56mm memecahkan kaca pintu masuk Apartemen Uchiha. Dan berakhir di lantai marmer pada pendaratannya.
"Kyaa...!", teriak semua orang yang berada disekitar.
"Semuanya berlindung!", seru salah seorang petugas hotel.
"Tuan muda, anda tidak apa-apa?", kata petugas hotel lainnya kepada Sasuke.
"Hn"
"Kami akan mengejarnya, Tuan!" Kemudian si pelayan tersebut mengajak beberapa orang untuk mengejar pelaku penembakan.
Sasuke menatap tajam pada salah satu jendela disana. Iya yakin, tembakan itu memang diarahkan padanya. Saat peluru tersebut melesat, Sasuke dengan gesit segera menghindar dan ternyata mengincar dada sebelah kirinya. Dengan kemampuan insting, Sasuke sedikit menggeser tubuhnya ke kanan, sehingga hanya sedikit menyerempet daging kulitnya dan menembus jaket hitam yang ia kenakan sepersekian detik setelah ia menggerakkan tubuhnya.
Suigetsu yang mendengar tembakan di luar, segera lari keluar gedung. Ditemuinya Sasuke yang masih berdiri di teras apartemen. "Sasuke? Kau?", tanya Suigetsu mengkhawatirkan Sasuke.
"Hn. Dia ada di gedung depan lantai 3"
"Ok!" Suigetsu berniat beranjak dari tempatnya, namun sebuah suara menghentikannya.
"Suigetsu!"
"Ya?", kembali menatap mata kelam malam penuh dendam.
"Periksa seluruh gedung sekitar"
"Baik!" Suigetsu menyetujui. "Semua, persiapkan pengejaran, panggil medis untuk Tuan Sasuke!", seru Suigetsu selanjutnya pada beberapa karyawan disana.
"Baik!", jawab semuanya. Kemudian Suigetsu segera pergi melesat bersama beberapa mobil di belakangnya. Sasuke masih tetap melayangkan pandangan matanya ke sebuah jendela berukuran sedang, bergaya minimalis pada gedung yang berhadapan langsung dengan Uchiha's Apartmen 21st.
"Ternyata tak perlu mencarimu, eh?", gumam Sasuke dengan senyum devilnya.
.
.
Disebuah rumah makan mewah, Itachi sedang menikmati makan paginya dengan lahap. Ditemani musik kesukaannya, serta sebuah laptop sembari membuka-buka perkembangan bisnisnya. Tiba-tiba deringan HP mengagetkannya.
Klik
"Ya?", masih dengan tetap fokus pada layar laptopnya.
'Tuan, Nona Hinata sedang berada di pusat perbelanjaan Konoha di Grand Uchiha's Mall'
Seketika kunyahan Itachi pada makanan yang bersarang dimulutnya berhenti. Seketika. Dan kembali ia mengunyahnya lagi, diikuti dengan senyum manisnya. "Hn. Terima kasih, Kisame!", kalau Uchiha ini masih mengenal balas budi.
Tutt tuttt
.
.
"Nii-san, Grand Uchiha's Mall!", seru Hinata sesampainya di pusat perbelanjaan terbesar Konoha.
"Hn. Ini hanya milik Uchiha, kita tak akan bertemu seorang Uchiha disini.", meyakinkan Hinata agar tak terlalu terlalu terbawa suasana dahulu.
Hinata kembali mengerucutkan bibirnya. Memang ia juga berharap bertemu mereka. Terimakasih Hinata akan ucapkan pada Neji. Ia tak sudi.
Di keramaian hiruk-pikuk pengunjung mall bersimpangan. Semua pendatang tak akan merasa mall ini akan sempit lahannya, karena pusat perbelanjaan di ibukota Konoha tersebut merupakan terbesar didunia. Gaya bangunan modern dengan lantai untuk pejalan kaki melebihi luasnya lapangan bola. Hinata selalu berpegang pada lengan kakak sepupunya, Neji. Setelah mengetahui bahwa pusat perbelanjaan terbesar tersebut ternyata besarnya melebihi pikiran Hinata. Ini seperti sedang di padang pasir yang banyak orang.
Neji tahu Hinata sangat membutuhkannya. Apalagi saat ini. Hinata menggenggam tangannya sangat erat. Hal-hal yang sangat jarang ia dapatkan dari Hinata. Tak terasa ia tersenyum sendiri, serta karena sebagian orang yang sempat berpapasan dengannya, melihat dirinya dan Hinata sangat serasi sekali. Mereka pasti menduga si pasangan ini adalah seorang kekasih.
Padahal Neji dan Hinata adalah saudara, tapi karena posisi mereka yang menunjukkan seperti insan yang tengah menjalin hubungan, orang yang tak mengenalnya akan mengira demikian. Itu nampak karena, tangan kanan Hinata menggenggam jemari kiri Neji, sedangkan tangan kirinya merangkul lengan kiri Neji. Mesra.
Hinata yang cantik jelita dengan sweeter dark blue kebesaran dengan rok putih diatas lutut yang membentuk gelombang, rambut lurus, lembut dan indah digerai dengan hiasan penjepit sederhana untuk menjepit poninya. Sedangkan Neji, kaos coklat dan celana hitam panjang. Santai.
Tapi tidak untuk Itachi yang tengah memandang mereka lekat-lekat. Dengan segala kearogannya, Itachi berjalan mendekati Hinata dan Neji. Dan dengan sengaja Itachi berpura-pura menabrak sang Hairess Hyuuga.
DUK!
"Auw!", Neji menghentikan langkahnya, kala Hinata sedang menggeluh kesakitan dan pegangan pada tangannya terlepas.
"Gomen, aku tidak sengaja!"
Hinata menatap sang pelaku penabrak dirinya. Ditatapnya seseorang tersebut dengan perlahan. "Ka-kau...?" Hinata mengingat-ingat laki-laki ini.
"Sekali lagi aku minta maaf, apa kau terluka?"
"Ti-tidak". Hinata menundukkan kepalanya. Lagi. Mata onyxs. Hinata kenal nama satu orang yang memiliki mata itu.
.
Flashback on:
"Hyuuga Hinata!"
DEG
Hinata menegok ke arah lelaki yang memanggilnya barusan. Seorang yang dengan tampang dinginnya masih duduk dikursi sedang menatap tajam. Kemudian pria itu berdiri menghampiri.
Sasuke berjalan mendekati Hinata yang masih berdiri bak patung, hingga ia tepat berada didepan gadis itu sekarang. Tak ada kata apapun yang terlontar. Sasuke diam mengamati gadisnya yang malah menundukkan kepalanya.
Hinata menutupi sebagian wajah dengan poni rambutnya. Berusaha menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba melanda, dan menghindari tatapan intimidasi seorang Sasuke. Keadaan seperti ini entah mengapa mengingatkan Hinata pada hari kemarin-kemarin saat bersama pria ini. Sial. Dan sekarang, seolah Hinata adalah seorang kekasih yang ketahuan selingkuh saja.
Lama tak ada yang membuka suara. Hinata berusaha memecahkan keheningan.
"Y-ya, Sa-Sasuke-san?", Hinata berusaha melawan mata hitam yang menatapnya.
"Hn."
Hinata mengernyit menerima umpan balik Sasuke. Apa maksud tanggapan itu?
"Go-gomen. A-aku su-sudah ditunggu."
Hinata beranjak dari tempat berdirinya, melangkahkan kakinya untuk segera sampai meraih engsel pintu. Sampai sebuah tarikan kuat menghentikan pergerakannya. Hingga ia tak merasakan apapun kecuali sakit di bagian punggungnya.
BRAK
"Kyaa...!"
Sasuke mendorong tubuh sintal Hinata hingga terbaring di atas meja belajarnya. Dan cepat bereaksi, ia mengunci pergerakan Hinata dengan mengekang kedua tangan gadis itu diantara kepalanya.
Mata Onyxs. Hinata simpulkan.
Sasuke mengamati wajah cantik Hinata dengan rona merah yang imut muncul di kedua pipinya. Bibir manis berwarna pink itu sungguh terlihat kenyal. Sasuke semakin mendekatkan wajahnya, berusaha meraih rasa dari keindahan wajah dihadapannya.
"Sa-Sasuke-san!" Hinata berteriak dan hampir menangis kala bibir Sasuke hampir menyentuh bibirnya. Dan untung saja ia masih sanggup menghindar, dan akhirnya Sasuke hanya mendapatkan sentuhan ringan di pipi merah Hinata.
Hinata berontak saat Sasuke tak ada pergerakan sama sekali. Dan Hinata malah semakin menerima beban berat yang semakin menghimpitnya. Sasuke merapatkan tubuhnya diatas tubuh Hinata.
CUP
"Ahh..!" Hinata terlonjak kaget merasakan sebuah hisapan kuat dilehernya.
Darah mendesir tiba-tiba. Dan Hinata semakin tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya. Mencerna. Hinata mencerna maksud dari ini.
Sasuke semakin menahmbah kecupan dileher gadis dibawah tindihannya.
Tidak. Ini tidak boleh dibiarkan.
Hinata semakin berontak kala Sasuke semakin gemas memberikan kismark dilehernya. Apalagi pria ini masih berusaha menggapai bibirnya. Dan Hinata hanya bisa berusaha menghindari. Apa maksud pria ini dengan melakukan ini padanya? Apa ini caranya mendapatkan Hinata? Tidak. Sampai sekarang ini, Hinata masih penasaran dengan Sasuke sebenarnya. Pria apa dia sebenarnya. Pemuda yang dingin perasaan dan interaksi, kagum dengan tingkah polahnya yang aneh. Tak tahukah Hinata jika perasaan penasaran dan kagum itu adalah salah satu jalan menuju 'suka'? Mungkinkah itu benar adanya? Dan Hinata terlambat menyadari itu.
"CU-CUKUP! He-hentikan!", teriak Hinata.
Dan peringatan Hinata mampu menghentikan aktifitas Sasuke.
Sasuke menatap tajam Hinata yang masih dibawah tindihannya. Dan...
Tes...
Hinata menangis.
Sasuke terbelalak meihat itu. Apa ia melakukan dosa? Astaga. Sasuke tak dapat mengontrol egonya. Dan segera saja ia melepaskan cekalan tangannya pada Hinata. Dan beranjak berdiri menjauhi tubuh Hinata.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Meredam suara tangis agar tak terlalu keras didengarkan oleh orang-orang diluar kelas yang masih berlalu-lalang.
Sasuke mendekati Hinata yang masih terduduk dimejanya. Melepas kedua tangan Hinata yang menutupi seluruh wajahnya. Sasuke hendak mengucapkan kalimat jika saja Hinata tidak lebih dulu mengutarakan isi hatinya.
"A-aku membencimu!"
"..."
"Le-lepaskan aku!", Hinata berusaha melepaskan tangan Sasuke.
"Kau bahkan tak melakukan apapun untukku", kata Sasuke dingin.
"...?"
"..."
"Harusnya aku yang bertanya Sa-Sasuke-san. K-Kau tidak pernah me-mengatakan maksudmu, da-dan kau tidak pernah me-melakukan a-apapun." Hinata lepas dari Sasuke dan segera berlari menjangkau pintu luar ruangan. Meninggalkan Sasuke sendiri di ruang kelas.
"Aku menyukaimu, Hinata" gumam Sasuke
Flashback off.
.
"Ka-kau, bu-bukan Sa-Sasuke?", pikiran apa yang merasuki Hinata hingga menyebut nama pria itu.
"Cih", Itachi mendecih kesal.
Neji merutuki doanya yang tidak terkabulkan. Dia bertemu seorang Uchiha. Apa Hinata mengenal dia? Bagaimana jika Hinata tahu kalau seorang ini adalah Uchiha. Neji harap Itachi bisa mengerti dan diajak kerjasama.
"Itachi?", Neji angkat bicara.
Itachi menoleh ke arah Neji.
"Eh? Ni-san kenal?", Hinata cengo. Secepat kilat Neji langsung menarik Hinata ke pelukannya. Itachi yang melihat aksi Neji, menyipitkan matanya. Syukurlah, Hinata tak mengenal Itachi.
Dikejauhan tampak sepasang mata sedang melihat kejadian tadi. Si pemilik mata pengintai itu mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah nomor kemudian menekan tombol hijau.
"Moshi-moshi, Tuan!"
"Tuan Itachi bertemu dengan Nona Hinata!"
"Grand Uchiha's Mall hari ini"
"Baik, Tuan!"
.
.
Sasuke sedang diobati luka serempetan peluru yang mengenai kulitnya di bawah ketiak. Ia sedikit mengaduh nyeri kala cairan antiseptik dari sang dokter mengenai luka bagian tengahnya.
"Tck, bisakah kau sedikit pelan!", bentak Sasuke.
"Go-gomen, Tuan. I-ini memang sedikit sakit, karena berupa goresan"
"Sial!", umpatnya.
Ponsel Sasuke bergetar di saku celananya. Ia merogoh saku hitamnya dengan tangan kanannya. Seseorang memanggilnya.
"Hn"
"Dimana?"
"Hn. Tetap awasi mereka"
Tutt tutt...sambungan ditutup...
'Aniki!', umpat Sasuke dalam hati.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampakkan beberapa teman Sasuke. Sai, Naruto, Shikamaru dan Shino. "Kau baik-baik saja, Sasuke?", tanya Naruto yang khawatir dengan berita yang di dengarnya.
"Hn"
"Kau, tahu. Kejadian kau hampir tertembak tadi tersiar langsung di semua stasiun TV?", kata Sai kemudian mengambil remote TV, dan menyalakan salah satu siaran yang menayangkan Sasuke tengah berdiri di teras depan apartemen dengan Suigetsu serta banyak orang berlalu lalang bingung mencari tempat aman. "Semua stasiun TV menayangkan berita ini", lanjut Sai sembari menggonta-ganti channel TV. Kemudian melempar remote tersebut di sebuah sofa. Teman-teman Sasuke mendekat ke arahnya yang terduduk di sebuah sofa berwarna cream.
"Mana pelakunya?", tanya Sai yang memakai kaos hitam santai dengan celana levis hitam yang melebar dibawahnya.
"Suigetsu sedang mengejarnya"
Dokter dan asisten yang telah selesai mengobati Sasuke segera mundur, ketika teman-teman majikannya sampai dikursi yang diduduki Direktur Uchiha ke-2 itu. Kemudian keluar dari ruangan beserta alat prakteknya.
"Dia anak buah Sasori", kata Shikamaru yang ikut duduk di samping Sasuke. Diikuti teman-teman lainnya. "Siapa lagi?", timpal Naruto.
"Aku berasumsi, bahwa yang menembak bukan dalang yang asli", kata Shino dengan nada seriusnya.
"Maksudmu?", Naruto sedikit tak mengerti dengan maksud temannya ini.
"Orang yang mencelakai Sasuke adalah orang keduanya", lanjut Shino seraya berjalan menuju jendela kamar inap Sasuke, melihat kearah gedung sebelah yang sedang ramai oleh polisi.
"Kalau begitu?", Sai terkejut dan bingung menyampaikan pikirannya.
"Itu bisa terjadi", Sasuke setuju.
"Apa? Kalian bicara apa?", Naruto tak mengerti.
"Pelaku aslinya mungkin masih ada di gedung depan", jawab Shikamaru.
.
.
Hinata sedang menonton televisi yang sedang memutar dorama keluarga. Ia tampak sangat serius, dengan teman si Nii-san tampan disebelahnya serta setoples cookies. Saat si dorama selesai, Hinata menjadi kesal, gadis itu segera mengambil remote TV kemudian mengalihkan ke channel baru. Tiba-tiba, ia melihat sesosok yang dikenalnya. Ia berhenti pada channel tersebut. "Sa-Sasuke?", Hinata terlonjak kaget.
Neji yang melihat keterkejutan Hinata, menoleh pada TV yang ada di depannya. Neji melihat Sasuke yang berdiri di teras sebuah gedung megah dengan beberapa orang mengerumuninya. Remote yang berada di tangan Hinata segera Neji sambar. Langsung ia alihkan layar TV ke channel lain yang memberitakan tips-tips hidup sehat.
"Nii-san?", Hinata meminta penjelasan.
"Dia seorang artis, wajar banyak dikerumuni orang"
"..."
"Kenapa?" Hinata memandang Neji dengan mata yang aneh.
"Aku lupa mengembalikan jaket Itachi-san"
.
Love Competition
.
Sasuke sedang meminum vodka dibalkon kamarnya. Setelah kejadian tadi, ia memutuskan untuk pulang dan menyuruh teman-temannya segera menemukan pelakunya. Ia ingat kejadian seminggu lalu, Hinata datang ke acara Sai, ia begitu cantik dan mempesona, Sasuke bersumpah, setiap orang yang berada disana pasti menginginkan Hinata. Dan saat itu Sai-lah pemenangnya.
Itachi yang menyukai Hinata. Setelah kejadian Sakura yang menghukum Hinata di taman galeri milik Sai, Itachi mengantarkan Hinata pulang. Terlihat kekanak-kanakan Hinata dengan mudah menuruti kemauan Sakura, terlalu polos. Dan tadi pagi, Itachi bertemu dengan Hinata di Mall milik keluarga Uchiha. Sial.
Naruto. Naruto memang tipikal lelaki yang mudah bergaul dengan siapapun. Tidak ayal jika Naruto memang pandai mengakrabkan diri dengan Hinata. Seperti kejadian kemarin siang, Naruto dengan sengaja menggandeng tangan Hinata, disekolah bahkan Naruto mampu mendekati Hinata entah kemanapun gadis itu berada.
Dan dirinya?
"Arrghh, Sasuke...kau gila!", teriaknya entah pada siapa, seraya mencengkram rambut biru kelamnya. Kenapa? Sebenarnya apa yang ia khawatirkan? Ia takut kalah? Bukan.
Lalu?
Sasuke menghela nafas.
"Aku tak pernah melakukan apapun"
Hanya demi wanita yang baru ia kenal, ia sudah setengah mati memikirkannya. Ia takut jika malah orang lainlah yang akhirnya mendapatkan Hinata. Bagaimana ini? Sasuke juga menginginkan Hinata.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar ponselnya. Mengetikkan sebuah pesan.
To: Sai, Naruto
Subjek: Love Competition
Persiapkan diri kalian. Kita selesaikan taruhan tentang Hinata dengan balapan mobil jam 11 malam nanti di Sirkuit Konoha.
Send.
Sasuke melempar Handphone-nya, dan merebahkan tubuh tegangnya disandaran kursi. Ia melirik jam yang melingkar ditangannya. Pukul 2 Siang. Ia ingin beristirahat terlebih dahulu serta mempersiapkan tenaganya untuk nanti malam. Serigaian tak jelas terukir di bibir bungsu Uchiha, mengerikan.
"Hime, pastikan hanya aku yang akan ada disisimu. Mulai besok pagi"
.
.
.
TBC
Maaf yang menunggu lama. Dipastikan FF ini akan segera update kembali secepatnya. Dan kayaknya tinggal dikit lagi chapternya. Kayaknya...
Mogu: Thank u. Dilanjutkan. Esih: ahh...! semoga perkiraan Esih benar...hehe... Lavenix: Ini update ^^ Sasuhina 4everxx: update ^^ . Uchiha Hanaruhime: Hinata centric ^^. Kan aku ngefans sama Hinata. Nabila: update ^^ sasuuhinaa: ini lama gak? Kamu udah jamuran belum? Author beliin obat anti jamur dah...^^ gomen, diusahakan gak ngeret lagi ^^ Lionel: hahh? ^^ Haru3173: Haru Author ya? Sepertinya saya gak asing. Thank u. Semoga tambah suka. ^^ maklum newbie...hehe... siska: update, thank u ^^ Chipana: sabar, tapi diusahakan hanya lime saja ^^, kayaknya... *plak...re: hehe...Author juga masih bingung siapa ini ya kira-kira...~o~! *Author gemblung... virgo24: update (ToT)...gomen ngeret yuyue: huhu (T.T) Author sedang kena virus...males...*plak AyuClouds: semoga tambah bingung. (T.T) jangan bingung ya, Author juga bingung ntar ngejelasinnya..huhuhu...(T.T)
Thank you for reading.
See you next chapter (^o^)/
