Love Competition

Chapter 10

"Meet You Again"

.

Naruto by Masashi Kishimoto

LC by QQ

Pairing: Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

Notes: AU, OOC, Typos, Language, etc.

.

.

.

Hari ini, Hinata tidak bisa bertemu dengan Kurenai Sensei, pembimbingnya. Lebih tepatnya, tidak ada kesempatan. Hinata sengaja menutupi tentang percepatan kelulusannya, dari semua orang. Padahal hari ini ia harus bertemu dengan dosen pembimbingnya itu. Namun, fakta mengejutkan pagi tadi membuat ia harus ekstra berserah diri dari pengawasan seorang Sasuke.

Takdir.

Ternyata takdir itu tergantung kita menentukan jalan apa yang diambil untuk kedepannya. Sabar Hinata. Kau terjebak dalam hasil persaingan untuk kedua kalinya.

Masih bicara soal takdir?

Hinata duduk diam dibangku barunya. Dimana sang kekasih setia berada disampingnya. Sasuke. Ya, mulai hari ini Hinata pindah tempat duduk, disamping Tenten digantikan oleh teman lain, sedangkan disamping Sasuke sebelumnya Naruto, harus bergeser satu bangku disamping Hinata. Hinata hanya mampu berharap agar urusan ini cepat selesai.

Hinata hanya mampu menundukkan kepalanya, seluruh poni rambut indigonya menutupi seluruh wajahnya. Meredam rasa jengkel dihatinya.

Blush...

Apa-apaan ini.

Kejadian tadi pagi masih memenuhi pikiran Hinata.

Kriet...

Pintu kelas terbuka menampilkan seorang dosen yang biasa mereka kenal. Kakashi-sensei. Namun, sepertinya ia tidak datang sendiri.

Siingg...

Seluruh siswa di kelas dibuat hening seketika. Tidak terkecuali seorang Sasuke.

"Baiklah, kalian kedatangan murid baru lagi. Karena Tsunade-sama sedang berhalangan hadir, maka kita akan perkenalan langsung.", Kakashi membuka percakapan. "Silakan perkenalkan namamu", lanjut Kakashi mempersilahkan orang baru tersebut.

.

"Sabaku Gaara"

.

DEG

Perkenalan singkat.

Namun mampu membuat semua siswa fokus pada satu warga baru kelas mereka.

Tidak.

Tidak untuk Hinata. Pasti ini mimpi.

Hinata memberanikan diri mengangkat kepalanya. Memastikan bahwa suara dan sebutan nama tersebut bukan sosok yang pernah ia kenal.

DEG

Mata itu.

Orang itu.

Mata jade itu telah lama memperhatikannya.

Pandangan mereka bertemu. Gaara dengan syarat kerinduan dan Hinata syarat ketidakpercayaannya.

Dan momentum ini tidak terlewatkan oleh onyxs Sasuke. Ia yang menyadari ada keganjilan diantara keduanya, mengambil inisiatif dengan segera saja mencium pipi kanan Hinata.

Tentu perilaku Sasuke barusan membuat Hinata menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan kagetnya. Tidak tahukah jika Hinata yakin tingkah Sasuke barusan akan memancing amarah seseorang yang masih berdiri disana.

BRAK...!

Benar saja. Gaara mendorong tubuh Sasuke yang masih duduk di kursi kuliahnya. Hingga membuat tempat duduknya mundur kebelakang menabrak kawan lain dibelakangnya.

Dan Hinata menatap Sasuke sebentar kemudian beralih kepada sosok berambut merah yang berdiri didepannya, menatap Sasuke penuh amarah.

Sasuke beediri dari kursinya. Belum sempat ia akan mengekuarkan umpatan dari mulutnya, Kakashi menyela terlebih dahulu. " Hormati saya! Kalau kalian ada masalah, selesaikan nanti setelah pelajaran ini selesai. Dan anda, Tuan Sabaku, ini hari pertama anda masuk kampus ini, jaga sikap anda atau hari ini adalah hari pertama dan terakhir untukmu."

Gaara terdiam mendengar peringatan dosen bermasker itu. Ingin sekali ia menhantamkan kepalan tangannya ke wajah sok angkuhnya disana. Tapi bagaimanapun ia harus sabar. Hal yang tidak pernah ia lakukan, namun untuk hari ini ia akan berusaha mati-matian menahan amarah yang sebenarnya ingin segera menyeret Hinata keluar kelas.

.

Love Competition

.

Neji menatap benci pada makhluk Tuhan yang tengah menatapnya dengan senyum yang membuat ia muak. Bagaimana mungkin ini menjadi sulit dan keluar dari perkiraannya. Beribu kali ia mengumpat dalam hati bahwa Uchiha memang pandai beralibi.

"Aku tidak bisa meneruskan kerjasama ini. Kau tahu sendiri, nilai saham Uchiha menduduki posisi pertama, bagaimana mungkin kau hanya mampu menyumbang komoditas ekspor hanya sekian persen, ahh?", ucap Itachi menatap penuh kemenangan.

Neji menghela nafas beratnya. "Sudah kukatakan dari awal Tuan Itachi, kami telah mengerahkan 100% anggaran kami untuk memenuhinya, dan..."

"Dan anggaranmu juga kucuran dari Uchiha. Kau pikir aku tidak memantau alur akuntansi perusahaanmu? Kau pikir kau mampu bangkit dari masa kelammu melalui bantuan siapa?", Sela Itachi mematahkan argumen Neji.

"Aku sudah melunasi hutang Hyuuga pada Uchiha!", geram Neji. Permainan apa lagi yang akan Uchiha mainkan untuk Hyuuga? Sungguh, ia sudah tidak tahan dengan semua ini.

"Sayang sekali, kau masih ada hutang denganku", serigai Itachi. "Kau bisa lihat berkas ini", Itachi menyodorkan map biru pada Neji.

Dengan segenap hati, Neji berusaha menahan diri agar tidak segera memarik dasi direktur Uchiha itu. "Tidak ada hutang lagi, Tuan. Bagaimana logika dan kalkulasi anda tentang hutang saya hahh? Licik sekali."

"Itulah bisnis, sehat dan menguntungkan"

"Asal kau tahu saja Tuan, Hinata tidak akan pernah saya relakan untuk anda.", Neji berdiri dari kursinya.

Ya, semua pasti tentang Hinata.

Neji tahu jika maksud dari Itachi ini adalah Hinata. Tanpa Itachi jelaskan ia mampu membaca, bahwa yang Itachi inginkan adalah ia menyerahkan Hinata. Dan semua akan selesai. Pecundang.

"Terimakasih untuk diskusi hari ini, akan saya pertimbangkan. Permisi!", lanjut Neji melangkah keluar dari meja rapatnya.

Dan sebelum ia mencapai ganggang pintu keluar ruangan. Sebuah suara menginterupsinya.

"Pertimbangkan lagi. Karena pembangunan perusahaanmu hampir 80%. Tentu kau tidak ingin rugi bukan? Dan aku masih mampu mengulang kejadian tempo itu."

Tanpa menoleh dari sumber suara Neji segera memdorong pintu keluar untuk segera mengeluarkan nafas sesaknya.

Dan tinggallah Itachi sendiri di dalam ruangan dengan senyum devil-nya.

"Mudah sekali mematahkanmu, ehh"

.

.

Kakashi berjalan untuk keluar ruangan. Pelajarannya telah usai. Dan sebelum ia keluar ruangan, ia berpesan pada dua orang disana. "Aku ingin memastikan tidak ada kekacauam disini. Jadi, bagi kalian yang sedang ada masalah silahkan keluar terlebih dahulu, kalian bisa teruskan di halaman belakang", tentu ia tidak ingin ada kericuhan di dalam kelas, teladan yang baik bukan.

SREK

Gaara keluar dari tempat duduknya, berjalan dengan santai untuk keluar ruangan.

Bangsat. Menantang rupanya.

Dan selanjutnya Sasuke juga berdiri dari kursinya. Mengikuti langkah lelaki bertato Ai keluar ruangan. Dan hal itu membuat semua siswa membeku.

Tidak jauh berbeda dengan kawan lainnya, Hinata tidak mampu menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan satu kata-pun. Apa yang harus ia lakukan? Diam saja?

.

Semilir angin pagi hari terasa tidak sampai untuk sekedar menerpa kulit langsung. Dua manusia yang saling menatap dan berhadapan sejauh 10 meter ditengah halaman belakang kampus yang tengah merasakannya. Entah apa yang ada dipikiran mereka sekarang. Dendam?

"Lama tidak bertemu, Tuan Uchiha"

"Hn. Kau semakin dewasa, Sabaku"

Terdiam cukup lama diantara masing-masing. Tanpa mereka sadari bahwa kumpulan siswa tengah menyaksikan dua lelaki tampan yang saling tatap-menatap.

"Kau kelihatan tua, Sasuke. Apa makananmu tidak sehat selama ini, ehh?"

Sasuke menanggapi ejekan itu dengan tarikan sudut bibirnya sesaat. "Kau salah, aku merasa seperti bayi karena Hinata memanjakanku"

Mata jade Gaara semakin tajam mendengar nama Hinata terucap dari mulut Sasuke. Dan sedetik kemudian Hinata menyempil keluar dari kerumunan orang-orang yang menjadi penonton. Berdiri di tengah halaman menatap dua lelaki disana yang juga tengah menatapnya. Berharap tidak terjadi pertengkaran diantara keduanya.

"Sudah berapa lama kalian berhubungan?"

"Lama sekali"

Hinata menatap horor pada Sasuke. Jelas tidak benar ucapan Sasuke barusan.

Gaara menatap Hinata yang kemudian ia menerima tatapan balasan dari Hinata. "Aku tidak ingat pernah meng-iya-kan keputusanmu malam itu"

Tatapan Hinata menjadi sendu. "Ga-gaara, a-aku su-sudah menganggap hu-hubungan kita se-selesai. Maaf.", kemudian ia kembali menatap Sasuke. "Dan, Sa-Sasuke-san, a-aku belum menerimamu. Ku-kumohon, kepada kalian, ke-kembalilah ke kelas.", cicit Hinata seraya menggenggam kedua tangannya yang saling terpaut didadanya.

Gaara sedikit menarik ujung bibirnya. Setidaknya posisinya masih lebih mendominasi untuk Hinata. Serigai mengejek ia tujukan pada Sasuke disana.

Berbeda dengan Sasuke yang geram dengan perkataan Hinata barusan. Gadis bodoh macam apa dia itu, bukankah sudah ia jelaskan dari awal bahwa tidak ada penolakan untuk dirinya. Sasuke melangkah mendekati Hinata untuk memberikan pelajaran pada gadis itu.

Sebelum ia sampai pada Hinata, Gaara menghalangi langkahnya dengan berdiri kurang dari 1 meter dihadapannya.

"Kau harus tahu posisimu", ucap Gaara dingin. Menatap manik kelam mengisyaratkan emosi bertumpah disana.

Sasuke menatap tajam Gaara yang tingginya hampir sama dengannya. Sedetik maniknya bergulir menatap Hinata yang menatap lemah dirinya. Mengerti akan maksud pendangannya, gadis itu menundukkan kepalanya.

Brengsek. Umpat Sasuke. Gadis lemah seperti itu sungguh menguras emosinya saat ini. Ingin sekali ia menarik Hinata. Menyeretnya ke mobil dan membentaknya. Tegaskan sekali lagi bahwa ia adalah pemiliknya. Pemilik hatinya. Hinata Hyuuga.

Dan Hinata masih tetap berdiam diri ditempatnya. Tidak berani menatap Sasuke yang terus mengintimidasinya. Sedikit rasa bersalah mengganggu hati. Hinata hanya mampu menutup rapat kedua matanya. Berharap ini cepat selesai. Dan hari kembali normal seperti yang ia harapkan.

Selanjutnya yang dapat Hinata dengar adalah sebuah langkah kaki yang menjauhi pendengarannya.

Hinata perlahan membuka matanya. Ia lihat dengan tatapan sendu seseorang berjalan menjauhinya. Sasuke. Sasuke berjalan menjauhinya. Meninggalkan ia dan Gaara yang masih mematung menatap pria emo disana tanpa menoleh kebelakang. Hinata merasa ada yang hilang. Apa?

Apa ini?

Ingin rasanya Hinata menghentikan Sasuke. Dan melihat tatapan tajam yang tadi pagi baru saja ia lihat. Tatapan tajam tapi syarat menegaskan. Dan ketegasan disana mengisyaratkan kedambaan dan kerapuhan akan jiwa yang hampa.

"Sasuke..", gumam Hinata pelan.

Namun dengungan suara Hinata yang lirih dapat Gaara dengar. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Kemudian berbalik menatap Hinata yang masih berdiri dibelakangnya.

Dan geseran alas kaki yang berbentur kasarnya lapangan mengalihkan pandangan Hinata. Ia sadar, ia tidak sendiri disini.

Mata jade dengan kelopak mata hitam menahan mata Hinata agar tetap menatap mata itu. Sosok yang harusnya ia dapat terbebas darinya. Tapi, mata itu juga mengisyaratkan luka. Dan balasan perasaanlah jawaban yang pria itu inginkan.

"Hinata...", suara berat dan tegas memanggil gadis pujaannya yang sekarang berada didepannya.

Dan Hinata tidak mampu membalas panggilan itu. Ia bingung harus melakukan apa.

"Tidakkah kau merindukanku?"

Luka itu menggores dihati pria Sabaku. Terasa berat ia mengucapkan kalimat ini.

"..."

"Aku merindumu, Hime. Tidakkah kau merasakannya, sayang?", rapuh sudah pertahanan hati Gaara. Ingin dia tetap menjaga kehormatan dirinya dari jiwa memilukan ini. Tapi, ini sudah diluar kendalinya. Ia lemah.

"Cu-cukup! A-aku kecewa denganmu. Ku-kumohon. A-anggap aku ha-hanya te-teman biasa."

Teman?

Tahukah kau, kata-kata itu terasa menyobek hati. Dalam dan rasanya hampir seperti jantung yang berhenti.

Brengsek. Enak sekali gadis ini bicara. Sementara ia harus menerima ia dan Hinata sebagai teman biasa dan Hinata dengan bahagia dan cintanya bersama Sasuke? Bangsat. Egois. Kalian melupakan hati yang lain.

Sakit.

"Dan membiarkanmu bersama lelaki UCHIHA itu, hah?", bentak Gaara.

DARR..!

Terasa petir menyambar jantung Hinata.

"U-Uchiha?", gumaman Hinata tidak dapat ditangkap oleh siapapun. Namun ekspresi terkejut Hinata sangat jelas di mata Gaara. Dan Gaara melihat keterkejutan yang mebuat pandangan mata Hinata tersirat hampa.

Dan Hinata kembali pada kesadarannya. Ia menatap Gaara sebentar, kemudian berbalik menuju kerumunan orang, berniat untuk segera ke ruang kelasnya. Ia tidak dapat membendung air matanya. Memori lama itu terbuka kembali. Hinata butuh ketenangan batin saat ini. Dan hanya Neji-lah curahan terakhirnya.

Sesampainya di kelas ia segera membuka pintu kelas. Ingin Hinata segera mengambil tas dan segera keluar dari kampus ini segera. Tapi...

DEG...

Orang itu.

Sasuke Uchiha.

Uchiha Sasuke

Duduk sendiri dengan sekilas tadi melihat siapa yang menganggu meditasinya. Ia hanya duduk dan diam menatap kosong depan ruangan tanpa ada yang ia pikirkan.

Hinata mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia berjalan mendekat kesana, satu tujuannya. Tas kuliahnya. Sesampainya ia disamping Sasuke. Ia segera berkemas memasukkan seluruh buku catatannya kedalam tas. Dan sedikit Hinata lirik dari ekor matanya, lama. Sasuke tidak ada pergerakan apapun. Seperti orang ini tidak peduli sengan kehadirannya.

Akhirnya Hinata segera keluar ruangan tanpa ada lancaran protes dari Sasuke. Dan disaat ia sudah jauh dari Uchiha itu, Hinata merasa ada yang ganjil. Orang itu mampu berubah 180 derajat. Sangat jauh dari pertama kali ia memberikan penegasan beberapa jam lalu. Sikap over protektifnya, dan kini sudah berganti dengan pria dingin dan tidak peduli apa-apa.

"Hidupku, hanya dipermainkan. Baiklah, kehidupan ini hanya permainan semata bukan?", gumamnya.

Tap Tap Tap

Sebuah suara high heels menginterupsi ketenangannya.

Hinata menemukan seorang wanita cantik berambut manis-pink berjalan kearahnya. Tatapan merehkan dirinya sungguh Hinata sangat membencinya.

"Membolos? Atau ada masalah? Kau boleh bercerita padaku.", ejeknya.

Dan Hinata hanya menanggapinya dengan diam. Kesabarannya sudah di ujung tanduk. Masalah.

"A-apa urusanmu?"

Serigai tercetak di wajah Sakura. "Menasehatimu. Agar kau kembali saja dengan lelaki berambut merah itu. Kau tidak merasa, sepertinya ia jauh-jauh kesini hanya untuk menemuimu?"

"Terimakasih!"

Bukan, bukan suara Hinata.

Gaara berjalan mendekati kedua wanita disana. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Hinata.

"Haruno Sakura", gadis pink itu memperkenalkan diri.

Dan hanya ditanggapi diam oleh Gaara. "Kau ingin pulang? Aku antar?", Gaara memperhatikan Hinata yang terdiam.

"Ti-tidak perlu.", Hinata segera berlari keluar kampus. Dan segera menemukan bus dengan tujuan kompleks rumahnya.

Tinggallah akhirnya Gaara dan Sakura disana. Di koridor yang sepi.

"Kau pacar Hinata?", Sakura membuka percakapan.

Merasa ada yang mengajak bicara dirinya, Gaara menoleh pada seorang wanita dibelakangnya.

"Menurutmu?", jawabnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Sakura sendiri. Tidak ditanggapi.

Sakura harap memang begitu. Setidaknya walau hal itu adalah tabu, karena hal negatif pasti adanya. Namun, status pasti mengikat, bukan?

"Kau masih belum menyerah rupanya?"

Suara familiar ditangkap oleh indra pendengaran gadis pink disana.

"Aku tidak sepertimu, yang menyerah begitu saja, Namikaze"

Naruto hanya menyunggingkan senyum meremehkannya.. "Kurasa harus ada hal yang besar bahkan sangat besar untuk mendapatkan Sasuke, sayang. Kau tahu, kau memang tipe Sasuke. Tapi kurasa Sasuke sedikit berubah semenjak hadirnya Hinata disini.", tandasnya seraya menyenderkan badan dan salah satu kaki ke dinding koridor.

Sakura membalikkan badannya, mendekati Naruto dengan cepat menempelkan tubuhnya pada tubuh Naruto yang memang sengaja menerima perlakuan Sakura. "Sudah aku bilang, kalau aku tidak mendapatkan Sasuke, kau harus mau jadi gantinya, my boy.", desis Sakura menggoda.

Naruto hanya tersenyum devil mendengar perkataan Sakura. "Bisa kita selesaikan ini?"

"Kurasa diruang eks-basket ini sedang tidak berpenghuni", desah Sakura tersenyum mengerti arah pembicaraan Naruto.

Sret... Naruto menyeret gadis pink itu masuk salah satu ruang terdekat disana.

Dan selanjutnya hanya terdengar desahan halus berirama.

.

.

Hinata sampai dirumahnya, ini adalah kali pertamanya ia pulang lebih cepat dari biasanya. Yang pasti Nii-san kebanggaan keluarganya tentu belum pulang. Hinata melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu, lantas bergegas menuju dapur. Kerongkongannya sedang kering.

Baru saja seteguk air masuk kedalam tubuhnya, tiba-tiba suara telepon genggamnya bergetar.

Dan tampak dilayar sana menampilkan deretan nomor belum ia ketahui siapa pemiliknya. Dan sedikit ragu ia mengangkat panggilan itu.

"Ha-halo?"

"..."

"..."

"Kau dimana?"

DEG

Suara ini.

Suara yang ingin ia dengar.

"Sa-Sasuke-san? A-aku se-sedang tidak enak badan. A-aku su-sudah dirumah"

"Kenapa tidak memberitahuku?"

"Ma-maaf"

"Belum ya..."

"..."

Belum dianggap.

Terdengar sakit. Perasaan itu terasa sakit. Setidaknya penegasan adalah obat terbaik, bila kenyataan harus ditutupi.

"Tidakkah kau membuka pintu rumahmu sekarang?"

APA?

Sasuke di depan rumahnya?

Segera Hinata menaruh kembali air dalam kulkasnya. Hausnya sudah hilang dengan cepat. Segera ia berlari menghampiri pintu rumahnya. Benarkah Sasuke sedang di depan pintu ini? Dan suara ponselnya hanya tetdengar suara angin berhembus. Masih aktif sambungan telepon itu.

CKLEK

Hinata membuka pintu rumahnya. Dan...

"Ne-Neji-Nii?"

Neji mengernyitkan dahi. Ada yang aneh dengan Hinata. Sepertinya memang benar pemberitahuan dari kampus Hinata yang mengatakan bahwa adiknya sedang sakit sehingga harus pulang duluan.

"Kau sakit?", Neji meletakkan punggung tangannya di dahi Hinata.

Dan hanya ditanggapi kosong oleh Hinata. Dengan cepat ia menepis lembut tangan Nii-san-nya, kemudian segera berlari keluar rumah demi memastikan sesuatu.

"Hinata!", teriakan Neji tidak dihiraukan oleh Hinata.

Hinata mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kompleksnya. Ia tengah berdiri didepan gerbang rumah mungilnya. Dan tidak butuh waktu lama, ia menemukan sebuah mobil sport berwarna silver. Tidak diragukan lagi. Mobil itu pasti dia, Sasuke.

Hinata hendak melangkahkan kakinya guna menghampiri mobil itu, namun suara panggilan menghentikan langkahnya.

"Hinata!"

"Nii-san?", Hinata menoleh.

"Kau mau kemana?"

"Tidak. Aku hanya...", Hinata kembali mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang hendak ia tuju. Namun, belum sempat ia menyelesaikan perkataan dan langkahnya untuk menghampiri mobil disana, mobil mewah tersebut sudah terlanjur pergi.

Neji ikut melihat ke arah pandangan Hinata. Dan sesaat setelahnya ia tatap Hinata lagi, gadis itu kemudian berlari menuju rumahnya. Dan kembali Neji mengamati mobil berwarna silver disana melaju dengan tenang.

"Lamborghini Veneno", desisnya. Sepertinya ia tahu siapa pemilik mobil itu. Kemudian ia mengikuti Hinata masuk kedalam rumah mereka.

.

"Hinata!"

Merasa dirinya dipanggil, Hinata membalikkan tubuhnya sebelum knop pintu kamarnya ia putar.

DEG

Neji tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini. Perasaan ingin marah tadi lenyap seketika.

Hinata menangis.

Kali kedua Neji melihat Hinata menangis. Setelah yang pertama adalah saat ia melihat Hinata menangisi kematian ibunya.

Neji membeku ditempat. Entah, apa yang tengah terjadi dengan Hinata. Neji mengambil kesimpulan bahwa seorang yang mengendarai Veneno tadi-lah penyebabnya.

Tapi, benarkah ini? Benarkah ini terjadi?

Hinata sedang menangis karena...lelaki itu?

Yang benar saja.

"Kau bisa menceritakan apapun pada Nii-san, Hinata"

Hinata memandang Neji dengan tatapan kakaknya itu yang tengah menghawatirkannya. Baiklah, memang Hinata sudah tidak bisa menampung sendiri.

"Nii-san...", panggil Hinata.

"Ya...katakanlah"

"Gaara datang ke Konoha"

"..."

"Dan...dan mulai tadi pagi, aku adalah kekasih Uchiha Sasuke", bisik Hinata lemah. Segera saja ia memutar knop pintu kamarnya, kemudian masuk dengan cepat tanpa pamitan dengan Nii-san-nya.

JDAR...!

Uchiha?

.

Love Competition

.

BRAK!

Suara pintu dibuka mendadak membuat si empu kamar sedikit terlonjak. Makhluk apa yang sedang mengganggunya saat ini yang tengah dipenuhi amarah karena kejadian tadi pagi? Sungguh, jika bukan karena ia kakaknya, ia pastikan orang itu habis ditangannya.

"Sasuke!"

Sasuke menanggapi malas Itachi yang sok perhatian dan memcari masalah. Masalah apa lagi yang menyangkut di otaknya.

"Apa?"

Itachi berjalan mendekati Sasuke yang berbaring di kasur empuknya. Itachi menatap kesal pada adik semata wayangnya. Entah aura apa yang membuat Itachi benar-benar kesal dibuatnya.

"Bagaimana kau bisa memiliki Hinata?"

Sasuke tercengang dengan penuturan Itachi. Entah mengapa topik pembicaraan ini menarik, rasa kantuk dan malas yang tadi mengganggunya hilang seketika.

"Maksudmu?", ejek Sasuke yang menemukan ide membuat Itachi kesal menjadi hiburan sendiri baginya.

"Kau menjadi kekasih Hinata? Bagaimana bisa? Persaingan kita-pun belum dimulai."

Sepertinya ada angin segar untuk Sasuke. Ia memastika ada seseorang yang pastinya telah memberitahu kemenangannya atas taruhan untuk mendapatkan Hinata.

"Benar sekali. Mulai hari ini, aku dan Hinata..."

"Cukup. OK. Aku kalah disini. Tapi ingat Sasuke, kau belum sepenuhnya memiliki Hinata. Aku masih ada celah.", ucap Itachi kemudian pergi.

Apa maksudnya?

Tunggu, jika memang Itachi mengetahui ia menjadi kekasih Hinata, siapakah gerangan yang memberitahunya? Mungkinkah teman-temannya. Tidak mungkin. Mereka tidak ada urusan dengan Itachi. Atau...? Serigai tercetak di bibir Uchiha bungsu disana.

Jadi...

Srek!

Segera Sasuke mengambil kunci mobil dan mantel hitamnya. Ada sesuatu yang membuat hatinya senang. Tidak lupa dengan ponsel kesayangannya.

.

.

Drrtt ddrrt

Hinata melihat deretan nomor yang belum ada namanya, tapi ia mengenal nomor itu. Hinata memilih mengabaikannya. Hinata sedang tidak ingin diganggu apalagi dengan seorang yang menjadi topik utama.

Akhirnya panggilan itu berhenti. Perasaan lega dan sedikit kecewa karena ia telah melewatkan satu kesempatan bercampur dihatinya. Tapi, selang beberapa detik kemudian, sebuah email masuk ke inbox-nya. Dan dengan penasaran Hinata membuka email tersebut.

Kecolongan. Sasuke tahu email pribadinya? Manusia apa Uchiha itu?

"Keluar sekarang atau ku dobrak pintu rumahmu"

Astaga! Ancaman macam apa itu? Dan dengan segera Hinata mencari nomor panggilan terakhir dan segera menekan tombol call.

"Ka-kau..."

"Kita kencan malam ini. Keluar sekarang atau memang perlu aku harus turun tangan. 3 menit!"

Tuutt tuutt

Astaga. Ini sudah malam. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Haruskah ia menuruti kemauan Sasuke? Tapi kalau tidak?

Tidak. Jelas akan menjadi pertengkaran hebat dengan Neji. Lalu apa yang harus ia lakukan? Oh, Kami-sama...

2 menit lagi. Bahkan ia belum beranjak dari kursi belajarnya.

Tidak. Jika ia meminta izin pada Nii-san-nya jelas akan sangat tidak diperbolehkan. Lalu, apakah harus membiarkan Sasuke masuk dan menarik paksa ia menuturi kemauannya. Ditambah lagi pasti ada adu mulut dengan Neji. Itu pasti. Double problem.

1 menit lagi. Bahkan ia belum sempat ganti baju.

.

Sasuke merasa kesal karena harus menunggu. Akhirnya sudah 3 menit terlewatkan, ia harus turun tangan rupanya. Entah bogem mentah ataupun masalah apapun yang menimpanya nanti, seorang dia tidak mungkin kalah. Ia pastikan kakak Hinata yang berambut panjang itu ada dirumahnya.

Sampai ia di teras rumah Hinata, engsel pintu rumah itu berputar pelan. Dan keluarlah seseorang yang sangat ia tunggu.

Hinata. Senyum tersungging dibibir Uchiha Sasuke.

Dan diluar dugaannya. Tangan Sasuke sebelah kiri diseret oleh Hinata menjauh dari pintu rumahnya. Oh, kado terindah dalam hidupnya. Ini diluar prasangka baiknya. Khukhukhu.

"Kenapa kau seenak saja, hah?", bentak Hinata setelah agak jauh dari dari rumahnya, padahal mobil Sasuke terparkir diseberang rumahnya.

Hey...ada yang baru lagi. Sasuke tidak dapat menahan senyum bahagianya. Hal baru itu diciptakan oleh Hinata. Dan ia menemukan hal baru dalam Hinata.

Tahu Hinata salah kamar. Ia terbawa emosi dengan memarahi Sasuke. Bukan maksudnya, hanya saja ia terlalu kalut dengan tingkah mendadak dan seenaknya dari pria didepannya ini. Dan hal itu ditambah lagi dengan Sasuke yang diam saja dan malah dengan tenang membawa senyum gilanya.

Ini hal pertama yang Hinata temukan. Sasuke tersenyum.

"A-ada a-apa menemuiku?"

Kembali sudah Hinata kesedia kala.

"Kencan.", bukankah Sasuke sudah mengatakan.

"Ma-maaf, Sa-Sasuke-san. Ini sudah malam dan Nii-san tidak akan memgijinkanku."

Ohh, Nii-san rambut panjang itu?

"Aku yang akan memberitahunya", belum sempat beberapa langkah Sasuke berjalan ke arah rumah Hinata, Sasuke merasakan tangan mungil tengah menggenggam jemarinya. Terasa kecil di ukuran jarinya. Sasuke tidak pernah menduga ini, lagi. Sungguh, momen ini tidak ingin ia akhiri.

"Sa-sampai jam 10 malam saja"

Oh, Sasuke merasakan hembusan angin segar didadanya. Kemudian berbalik dengan menarik senyumnya menjadi wajah dingin yang ia harap dapat menutupi kebahagiaannya saat ini.

"Ta-tapi, a-aku...", Hinata sedikit memberikan kode dengan keganjilan pada dirinya. Dan Sasuke tahu itu.

T-shirt putih lengan panjang, dengan celana pendek sebatas paha bawah berwarna hitam, rambut digerai sedikit berantakan.

"No problem", ucap Sasuke kemudian berjalan ke arah mobilnya. Ia tahu Hinata sengaja menghindari jika ketahuan oleh Nii-san-nya. Dan ia berniat mengambil mobilnya yang terparkir diseberang rumah Hinata.

.

Mobil silver ber-jok hanya untuk 2 orang tersebut berjalan lambat di pinggiran deretan cafe. Riuh pengunjung dan banyak orang yang sedang berkumpul dengan senda gurau-nya berjejer memenuhi area parkir yang memang sempit dipinggir jalan.

Sasuke menepikan mobilnya setelah ia menemukan celah disana.

"Ka-kau mengajakku ke tempat ini?"

"Tidak. Aku hanya numpang parkir saja. Setidaknya orang-orang disana bisa mengetahui kalau aku ada disini"

Orang-orang disana? Maksudnya?

"Si-siapa?", tanya Hinata polos. Berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.

"Kau tidak akan mengenalnya. Karena kau hanya boleh mengenalku saja.", kata Sasuke menarik tangan Hinata kemudian menciumnya, lama.

Hinata sedikit terpaku akan penuturan Sasuke. Tapi, apakah hal ini hanya berlaku untuk dirinya saja? Oh, tidak. Kenapa Hinata memperhitungkan itu? Bodohnya Hinata.

Dengan perlahan, Hinata menarik tangannya. "Ma-maaf, Sa-Sasuke-san, a-..."

CUP

Belum selesai Hinata mengutarakan pendapatnya, bibirnya tebungkam oleh sesuatu yang lembut.

"Sasuke, Hime. Dan jangan membantahku seterusnya", bisik Sasuke di ujung telinga Hinata. Sasuke mengusap lembut pipi gembil Hinata dengan tangan kirinya. Memberikan sinyal ketenangan pada Hinata.

"Sas-..."

CUP

Kembali. Sasuke tidak dapat membendung hasrat pada dirinya. Nafsu normalnya muncul dengan wajarnya. Bibir mungil disana membuat ia ingin terus merasakannya.

Sasuke yang sudah terbiasa dengan permainan ini dan Hinata yang baru saja mengalami. Hinata tidak tahu harus bagaimana. Dan kecupan itu segera berakhir. Namun, Sasuke kembali menguasainya. Belum sempat Hinata mengambil nafas barang sedetik.

Sasuke mengajari Hinata dengan memberikan beberapa kali kecupan, agar Hinata dapat mengerti untuk membalas kecupannya. Dan segera Hinata mengerti maksudnya. Hinata belajar cepat sekali. Serigai bahagia Sasuke sempatkan disela ciumannya.

Ciuman itu berlangsung lama dan bersambung dengan sendirinya. Entah siapa yang memulai. Hinata menikmati dan Sasuke menguasai. Tidak dapat ditolak, gairah lelakinya berjalan. Sasuke mulai dengan menarik kedua tangan Hinata dari depan dadanya menuju lehernya untuk melingkar disana. Dan Hinata menurutinya.

Tangan kanan Sasuke meraih leher Hinata untuk memperdalam ciumannya. Dan hasrat lelakinya tidak dapat terbendung lagi. Tangan kirinya menjamah, menelusuri lekuk tubuh Hinata, dan berakhir di perut rata nan ramping yang masih dibalut pakaian. Tanpa ada yang mengendalikan, jemari Sasuke menelusup kedalam baju Hinata.

"Ahh...", desah Hinata yang lolos dengan sendirinya. Tidak dapat ditahan. Dan sentuhan jemari Sasuke merusak pertahanannya. Lepas sudah kendali normal Hinata. Ia merasakan sensasi aneh ini dan berujung pada semakin lihainya ia melayani ciuman Sasuke. Ia melawan gerak aktif bibir Sasuke dengan hal yang sama.

Sasuke dengan cepat membenarkan posisinya. Ia merangkak, menurunkan jok kursi Hinata menjadi tidur, dan Sasuke segera mengambil bagiannya. Ia memposisikan tubuhnya tepat diatas Hinata. Menindih. Dan Hinata tidak merasa keberatan. Dan dengan cepat kedua tangannya merambat ke dalam tubuh atas Hinata.

Tangan-tangan kekar dibalik baju Hinata menguasai tubuh Hinata. Hinatapun tidak mampu menahan desahannya dibalik ciumannya kala jemari Sasuke meremas dan memainkan kedua putingnya. Dan tangan-tangan itu tidak berhenti memainkan kedua payudaranya.

Sial. Kewarasan Hinata dipertanyakan.

Sasuke tidak dapat menahan sesaknya disana. Memberi jeda. Ia membuka kancing celananya untuk sedikit memberikan ruang disana. Dan kembali melanjutkan aktifitasnya. Dan ia hanya mampu memberikan sensasi penenang itu dengan tetap menempel pada tubuh Hinata.

Hinata melepas ciumannya, untuk mengambil oksigen untuk paru-parunya. Dan sayangnya hal itu dimanfaatkan Sasuke untuk mengambil alih lagi penguasaannya. Sasuke menciumi seluruh wajah Hinata dan berlanjut menuju leher dan pundak. Sembari tetap meremas payudara disana untuk tetap mempertahankan gairah Hinata.

Tok tok tok

Brengsek...! Sial...!

Siapa yang tengah mengganggu kesenangannya. Sasuke akan menghajar orang ini.

Seseorang mengetuk kaca mobilnya dan itu membuat Hinata kembali pada masa sadarnya. Bangsat. Sasuke berjanji akan menghajar orang ini.

"Sa-Sasuke...", cicit Hinata dengan cepat menarik tangan Sasuke dari balik bajunya. Dan segera mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya.

Dan hal itu ditanggapi diam oleh Sasuke. Bagaimana bisa ini harus dihentikan sedangkan kebutuhannya belum terpenuhi. Dan Sasuke masih tetap bertahan duduk diatas tubuh Hinata.

Srett...Sasuke membuka kaca mobilnya, sedikit. Bermaksud agar Hinata tidak diketahui oleh orang tersebut.

"Hidan. Kau tahu kau mengganggu privasiku.", desis Sasuke tajam.

Hidan, orang tersebut kaget. Tidak biasanya Sasuke seperti ini.

"Sasuke, kau kenapa? Aneh sekali hari ini. Dengan siapa kau bermain memangnya? Artis ibukota yang tidak ingin terpublikasi, ehh?"

Tes

Bersamaan tetesan itu keluar dengan sakitnya rasa ditenggorokan. Reflek Hinata bangkit dari posisi tidurnya. Dan itu dicegah oleh Sasuke.

"Kau...!", teriak Hinata.

Sial. Hidan brengsek. Murka Sasuke dalam hati. Dengan cepat Sasuke menutup kaca mobilnya. Dan terdengar disana Hidan menyerukan sesuatu, namun Sasuke abaikan. Ia memilih menahan Hinata yang memberontak.

"Kau...jahat Sasuke...hiks...", sudah tidak kuat lagi Hinata menahan tangisnya. Rasa tadi tergantikan dengan cepat oleh kekecewaan yang besar. Bodoh sekali kau Hinata. Kau mengulangi kesalahan kedua kalinya. Sama seperti kejadian bersama Gaara waktu itu.

Dan Sasuke tidak mampu berkata apapun. Kemudian dengan segera ia mengambil posisi kemudinya. Segera melajukan mobilnya dengan cepat. Membiarkan Hinata meledakkan tangisnya. Sungguh kau tidak bertanggung jawab, Sasuke. Dan hal itu menguasai hatinya. Lelaki rendah.

.

Sesampainya dirumah, Hinata segera menuju kamarnya. Dengan diluar kemdalinya, tangannya ditarik oleh seseorang. Neji.

"Darimana saja kau?"

Disela tangisnya Hinata tidak mampu menjawab, hanya jeda tangisnya yang bergema.

"Dan dengan menangis seperti itu? Katakan Hinata!", Neji sudah habis kesabaran.

"Cukup, Nii-san. Berikan aku waktu sendiri.", ucap Hinata berjalan memasuki kamarnya.

"Kau pergi bersama Sasuke? Apa yang.."

"Cukup...!", teriak Hinata. "Kumohon, beri aku waktu", Hinata memasuki kamarnya.

Meninggalkan Neji sendiri yang geram dengan tingkah Hinata. Sial. Uchiha itu harus menjelaskannya.

.

.

.

TBC

3 Gomenne:

1. Gomenne bagi yang menunggu fic ini. Kesibukan dan lain-lain menyita semuanya. *sok sibuk.

2. Gomenne kurang memuaskan. Setidaknya sudah mulai kebuka poin utamanya. Hahaha...*ketawa gaje

3. Gommenne, Author akhirnya memilih kandidat Gaara sebagai tokoh ketiga. Siapa kemarin yang mengajukan? *datengin tu...

Kenda: ini up lagi...semangatin Author lagi ya. Semoga semakin suka. ^^

kensuchan: masak sih? Hmm...*besar kepala dah... Semnagatin Author lagi ya, diusahakan ada balapan lagi. Semoga semakin menarik lagi. Haha...^^

HimeAyhu: udah up...yeyy...semoga makin suka dan tetap semangatin Author ya...^^

aindri961: hehe...begitulah, semoga makin suka. ^^

WassupK: hmm...semoga saja benar. Haha...semangatin Author terus ya...^^

triwik97: Gomen, ini lebih dari kemarin malah. Besok diusahakan tidak lagi. Diusahakan...haha... Yeyy, tebakan kamu Author kabulkan. Gomen kurang puas. ^^

keita uchiha: hehe...diusahakan tidak akan ngeret lagi. Diusahakan...semangatin author terus ya...^^

hanalu93: Arigatou gozaimashite. Semoga tambah suka. Semangatin Author terus ya, tu Author udah penuhi apa yang hana minta kan ya...^^

Akito Han: Siap...so pasti...^^

Nurul851: Arigatou gizaimashite. Hmm...iya begitu pengennya Author. Siap, Author dah penuhi keinginanmu. Apa balasannya? Yupp...dia adalah mantan Hinata. *sedih kalau ingat mantan . Hehe...OK. Semangatin Author terus ya...^^

Cahya Uchiha: Gomen ngeret. Diusahakan up kilat. ^^

Uzumaki NaMa: sudah up...Author-san, salam kenal. ^^

kaiLa wu: iya, itu mantan Hinata. Huhu...cinta saudara itu dosa, *kata bapak saya. Hehe..^^

: Bukan. Dia adalah Gaara. Coba baca lagi...haha...^^

wiendzbica732: OMG. Author juga kaget. *Author lebay... So pasti, mereka dicerita saya bersatu. Hahaha... *ketawa gaje ^^

NaruDEmi: malah rencana Author mau ngasih saingan lagi. Haha...tapi kepanjangan yak. Pada bosen ntar. Itu udah lime. Next chap, ada yg lebih...tenang aja... *devil-nya keluar...^^

Gues: Arigatou gozaimashite. Tetap semangatin Author ya...^^

Re: hai juga. Itu Gaara mantan Hinata. So pasti tetap semangat...jangan pernah berhenti semangatin Author ya...*melow-nya mulai...^^

sukenata: Gomen, ngaret...diisahakan tidak ngaret lagi...^^

LeaHarrold: Siap...ini nonggol lagi. Hehe...next bakal di tempat yang ampuh deh...hoho^^

Kiko: itu dia mantannya...^^

Sasuhina L: Hehe...semoga tambah suka. Ini mulai kebuka. Itu mantannya datang. Tetap semangatin Author ya...^^

hyuugagirl: ini up...gomen ngeret, next diusahakan tidak lagi...^^

Yuki: Bukan Sasuke yang diputusin. Itu dia mantannya Hinata. Semoga tambah suka. Dan tetap semangatin Author ya...^^

Mikiko: ini udah up...semoga tambah suka^^

Sherinaru: Hola...Author berusaha memberikan yang terbaik *cieilleh..*puyeng pala reader... Siap, arigatou review-nya. "Hehe...gomen ya, Sas... Author juga minta maaf, sekali-kali, Sas..."Author akan tetap semangat...^^

Cho377: up up up...Gomen, gomen, gomen...ngeret, ngeret...^^

Angel821: hoo...kita lihat nanti...ada kejutan...^^

Guest: hmm...gomen, Author akan berusaha lebih baik lagi di bahasanya...arigatou ^^

hyuga ashikawa: ini mulai luluh, rencana cuma 10chap, tapi pas dikembangin *emang bunga, malah tambah mundur. Prediksi gak sampai 20 sih yang jelas...haha...^^

Hime-chan: update...gomen kurang puas. Diusahakan lebih baik lagi. ^^

Mhey-chan: Arigatou gozaimashite...semoga chap ini tidak mengecewakan. Rencana akan ada balapan lagi, semoga menjadi lebih baik. Tetap semangatin Author ya...^^

Hana Yuki no Hime: hehe...Author masih bingung yang bagian itu. Tapi nanti ikuti saja ya...^^

HyugaRara: Arigatou gozaimashite, salam kenal juga, benar sekali tebakanmu. Hehe...gimana makin seru gak? Semoga tambah suka. Author di ibukota nih. Hehe...^^

Yui-ichan: ini udah up...^^

Yeparadise: Bukan Itachi, tapi Gaara. Hayoo..baca ulang. Hehe...biar tambah bingung...*Author saraf...tetap semangatij Author ya...^^

csva: Ini udah up...^^

Sekian cuap-cuap dari Author dan ucapan Arigatou Gozaimashite kepada reader sekalian, Author sangat senang sekali. Tapi Author mengecewakan. Diusahakan next bakal lebih cepat update-nya...

Thanks and see you next chap... ^_^