All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 8
Normal POV
"Hermione, aku dengar kau dan Blaise sedang dekat ya?" Narcissa bertanya pada Hermione yang sedang mengunyah kue di depannya.
"Well, kami memang sempat dekat, tapi sepertinya kami tidak begitu cocok." Hermione menjelaskan. Tentu saja, ia selama ini hanya membohongi dirinya sendiri, ia hanya menginginkan Draco Malfoy, tidak kurang, tidak lebih. Tidak akan ada pria yang sepadan dengan Draco.
Narcissa berusaha menyembunyikan rasa senangnya. "Benarkah? Apa yang terjadi?" Narcissa berkata dengan rasa prihatin yang dibuat-buat.
"Well, aku sedang makan malam dengannya dan tiba-tiba aku menyadarinya, kami hanya tidak cocok." Hermione tidak ingin membicarakannya.
Ia sedang makan malam dengan Blaise lalu Mark mengiriminya pesan dan berkata bahwa Draco masuk rumah sakit, sehingga akhirnya Hermione pergi begitu saja dari makan malamnya dengan Blaise.
Keesokan harinya ia berkata pada Blaise kalau mereka lebih baik tetap berteman.
"Lalu apa kau sedang dekat dengan pria lain?" Narcissa bertanya lagi.
Hermione menggeleng. "Tidak juga, tapi Ginny berkata akan mengenalkanku dengan salah satu sepupu jauhnya, entahlah, kedua orangtuaku sudah benar-benar memaksaku untuk cepat menikah, jadi aku sedang mencari orang yang tepat." Hermione menjelaskan.
"Oh…" Narcissa berseru. Kapan Draco dan Hermione akan menyadari kalau mereka tingga melihat satu sama lain dan semuanya akan selesai.
"Bagaimana kabar orangtuamu? Aku sudah lama tidak bertemu dengan ibumu, apa mereka baik-baik saja? Ini sudah hampir tahun baru, apa kalian punya rencana? Atau kalian bisa mengunjungi kami disini?" Narcissa bertanya lagi.
"Well, mereka baik, sangat baik malah, orangtuaku akan pergi liburan dengan kapal pesiar akhir tahun ini, sekaligus merayakan ulang tahun pernikan mereka yang ke tiga puluh."
"Benarkah? Wow, pasti menyenangkan sekali. Seandainya saja Lucius setengah romantis dari ayahmu." Narcissa berseru lagi.
Hermione tertawa. Awalnya ia mengira Lucius Malfoy adalah pria menyebalkan, tapi ternyata jika sudah berurusan dengan istri dan anaknya, ia adalah seorang pria yang baik, dan agak lucu.
Pertama, Lucius sangat mencintai Narcissa, tapi ia bukan tipe orang yang romantis, jadi terkadang melakukan cara yang salah untuk menunjukkan rasa sayangnya.
Kedua, Ia benar-benar menyayangi Draco. Tapi tentu saja karena keduanya serupa, mereka berdua sama-sama menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan melemparkan hinaan dan sindiran satu sama lain yang bukannya membuat situasi canggung malah membuat keadaan menjadi cair dan lucu.
"Apa tahun ini kau tidak merencanakan pesta tahun baru di Malfoy Manor Cissy?" Hermione bertanya.
"Aku ingin melakukannya, tapi Draco menolak keras, ia ingin menghabiskan malam pergantian tahun dengan keluarga kami saja, ia mengatakan sesuatu tentang makan malam sederhana dan semacamnya. Oh Hermione, kau bilang kedua orangtuamu akan pergi kan? Kenapa kau tidak menghabiskan malam tahun baru dengan kami?"
Hermione berpikir, bukan ide yang buruk. "Well, aku akan memikirkannya dulu." Hermione menjawab. Tadinya pilihan pertamanya adalah langsung tidur dan bangun saat sudah masuk tahun baru, sementara pilihan keduanya adalah merayakan tahun baru di Burrow, pasti ada pertunjukkan kembang api dari Fred dan George, tapi akan terlalu ramai disana. Tawaran Narcissa barusan cukup menggiurkan.
"Mother, Granger, makan malam sudah siap." Draco berkata, entah muncul dari mana.
"Ugh.. Narcissa, Draco, maaf, aku ada janji dengan seseorang. Aku tidak bisa makan malam dengan kalian." Hermione memberitahu, ia kemudian melirik jam tangannya.
Hermione kemudian pamit pada Narcissa, saat ia akan pergi Draco menahan tangannya.
"Kau akan menemui pria yang dikenalkan Mrs. Potter?" Draco bertanya dengan nada yang dingin. Ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca.
Hermione mengangguk. Tidak mengerti kenapa Draco marah.
"Jangan pergi." Draco berkata pelan.
"Apa?" Hermione tidak yakin apa yang baru saja dikatakan Draco padanya.
"Jangan pergi!" Draco berkata lebih keras. "Aku tidak ingin kau pergi menemui pria itu, atau pria manapun!"
"Draco, aku tidak mengerti maksudmu…"
"Granger, berhentilah berpura-pura kau tidak tahu bahwa aku menyukaimu, aku tidak ingin kau pergi menemui pria-pria tidak penting itu. Aku menyukaimu Granger, tidak bukan menyukai, aku mencintaimu! Bloody Hell! Aku Mencintaimu Hermione, aku tidak tahan melihatmu dengan laki-laki lain." Draco mengeluarkan semua isi hatinya.
Hermione tidak tahu apa yang harus dikatakannya, haruskah ia melompat bahagia? Memeluk Draco? Mengatakan bahwa ia juga mencintainya?
"Aku pergi." Hermione berkata pelan lalu berjalan menuju ke perapian terdekat.
.
Hermione duduk di salah satu kedai kopi Muggle terdekat, ia duduk dan memandangi jendela yang menghadap keluar, salju sudah mulai turun, sebentar lagi tahun baru.
Pikirannya kembali ke kejadian barusan dengan Draco. Draco baru saja mengatakan bahwa ia mencintainya, tapi bukannya mengatakan bahwa ia juga mencintai Draco tapi ia malah pergi begitu saja.
Dasar bodoh.
Selama ini ia selalu menganggap Draco yang bodoh, tapi ternyata ia tidak kalah bodohnya dengan pria itu.
Jadi selama ini Draco juga mencintainya? Kenapa ia tidak menyadarinya? Kenapa Draco tidak mengatakannya saja dari dulu?
Hermione berusaha memikirkan apa yang harus dilakukannya, apa ia harus mendatangi Draco, memeluknya dan mengatakan bahwa ia juga mencintainya? Apa yang akan mereka dapat setelah itu?
Apa mereka akan mulai berpacaran? Menjajaki hubungan yang lebih serius? Apa mereka akan menikah nantinya? Apa mereka punya kesempatan?
Hermione menghela nafasnya dan meminum kopinya.
-Flashback-
"Kenapa Granger? Kau sedih Weasley tidak bisa datang?" Draco berdiri disamping Hermione yang hanya duduk sendiri di kursi, melihat berpuluh-puluh pasangan sedang berdansa di lantai dansa.
Malam ini adalah pesta kelulusan mereka, setelah acara kelulusan formal tadi pagi. Ron berkata bahwa ia sedang melaksanakan training tahap akhirnya dan tidak bisa datang ke acara itu.
Fred menawarkan diri untuk datang dan menjadi teman kencannya untuk malam ini, tapi Hermione menolak dan berkata bahwa ia sudah memiliki date untuk malam ini.
Hermione menghela nafasnya.
"Dimana date-mu?" Hermione bertanya.
"Entahlah, sepertinya ia pingsan di kamar mandi atau semacamnya." Draco sekarang berdiri di depannya.
Hermione tertawa. "Kalau kau tidak peduli pada teman kencanmu untuk apa mengajaknya pergi?"
"Entahlah, mungkin karena aku tidak punya cukup keberanian mengajak perempuan yang kusuka?" Draco menjawab pertanyaan Hermione dengan pertanyaan lain.
Hermione memperhatikan Draco yang berdiri di depannya, ia menggunakan tuxedo berwarna hitam, kemeja putih dan dasi kupu-kupu, tidak banyak berbeda dengan pria lainnya yang mendatangi pesta, hanya saja pakaiannya terlihat mahal, dan dasarnya Draco memang cocok memakai apapun.
Hermione tersenyum, tidak menyangka mereka bisa menjadi dekat dan berteman seperti sekarang, tidak menyangka kalau dibalik Draco Malfoy yang menyebalkan, yang selalu memandang orang remeh, dan Draco yang sombong, terdapat Draco Malfoy yang selera humornya bagus, yang perhatian, yang suka berkeliaran di common room tanpa atasan.
Tiba-tiba Draco mengulurkan tangannya. "Hermione Granger, maukah kau berdansa denganku?" Draco berkata dengan sopan dan membungkukkan badanya.
"Really?" Hermione bertanya tidak percaya.
"Really." Draco menjawab, mengangguk sambil menahan senyumnya, jika ia tidak menahan dirinya pasti ia sudah tersenyum lebar, menunjukkan semua gigi, dan terlihat seperti orang bodoh.
"Slow Dance?" Hermione bertanya lagi.
"Slow Dance." Draco menjawab lagi.
Hermione melirik ke arah lantai dansa, yang dimainkan sekarang adalah lagu dengan tempo lambat, hanya tinggal beberapa pasangan yang sedang menari, semuanya terlihat mesra, apa ia bisa melakukan ini dengan Draco?
"Jangan terlalu banyak berpikir Granger, kau tahu kan ada puluhan perempuan yang mengantri untuk berdansa denganku?" Draco berkata sambul mengedipkan sebelah matanya. "Kau tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini kan?"
Hermione tertawa pelan. "Prat." Ia lalu meletakkan tangannya di tangan Draco. Draco menariknya ke tengah-tengah lantai dansa.
"Well, Granger, aku tidak tahu kalau benar-benar bisa berdansa." Draco bergumam pelan setelah mereka berdansa lebih dari dua lagu.
"Kenapa? Apa menurutmu Muggle-born tidak boleh pandai berdansa?"
"Berhentilah mensubjek-kan dirimu sebagai Muggle-Born Granger, aku sudah tidak peduli lagi dengan sampah kemurnian darah itu." Draco malas menanggapi.
Hermione tersenyum.
Maka mereka berdua berdansa, mengikuti irama, tersenyum dan membicarakan hal-hal kecil dan tertawa pelan beberapa kali karena cerita-cerita yang mereka lontarkan.
"Draco, kurasa tempat ini sudah sepi." Hermione berkata, ia melihat kesekeliling dan tinggal dua pasangan yang berada di lantai dansa termasuk mereka berdua, dan tidak sampai sepuluh orang yang tinggal di Hall itu.
Musik yang berbunyi juga tidak lagi dimainkan orang, semua alat musik yang ada bergerak sendiri dengan sihir.
"Well, kurasa aku lupa waktu." Draco tersenyum. "Terimakasih sudah menjadi teman dansa yang menyenangkan." Draco melepaskan tangannya dari pinggang Hermione.
Canggung. Keduanya merasa canggung sekali, tidak menyangka kalau mereka begitu menikmati berdansa bersama sampai lupa waktu.
"Selamat malam Draco…"
"Selamat malam Hermione… Sampai jumpa."
"Sampai jumpa…" Hermione tersenyum dan baru akan berjalan pergi saat Draco memanggilnya lagi.
"Hermione…" Draco terlihat bingung.
"Iya?" Hermione menunggu.
"Aku tahu ini bukan Date atau semacamnya, but…"
"But?" Hermione bertanya saat Draco tidak melanjutkan perkataannya.
"Can I get a goodnight-kiss?" Draco bertanya pelan.
Hermione kaget, tapi kemudian tersenyum. Draco berjalan mendekat.
"I can give you a friend kiss instead. Is that okay?" Hermione bertanya.
Draco mengangguk.
Hermione berjinjit lalu mencium pipi Draco pelan.
-End of Flashback-
Hermione memang pandai berdansa, tapi baru kali itu ia benar-benar menikmatinya, ditambah lagi jantungnya yang berdebar-debar selama Draco berada terlalu dekat dengannya membuat itu menjadi dansa yang tidak akan pernah dilupakannya.
Hermione tersenyum, selama ini mereka juga berdansa.
Dancing.
Slow Dancing.
In a Burning Room.
Mereka berdua saling mencintai satu sama lain tapi sama-sama terlalu bodoh untuk mengungkapkannya, lebih memilih diam dan menyimpannya.
Hermione sendiri takut, ia takut jika mereka memiliki hubungan yang lebih dari teman maka pertemanan mereka akan berantakan, dan Hermione sangat menghargai semua pertemanan dan persahabatannya dari apapaun.
.
"Son…" Narcissa meletakkan tangannya di pundak Draco.
"I'm okay Mother." Draco menyingkirkan tangan ibunya pelan.
Narcissa tadinya berusaha menahan dirinya untuk tidak mendatangi Draco, tapi ia tahu anaknya butuh dukungan moral, jadi ia mendatangi tempat dimana Draco selalu menyendiri jika ada masalah.
Di bagian paling atas Malfoy Manor terdapat ruangan yang atapnya terbuat dari kaca tembus pandang, dipenuhi bermacam-macam model teleskop dan teropong bintang, ini adalah ruangan favorit Draco di seluruh Malfoy Manor.
Keluarga Black bukan hanya memiliki tradisi untuk menamai anak keluarga mereka dengan rasi bintang, tapi mereka juga memang menyukai dan mempelajari banyak hal tentang rasi bintang.
Karena itu Narcissa dan Lucius membuat ruangan ini.
"Mungkin Hermione butuh waktu." Narcissa berkata lagi.
Draco tidak menjawab.
Narcissa sebenarnya tidak tahu harus mengatakan apa, kenapa Hermione langsung pergi begitu saja? Ia tahu matanya tidak mungkin salah, ia tahu kalau Hermione juga mencintai Draco, tapi kenapa ia malah pergi begitu saja?
"Sudahlah Mother, aku ingin sendiri." Draco berkata pada ibunya.
Narcissa mengangguk. "Apa kau ingin teh?" Narcissa menawarkan sebelum keluar dari ruangan observasi itu.
Draco menggeleng. "Tidak, terimakasih Mother."
Narcissa keluar dan menutup pintu.
Draco tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia sudah lama tidak merasa seperti ini, rasanya ingin menangis meraung-raung saja.
Ia akhirnya punya keberanian untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Granger, tapi perempuan itu malah pergi begitu saja.
Awalnya ia juga berpikiran sama dengan ibunya, mungkin Hermione butuh waktu, tapi kenapa ia tidak mengatakannya saja? Maaf Draco, aku butuh waktu! , apa susahnya? Lagipula Draco juga tidak meminta Hermione untuk menjadi kekasihnya atau apa, ia hanya mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu, kenapa reaksi Granger berlebihan.
Ugh. Draco menendang tumpukkan buku yang ada di dekatnya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Sesuatu terlintas di pikirannya, tentu saja.
Draco menyeringai.
Ia seorang Malfoy.
Draco tiba-tiba mengingat salah satu kejadiannya dengan Hermione dan benar-benar yakin kalau perempuan itu juga mencintainya terlepas apa yang terjadi tadi.
-Flashback-
"Kau baik-baik saja?" Draco bertanya pada Hermione yang baru berhenti menangis. Hermione mengangguk tapi mempererat genggamannya di lengan Draco.
"I'm here." Kata Draco mengulang perkataannya itu dari tadi. Mr. Granger terkena serangan jantung dan sudah di bawa ke rumah sakit Muggle terdekat. Mrs. Granger histeris lalu tidak lama pingsan dan sekarang beristirahat di salah satu ruangan.
Potter dan Weasley daritadi sibuk mondar-mandir, yang satu mengurusi Mr. Granger dan satunya mengurusi Mrs. Granger. Sementara Draco, ia hanya duduk disamping Hermione dan menemani gadis itu menangis.
Hermione mulai menangis lagi. Draco menepuk-nepuk paha gadis disampingnya. "Sudahlah, Hermione, ayahmu akan baik-baik saja." Draco berusaha menenangkan Hermione.
Hermione terus menangis.
Draco tahu seharusnya ia menangkan Hermione, tapi yang ada dipikirannya adalah ia ingin mencium perempuan di sampingnya. Maka ia melakukannya.
Ia menarik wajah Hermione agar menghadap ke arahnya lalu mencium bibirnya.
Draco bisa merasakan Hermione yang kaget, tapi ia tidak melawan dan diam, Draco menutup matanya dan menempelkan bibirnya pelan, merasakan air mata Hermione yang menempel di wajahnya dan beberapa tetes mengalir di mana mulut mereka bersatu.
"I'm here." Draco menarik bibirnya lalu memeluk Hermione yang sudah tenang sekarang.
-End Of Flashback-
Saat itu Draco merasakan sesuatu yang berbeda, ketika ia mencium Hermione ia tahu kalau mereka memang ditakdirkan bersama, sekujur tubuhnya bisa merasakan bahwa mereka saling mencintai.
Hermione pernah mengatakannya sekali, dari buku yang pernah dibaca perempuan itu, kalau sepasang penyihir akan tahu apa mereka ditakdirkan bersama saat berciuman, akan ada semacam tanda yang muncul, yang menandakan apa keduanya merupakan belahan jiwa atau tidak.
Draco tidak peduli apa yang terjadi. Ia mencintai Hermione dan percaya bahwa Hermione juga mencintainya.
Maka ia akan melakukan apa yang dianggapnya perlu untuk mendapatkan Hermione Granger.
-To Be Continued-
Chapter ini untuk semua reviewers-reviewers setiaku, semuanya... silentreaderno7, elucius, dew, yellowers, aquadewi, mikahiro-shinra, swift, RiverHazel13910, Levicorp, dewazz Draconis, Aurora, Miss. Diverent, meilania dan semua anonim, semua yang memfavorit dan memfollow cerita ini...
terutama... ReadingatTiffany's
aku sayang kalian semua...
cerita ini akan berakhir di chapter 9, yang akan kuposting besok...
Read and Review
-dramioneyoja
