All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 9

Normal POV

Hermione berusaha menghindari Draco sekuat tenaganya, sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu, jika ada urusan yang harus dilakukan dengan perusahaan Malfoy maka ia akan menyuruh karyawannya saja yang pergi.

Jika ia mendengar Draco akan kementrian maka ia akan bersembunyi di ruangan Auror agar Draco tidak berpikir untuk mencarinya. Ia masih tidak yakin, atau lebih tepat jika dikatakan kalau ia takut.

Ia tahu kalau Ia juga mencintai Draco, tapi apa jika mereka menjalin hubungan semuanya akan baik-baik saja? Apa mereka tetap bisa menjadi friends and lovers at the same time?

Jadi sampai Hermione bisa meluruskan pikirannya dan mengambil keputusan, ia akan terus menghindari Draco Malfoy.

.

Draco Frustasi.

Hermione menghindar darinya seperti menghindar dari penagih utang. Ia mengirim karyawannya ke kantor Malfoy Enterprise dan menghindari semua telepon dan suratnya.

Draco sengaja datang ke kementrian, tapi perempuan itu juga entah bersembunyi dimana. Draco nyaris menarik rambutnya karena frustasi, jadi disinilah ia sekarang, menunggu Ginny Potter di kafetaria St. Mungo. Draco butuh bantuannya.

.

"Apa kau yakin aku harus melakukan ini?" Draco bertanya pada Ginny.

"Oh, astaga Malfoy, apa kau punya opsi lain?" Ginny bertanya.

"Baiklah Mr. Potter, aku akan melakukannya." Draco menghela nafasnya.

.

Hermione menghela nafasnya. Ini adalah hari terakhir ia bekerja tahun ini, 24 Desember. Hanya tinggal beberapa karyawan yang masih bekerja hari ini, kebanyakan sudah tidak bekerja semenjak satu hari atau dua hari sebelumnya.

Hermione melirik jam tangannya, ia berencana pulang saat jam makan siang, di departementnya sendiri hanya tinggal lima orang lagi yang bertahan termasuk dirinya dan Kevin, asistennya yang cukup kompeten.

Tiba-tiba pintu kantornya diketuk.

"Masuk." Hermione memberi izin.

"Miss Granger, aku ingin izin pulang." Kevin memberitahu Hermione.

Hermione mengangguk. "Selamat Natal Kevin." Hermione memberitahu.

Kevin tersenyum. "Selamat Natal juga untuk anda." Kevin lalu pamit dan pulang.

Kevin keluar dari ruangan Hermione dan memberi tanda pada Ginny, Ginny segera berlari menuju ke atrium.

Hermione akhirnya tidak lama membereskan barangnya dan merapikan beberapa berkas, ia kemudian memakai coat-nya lalu mematikan lampu ruangannya dan berjalan menuju saluran Floo kementrian.

Untuk apa ia berlama-lama di kementrian, lagipula Kevin karyawannya yang terakhir juga sudah pulang.

Ia melihat beberapa orang seperti terburu-buru berjalan ke bagian atrium kementrian, tempat dimana air mancur berada.

Ada apa? Pikir Hermione.

Ia bisa melihat ada banyak orang yang berkerumun di sekitar air mancur, ia melihat Draco berdiri di tepat di depan air mancur.

"Hermione, akhirnya kau turun juga." Ginny muncul entah dari mana, Ginny juga Kevin menarik Hermione dan mendorongnya ke tengah-tengah kerumunan.

Setelah Hermione dan Draco berhadapan Ginny dan Kevin segera pergi, kembali ke kerumunan.

"Granger…" Draco berseru nyaris berbisik.

"Malfoy? apa yang kau lakukan disini?" Hermione mendesis, melihat orang-orang yang memperhatikan mereka.

"Hermione." Draco kehilangan kata-katanya.

Hermione berjalan mendekat, ia akan menarik Draco pergi dari situ, ia meraih tangan Draco dan baru akan menariknya pergi saat Draco malah menahannya.

"Draco, apa yang kau lakukan disini?" Hermione bingung, kenapa Draco tidak pergi.

"Hermione…" Draco berkata lagi, ia menarik Hermione lebih dekat.

Draco mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan tiba-tiba berlutut di lantai.

Hermione tidak ingin berharap.

Wajahnya memerah seketika, suara perempuan termegap-megap dan berbisik satu sama lain mulai jelas terdengar di sekitar mereka.

"Hermione Granger, Hermione Jean Granger. Aku tahu aku pria paling menyebalkan yang pernah kau temui, kau sudah mengatakannya kepadaku beratus-ratus kali."

"Kau memukulku dan menamparku berkali-kali karena aku melakukan hal-hal bodoh. Kau selalu marah padaku karena aku sengaja membuatmu kesal karena dengan sengaja melakukan semua hal yang tidak kau sukai, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu."

Beberapa perempuan mengeluarkan suara "Ooohhh…"

"Hermione…" Draco membuka kotak berwarna biru ditangannya, dan ada sebuah cincin dengan berlian kecil sederhana tapi terlihat begitu indah disana.

Hermione seketika tahu kalau Draco memang mencintainya, ia pasti memilih cincin itu sendiri, karena Hermione bisa melihat kalau cincin itu benar-benar seperti dirinya, cincin itu seakan-akan berteriak 'Hermione Granger'

"Apa kau ingat saat pertama kali kita berdansa? Saat pertama kali aku menciummu?" Draco bertanya pelan.

Wajah Hermione benar-benar merah, dan matanya berkaca-kaca, sebentar lagi ia akan menangis.

Hampir semua perempuan yang ada di sekitar situ sudah mulai menangis dan tidak bisa menahan diri mereka.

"Aku ingin menjadi satu-satunya pria yang bisa berdansa denganmu kapanpun, dimanapun, aku ingin menjadi satu-satunya pria yang bisa menciummu."

"Aku ingin melihat wajahmu setiap kali aku membuka mata di pagi hari, dan sebelum aku menutup mata."

"Aku ingin kau berteriak kepadaku karena aku meletakkan kaos kaki dan dasiku sembarangan, dan aku akan menyiapkan stock Sleekeasy's Hair Potion yang banyak agar kau tidak kehabisan dan mencuri milikku lagi."

"I love you."

"Jadi, Hermione, maukah kau menikah denganku? Berdansa denganku sepanjang sisa hidupmu? Menjadikan pria menyebalkan ini menjadi pria paling bahagia di seluruh dunia sihir?" Draco bertanya, menyodorkan cincin yang ada dikotak itu dan tersenyum pada Hermione yang air matanya sudah mengalir.

"Prat…" Hermione terisak. "Yes… Yes… Yes…." Hermione menghapus air matanya dengan tangannya.

Hampir semua orang berteriak dan bertepuk tangan untuk mereka, Draco memakaikan cincin itu di jari Hermione kemudian berdiri dan memeluknya.

"I love you Hermione.." Draco berbisik.

"I love you as well…" Hermione membalas.

Draco tidak pernah tersenyum selebar ini dalam hidupnya, seketika riuh orang-orang di sekitar mereka tidak lagi terdengar olehnya. Ia merengkuh wajah Hermione dan menciumnya.

Hermione meletakkan tangannya di dada Draco, membiarkan pria yang dicintainya itu menciumnya, mengabaikan kerumunan yang berteriak pada mereka, memberi selamat dan semacamnya.

"Kurasa kita harus pergi dari sini." Draco berbisik.

Hermione mengangguk pelan, jika perasaanya terbuat dari balon pasti sekarang sudah pecah karena terlalu senang, ia kehilangan semua suku katanya.

Draco menggenggam erat tangan Hermione dan menuju saluran Floo terdekat.

-To Be Continued(?)-

Epilogue?

Kalian mau epilogue?

Hmmm...

beneran nih? mau epilogue atau ini sudah cukup?

Read and Review.

-dramioneyoja