All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 10

Epilogue?

WARNING!

SHAMELESS SMUT AHEAD!SHAMELESS FLUFF AHEAD!

Normal POV.

"Oh… oh…. Yess, Dracooohhhh…" Hermione meneriakkan nama Draco, ia bergerak naik turun di pangkuannya

"Oh… shit… Hermione…." Draco mengerang, ia kemudian meletakkan mulutnya di puting Hermione yang berada di depan wajahnya, lalu menghisapnya sekuat tenaga.

"Ahhhhh…." Hermione berteriak, kukunya menekan pundak Draco, sementara Draco menyumpal mulutnya dengan payudara Hermione.

Mereka terengah-engah.

Draco kemudian membelai wajah Hermione, mereka bertatapan dan tersenyum satu sama lain. Draco tidak tahu berhubungan dengan orang yang kau cintai seperti ini sensasinya.

Draco tidak akan pernah mencari wanita lain. Untuk apa? Ketika ia punya wanita yang paling indah di dalam pelukkannya.

Draco tidak pulang malam itu, setelah melarikan diri dari kerumunan di kementrian, Hermione dan Draco ber-apparating ke apartement Hermione.

Mereka melakukan banyak hal, sex tentunya. Dengan posisi biasa, pretzel, sambil duduk, doggy style, di kamar, di dapur, di tangga, di ruang tamu, di kamar mandi. Dan yang terpenting. Making Love.

Hermione pernah membaca buku tentang Making Love atau Love Making, terserahlah, ia mencobanya dengan Ron, Oliver, bahkan Cormac tapi tidak ada perbedaan, tidak ada percikkan yang seperti disebutkan dalam buku-buku itu.

Jadi Hermione menganggap buku yang di bacanya itu bohong. Tapi saat akhirnya ia melakukannya dengan Draco, ia tahu semua isi buku itu benar, bagaimana desahan pasanganmu terdengar begitu indah, wajah pasanganmu saat klimaks juga memberikan sensasi yang luar biasa, bagaimana setelah itu kalian tidak ingin lepas satu sama lain. Bahkan tetesan keringat yang muncul juga berbeda.

Malam itu Hermione orgasme 8 kali sementara Draco 6 kali.

"Yes Draco, yes… oh penismu memenuhi vaginaku… AHHH" keduanya saling meneriakkan nama satu sama lain semalaman, untung Draco menggunakan silencing spell atau kalau tidak seluruh tetangga akan tahu kalau mereka melakukan sesuatu yang sangat liar dan binal.

"Ahh… Hermione, terus, terus jangan berhenti.." kata Draco saat Hermione menjilati kantungnya dan meremas-remas penisnya.

"Aku akan memasukkan penisku ke vaginamu, mendorong, maju mundur maju mundur sampai kau keluar, aku tidak menyangka kau bisa squirting love, so sexy, aku akan terus membuatmu berteriak sampai pagi, dan kau tidak akan bisa berjalan lurus selama seminggu…" bisik Draco saat mereka melakukannya di tangga.

Saat matahari mulai terbit, Hermione berada dipelukkan Draco di depan perapian, keduanya masih telanjang, kedua tangan Draco melingkar di perut Hermione, tangan Hermione memegang tangan Draco. Mereka masih terhubung, masih ingin menjadi satu selama mungkin.

"Wow." Kata Hermione saat nafas mereka sudah normal.

"Just wow?" tanya Draco tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di rambut hermione.

"Amazing?" tanya Hermione mencoba.

"Hanya Amazing?" tanya Draco lagi.

"Draco Malfoy, kau adalah pria terhebat yang penah berhubungan sex denganku." Kata Hermione lagi. "Making love." Hermione bergumam pelan lagi.

"Better than Cormac?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk.

"Better than Wood?" Draco bertanya lagi.

Hermione mengangguk lagi.

"Weasley?" Draco tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

"Absolutely." Kata Hermione. "Kurasa jika ada yang bertanya kenapa aku menjalin hubungan denganmu aku akan menjawab, karena Draco Malfoy bisa membuatku orgasme delapan kali dalam satu malam."

Mereka berdua tertawa pelan.

"Aku tidak ingin kemana-mana hari ini." kata Hermione, menggosok lengan Draco.

"Kenapa?" tanya Draco.

"Aku ingin terus bersamamu, kau tahu? Masih ada beberapa posisi yang belum kita coba." Kata Hermione memindahkan tangan Draco ke payudaranya.

Draco tahu kalau itu adalah undangan untuk meremas dada wanita di pelukkannya, dan tentu saja ia dengan senang hati melakukannya. "Posisi apa yang mau kau coba?"

"69" Hermione berbisik. Mata Draco membelalak.

"All right, let's do this." Kata Draco. Ia menarik penisnya dari vagina Hermione. Keduanya mendesah dengan sensasinya.

Draco mengangkat Hermione dan membawanya ke kamar. Hermione mengalungkan tangannya ke leher Draco, ia mencium pipi Draco kemudian lehernya.

"I Love you." Kata Hermione berbisik. Tidak menyangka kalau mereka akhirnya akan sampai pada tahap seperti ini, setelah sekian lama bertindak seperti orang bodoh, setelah sekian lama sama-sama buta terhadap perasaan satu sama lain.

Draco tersenyum, ia meletakkan Hermione dikasur dan mencium bibir gadis itu lagi. "I love you as Well." Kata Draco. Ia menghabiskan ratusan malam, membayangkan bagaimana rasanya jika Hermione ada dibawahnya? Dipelukkannya? Meneriakkan namanya? Dan sekarang ketika fantasinya sudah menjadi kenyataan, ia sadar betapa menyedihkannya fantasinya itu, Hermione jauh lebih luar biasa dari fantasi-fantasinya atau perempuan-perempuan lain.

Draco merebahkan tubuhnya. Kemudian Hermione melepas gumpalan rambutnya yang tadi ia pilin dengan tongkat Draco. Draco langsung mengeras begitu melihat Hermione melepaskan rambutnya.

Sama seperti saat ia melihat Hermione melepaskan ikatan rambutnya dulu saat mereka di perpustakaan Hogwarts. Ia benar-benar terlihat seperti malaikat, apalagi tanpa pakaian. Draco rela tidak pernah lagi melihat matahari selama Hermione ada di depannya.

Hermione duduk di wajah Draco menghadap tubuh bagian bawah Draco.

"Shit, you wet. Kau masih sangat basah untukku love." Kata Draco, kedua tangannya melebarkan bokong Hermione dan mulai menjilati bagian intim Hermione.

"Ahh…" kata Hermione saat Draco mulai menjilati bibir vaginanya. Hermione meremas dadanya, tidak tahan dengan sensasi di seluruh tubuhnya. Saat itu Penis Draco ereksi dan berdiri menjulang dengan hebatnya.

"Ah…" Hermione menunduk untuk memasukkan penis Draco kemulutnya. Kedua tangan Hermione meremas kantung di ujungnya, dan terus menghisap penis Draco dengan penuh semangat. Draco juga menjilat vagina Hermione penuh cinta.

Mereka melakukannya hampir setengah jam saat Hermione tidak tahan lagi, ia duduk dan menggeser bokongnya dari wajah Draco.

"Draco…. Now!" Kata Hermione jelas. Draco tidak perlu diberitahu dua kali. Ia mendorong Hermione ke kasur dan langsung mendorong penisnya ke dalam.

"Ah…"keduanya mendesah. Draco mulai bergerak, maju mundur maju muncur.

"Draco…" Hermione membelai rambut Draco, Draco berkeringat dengan seluruh usahanya. "Aku akan keluarahhhhh" kata Hermione. Draco mencium habis desahan klimaks Hermione dan ia juga tidak lama klimaks.

Draco menjatuhkan badannya diatas badan Hermione.

"Draco." Kata Hermione tiba-tiba.

"Apa kau punya banyak uang?" tanya Hermione.

"Ya, tentu saja, ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Draco, ia akan memberikan apapun untuk Hermione.

"Baguslah, karena aku akan berhenti bekerja dan menajadi budak seksmu mulai sekarang." Kata Hermione.

Draco tertawa, benar-benar tertawa, sampai seluruh tubuhnya bergetar.

"I love you." Kata Draco mencium kening Hermione,

"I love you as well."

"Hey…" Hermione teringat sesuatu.

"Merry Christmas Malfoy…" Hermione mencium bibir Draco.

Draco tertawa. "Merry Christmas Granger…"

.

Draco dan Hermione bahkan tidak beranjak dari apartement Hermione sampai tanggal 2 Januari, itu juga karena persediaan makanan mereka sudah habis.

Hermione menelepon kedua orangtuanya dan berkata ia akan menghabiskan tahun baru dengan Draco. Ibunya berseru senang dan berkata jika mereka lebih pintar dan peka satu sama lain seharusnya sekarang ia sudah punya cucu.

Draco mengirim surat pada ibunya dan mengatakan ia akan menghabiskan tahun baru dengan Hermione.

Lucius yang membalas suratnya. Isi suratnya hanya satu kata.

Finally.

Hermione dan Draco tertawa melihat surat balasan kepala keluarga Malfoy itu.

"Sepertinya semua orang selain kita tahu kalau kau dan aku saling mencintai." Hermione membalik bacon yang ada di penggorengannya.

Draco tertawa, "Itu karena kau tidak peka." Ia lalu mengambil piring dan gelas menyiapkannya di meja.

"Kau yang tidak peka." Hermione berkata lagi, sambil memperhatikan Draco yang membantu menyiapkan meja.

"Kurasa kita berdua memang tidak peka." Draco berkata lagi. "Granger, dimana kau meletakkan susu yang kita beli tadi?" Draco mencari-cari di bungkusan belanja mereka tadi.

"Di kulkas." Hermione kemudian meletakkan bacon di piring mereka. Ia berusaha berhenti tersenyum tapi tidak bisa, ia tidak menyangka dirinya dan Draco akan bergerak seirama.

Hermione memasak dan Draco menyiapkan meja, jika seperti ini gambaran hidup mereka ke depannya maka Hermione tidak bisa membayangkan sesuatu yang lebih baik.

.

"Blaise?" Draco bingung melihat Blaise yang datang ke ruangan kantornya tiba-tiba.

"Hai Mate." Blaise tersenyum lebar.

"Ada apa?" Draco terlihat tegang.

"Wow, apa kau tahu kalian menjadi pembicaraan diseluruh kementrian?" Blaise bertanya.

Draco tertawa canggung.

"Tenanglah!" Blaise tertawa melihat Draco yang tegang.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku tentang Hermione atau semacamnya?" Draco bertanya.

Blaise tertawa.

"Aku hanya mendekati Hermione untuk membuat kalian sadar." Kata Blaise tertawa lagi. "Aku tidak tahan melihat kalian hanya diam dan tidak melakukan apa-apa, padahal orang buta juga bisa melihat kalau kalian mencintai satu sama lain."

"Benarkah?" Draco bertanya.

Blaise mengangguk kemudian menyodorkan tangannya. "Aku kesini untuk memberimu selamat, selamat karena akhirnya kau berhenti menjadi pria bodoh."

Draco tertawa, ia menjabat tangan sahabatnya itu, benar kata Hermione sepertinya semua orang selain mereka tahu kalau mereka saling mencintai.

.

"Do you Draco Abraxas Malfoy…..?"

"I do." Draco memegang tangan Hermione erat. Memotong perkataan mentri sihir yang menikahkan mereka.

"Do you Hermione Jean Granger, accept Draco Abraxas Malfoy as your….?"

"I do." Hermione meneteskan air mata. Juga memotong perkataan Arthur Weasley yang menikahkan mereka.

Draco kemudian menyelipkan cincin ke jari Hermione, dan begitu juga sebaliknya.

"And now, by the power vested in …." Draco mencium Hermione dengan penuh cinta dan sepenuh hatinya. Hermione menyentuh pipi Draco.

"You may kiss your bride." Kata Arthur menghela nafasnya, baru kali ini kalimatnya terus menerus dipotong oleh sepasang mempelai pengantin

Beberapa orang mulai membersihkan tenggorokkan mereka. Tapi keduanya masih belum menarik bibir mereka.

"Draco, lanjutkan lagi nanti." Lucius berkata agak keras. Diiringi tawa orang-orang yang menghadiri pernikahan mereka.

Hermione menarik dirinya, tersenyum melihat suaminya yang bodoh dan menyebalkan di depannya.

"I love you Mrs. Malfoy." Draco berbisik.

Ia tidak tahu kapan dirinya berubah menjadi pria lemah yang penuh perasaan, tapi begitu melihat Hermione berjalan dengan ayahnya menuju altar, menggunakan gaun putih, memandang ke arahnya dengan mata cokelat besarnya yang berkaca-kaca, ia tahu ia akan menjadi pria paling bahagia di dunia dan berusaha menahan air matanya.

Sementara Hermione sudah tidak bisa menahan air matanya semenjak ayahnya menggandeng tangannya dan berjalan menuju ke altar diiringi musik.

Ia menggunakan gaun pengantin impiannya, gaunnya putih panjang, ketat di bagian tubuh atasnya kemudian mengembang di bagian pinggang ke bawah, lengan panjang transparan berenda dan membiarkan bahunya terlihat.

Lace Long Sleeve, Off The Shoulder, A-line Gown

Ia tahu mimpinya jadi kenyataan.

"I love you as well Mr. Malfoy." Hermione menitikkan air matanya lagi.

.

"Sudah….. ahh…. Ku bilang…. Ahh… shit…. Ini bukan ide yang bagusssshhhh.." Hermione mencengkram bahu Draco.

"Diamlah Grangerrrhh.." Draco mengerang.

Mereka sedang berada di perpustakaan paling besar dan terkenal di Republik Ceko. Tentu saja, jika kau menikah dengan Hermione Granger maka kau berbulan madu sambil mengunjungi salah satu perpustakaan paling terkenal di dunia.

Draco setuju pergi perpustakaan itu dengan syarat mereka akan melakukan-nya di salah satu pojok perpustakaan.

Dan disinilah mereka sekarang, Hermione sekuat tenaga menahan teriakkannya saat ia mencapai klimaks, begitu juga Draco.

Setelah mereka selesai dan merapikan pakaiannya, Draco dengan cepat menyeret Hermione keluar dari gedung perpustakaan.

Draco tertawa pelan, Hermione tersenyum sambil bergelayut di lengan Draco.

"That was Great." Hermione berkata.

"Bukankah aku selalu hebat?" Draco bertanya sombong.

"Prat!" Hermione memukul lengannya pelan. "Mr. Malfoy, aku lapar sekali." Hermione berkata.

"Good Orgasm always make you hungry." Draco tertawa. "Kau mau makan apa?" Draco bertanya.

"Surprise me!" Hermione berkata.

.

Setelah tiga hari di Republik Ceko mereka melanjutkan perjalanan ke Bora-Bora. Mereka menikmati pantai di pulau paling indah di dunia menurut US News dan World Report, lalu Draco menyewa Helikopter dan mengelilingi Gunung Otemany, dan menghabiskan sisa hari menikmati pemandangan istrinya dibalut bikini, berjemur di depan cottage mereka.

"Aku tidak tahu kau bisa menerbangkan helikopter." Hermione berseru saat Draco lepas landas.

"Aku bisa melakukan banyak hal Love, banyak, di kamar dan di luar kamar." Draco menyeringai.

.

Lalu Draco membawa Hermione ke Rio de Janeiro, Brazil. Draco merancang piknik di dini hari, sambil melihat matahari terbit di dekat Patung yang menjadi Ikon Brazil, Christ the Redeemer, sebelum banyak turis lain yang datang.

Hermione duduk di pelukkan Draco, bersandar pada dada pria itu, memandangi matahari terbit, membiarkan suaminya membelainya dan menghirup aroma shamponya, keduanya menggumamkan kata-kata indah satu sama lain, ditemani sinar matahari terbit.

Tiba-tiba Draco membelai tangan Hermione dan bernyanyi pelan di telinganya

Do you want to know a secret

Do you promise not to tell

Closer

Let me whisper in your ear

Say the words you long to hear

I'm in love with you

Hermione menitikkan air mata, perasaanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, betapa ia mencintai Draco dan merasa ini seperti mimpi. Hermione dengan cepat menggumamkan mantra kamuflase dan berbisik pelan.

"Make love to me."

Mereka bercinta ditemani sinar matahari pagi.

.

Lalu mereka pergi ke Dominika, mereka menaikki gunung di Waitukubuli National Trail, Hermione kemudian memaksa Draco untuk melakukan Bungee Jumping bersama. Draco ketakutan setengah mati saat pertama kali melihat bagaimana orang-orang melakukannya.

"Ada apa dengan mereka? Apa para Muggle ini tidak lagi menyayangi nyawa mereka?" Draco berdesis, menyembunyikan rasa takutnya.

"Oh, ayolah Draco, apa kau takut?" Hermione menggodanya.

"Tidak, aku tidak takut, aku hanya tidak ingin mengambil risiko." Draco melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Ayolah, Mr. Malfoy, kau kan penyihir, jika terjadi sesuatu kita tidak akan apa-apa, lagipula ini aman." Kata Hermione memohon.

"No Way!" Draco tetap menolak.

Hermione berpikir sebentar, dan ia langsung tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengaitkan lengannya di dengan Draco, memosisikan lengan suaminya agar mengenai bagian dadanya, kemudian berbisik.

"I'm gonna let you spank me tonight." Hermione berbisik pelan dan berusaha membuat suaranya terdengar seksi.

Draco membelalak mendengar perkataan istrinya.

"Chain? Whipped Cream? Anything." Hermione berbisik lagi.

Akhirnya Draco setuju, dan mereka melompat bersama dan setelah merasakan sensasinya, Draco melakukannya lagi sampai lima kali. Hermione hanya tertawa melihat kelaukan suaminya.

.

Draco membelai wajah Hermione, menyingkirkan rambut dari wajahnya yang berkeringat, mereka berada di jepang, di salah satu hotel tradisional yang hampir seluruh furniture-nya terbuat dari kayu.

"Minx." Draco bergumam.

Hermione tertawa. "Siapa yang menyuruhmu mengajakku ke Jepang?" Hermione bertanya.

Mereka tertawa. Hermione menceritakan semua fantasi-fantasi tergelapnya pada Draco, dan begitu juga sebaliknya, jadi mereka berdua melakukan kegiatan-kegiatan yang selama ini belum pernah mereka lakukan, yang awalnya mereka anggap terlalu ekstrem.

Draco mengelus bagian belakang Hermione yang mulai memerah dan sedikit bengkak.

"I'm sorry…" Draco menyembunyikan wajahnya di leher Hermione.

"Setidaknya memarku lebih sedikit dari lukamu." Hermione menyentuh bekas gigitannya di pundah Draco, bekas kukunya yang membuat punggung Draco beradarah.

Kink.

Kata yang tepat untuk mendeskripsikan bulan madu mereka di Jepang.

"Draco…" Hermione memanggil nama suaminya sebelum pria di depannya tertidur.

"Hmm?" Draco bertanya pelan.

"Boleh aku bertanya?"

"Tanyakan saja."

"Siapa perempuan pertamamu?" Hermione bertanya penasaran, dari dulu ia selalu ingin tahu siapa perempuan pertama yang tidur dengan suaminya. Asumsinya adalah Pansy, atau mungkin Daphne.

"Kau benar-benar ingin tahu?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk.

"Emma Ballantine." Draco bergumam pelan.

"Really?" Hermione membelalak tidak percaya.

Draco tertawa dan mengangguk. Siapapun perempuan pertama yang berhubungan sex dengannya tidak masalah.

"Tapi, ia kan…" Hermione tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

"Dua tahun diatas kita?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk. Emma Ballantine adalah murid Ravenclaw dua tahun di atas mereka, Pureblood yang kemudian menjadi model di dunia Muggle dan menjadi salah satu model paling terkenal di Inggris.

"Well, Granger, aku berhubungan dengan Ballantine saat aku masih tahun ke-lima. Hilangkan wajah shock-mu." Draco berkata saat Hermione membuka mulutnya kaget. "Lagipula tidak ada perempuan yang bisa menolak pesonaku." Draco berkata lagi dengan sombongnya.

Hermione menggeleng-geleng heran. Draco Malfoy pertama kali melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan saat masih berumur 15 tahun.

"Lagipula Granger…" Draco akan memberitahunya sesuatu. "Kau perempuan pertama yang tidur denganku." Draco berkata lagi. "Benar-benar tidur, aku tidak pernah benar-benar tidur dengan perempuan lain, after sex I leaved as soon as possible or told them to leave."

Hermione tersenyum.

"Really?" Hermione bertanya.

Draco mengangguk. "Kau perempuan pertama yang berada di kasurku untuk tujuan selain sex, perempuan pertama yang benar-benar hanya tidur denganku, perempuan pertama yang kupeluk setelah sex, perempuan pertama yang kupeluk dalam tidurku."

Hermione sudah tersenyum lebar sekali. Ia merasa tamak, senang sekali mendengar apa yang baru dikatakan Draco.

"Kau? Granger… siapa pria pertamamu? Siapa yang mengambil keperawananmu? Weasley?" Draco bertanya pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Hermione menggeleng.

"Krum?" Draco bertanya lagi.

"Aku tidak mungkin tidur dengan seorang pria saat masih di tahun ke-empat, bodoh." Hermione memukul tangan Draco pelan.

"Lalu siapa?" Draco tertawa.

"Kau benar-benar ingin tahu?" Hermione mengulang perkataan Draco tadi.

Draco tertawa. "Katakan saja, tidak mungkin lebih buruk dari Potter kan?"

Hermione hanya diam.

Draco melihat wajah Hermione. Dan seketika itu ia tahu.

"Potter?" Draco bertanya pelan.

Hermione mengangguk. Ia mengira Draco akan marah padanya, tapi kemudian Draco tertawa.

"Well, kurasa Potter lebih baik dari Weasley." Draco kemudian dengan cepat menindih Hermione.

"Granger… apa kau tahu apa hukumanmu untuk tidur dengan pria lain selain aku?" Draco mulai memainkan perannya. Lagi.

Hermione menggeleng. Seluruh tubuhnya bergetar, Draco baru memperkenalkannya pada BDSM, dan jujur saja belum ada hal baru yang bisa membuatnya bergetar dengan rasa gugup dan ingin tahu sekaligus.

Setelah satu ronde BDSM Sex, lagi, Hermione menceritakan semuanya. Bagaimana Ron meninggalkan mereka berdua saat sedang dalam pelarian, dan bagaimana saat itu ia dan Harry benar-benar tertekan dan akhirnya melakukannya.

Draco membelai kepala Hermione, tahu istrinya pasti mengalami hari-hari yang berat saat berada dalam pelarian mencari Horcrux, seluruh dunia sihir tahu tentang ini, tapi tetap ada beberapa detail yang hanya mereka bertiga yang tahu.

"I love you." Draco berkata lagi, tidak peduli apapun yang pernah terjadi dan di alami Hermione, ia menarik tangan Hermione lalu mencium bekas luka mudblood-nya.

Hermione menitikkan air mata lalu memeluk Draco pelan.

"I love you as well."

.

Dan terakhir mereka menghabiskan waktu di Prancis. Hari pertama lagi-lagi mereka tidak keluar kamar, tapi hari kedua Draco entah dari mana mendapatkan motor Vespa berwarna merah yang bagus dan mengkilap, dan mereka mengelilingi jalan-jalan indah di kota Paris sambil bernyanyi dan tertawa bersama.

What would you think if I told you
I've always wanted to hold you
I don't know what we're afraid of
Nothing would change if we made love

So I'll be your friend
And I'll be your lover
'Cause I know in our hearts we agree
We don't have to be one or the other
Oh, no, we could be both to each other

Hermione tahu suaranya tidak bagus, begitu juga dengan Draco, tapi saat seperti ini menyanyi membuat mereka benar-benar semakin bahagia.

Mereka mengunjungi The Louvre, tempat dimana Monalisa di simpan, mencoba berbagai macam makanan di restoran mahal maupun di pinggir jalan, pergi ke Notre Dame, Champs- Elysees, dan di malam terakhir makan malam romantis di salah satu restoran paling terkenal yang menghadap langsung ke menara Eiffel.

"Draco…" Hermione bergumam sambil mencicipi Wine terbaik yang dipesan Draco.

"Iya?"

"I love you." Hermione mengungkapkan perasaannya.

Draco tersenyum, ia meraih tangan Hermione. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia kehilangan kata-katanya, duduk disini dengan Hermione Granger yang sudah menjadi istrinya.

Ia tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini.

Setelah selesai makan, Hermione mengajak Draco ke depan menara Eiffel.

"Dance with me Mr. Malfoy?" Hermione mengulurkan tangannya.

"Really?" Draco bertanya, tersenyum, teringat percakapan mereka saat pesta kelulusan.

"Really." Hermione mengangguk pelan

"Slow Dancing?" Draco bertanya lagi.

"Slow Dancing." Hermione mengangguk, selama tiga minggu bulan madu mereka, senyuman tidak pernah hilang dari wajah keduanya.

Draco menarik Hermione ke pelukkannya dan mereka berdansa di depan menara Eiffel disinari lampu dari menara dan sinar bintang.

"I Love you."

"I Love you."

Mereka berkata bersamaan, lalu keduanya tertawa, Draco merunduk dan mencium istrinya.

"I Love you." Draco bergumam lagi memeluk Hermione erat.

.

"Granger." Draco keluar dari kamar mandi mereka dengan sebuah benda asing yang tidak dikenalnya.

Hermione tersenyum, ia sengaja meninggalkan testpack-nya di wastafel kamar mandi mereka, agar Draco tahu bahwa ia sudah mengandung.

"Ini benda apa?" Draco bertanya polos.

Hermione memukul jidatnya. "Bodoh." Entah siapa maksudnya yang bodoh, dirinya karena tidak memperkirakan bahwa Draco kemungkinan tidak mengenal alat Muggle itu, atau Draco yang bodoh karena bahkan tidak tahu benda apa yang ada di tangannya.

"Itu alat Muggle untuk mengecek kehamilan." Hermione memberitahu.

Draco shock. Matanya membesar dan mulutnya terbuka.

"Kau hamil?" ujarnya tidak lebih dari sebuah bisikkan.

Hermione mengangguk.

"Hermione Malfoy!" Draco berteriak senang dan menggendong Hermione kemudian memutarnya dengan ringan seperti menggendong anak kecil. "Kita akan punya anak? Kita akan jadi orang tua? Aku akan jadi ayah?" Draco meletakkan Hermione kemudian bergerak kesana-kemari mencari sesuatu.

"Ah, sial, dimana ponselku?" Draco bergumam.

"Di saku jasmu." Hermione menunjuk. "Mau menghubungi siapa?" Hermione bertanya.

"Blaise, aku akan memerkan hal ini, dia baru saja meledekku impoten kemarin siang." Draco segera mengambil ponselnya.

Hermione melempar bantal kasur mereka ke arah Draco.

"Aku baru saja memberitahumu bahwa aku hamil, dan bukannya bercinta denganku kau malah mau menelepon Blaise?" Hermione kesal, ia sudah berkacak pinggang.

Draco melihat ke arah istrinya. Lagi-lagi ia benar, harusnya ia menunjukkan pada Hermione bahwa ia mencintainya, bukan malah menelepon Blaise. Maka Draco melempar ponselnya lalu setengah berlari menuju ke arah Hermione dan menggendongnya menuju kasur mereka.

"Maaf, kau tahu kan? Kau menikahi pria paling menyebalkan di dunia sihir?" Draco bergumam.

Hermione tertawa. "Bodoh."

.

"Draco!" Hermione berteriak dari dapur.

"Ada apa?" Draco menjawab dari ruang tv rumah mereka.

"Cepatlah kesini!" Hermione berteriak kencang sekali.

Draco berjalan cepat menuju ke dapur, ia melihat Hermione teduduk di lantai, ada semacam genangan air disekitar kakinya.

"Astaga!" Draco langsung panik dan menggendong Hermione. "Air ketubanmu pecah?" Draco bertanya, menggendong istrinya yang perutnya sudah besar.

Hermione melingkarkan tangannya di leher Draco. "Matikan dulu kompornya." Hermione menunjuk kompor yang masih menyala.

Draco mematikan kompor sambil memutar matanya, istrinya masih sempat memintanya mematikan kompor padahal air ketubannya sudah pecah.

Mereka lalu menggunakan saluran Floo menuju ke St. Mungos.

.

"Mrs. Malfoy, sedikit lagi, sedikit lagi." Mediwitch yang membantu proses persalinan Hermione berkata.

"Draco Malfoy Brengsek! Aku membencimu!" Hermione berteriak terengah-engah sambil mencengkram tangan suaminya.

Draco tidak mengatakan apa-apa, ia hanya diam, membiarkan istrinya menghancurkan tangannya, ia berkeringat dingin melihat proses persalinan istrinya.

"Sedikit lagi." Mediwitch itu berkata lagi. "Sedikit lagi Mr. Malfoy, aku sudah bisa melihat kepalanya."

"Ah…. Ah…. Ahhhhh….."

"Draco Malfoy, aku bersumpah tidak akan membiarkan penismu mendekat lagi." Hermione berteriak kencang, kesakitan.

Hermione berteriak kencang saat akhirnya anak pertamanya, anak pertama mereka lahir ke dunia.

"Aaaaaaaahhhhhhhhh"

Draco mencium kening istrinya. "Kau berhasil Hermione! Kau berhasil, kita berhasil. Anak kita sudah lahir." Draco menyingkirkan rambut dari sekeliling wajah Hermione dan mengelus-elus kepalanya.

"Aku mencintaimu." Draco berbisik.

Tidak lama Mediwitch tadi memberikan bayi mereka yang sudah di bungkus dengan selimut putih ke pelukkan Hermione.

"Selamat Mr. Malfoy, Mrs. Malfoy." Mediwitch itu kemudian keluar dari ruangan dan membiarkan keluarga kecil itu sendirian.

Hermione menggendong anaknya lalu menangis. Tidak menyangka kalau ini nyata.

Hermione mencium kening anaknya.

Draco bukan pria yang mudah menangis, tapi kali ini ia tidak bisa membendung air matanya. Ia mencium kening anaknya.

"Hello Scorp…" Draco bergumam.

.

"Aku ayah baptisnya." Harry berseru pada Ron dan Blaise.

"Aku!" Ron meletakkan kedua tangannya di pinggang.

"Haha, kalian tidak mungkin dipilih Draco!" Blaise berkat penuh percaya diri. "Aku yang akan menjadi ayah baptisnya."

"Hermione, siapa yang akan menjadi ayah baptis Scorp? Aku kan?" Harry bertanya, tidak tahan lagi berdebat dengan Ron dan Blaise.

Hermione yang duduk sambil menggendong Scorpius melihat ke arah Draco yang duduk disampingnya.

"Bagaimana ini?" Hermione berbisik.

"Entahlah" Draco juga bingung.

Draco dan Hermione kemudian melirik ke tiga pria di depan mereka yang sedang bertengkar memperebutkan posisi Ayah Baptis Scorpius.

.

"Aku benci padamu!" Hermione berteriak sambil melemparkan vas bunga kecil di sampingnya ke arah Draco.

"Katakan saja itu terus!" Draco menghancurkan vas itu dengan tongkatnya.

"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!" Hermione melemparkan bantal kursi yang bisa dicapainya.

"Kau yang pergi! Ini kan rumahku!" Draco berteriak lagi.

"Aku benci padamu Draco Malfoy!" Hermione berteriak kesal lalu ber-apparating pergi dari rumah mereka.

Draco menghela nafasnya, Hermione marah padanya karena Scorpius masuk ke Slytherin. Ia tahu kalau Hermione benar-benar ingin anaknya masuk Gryffindor, tapi apa yang bisa mereka lakukan? Scorpius adalah seorang Malfoy, dan Malfoy sudah seharusnya di Slytherin.

Semenjak surat dari Scorpius datang tadi malam dan memberitahu kedua orangtuanya kalau ia masuk Slytherin, mood Hermione menjadi buruk, ia tidak membiarkan Draco menyentuhnya.

Dan baru saja setelah mereka selesai sarapan, Draco marah padanya karena bertindak menyebalkan.

"Stop Being Bitch." Draco berseru.

"What?"

"Berhentilah bersikap menyebalkan! Apa kau pikir karena ia anakmu dan punya dua ayah baptis dari Gryffindor maka ia harus masuk Gryffindor? Jangan lupa kalau aku seorang Slytherin, begitu juga Blaise" Draco mulai emosi.

Akhirnya mereka menjadikan Harry, Ron, dan Blaise sebagai ayah baptis Scorpius.

"Diam sajalah!" Hermione berseru kesal.

Ini adalah yang salah satu hal yang Draco benci, jika sudah kesal atau marah, Hermione jarang langsung mengungkapkan kekesalannya, hanya mengambek dan berikap jutek tidak jelas.

Akhirnya mereka bertengkar dan Hermione pergi.

.

"Mom, apa kalian bisa menjaga Cassie semalam lagi?" Draco menghubungi Helena Granger.

"Tentu saja, apa kalian akan pergi kesuatu tempat?" Helena bertanya.

"Begitulah." Draco berbohong.

"Baiklah, selamat bersenang-senang."

"Terimakasih banyak Mom." Draco kemudian menutup teleponnya. Setelah menikah dengan Hermione, ia memanggil kedua orangtua Hermione dengan sebutan Mom and Dad, sementara Hermione memanggil Narcissa dan Lucius dengan sebutan Mother dan Father.

Draco berusaha menghubungi Hermione tapi tidak ada respon, sekarang sudah malam dan masih tidak ada kabar dari istrinya itu.

Draco sudah menghubungi Potter, Weasley, bahkan Zabini, tapi tidak ada jawaban.

.

Hermione kembali ke rumahnya sekitar pukul enam sore. Ia menghabiskan harinya di pinggir Sungai Thames.

Berusaha menenangkan pikirannya, berusaha menerima kalau Scorpius masuk ke asrama Slytherin.

Hermione naik kekasur dimana Draco berbaring kemudian memeluk suaminya dari belakang.

"Maaf!" Hermione berbisik, tahu Draco belum tidur dari tempo nafasnya.

Draco memegang tangan Hermione yang melingkat di perutnya.

"Kau darimana?" Draco bertanya.

"Duduk di pinggir Thames." Hermione berkata lagi. "Aku tidak seharusnya bersikap seperti itu, seharusnya aku menerima Scorp yang masuk Slytherin, dan bukannya marah-marah padamu." Hermione bergumam pelan.

Draco membalikkan badannya dan memeluk Hermione. "It's okay." Draco mengelus-elus punggungnya, kalau seandainya Scorpius masuk Gryffindor ia juga pasti akan kesal.

"Kau sudah makan?" Draco bertanya.

Hermione menggeleng. "Astaga, Cassie?" Hermione teringat anak perempuannya yang baru berumur lima tahun. Cassiopea Malfoy lahir saat Scorpius berumur 6 tahun. Scorp dan Cassie benar-benar disayang oleh kedua orangtuanya dan kedua pasang kakek-neneknya. Saat Cassie lahir, ia seketika langsung menjadi cucu kesayangan nomor satu Lucius Malfoy, saat Narcisssa dan kedua orang tua Hermione tidak berpihak tetap menyayangi Scorp dan Cassie dengan kadar yang sama, Lucius dengan gamblangnya menunjukkan ia jauh lebih menyayangi Cassie. Well, tentu saja Lucius tetap menyayangi Scorp, ia bahkan baru saja membelikan sapu terbang special yang dirancang khusus untuk cucunya yang baru masuk Hogwarts itu.

Hermione kesal sekali saat tahu Scorp dibelikan sapu khusus, lagipula murid tahun pertama tidak boleh membawa sapu mereka sendiri.

Bukan hanya Hermione yang kesal karena menganggap hadiah itu berlebihan, tapi Draco juga kesal karena ayahnya bahkan tidak pernah memberikannya hal semacam itu.

"Aku sudah menelepon Mom dan meminta mereka menjaga Cassie satu malam lagi." Draco memberitahu.

Hermione mengangguk, ia lapar, tapi ia lebih menginginkan Draco saat ini.

"I want you." Hermione berbisik sambil melepaskan kancing kemeja Draco. Draco menyeringai, ia dengan cepat memosisikan tubuhnya di atas Hermione.

"I need you." Draco berseru, ia mencium bibir Hermione penuh. Hampir dua belas tahun menikah, tidak sekalipun mereka berdua kehilangan gairah saat berhubungan.

Draco merasa semakin hari Hermione semakin cantik dan semakin mencintainya. Tubuhnya berubah di beberapa tempat, pinggulnya melebar, bokong dan payudaranya membesar, dan semua perubahan itu justru membuat Hermione menjadi lebih indah dan menawan.

Beratus-ratus kali Draco membawa istrinya ke acara perusahaan, dan beratus-ratus kali ia pula Ia melihat pria-pria melihat istrinya dengan tatapan tidak layak, di satu sisi ia kesal dan merasa posesif, tapi di sisi lain ia merasa bangga karena Hermione Granger hanya miliknya seorang.

Hermione melingkarkan kedua tangannya di leher Draco, mendesah saat suaminya menciumi leher dan bahunya.

Ia mungkin perempuan paling beruntung di dunia, ia memiliki suami paling tampan dan kaya di Inggris, ia punya dua anak yang sehat, pintar dan baik, ia sudah punya segalanya.

Draco dan Hermione tahu, apapun yang akan datang, seberapa besarnya masalah mereka ke depannya, apapun yang akan menghadang mereka, ada satu hal yang tidak akan pernah berubah. Mereka saling mencintai, dan saling memiliki satu sama lain. Itu sudah cukup.

"Draco…" Hermione membuka matanya dan memandang mata silver yang ada tepat di depannya.

"I love you."

"I love you."

Mereka berkata bersamaan.

Hermione dan Draco tersenyum.

"Thank you, my friend." Draco berbisik tepat ditelinga Hermione.

"Thanks to you too…" Hermione berbisik. "My Friend."

.

I realized I'm in love. It's always been right in front of me. (Richelle Mead, The Indigo Spell.)

.

-The End-

.

.

Ini absurd, wakakak, karena chapter epilogue justru paling panjang dari semua chapternya… LOL, itu karena aku ingin memuaskan hormonku (dan hormon kalian juga)… LOL.

Akhirnya cerita ini selesai, padahal target awalku cuma sekitar 10k kata, tapi malah jadi 16k… well, aku tadinya udah mau selesai di chapter 9, karena terkadang eding menggantung lebih gimana gitu, tapi aku pulang kuliah tadi sore, dan cek review-review dari kalian, dan bikin epilogue kilat ini dari tadi jam tiga sore.

Dari awal aku memang cuma mau bikin ini jadi cerita sedang dan ringan, makanya nggak ada konflik berarti di cerita ini, cuma sekedar intermezzo.

Bzzz, aku tahu penjelasanku tentang wedding dress-nya Hermione belepotan, aku takut kalian gak dapet maksudku, jadi cek di sini

/ fashion/ jewel- style- wg3728- davids- bridal- wedding- dress

terus bayangkan pake veil panjang dan lengannya juga panjang (Jangan lupa hapus spasinya)

Kasih tahu aku di review kalian destinasi favorit bulan madu Dramione kalian disini..

Aku pribadi paling suka paris, bukan karena aku suka paris, terus terang aku lebih suka London, AKU SUKA BANGET LONDON, ABBEY ROAD, THE BEATLES, HARRY POTTER, I LOVE EVERYTHING ABOUT UK. Tapi bagian mereka berkeliling kota dengan vespa itu benar-benar impian pribadiku..

Ah, dan lagu yang dinyanyikan mereka berdua di sambil menaiki Vespa adalah Gloria Loring Ft. Carl Anderson – Friends and Lovers. (Lagu ibuku. LOL)

Dan lagu yang dinyanyikan Draco untuk Hermione itu The Beatles – Do You Want to Know a Secret.

Aku berterimakasih buat semua reviewers dan silent readers cerita ini, yang memfollow dan memfavorite cerita ini.

Jangan lupa review, yang selama ini menjadi silent reader pleaseee review di chapter terakhir ini... pleaseeee...

Terimakasih banyak semuanya.

See you on another story…..

-dramioneyoja