Hai, everyone!

Anne muncul lagi, nih. Maaf, ya kemarin nggak sempat update. Teman Anne lagi main ke rumah, sampai nggak ada waktu buat ngelanjut chapter duanya sampai selesai. Berhubung kemarin sudah sempat ngetik sedikit dan nggak sempat publish, Anne tambah sedikit ceritanya jadi chapter ini lebih panjang.

Ninismsafitri: Yeay, terima kasih sudah ditunggu. Terima kasih dukungannya. Ikuti terus ceritanya, ya! Thanks, Ninis :)

Selamet. .9: ikuti terus ceritanya, ya! Thanks, :)

Afadh: Horeeee, hahaha Anne buat ini soalnya Anne pengen buat sesuatu yang beda dari biasanya. Dan Anne suka juga kalau di pair Harry/Hermione walaupaun harus rela buat Ginny meninggal. Huhuhu :( tahan penasarannya, karena cerita belum selesai. Anne pertimbangkan pair ini jadi favorite Anne, deh! Biar terus buat dan kamu seneng. Hehehe. Terima kasih supportnya. Anne jadi makin semangat ikutan nanti :)

Ae Hatake: Bagaimana HH menikah? Jawabannya belum di chapter ini, mungkin akan Anne masukkan di chapter 3 nanti. Jadi ikuti terus ceritanya, thanks, ya! :)

Syarazeina: yeayy, Anne muncul lagi, kan! hehehe.. Sabar ya sabar... Aduhhh tenang.. hehehe.. wah terima kasih dukungannya! *peluk* :)

Baiklah.. langsung saja, yuk!

Happy reading!


Langit-langit Kementerian seolah ingin runtuh. Sepanjang lorong menuju beberapa lift di setiap sudut lobby bergetar tidak tahu alam. Peringatan terus terdengar di seluruh penjuru Departemen agar para karyawan keluar menyelamatkan diri dan mempersiapkan tongkat mereka. Harry sudah siap mengomando para Auror yang lain agar mengamankan seluruh area Kementerian.

"Tim dua, lakukan pengaman di kawasan Hogwarts dan sekitarnya. Tim tiga menyebar area pemukiman Muggle, untuk tim empat dan lima jaga seluruh akses masuk Kementerian dan masing-masing Departemen. Tim satu dan saya segerak bergerak ke pusat kekacauan. Kerjakan!"

"Siap!"

Pembagian tugas selesai, Harry dibantu beberapa Auror inti masuk ke wilayah paling parah.

Sejak siang, sistem sihir yang berfungsi menjaga keamanan Kementerian tidak beres. Beberapa memo-memo penting tidak terkirim ke tujuan dengan benar. Hasil-hasil kerja para karyawan tidak ada satupun yang selesai seolah pikiran mereka sedang dimanipulasi. Kementrian disabotase seseorang tak dikenal.

Kingsley memerintahkan tim Auror untuk mencari tahu apa penyebab terjadinya kekacauan di sana. Tidak butuh waktu lama bagi Harry dan timnya untuk menemukan bukti-bukti otentik bahwa.. seseorang tanpa identitas yang jelas telah masuk dan mengacaukan semua pekerjaan Departemen.

Tidak ada yang tenang sesampainya para Auror di lobby Kementerian. Bayangan-bayangan hitam besar muncul dan hilang tiba-tiba sambil menyerang para karyawan yang berlarian masuk ke perapian. Tidak jelas makhluk apa itu. Hanya berwujud seperti asap dan muncul di sudut-sudut keramaian para karyawan. Seperti bayangan itu sudah tahu, area mana saja ia harus muncul dan menyerang mereka semua.

Harry menaksir tinggi makhluk itu hanya sebatas manusia dewasa. Jika diperhatikan jelas, asap itu seperti bentuk siluet manusia yang mengacungkan tongkat ingin menyerang.

Suara teriakan wanita memekik keras terdengar tak jauh di dekat Harry berdiri. "Dia di sini! Tolong aku!" teriaknya.

Seluruh pusat perhatian lantas tertuju pada sumber suara. Dibantu oleh sekitar lima orang berseragam Auror yang sama, Harry mendekat dan apa yang ia lihat seolah mengembalikan dirinya ke masa lalu.

"Oh.. hai, Potter! Kau sudah besar sekarang, anak ingusan! Betapa bangganya Tuanku jika masih hidup dan melihatku bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya!"

Harry diam, mengingat apa yang bisa diingat saat melihat wajah pria itu. Jubah hitam serta bahasa tubuh yang tak asing lagi bagi Harry. Seperti kaum yang pernah menyerangnya puluhan tahun lalu. "Kau bagian dari mereka? Tak sadarkah jika Tuanmu sudah mati, pria brengsek?" tantang Harry.

Cukup baginya untuk tidak berbuat lebih dari sebatasa menyerang dengan kata-kata. Ada wanita berseragam Departemen Hukum berada di dekapan pria itu. Siap di cekik jika Harry gegabah mengambil tindakan.

"Lepaskan wanita itu!" pinta Harry sama sekali tidak ada etika meminta yang baik. Masalah seperti ini, status musuh tetaplah musuh.

Pria itu tertawa dan makin mengkencangkan tangannya di sekitar leher. "Targetku dan kawan-kawanku bukan dia, tapi kau dan Kementerian ini!" dusss.. dan ia menghilang. Wanita yang dicekiknya langsung lemas terduduk.

"Menyebar, pria itu tak sendiri. Perketat pengamanan dan perintahkan semua karyawan untuk mempersiapkan tongkat mereka sebagai senjata perlindungan!"

Dan ternyata, pria misterius itu tidak sendirian. Muncul wajah-wajah lain dengan serangan mantera bertubi-tubi ke suluruh Kementerian. Tidak lagi berwujud asap, tapi mereka menunjukkan wujud mereka.

Ron berlari mendekati Harry dengan napas terengah-engah, "ada yang terbunuh di Departemen transportasi, Harry. Ini keterlaluan, siapa mereka?"

"Mereka pengikut Voldemort yang berhasil melarikan diri dulu. Mereka menuntut balas atas kematian Tuan mereka, Ron," kata Harry.

"Menuntut balas? Dengan—"

"Kembali ingin membunuhku dan menghancurkan Kementerian! Dan aku pastikan itu tidak akan terjadi. Bersiaplah kembali bertempur, Ron!"

Harry dan Ron berlari bersamaan, melempar mantera pada para pasukan berjubah hitam tanpa ampun. Kilatan cahaya terus keluar dari ujung masing-masing tongkat. Tidak hanya dari para Auror saja, para karyawan lain pun tak sedikit ikut melemparkan mantera-mantera demi menyelamatkan diri masing-masing.

Semua orang berlarian, saling tubruk dan berteriak meminta tolong pada siapapun. Sebagian orang bahkan sudah tergeletak sekarat ataupun mati. Hermione keluar dari salah satu pintu ruang rapat –yang beralih fungsi sementara menjadi ruang evakuasi— setelah menyelamatkan sahabat satu Departemennya yang tertimpa serpihan patung-patung yang hancur.

Tangan Hermione menggengam erat tongkatnya sebagai penjagaan. Ia sudah lama terlatih dengan keadaan seperti ini. Kejadian ini tidak membuatnya takut apalagi mundur untuk tidak ikut berperang.

"Harry!" panggil Hermione sangat keras dan si pria berkacamata itu berbalik melihatnya.

"Mione, kau tak apa?"

"Gila, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Lihat, tanganmu terluka!"

Harry melihat sekilas luka goresan di pundak kirinya. Sobek dan mengeluarkan darah. "Tidak ada waktu untuk mengurus luka, Mione. Tetap siaga dengan segala serangan!" pesan Harry sebelum berlari meninggalkan Hermione dan menangkap salah satu pria berjubah hitam.

"Kau memang gila, Harry!"

Hampir tiga jam berlalu, kekacauan mulai tenang. Ada 27 orang mantan Death Eaters tertangkap. Entah semua tertangkap atau tidak, jumlah itu yang mampu diperoleh para Auror dari berbagai sektor. Kementerian masih mencekam. Semua masih siaga jika ada penyerangan kembali, khususnya dibagian jalur kedatangan. Siapapun yang keluar dan masuk Kementerian harus diperiksa dua kali lebih ketat. Demi keamanan.

"Harry, kau melihat Lavender?" Ron datang dengan segelas air untuk Harry.

Harry menggeleng, "Lavender? Dia kemari? Untuk apa? Dia sedang hamil muda, Ron! Kasihan, suasanyanya masih tak aman!" tanyanya khawatir.

"Dia menemani istrimu, Harry. Ginny tahu ada kejadian ini dan memaksa untuk menyusul. Lavender jadi ikut khawatir mengingat aku ikut denganmu. Kau tahu sendiri dua wanita itu punya kekhawatiran yang kronis sejak mereka hamil,"

Namanya juga faktor hormon, apalagi Ginny. Ia sedang hamil 7 bulan. Emosinya sering labil jika mendengar masalah yang berhubungan dengan keselamatan nyawa suaminya. Ginny lebih sensitif. Dari sifat aneh itulah, Harry cepat menebak dengan penuh keyakinan jika anak ketiganya adalah perempuan.

Bertepat dengan saat Harry menenggak airnya, Hermione yang berusaha mengabarkan jika ia melihat seorang Death Eaters lain yang masih berkeliaran terperangah dengan pria berjubah hitam yang baru ia lihat beberapa menit lalu, sudah berdiri tak jauh di belakang Harry sambil mengarahkan tongkatnya tepat di kepala Harry.

Cepat, pria itu melihat Hermione dan tersenyum sinis ke arahnya seolah berkata, 'kau akan jadi saksi kematian pria yang disanjung seluruh penyihir ini!'

"No no no no! Jangan dia. Harry, AWAS!" Teriak Hermione.

Tanpa mendengar peringatan Hermione, pria itu langsung merapal, "avada kedavra!"

"Protego!" lawan Hermione cepat-cepat. Dua mantra itu saling bertubrukan. Hermione lebih cepat menyerang sebelum mantera itu sempat mendarat ke tubuh Harry. Untung saja.

Di sana yang sama Harry mengalihkan pandangannya ke belakang, melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa mantra kematian itu berbalik. Ya, berbalik dan menyerang orang lain.

Brukk! "Ginny!" teriak Harry mendapati istrinya sudah tergelatak lemas di pelukan Lavender.

Ron melempar mantera penyerangan pada si pria hingga terkapar penuh darah. Hermione syok. Bukan karena pria itu bisa dilumpuhkan Ron, tapi akibat dari perlindungan yang ia lakukan untuk Harry mendarat pada orang yang salah. Menyelamatkan satu nyawa tapi mengorbankan nyawan lain?

"Oh Lord, itu Ginny!"

Selangkah sebelum Hermione berlari, pria itu memanggilnya. "Kau memang tak sepintar otakmu saat di Hogwarts dulu, nona." Panggilnya ditengah napas berat yang putus-putus. "Aku memang tak berhasil membuat Potter mati. Tapi kau lihat! Tindakan bodohmu menyelamatkan dia rupanya berubah mengancam nyawa istri tercintanya. Ah, dan tentu saja calon anaknya,"

Bulu Hermione meremang. Ia tidak berani melihat pria yang terus berceloteh memojokkannya. Menyalahkannya telah mencelakai istri sahabatnya sendiri. Beberapa meter di depannya, Harry dan beberapa healer membantu menyelamatkan jiwa Ginny. Ada cahaya terang mengalir dari tangan Harry dan healer-haler itu yang diarahkan tepat ke tubuh Ginny.

Mereka sedang melakukan penyaluran energi untuk mempertahankan tubuh Ginny agar tetap kuat. Itu yang bisa Hermione dengar dari suara salah satu healer yang membantu.

Si pria tadi tertawa. "Meski aku berani bertaruh jika si rambut merah itu akan mati, aku juga berani memberikan jaminan padamu jika anak yang akan dilahirkan itu tidak akan hidup bahagia," kata pria itu.

"Maksudmu?" tanya Hermione tanpa berbalik menatapnya.

"Mantera pembunuh itu melemah karena perlawananmu tadi, nona. Karena melemah tadi, kekuatan manteranya akan menyerap kekuatan sihir siapapun yang mengenainya, sampai mantra itu kembali kuat untuk membunuh. Dan yang terpilih karena kecerobohanmu sendiri adalah.. istri Potter. Semua kekuatan sihir dan tenaganya akan habis terserap, dan secara tidak langsung.. dengan perlahan akan ikut menyerap kekuatan sihir dari anak yang dikandungnya juga.

Tapi kau bisa tenang sedikit, seperti yang aku katakan di awal, mantera itu akan berhenti bekerja jika targetnya sudah mati. Ya, wanita itu akan mati, sedangkan anaknya? Kemungkinan bisa selamat jika anak itu cukup kuat melihat banyak yang memberikan bantuan di sana. Ya, walaupun konsekuensi anak itu hidup tanpa memiliki apa yang sudah diserap oleh mantera yang membunuh ibunya sendiri. Kau pasti bisa menyimpulkan sendiri anak itu lahir seperti apa nanti,"

Badan Hermione bergetar hebat. Ia tak mau melihat ada nyawa yang harus dikorbankan dari perbuatannya. Hermione akhirnya berani menatap pria itu. mencari kebenaran dari apa yang sudah dijelaskan kepadanya "Mereka akan selamat!" kata Hermione penuh keyakinan.

"Jangan berharap banyak, nona... Anak yang akan lahir itu akan menanggung kecerobohanmu! Lebih baik kau bunuh saja sekalian agar ikut ibunya ke neraka daripada Potter harus menanggung aibnya nanti. Jangan berharap banyak untuk anak itu mendapatkan kebahagiaannya.. dan tentu saja kebalikannya, kau akan mendapatkan kebahagiaanmu dengan mudah. Kau mencintainya, kan?"

Mata Hermione membulat sempurna. Harry akan sangat kehilangan Ginny jika itu benar. Aksi penyelamatan Ginny masih berlangsung sampai ada beberapa yang ikut memberikan energinya agar Ginny bertahan.

Ginny tidak akan lama, batin Hermione. Harry akan sendiri menjaga ketiga anaknya tanpa sosok pendamping. Di situlah ada sela Hermione bisa masuk dalam kehidupan pria itu. "Aaaggghh apa yang sudah aku pikirkan?" kata Hermione sadar pikiran jahatnya muncul.

"Lihat, kau berharap Potter sendiri dan kau bisa hidup dengannya. Selamat, nona, impianmu akan tercapai—"

"MOM!"

Hermione terlonjak. Lamunannya buyar seketika. Al, masih memakai piama garis-garisnya. Anak itu semakin mirip dengan Harry di usianya yang menginjak remaja. Garis lekuk wajah Harry terpatri di sana. Tubuhnya kecil dan kurus sangat mirip seperti saat Harry remaja. Tapi, jejak Ginny pun tak bisa dipungkiri di diri Al, seketika seraut wajah Ginny akan tampak terutama saat Al terdiam.

"Kau sudah bangun, nak? Kau memang paling rajin dibandingkan James dan Lily," sanjung Hermione coba mengalihkan perhatian.

Al tersenyum, "begitulah, mereka malas-malas sekali. Padahal sebenarnya aku bangun sepagi ini juga karena James mengajakku bersepeda pagi hari ini. Eh.. malah dia yang belum bangun juga. Aku sudah capek membangunkannya, Mom!" gerutu Al. Ia mendekati Hermione, meraih baju-baju basah yang siap dijemur di halaman belakang.

Hermione baru selesai mencuci pakaian. Ia sudah terbiasa mencuci di hari yang masih sangat pagi. Alasannya, agar cuciannya lebih cepat kering dan tenang melakukan pekerjaan lain tanpa pusing dengan urusan cucian menumpuk.

"Mom melamun masalah Lily, ya?" tanya Al tiba-tiba. Tangannya meraih kemeja Harry yang basah lantas memasang ke besi jemuran. Hermione tersenyum, ia senang dengan Al yang suka sekali membantunya tanpa perlu meminta bantuan terlebih dulu

"Aku bisa merasakan itu, Mom. Tak perlu takut. Aku juga memikirkan masalah ini,"

Al mulai bercerita tentang kekhawatirannya perihal surat Hogwarts yang tak kunjung Lily dapatkan. "Hogwarts memiliki akses yang luas. Mereka bahkan bisa melacak surat yang tidak sampai ke penerimanya dengan sihir. Jika aku dan James mendapat surat tepat di hari ulang tahun ke 11, begitu juga yang lain, artinya Lily pun harusnya mendapat surat itu juga tepat di ulang tahunnya ke 11,"

"Mungkin burung yang mengirim tersesat, Al,"

"Aku masih tak percaya jika Hogwarts memang seceroboh itu. Apalagi Lily anak Dad, mereka tak mungkin membuat Dad dirugikan," kata Al penuh kedewasaan. "Mom, aku tak tahu apa ini benar atau tidak. Ini hanya hasil pemikiranku semalaman soal.. keadaan Lily,"

Hermione berhenti memeras kaos Lily. Apa lagi yang akan Al ceritakan? Semua ketakutan Al adalah ketakutan yang dirasakan Hermione juga. "Mom, ingat, saat Lily masih dua tahun, saat Dad mengalami depresi berat setelah kematian Mommy. Saat James berusaha menelepon Mom agar datang ke rumah karena Lily memaksa masuk untuk bertemu Dad di kamar. Aku tak tahu karena Mom sendiri yang masuk ke sana dan membawa Lily keluar dengan dahi berlumuran darah. Kata Mom, Dad mendorong Lily yang marah ingin digendong Dad sampai terbentur tembok. Apa Lily sempat menunjukkan kemampuan sihirnya saat itu, Mom? Aku ingat, Dad pernah bercerita jika aku dan James pernah memecahkan kaca dengan kekampuan sihir kami karena aku dan James saling bertengkar. Padahal kami masih berusia tak lebih dari lima tahun. Lily tak pernah mendapatkan kecelakaan sihir akibat dirinya sendiri. Selama ini Lily tak pernah didapati menunjukkan kemampuan selayaknya seorang penyihir di depan mata kami,"

Ya, ketakutan itulah yang selama ini menghantui Hermione setiap ia mengingat Lily. Ketakutan akibat kata-kata pria yang dulu menyebabkan Ginny harus meregang nyawa.

Suara James berteriak membuyarkan ketegangan di antara keduanya. Al kembali merilekskan badannya dan tersenyum pada Hermione. "Jika melihat keadaan Lily yang sangat akrab bahkan bisa merasakan sihir, begitupula ia adalah adik kandungku. Orang tua kami sama, tidak mungkin aku menyebut Lily Muggle. Kecuali—"

"Al, di mana saja, kau? Ah pagi, Mom. Aku boleh mengajak Al bersepeda?" James membawa jaket Al dan menunjukkannya pada Hermione. Ibu tiriya itu lantas mengangguk. "Pergilah! Tapi ingat, pulang saat jam sarapan. Mengerti?"

James berseru gembira dan melempar jaket Al pada adiknya itu. "Ambil sepedamu, aku tunggu di depan. Jangan lama-lama!" teriak James sekali lagi.

"Pergilah, Al. Nanti kau dimarahi James lagi,"

"Ya, Mom. Maaf kalau aku menggangu pekerjaanmu. Tolong ceritaku tadi jangan terlalu dipikirkan. Aku berusaha untuk berpikir positif terhadap Lily. Semoga dia baik-baik saja," kemudian Al mengecup pipi Hermione dan berpamitan keluar.

Punggung Al sudah menghilang di balik pintu. Jangan terlalu dipikirkan, tapi Hermione makin mengerti dan berpikir sangat dalam mengenai definisi masalah yang dialami Lily. Kalimat-kalimat itu kembali terngiang di telinganya.

'Ya, walaupun konsekuensi anak itu hidup tanpa memiliki apa yang sudah diserap oleh mantera yang membunuh ibunya sendiri. Kau pasti bisa menyimpulkan sendiri anak itu lahir seperti apa nanti,'

Begitupula menurut analisa Al.

'Orang tua kami sama, tidak mungkin aku menyebut Lily Muggle. Kecuali—'

Baju Lily yang belum sempat ia peras pun terjatuh ke tanah. Baju merah muda milik Lily yang baru saja ia cuci kembali kotor terkena noda. Penuh lumpur dan kerikil kecil yang menpel di permukaannya.

Baju itu kini lebih kotor daripada sebelum Hermione mencucinya tadi. "Tidak mungkin. Tidak mungkin.. Tidak mungkin Lily seorang.. squib!" dan ketakutan itu pun semakin nyata.

- TBC -


#

Wahhh... cukup dulu untuk chapter ini, ya. Tahan penasarannya.

Anne seneng banget support kalian semua. Anne jadi terharu. Semoga tahun ini Anne bisa coba deh ikut IFA 2015. Walaupun baru, Anne mau coba ikut berpartisipasi. Anne suka ikut-ikut, hehehe.. Terima kasih dukungannya! ^_^

Bagaimana nasib Lily selanjutnya? Apa benar tidak ada surat dari Hogwarts untuk Lily? Benarkah Lily squib?

Cari tahu jawabannya di chapter selanjutnya! Jangan lupa review, ya!

Thanks,

Anne x