Hi, everyone!

Anne telat update! Hehehe kemalaman, ya. Semoga nggak ada yang marah, hehehe.. Anne sudah siapkan chapter tiga ini sebagai lanjutan kisah kemarin. Agak panjang, semoga nggak bosen.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah review. Terima kasih untuk syarazeina, guest (entah kamu siapa), ninismsafitri, antinninta, afadh. Kalian luar biasa! ^_^ Semoga bisa terjawab pertanyaan kalian (mungkin sebagian dulu) dari chapter 3 ini. Oke, langsung saja, ya!

Happy reading!


Lily tampak gelisah. Ia memilih duduk diam di meja makan sambil menata piring dan menuang susu yang baru ia ambil dari lemari pendingin. Sejak bagun tadi, Lily terus berusaha mencari suratnya. "Suratku ada di mana, sih?" Hermione mendengar Lily terus bergumam pelan di sela-sela ia berusaha menemukan suratnya.

"Hei, kenapa diam saja, sayang? Kenapa tak bantu Mom di dapur? Nanti kau malah diganggu James dan Al, loh!" Harry memeluk tubuh Lily dan memeluknya. Namun tak ada respon dari Lily.

Muncul Hermione dari balik partisi dapur sambil membawa nampan berisi telur dan sosis goreng. Serta satu bungkus besar roti tawar yang belum dibuka segelnya. Ia lantas duduk dan ikut menenangkan gadis kecil itu. Hermione meraih satu tangan Lily dan mengusapnya pelan. Seperti saat ia pernah menenangkan Ginny tiap kali sahabatnya ia merasa sedih.

"Kita akan cari tahu di mana suratnya, sayang. Kalau perlu nanti Mom coba tanyakan ke Prof. McGonagall. Pasti ada kesalahan di Hogwarts," kata Hermione yakin.

Harry makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lily. "Tuh, Mom bilang apa. Nanti Dad juga akan minta bantuan teman-teman Auror Dad untuk ikut mencari surat Lily. Biar cepat ketemu," ujarnya menggoda.

"Daddy!" wajah Lily langsung cemberut.

Hermione memilih untuk melanjutkan acara memasaknya. Membiarkan Harry dan Lily memiliki waktu mereka berdua saja, saling bergurau dan bercerita satu sama lain. Dialog ayah dan anak perempuannya memang menyenangkan. Seperti Harry dan Lily sekarang.

Tawa mereka pagi ini kembali dibuat karena ulah Lily. Bagi Harry dan Hermione, Lily adalah puteri kecil mereka. Bentuk sikap manja Lily tetaplah cerminan betapa ia adalah anak bungsu yang selalu ingin dekat dengan orang-orang yang dicintainya. Apalagi dengan Harry, Lily paling tidak bisa lepas dengan sang ayah. Begitu juga Harry. Rasa sayangnya sangat besar pada Lily, tumbuh semakin besar saat ia kembali mengingat betapa bodohnya ia pernah menyia-nyiakan Lily hingga dua tahun.

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Nanti gosong sosisnya. Kalau Lily nggak mau makan bagaimana?"

Harry sudah berada di dapur tanpa sempat Hermione menyadarinya. Pantas, Lily sudah sibuk bercanda dengan kedua kakaknya di luar, suara Harry sudah hilang.

"Tidak, hanya mengingat masa lalu," Hermione mematikan kompornya. Berbalik dan menatap wajah Harry penuh kekaguman. "Kau sudah berubah jauh lebih baik, Harry. Inilah kamu yang sebenarnya,"

"Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan kepada anak-anak. Khususnya Lily. Aku sangat menyesal—"

Atmosfer dapur terasa hangat saat Harry mengatakan apa kesalahan yang pernah ia perbuat kepada James, Al, Lily, begitu juga terhadap mendiang Ginny. Harry menitikkan air matanya. Sang kepala Auror pun bisa merasakan betapa lemahnya ia jika menyangkut keluarganya. "Aku tak tahu akan jadi apa aku dan mereka jika kau tak ada, Mione," kata Harry lirih.

Jemari Hermione dengan lembut menghapus aliran air mata yang membasahi pipi Harry. "Tindakanmu dulu memang salah, Harry. Tapi itu masih bisa aku maklumi karena.. itu menandakan kau memang benar-benar mencintai Ginny—"

"Hermione," potong Harry cepat-cepat. Ia menurunkan tangan Hermione dari wajahnya dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku kalau—"

"Tak perlu, Harry. Kau tak boleh melupakan Ginny. Sampai kapanpun. Aku akan berusaha agar Ginny tetap bahagia melihat kau dan anak-anak hidup dengan kesedihan yang dalam. Mencintai kalian seolah Ginny benar ada di sini,"

Lebih tepatnya mencintai Harry dengan tulus, itu yang dilakukan Hermione. Sejak dari rasa simpatinya untuk Harry dan ketiga anaknya, Hermione rela melakukan apapun demi memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecil itu. Memberikan rasa cinta pada Harry yang telah kehilangan cinta sejatinya. Kehilangan yang menyakitkan. Membuat Harry gila bahkan sulit memikirkan hal-hal realistis.

Membuat hidupnya seolah hancur, tidak punya semangat hidup bahkan melupakan ketiga buah hatinya selama hampir dua tahun, sejak kematian Ginny. Membenci Kementerian, membenci dunia luar, membenci keluarganya, sahabatnya, bahkan anaknya sendiri. Ya, Harry pernah sangat membenci Lily. Bertahun-tahun ia tak menganggap gadis kecil itu pernah ada.

"Aku ayah yang buruk, Hermione,"


"Aunty, tolong ke rumah. Lily menangis di dalam kamar Daddy. Kami tak bisa masuk, kamarnya dikunci,"

Suara James bergetar ketika pagi itu Hermione menerima telepon dari James. Anak tertua Harry mengatakan jika adiknya yang berusia dua tahun nekat masuk ke kamar orang tuanya karena ingin bertemu ayahnya, Harry.

Panik, Hermione mengambil bubuk floo dan menghilang di perapian rumahnya. Tujuannya kini adalah cepat sampai ke rumah Harry dan mengetahu hal gila apa yang 'lagi-lagi' Harry lakukan di sana.

"Kreacher, bagaimana Harry?" tanya Hermione sesampainya di ruang keluarga rumah Harry. Di sana sudah ada Kreacher yang menjaga James dan Al agar tak ikut masuk ke kamar Harry. Hermione memeluk kedua anak laki-laki. "Kalian tenang, ya. Aunty akan coba membawa Lily keluar,"

Al yang menangis ketakutan memeluk erat tubuh Hermione seolah tak ingin ia lepaskan. "Kami ingin Daddy seperti dulu. Daddy tak sayang kami. Daddy sudah menyakiti Lily." Kata Al sambil terus sesenggukan.

"Daddy hanya terus memanggil Mom sepanjang hari, tanpa pernah memanggil kami.. apalagi memeluk kami," lanjut James meluapkan segala ketakutannya.

Wanita bersurai gelombang itu harus berbuat sesuatu. Keadaan Harry yang depresi berat karena ditinggal Ginny butuh mendapat penanganan khusus. "Harry butuh disadarkan dengan realita. Harry tidak butuh rumah sakit! Harry hanya butuh dirinya yang sebenarnya!" Hermione terus menyemangati dirinya tanpa mempedulikan apa yang bisa ia terima jika Harry tak suka kehadirannya di sana.

Kamar Harry porak poranda. Ranjang terbalik. Selimut tergelar di lantai. Beberapa kertas file terbakar sampai pigura dari foto-foto keluarga hancur berserakan di lantai. Di sanalah Lily tergeletak di dekat pecahan kaca. Kepala Lily berlumuran darah. Lengan mungilnya tertancap beberapa beling. Tumitnya lecet penuh luka.

"Sayang, ayo ikut Aunty, ya. Biar Kreacher obati Lily. Kita keluar dulu, Daddy masih ngantuk, sayang," dengan berurai air mata, Hermione menggendong Lily yang berlumuran darah keluar dari kamar Harry. Lily meronta ingin tetap bertemu Harry.

Tapi itu tidak mungkin. Lily bisa mati ditangan ayahnya sendiri.

Setelah Lily aman dengan Kreacher yang mengobati luka-lukanya, Hermione bersiap memberikan terapinya sendiri untuk pria itu. "Harry harus kembali seperti dulu lagi,"

Harry Potter, pria yang selalu menjaga penampilan sederhananya, berubah 180 derajat karena kehilangan istri tercintanya. Selama hampir dua tahun, Harry mengurung diri di kamar. Menangis sendiri mencari sosok istrinya di sana. Merasa istrinya masih hidup dan akan kembali di sisinya.

"Harry," panggil Hermione pada sosok kurus kusam yang duduk meringkuk di sudut kamar. ia tak merespon panggilan Hermione dan terus menatap jendela.

Tak kuasa menahan emosinya, Hermione menarik paksa pundak Harry dan membalikkan badan pria itu agar menatapnya. Mengerikan. Itu yang terlintas di pikiran Hermione ketika melihat wajah Harry.

Harry tidak terurus. Badannya semakin kurus dengan jengget tebal tumbuh di wajahnya. Rambutnya panjang dan lengket. Selama hampir dua tahun, hanya beberapa kali Ron dan Hermione bisa mencukur dan membersihkan tubuh Harry. Itu juga dengan bantuan mantera.

"Gi—nny," hanya nama itu yang terus keluar dari mulut Harry sepanjang tahun. Ia seolah puasa berbicara dan hanya menyebut nama Ginny, seolah nama itu bisa membantunya terus hidup.

"Harry, sadar! Ini aku. Ginny sudah meninggal. Sadar, James, Al, dan Lily.. membutuhkanmu. Mereka butuh ayahnya! Kasihan Lily, Harry. Apa yang sudah kau perbuat padanya tadi, hah? Kau hampir membunuhnya!"

Mata Hermione menangkap tongkat Harry yang terus dipegangnya erat. Lily pasti jatuh karena serangan Harry dengan tongkatnya. Tak mungkin Lily sampai berlumuran darah jika gadis itu tak dibanting atau dilempar dengan mantera sampai menghantam tembok.

Seluruh rasa sedih, kasihan, marah berkumpul di sistem syaraf Hermione karena melihat keadaan Harry yang tak kunjung membaik. Lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawan seseorang begitu saja. Menjadi gila jauh lebih menyiksa.

"Ginny.. Ginny.. Ginny.. Ginn—"

Bukk! Satu pukulan telak Hermione berikan tepat di wajah Harry. Lima kali lebih kuat daripada saat ia memukul wajah Draco saat sekolah dulu. Badan lemas Harry terlempar ke lantai. Tongkatnya terlepas dan Hermione siap mengambil alih tongkatnya. "Sakit, kan? itu yang anak-anak rasakan. Bahkan mereka merasakan yang lebih parah selama dua tahun ini," kata Hermione emosional.

"Sadar, Harry! Masa depanmu masih panjang! Kamu harus hidup. Tim Aurormu membutuhkan pemimpinnya segera. Anak-anak, membutuhkan ayah yang bisa melindunginya,"

Mendengar itu, Harry mulai bangkit. Wajahnya lebam di sekitar hidung. Ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Wajah Harry makin buruk tanpa kacamata –yang pecah akibat pukulan Hermione— dan tulang hidung patah.

Harry menangis sambil meraung. Memukuli badannya sendiri tanpa kembali memanggil nama Ginny untuk kesekian kalinya. Hermione tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh. "Aku mohon Harry, semua orang menyayangimu. Ginny tak pernah mau melihat kau menyianyiakan James, Al, dan Lily. Semuanya! Ia ingin kau semakin kuat saat ia pergi. Kau mendengarnya sendiri, kan, pesan itu sebelum ia pergi? Ginny selalu ada di hatimu, Harry. Dia sangat-amat-mencintaimu!"

Dan tiba-tiba Harry menghentikan tangisnya. Merubah posisinya menjadi sujud dan mencium lantai dengan menyisakan isakan pelan. "I love you, Harry," bisik Hermione ditelinga Harry. Kata-kata itu melncur keluar dari hati Hermione yang paling dalam. Hermione tak bisa menutupi perasaannya lagi terhadap Harry.

Harry menatap Hermione lekat. Matanya berusaha bekerja dengan memicing kecil untuk melihat wajah wanita itu dengan jelas. Tanpa kacamata, bagi Harry itu tak mungkin. "Ahh aku tahu," Hermione meraih kacamata Harry yang retak di bagian lensa bawahnya. Tak masalah, ia lantas memasangkan pada telinga dan menempatkan kedua lensanya tepat di depan mata Harry.

Tongkat Hermione mengacung pas di ujung hidung Harry.

"Apa kau masih mengingat ini? Oculus reparo!"

Buss cplakk! Kacamata Harry kembali utuh dan bersih. Mantera pertama yang digunakan Hermione untuk kacamata Harry, untuk Harry, di hari pertama mereka bertemu. Untuk pertama kalinya pula dalam dua tahun, Harry kembali tersenyum lantas berkata, "Hermione," dengan jelas.

"Ma-maafkan a-aku," lanjutnya terbata.


"Dan kau sadar karena dirimu sendiri,"

Hermione mengalungkan kedua tangannya di leher Harry. "Tidak jika kau tak ikut membantuku mengenal diriku kembali. Aku beruntung memilikimu, Hermione," ujar Harry.

Dulu, keluarga Weasley menyarankan agar Harry dan Hermione menikah. Mereka menganggap Hermione adalah wanita yang tepat untuk menemani Harry dan anak-anaknya. Hanya Hermione yang memahami Harry bahkan jauh sejak mereka masih anak-anak.

Terutama Molly, ia sangat setuju jika Hermionelah yang menggantikan posisi puterinya di sisi Harry. "Maaf jika dulu kau selalu tak nyaman di awal pernikahan kita. Aku benar-benar masih merasakan kesedihan lamaku. Aku hanya berusaha untuk mencoba mencintaimu lebih dari sebatas sahabat. Dan.. selama hampir tiga tahun kita menikah, aku tak kunjung merasakan itu,"

Hermione hanya diam. Mendengarkan terus apa yang ingin Harry ungkapkan kepadanya. Hermione tahu, bahwa Harry menikahi Hermione hanya karena memikirkan masa depan anak-anaknya yang tak memiliki sosok ibu. Tanpa cinta.

Tiba-tiba Harry tersenyum, "tapi aku salah, aku memang mencintaimu. Entah sejak kapan, tapi aku merasa.. Ginny memilihkan orang yang tepat untuk menjagaku dan anak-anak. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu, Hermione. Sangat amat mencintaimu!"

"Me too, Harry! Terima kasih,"


Sarapan pagi itu selesai tanpa menyisakan sedikitpun sosis ataupun roti. Hari ini James maupun Al luar biasa kelaparan selepas bersepeda pagi. "Kalian seperti tak pernah makan satu bulan," goda Harry di sela-sela mengacak-acak rambut James.

"James yang gila, Dad. Aku kira dia mengajak keliling satu blok saja. Ehh.. satu kompleks perumahan ini! Hampir lepas jantungku!" Al protes.

"Mangkanya, kalau pemanasan sebelum bermain Quidditch harus yang benar. Dad tahu, pertandingan terakhir Al kemarin aku lihat ia tak berlatih serius. Mungkin hanya kebetulan snitch itu mau mendekatinya dan Slytherin menang—"

Al dan James kembali adu argumen dan terus berdebat di depan ayahnya. Kepala Harry menggeleng tak bisa banyak berkomentar. Dua putranya itu memang hobi sekali bertengkar. Untung saja, masih dalam taraf (tidak) brutal. Harry menyadari ada yang ganjil di sana.

Bukan pertengkaran dua anak laki-laki itu, tapi..

"Lily mana, ya?"

Sontak perdebatan James dan Al berhenti saat Harry menanyakan keberadaan Lily. Ya, Lily tak ada di ruang makan. Hermione keluar dapur dan ikut bergabung dengan ketiga laki-laki itu. "Bukannya Lily tadi ikut Mom, ya?" kata James namun Hermione menggeleng pelan. Tidak.

"Aku coba cari Lily dulu," Harry bangkit dari kursinya. Berjalan keluar menuju ruang keluarga, namun sempat di tahan oleh tangan Hermione. "Bicara pelan-pelan," bisik Hermione.

Harry mengangguk paham.

Di ruang keluarga, Lily duduk sendiri. Menatap perapian yang tidak menyala sambil memeluk bantal sofa besar kesukaannya. Bukan masalah ia sedang ingin sendiri atau ketakutan, Lily merasa ia sedang dipermainkan. Apa yang selama ini Lily tunggu, selalu ia dan Hugo bicarakan tentang asrama mana mereka akan masuk nanti, tidak kunjung mendapatkan kepastian.

Menantikan sesuatu yang tidak ada, itu yang paling menakutkan.

"Lily—"

"Dad, masih tak ada. Tidak ada surat untuk Lily," ujar Lily. Telunjuknya mengarah pada tumpukan surat-surat yang baru ia ambil dari kotak surat di depan rumah. Bahkan dari jalur Muggle pun surat dari Hogwarts tidak ada.

"Tadi, Dad sudah kirim surat untuk Profesor McGonagall perihal masalah ini. Sabarlah, kita tunggu balasannya. Dad akan berusaha menyelesaikan masalah ini,"

Hanya bisa mengangguk pasrah yang Lily lakukan kini. Ia tak bisa melakukan apa-apa. Ayahnya bahkan harus menghubungi Hogwarts langsung agar cepat mengetahui masalah ini. Harry meraih tubuh Lily ke pelukannya. Menenangkan dengan cara lembut seorang ayah. Membisikkan kata-kata penyemangat agar mental Lily tak jatuh.

"Semuanya akan baik-baik saja, sayang,"

Beberapa menit kemudian Hermione datang bersama kedua putra tirinya. Al tampak membawa sepucuk perkamen yang terikat pita merah. Anak laki-laki itu mendekat ke Harry dan menyerahkan surat balasan dari Hogwarts. Ya, sebentar lagi semua kegelisahan Lily terjawab.

"Hedwig kembali, Dad. Dan dia membawa ini," kata Al menyerahkan perkamen itu.

Harry memilih memisahkan diri sementara dari Lily dan membiarkan Hermione yang menggantikan posisinya di sisi Lily. Ia duduk di kursi tunggal favoritnya. Pita merah yang mengikat perkamen itu ditarik pelan. Mudah sekali melepasnya.

Kepada, Mr. Harry J. Potter

Selama bertahun-tahun, pendataan untuk siswa baru Hogwarts tidak mengalami gangguan. Begitupula pada tahun ajaran baru ini. Semua calon siswa terdaftar bahkan sejak lahir dan akan dikirim surat panggilan resmi bersekolah tepat di usia yang ke sebelas. Secara langsung tanpa menundanya. Akan banyak akses digunakan untuk menyiasati jika surat panggilan tidak sampai.

Harry menghentikan sebentar membaca surat balasan itu. "Tidak ada yang salah, lalu apa?" batinnya semakin takut untuk melanjutkan membaca.

Mengenai nama Lily Luna Potter, dengan penuh rasa hormat, saya informasikan, nama tersebut tidak tercantum dalam daftar murni siswa yang akan menjalani tahun ajaran baru Hogwarts kali ini. Bahkan seluruh data di tahun-tahun mendatang—

"Tidak ada namaku, kan? Cukup Dad, hentikan," Lily menutup wajahnya dengan bantal dan menangis.

Hermione melihat ekspresi Harry yang memang berubah tak mengenakkan. Ada yang tidak beres dengan isi surat itu. "Apa benar, Harry?" tanya Hermione memastikan.

Tangan Harry menggulung kembali perkamen yang selesai ia baca. Menyerahkan Hermione sambil menggerakkan kepala seolah berkata, "benar,"

Hogwarts tidak memiliki nama Lily sebagai calon siswanya. Data itu benar-benar ada bahkan dalam surat itu Minerva menyarankan agar Harry mendatangi Hogwarts langsung untuk lebih meastikan jika nama putrinya memang tidak terdaftar di sana.

Hermine membaca isi perkamen lantas menutup mulutnya tak percaya. "Berarti Lily bukan anak Dad—"

"Lily! Jaga bicaramu! Apa kamu lupa jika darah Dad positif sama denganmu? Bahkan dengan tes ilmu Muggle!" suara Harry meninggi. Lily baru saja meragukan keabsahan status keluarganya.

Sementara itu, James tiba-tiba memekik cukup keras sambil berkata, "kau benar, Al. Lily memang kemungkinan seorang squib!" ujar James lantas mendapat sikutan pelan Al.

"Apa? Squib?" Harry terkejut bukan main. Kata itu jarag sekali ia dengar. Namun Harry tak lupa apa maknanya yang pernah Ron beritahu ketika ia masih kecil.

Al mendelik, "aku sudah beritahu, kan, jangan katakan di depan semua orang!" bisiknya.

"Squib? Aku seorang squib?" Lily mengangkat wajahnya dan menatap kedua kakaknya penuh tanya. "Apa itu?" ulangnya.

"Ahh—"

"Biar James yang mengatakannya, Mom," Lily menjeda penjelasan Hermione tiba-tiba, "lanjutkan, James!"

Harry menunduk. Tidak mau menerima permohonan dari James agar ia berhenti menjelaskan pada Lily. Hermione cukup mengangguk dan menutup matanya rapat. Ia tidak tega melihat ekspresi apa yang nantinya Lily tunjukkan.

James menarik napasnya pelan. Lantas berkata, "berbeda dengan Muggle, istilah squib diberikan untuk mereka yang lahir dari keluarga penyihir namun," suara James memelan, dan hilang. Ia menatap semua orang yang tidak ada yang berani menatapnya kecuali Lily. Gadis itu terus menuntut James melanjutkan penjelasannya hanya dari tatapan matanya yang tajam.

"Squib memiliki darah penyihir, tapi ia tidak mempunyai kekuatan sihir, layaknya Muggle,"

Bak diguyur air es tepat di kepalanya, Lily mematung tak percaya. Sedikit banyak ia menyadari itu. sejak kecil ia tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh seperti melayang, memecahkan sesuatu tanpa menyentuhnya atau hal-hal aneh lainnya. Ia tidak seperti kedua kakaknya yang suka menunjukkan kekuatan sihir mereka walaupun tidak sengaja.

"Jadi ini rupanya. Aku seorang squib—"

"Tidak, Lily. Pasti ada kesalahan. Kau—"

"Tidak Mom, aku sudah merasakan itu sejak lama, tapi aku kira itu hanya butuh waktu. Dan.. aku memang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa aku ini penyihir. Tak pernah sekalipun,"

Tubuh Lily lemas. Ia mendapati kenyataan lebih parah daripada ia ditunda untuk pergi ke Hogwarts. Diterima saja tidak apalagi berangkat. Untuk apa juga ia bersekolah di Hogwarts jika memang ia tidak memiliki kemampuan sihir. Tidak ada yang bisa dilatih.

Hermione membalik tubuh Lily agar menghadapnya. "Kita tidak bisa memastikan begitu saja kalau kau tidak penyihir, Lily. Harus ada yang buktinya," bantah Hermione masih tak terima.

"Ada yang harus kita lakukan untuk mengetes kemampuan sihir Lily," kata Harry menyela. "Kita harus membuat kemampuan sihir Lily keluar. Tapi dengan apa?" lanjutnya.

Semua bungkam, berpikir dengan cara apa mereka menguji kebenaran apakah Lily benar-benar squib. Sampai akhirnya Al bersuara, "tongkat sihir," katanya pelan.

"Tongkat sihir?" ulang James.

"Benar, tongkat sihir hanya bisa digunakan oleh pemiliknya dan juga penyihir lain. Kita coba dengan itu,"

Namun, diantara semuanya, hanya ada tongkat Harry yang tergeletak di atas meja seperti merayu untuk digunakan. Tanpa ragu lagi, Hermione meraih tongkat itu dan menyerahkannya pada Lily.

"Hermione, kau tak bercanda, kan?" tanya Harry melihat tongkatnya yang jadi bahan percobaan pertama untuk Lily.

James dan Al bahkan sampai terkejut dengan keputusan Hermione memilih tongkat itu untuk Lily. Pasalnya, tidak hanya James dan Al saja, bahkan Hermione dilarang untuk menggunakan tongkat Harry karena tongkat Harry tak lagi tongkat biasa. Sejak tongkat itu kembali utuh dengan bantuan tongkat Elder, tongkat milik Harry semakin sensitif jika digunakan oleh orang lain selain pemiliknya, Harry sendiri.

"Lebih baik rumah ini hancur daripada Lily tidak mencobanya sama sekali. Ayo, coba ayunkan tongkat Dad, sayang!" pinta Hermione penuh pengharapan.

Lily terus menggeleng tak yakin. Takut segalanya akan semakin parah. "Bukankah Lily ingin sekali menggunakan tongkat sihir?" yakin Hermione sekali lagi.

Pelan-pelan, Lily mengarahkan tongkat Harry pada vas bunga di dekat perapian. Dan.. diayunlah tongkat itu tapi.. tak ada perubahan. "Ini tak bekerja," kata Lily.

"Baiklah coba punya, Mom. Mungkin tongkat Dad terlalu kuat," Hermione bergegas mengambil tongkatnya dan menyerahkannya pada Lily. Sekali lagi Lily mencoba, tapi hasilnya tetap sama. Tidak bekerja.

"Mungkin tongkat Al, kita co—"

"Cukup, Mom. Aku memang bukan penyihir. Benar-benar bukan penyihir. AKU SQUIB!"

Lily langsung berlari memisahkan dari dari anggota keluarga yang lain. Mengunci kamarnya dan meratapi nasibnya kini. Lily positif seorang squib.

"Lily, kembali, nak!" cegah Harry tapi terlambat. Lily sudah menutup pintu kamarnya di lantai dua.

"Biar aku saja yang menyusulnya, Harry,"

Sentuhan mantera Hermione berikan pada gagang pintu kamar Lily yang terkunci. "Alohomora!" dan pintu itu terbuka. Di dalam Lily meringkuk di atas kasur sambil terus menangis dan memukul-mukul ranjangnya. Meluapkan emosinya selama beberapa hari ini karena menunggu surat impiannya.

"Lily—"

"Aku squib. Aku aib keluarga Potter. Aku bahkan tak bisa menginjakkan kaki di Hogwarts seperti kalian semua!" kata Lily ditengah tangisnya. "Aku tak akan pernah memiliki seragam salah satu asramanya, aku tak pernah belajar terbang dengan sapu, apalagi memilih tongkat untuk aku gunakan seumur hidup!" katanya. Lily bangkit dan duduk menghadap Hermione. Wajahnya memerah menahan amarah.

Hermione tak jauh berbeda. Wajahnya telah basah dengan air mata. "Seorang Lily Luna Potter akan tetap seperti ini tanpa tongkat sihir dan mantera-mantera yang tak pernah bisa diucapkannya. Seumur hidupnya," kata-kata Lily penuh rasa sakit. Luar biasa sakit.

"Kalau seperti ini—" Hermione mengambil tongkatnya dari balik cardigan panjang yang dikenakannya. Memegang setiap ujung tongkatnya dengan masing-masing tangan. Menggenggamnya erat tepat di hadapan Lily. Dan..

"No, Mom. Hentikan!" Klakk! Dan tongkat itupun patah jadi dua. "Mom!" pekik Lily tak percaya. Ibunya itu sudah gila.

"Sekarang kita sama, sayang. Mom tak punya lagi tongkat sihir,"

Dari arah pintu, Harry, James, dan Al menatap keputusan Hermione mematahkan tongkatnya dengan pandangan tak percaya. Wanita itu rela membuat dirinya kehilangan sesuatu yang menjadi bagian penting dari diri seorang penyihir hilang. Bagi penyihir tongkat adalah segalanya.

"Tidak, Mom. Kenapa Mom lakukan ini, aku—"

"Lebih baik Mom kehilangan tongkat daripada melihatmu terus merasa berbeda. Paling tidak, kita sama-sama sekarang. Mom dan Lily tidak memiliki tongkat sihir," Hermione tersenyum dibalik tangisnya. Miris sekali.

"Maafkan aku. Maafkan Lily!"

Dan mulai hari ini, semuanya akan terasa berbeda.

- TBC -


#

Hem.. Semuanya adalah imajinasi Anne. Misalnya seperti masalah tongkat sihir yang apa bisa digunakan oleh orang lain non-magic dan masalah lainnya, Anne hanya mencoba menyesuaikan dengan cerita ini. Baiklah teman-teman, karena sudah kemalaman, Anne undur diri dulu. Anne masih tunggu review kalian, loh.

Tetap nantikan kisah ini sampai selesai, ya. Chapter selanjutnya, Hermione semakin merasa bersalah pada Lily dan Harry. Mengapa? Lalu bagaimana Hermione menyikapi semua ini?

Tunggu chapter 4nya, ya! :)

Thanks,

Anne x