Hai, everyone!
Anne muncul lagi, nih. Lagi-lagi telat sehari. Maaf, kemarin Anne nggak bisa bangun soalnya... tahu, lah, biasa urusan cewek. Perut sakit banget. Jadi nggak bisa selesaikan tulisan. Tapi.. Anne sudah siapkan ini untuk kalian.
Ninismsafitri: huhuhu.. iya. aku awal ngebayangin ceritanya Hermione sampai aku realisasikan nangis beneran. Agak lebay ya, tapi Anne berhasil buat ceritanya begitu.. thanks, Ninis :)
Syarazeina:Hehehe maaf, ya. Ini telat lagi. *bungkukin badan* Nah, nggak selamanya ibu tiri jahat, kan? Thanks :)
Afadh: yukk lanjut lagi, thanks :)
Agatha Gabriella Saputra: Waw, masih kelas 9, ya! *jadi merasa tua* jawabannya, ya. Ginny melahirkan setelah ngelahirin Lily. Kan ada insiden itu. Mungkin Nanti di chapter mendatang lebih jelas bagaimana Ginny meninggalnya. Thanks, Gabriella! :)
MerisChintya97: Hi, Meris! Just call me Anne. Nice to meet u too! Thanks a lot :)
Langsung saja, yuk, soalnya kemalaman lagi :)
Happy reading!
Setelah hari di mana Lily diketahui benar-benar seorang squib, hanya jeda satu hari saja, seluruh keluarga Weasley-Granger mengetahui segalanya. Semua keluarga terkejut bukan main. Terutama Hugo. Ia sangat sedih mengingat Lily dan dirinya begitu tak sabar berangkat ke Hogwarts, namun setelah semua mengetahuinya, Hugo akan pergi sendiri di tahun pertamanya nanti. Tidak akan ada kenangan melihat Lily di seleksi, melihat apakah tebakan mereka masuk di asrama Gryffindor itu benar. Semua tidak akan pernah terjadi. Hugo dilanda rasa sedih yang mendalam.
Harry meminta untuk siapapun sementara waktu tidak membicarakan masalah diri Lily pada khalayak ramai. Walaupun memang itu pekerjaan yang sulit mengingat apapun yang dilakukan seorang Harry Potter akan jadi berita besar di Daily Prophet. Apalagi masalah besar seperti ini.
Pencegahan lebih utama. Apalagi mencegah para pewarta Daily Prophet serta majalah-majalah gosip sihir lainnya mengendus tentang masalah ini. Oleh sebab itu, Harry sering memberikan penjagaan di sekitar rumahnya agar tidak sembarangan dimasuki oleh penyihir. Bahkan karena terlalu protektifnya, Harry tidak jarang memasang anti-Apparation di rumahnya sendiri.
Surat panggilan ajaran baru bagi James dan Al tiba pagi ini. Lily tidak berkomentar saat James membacakan buku apa saja yang harus ia dapatkan sebelum kembali ke Hogwarts nanti. Padahal, biasanya Lily terus bertanya ini itu mengenai apa saja pelajaran yang diajarkan dengan buku-buku pelajaran sihirnya.
Al, yang duduk di depan Lily mendesah lemah sambil terus mengaduk-aduk supnya. Ia tak tega terus melihat adiknya seperti itu. Lily sempat melihat Al, menatapnya singkat lantas kembali menunduk. Mata Lily bengkak, Al yakin Lily kembali menangis semalaman. Sama seperti sebulan yang lalu saat Lily tahu dirinya seorang squib.
"Kita akan cari perlengkapan sekolah kalian setelah sarapan ke Diagon Alley. Semuanya ikut seperti biasa, kan?" tanya Harry namun tak ada yang berani menjawab. Entah takut, atau tidak enak hanya untuk menjaga perasaan Lily. Tidak jelas sama sekali.
Suasana sarapan pagi ini semakin kaku saja, Hermione paling tidak suka jika semuanya semuanya memberi jarak dengan Lily. "Tidak, aku dan Lily akan di rumah saja. Kami berdua punya kepentingan lain. Urusan perempuan. Kalian bertiga berangkatlah. Jangan lupa, seperti biasanya, nanti pulang bawakan es krim kesukaan Mom dan Lily—"
"Aku tak mau es krim," potong Lily lantas beranjak dari kursinya. "Aku sudah kenyang.. aku sedikit tak enak badan," dan ia bergegas naik ke lantai dua.
Harry tampak mengurut pelan bekas lukanya. Ia sedih memikirkan masa depan putrinya akan hancur jika tetap bersentuhan dengan dunia sihir dengan keadaan seperti itu. Hermione benar, beberapa hari lalu ia merundingkan masalah Lily untuk pelan-pelan dijauhkan dengan segala hal yang berhubungan dengan sihir.
"Apa ini baik? Sejak kecil ia bahkan jauh lebih akrab dengan sihir daripada teknologi, Mione. Dan kita sekarang memasukkan dia ke sekolah teknologi?" Harry menutup bukunya. Sebelum pembicaraan keduanya semakin serius, Harry sudah bersiap memasang mantera di sekeliling kamar. Untuk jaga-jaga, agar tidak ada satu orangpun dari luar yang mendengar keduanya merencanakan sesuatu untuk Lily.
Dahi Hermione berkerut. "Lalu bagaimana? Ini hanya sementara, Harry. Kita akan membuat Lily lebih nyaman dengan lingkungannya. Terbiasa dengan orang-orang yang akan dekat dengannya nanti. Lily anak yang pintar, Harry. Kau lihat sendiri saat ia seleksi masuk kemarin, hasilnya sangat.. amat sangat memuaskan. Dan menurut Mom dan Dad, ANS Technology School itu adalah salah satu secondary school terbaik di Inggris. Tidak sembarangan anak-anak bisa masuk ke sana,"
"Tapi, kita saja menghabiskan masa-masa secondary school kita di Hogwarts. Bagaimana mau memantau sekolah Lily kalau kita tak punya pengalaman? Sedangkan aku saja hanya sampai primary scho—"
"Aku pun begitu, Harry. Jadi jangan merasa paling takut karena kita sama saja, tapi aku yakin kita bisa membimbing Lily. Kita harus terus memberikan pengertian bahwa Lily masih kita terima meskipun berbeda. Pelan-pelan.. aku yakin ini jalan yang terbaik," kata Hermione berhasil membuat Harry tenang.
Harry dan kedua puteranya memilih menggunakan mobil menuju Leaky Cauldron. Selain untuk menikmati suasana kota, Harry berniat untuk menemui Neville juga. Sementara Hermione tetap berada di rumah menemani Lily. Gadis berambut merah khas Weasley menemui puncak kegelisahannya. Esok tanggal 1 September dan ia benar-benar tak akan berangkat ke Hogwarts.
Seisi kamarnya jadi saksi, betapa Lily membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya tenang. Lepas dari segala ketakutan menjadi berbeda. Ia akan jadi bahan gunjingan seluruh penyihir. "Aku menjijikan seperti sampah. Aku tak berguna! Aku akan membuat Dad malu memiliki anak seperti ini. Aku—"
"Tidak ada orang tua yang malu memiliki seorang anak sepertimu, Lily!"
Hermione membuka kamar Lily dengan mudah. Meski tanpa tongkat, ia pun bisa melakukannya. "Hampir seharian kau di kamar. Keluar, yuk. Kita bicara di luar. Ada yang ingin Mom tunjukkan untukmu," pinta Hermione.
"Aku tak mau, Mom. Aku ingin sendiri—"
"Lily ingin lebih tahu tentang Mommy Ginny, kan?"
Dan Lily sukes terdiam. Ia menatap mata Hermione mencari kebohongan di dalamnya. Lily tak mau terus dirayu dengan apapun, meskipun dengan iming-iming menyebut nama ibu kandungnya.
Lily membetulkan posisinya di ranjang menjadi duduk. "Maksud, Mom?" tanyanya.
"Ikut Mom sekarang!"
Keduanya menuju lantai bawah. Sepi, ya, karena Harry, James, dan Al sedang ke Diagon Alley. Hanya ada Hermione dan Lily saja di rumah. Untuk alasan Hermione tentang 'urusan perempuan', sepenuhnya tidak benar.
Hermione mengajak Lily ke ruang tengah. Awalnya Lily kebingungan dengan apa yang sebenarnya Hermione ingin jelaskan padanya. Ingin menunjukkan apa? "Apa itu, Mom?" tanya Lily saat Hermione mengeluarkan sebuah gulungan kertas usang yang terikat tali hitam dari dalam laci lemari kaca.
Sembari menunggu Hermione menunjukkan apa yang ia ambil, Lily menarik kursi kecil di bawah meja tinggi yang selalu tertutup kain hitam. "Poster!" seru Hermione.
Lily menerima gulungan itu dan membukanya perlahan. Poster seorang wanita sedang terbang di atas sapu. Wanita dalam poster itu bergerak-gerak melayang dan sesekali menatap ke wajah siapapun yang melihat. Lily tersenyum, ia teringat Ginny.
"Mommy Ginny sangat mengidolakan Gwenong Jones. Ia bilang dulu Gwenong adalah idolanya. Mommy Ginny ingin sekali seperti Gwenong. Katanya, Gwenong seperti pahlawan wanita yang hebat. Kuat. Dan dengan semangatnya terus berlatih sejak kecil bersama Daddy dan uncle-unclemu, Mom bisa masuk Holyhead Harpies dan menjadi pemain yang hebat di sana. Kau tahu, sayang, bahkan saat ia mengandungmu, Mom tetap nekat bertanding sampai Dad tak tega melihat Mom melayang-layang dengan kecepatan penuh,"
Mereka jadi tertawa bersama. Lily baru tahu juga jika dulu Hermione sampai rela naik sapu terbang demi menuruti ngidam Ginny. "Lalu Mom mau?" tanya Lily.
"Mau bagaimana lagi. Ya, Mom pelan-pelan saja terbang. Kau sendiri tahu, sayang, kalau Mom—"
"Tidak suka terbang! Mom payah!" goda Lily pada Hermione. Akhirnya Lily tertawa juga, batin Hermione senang meski harus rela membuka semua kenangan memalukannya itu.
Tangan Hermione membelai rambut Lily. Semerbak wangi vanilla menguar dari rambut Lily yang tergerai. Wanginya seperti wangi Ginny semasa anak-anak. Mirip sekali. Selera Ginny dan Lily sama. "Maka dari itu, jadilah anak yang kuat seperti Mommy Ginny. Semangatlah di setiap apa yang Lily kerjakan. Tekuni apa yang menurut Lily kagumi dan buat menjadi nyata,"
"Tapi aku berbeda, Mom!"
"Bukan berbeda, tapi spesial. Lily anak yang spesial. Memang tak banyak orang yang lahir dengan darah penyihir tumbuh seperti Lily sekarang. Tapi merekalah yang terpilih. Karena mereka kuat. Mom yakin, Lily bisa menjadi hebat, tanpa sihir. Itu jauh lebih luar biasa, sayang. Di diri Lily sebagian tumbuh jiwa wanita kuat seperti Mommy. Buat Mommy Ginny di surga bangga dengan Lily sekarang. Tidak ada alasan untuk Lily malu menjadi diri Lily sendiri, "
Lily hanya bisa terdiam. Mencerna setiap kata-kata Hermione sembari terus melihat poster milik Ginny. Tiba-tiba, tanpa sengaja ia menjatuhkan poster itu dan disitulah baru ia ketahui jika poster yang ia bawa tidak hanya satu. "Kalau ini, poster siapa? Kenapa laki-laki semua? Apa mereka juga tim Quidditch? Tapi, kok, tampang mereka seram sekali?"
Hermione yang kembali sibuk mencari sesuatu di dalam laci berbalik dan penasaran dengan apa yang Lily tanyakan. "Poster laki-laki?" ulang Hermione memperjelas.
"Ya, ini," tunjuk Lily, "rambut mereka aneh, bukan? Apa ini juga punya Mommy?"
Delapan wajah pria menyapa Hermione dari poster itu. Hermione terngaga. "Itu dia," katanya pelan. Ia berdiri dan mendekat. Lily kembali mengulang pertanyaannya. Ia tidak yakin jika pria-pria di poster itu adalah pemain Quidditch. "Mereka lebih pantas jadi penjaga Azkaban, right?"
"Bukan, sayang. Bukan. Mereka adalah Weird Sisters!" kata Hermione. Ia mengeja satu-satu dengan jelas saat mengucapkan 'Weird Sisters'.
Ekspresi datar Lily tunjukkan. "Weird Sisters? Tapi mereka laki-laki, Mom. Siapa mereka?" Lily tidak tahu.
"Ahh benar juga, mereka tidak begitu terkenal di jaman ini. Begini, mereka adalah—"
Bukannya menjelaskan, Hermione kini berbagi duduk dengan Lily dan membuka kain yang menutupi meja tinggi di depannya. "Mom, kenapa dibuka? Nanti Dad marah, loh!"
"Dad tak akan marah. Karena ini punya Mom,"
Dan.. ta-ra! Sama sekali jauh dari ekspektasi Lily sejak ia kecil. Benda di balik kain gelap yang selama ini Lily kira sebagai meja tinggi ternyata adalah.. "piano?" dan Hermione mengangguk membenarkan.
"Dengarkan ini!"
Jari-jari Hermione di lemaskan sebelum kesepuluh jari itu menari lincah menekan-nekan tutsnya. Hermione memainkan satu lagu dengan tempo yang upbeat. Ketukannya cepat dengan tempo teratur. Lily begitu terpukau dengan permainan Hermione yang selama ini tak pernah ia ketahui bisa bermain piano.
"Wow!" kesan Lily selepas Hermione menyelesaikan permainnya.
Yang dipuji hanya bisa nyengir santai dan berkata, "sudah lama sekali aku tak bermain piano. Sekali main sudah ambil tempo begini. Kau tahu judulnya, sayang?" tanya Hermione tiba-tiba. Belum selesai terkejut, Lily kembali dibuat tak tahu apa-apa saat ditanya mengenai judul.
"Do the Hippogriff. Aslinya lebih rock daripada tadi. Mom mengaransemennya lebih pop," Hermione menutup kembali pianonya. Mata Lily masih tak lepas dari tuts-tuts piano yang baru saja dimainkan oleh Hermione.
Dengan tergagap, Lily bertanya. "Jadi mereka adalah band? Maksudku band rock?"
"Yups!"
"Dan Mommy menyukainya?"
"Mom koreksi, sayang. Sangat amat menyukainya!"
Satu lagi hal yang baru Lily ketahu tentang hal-hal yang disukai oleh ibunya. Salah satunya adalah, selera musik ibunya. "Tahu sendiri bagaimana orang-orang menyebut seorang Ginny adalah wanita yang kuat dan penuh energi. Ia dan ibu Teddy adalah penggemar berat band ini, Lily," tunjuk Hermione tepat di wajah Myron Wagtail. Wajah vokalis itu tampak sangar dengan rambut gondrong yang menutupi sekitar wajahnya.
"Band ini sangat terkenal, sayang. Bahkan dulu sempat mengisi acara Yule Ball ketika Dad mengikuti Triwizard Tournament. Hogwarts ramai sekali. Karena saat itu Weird Sisters adalah idola para remaja,"
"Berarti Mom, Dad, Mommy, Uncle Ron dan yang lain juga suka dengan Weird Sisters?"
Hermione tampak berpikir sejenak. Matanya berputar-putar kebingungan. "Ahh Mom tidak begitu suka, sih, musik rock. Tapi saat di Yule Ball dulu.. asik juga. Mom dan yang lain ikut lompat-lompat di depan panggung. Kecuali beberapa orang yang tidak suka. Seperti Uncle Ron, Dad—"
"Dad?" potong Lily tiba-tiba, "Dad tidak ikut menonton?" Lily tak percaya.
Kepala Hermione mengangguk sambil tersenyum lebar. "Kau tahu, menurut Aunty Parvati, Dad tidak suka dengan lagu yang Mom mainkan tadi. Entah apa alasannya—"
"Karena lagunya terlalu keras. Telinga Dad sampai sakit mendengar teriakannya!"
Harry muncul dari arah belakang rumah sampil berkacak pinggang. "Dan apa kau tahu juga Lily, Mom-mu ini mengidolakan salah satu personelnya. Orsino! Bahkan jauh sebelum ia terkenal sebagai personel Weird Sisters," lirik Harry tepat ke arah Hermione yang menahan malu. Harry berjongkok di depan Lily yang duduk di atas bangku bersama Hermione. "Sejak kami kelas satu, kebetulan sekali pria penggebuk drum itu dulu satu angkatan dengan Uncle Percy,"
Lily terkikik sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Harry. "Rupanya ada yang malu-malu, tuh, sayang!" kata Harry lagi-lagi menggoda Hermione. Kalah telak Hermione dengan kelakuan Harry di depan Lily sekarang.
'Tunggu pembalasanku, Mr. Potter!' batin Hermione tak terima.
"Dad bawakan es krim untuk kalian. Dad sudah masukkan ke lemari pendingin,"
Lily langsung memeluk Harry sayang lantas mengecup kedua pipi sang ayah. "Oh, ya, Dad. Lily boleh main ke rumah Jill dan Lucky? Sebentar saja, kok. Lily kangen sama mereka,"
"Ow, tentu saja boleh, sayang. Mainlah dengan mereka. Lama juga tak apa. Kebetulan—" Harry kembali melihat ke arah Hermione yang kini menggulung kembali poster milik Ginny. "Dad ada urusan dengan Mom. Kalau mau bawa juga sebagian es krimnya. Dad kebetulan beli banyak," katanya semakin memberikan kebebasan pada Lily bermain.
Setelah semua yang Lily butuhkan dibawanya, Lily segera berpamitan dan bergegas keluar rumah menuju rumah kakak beradik Jill dan Lucky yang berada di sisi kanan rumah Harry. Mereka adalah keluarga Muggle yang paling akrab dengan keluarga Harry. Terutama Lily yang menjalin pertaman baik dengan Jill yang seusia dengannya.
Harry dan Hermione berjalan beriringan menuju kamar mereka. Saling melempar senyum seolah tak pernah ada beban yang mereka rasakan hari-hari ini. Tangan Harry menyusup diam-diam ke belakang punggung Hermione. Mengelus pinggulnya mengikat pergerakan Hermione agar tak jauh-jauh darinya.
Sebelum masuk, Harry mengangkat tongkatnya ke atas dan melafalkan mantra. Cahaya terang seolah terbang dan menghilang dari seluruh area rumah. "Kau menghilangkan semua manteranya, Harry?" tanya Hermione kebingungan.
"Ya, James dan Al sedang di The Burrow. Nanti Ron yang akan mengantarkan mereka pulang. Mangkanya aku menghilangkan mantera-mantera ini. Mereka tak bisa berapparate kalau aku masih memasang pengamanan,"
Harry lantas membuka kamar dan mempersilakan Hermione masuk terlebih dahulu.
"Aku senang melihat Lily bisa tersenyum lagi," ujar Harry memulai topik baru.
"Ya, syukurlah, dia mulai menerima keadaanya. Walaupun memang belum sepenuhnya. Dia seperti Ginny. Lily anak yang kuat, Harry. Ia akan jadi gadis mandiri yang berani menjalani hidupnya dengan kemampuannya sendiri,"
Rasa bangga itu Harry rasakan juga. Menjadikan Hermione istrinya bukanlah sebuah kesalahan. Ginny memang benar, apa yang ia katakan di saat-saat terakhirnya itu sangat tepat untuk Harry.
"Lily akan kuat di sini. Tenanglah, Lily akan baik-baik saja. Aku bahkan berani menjaminkan diriku sendiri untuk keselamatan dirinya. Kau bisa pegang kata-kataku. Aku akan menjaga amanat Ginny untuk menjaga Lily,"
Harry menghela napasnya panjang. "Ya, Lily akan baik-baik saja. Lily akan sekuat Ginny. Menjadi wanita yang kuat, mandiri, teguh pada pendiriannya, dan saat ia dewasa.. Lily bisa menjadi wanita yang luar biasa untuk keluarganya kelak. Membanggakan suaminya, seperti Ginny," cerita Harry penuh kebanggaan. Bukan untu Hermione, Harry mencurahkan segala rasa bangganya untuk Ginny.
Merlin, betapa bodohnya Harry menceritakan kebaikan Ginny di depan Hermione tanpa memikirkan perasaan istrinya itu. "Ahh aku ke-ke dapur dulu, ya. Aku belum sempat memasak—" suara Hermione terbata-bata menyembunyikan rasa cemburunya.
"Merlin, Hermione—"
Tangan Harry menarik pergelangan Hermione yang sudah membuka gagang pintu lantas membalikkan badannya dan mendaratkan bibirnya di bibir Hermione. Harry mencium Hermione bergitu dalam. Ciuman yang lebih dari sekadar ciuman. Suara helaan napas Hermione menandakan mereka kekurangan pasokan oksigen.
Harry melepasnya, "maaf," katanya menyesal.
"Tak seharusnya aku kembali berkata seperti itu," lanjut Harry.
"It's ok, Harry. Meskipun ia telah tiada, Ginny tetaplah istrimu. Ibu dari anak-anak!"
"Tapi.. aku tak sepantasnya menceritakan kebaikannya padamu. Kalian spesial di mataku,"
"Harry—"
Kembali, Harry menarik dagu Hermione dan mengecup bibirnya lebih lama. Makin terhanyut dengan permainan bibir Harry, Hermione pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Harry memperdalam ciumannya.
"Mungkin.. kita akan makan di luar saja, sayang. Aku takut nanti kau tak kuat," tutur Harry penuh misteri. Senyumannya bak menghentikan detak jantung Hermione begitu saja.
"Ma-maksudnya?"
Harry hanya diam menunggu respon Hermione selanjutnya. "Lily sudah aku minta lama di rumah Jill dan Lucky, kan? James dan Al juga masih betah di sana," goda Harry.
Hermione menelan ludahnya susah payah. Ia sangat cerdas untuk memahami maksud suaminya kini. "Harry, ini masih sore. Kit—"
Cukup dengan satu tendangan kaki kiri Harry, pintu kamar tertutup kembali dan.. ya, hanya sebentar sebelum ketiga anak mereka kembali pulang.
- TBC -
#
Hehehe.. Anne berharap pembaca Anne cukup usia, ya, untuk memahaminya.. *Anne sembunyi*. Ya, walaupun sempat writer's block, alhamdulillah Anne bisa lalui dengan cantik. Ya, soalnya Anne langsung main kuteks sambil nunggu ide keluar *yang follow akun instagram Anne pasti tahu*. Tapi benar, loh, setelah kuku Anne berubah warna, ide itu muncul. Cringgg!
Untuk nama sekolah Lily, sebenarnya ada tapi nama sekolahnya LBTS di London. Bisa cari di internet. Kalau ANS itu Anne buat beda dari singkatan nama Anne aja. ANS = Annelies *ngarang* Dan untuk permainan piano Hermione, cukup bayangkan saja lagu Do the Hippogriff jadi agak melow dengan khas piano. Bukan ngerock. Dulu teman Anne sempat mainin itu pakai piano, asik juga. Kalau Anne, nggak pernah nyoba mainin lagunya Weird Sisters yang itu , pernah nyoba mainin di paino yang Magic Work aja. Beatnya agak mending daripada yang Hippogriff itu, terlalu ngerock.. :P
Anne tunggu review kalian. Tunggu chapter selanjutnya, ya!
Thanks,
Anne x
