Hai, everyone!

Anne muncul larut lagi. Yahhh maaf, ya. Karena waktu ngetik Anne itu malam. Jadi postingnya seringnya malam juga. Nggak apa-apa, kan. Biar pagi-pagi sudah ada hiburan baca kelanjutan kisahnya. Baiklah, Anne balas review dulu, ada siapa saja?

Ninismsafitri: always Ninis, reader Anne yang rajin. Anne seneng deh, thanks ya Ninis :D Yups, Lily akan kuat! Dengan caranya sendiri.. :)

Syarazeina: Piano.. ya, karena Anne suka musik, nyanyi.. atau main alat musik apapun, khususnya gitar dan piano. Cari nama ANS nggak susah-susah. Nama sendiri saja, hehehe.. waduhh dibuatin adek kali ya sama Harry dan Hermione, *Lahh ngomong apa sehh? hehehe* Thanks, syara!:)

Afadh: Hahaha... semoga sudah cukup umur buat paham! :P Lanjut lagi yuk.. thanks, Afadh! :)

Kali ini Rita berulah, teman-teman! Tapi Harry dan Hermione sepakat menjauhkan Lily dari segala berita tentangnya. Berita apa itu?

Langsung saja ke TKP!

Happy reading!


Putri Bungsu Harry Potter Squib?

Laporan khusus Rita Skeeter dari Stasiun King's Cross, London.

Tidak seperti biasanya, 1 September ini di King's Cross, keluarga Potter tak terlihat komplit seperti tahun-tahun lalu. Hanya ada Harry Potter (38) dan kedua putranya saja, James S. Potter (14) dan Albus S. Potter (13), yang berangkat kembali ke Hogwarts di tahun ajaran baru ini. Sedangkan istrinya, ah, lebih tepatnya istri keduanya, Hermione Potter (39) tidak terlihat di sana.

Begitupula, sang putri bungsu, Lily L. Potter (11), yang seharusnya tahun ini memulai tahun pertamanya di Hogwarts. Tapi apakah ia akan berangkat?

Beberapa minggu ini Daily Prophet dihebohkan pemberitaan tentang tiga orang squib yang ditemukan gila berkeliaran di Diagon Alley. Mereka meresahkan pengunjung karena berteriak-teriak dan menggoda anak-anak kecil di sana. Menurut informasi, jika ketiga squib itu telah lama gila karena dibuang oleh keluarganya sendiri akibat mempermalukan nama keluarga mereka masing-masing karena diri mereka diindikasikan seorang squib.

Ya, tentu saja. Hingga kini para penyihir memiliki pandangan buruk tentang seorang squib. Squib tak ubahnya sampah yang tidak patut dibanggakan. Tanpa sihir, mereka sama saja seperti Muggle. Namun, benarkah Lily Potter telah dibuang oleh keluarga Potter akibat dirinya seorang squib? Mengingat ia tak terlihat hingga tepat di hari keberangkatan para siswa Hogwarts.

Saya telah melakukan investigasi ke beberapa toko perlengkapan sekolah dan mewawancarai beberpa penyihir yang mengetahui keberadaan keluarga Potter ketika berada di Diagon Alley. "Mr. Potter sempat membeli es krim bersama kedua putranya. Yang saya lihat, mereka hanya bertiga. Saya tak melihat Mrs. Potter atapun Ms. Potter bersama mereka," kata Javier, petugas pembersih kotoran burung hantu.

Sedangkan saat saya mewawancari Ollivander di tokonya perihal kapan tongkat sihir Lily Potter dibeli, pria tua itu hanya menjawab, "tidak perlu banyak orang tahu" dengan santai lantas tidak mau berkomentar lagi. Sengaja menutupi, menjaga privasi pelanggan, atau ia lupa? Setahu saya point ketiga tidak mungkin. Setua-tuanya Ollivander ia tidak akan lupa dengan tongkat-tongkat yang ia jual.

Dari pihak Harry Potter sendiripun seperti menjauh ketika perihal masalah kondisi putrinya ditanyakan. Ketika saya berkunjung ke Markas Besar Auror untuk menemui Harry Potter, ia hanya meminta saya untuk bertanya selain masalah keluarga. "Ini Kementerian, jadi bertanyalah tentang urusan Kementrian ataupun Auror, Madam Skeeter. Tidak lebih dari itu." Ya, sejak remaja Harry Potter memang suka berbelit-belit.

Untuk sang istri, gadis-sok-tahu yang kini menjadi Mrs. Potter, Hermione J. Potter ikut menghilang. Ia diketahui mengambil cuti dari Kementerian untuk mengurus keluarganya. Seperti diketahui, keluarga Potter tinggal di kawasan Muggle. Sedikit menyusahkan jika saya harus pergi ke sana. Saya malas untuk menulis manual.

Meski kabar masih simpang-siur, kebenaran tentang Lily Potter seorang squib patut dipertanyakan. Gadis berambut merah itu lahir dari ayah seorang Potter dan ibu seorang Weasley, keduanya dikenal memiliki kemampuan sihir luar biasa hingga kini. Sungguh menyusahkan jika keluarga Potter dibuat susah dengan adanya anggota keluarga squib di antara mereka.

Tinggal menunggu waktu, apakah salah satu dari empat asrama Hogwarts menerima siswa baru bernama Lily L. Potter?

"Sialan, Rita! Dia benar-benar memasukan berita ini. Untung Lily belum turun. Aku sudah ingin menghajar wajahnya. Tak sadar apa dia sudah semakin tua? Hobinya itu mengurusi keluarga orang saja," gerutu Hermione penuh amarah. Tangannya memutar kenop kompor untuk mematikan apinya. Hapir saja telurnya gosong.

Harry menyesap kopinya dan kembali membuka Daily Prophet yang baru dilempar Hermione ke meja pantry. "Sabar, kita harus tetap terus waspada jika Rita Skeeter nekat masuk ke rumah kita. Aku jadi penasaran kalau dia mewawancarai orang lain tanpa pena hijaunya itu," tukas Harry sama geramnya.

"Ya, tapi hari ini dia sudah menyusun tulisannya untuk dipublikasi esok. Jelas, dia akan berangkat ke Hogwarts dan melihat sendiri apakah Lily ada di sana atau tidak,"

"Aaaaggghhh! Aku pusing—"

"Selamat pag— Dad? Kenapa? Pusing kenapa?"

Wuss secepat kilat Harry langsung menghilangkan koran di depannya. Berpura-pura tenang saat Lily duduk di sampingnya. "Aahh, tidak, kok. Dad hanya sedikit pusing. Dad bangun kepagian, padahal semalam tidur larut sekali. Oh, ya, bagaimana persiapan untuk sekolahmu lusa, sayang?" Harry kembali bertanya. Mengalihkan pembicaraan.

"Sudah, Mom sudah membantu menyiapkan semuanya. Ada beberapa yang Lily tak paham jadi minta bantuan Mom, deh," kata Lily sambil bergelayut manja di lengan kanan Harry.

Harry menatap Hermione meminta penjelasan apa yang tidak dipahami Lily.

"Hanya buku-buku matrikulasi yang digunakan selama minggu-minggu awal saja, tidak masalah, sayang. Nanti akan ada penjelasan-penjelasan dari seniormu. Ya, sedikit membosankan pasti. Tapi itu akan mengasikan. Percaya dengan Mom!" kata Hermione memastikan.

Lily hanya tersenyum. Mereka bertiga menghabiskan sarapan cukup di meja pantry. Cukup sederhana mengingat mereka hanya bertiga saja di rumah. Tidak serepot jika ada James dan Al. Sementara Harry dan Lily menghabiskan sarapannya, Hermione meminta izin masuk ke kamarnya terlebih dulu. Untuk apa? Menyembunyikan korannya.

"Oke!" bisik Hermione memberi kode pada Harry. Mengabaikan Lily yang terus menyuapkan potongan roti ke mulutnya.

"Oh, ya, Dad. Apa di luar sana, maksudku apa ada penyihir lain yang tahu kalau aku—"

"Tidak, sayang. Sementara ini hanya sebatas keluarga dan teman-teman dekat Dad dan Mom saja yang tahu. Kau tenang saja, mereka semua tidak akan mengganggu. Jadi," Harry melihat Hermione sudah muncul dari arah tangga utama. "Untuk sementara ini, Lily hanya Dad perbolehkan keluar masuk dunia sihir jika bersama Dad, Mom, Uncle Ron, Aunty Lavender atau lainnya yang mengetahui keadaan Lily," jelas Harry pelan-pelan.

Hermione menggenggam tangan Lily lantas mengulum senyuman, "tapi, kenapa, Dad? Mom? Squib tidak boleh berada di tengah-tengah penyihir lain?" tanya Lily lugu.

"Bukan begitu, sayang. Hanya saja, ahh.. kondisimu cukup riskan untuk bersentuhan langsung ke dunia sihir," kata Hermione mengoreksi.

Harry membelai rambut merah putrinya lembut. Ia harus menyembunyikan masalah kehebohan dunia sihir tentang keadaan Lily. "Banyak yang harus dijelaskan, karena kau spesial, sayang. Jadi, harus pelan-pelan," kata Harry.

Lily mengangguk-angguk memahaminya. Ia baru tahu tentang istilah seorang squib di dunia sihir. Dan dirinyalah yang kini menjadi orang itu. Entah salah atau tidak, Lily merasa dirinya tetaplah berbeda. "Lily paham, Dad," ujarnya pelan. Hermione tersenyum melihat Lily pelan-pelan menerima keadaannya. Ya, walaupun tidak sepenuhnya Hermione dan Harry menjelaskan tentang konsekuensi yang harus diterima seorang squib yang jauh lebih menyedihkan dari apa yang dialami Lily sekarang.

'Lily harus tetap bersama kami,' batin Harry.

"Eh, katanya kamu mau main lagi dengan Jill? Sudah mandi, kan?" Hermione membuyarkan lamunan Harry tiba-tiba. Ia memilih untuk mengambil cuti demi menemani Lily hingga ia masuk sekolah di hari pertamanya.

Harry masih khawatir ada yang berani mencari tahu langsung kepada Lily.

Lily menggangguk semangat, "sudah, sebentar lagi setelah sarapan. Aku berangkat ke sana, boleh, kan, Dad aku main ke rumah Jill. Sekolah kami ternyata sama!"

"Oh, ya? Waw.. kau sudah punya teman baru bahkan sebelum masuk sekolah! Boleh, sayang. Sampaikan salam Dad juga untuk Mr. Marchant," kata Harry senang.

Lily semakin menghilang dari pandangan Harry dan Hermione. Lily tumbuh menjadi anak yang ceria. Tidak tega rasanya jika mengingat Lily masuk dalam golongan yang dibenci oleh banyak penyihir. Kini, Lily hanya butuh menerima dirinya. Tanpa perlu tahu, bagaimana dirinya diterima oleh orang lain. Squib? Lily hanyalah anak kecil.

"Dia masih belum tahu apa-apa, Harry," Hermione tiba-tiba menangis.

"Ada saatnya dia tahu semuanya, Hermione. Biarlah Lily tenang dulu. Saat Lily semakin kuat, Lily akan jauh lebih menerima dirinya,"

Mereka terdiam. Berusaha kuat untuk Lily. Mereka akan tetap berada di dekat Lily sampai kapanmu. "Lily tetap anakku, anak kita. Dia tidak akan pernah merasa dikucilkan di keluarganya sendiri. Lily tak akan menerima nasip buruk dibuang oleh keluarganya sendiri seperti para squib lainnya. Tidak akan, aku akan selalu bangga memilikinya di hidupku," satu titik airmata lolos dari pertahanan mata Harry dan membasahi pipinya.

"Ya," Harry menarik tubuh Hermione dan mendekapnya erat. Membiarkan airmata istrinya membanjiri dadanya, "Lily tetap anak kita. Ini rumahnya!"

- TBC -


#

Hem.. singkat, ya? Yups, karena kalau Anne lanjutkan sama kisah selanjutnya bakal susah ambil bersambungnya. Jadi cukup di sini dulu. Anne tunggu review kalian!

Thanks,

Anne x