Hi, everyone!
Anne muncul lagi udah kaya setan, ya. Malam mulu. Maaf maaf, ya! Semoga masih ada yang bangun, deh. Oke, seperti biasa Anne akan balas review kalian dulu.
Ninismsafitri: Nggak lama-lama, kok. Anne usahain satu hari update. Telat-telat paling juga enggak lama. Insha Allah. Oke! Thanks :)
MiraCahya1: Aduhh terima kasih sudah suka. Aku pengen buat image ibu tiri itu baik. Jadi ikut terharu, ikuti terus kelanjutannya, ya.. thanks :)
Afadh: Hahaha.. 16 tahun lumayan, lah. Jadi pengen meluk Harry waktu nangis, huhuhu :( Rita always jadi kompor. Kompornya gas lagi. Meleduknya luar biasa. hehehe.. sip ikuti terus cerita dari Anne! Thanks, :)
Agatha Gabriella Saputra: Apakah Hermione hamil mengingat ia sendiri yang minta kalau demi menghargai Ginny dan fokus mengurus anak-anak Harry. Kita lihat saja nanti, ya. Ikuti terus, thanks :)
Syarazeina: yang berulah Rita, lah! Hahahaha! *Anne lari* Walah, ini yang minta adik malah kamu. Nanti aku rundingin sama Harry-Hermione, deh. Hehehe.. Thanks, ya! :)
Baiklah, karena Anne sudah ngantuk juga. Anne bobok dulu. Langsung ke TKP saja, teman-teman!
Happy reading!
"Acaranya besok. Bagaimana, Mione?"
Harry berat ketika menjelaskan pesta pernikahan anak buahnya di Kementerian dilaksanakan esok hari. Tentu saja, Harry tak akan datang sendiri, ia harus mengajak Hermione juga. Tapi bagaimana dengan Lily? Hermione tidak bisa membiarkan Lily pulang sendirian.
Bukan hanya Hermione, Harry pun begitu. "Lalu siapa yang akan menjemput Lily dari sekolah?" tanya Harry kebingungan.
Hermione menuangkan susu ke dalam gelas Harry, "Ron atau Lavender? Apa mereka juga diundang?"
"Tentu saja, Mione. Bahkan Ron satu tim dengan Steven—"
"Berangkatlah, Mom. Aku bisa naik bus,"
Lily Luna Potter. Turun dari lantai dua dengan seragam sekolahnya lengkap, mulai dari jas hitam dengan kemeja putih, dasi, rok hitam dengan garis merah serta sepatu dan kaus kaki putihnya. Sekolah Lily sangat ketat dalam peraturan penampilan. Ya, tidak susah bagi Lily untuk mengikuti peraturan itu, karena Lily sendiri cukup rapi dalam berpenampilan sehari-hari.
"Tidak masalah, kan?" ulang Lily di samping Hermione.
Sang ibu tiri tersenyum melihat kedewasaan di diri Lily mulai tumbuh. "Kalau begini, kau jauh lebih dewasa, sayang," kata Hermione sembari membetulkan kacamata Lily.
Sejak masuk ke sekolahnya yang baru, Lily sedikit merubah penampilannya. Salah satunya adalah kacamata. Bukan karena untuk bergaya, Lily benar-benar membutuhkannya untuk melihat. Harrylah yang pertama kali menyadari keanehan Lily saat melihat putrinya itu sibuk menulis deretan rumus fisika di buku tugasnya. Jarak antara Lily menulis dengan buku sangat dekat. Begitupula saat Harry tidak sengaja melihat tangan Lily sering mengucek matanya tiap ia selesai melihat layar laptop untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
"Kayaknya Dad harus ajak kamu ke dokter mata, sayang. Dad takut kau seperti Dad," kata Harry.
Dan benar saja, minus 1 untuk mata kiri dan 0,75 untuk mata kanan, hasil pemeriksaan medis awal Lily. Harry hanya bisa lemas saat dokter mata yang memeriksa Lily menjelaskan jika salah satu faktornya adalah keturunan. Sangat jelas itu menurun dari siapa.
"Nanti juga kembali manjanya," ujar Harry langsung mendapat cubitan pelan dari Lily. Tawa mereka meledak saking senangnya menggoda Lily. Ya, Lily tetaplah Lily Luna yang manja.
Semakin hari Lily semakin nyaman dengan kehidupan barunya. Tanpa sihir, ternyata Lily tak begitu terpengaruh, tidak ada kesulitan baginya berbaur bersama banyak Muggle. Khususnya di sekolah, Lily terkenal pintar. Ia menyukai pelajaran sains, khususnya fisika. Menurut Lily, ilmu fisika seperti sihir. Ia bahkan bisa melakukan teknik-teknik yang digunakan para pesulap dengan teori ilmu fisika. Akibat kepandaian Lily ini, Harry sempat terkejut melihat Lily bisa memasukkan telur dalam botol berisi asap tanpa pecah. Harry mengira Lily bisa melakukan sihir, namun Harry kembali kecewa saat mengetahui itu hanyalah hasil percobaan fisika saja.
Banyak buku-buku tentang fisika Lily kumpulkan. Berkat bantuan Hermione pula, setiap harinya Lily tak jarang membawa satu buku fisika baru ke rumah. Entah meminjam dari perpustakaan ataupun membelinya sendiri.
Harry pun merasakan perubahan Lily itu. Putrinya lebih suka belajar. Mengikuti aktifitas di luar sekolah dan juga aktif dengan teknologi. Beberapa karya desain animasi sederhana telah Lily ciptakan. Keunikan dari sekolah Lily adalah sekolah yang mengutamakan pendidikan terknologi di dalamnya. Salah satu kewajiban bagi siswanya adalah bersahabat dengan teknologi. Itulah yang kini Lily lakukan. Ia lebih cekatan mengoperasikan komputer serta cakap menggunakan ponsel pintar.
Lily mengambil ranselnya siap berangkat, sementara Harry berjalan menuju meja sudut untuk mengambil kunci mobilnya untuk mengantar. "Dad yang antar?" tanya Lily terkejut melihat ayahnya yang memegang kunci mobil. "Biasanya, kan, Mom?" katanya.
"Dad berangkat agak siang. Jadi hari ini Dad yang akan antar kamu. Sekalian melihat siapa saja laki-laki mana yang berani mendekati kamu. Dad dengar banyak anak laki-laki yang diam-diam menyukaimu di sekolah,"
Mata Lily melebar. Setengah mati terkejut mendengar perkataan Harry tadi. "Ya paling tidak anak laki-laki itu harus ijin dulu sama Dad kalau mau dekat denganmu," bisik Harry lagi.
"Harry, mereka masih anak-anak!"seru Hermione dari pintu.
"Ow maka dari itu, aku harus tahu laki-laki mana yang berani mendekati putriku. Ingat, Lily, Dad tak mau kau pacaran dulu. Sekolah yang benar baru cari pacar," Harry mendekati telinga Lily lantas berbisik, "kau boleh cari yang berkacamata, asal jangan cari drummer," bisiknya sampai Lily terkikik.
"Hey—"
"Kami berangkat Mom!" Potong Harry memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan Hermione sendirian dengan senyuman lebar di bibirnya. "Dasar kalian!" gerutunya masih menahan malu.
Tok.. tok.. tok..!
"Benar-benar tak ada di rumah. Aku harus bagaimana ini?"
Lily lemas mendapati rumahnya terkunci. Tidak ada jalan untuk masuk. Sekolah Lily selesai lebih awal. Ia sempat menelepon Hermione agar bisa menjemputnya ke sekolah. Tapi, tidak tersambung. Menurut Lily ponsel ibunya mungkin mati ataupun Hermione sedang berada di dunia sihir, karena tentu saja tidak ada sinyal di sana.
Secara sederhana, Lily harus menunggu sampai Hermione pulang yang entah sampai pukul berapa. Kalaupun sampai waktu biasa ia pulang sekolah, Lily harus sabar menunggu hingga empat jam kedepan. "Aaaggghhh... lalu aku harus bagaimana?" gerutu Lily.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. Suara perempuan yang sangat ia kenal. "Lily? Itu kau, nak?" seru suara itu.
"Mrs. Marchant! Ahh iya, maaf, apa anda tak melihat Mom?"
Mrs. Marchant masuk ke pekarangan rumah keluarga Potter. Menghampiri Lily sambil membawa dua kantung coklat berisi roti dan makanan kecil. "Ah, iya, tapi sudah sejak pagi. Ibumu keluar dengan mobil. Sempat menyapaku juga," kata wanita berwajah oriental itu.
"Aku sudah menghubunginya, tapi ponsel Mom tak aktif. Aku tak bisa menghubunginya untuk menjemputku tadi,"
"Jadi di sekolah pulang lebih awal, ya? Kalau begitu, tunggu di rumah saya dulu saja. Jill sudah kangen denganmu, Lily,"
Perasaan Lily kembali berbinar tatkala mengingat sahabatnya, Jill, yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena mengalami insiden kecelakaan bersama sang ayah. Lily juga beberapakali menjengguk Jill yang harus memakai satu kruk untuk membantunya berdiri dan berjalan. "Oh, ya aku juga rindu dengannya, terima kasih," kata Lily.
Hermione meninggalkan Leaky Cauldron dan bergegas menuju tempat parkir mobilnya. Suara nyaring keluar dari salah satu mobil yang berjajar rapi di sepanjang toko kaset gelap itu. Tangannya tampak kesusahan ketika membuka pintu depan karena pergelangan tangannya penuh dengan kantung-kantung besar berisi kue.
Sekali tarik, pintu mobilnya terbuka. Pertama-tama Hermione memasukkan kantung-kantung kuenya baru ia sendiri yang masuk dan duduk di belakang kemudi. "Siap pulang. Jadi ada beberapa menit untuk aku istirahat dulu di rumah. Capek juga bantu si George, toko seperti itu ramai juga dengan orang-orang dewasa. Aku kira hanya ada beberapa saja orang jahil sejenis George. Banyak juga rupanya," katanya pelan.
Hermione baru saja selesai membantu George membersihkan toko Sihir Sakti Weasley. Toko lelucon paling populer seDiagon Alley itu untuk sementara waktu dibuka untuk mereka yang sudah dewasa. Tentu saja, karena para anak masih ada di Hogwarts, jadi George sedikit membuat perubahan pada dekorasi yang dirancang oleh Lily dari rumah, serta barang-barang yang dijual jauh lebih ekstream dari biasa dan lebih 'dewasa'.
"Oh, ya," mata Hermione melihat sejenak lampu lalu lintas yang menyala. Selagi kendaraannya berhenti, tangan Hermione tergerak untuk membuka satu kantung kecil berlogokan Sihir Sakti Weasley. George memaksa Hermione untuk membawa pulang hadiah terima kasih karena telah membantunya. "Apa ya isinya? Perasaanku kenapa tak enak?" batin Hermione.
Sekarang yang Hermione pikirkan hanyalah, hal aneh apa lagi yang diberikan oleh Geroge.
Satu kotak sebesar kotak kacamata dengan warna biru dan merah. Di depannya tercetak gambar siluet dua orang yang tampak seperti pria dan wanita serta satu anak kecil yang berdiri ditengah keduanya. Di atasnya terdapat logo toko George serta tertulis Baby Maker Chewing Gum dengan tagline tentukan berapa lama dan berakhir seperti apa. Di belakang kotak tertulis dosis sesuai kegunaan. Mata Hermione tidak sempat membaca kesemua aturan. Hanya saja ia menangkap tulisan seperti, permen merah = perempuan, permen biru = laki-laki, serta keterangan dengan angka seperti 1 butir = 2 jam dan larangan tentang penggunaan pada orang yang belum menikah serta anak-anak. Hermione langsung paham mengingat apa nama permen karet yang diberikan oleh George itu.
"Kurang ajar kau, Geroge!" umpat Hermione sebelum kembali memacu mobilnya.
Sesampainya di rumah, pertama kali yang akan Hermione lakukan adalah menyembunyikan permen karet pemberian George. Itu lebih berbahaya daripada membiarkan anjing galak berkeliaran.
Setelah semuanya aman, Hermione kembali masuk ke mobilnya dan mengeluarkan kue yang ia beli saat di Diagon Alley. Ia sengaja membeli banyak untuk diberikan kepada keluarga Mr. Marchant. Tetangganya itu baru saja tertimpa musibah. Mr. Marchant dan putri sulungnya, Jill, mengalami patah tulang akibat kecelakaan selepas dari sekolah. Hermione pun merasa tak enak jika terus menjenguk tanpa membawakan sesuatu untuk mereka.
"Aku akan bawakan satu kotak untuk mereka sebelum menjemput Lily. Masih ada waktu," kata Hermione.
Rumah keluarga Mr. Marchant tampak sepi dari luar. Tapi terdengar suara-suara seperti musik dan alunan piano sayup-sayup Hermione dengarkan dari arah dalam. "Selamat sore, Mrs. Marchant," sapa Hermione pada wanita berambut hitam panjang dari balik pintu.
"Oh God, Mrs. Potter. Silakan masuk,"
Akane Marchant, wanita berdarah Jepang yang menjadi istri Ernest Marchant keluar dari rumah dan mempersilakan Hermione masuk. Mereka sudah lama kenal bahkan sebelum Hermione menjadi istri Harry. Hermione sering bertemu Akane tiap berkunjung ke rumah Harry ketika Lily masih bayi.
Dua wanita itu berjalan berdua memasuki rumah yang memang sepi dari bagian ruang tamu. Akane mengantarkan Hermione menuju ruangan berdinding kaca yang penuh dengan satu set home recording. "Itu Lily?" tunjuk Hermione pada sosok anak berambut merah di balik kaca pemisah ruangan di depan Mr. Marchant yang duduk di depan komputer dan piano. Lily sedang memakai headphone di depan satu set condenser microphone bersama satu gadis lain yang Hermione kenal sebagai Jill, putri Mr. Marchant yang juga sahabat Lily.
Kedatangan Hermione sama sekali tidak mengusik Lily yang sedang membicarakan sesuatu dengan Jill yang sama-sama memakai headphone dan menghadap pada jenis microphone yang sama. "Me-mereka—"
"Mereka tidak bisa melihat kita sekarang dengan kaca itu, tapi kita bisa melihat mereka dari sini. Di dalam juga kedap suara. Jadi mereka tidak akan mendengar suara lain selain suara Ernest yang berbicara melalui microphone itu," jelas Akane. Ernest berbalik dan terkejut dengan kedatangan Hermione di rumahnya.
Hermione tersenyum sambil menyalami Ernest. "Oh Mrs. Potter. Terima kasih sudah berkunjung,"
"Sama-sama, Mr. Marchant. Bagaimana keadaan anda? Sudah membaik?"
Sedikit basa basi Hermione tentang kesehatan Ernest yang mulai membaik dan mampu berjalan meski pelan-pelan. "Jadi, Lily sejak tadi ada di sini?" tanya Hermione mendengar penjelasan Akane mengenai Lily yang pulang sendiri dan mendapati rumahnya terkunci.
"Ya, daripada mereka main, lebih baik lanjut latihan. Saya sudah tak sabar mengajak Lily rekaman dengan Jill dan membuat video cover duet saya di YouTube dengan Lily," kata Ernest tertawa.
"Ap— maksudnya latihan? Rekaman?"
Akane tampak terkejut melihat ekspresi Hermione yang tak tahu apa-apa mengenai aktifitas Lily selama ini di rumahnya. "Jadi anda tidak tahu jika Lily berlatih vokal dengan kami?" tanya Akane dan Hermione menggeleng.
"Lily memiliki kepercayaan diri yang kurang. Untuk diminta berbicara di depan umum saja susah, apalagi bernyanyi. Padahal rasa ingin tahunya besar sekali," tutur Hermione.
Sepasang suami istri itu saling pandang lantas tersenyum memandang Hermione. "Pantas saja. Saat Lily melihat Jill bernyanyi dengan saya, ia seperti menikmati aktifitas kami. Saat saya ajak bernyanyi, Lily bilang ia malu, tidak bisa bernyanyilah. Tapi saat saya yakinkan menyanyi itu mengasikkan, Lily mau dan ternyata—"
"Hellow, Dad! Kau ada di sana?" suara kecil Jill terdengar dari pengeras suara yang terpasang di sudut atas tembok.
"Ha-iya, honey. Bagaimana, apa sudah mengerti ketukannya? Paham, ya, pembagiannya. Untuk Lily tetap pada tempo ketukan tadi. Ingat lakukan beltingnya. Panjang tanpa vibrato. Aku akan putar sebagian agar kalian bisa mempersiapkan diri. Perhatikan kapan kalian masuk. Stand by, girls!"
Kedua anak itu tak memperhatikan Ernest, karena memang mereka tak bisa melihat, hanya mengangguk paham sambil membolak-balik kertas di depan mereka.
Hermione masih tidak mengerti tentang apa yang dilakukan Lily selama ini. "sudah berapa lama Lily berlatih?" tanyanya.
"Sekitar tiga bulan. Cukup intensif. Karena vokal Lily yang sudah baik, hasilnya jauh lebih maksimal daripada belajar satu tahun. Ternyata Lily juga ikut paduan suara di sekolahnya dulu, jadi sedikit banyak vokalnya sudah terasah," tutur Akane.
"Kita lihat saja, suara Lily sangat powerful. Jadi saya tak ragu memberikan dia lagu ini," kata Ernest. Ia lantas menyalakan beberapa tombol dan keluarlah suara Lily dan Jill yang mengalun merdu.
Di lagu yang terputar setengah pertama muncul adalah suara Jill yang kecil lucu, khas suara wanita Jepang. Mirip ibunya. Kemudian disusul suara Lily yang memang tegas dan memiliki power yang khas.
When your lips are on my lips.. and our hearts beat as one..
Harmoni suara Lily dan Jill terdengar indah, semua petunjuk Ernest terdengar pelan mengikuti jalannya lagu. "Lily masuk! Now!" tepat saat itu juga, suara Jill menghilang dan menyisakan Lily yang bernyanyi.
But you slip out of my fingertips.. every time you run..
Lily menaikkan suaranya tepat di kata 'run' tanpa sedikitpun tegang atau seperti menahan sesuatu. Kepalanya sedikit menunduk dengan mata terpejam. Merasakan permainan nada yang keluar dari mulutnya. Sampai nada itu seperti berlenggok dan putus. Musik menghentak dan kembali mengeluarkan suara Jill dan Lily bersamaan. Dengan harmoni yang indah.
"Well done, girls! Very very god job!" seru Ernest diikuti terpuk tangan dari Akane. Sedangkan Hermione masih terpukau dengan suara Lily yang begitu merdu. "Lily, indah sekali,"
Di dalam Lily dan Jill beradu tos dan berpelukan bersama. Memainkan dasi Lily yang masih mengantung di leharnya sambil tertawa bersama. Berkat perintah Ernest untuk istirahat, keduanya langsung berhambur keluar dari ruangan recording. Lily, yang penuh kepuasan berhasil menyelesaikan duetnya dengan Jill dibuat terdiam tak berkutik ketika melihat Hermione duduk bersama Akane dan Ernest sekaligus.
"M-Mom!" panggil Lily terbata.
"Lily Luna Potter," panggil Hermione lengkap mengikuti gaya Harry saat akan berbicara serius dengan anak-anaknya. Di depannya Lily menelan ludahnya susah payah. Ketakutan jika aktifitasnya di keluarga Marchant membuat Hermione tak suka.
Hermione berdiri. Dengan wajah datar, ia menghampiri Lily dan memeluk gadis itu erat. Jill bersama kedua orang tuanya menyaksikan Hermione terharu melihat kemampuan menyanyi Lily yang mengagumkan. "Kau menyanyi solo lebih indah, sayang. Mom tak pernah melihatmu bernyanyi seindah ini bahkan saat kau tampil bersama paduan suara ketika sekolah dulu. Kau luar biasa, Lily,"
"Maafkan aku, Mom. Aku juga baru belajar dengan Mr. Marchant. Beliau yang mengajariku teknik-teknik olah vokal yang baik." Tutur Lily.
"Kau juga sudah hebat, Lily. Hanya butuh terus dilatih, suaramu akan semakin sempurna. Setelah ini, kau siap, kan? Kita mulai rekaman kedua. Tapi kali ini pakai kamera. Sudah siap, kan, honey?" panggil Ernest pada Jill.
Gadis bermata sipit itu langsung kembali ke ruangan rekaman dan menarik kedua microphon yang baru selesai mereka gunakan rekaman. Dengan bantuan Akane pula, kamera untuk merekam siap dipasang ada spot yang tepat.
"Lima menit lagi kita rekaman. Mumpung ada anda Mrs. Potter, saya minta ijin untuk meminta Lily saya jadikan penyanyi di channel YouTube saya. Boleh? Saya akan memainkan piano untuk mengiri Lily bernyanyi," tanya Ernest dengan gaya lucunya.
"Silakan, jika Lily mau," Hermione mengembalikan keputusan kepada Lily kembali. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sendiri ingin melihat Lily menyanyi dengan suaranya sendiri. Menikmati penampilan Lily tanpa suara lain.
Lily tersenyum dan mengangguk setuju dengan tawaran Ernest.
Semua perlengkapan siap. Peralatan rekaman terpasang dan kamera ready. "Kita hanya satu kali take, dan ini live langsung rekam. Hanya nanti masuk dalam editing kecil untuk awal dan penutup agar memiliki tampilan cantik, tanpa mempengaruhi kualitas suaramu, Lily. Jadi, bernyanyilah dengan hati," pesan Ernest sebelum mereka siap bermain.
Menurut Jill, Lily akan menyanyikan lagu dari penyanyi asal Inggris yang berjudul Clown. Lily sendiri yang memilih lagu itu. "Lily merasa dirinya seperti sedang menjadi badut, begitu katanya, Mrs. Potter. Ini lagu susah sekali. Nadanya naik turun," bisik Jill di telinga Hermione.
I guess it's funnier from where you're standing..
Lily mulai bernyanyi diikuti suara piano yang dimainkan Ernest begitu menyentuh. Akane, Jill bahkan Hermione merasakan seluruh bulunya meremang tiap kali Lily mengambil nada tinggi. Dengan santai tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebihan.
So you can see me I put make up on my face, but there's no way you can feel it from so far away..
"Lily mengatur napasnya dengan sangat baik, emosinya bisa terkendali," komentar Akane pada Hermione.
Ya, indah sekali. Lily mengakhirinya dengan menunduk sambil menyeka air matanya sembunyi-sembunyi. Menatap lagi Hermione lantas tersenyum puas, "kau memang hebat, Lily," Hermione bangga luar biasa.
- TBC -
#
Baiklah.. mengapa Lily Anne buat bisa nyanyi, karena Anne suka nyanyi. Untuk istilah-istilah vokal, Anne hanya masukan beberapa. Itu pun seingat Anne waktu Anne masih ikut latihan vokal jaman SD, intensifnya memang cuma waktu SD aja. SMP cuma padus, SMA? Nggak ikut soalnya nggak ada ekstra padus. Di sini ada yang ikut paduan suara atau ikut les vokal? Benar nggak istilahnya? Hehehe... sudah lama, kan, jadi Anne takut salah aja.. :)
Lalu untuk lagu yang dinyanyikan Lily duet sama Jill, tahu kan itu lama siapa? Yups, Demi Lovato yang Give Your Heart a Break. Kalau yang sama Mr. Marchant, itu lagunya Emeli Sande judulnya Clown. Untuk lebih membayankan bagaimana Lily nyanyi, seperti dulu waktu Lily main piano di fic yang lama, Anne punya rekomendasian siapa yang harus di tonton. Coba cari Jasmine Clarke di Youtube. Dia penyanyi cover dari LA, masih muda, 14 tahun. Suaranya keren parah! Dia salah satu penyanyi cover kesukaan Anne.
Pas ubek-ubek lagi lagu-lagu apa yang pernah Jasmine cover muncul dua lagu itu, yang memang Anne suka banget. Terutama untuk lagu Emeli Sande. Anne sudah lama suka sama lagu-lagunya Emeli Sande. Coba dicek untuk lebih enak. Kalau nggak mau repot, bisa buka instagram Anne (sifahnurifah, promosi, deh, hehehe), Anne masukin cuplikan sedikit lagu Jasmine Clarke di sana. Bisa dicek.
Oh ya sampai lupa, buat permen karet pemberian George, Anne terinspirasi dari berita soal permen karet cinta yang pernah geger di internet beberapa waktu lalu. Hehehe.. lagi-lagi Anne berharap pembaca Anne cukup umur untuk memahaminya. hehehe.. :)
Anne tunggu review kalian, loh. Dan nantikan kelanjutan ceritanya, ya! :)
Thanks,
Anne x
