Hi, everyone!

Muncul lagi dan malam lagi. Anne muncul dengan chapter 7 yang jadi chapter pertama yang paling panjang yang pernah Anne buat. Wahahaha.. Semoga nggak kepanjangan, ya. Soalnya berhentiin bersambungnya susah di bagian yang mana. Dan dapatnya selesai agak panjang.

Terima kasih buat yang review, Lily akan mulai goyah di chapter ini, ada apa?

Langsung aja, yuk...

Happy reading!


Pesta pernikahan anak buah Harry dari devisi Auror digelar ramai dan meriah. Banyak pasangan yang hadir ikut terharu ketika kedua mempelai mengikatkan janji pernikahan mereka sehidup semati. Salah satu yang ikut merasakannya adalah Harry dan Hermione.

Tangan Hermione mengampit lengan kanan Harry. Bersandar manja di pundaknya sambil tersenyum ketika mempelai di depan saling berciuman. "Kau kenapa, Mione?" bisik Harry.

"Hanya bernostalgia saja," kata Hermione pelan. Kepalanya sudah ditegakkan ikut bertepuk tangan dengan tamu yang lain.

"Apa yang kau ingat?" tantang Harry yang sebenarnya lebih tepat dikatakan menggoda.

Hermione menghela napasnya lega, seperti baru saja melepaskan sesuatu yang berat di dadanya. "Yang aku ingat, kau menciumku dan aku menciummu," katanya. Harry mengajaknya untuk mengambil salah satu meja. Letaknya tepat di sisi danau. Satu meja dengan dua bangku. Pas untuk mereka berdua menikmati suasana pesta. "Itu memang yang paling bisa diingat. Bahkan rasanya tak hilang-hilang,"

"Harry!" Hermione memukul tangan Harry pelan malu-malu.

Sang suami hanya tertawa melihat wajah istrinya bersemu merah menyala. Hampir sepuluh tahun mereka menikah, Hermione menjadi wanita yang sempurna bagi Harry dan ketiga anaknya.

"Bukankah acara ini seperti pesta kita berdua? Meja ini serasa privat sekali. Hanya kita berdua." Harry sejenak memelankan suaranya saat seorang pelayan membawakan makanan untuk Harry dan Hermione.

Mata Harry terbelalak melihat makanan apa yang ada di atas piringnya. "Apa ini?"

"Menurut tamu yang lain, ini adalah makanan kesukaan kedua mempelai. Tampaknya enak," kata Hermione. Dengan menggunakan garpu dan pisau, Hermione cekatan memotong daging dan menyuapkan ke mulutnya.

"Dagingnya enak. Dan ini juga, Harry, jangan bilang kalau kau tak mau memakannya," tunjuk Hermione pada potongan wortel yang bercampur dengan potongan kentang.

Harry menelan ludahnya. Menurut Harry, wortel adalah makanan yang paling aneh. Ia amat sangat tidak suka dengan sayur merah kesukaan kelinci itu. "No, aku bukan kelinci, Mione," tolak Harry.

"Kau Harry Potter, memang bukan kelinci. Dan ini makanan enak sekali, Harry. Cobalah!"

"Tidak, Mione. Itu wortel. Aku tak suka—"

"Aduhh pantas saja matamu parah sekali, Harry. Mana bisa sehat penglihatanmu kalau kau tak suka makan wortel? Kau sama seperti Lily. Lihat dia, sudah ikut-ikutan pakai kacamata. Kau tak mau lebih sehat dan melepas kacamatamu, Harry?"

Pundak Harry terangkat pelan. "Tidak, kacamata ini sudah jadi identitasku," elaknya.

"Makan wortelnya, Harry!" kata Hermione memaksa.

"Tidak!"

"Jangan membuang makanan. Tidak baik! Sini biar aku saja yang makan,"

Hermione mengambil alih sayuran yang ada di piring Harry. Menuangkannya kembali ke piringnya dan melahap sayuran itu dengan nikmatnya. Di depannya, Harry hanya bisa berdecap-decap salut melihat selera makan istrinya. "Kau terlalu banyak bergaul dengan Ron, sayang,"

"Salahkan pria rakus itu, Harry," jawab Hermione dengan mulut penuh makanan.

Acara berlanjut pada sesi dansa. Harry dan Hermione memilih untuk duduk menikmati dulu beberapa pasangan yang menari di tengah. Baru saat sesi dansa kedua, Harry meminta dengan romantis tangan Hermione untuk ia bimbing ke tengah lantai dansa.

Mereka berputar, mengayunkan tubuh ke kanan dan kiri. Saling memeluk dan mendekatkan tubuh masing-masing saling berbagi kehangatan. Harry memandang makhluk cantik di depannya begitu lekat. "What?" tanya Hermione. Musik berganti tempo menjadi sangat pelan dan sangat romantis.

"You're so beautiful, very very beautiful," kata Harry dengan mata hijaunya yang berbinar bahagia. Mereka pun semakin terhanyut dengan alunan musik romantis yang mengantarkan mereka pada penyatuan rasa cinta yang hebat. Menikmati setiap sudut surga kata-kata cinta. Tanpa malu. Itu cinta mereka yang sesungguhnya.

Harry terus mengecup bibir Hermione tiada henti. Menarik tengkuk dan memperdalam ciuman mereka. Tangan Hermione tak kuasa untuk melepaskan pegangannya dari kerah jas Harry. Susah melepaskan dan tak mau mengakhiri, "kita lanjutkan di rumah saja, ya," goda Harry setelah mereka saling memisahkan diri.

Tidak ada komentar dari Hermione selain tawa pelan dan wajah malu-malu. "Terkadang aku memikirkan kalau kau juga pantas masuk Slytherin, sayang," gurau Hermione sebelum Harry kembali mengajaknya berdansa.


ANS Technology School ramai penuh dengan mobil-mobil yang terparkir sepanjang jalan depan gerbang. Para penjemput sudah siap menunggu anak-anak yang sebentar lagi menyelesaikan jam sekolahnya. Lima menit sebelum tepat pukul empat, Lily menyempatkan mampir ke loker miliknya. Mengembalikan beberapa buku dan menguncinya kembali.

Bel tanda sekolah usai berbunyi. Gerbang sudah dibuka dan berhamburlah siswa dari semua tingkatan untuk segera pulang. Beberapa terlihat dihampiri orang tua lantas masuk mobil, ada pula yang menuntun sepeda dan menaikinya setelah keluar dari gerbang. Serta tidak sedikit yang berjalan kaki ataupun duduk di halte menunggu bus datang.

Lily keluar bersama dengan Caroline, salah satu sahabat dekatnya bersama Jill. Selepas Caroline masuk dalam mobil ayahnya, tinggallah Lily sendiri. Jill belum masuk sekolah. Jadi ia hanya duduk sendiri sembari menunggu untuk pulang. "Oh, Tuhan. Aku lupa kalau Mom tak menjemputku. Mom dan Dad, kan, ke acara pernikahan teman Dad. Aaagghh aku lupa," rutuk Lily lupa dengan janjinya pada Hermione untuk pulang sendiri.

"Mungkin aku tunggu di sini saja, busnya masih ramai," kata Lily. Ia duduk di bangku panjang taman depan gedung sekolahnya sambil memainkan ponselnya. Menonton channel YouTube dimana Mr. Marchant sudah mengupload video bernyanyinya kemarin. Tidak Lily sangka-sangka, banyak juga yang menyukai dan berkomentar baik pada video bernyanyinya.

"Aku sudah bisa jadi penyanyi sekarang, aduhh Lily, mimpi," kata Lily menyadarkan dirinya sendiri.

"Kau sendirian—"

Badan Lily terlonjak bahkan sampai menjatuhkan ponselnya ke tanah. Seseorang menghampirinya dan duduk di samping Lily. "Mrs. Alba?"

"Lily? Ternyata kamu, ahh—" wanita yang dipanggil Mrs. Alba itu mengambilkan ponsel Lily yang terjatuh. Video Lily sedang bernyanyi masih berputar. "Cover by Lily Potter," baca Mrs. Alba dari keterangan di bawah video itu.

"Potter?" ulang Mrs. Alba sekali lagi. Dahinya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras.

Ada apa dengan nama Potter? Lily menerima ponselnya lantas berterima kasih. "Memangnya ada apa dengan nama keluargaku, Mrs. Alba?" tanya Lily.

"Banyak sekali nama orang dengan menyandang nama keluarga Potter di belakangnya. Tapi aku hanya tahu satu nama orang hebat yang juga menyandang nama Potter. Dia luar biasa," kata Mrs. Alba dengan wajah cerah.

Lily ikut tersenyum, "ya, orang yang memiliki nama belakang Potter terhebat yang aku tahu tak lain dan tak bukan, satu-satunya adalah... Harry James Potter. Pria paling hebat yang aku tahu, Mrs. Alba," ujar Lily.

Petugas konsumsi sekolah Lily itu langsung diam ketika Lily menyebut nama itu. Sangat lengkap.

"Lily, kau kenal dengan Harry James Potter? Ada hubugan apa kau dengannya?"

"Mrs. Alba, memangnya ada apa? Kau mengenal Dad?"

"Dad? Harry James Potter adalah ayahmu?"

Lily mengangguk tegas. Tanpa ragu, ia menjawab, "ya—"

Tidak. Lily tidak berbohong. Mrs. Alba kenal sekali dengan sifat Lily sejak mereka bertemu di hari pertama Lily masuk sekolah dan mengantri makan siang padanya. Bahkan makanan apa saja yang suka atau yang tidak disukai Lily sangat ia tahu. Seperti Lily seorang penyuka kentang dan pembenci wortel. Mrs. Alba tahu itu.

"Kau memang mirip dengan Ginny. Tapi.. benarkah? Setahuku, Harry hanya memiliki dua putra. Ahh maaf Lily. Bukannya aku sok tahu, tapi.. bukankah Ginny Potter meninggal saat kerusuhan Kementerian belasan tahun lalu?"

Segala pertanyaan yang dilontarkan Mrs. Alba membuat Lily semakin tak paham. mengapa ada orang lain tahu tentang tragedi itu? "Anda.. dari mana Anda tahu tentang Mommy dan Dad? Hanya pe—"

"Penyihir yang tahu masalah ini? Tapi jangan lupakan mereka yang squib, Lily. Seperti aku," ujar Mrs. Alba memotong kalimat Lily. Lagi-lagi, Lily belum menyadari ada orang berlatar belakang penyihir duduk bersamanya di dunia Muggle.

Mrs. Alba menyentuh pipi Lily, mengelusnya sambil menangis. "Ternyata kau selamat saat kejadian itu? Aku kira ia meninggal bersama janinnya. Tapi aku salah, bahkan putrinya ada bersamaku sekarang. Aku turut berduka atas kematian ibumu, Lily. Ia wanita yang hebat. Aku mengidolakan ibumu sebagai chaser Holyhead Harpies dulu,"

Ia terus menceritakan tentang apa yang ia ketahui tentang keluarga Potter tanpa memberikan kesempatn Lily berbicara. Di tengah-tengah ia berbicara Mrs. Alba tiba-tiba berhenti, menyadari sesuatu yang janggal terhadap diri Lily.

"Sebentar, Lily. Kau bersekolah di sini. Ya, aku tahu itu. Bukankah itu artinya kau berusia sekitar 11 tahun?"

Lily mengangguk.

"Mengapa kau tak berangkat ke Hogwarts?"

Deg! Lily seolah baru saja dibangunkan dari mimpi indahnya. Masa-masa sulitnya melupakan surat panggilan Hogwarts yang tak diterimanya kembali terbayang di depannya. "A-aku.. aku, aku squib," kata Lily sangat pelan. Airmatanya meluncur keluar dari sudut matanya. Mengingatnya kembali seperti memasukkan tangan terluka ke dalam air garam. Sakit sekali.

"Squib?" Mrs. Alba melihat sekitar sekolah yang mulai sepi ditinggalkan para penghuninya. "Ta-tapi,"

"Itu kenyataannya, Mrs. Alba. Kalau aku penyihir, aku pasti sudah masuk Hogwarts beberapa bulan yang lalu. Tapi aku di sini, bersekolah di sini," Mrs. Alba langsung memeluk Lily erat. Dua orang bernasib sama saling menumpahkan kesedihan mereka tentang diri masing-masing.

"Bagaimana?"

"Apa, Mrs. Alba?"

"Dirimu? Kau tinggal bersama siapa sekarang? Ini sudah senja, kau tak pulang?"

Lily menjauhkan tubuhnya dari pelukan Mrs. Alba. Membetulkan letak kacamatanya dan melirik sejenak ke halte bus. Belum ada bus yang lewat di sana. "Aku tinggal dengan Dad dan Mom. Dad menikah lagi dengan Mom Hermione."

"Mereka menikah? Oh ya Tuhan, kau tetap tinggal bersama mereka? Kau tak dibuang mereka?"

"Dibuang?" pekik Lily.

Satu persatu keanehan diketahui Mrs. Alba tentang kehidupan Lily yang sebenarnya. Lily, yang ia anggap sebagai siswa terpintar seangkatannya di sekolah, ternyata adalah seorang squib. Sama seperti dirinya. Tapi, nasib Lily rupanya tak separah dirinya.

"Hingga sekarang, pandangan para penyihir sangat sensitif jika mendengar kata squib, Lily. Mereka menganggap squib adalah benalu. Menyusahkan dan membuat malu nama keluarga. Sepertiku. Aku datang dari keluarga Dalas. Namaku Sonya Dalas. Alba adalah nama keluarga suamiku. Aku dibuang saat berusia 11 tahun, sama sepertimu sekarang. Aku tak mendapat surat Hogwarts sampai tanggal 1 September. Kalau seandainya aku penyihir, aku seangkatan dengan ibumu.

Tapi apa daya, ayahku orang terpandang di Kementerian. Ia malu mempunyai anak seorang squib. Ia lantas membuangku ke panti asuhan Muggle. Aku bersosialisasi dengan para Muggle yang tak pernah aku kenal. Kebiasaan mereka yang tanpa sihir, semua terasa aneh. Bertahun-tahun aku seperti orang gila. Mencoba sabar, sampai akhirnya aku benar-benar bisa bertahan seperti sekarang," cerita Mrs. Alba dengan berurai airmata. Kehidupannya sejak kecil sangat berat. Khususnya semasa ia di panti asuhan

"Mereka tak pernah mendekatkan aku lagi dengan dunia sihir. Dad dan Mom hanya mengajakku ke The Burrow saja, itupun langsung dengan floo atau Apparate. Aku tak boleh ke Diagon Alley lagi. Kata mereka, nanti banyak orang yang mengejar aku. Menanyakan ini-itu, padahal aku sendiri tak masalah,"

"Itu karena ayahmu adalah orang besar, Lily. Ayahmu dikenal luas oleh seluruh penyihir. Tak ada penyihir yang tak mengenal Harry Potter. Mereka pasti penasaran melihat putri pahlawan mereka yang— maafkan aku, Lily,"

Tangan Lily mencegah tangan Mrs. Alba bergerak. Menyampaikan ia tak apa-apa. Lily sudah lama belajar kuat dengan keadaannya itu. "Menjadi berbeda itu indah, Lily. Apalagi kedua orang tuamu sangat menyayangimu," pesan Mrs. Alba.

"Tapi, apakah Dad akan membuangku? Mengingat ini sudah cukup lama. Dan pastinya pemberitaan di luar sana banyak yang membicarakan aku," kata Lily ketakutan.

"Kau tak tahu?"

"Tidak," Lily mengaitkan tali ransel ke lengannya, "aku merasa mereka sedang menyembunyikan semuanya dariku, Mrs. Alba."

Bus kota berhenti tepat di depan halte. Itu dia yang Lily tunggu. Ia harus segera pulang.

"Tunggu, Lily!" panggil Mrs. Alba dan Lily kembali berbalik. "Tetaplah kuat. Ingat, kita ini spesial," pesannya. Lily mengangguk pelan dan berlari menuju bus.

Sepanjang perjalanan, di dalam bus pikiran Lily tidak tenang. Memikirkan tentang kisah Mrs. Alba yang juga squib. Masa kecil yang menyedihkan, dibuang dan tidak diharapkan. Lily takut dirinya akan seperti Mrs. Alba. "Apa aku juga akan dibuang? Dad orang yang sangat dikenal oleh banyak penyihir, Dad pasti sangat malu memiliki anak sepertiku. Aku menyesal mengapa Mommy harus meninggalkan aku. Mengapa mantra pembunuh itu tak ikut membunuhku juga? Mengap—"

Bruakk! Dukk! Pelipis kiri Lily terasa sangat amat sakit ketika lantai bus yang keras menjadi landasan kepalanya mendarat setelah membentur ujung bangku penumpang di depannya. Kacamatanya terlepas entah kemana.

Bus yang memuat puluhan orang di dalamnya itu baru saja menyerempet truk besar tepat di sisi Lily duduk. Badan Lily terlempar dan tersungkur di lantai bus. Sakit. Itu yang sekejap dirasa Lily tepat di kepalanya. Sampai akhirnya, ia seperti mendengar suara seorang wanita memanggil namanya pelan.

"Lily!"

Namun sebelum Lily mencari tahu siapa itu, semua menjadi gelap.


"Jika ingin pemeriksaan mendalam, tunggu sampai keadaan Lily membaik. Mungkin esok bisa dilakukan pemeriksaan CT Scan, Mr. Potter. Lily boleh pulang sebentar lagi,"

Sayup-sayup suara orang berterima kasih, isak tangis, dan langkah kaki yang beradu dengan lantai menyadarkan Lily perlahan. Aroma ruangan yang khas. Itu bukan kamarnya. Mata Lily terbuka dan terpampanglah langit-langit ruangan yang ia tiduri berwarna putih.

"Di mana aku?"

Dua orang berpakaian pesta mendekat dan mengelus kepala Lily lembut.

"Lily, syukurlah!" suara Harry terdengar pertama di telinga Lily.

"Ya, Tuhan. Kau tak apa-apa, sayang? Mom takut—"

Lily meremas tangan Hermione di tangan kanannya menenangkan. "Aku tak apa-apa, hanya sedikit pusing," kata Lily sambil menunjuk kepalanya. Pelipisnya biru, dahinya tertempel perban membungkus luka gores. Seragamnya kotor dan ada beberapa bagian yang robek.

Harry mengambil kacamata Lily yang pecah dari atas meja. Saat melihat tak ada orang lain di sana, Harry merapalkan mantra dan dengan sekejap, kacamata Lily kembali baik. Pelan-pelan Harry memasangkan pada wajah putrinya. "Cantik," katanya.

Tapi Lily tak merespon apapun. Ia masih memikirkan perkataan Mrs. Alba. Harry dan Hermione begitu sayang padanya. Lily tidak yakin jika kedua orang tuanya akan tega membuangnya dengan meninggalkannya sendiri seperti hidup Mrs. Alba.

"Sayang? Kita pulang, ya! Masih kuat?" kata Hermione membangunkan lamunan Lily.

Lily mengangguk dan tersenyum.


Malam hari, Lily tak bisa tidur. Bayang-bayang tentang cerita Mrs. Alba terus terbayang.

"Aku tak pernah tahu tentang semua ini.. apa semua squib harus dibuang?" Lily keluar dari kamarnya. Tengah malam seperti ini, Lily ingin menyedniri di tempat lain. kepalanya masih pusing jika terus tidur di kamar.

Langkah kaki Lily terhenti di depan perpustakaan keluarga. Ruangan itu tidak dikunci. Kebetulan sekali, Lily memutar gagangnya dan mendorong pintu itu sampai terbuka. Gelap. Lily mengeluarkan ponselnya dan menyetel cahaya paling terang. Yups, Lily membuat ponselnya menjadi satu-satunya sumber cahaya di sana.

Deretan rak buku berjajar rapi di sana. Sebagian adalah milik Hermione. Kemudian milik Lily. Hanya beberapa bagian saja berisi buku-buku Harry dan juga milik dua anak laki-laki yang lain. James dan Al.

Kali ini Lily lebih tertarik dengan laci-laci di sudut perpustakaan. Yang ia ketahui, laci-laci itu berisi benda-benda ataupun barang-barang yang tergolong penting. Harry memperingatkan untuk tidak ada yang membuat isi laci itu sebagai mainan. Banyak sejarah yang terkandung dari barang-barang yang di simpan di sana.

Itulah mengapa Lily lebih tertarik membuka laci itu malam ini. "Mungkin ada titik terang tentang masalahku di sana," ujar Lily seperti berbisik. Ponselnya diarahkan ke penarik laci. Sekali tarik, laci itu terbuka.

Di dalamnya terdapat batu-batuan, kotak, perkamen sampai potongan-potongan koran Daily Prophet dan majalah sihir lain dari tahun ke tahun. Lily membaca judul-judul artikel yang disimpan. Seperti ketika Hogwarts kembali dibuka setelah perang dan kembalinya Kementerian Sihir di bawah pimpinan Kingsley. Sebagian banyak artikel yang disimpan bersisi tentang Harry dan Ginny, contohnya berita majalah Witch Week yang menulis tentang kiprah Ginny di Holyhead Harpies, Daily Prophet yang menulis pahlawan dunia sihir, Harry Potter, menikah dengan Ginny Weasley.

Satu artikel lagi Lily baca, "kelahiran James, putra pertama Harry Potter. Ahh James pernah masuk Daily Prophet juga," komentar Lily sambil tertawa pelan. Tangannya kembali membuka lembaran lain. Potongan artikel tentang diangkatnya Harry sebagai kepala Auror membuat Lily terdiam mengamati foto yang tertera di sana. Sebagain artikel yang ditulis bercerita tentang kehidupan Harry. Mengulas tentang profil Harry secara singkat.

Di sana tercetak foto bergerak Harry, James, Al yang masih kecil bersama Ginny yang tampak gemuk. Keempat orang itu tersenyum dan tampak bahagia sekali. James dan Al sedang bercanda sedangkan Ginny menciumi kepala Al yang lebih dekat dengannya. Sementara Harry tampak beberapa kali mengelus perut Ginny yang mengelembung sambil tersenyum bahagia.

Dibawah foto itu tertulis caption,

Kebahagiaan keluarga Potter akan semakin sempurna mengingat Ginevra Potter, sedang mengandung anak ke tiga mereka. Beberapa bulan lagi, sudah bisa dipastikan bayi ketiga mereka akan lahir.

"Aku sudah ada, tapi masih sembunyi," gurau Lily. Tangannya perlahan menyentuh wajah sang ibu. Telunjuknya mengelus wajah Ginny yang sedang tersenyum bahagia. "Aku merindukanmu, Mommy," bisiknya diiringi isakan tangis.

Tekanan emosi yang mulai muncul membuat kepala Lily terasa sakit. Rasa pusing itu kembali hinggap tepat di bagian belakang kepalanya. Lily berusaha rileks, mengatur napas agar rasa sakit itu hilang. Dan hasilnya, sedikit mereda dan perlahan hilang. Lily kembali membuka lembar-lembar-lembar potongan koran sihir itu.

Kertas selanjutnya tampak lebih baru. Benar saja, berita itu cukup baru. Artikel pertama yang Lily baca tentang Harry yang menjadi guru tamu di Hogwarts. Kemudian Lily menemukan potongan Daily Prophet lain yang kembali tampak kusam. Itu adalah berita tentang pernikahan kedua Harry. Foto pernikahan Harry dan Hermione terpampang jelas di sana. Lembar selanjutnya Lily menemukan potongan kertas yang baru.

Berita tentang keberangkatan pertama James ke Hogwarts. Lagi-lagi ada foto Harry di sana, dirinya pun ada. Tampak memeluk Hermione yang berdiri di samping Harry. Berlanjut ke berita keberangkatan Al di tahun selanjutnya, hingga potongan kertas yang kembali tampak usang.

"Kekacauan Kementerian?" baca Lily pada judul yang tercetak di sana. Lily melihat tahun berita itu ditulis. Tahun dimana ia lahir. Lily lantas membacanya sembari duduk di lantai. Bermodalkan cahaya dari ponselnya, Lily pelan-pelan membaca headline Daily Prophet 11 tahun yang lalu itu.

Kerusuhan terjadi akibat masuknya mantan pengikutin raja kegelapan yang menyusup masuk dan merusak sistem sihir Kementerian. Tercatat 58 pegawai dan penyihir sipil menjadi korban meninggal dalam kerusuhan itu. Salah satu koraban yang tidak disangka-sangka adalah istri dari kepala divisi Auror, Ginevra Potter, yang sedang mengandung sembilan bulan.

Leher Lily seperti tercekik. Itu berita tentang kematian ibu kandungnya.

Menurut saksi, salah satu buronan masih hidup dan belum tertangkap. Di saat kerusuhan mereda, pria yang tidak diketahui identitasnya itu melempar kutukan kematian pada kepala divisi Auror, Harry Potter, yang sedang beristirahat. Namun muncul serangan lain yang menghalau mantera tersebut hingga berbalik dan mengenai Ginevra Potter.

Hingga kini tidak diketahui siapa yang melemparkan mantra pelindung tersebut hingga membuat mantera terlontar salah sasaran, dimana Harry Potter-lah target utama mantera kematian itu, bukan sang istri. Mantera itu membunuh Ginevra Potter namun menurut informasi, bayi perempuan yang dikandung selamat dan lahir sehat.

"Siapa yang menyelamatkan Dad? Tapi, kenapa Mommy—" Lily menutup wajahnya dan menangis tertahan. Ibunya meninggal karena kesalahan seseorang tapi ia tidak tahu siapa. Lily kembali mencoba tenang. Rasa sakit itu kembali menyiksa kepalanya.

Lembar baru Lily temukan. Jauh lebih baru dari berita tentang keberangkatan Al ke Hogwars. Lily membaca berita pertama. "Ini membahas aku?" batin Lily ketika membaca judul yang menanyakan kebenaran dirinya seorang squib.

Pada berita lain, Lily kembali tertegun dengan judul yang ditulis oleh Rita Skeeter, satu hari setelah berita pertama tentangnya dimuat.

Lily Luna Potter, si Bungsu Potter yang Positif Squib

Judul yang mampu menahan napas Lily tiba-tiba. Airmatanya jauh lebih banyak keluar daripada berita-berita sebelumnya. "Mereka sudah tahu semuanya dan menyembunyikan semua ini dariku,"

Hogwarts membenarkan jika tahun ajaran ini tidak memiliki siswa bernama Lily Luna Potter. Bahkan menurut kepala sekolah Hogwarts, Prof. Minerva McGonagall, tidak ingin berbicara banyak tentang kebenaran bahwa putri dari kepala divisi Auror, Harry Potter, tidak bersekolah di Hogwarts. "Kami menjaga semua privasi siswa dan siapapun yang berhubungan dengan Hogwarts. Mr. Potter adalah wali murid dari siswa kami juga, jadi.. kami tidak ingin membuat mereka kecewa akibat pemberitaan ini," tutur Prof. McGonagall.

Begitupula dengan Harry Potter sendiri. Saat ditemui dalam acara peresmian gedung Kementerian baru di wilayah perbatasan Irlandia, ketika ditanya tentang keberadaan putrinya, Harry Potter mengungkap jika putrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. "Lily di tempat yang aman dalam keadaan baik-baik saja."

Lagi-lagi jawaban yang penuh misteri. Harry Potter tidak mengungkap secara jelas di mana dan bagaimana keadaan Lily Luna Potter saat ini. benarkah isu yang beredar jika Lily diasingkan ke negara lain? Atau dengan kata lain, dibuang jauh untuk menghindari rusaknya nama baik keluarga Potter yang termasyur sepanjang sejarah?

Brukk! Pintu tiba-tiba terbuka dan lampu menyala. Wajah Lily kini terlihat jelas. Pucat dan memerah. Hermione yang panik lantas memeluk Lily dalam pelukannya. Namun, Lily berontak.

"Lily, kau kenapa, sayang? Kau—" suara Hermione terputus saat Lily menemukan potongan artikel yang selama ini ia sembunyikan. "Sayang, sebenarnya—"

"Apa? Bahwa selama ini aku diasingkan dari dunia sihir karena Mom dan Dad malu punya anak seorang squib? Mungkin," Lily mengangkat artikel yang memuat berita dirinya tepat ke depan wajah Hermione, "berita ini benar. Dan seperti nasib Mrs. Alba, aku mungkin akan kalian buang jauh sebentar lagi," suara Lily terdengar tak jelas. Napasnya memburu karena menahan sakit yang lagi-lagi terasa.

"Kau bicara apa, sih, sayang?"

"Lalu ini juga," Lily menunjukkan berita kerusuhan Kementrian, "ada yang membuat Mommy meninggal. Orang yang menyelamatkan Dad tapi membunuh Mommy, bukan pelakunya. Kenapa Dad tidak mencari tahu siapa yang melempar mantera pelindung itu? Atau aku sendiri yang akan mencarinya?"

Hermione sudah menangis di depan Lily, memegang pundak gadis itu yang mulai lemas. "Untuk apa, Lily? Untuk apa?"

"Untuk bertanya, kenapa tak sekalian membuatku mati juga? Kenapa harus Mommy saja yang meninggal kalau aku diselamatkan ternyata menjadi aib untuk keluarga ini. Aku ingin memintanya membunuhku juga. Dia jauh lebih kejam membiarkanku hidup seperti ini daripada membiarkanku ikut mati bersama Mommy." Teriak Lily begitu keras.

"Enough, Lily, cukup!" Lily lantas diam. Menundukkan kepalanya sambil terus menangis.

"Kenapa harus kau yang ikut mati, Lily?" keadaan seperti ini, Hermione sulit memperhalus kata-katanya. "Harusnya Mom yang mati. Agar Mom tidak selalu dibayang-bayangi rasa bersalah yang besar terhadapmu,"

Lily memelankan isakannya, mengikuti perintah tangan Hermione agar menghadapkan wajahnya pada sang ibu tiri. "Mom yang melakukan itu." kata Hermione.

"A-ap apa?"

"Mom yang melempar mantera pelindung itu untuk melindungi Dad dan mengarahkannya ke tempat yang salah, di mana Mommy Ginny datang dan—"

Dengan cepat Lily menyingkirkan tangan Hermione dari wajahnya. Menolak tangan itu seperti menyingkirkan barang kotor. "Untuk apa? Selama ini untuk apa, Mom?" tanya Lily penuh rasa sakit yang dalam.

"Mom sangat mencintai Dad. Mom tak ingin mantra itu membunuh orang yang sangat Mom cintai di depan mata kepala Mom sendiri. Mom refleks memberikan mantra pelindung dan mengarahkan ke arah yang lain. Mom tak berniat untuk membunuh siapapun, tapi—"

"Mom mengarahkan pada Mommy, dan membuatnya pergi tanpa memberikan kesempatan untuk aku mengenalnya lebih dekat," potong Lily.

Suara Hermione makin bergetar merasakan atmosfer di sana begitu menyakitkan. Semuanya telah terbuka, "maka dari itu Mom tak ingin membuatmu makin menderita. Apalagi saat kenyataan bahwa anak dari wanita yang pergi karena kecerobohanku sendiri terlahir sebagai squib karena ulahku sendiri, Mom berjanji tak akan membuatmu menderita dengan menyembunyikan semuanya,"

"Maafkan Mom, Lily," Hermione memohon sampai hampir menyium kaki Lily. Liliy kini tak sudi melihat wajah penyesalan ibu tirinya itu. Wanita yang selama ini ia sayangi, ternyata dialah yang membuatnya menanggung semua penderitaan itu.

Lily bangkit dengan tubuh terhuyun-huyun menahan sakit di kepala, menyadari ada orang lain yang memperhatikan mereka dari arah pintu. "Kalian jahat!" pekik Lily kemudian meninggalkan Hermione sendirian di luar. Lily mondorong tubuh Harry, yang telah lama berdiri mendengar semua pengakuan itu agar menjauh dari pintu. Lily tampak berlari sambil memegang kepalanya menuju kamar.

Masih di dalam perpustakaan, Hermione perlahan bangkit dan menangis sambil memukul tembok. "Kenapa kau diam selama ini, Mione?" tanya Harry perlahan.

"Aku sudah merusak semuanya, Harry. Aku menghancurkan hidupmu, aku membunuh orang yang sangat kau cintai. Ibu dari anak-anakmu. Membuatmu hampir kehilangan semuanya," racau Hermione penuh emosi. Wajahnya semakin tak karuan antara marah dan menangis.

"Tapi kau memperbaikinya. Kau membantu memulihkan semuanya jauh lebih baik. Itu kecelakaan," Harry semakin mendekat.

"Tapi berakhir seperti ini. Aku wanita yang bodoh, Harry—"

"Aku mencintaimu, Hermione,"

Harry memegang kedua pundak Hermione begitu erat. Bahkan meremasnya. Hermione berusaha mengelak tapi tak mampu. Badannya lemas terlalu lama menangis. "Lepaskan aku, aku tak pantas ada di kehidupanmu, Harry, no no please! Lepaskan!" bentak Hermione penuh emosi.

"Baiklah, agar kau puas, apa yang kau inginkan sekarang?" tantang Harry tak tahan melihat Hermione terus menyalahkan dirinya sendiri.

Wanita berambut ombak itu berusaha tegar menghadap Harry. Wajahnya sedikit menegadah mengimbangi tubuh Harry yang sedikit lebih tinggi darinya. Hermione menatap lekat manik hijau sang suami lantas berkata, "ceraikan aku!" dengan tegas dan yakin.

- TBC -


#

Hem.. bagaimana, kepanjangan? Nggak bisa komentar banyak. Konflik mulai muncul di chapter ini, jadi chapter-chapter selanjutnya Anne bilang akan banyak masalah yang muncul.

Semoga tidak bosen ya ikuti cerita Anne ini. Semoga menghibur! Anne tunggu review kalian. Maaf Anne udah ngantuk jadi nggak bisa banyak cuap-cuap. Tunggu kisah selanjutnya, esok, insha Allah! :)

Thanks,

Anne x