Hi, everyone!

Hampir tengah malam, Anne lagi-lagi muncul dengan chapter baru. Hehehe.. ya begitulah. Panjang juga jadinya. Anne hanyabisa ucapkan terima kasih untuk semua teman-teman yang baca dan juga review. Sebenarnya Anne nggak masalah tentang banyak tidaknya review, hanya saja Anne lebih suka saja kalau ada yang mau berbagi komentarnya untuk Anne. Tapi.. tak masalah, seperti komitmen yang sudah sejak awal Anne buat, Anne akan tetap tulis dan selesaikan cerita meskipun tidak ada yang baca, ihh emang agak memprihatinkan, tapi Anne yakin, Anne bisa menghibur kalian semua yang suka membaca cerita Anne.

Langsung saja deh, thanks, buat yang sudah review! :)

Happy reading!


Wanita berambut ombak itu berusaha tegar menghadap Harry. Wajahnya sedikit menegadah mengimbangi tubuh Harry yang sedikit lebih tinggi darinya. Hermione menatap lekat manik hijau sang suami lantas berkata, "ceraikan aku!" dengan tegas dan yakin.

"What?" Harry syok. "Kau mau membuat masalah ini semakin besar, Mione? Katakan kalau kau tak serius dengan kata-katamu tadi," tanya Harry meminta penjelasan.

Cerai, Hermione meminta cerai dan diwajahnya sama sekali tak menunjukkan bahwa permintaannya tadi hanya bercanda. Tepat pukul satu malam, Hermione menolak Harry menyentuh tangannya. Meski hanya untuk menenangkan.

"Kalau kau tak bisa, aku yang akan urus semuanya—"

"Hermione, you're my wife!"

Brukk!

Suara seperti sesuatu terjatuh terdengar dari arah kamar. Harry mendengarnya jelas karena posisinya lebih dekat dengan pintu dibandingkan Hermione. "Itu seperti dari kamar Lily.. Lily!" secepat kemudian Harry berlari mendatangi kamar Lily yang tak jauh dari perpustakaan. Ia meninggalkan Hermione yang tetap diam tanpa ingin mengikutinya mencari tahu suara apa.

Di depan kamar Lily, Harry ragu untuk membuka pintunya. Tidak ada suara teriakan atau tangisan mengingat terakhir Harry melihat Lily, putrinya itu sedang menangis. Harry berusaha untuk tetap berpikir positif, berharap Lily tidak mengalami hal-hal buruk di dalam sana.

Perlahan pintu terbuka, dan apa yang pertama kali tertangkap oleh mata Harry adalah.. kepala Lily berada di lantai. Ya, Lily jatuh dan tak sadarkan diri.

"Lily! Bangun, sayang! Buka matamu! Lily!" Teriak Harry luar biasa panik. Kedua tangannya menopang leher belakang Lily agar kepalanya lebih tinggi. Badan Lily dingin dengan wajah memucat. Bibirnya biru dan memar di kepalanya belum mengempis.

Di luar, tampak Hermione berdiri melihat keadaan Lily yang tak sadarkan. Tapi ia tak mendekat. Hanya melihatnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil menangis. Harry menyadari kedatangan Hermione, memanggilnya agar ikut mendekat menyadarkan Lily.

Harry berteriak, "Mione, bantu aku. Lily tak sadar," pintanya. Namun yang diminta hanya diam tanpa berusaha membantu. "HERMIONE," bentak Harry dipuncak kemarahannya, "aku mohon!" sambungnya jauh lebih tenang.


Harry sepakat membawa Lily ke accident & emergency department terdekat. Harry memikirkan keadaan Lily yang rawan jika melakukan Apparate. Lagi pula, sebelumnya ketika kecelakaan terjadi, Lily dirawat di A&E rumah sakit yang sama.

Hampir setengah jam berlalu, belum ada petugas medis yang keluar untuk menemui Harry dan Hermione. Pintu ruang emergency masih tertutup rapat. Tengah malam tidak membuat rumah sakit itu sepi dari aktifitas medis. Harry cukup beruntung ketika membawa Lily, dokter Rachel, dokter yang menangani Lily saat mengalami kecelakaan, kembali menangani Lily malam ini. Setidaknya, kondisi Lily sudah diketahui oleh dr. Rachel sebelum memberikan tindakan lanjut.

Dua buah pintu ruang emergency terbuka bersamaan. Tidak lebar, namun cukup untuk dilalui dr. Rachel yang keluar menemui Harry dan Hermione. "Mr. Mrs. Potter," salam dr. Rachel sopan.

"Bagaimana keadaan Lily, dokter?" tanya Harry panik.

"Maaf, Mr. Potter. Saya sampaikan bahwa Lily.. dalam kondisi kritis," kata dr. Rachel pelan. Ia membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya lantas membiarkan tergantung di leher.

Hermione menahan jeritnya. Membayangkan kata kritis yang sungguh menakutkan. "Apa yang terjadi, dok? Mengapa Lily sampai bisa kritis? Dia baik-baik saja, kan, kemarin? Hanya memar dan sakit kepala saja," tutur Harry dengan suara bergetar.

"Benar, Mr. Potter. Namun, hasil pemeriksaan scan kepala Lily menunjukkan ada pendarahan otak di kepalanya. Dan ini sudah menyebar luas pada sebagian besar tempurung kepalanya,"

Menurut dr. Rachel, Lily mengalami pendarahan otak yang belum parah saat kecelakaan. Ini yang mengakibatkan Lily masih sadar meski mengalami sakit kepala yang menyakitkan serta memar di kepalanya. Semua tampak jelas saat para tim dokter melakukan pemeriksaan CT scan pada kepala Lily. "Ada indikasi syaraf Lily terganggu hingga membuatnya jatuh dan tak sadarkan diri. Kami butuh persetujuan keluarga untuk segera dilakukan tindakan operasi. Kami akan membersihkan darah yang menyubat. Jika tidak, otak Lily akan sulit mendapat oksigen dan bisa berakibat fatal," tutur dr. Rachel.

"Harus operasi?" tanya Hermione untuk pertama kali. Harry melirik istrinya. 'Hermione masih tak tega dengan Lily,' batin Harry.

"Benar, Mrs. Potter. Kami harus segera melakukan pembedahan. Jika tidak, kami takut mengambil risiko terbesar."

Harry menghadap Hermione lantas memeluknya erat. Menenangkan tangis Hermione yang semakin kencang. "Aku memang ibu yang gagal, Harry. Ini semua salahku," bisik Hermione.

"Sudahlah, Lily harus melakukan operasi segera. Demi kesembuhan Lily," balas Harry. Kemudian ia menyampaikan kesediaannya untuk mempersilakan para dokter melakukan operasi segera. Dr. Rachel mengangguk dan mempersilakan Harry mengikutinya menuju ruang administrasi.

Sebelum pergi, Harry menggenggam tangan Hermione. Tidak sama seperti sebelumnya, Hermione menerima tangan Harry dan meremasnya pelan. "Masuklah, dokter membolehkan kau masuk menemui Lily,"pesan Harry sebelum pergi.

Dengan langkah gontai, Hermione memasuki ruang dimana Lily sedang dipersiapkan untuk segera dilakukan tindakan pembedahan. Hermione menatap tubuh lemah Lily dengan berurai air mata. Rambut Lily sedang di pangkas oleh seorang petugas laki-laki berseragam perawat. Rambut merah sebahu Lily kini menjadi sangat pendek.

Sampai akhirnya rambut kebanggaan Lily perlahan hilang.

"Maafkan Mom, Lily. Ini semua salah Mom. Kau tak akan merasakan sakit seperti ini jika semua itu tak pernah Mom lakukan," batin Hermione di sisi ranjang Lily. Ia takut menyentuh tubuh Lily yang penuh dengan selang-selang menancap di tangannya. Lebih membuat Hermione sedih ketika melihat adanya selang berdiameter cukup besar masuk dimasukkan ke sisi mulut Lily. Membuat gadis 11 tahun itu tidak bisa menutup mulutnya sempurna, meskipun dibantu dengan perekat.

Langkah terburu-buru dari dr. Rachel menyadarkan Hermione untuk segera menjauh dari Lily. "Kami tahu ini sangat berat bagi kalian. Tapi saya harap, kalian bisa menyerahkan segalanya pada Tuhan. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk putri kalian," dr. Rachel menepuk pundak Hermione pelan.

"Selamatkan Lily," pinta Harry sungguh-sungguh.

"Kami mohon," tambah Hermione penuh harapan.


Beberapa keluarga berkumpul setelah operasi Lily usai. Menjelang pagi, Lily dipindahkan ke ruang rawat. Sampai dua jam berikutnya, Lily terus dipantau dengan para dokter serta bantuan berbagai alat yang terpasang ke tubuhnya.

Berita mengejutkan dr. Rachel sampaikan setelah Lily mengalami kejang di pagi hari. Hasil pemeriksaan lanjutan Lily menunjukkan kondisi otak Lily benar-benar tidak baik. Di mana berimbas pada sistem saraf Lily. "Seperti efek samping yang biasa dialami oleh pasien yang baru menjalani pembedahan otak, Lily akan kesulitan berbicara, melihat sampai berpikir. Namun yang lebih parah lagi, Lily mengalami.. kelumpuhan," terang dr. Rachel.

"Lumpuh? Cucuku tidak bisa bergerak?" Molly panik bukan main. Sejak sampai di rumah sakit, ia terus saja menangis di sisi ranjang Lily sambil terus menggenggam tangan Lily. Molly juga yang mendapati pertama kali ketika Lily kejang.

Dr. Rachel membenarkan, "kedua tangan dan kakinya akan sulit digerakan. Tapi tenang saja, bisa dilakukan terapi setiap hari agar syarafnya bisa bekerja lebih baik. Karena dalam keadaan koma, pasien masih bisa menerima rangsangan syaraf seperti pijatan pelan,"

Harry tertegun ketika mendegar istilah 'koma' yang tak sengaja tertangkap lebih dulu di otak Harry, "dokter bilang, koma? Lily—"

"Benar, Mr. Potter. Putri anda koma,"

Dan tangis para wanita yang berada di kamar Lily pun pecah bersamaan. Berhambur satu persatu mendekat ke tubuh Lily. Mencium kepalanya, mengelus punggung tangannya, membelai pipinya sampai memeluk tubuhnya erat mereka lampiaskan ke tubuh tak berdaya Lily. Tidak jarang mereka saling bersahutan menanyakan 'apa salah Lily? Dia hanya anak-anak,' entah kepada siapa. Merutuki nasip anak yang menanggung semua beban rasa sakit itu.

Menyedihkan. Sangat menyedihkan berada di posisi Lily.


Satu bulan berselang, Lily tak kunjung sadar. Kondisinya naik turun setiap harinya. Para keluarga bergantian menemani Lily di rumah sakit. Para saudara dan teman Harry-Hermione berkunjung untuk menengok keadaan Lily yang sama sekali belum menunjukkan kabar baik.

Harry bahkan meminta salah seolah healer St. Mungo untuk datang ke rumah sakit untuk membantu penyembuhan Lily dengan sentuhan sihir. Berkat Hannah, setiap minggunya, ia membawa rekannya untuk membantu memberikan energi untuk memperkuat tubuh Lily selama penyembuhan. Mulai dari keluarga Weasley, bahkan orang tua Hermione bergantian datang ke rumah sakit untuk menemani Lily. James dan Al, didampingi oleh Neville, mendapatkan ijin keluar Hogwarts untuk menjenguk adik mereka beberapa kali.

Tampak James dan Al tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat keadaan Lily yang memprihatinkan. "Kau harus bangun, Lily. Aku akan ajak kau terbang dengan sapuku," bisik James di telinga kanan Lily.

"Aku akan ajari kau berenang lebih baik. Supaya kau bisa menang melawanku berenang," bisik Al di telinga kiri. Sejak kecil Al paling pandai dalam berenang. Ia menjuarai berbagai kejuaraan berenang yang membuat Lily iri dan bersihkeras ingin berlatih berenang seperti Al. Namun, karena terlalu keras kepala, Lily sempat nekat terjun ke kolam renang sedalam dua meter ketika usianya lima tahun. Lily hampir mati tenggelam sebelum Hermione tahu dan menyelamatkan Lily kembali ke permukaan. Sejak saat itulah, Lily benar-benar dilarang Harry untuk berlatih renang dengan alasan ketakutan Harry pada kejadian saat itu.

Hermione sepenuh tinggal di rumah sakit. Ia-lah yang tidak pernah beranjak jauh-jauh dari Lily. Sikapnya masih dingin jika Harry dan dirinya saja yang berada di ruangan Lily. Misalnya ketika malam suka mendapati Hermione tidak makan dan memilih tidur dengan posisi duduk di sisi ranjang Lily sambil terus menggenggam tangan Lily. Berjaga-jaga jika saja Lily sadar.

"Istirahatlah, Mione. Nanti kau sakit," pinta Harry.

"Tidak, aku masih membersihkan tubuh Lily. Ini masih sore, Harry, belum waktunya istirahat. Lily bisa kedinginan nanti," ujar Hermione masih mengelap lengan Lily dengan handuk basah.

Harry meletakkan satu kotak makanan Hermione yang baru ia belikan. "Jangan terus memaksakan tubuhmu—"

"Aku harus lakukan ini dengan baik. Aku ingin merawatnya dengan baik sebelum kita benar-benar berpisah,"

"Mione!" Harry menarik tangan Hermione, menahannya agar berhenti membersihkan tubuh Lily dan membuat mereka saling berhadapan, "dengar aku! Aku tak akan pernah mau menceraikanmu. Tak akan!" ancam Harry. Irisnya melebar emosional.

Hermione mendengarnya lantas diam, tanpa ekspresi. "Sudah selesai berbicaranya? Kalau sudah aku mau mengeringkan badan Lily, kau tak mau, kan, kalau Lily kedinginan?" tanyanya sarkastik.

Perlahan Harry melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan lengan Hermione. Membiarkan Hermione kembali sibuk dengan handuk dan tubuh Lily. Ya, Hermione masih kukuh pada niatnya berpisah dengan Harry. Tekatnya sudah bulat. Ia tak mau lagi menjadi bencana dalam hidup Harry dan ketiga anaknya. Harry dan Hermione kembali saling diam sampai keduanya larut dalam tidur mereka yang kini tak pernah nyenyak.

Matahari muncul juga pagi ini. Sinarnya menyusup cantik di sela-sela gorden ruang rawat Lily membuatnya sedikit tampak terang tanpa cahaya lampu. Hermione bergerak dalam kungkungan selimut di atas tubuhnya. Selimut, lagi-lagi Harry memberinya selimut saat tertidur di sisi Lily. Tangannya masih belum lepas menggenggam jemari Lily.

Hermione terbangun cukup pagi dibandingkan hari biasanya. Ada yang mencoba membangunkannya. Tapi bukan dari luar, melainkan dalam perutnya. Tangannya memegang permukaan perutnya sambil melirik ke atas meja. Kotak makanan miliknya yang dibawa Harry semalam tidak ia sentuh sama sekali.

Tiba-tiba muncul rasa mendesak hebat dari dalam perut Hermione. Memaksa untuk dikeluarkan dengan cara paksa. Cepat, ia menyibak selimut dan berlari masuk ke toilet ruang rawat Lily. Membuka kloset dan memuntahkan apapun dari mulutnya.

Suara tidak mengenakandari arah toilet membuat Harry terbangun dari tidurnya. Menggaruh kepalanya dan bertanya-tanya suara apa itu. "Hermione?" katanya pelan. Selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh Hermione sudah tergeletak di lantai.

"Kau tak apa?" Harry menghampiri Hermione yang tertunduk di mulut kloset sambil terus memuntahkan isi perutnya yang kosong.

"Uhuk— jangan mendekat, Harry, aku mohon, uhuk—" cegah Hermione.

"Tidak apa, keluarkan semuanya. Kau sakit, Mione. Kau terlalu memvorsir tenagamu merawat Lily. Kau selalu telat makan," Harry memijat tengkuk Hermione membantu istrinya lebih nyaman.

Hermione menggeleng sambil terus muntah dan terbatuk-batuk.

"Aku tak apa, kau jangan khawatir," ujar Hermione.

"Tidak, kita sedang di rumah sakit. Jadi, kita langsung periksakan saja kesehatanmu sekarang."

"Aku tak apa-apa, Harry. Tak perlu—"

"Mione, aku masih suamimu. Dan kewajibanmu harus ikut dengan apa yang aku minta. Demi dirimu juga, Hermione. Aku takut terjadi sesuatu," kata Harry. Sejenak kemudian, Hermione mengangguk dan menurut juga untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Mereka lantas menemui dokter gizi yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Berharap meminta saran untuk menjaga stamina tubuh, Hermione diminta masuk ke ruangannya untuk dilakukan pemeriksaan.

Lima belas menit kemudian, tirai pemisah ruang periksa dan meja dokter terbuka. Harry kembali menegapkan tubuhnya dan duduk lebih nyaman. Hermione membetulkan bentuk pakaiannya dan bergegas duduk di samping Harry.

"Hem.. seperti yang saya duga sebelumnya. Mr. Potter, boleh saya bertanya?" kata Dr. Feist.

"Silakan, dok," ujar Harry.

"Anda memiliki berapa anak, Mr. Potter?"

Deg, Harry tiba-tiba bingung. Apa hubungannya dengen penyakit Hermione?

"Tiga, dok," jawab Harry tanpa ragu.

"Tiga?" ulang Dr. Feist sambil menatap Hermione tajam.

Harry menyadari Hermione merasa tak nyaman mendapat tatapan penuh tanya dari dokter wanita itu. "Ahh ya, tapi dengan mendiang istri saya. Hermione adalah istri kedua saya," jelas Harry.

"Ahh maafkan saya, hanya saja saya heran mengapa Anda tidak menyadari sesuatu dari istri Anda, Mr. Potter," gurau dr. Feist sambil tersenyum, "maksud saya, perubahannya. Begini berapa usia anak anda yang terakhir?"

Ragu-ragu Harry menjawab, "sebelas," katanya.

"Cukup lama juga jaraknya. Pantas saja anda lupa bagaimana ciri-ciri orang hamil,"

Demi jenggot Merlin, Harry dan Hermione seperti baru saja mendapat mantera petrificus totalus. Pagi-pagi sekali kejutan datang kepada mereka berdua. Bertemu dengan dokter gizi lantas berbicara, memeriksakan diri dan dikatakan hamil. Hermione hampir gila.

"Hamil?" kata Harry dan Hermione bersamaan.

"Ya, apa anda ingat terakhir kali datang bulan, Mrs. Potter," tanya dr. Fiest sambil menuliskan sesuatu di atas kertas putih.

Mata Hermione berputar mengingat-ingat kapan ia terakhir kali datang bulan, "tidak teratur, dok. Dan seingat saya, sekitar hampir dua bulan yang lalu," kata Hermione.

"Sebelum benar-benar melihatnya dengan USG," dokter berabut ikal itu menyerahkan kertas rujukan Hermione ke dokter kandungan pada Harry dan menyalaminya, "saya ucapkan dulu selamat atas kehamilan istri anda, Mr. Potter. Kalau menurut perhitungan saya tadi, ada sekitar enam minggu usia janinnya. Tapi lebih jelasnya nanti dengan dr. Shopia, saya sudah tulis surat rujukan untuk anda , Mrs. Potter. Sekali lagi selamat,"

Di luar ruangan dr. Fiest, Harry tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Hermione erat. "Kau hamil, Mione. Kita akan punya anak," kata Harry bahagia.

"Tapi itu tidak mungkin, Harry. Pasti ada kesalahan. Kau tahu sendiri kalau aku memasang mantera pencegah kehamilan di tubuhku sejak kita menikah. Tidak mungkin aku hamil,"

"Mione, dokter itu mengatakan kalau kau hamil. Hasil pemeriksaannya menunjukkan kau hamil. Dan memang, aku sudah melihat perubahanmu sejak beberapa hari lalu. Kau sedikit berisi dan selera makanmu yang berubah,"

"Tapi—"

Harry memeluk kembali Hermione dan mencium dahinya pelan. "Kalau kau masih ragu, kita ke St. Mungo. Kita cari tahu secara sihir, benarkah kau hamil dan bagaimana dengan mantera itu,"

Hermione pun setuju. Mereka menelepon ibu Hermione yang berada di ruang Lily meminta ijin menjaga Lily sedikit lebih lama karena mereka ingin keluar untuk mengurus sesuatu. Keduanya lantas masuk ke dalam lift dan berapparate bersama.


"Positif. Aku merasakan ada energi lain di dalam rahimmu, Mione."

Hannah menurunkan tongkatnya dan menyunggingkan senyuman terindah di hadapan Harry dan Hermione. "Selamat,"

"Tapi, aku memasang mantera anti kehamilan. Mengapa bisa aku hamil?" Hermione masih tak yakin dengan hasil pemeriksaan dirinya.

"Mione, aku sudah memeriksa unsur sihir di tubuhmu. Dan memang tidak ada—"

"Tidak ada?" tanya Harry ikut terkejut. "Tapi itu sudah terpasang bertahun-tahun lalu, Hannah,"

"Memang. Masih ada sisa bekas melekatnya mantera sihir di tubuhmu. Tapi hanya sisa, jejak sihir. Itu artinya, memang kau memberikan sihir anti kehamilan itu pada dirimu tapi, apa kau lupa pernah melepasnya?"

Harry dan Hermione saling berhadapan. Menuntut ada jawaban dari salah satu dari mereka.

"Atau mungkin kau sempat berada di dekat perapal mantera penetralan sihir?"

Harry tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia teringat ketika sore di saat ia datang dari Diagon Alley dan melihat Hermione dan Lily sedang bercengkrama membahas tentang Ginny. Saat Lily pergi bermain di rumah tentangga, Harry sempat merapalkan mantera penetralan untuk rumahnya yang sedang ia pasang mantera anti-Apparate untuk memudahkan James dan Al pulang. Dan saat itu, Hermione berada sangat dekat di depan Harry.

"Nah, itu berdampak juga dengan dirimu yang terikat dengan mantera, Mione. Mantera penetralan itu bekerja untuk semua objek yang memiliki sihir di area yang sama. Jadi hasil ini memang benar. Kau mengandung, Hermione." Hannah begitu yakin.

Bukti terakhir, Hermione harus kembali memeriksakan dirinya ke dokter kandungan rujukan dari dr. Fiest. Harry menyaksikan sendiri layar USG menunjukan gumpalan kecil tampak jelas yang berasal dari rahim Hermione.

"Istri anda positif hamil, Mr. Potter. Usianya 6 minggu. Dijaga baik-baik kandungan anda, ya, Mrs. Potter. Karena ini adalah kehamilan pertama anda. Begitu juga mengingat anda sekarang di usia menjelang 40-an. Sangat rawan sekali. Jadi pesan saya, jangan terlalu bekerja berat. Jaga asupan makanan dan rutin berolahraga ringan,"

Seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Hermione positif hamil. Mengandung buah cintanya bersama Harry. Namun Hermione merasa, itu bukan waktu yang tepat untuk mengabarkan kabar gembira tentang kehamilannya di saat Lily terbaring sakit.

Hermione tak mau menjadi wanita egois.

"Kita akan memiliki bayi, Mione, adik James, Al dan Lily. Mereka sudah lama menginginkan adik di tengah-tengah mereka. Dan..," Harry memutar badan Hermione. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hermione lantas berkata, "aku tak akan meninggalkanmu dalam keadaan mengandung. Aku akan selalu menemanimu, dan merawat dia bersama-sama," tutur Harry sembari mngelus perut rata Hermione pelan.

Entah apa yang kini Hermione risaukan. Ia akan benar-benar menjadi ibu. Tapi hatinya.. hatinya belum siap menerima keadaan ini sepenuhnya. Bahagia di atas penderitaan orang lain?

- TBC -


#

Yups, Anne minta maaf kalau banyak istilah medis yang aneh. Kalau A&E itu memang ada. Setahu Anne istilah UGD di Inggris sana lebih akrab pakai A&E daripada ED (emergency department). Terus untuk proses sakitnya Lily, hanya sebatas sepengetahuan Anne aja tentang efek pendarahan dalam dan apa saja pengaruhnya, misal lumpuh, dan bagian medis lain. Secara keseluruhan masih ada campur tangan imajinasi juga dari Anne.

Emm apa lagi, ya.. Untuk Hermione hamil, ini hasil request para reviewers. Anne sudah rundingkan dengan Harry dan Hermione, nih, dan mereka sepakat mau buatin adek buat Lily. Hehehe... :) Mungkin sampai di sini. Tinggalkanlah review supaya Anne senang. Anne tetap sayang kalian semua. Tunggu chapter selanjutnya!

Thanks,

Anne x