Hi, everyone!
Maaf, kemarin Anne nggak bisa update. Soalnya lagi asik main sama adik kecil tetangga Anne yang sampai malam banget main ke rumah. Jadi nggak sempat ngetik. Jadi baru hari ini, itupun malam lagi. Maaf, ya! Yah, Anne sebenarya seneng soalnya malam ini begadang sambil ditemani ayah nonton sinetron di R*TI. Harimau itu, loh! Eh tiba-tiba tahu ada iklan HP yang The Goblet Of Fire. Sekilas Anne lihat kok malam ini jam 11 malam. Tapi sampai tunggu selesai, kok, malah sinetron Sakinah-sakinah itu. Yahhh pasrah, jadi ganti nonton MTV sambil nyanyi-nyanyi.. *lah, kenapa Anne jadi curhat?*
Ninismsafitri: Yups, memang spasi laptop Anne agak susah. Biasa ngetik cepat, tapi tombol spasi harus ditekan agak kuat sedangkan jempol Anne geraknya hanya asal tekan aja. Mungkin Anne akan perhatikan lagi. Ya begini kalau latihan pianonya pakai piano digital, bukan piano akustik. Jarinya enteng.. *nggak nyambung* Terima kasih koreksinya.
Syarazeina: hore.. tuh, aku udh rundingin sama Harry-Hermione, jadi deh adiknya! Hehehe... lihat chapter ini, apa Lily bangun? thanks! :)
Afadh: Jangan takut, ini hanya cerita.. hehehe semoga yang terbaik untuk Lily, amin.. hehehe.. thanks :)
Baiklah, langsung, yuk!
Happy reading!
Lily telah menjadi penghuni kamar nomor 539 selama tiga bulan terakhir, koma dan belum sekalipun sadar sejak menjalani operasi. Sebagian urusan rumah tangga bahkan Hermione dan Harry sepakat dilakukan di rumah sakit seolah mereka sedang pindah rumah. Bagian sisi ranjang Lily dipasang satu ranjang tidak terlalu besar. Harry meminta pihak rumah sakit menyediakan satu kasur untuk Hermione. Kasihan, sepanjang trimester pertama kehamilannya, Hermione menghabiskan waktu hanya untuk mengurus Lily.
Mual tiap hari, badan yang selalu lemas, mood yang naik turun terkadang membuat Harry tak tega melihat istrinya terus kerja keras mengurus kebutuhan Lily. Tidak tanggung-tanggung, memijat tangan dan kaki Lily setiap pagi dan malam, membersihkan badan Lily sampai membantu memberikan obat semua Hermione kerjakan.
Terkadang, memang tidak selalu Hermione saja yang berada di sana. Keluarga serta penjenguk lain dari rekan kerja Harry maupun sahabatnya sesekali berkunjung dan melihat keadaan Lily. Sedikit banyak Hermione merasa terbantu dengan kedatangan mereka.
"Mom harus banyak istirahat, ya. Kasihan adik kami yang masih di perut. Maaf, aku dan James tidak bisa menjagamu selama kami di Hogwarts," kata Al saat menemani Hermione duduk di sofa saat perayaan natal bersama keluarga Weasley yang sengaja diadakan di kamar rawat Lily.
Hermione senang mendengar kehawatiran Al padanya. Al memang paling perhatian dengan Hermione, dan anak laki-laki itu tidak pernah malu jika ia sering bermanja-manjaan dengan sang ibu tiri. Baginya, Hermione adalah wanita terbaik setelah Ginny, ibu kandungnya.
"Tidak apa-apa, Al. Mom bisa menjaga diri. Mom, kan, harus merawat Lily. Kasihan kalau hanya dokter dan perawat saja yang mengurus. Mom harus ikut turun tangan," ujar Hermione.
"Ya, Mom memang keras kepala. Sama seperti Dad. Mangkanya—" suara Al terhenti. Ia melihat kearah Harry yang yang duduk di sisi ranjang Lily. Tangannya mengelus rambut Lily yang mulai tumbuh kembali setelah dipangkas akibat operasi. Al lantas kembali memperhatikan Hermione, "Mom jangan berpisah dengan Dad," kata Al lirih, bahkan terdengar seperti berbisik.
Hermione tertegun. Al mengetahui perselisihannya dengan Harry. "Aku tahu semuanya, Mom. Bahkan James juga. Tapi kami diam. Kami takut membuat masalah ini semakin besar. Kami menyayangimu, Mom. Apapun yang telah Mom perbuat dulu itu hanya kecelakaan. Mom tak pernah bermaksud membunuh Mommy. Kami tahu itu, Mom. Kau wanita yang baik. Apa Mom pernah berpikir, akan jadi apa kami di tangan Dad saat itu jika Mom tak datang di kehidupan kami? Mungkin Dad akan terus menjadi gila, dan kami akan lari ke panti asuhan mencari perlindungan," Al bercerita dengan linangan airmata, mencurahkan segala unek-uneknya pada Hermione begitu pribadi. Duplikat dari Harry itu tidak pernah bisa meluapkan emosinya bahkan saat ia merasa sedih. Dan saat itu, di hadapan Hermione, Al menangis.
"Lihatlah James, dia suka sekali membuat masalah dengan Mom dan Dad, kan? Tapi kini tidak, karena James ingin menjaga privasi kalian berdua. Aku dan James tidak mau merusak hubungan kalian dan membuatnya semakin parah. Kami tak mau kehilang sosok ibu lagi dalam hidup kami, Mom. Kami sudah cukup kehilangan ibu kandung kami untuk selamanya. Kami mohon, tetaplah menjadi ibu kami. Aku yakin Lily akan bisa menerimamu kembali. Ia sangat menyayangimu, Mom. Jadi please!"
Dan sejak hari natal itulah, Hermione menyadari bahwa dirinya pun menginginkan hal yang sama. Ia menyayangi anak-anaknya. Ia pun mencintai Harry. Mencintai keluarga kecilnya. "Ginny sudah tenang di sana. Dia juga ingin membuat kita bahagia. Aku tak mau kehilangan wanita yang aku cintai untuk kesekian kaliannya, Mione. Aku mohon padamu, Hermione Jean Potter. Tetaplah bersamaku!" Harry memasarahkan dirinya untuk meminta Hermione kembali padanya. Tepat di malam pergantian tahun, hati Hermione kembali baru.
"Aaghh—"
"Hermione, kau tak apa?" Harry panik mendapati Hermione terbangun secara terburu-buru sambil mengerang kesakitan. "Kita ke poli kandungan, ya?!"
"Tidak apa-apa, Harry. Tendangannya sedikit sakit pagi ini. Dia sedang membangunkanku," kata Hermione sambil tersenyum.
Tangan Harry tergerak menyentuh permukaan perut Hermione yang tertutup baju. Merasakan pergerakan calon bayinya dari telapak tangannya secara langsung. Harry mengernyitkan dahinya ketika satu cedutan terasa di sudut kiri perut Hemione. "Baru lima bulan, tapi dia aktif seperti ini. aku yakin saat dia besar nanti dia akan jadi jago pukul sepertimu,"
"Harry!" seru Hermione malu-malu.
Semua sudah baik. Hubungan Harry dan Hermione kembali menghangat seperti dulu. Perhatian Harry sangat spesial ketika Hermione hamil. Seperti saat Ginny hamil dulu, Harry selalu berusaha memanjakan istrinya dengan caranya sendiri. Menyediakan kenyamanan adalah hal utama yang Harry selalu lakukan.
Setelah puas dengan rutinitas wajib mereka, menyapa calon little Potter, Harry berpamitan untuk membeli makanan bagi Hermione. "Aku turun dulu ke bawah, mau cari makanan. Kau mau aku bawakan apa?" tawar Harry. Ia sudah memakai sweater siap keluar.
"Terserah kau. Tapi, aku ingin kau bawakan aku apel. Aku sudah ingin memakannya sejak semalam," pesan Hermione.
"Siap! Oh, ya, kalau mau membersihkan Lily, tunggu aku kembali. Jangan coba membersihkan sendiri, Mione. Aku tak mau kau kecapekan mengangkat tubuh Lily sendirian!"
Hermione mengangguk di sisi ranjang Lily. Sudah saatnya ia memeriksa kondisi Lily sebelum suster jaga lebih dulu memeriksa. Sekarang hanya tinggal Hermione saja di sana. Mengelus rambut Lily dan mencium keningnya sayang. "Bangunlah, sayang! Mom merindukanmu," bisiknya di telinga Lily.
Dua puluh menit kemudian, Hermione baru saja selesai mandi. Sebenarnya, ia berniat untuk membersihkan tubuh Lily karena peralatan seperti air hangat steril, handuk, dan baju ganti telah diantarkan oleh suster untuk Lily. Hermione sendiri yang menerimanya namun ia baru ingin membersihkan tubuh Lily setelah ia mandi. Sejak hamil, Hermione sering merasa gerah, dan mandi adalah salah satu cara membuatnya kembali segar, walaupun sementara.
Baskom berisi air hangat steril kali ini tidak terlalu hangat. Hermione memeriksanya lebih dahulu dengan tangan sebelum mencelupkan handuknya. "Bisa-bisa air ini dingin kalau menunggumu kembali, Harry," gerutunya. Ya, Harry memang memperingatkannya untuk tidak membersihkan tubuh Lily sendirian. Harry khawatir karena saat membersihkan tubuh Lily, Hermione harus mengangkat tubuh Lily sesekali dan menahannya untuk membuka pakaian sampai membersihkan bagian punggung. Tentu saja itu harus dilakukan, Lily tidak bisa bergerak.
Namun, sebelum Hermione sempat membuka pakaian Lily, saat Hermione menunduk mendekati sisi kepalanya, perutnya yang mulai membesar tidak sengaja menyentuh tangan Lily yang berada di sisi badan. Tepat saat cedutan di perut Hermione terasa kembali, sama seperti saat ia dibangunkan beberapa menit yang lalu, tiba-tiba suara seperti rintihan keluar dari mulut Lily pelan. Membangunkan Lily yang telah lama tidur.
Hermione makin mendekatkan telinganya ke wajah Lily demi meyakinkan bahwa suara itu benar berasa dari mulut putrinya. "Lily? Kau bangun, sayang? Lils? Lily? Kau dengar, Mom?" panggil Hermione bahagia sekaligus takut.
Tombol di sisi ranjang Lily ia tekan berulang kali demi mendapatkan bantuan dari dokter ataupun perawat yang berjaga. "Aku mohon kemarilah!" gumam Hermione berharap tim medis segera datang.
"Dokter Hans, syukurlah—"
"Saya baru saja sampai, saya tak sengaja melihat suster menerima panggilan darurat dari kamar Lily. Ada apa dengan Lily, Mrs. Potter?" tanya dr. Hans, dokter ahli syaraf yang menangani Lily sejak operasi, datang bersama satu orang suster yang membantunya mengecek.
"Saat saya mau membersihkan badannya, saya mendengar Lily seperti berbisik. Saya juga melihat ada gerakan kecil di mulut dan sudut matanya," Hermione menjelaskan apa saja yang baru ia lihat.
Dr. Hans memeriksa beberapa bagian di tubuh Lily. Menekan bawah kepala, memeriksa tengkuk, denyut nadi di pergelangan tangan, sampai rangsangan pukulan pelan di lutut dan siku. Sementara suster wanita yang bersamanya mencatat segala macam angka dan grafik dari monitar sebesar radio di sisi ranjang.
Beberapa kali mengecek mata dan memeriksa hasil mencatat suster, dr. Hans tersenyum sambil membetulkan kembali posisi tangan Lily. "Bagaimana, dok?" tanya Hermione panik.
Pintu kamar Lily terbuka, masuklah Harry dengan dua kantung makanan di tangannya. Matanya melebar mendapati ada dokter yang memeriksa putrinya sambil Hermione tampak ketakutan. "Sepagi ini? Ada apa?" batin Harry.
"Mione, ada apa?" tanya Harry di sisi Hermione.
"Ah, Mr. Potter. Saya datang lebih pagi dan mendapati keadaan Lily sangat-amat-baik. Ini keajaiban. Seperti sedang tertidur lalu bangun dengan segar," dr. Hans kembali menatap Lily dengan wajah berbinar, "Lily sadar," tukasnya singkat.
Hermione tak kuasa menahan rasa bahagianya. Harry lantas memeluk istrinya sambil terus berkata terima kasih melihat putrinya kembali sadar setelah lebih dari tiga bulan koma taksadarkan diri. Dr. Hans dan susternya undur diri dan berjanji akan kembali dua jam lagi untuk melakukan pemeriksaan rutin.
"Lily hanya butuh penyesuaian. Mr. dan Mrs. Potter saya harap jangan terkejut jika Lily tidak merespon panggilan. Akibat operasi yang lalu, sedikit banyak berpengaruh dengan cara bicaranya,"
Lily perlahan sadar, ia membuka matanya beberapa menit setelah dr. Hans dan suster keluar dari kamarnya. Harry menarik satu kursi agar Hermione duduk, dengan penuh rasa sayang, pelan-pelan jemari Hermione mengelus punggung tangan Lily tanpa menyentuh selang infusnya. Memberikan rangsangan seperti biasa untuk membantu proses terapi syarafnya.
"Lily, kau kenapa, sayang?" panggil Harry ketika ia melihat Lily memalingkan pandangannya ketika melihat Hermione. Bahkan tangan kirinya bergerak menjauhkan tangan Hermione dari punggung tangannya.
Hermione sontak terkejut. Kehadirannya ditolak oleh Lily. Anak itu sama sekali tak mau memandang apalagi disentuh. "Lily masih membenciku, Harry," Hermione menyudahi sentuhannya di tangan Lily. Bergegas menjauh dan memilih duduk di ranjangnya.
"Lily, kau masih marah dengan kami?" kini giliran Harry yang diacuhkan.
Harry mendekat. Mengamati peurubahan ekspresi muka Lily yang kini tampak tegang menahan amarah. "Dengar, Dad." Harry mulai mengarah pada pembicaraan yang serius. "Semuanya memang sudah jelas, bahkan semua orang sudah tahu apa yang sebenarnya belasan tahun lalu terjadi. Mom telah mengakuinya, dan kau tahu, sayang, kami semua tak mempermasalahkan itu. Itu semua hanya kecelakaan. Kalaupun Mom tak sempat melemparkan mantra pelindung itu, akan ada yang mati juga. Dad yang harus pergi. Dan kau tak akan pernah tahu siapa Dad di saat semua orang tahu. Ini semua sudah takdir, Lily. Mommy sudah tenang di sana dan kini tinggal kita yang mencari kebahagiaan. Lily, kami menyayangimu. Kami tak akan meninggalkanmu sekalipun kau membenci kami,"
Membiarkan Lily sendiri saat ia bangun, memang salah. Tapi untuk membuat Lily merenungi apa yang tidak seharusnya ia lakukan kepada orang tuanya, itu adalah cara yang benar. Lavender dan Ron berkunjung. Mereka berdua sangat bahagia melihat kondisi Lily yang membaik, bahkan telah sadar. Namun, tidak dengan Harry dan Hermione.
"Lily memang membenci kamu, Ron," ujar Harry. Hermione menyandarkan punggungnya sambil mengelus perutnya memutar. "Bahkan kami tidak diizinkan untuk menyentuhnya sedikitpun," lanjut Harry.
Di ranjang, Lily sedang berganti pakaian dengan Lavender. Membasuh tangan dan kakinya dengan air yang seharusnya Hermione bersihkan sejak beberapa jam lalu. "Lily benar-benar marah," Hermione menangis.
"Lily hanya butuh waktu. Keluarga yang lain akan coba membantu menyadarkan Lily tentang kalian,"
"Terima kasih, Ron," Harry tenang mendapatkan dukungan dari keluarga mendiang istrinya. Di saat seperti inilah, keluarga adalah penolong pertama yang sangat dibutuhkan.
Seperti yang dijanjikan dr. Hans, tepat dua jam kemudian, ia dan dua orang suster datang memeriksa. Para medis memeriksa Lily dengan penuh keramahan. Dr. Hans bahkan mengajak bercanda Lily saat Lily tampak murung di awal kesadarannya.
"Kalau kaki dan tanganmu sudah semakin lancar, kau bisa jalan-jalan keluar, Lily." Kata dr. Hans sambil menggerak-gerakkan tangan Lily.
Hermione, Harry dan Ron hanya bisa mengamati dari balik punggung dr. Hans. "Te-terima kas-sih," jawab Lily terbata. Hermione terharu mendengar kembali suara Lily. "Suara itu," bisiknya. Lama ia tak mendengar suara Lily berbicara, suara merdu ketika Lily bernyanyi.
"Lihat, tanganmu sudah mulai bisa bergerak, tinggal kaki yang belum begitu optimal. Ya, kau juga harus sabar, ya, Lily. Kasihan juga Mom-mu, kandungannya semakin besar jadi susah memijatmu seperti dulu. Bisa lelah setiap pagi dan malam selalu memijatmu selama berbulan-bulan ini. Tapi saya salut, hasilnya luar biasa. Mom-mu sudah bekerja keras untuk tangan dan kakimu berfungsi lagi, Lily," cerita dr. Hans tanpa ia ketahui bahwa penjelasannya telah membuat Lily syok mendengarnya.
Berbulan-bulan memijatnya, ya, sejak Lily di koma dan dinyatakan lumpuh, berdasarkan rekomendasi dr. Hans sendiri, setidaknya dua kali sehari Lily mendapatkan terapi ringan seperti pijatan di tangan dan kakinya. Hermione pun sangat menyanggupinya serta bersedia memijat Lily sesuai aturan yang diperbolehkan.
Tidak hanya perkara memijat saja yang membuat Lily terkejut, tapi penjelasan lainnya. Kandungan? "Mom hamil?" kata Lily dalam hati. Ia mengamati Hermione dan Harry yang mengantarkan dr. Hans beserta ketiga suster di depan pintu. Lily belum bisa memastikan bahwa Hermione mengandung karena sedang memunggunginya.
"Lily, mau Aunty ambilkan apa? Kau butuh sesuatu, sayang?" tawar Lavender tiba-tiba.
"A-ir," bisik Lily. Dua kali Lily mengucapkannya agar Lavender mengerti apa yang diinginkannya.
"Ow, air. Sebentar, ya,"
Lily memalingkan pandangannya kembali. Memperhatikan Hermione yang sudah berbalik kembali. Benar, apa yang berbeda dengan postur tubuh Hermione kini.
"Lily.. kau melihat apa? Mom? Ahh kau pasti melihat perut Mom, ya?" goda Lavender tepat di telinga Lily. Ia lantas mendongak, melihat mata Lavender lebih dalam. Sebenarnya Lily ingin sekali berkata 'ya', tapi apa daya.. suaranya susah sekali keluar.
Lavender menutup mulutnya dengan telapak tangan, menyembunyikan tawanya. "Mom-mu jadi gendut. Perutnya besar sekali, kan? Aku saja heran kenapa perutnya bisa sebesar itu. Padahal aku merasa dulu perutku tak sebesar itu saat mengandung lima bulan. Aku sampai merasa kasihan dengan Mom-mu, Lily. Katanya dia memijat tangan dan kakimu tiap malam itu karena dia susah tidur. Ya, kau tahu sendiri, itu kehamilan pertamanya. Usianya juga sudah tidak muda lagi, jadi staminanya tidak sekuat masih usia dua puluhan. Mangkanya, Lily, nanti kalau kau sudah dewasa dan menikah, hamillah sebelum usia empat puluhan. Lihat seperti Mom-mu, susah bernapas," kebiasaan Lavender suka bercerita. Ron memang benar, Lavender ratunya cerewet.
Kini, pandangan buruk Lily terhadap Hermione perlahan memudar. Apa yang sudah dikerjakan ibu tirinya selama ia koma? Pertanyaan itu terus menghantui Lily sepanjang hari.
"Hogwarts Express? Aku di kereta?"
Lily membalikkan badannya. Mencoba mencari pintu masuk dan melihat apa yang ada di luar sana. "Dad, Mom, James, Al? Mereka mengantarku? Jadi aku benar di kereta ini? Aku akan ke Hogwarts. Kenapa mereka sedih?"
Langkah Lily kembali bergerak menuju tengah gerbong. Melihat segala penjuru kursi dan mengamati setiap kompartemen. Semua kosong. Tidak ada penumpang lain selain dirinya. Lily semakin panik ketika kereta berjalan tanpa menunggu penumpang lain masuk.
"Hah.. bagaimana ini? Di mana semua orang?"
Namun, dari sebuah kompartemen lain, suara seseorang memanggil namanya terdengar begitu jelas. "Lily!" panggil suara itu. suara yang sangat mirip dengan suara yang memanggilnya sesaat sebelum Lily pingsan ketika kecelakaan menimpanya di dalam bus.
"Suara siapa itu—" Lily membuka satu persatu pintu dan mencari tahu siapa orang lain yang berada satu gerbong dengannya.
Ada. Ada seseorang berpakaian sederhana duduk sendirian di dalam kompartemen depan Lily berdiri saat ini. Tidak jelas siapa dia namun Lily memperhatikan jika orang itu memiliki rambut panjang sebahu. Perempuan, batin Lily.
Pintu kompartemen itu Lily geser perlahan. Suaranya berderit lantas membuat perempuan di dalam menoleh dan melihat Lily. Ia tersenyum dan kembali memanggil nama Lily perlahan. "Lily!" panggilnya.
"Mom-mommy!"
Kini Lily menghambur ke pelukan Ginny. Memeluknya erat sambil terus memanggil, "Mommy.. kau Mommy.. Mommy, aku kangen, Mommy!" kata Lily penuh haru.
"Mommy juga kangen, sayang. Kau cantik sekali," Ginny membelai pipi Lily dan menghapus airmatanya.
"Kata orang, aku mirip Mommy—"
"Tapi kau memiliki senyum Daddy, sayang,"
Lagi, mereka saling berpelukan. Lily terus mencari ketenangan dalam pelukan Ginny. Pelukan ibu kandung yang tak pernah ia rasakan sejak kecil. Ginny membimbing Lily agar duduk di sisinya. "Kenapa kau sedih, sayang?" tanya Ginny.
"Dad dan Mom Hermione ternyata jahat. Mom Hermione yang membuat Mom meninggal, Mom Hermione yang—"
"Sayang, dengarkan Mommy. Itu kecelakaan. Mom Hermione tidak tahu jika Mommy saat itu datang ke dekat Dad. Mommy juga salah, Mommy datang saat keadaan masih rawan. Mungkin, kalau Mommy meminta ijin dengan Dad lebih dulu, Dad akan melarang Mommy untuk datang. Tapi, Mommy nekat berangkat dan terjadilah,"
Keduanya saling bertanya, melepas rindu dengan cerita. Melupakan rasa sakit dan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Lily terhenyak, "Mom sudah menyembunyikan semuanya dariku. Aku dibodohi selama bertahun-tahun, Mommy," keluh Lily terus menangis.
"Mom dan Dad tidak pernah membodohimu, sayang. Meraka hanya ingin membuatmu bahagia. Itu yang Mommy inginkan. Mommy ingin kau hidup bahagia dengan Dad, James, Al dan juga Mom Hermione. Mom Hermione yang paling tepat dan mampu menjaga kalian, tugas Mommy sudah selesai, sayang, maka dari itu Mommy harus pergi,"
Lily terus menggeleng tanda tak sepaham dengan jalan pikiran Ginny. Kereta terus berjalan. Melalui jendela, Lily dapat mengamati hamparan rumput dan hutan-hutan yang membentang sepanjang jalan. Hijau dan menyejukkan. "Tapi, Mommy—"
"Lily Luna Potter. Mommy sangat bahagia saat melihatmu lahir, sayang. Dan saat itu Mommy yakin kalau kau akan tumbuh menjadi wanita yang ceria, kuat, berani, pintar, dan memiliki hati yang besar. Saat itu pula, Mommy yakin untuk siap meninggalkanmu. Tapi.. Mommy tahu, suatu saat kau pasti membutuhkan sosok ibu di sisimu. Dan Mommy memilih Mom Hermione. Karena dia adalah wanita hebat yang pernah Mommy kenal."
"Tapi, Lily membutuhkan Mommy. Ibu kandung Lily!"
"Mom Hermione mampu menjagamu, memberikan kasih sayang yang tidak sempat Mommy berikan. Apa yang selama ini Mom Hermione berikan untukmu, itulah yang seharusnya Mommy berikan untukmu juga, sayang. Jadi, tidak ada bedanya antara Mom Hermione dengan Mommy. Karena Mommy selalu ada di sini," tunjuk Ginny di dada Lily. Menyentuhnya dengan telapak tangannya langsung.
Lily pun terdiam. Hanya bisa diam memikirkan bagaimana perasaan Hermione yang ia acuhkan sementara ibu tirinya itu tidak pernah pergi darinya. Merawatnya selama berbulan-bulan yang hanya mampu diam. Namun ketika ia sadar, ia bahkan mengacuhkannya seperti tak pernah mengenalnya sama sekali.
Ginny berdiri dari bangkunya saat sisi jalan hanya tampak hitam. Bukan padang rumput hijau atau hutam yang rimbun. Gelap seperti melewati terowongan. "Mommy, kau mau ke mana?" tanya Lily. Ginny membuka pintu kompartemennya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mommy!" teriak Lily. Ginny lantas berhenti dan berbalik.
Ginny tersenyum tanpa berbicara sepatah katapun. Kereta tiba-tiba terguncang, kepala Lily tiba-tiba merasa sakit. "Apa kita mau ke Hogwarts?" tanyanya lagi.
"Menurutmu?" balas Ginny santai. Tanpa panik mendapati kereta terus terguncang.
Tangan Ginny terulur seolah meminta Lily untuk mendekat. Lily tertarik untuk mendekat. "Bagaimana rasanya? Meninggal?" tanya Lily ragu.
Namun tiba-tiba Ginny menurunkan tangannya, tersenyum lantas berkata, "masih ada yang perlu kau perjuangkan, sayang. Setelah itu, baru kau tahu bagaimana rasanya seperti Mommy," Ginny kembali bersiap untuk berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Tapi, aku mau ikut Mommy—"
Duk duk duk... suara guncangan beradu dengan suara-suara benturan makin merusak keseimbangan Lily. Ia susah sekali berdiri ditambak rasa sakit tiba-tiba kembali ia rasakan. Lily tidak bisa berjalan, takut saat Ginny semakin menghilang ditelan kabut hitam diluar kereta yang berjalan tak tentu. Badannya ambruk, dan semuanya hilang.
"Ada infeksi di selaput otaknya. Darah yang menyebar dulu ternyata telah merusah beberapa jaringan otak. Saya tidak tahu apakah Lily kali ini bisa bertahan,"
Suara dr. Hans pertama kali Lily dengar. Selanjutnya adalah suara tangisan seseorang yang sangat ia kenal, Hermione. Mata Lily terbuka dan merasakan sakit kepala itu masih terasa. Kepalanya berat. Ditambah lagi wajahnya sedang penuh dengan selang-selang besar dan sesuatu yang mengganggu hidungnya.
Itu bukan kamar rawat yang sebelumnya ia tempati. Lebih dingin dan serius, dengan adanya lebih banyak alat medis yang Lily tidak tahu bernama apa.
"Bagaimana dengan—"
"Lily!" Harry mendekati Lily saat ia tak sengaja melihat mata Lily terbuka dan menatap dirinya, Hermione, dan juga dr. Hans. "Kau bangun, sayang?"
Takut di tolak Lily kembali, Harry sudah waspada untuk siap menjauh. Namun, Lily malah menatapnya lekat. "Dad—" panggil Lily. Kemudian menatap Hermione yang ada tak jauh darinya, "Mom," panggilnya lagi.
Hermione menangis lantas ikut mendekat. Mencium dahi Lily berkali-kali meluapkan rasa bahagianya. Tiba-tiba Hermione merasakan sesuatu di perutnya. Tangan Lily menyentuh perutnya, membelainya dengan jari-jari tangan kanannya semampunya.
"Sayang, kau akan punya adik. Bukankah itu yang kau mau?" tanya Harry.
Lily mengangguk. "Maafkan, Lily!"
Tepat di ruang rawat yang lebih intensif serta informasi baru dr. Hans yang menyakitkan, Lily bangun lantas mengucapkan kata maaf. Sesuatu yang membahagiaan sekaligus menyakitkan bagi Hermione dan Harry.
- TBC -
#
Hem.. ada beberapa dialog yang Anne ambil dari film. Ya, biar serasa Lily itu sehati sama Daddynya. Hehehe.. Anne belum bisa pastiin ini selesai di chapter berapa. Tapi, Anne pastikan tinggal satu, dua, atau tiga chapter lagi. Jadi, ikuti sampai selesai, ya! Maaf kalau lagi-lagi ada typo.. Maklum sudah ngantuk! Hehehe..
Anne tunggu review kalian! Tunggu chapter besok yang spesial ultah Hermione. Ada apa di chapter besok? Ditunggu! Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne x
